Anda di halaman 1dari 29

REFERAT DERMATO-VENEREOLOGI

Hubungan Vaginal Douching dengan Bacterial Vaginosis

Oleh :
Amy Shientiarizki

H1A 011 007

Fitriamalia A. Zubaidi

H1A 011 023

Pembimbing :
dr. I Wayan Hendrawan, M.Biomed,Sp.KK

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM


2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
petunjuk, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Referat yang berjudul
Hubungan Vaginal Douching dan Bacterial Vaginosis tepat pada waktunya. Tugas
ini merupakan salah satu prasyarat dalam rangka mengikuti kepaniteraan klinik
madya di bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUDP Nusa Tenggara Barat
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.
Tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik
dari dalam institusi maupun dari luar institusi Fakultas Kedokteran Universitas
Mataram dan jajaran RSUDP Nusa Tenggara Barat. Melalui kesempatan ini
penulis megucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada dr. I Wayan Hendrawan, M. Biomed, Sp. KK selaku pembimbing dan juga
seluruh pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sekian.

Mataram, Januari 2017

Penulis

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN....................................................................................... 4
1.1

Latar Belakang Penulisan..................................................................4

1.2 Manfaat Penulisan............................................................................... 5


1.3 Kerangka Penulisan.............................................................................. 6
BAB II..................................................................................................... 7
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 7
2.1 Vaginal douching................................................................................. 7
2.1.1 Pengertian Vaginal douching.............................................................7
2.1.2 Manfaat vaginal douching................................................................7
2.1.3 Jenis-jenis vaginal douching.............................................................9
2.1.4 Resiko vaginal douching................................................................10
2.2 Bacterial vaginosis(BV)......................................................................10
2.2.1 Pengertian BV............................................................................. 10
2.2.2 Epidemiologi BV.........................................................................11
2.2.3 Etiologi BV................................................................................ 11
2.2.4 Patogenesis BV........................................................................... 13
2.2.5 Gambaran Klinis BV.....................................................................15
2.2.6 Diagnosis BV.............................................................................. 15
2.2.7 Komplikasi BV...........................................................................17
2.2.8 Tatalaksana BV............................................................................17
2.3 Hubungan Vaginal douching dengan Bacterial vaginosis..............................18
BAB III.................................................................................................. 23
PENUTUP........................................................................................... 23
KESIMPULAN.................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 24

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan


Kesehatan reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah
keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh dan tidak adanya penyakit
atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan
fungsi-fungsinya serta proses-prosesnya. Salah satu aspek penting dalam
kesehatan reproduksi adalah organ reproduksi.1
Organ reproduksi khususnya organ reproduksi wanita terbagi atas organ
genitalia eksterna dan organ genitalia interna. Organ genitalia eksterna terdiri dari
vulva, mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris, vestibulum, bulbus
vestibuli, introitus vagina, serta perineum. Organ genitalia interna terdiri dari
vagina, uterus, tuba fallopi, dan ovarium. Organ genitalia eksterna dan vagina
berfungsi sebagai bagian untuk senggama, sedangkan organ genitalia interna
adalah bagian untuk ovulasi, tempat pembuahan sel telur, transportasi blastokis,
implantasi, dan tumbuh kembang janin.2
Salah satu organ reproduksi wanita yang sangat rentan terkena infeksi
adalah vagina. Gejala awal yang sering dikeluhkan adalah adanya bercak
berwarna putih atau sering disebut keputihan. Keputihan dapat menyerang wanita
di segala usia. Keputihan yang abnormal disebabkan oleh infeksi atau peradangan,
ini terjadi karena perilaku yang tidak sehat seperti mencuci vagina dengan air
kotor, menggunakan cairan pembersih vagina yang berlebihan, cara membasuh
yang salah, stress berkepanjangan, merokok, dan menggunakan alkohol,
penggunaan bedak talcum/tisu dan sabun dengan pewangi pada daerah vagina,
serta sering memakai atau meminjam barang-barang seperti perlengkapan mandi
yang memudahkan penularan keputihan.3
Berdasarkan studi epidemiologis, wanita di dunia yang pernah mengalami
keputihan sebesar 75%. Di Indonesia, sekitar 90% wanita berpotensi mengalami
keputihan mengingat negara ini memiliki iklim yang tropis. Data lebih lanjut

menyebutkan bahwa lebih dari 75% wanita Indonesia mengalami penyakit


keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45% diantaranya mengalami
keputihan sebanyak dua kali atau lebih.4
Keputihan atau fluor albus itu sendiri adalah istilah untuk menggambarkan
gejala keluarnya cairan dari alat atau organ reproduksi melalui vagina, selain
darah. Ada dua kategori keputihan, yaitu keputihan fisiologis dan patologis.
Dalam keadaan normal/fisiologis, getah atau lendir vagina adalah cairan bening
tidak berbau, jumlahnya tidak terlalu banyak dan tanpa rasa gatal atau nyeri.
Dalam keadaan tidak normal/patologis akan sebaliknya, terdapat cairan berwarna,
berbau, jumlahnya banyak, dan disertai gatal dan rasa panas atau nyeri. Hal itu
dapat dirasa sangat mengganggu.3
Saat ini untuk mengatasi keputihan tersebut kebanyakan wanita melakukan
vaginal douching karena mereka berpikir hal ini memberikan manfaat. Vaginal
douching adalah suatu tindakan untuk mencuci atau membersihkan vagina dengan
air atau campuran cairan tertentu.5 Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang
melakukan vaginal douching secara teratur memiliki masalah kesahatan daripada
yang tidak. Penyakit yamg berkaitan dengan kebiasaan ini adalah iritasi vagina,
infeksi vagina atau bacterial vaginosis, infeksi menular seksual (IMS), pelvic
inflammatory disease (PID) dan kehamilan ektopik.6
Bacterial vaginosis (BV) merupakan penyebab tersering infeksi vagina
pada wanita usia subur.7 Penyakit ini ditandai dengan perubahan flora saluran
genital, yaitu dominasi Lactobacillus sp, digantikan oleh berbagai jenis organisme
gram positif maupun gram negatif, yakni Gardnerella vaginalis, Prevotella sp.,
Bacteroides sp., dan lain-lain. Perubahan mikrobiologis ini menyebabkan
peningkatan pH vagina, produksi uap amin, serta peningkatan kadar endotoksin,
enzim sialidase, dan glikosidase bakteri pada cairan vagina.7,8
1.2 Manfaat Penulisan
Bacterial vaginosis merupakan salah satu keadaan yang berkaitan dengan
adanya keputihan yang tidak normal pada wanita usia reproduksi. Salah satu

faktor risiko yang dapat memicu terjadinya BV ini adalah vaginal douching atau
membersihkan vagina. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memperjelas
hubungan antara praktik vaginal douching dan terjadinya bacterial vaginosis.
1.3 Kerangka Penulisan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Vaginal douching


2.1.1 Pengertian Vaginal douching
Douche merupakan kata yang berasal dari Bahasa Perancis yang artinya
mencuci atau merendam. Vaginal douching merupakan proses membersihkan
intravagina dengan cairan solusio. Douching digunakan untuk untuk alasan
personal hygiene atau kecantikan, untuk mencegah atau mengobati infeksi, untuk
membersihkan setelah menstruasi atau setelah berhubungan, dan untuk mencegah
kehamilan.6
Prevalensi vaginal douching bervariasi tergantung dari subjek populasi.
Menurut US National Health and Nutrition Examination Survey prevalensi
vaginal douching yaitu 22,4%, dengan perbedaan yang signifikan antar etnis yaitu
50,2% pada etnis non-Hispanic blacks.9,10 Praktek vaginal douching juga lebih
banyak dilakukan pada etnis Afrika-Amerika dibandingkan etnis Latina maupun
Kaukasian.11 Pada penelitian yang dilakukan di Kamboja, didapatkan 76,7% dari
populasi yang melakukan setidaknya satu kali vaginal douching dalam satu
minggu.12 Penelitian lain yang dilakukan di sebuah klinik Sexually Transmitted
Infections (STI) di Jamaika mendapatkan bahwa dari 293 partisipan yang datang
ke klinik tersebut terdapat 58% wanita melakukan vaginal douching dalam satu
bulan terakhir.13
2.1.2 Manfaat vaginal douching
Kebanyakan wanita memulai untuk melakukan douching di usia 13 sampai
19 tahun, hal ini biasanya berkaitan dengan kebiasaan dari orang tua (ibu) dan
teman sebaya. Mereka merasa bersih dan segar setelah melakukan douching. Pada
penelitian yang membandingkan antara etnis Kaukasia, Afrika-Amerika, dan
Latina, didapatkan bahwa 67% dari total partisipan melakukan vaginal douching

agar merasa bersih/segar, dengan 19% etnis Kaukasia, 30% etinis Afrika-Amerika,
dan 18% etnis Latina.14 Penelitian lain yang berupa prospective longitudinal
terhadap 3620 wanita di Alabama pada tahun 2008 menyebutkan beberapa alasan
mengapa wanita melakukan douching, yaitu17 :
a. Terasa bersih dan segar
b. Menghilangkan sisa darah menstruasi
c. Menghilangkan lendir vagina
d. Menghilangkan discharge
e. Memuaskan pasangan, vagina lebih wangi
f. Membersihkan vagina sebelum periksa ke dokter atau perawat
g. Mengencangkan vagina sebelum berhubungan seksual
h. Menghilangkan iritasi vagina
i. Mencegah kehamilan
Tujuan douching yang sesungguhnya adalah untuk tujuan terapeutik, yaitu
membersihkan vagina setelah dilakukan tindakan pembedahan, dan untuk
mengurangi pertumbuhan bakteri setelah diberikan antiseptik. Akan tetapi bagi
wanita yang sehat, douching dengan berbagai bahan dan larutan akan mengubah
mucus/lendir yang alami sehingga mengganggu ekologi vagina15.

Tabel 1. Motivasi untuk melakukan vaginal douching14


2.1.3 Jenis-jenis vaginal douching
Vaginal douching meliputi eksternal douching dan internal douching.
Eksternal douching meliputi pembilasan labia dan bagian luar vagina dengan
bahan-bahan tertentu, sedangkan internal douching meliputi memasukkan bahan
atau alat pembersih ke dalam vagina dengan menggunakan jari dan atau dalam
bentuk spray atau liquid16. Beberapa bahan vaginal douching yang digunakan
antara lain povidine iodine, sodium bikarbonat, sodium laktat dan lain-lain
(seperti terdapat pada tabel 2).11,12

Tabel 2. Bahan-bahan vaginal douching


2.1.4 Resiko vaginal douching
Beberapa resiko yang bisa ditimbukan antara lain :
a. Meningkatkan resiko Bacterial vaginosis6,17,18,19,20
Douching mengubah flora normal yang terdapat pada vagina dengan cara
menekan hydrogen peroxide untuk memproduksi Lactobacillus sp.
sehingga flora normal tersebut melakukan pertumbuhan secara berlebihan.
b. Meningkatkan resiko kelahiran preterm17,19,20
Patogenesis belum diketahui secara jelas dan masih menjadi kontroversi.

10

c. Meningkatkan resiko kehamilan ektopik6,17


d. Meningkatkan resiko kanker serviks17
Sebuah studi meta-analysis menyebutkan bahwa 6 kasus ditemukan di US
dan America Latin, disebutkan bahwa wanita yang melakukan douche satu
hingga dua kali dalam seminggu menderita kanker serviks dibandingkan
dengan wanita yang tidak melakukan douche. Hal ini didukung pula oleh
penelitian di Cina dimana dilakukan pemeriksaan sitologi serviks terhadap
1264 wanita dari 11 pusat kesehatan dan ditemukan adanya korelasi antara
HPV (Human Papiloma Virus) dengan penggunaan vaginal douch setelah
intercourse.
e. Meningkatkan resiko HIV 17
f. Meningkatkan resiko PID6,17,18,19
g. Meningkatkan resiko endometritis17
2.2 Bacterial vaginosis (BV)
2.2.1 Pengertian BV
Bacterial vaginosis merupakan salah satu keadaan yang berkaitan dengan
adanya keputihan yang tidak normal pada wanita usia reproduksi. BV merupakan
sindrom polimikroba, yang mana laktobasilus vagina normal, khususnya yang
menghasilkan hidrogen peroksidase digantikan oleh berbagai bakteri anaerob dan
mikoplasma. Bakteri yang sering ada pada BV adalah G.vaginalis, Mobiluncus sp,
Bacteroides sp dan M. hominis.15,21,25,26
2.2.2 Epidemiologi BV
BV merupakan infeksi vagina yang paling sering pada wanita yang aktif
melakukan hubungan seksual, penyakit ini dialami pada 15% wanita yang
mendatangi klinik ginekologi, 10- 25% wanita hamil dan 33-37% wanita yang
mendatangi klinik IMS. Prevalensi BV juga sangat bervariasi, dikarenakan kriteria
diagnostik yang berbeda serta perbedaan dalam sampel populasi klinik, beberapa

11

penelitian nasional telah dilakukan di Amerika serikat, prevalensi BV yang


dilaporkan oleh National Health and Nutrition Survey (NHAES) yang
menegakkan BV melalui kriteria Nuggent menemukan dari 12.000 pasien yang
dikumpulkan, prevalensi BV sebesar 29,2% dan ditemukan prevalensi 3,13 kali
lebih tinggi pada Afro Amerika, Afrika dan Afro karibia dibandingkan dengan
kulit putih.22,23 Penelitian yang dilakukan Bhalla dan kawan- kawan pada tahun
2007 menyatakan prevalensi BV pada wanita di New Delhi India sebesar 17%,
sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ocviyanti dan kawan kawan pada
tahun 2010 menyatakan prevalensi BV di Indonesia sebesar 30,7%.25,26
2.2.3 Etiologi BV
Ekosistem vagina normal sangat komplek, Lactobacillus merupakan
spesies bakteri yang dominan (flora normal) pada vagina wanita usia subur, tetapi
ada juga bakteri lain yaitu bakteri aerob dan anaerob. 15 Pada saat BV muncul,
terdapat pertumbuhan berlebihan dari beberapa spesies bakteri, dimana dalam
keadaan normal ditemukan dalam konsentrasi rendah. Oleh karena itu BV
dikategorikan sebagai salah satu infeksi endogen saluran reproduksi wanita.
Diketahui ada 4 kategori dari bakteri vagina yang berkaitan dengan BV, yaitu :
G.vaginalis, bakteri anaerob, M. hominis dan mikroorganisme lainnya.21,24
a. G. vaginalis
G. vaginalis merupakan bakteri berbentuk batang gram negatif, tidak
berkapsul dan nonmotile. Selama 30 tahun terakhir, berbagai literature
menyatakan G. vaginalis berkaitan dengan BV.15,16 Dengan media kultur
yang lebih sensitif G. vaginalis dapat diisolasi pada wanita tanpa tandatanda infeksi vagina. G.vaginalis diisolasi sekitar >90 % pada wanita
dengan BV. Saat ini dipercaya G.vaginalis berinteraksi dengan bakteri
anaerob dan M.hominis menyebabkan BV. Gardner dan Duke juga
mengisolasi organisme lain dan berkesimpulan bahwa G.vaginalis bukan
merupakan penyebab satusatunya BV.21
b. Bakteri anaerob

12

Kuman batang dan kokus anaerob pertama kali diisolasi dari vagina pada
tahun 1897 dan dianggap berkaitan dengan sekret vagina oleh Curtis. Pada
tahun 1980, Spiegel menganalisis cairan vagina dari 53 wanita dengan BV
menggunakan kultur kuantitatif anaerob dan gas liquid chromatografi
untuk mendeteksi metabolisme asam organik rantai pendek dari flora
vagina.8,15 Ditemukan bacteroides sp (sekarang disebut provotella dan
prophyromonas)

sebesar

75%

dan

peptococcus

(sekarang

peptostreptococcus) sebesar 36% dari wanita dengan BV. Penemuan


spesies anaerob berkaitan langsung dengan penurunan laktat dan
peningkatan

suksinat

dan

asetat

pada

cairan

vagina.

Spiegel

menyimpulkan bahwa mikroorganisme anaerob berinteraksi dengan


G.vaginalis dalam menyebabkan BV. Mikroorganisme anaerob lain yang
dikatakan juga memiliki peranan dalam BV adalah Mobiluncus.
Mobiluncus selalu terdapat bersamaan dengan mikroorganisme lain yang
berhubungan dengan BV.7,8,15,21
c. Mycoplasma genital
Tylor Robinson dan McCormack yang pertama kali berpendapat bahwa
M.hominis berperan pada BV, bersimbiosis dengan G.vaginalis maupun
organisme patogen lainnya. Pheifer dan dan kawan kawan mendukung
hipotesis ini dengan penemuan M. hominis pada 63 % wanita dengan BV
dan 10 % pada wanita normal. Paavonen juga melaporkan hubungan dari
BV dengan M.hominis dan G.vaginalis pada cairan vagina.7,8,15
d. Mikroorganisme lainnya
Wanita dengan BV tidak mempunyai peningkatan streptokokus grup B,
stafilokokus koagulase negatif, tetapi mempunyai peningkatan yang
bermakna dari bakteri yang merupakan karier vagina yaitu kelompok
spesies

streptococcus

stresptocccusmorbilorum.

viridians,
Suatu

streptococcus
analisis

asidominimus,

multivariat

dan

menemukan

hubungan antara BV dengan empat kategori bakteri vagina yaitu ;


Mobiluncus spesies, kuman batang gram negatif anaerob, G.vaginalis dan

13

M.hominis.7 Prevalensi masing masing mikroorganisme meningkat pada


wanita dengan BV. Selain itu organisme organisme tersebut ditemukan
pada konsentrasi 100 1000 lebih besar pada wanita dengan BV
dibandingkan pada wanita normal, sedangkan konsentrasi laktobasilus
menurun pada wanita pasien BV.8,15,21

Tabel 3. Perbandingan bakteri flora normal dan abnormal yang ditemukan15


2.2.4 Patogenesis BV
Pada lingkungan mikrobiologi vagina, secara alami terdapat bakteri yang
berperan sebagai penjaga ekosistem vagina dan mencegah gangguan dari
lingkungan luar yang dapat mempengaruhi lingkungan vagina.7,8,20 Flora normal
vagina ini didominasi oleh laktobasilus yang menghasilkan hydrogen peroksidase,
yaitu Lactobaciluss crispatus, Lactobasilus acidofilus serta Lactobasilus
rhamnosus.15 Laktobasilus penghasil hidrogen dapat ditemukan sebesar 96% pada
vagina normal dan hanya 6% pada wanita dengan BV. Laktobasilus penghasil
hidrogen ini juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan asam organik (asam
laktat) sehingga menjaga ph vagina <4,7 dengan menggunakan glikogen pada
epitel vagina sebagai substrat, selain itu laktobasilus juga menghasilkan
bakteriosin, suatu protein yang dapat menghambat spesies bakteri lainnya. 28
Laktobasilus yang tidak menghasilkan hidogen ditemukan sebesar 4% pada
wanita normal dan sebesar 36% pada wanita dengan BV.7,8,15,21

14

Gambar 1 ; Hipotesis dari pathogenesis BV28


BV ditandai dengan hilangnyanya laktobasilus penghasil hidrogen
peroksidase dan pertumbuhan pesat spesies anaerob. Tidak diketahui secara pasti
mana peristiwa yang mendahului, apakah terdapat faktor yang dapat
menyebabkan kematian laktobasilus sehingga bakteri anaerob ini berkembang
secara pesat atau bakteri anaerob yang sangat banyak jumlahnya menyebabkan
laktobasilus menghilang. Pertanyaan dasar yang merupakan patogenesis BV ini
masih belum dapat terjawab sampai sekarang. 15
Sejumlah perubahan biokimia juga telah dijelaskan, epitel vagina normal
dilapisi oleh lapisan musin tipis. Pada BV lapisan pelindung ini digantikan oleh
biofilm yang dihasilkan G.vaginalis. defensin -1 dan konsentrasi secretory
leukosit protease inhibitor juga berkurang pada BV. Interleukin (IL) 1 , 1 dan
reseptor 1 agonis meningkat, IL8 ( sitokin leukotaktik primer ) berkurang. Terjadi

15

peningkatan pada protein 70 kD heat shock, enzim lytic sialidase, matriks


metaloproteinase 8 dan fosfolidase A2, nitrit oksida dan endotoksin juga
ditemukan pada vagina dengan BV. Kesemuanya ini dapat menghilangkan
mekanisme proteksi normal dan meningkatkan terjadinya proses inflamasi. 20,21
2.2.5 Gambaran Klinis BV
Gambaran klinis yang terdapat pada BV adalah bau vagina yang khas yaitu
bau amis seperti bau ikan8. Hal ini disebabkan oleh produksi senyawa amin
berupa trimethylamine, putresin, dan cadaverin oleh bakteri anaerob. Senyawa ini
mengalami penguapan bila pH lingkungan meningkat28. Keadaan yang dapat
menyebabkan hal tersebut misalnya saat berhubungan seksual dan saat
menstruasi. Duh tampak homogen, encer, berwarna putih keabu-abuan, dan
menempel pada dinding vagina atau sering kali tampak pada labia atau
fourchette.7,8,28

2.2.6 Diagnosis BV
Sampai saat ini tidak terdapat etiologi tunggal pada BV sehingga
digunakanlah kriteria klinis Amsel29. Berdasarkan kriteria ini, dikatakan BV
positif bila terdapat 3 dari 4 temuan berikut :
1) Duh tubuh vagina berwarna putih keabu-abuan, homogen, melekat di
vulva dan vagina.
2) Terdapat clue-cells pada duh vagina (>20% total epitel vagina yang
tampak pada pemeriksaan sediaan basah dengan NaCl fisiologis dan
pembesaran 100 kali).
3) Timbul bau amis pada duh vagina yang ditetesi dengan larutan KOH 10%
(tes amin positif).
4) pH duh vagina lebih dari 4,5.
Penentuan pH vagina dalam kriteria Amsel adalah dengan menggunakan
kertas lakmus yang diletakkan pada dinding lateral vagina. Warna kertas

16

dibandingkan dengan warna standar, dan pH vagina normal adalah 3,8 - 4,2. Pada
80-90% pasien vaginosis bakterial ditemukan pH vagina>4,5.7,8,28
Whiff test pada kriteria Amsel dinyatakan positif bila bau amis atau bau
amin terdeteksi dengan penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina.
Bau muncul sebagai akibat pelepasan amin dan asam organik hasil dari alkalisasi
bakteri anaerob. Whiff test positif menunjukkan BV.7,8
Clue cells adalah sel epitel yang ditutupi oleh berbagai bakteri vagina
dalam jumlah banyak sehingga batas sel menjadi tidak jelas, memiliki ukuran
yang lebih besar dari sel epitel vagina normal, bentuk ireguler, inti lebih dari satu,
dan memiliki sitoplasma yang keruh. Dalam mendiagnosis BV dengan
menggunakan kriteria Amsel, menunjukkan lebih dari 20 % clue cells dari total
populasi sel.
Gambaran pewarnaan Gram duh tubuh vagina diklasifikasikan menurut
modifikasi kriteria Spiegel dkk, sebagai berikut29 :
1) Diagnosis BV dapat ditegakkan kalau ditemukan campuran jenis
bakteria termasuk morfotipe Gardnella dan bakteri gram positif
atau negatif yang lain atau keduanya. Terutama dalam jumlah
besar, selain itu degan mofotipe Lactobacillus dalam jumlah sedikit
atau tidak ada di antara flora vaginal dan tanpa adanya bentukbentuk jamur.
2) Normal kalau terutama ditemukan morfotipe Lactobacillus di
antara flora vaginal dengan atau tanpa morfotipe Gardnella dan
tidak ditemukan bentuk jamur.
3) Inderteminate kalau diantara kriteria tidak normal dan tidak
konsistensi dengan BV.
2.2.7 Komplikasi BV
Bacterial vaginosis paling banyak dihubungkan dengan komplikasi pada
obstetri dan ginekologi yaitu dalam kaitan kesehatan reproduksi.25,26 BV
merupakan faktor resiko gangguan pada kehamilan, resiko kelahiran prematur dan

17

berat badan lahir rendah.26 Selain itu BV juga merupakan faktor resiko
mempermudah mendapat penyakit infeksi menular seksual lain, yaitu gonore,
klamidia, trikomoniasis, herpes genital dan Human Imunodeficiency Virus
(HIV).17 BV meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HIV melalui mekanisme
diantaranya

karena

pH

vagina

yang

meningkat,

berkurangnya

jumlah

Lactobacillus sp. Penghasil dan produksi enzim oleh flora BV yang menghambat
imunitas terhadap HIV.7,8,17,29
2.2.8 Tatalaksana BV
Pengobatan direkomendasikan pada wanita dengan gejala BV. Tujuan
terapi pada wanita tidak hamil adalah untuk menghilangkan tanda dan gejala
infeksi vagina dan mengurangi kemungkinan mendapatkan C. trachomatis, N.
gonorrhoea, HIV dan penyakit IMS lainnya.17,18 Pengobatan BV yang
direkomendasikan pada Sexual Transmitted Disease Treatment Guideline 2010
oleh Centre for Disease Control and Prevention (CDC) berupa metronidazol oral
2 x 500 mg selama 7 hari atau metronidazol gel 0,75% 1 aplikator penuh (5
gram), intra vagina sekali sehari selama 5 hari atau klindamisin krim 2% 1
aplikator penuh (5 gram) saat mau tidur, selama 7 hari. Selain metronidazol dapat
juga diberikan terapi berupa klindamisin oral dengan dosis 2 x 300 mg selama 7
hari. Pengobatan alternatif yang dianjurkan berupa tinidazol oral 1 x 2 gram
selama 2 hari, klindamisin ovules 100 mg intravagina saat mau tidur selama 3
hari.2,29,30 Pria pasangan seksual wanita dengan BV tidak perlu diterapi. Beberapa
penelitian memperlihatkan tidak ada efek yang bermakna dari pengobatan
terhadap pria pasangan seksual dalam hal keluhan dan gejala klinis.8,20,28,29
Pada masa kehamilan, pengobatan BV yang direkomendasikan pada
Sexual Transmitted Disease Treatment Guidelines 2010 oleh Centre for Disease
Control and Prevention (CDC) dapat diberikan metronidazol oral 2 x 500 mg
selama 7 hari, metronidazol 3 x 250 mg selama 7 hari, dan klindamisin oral 2 x
300 mg selama 7 hari. Keuntungan terapi BV pada wanita hamil adalah dapat
menurunkan gejala dan tanda-tanda infeksi pada vagina dan menurunkan risiko
infeksi komplikasi yang berhubungan BV pada wanita hamil.20

18

2.3 Hubungan Vaginal douching dengan Bacterial vaginosis


Sangat banyak pilihan produk pembersih vagina di pasaran, bahkan hampir
setiap hari bermunculan iklan yang menawarkan khasiat produk pembersih
vagina.30 Pembersih vagina memiliki berbagai macam kandungan, berikut daftar
beberapa produk yang beredar di Indonesia :
Kandungan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama produk
Resik V
Lactacid
Sumber Ayu
Beluna
Manorm
Betadine
Feminel
Wish estimate
The Body Shop Olive

Asam

Povidine

laktat

iodine

Douch
Absolute

Triclosan

Sodium

Sodium

benzoate

bicarbonat

Tabel 4. Daftar nama dan kandungan produk vaginal douching di Indonesia


Dari sekian banyak produk pembersih daerah intim wanita yang beredar
memiliki tiga bahan dasar31 :
1. Povidine iodine bahan ini merupakan anti infeksi untuk terapi
jamur dan berbagai bakteri. Efek samping produk yang
mengandung bahan ini adalah dermatitis kontak sampai reaksi
alergi berat.
2. Kombinasi laktoserum dan asam laktat (Lactic acid). Laktoserum
ini berasal dari fermentasi susu sapi dan mengandung senyawa
laktat, lactose serta nutrisi yang diperlukan untuk ekosistem
vagina. Sedangkan asam laktat berfungsi untuk menjaga tingkat pH
di vagina. pH yang sesuai dengan vagina yaitu 3,5-4,5.

19

3. Ekstrak daun sirih (piper betle L) yang sangat efektif sebagai


antiseptik =, membasmi jamur Candida albicans dan mengurangi
sekresi cairan pada vagina.
Penggunaan pembersih vagina merupakan hal praktek umum di seluruh
dunia. Namun, praktik ini jarang dievaluasi dalam studi infeksi genital pada
wanita dan gejalanya. Peran pembersihan ini terhadap gejala genital, temuan
klinis, hasil uji laboratorium, atau kejadian infeksi belum dijelaskan. Masuknya
zat asing dapat mengakibatkan perubahan dari pertahanan alami di daerah vagina
(bakteri, imunologi, pH, dan sebagainya). Adanya infeksi genital, dengan gejala
vagina bersamaan dengannya, dapat menumbuhkan kesan bahwa pembersihan
diperlukan dan karenanya meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut.9,10
Sebaliknya, pembersih genital mungkin memiliki efek penghambatan pada
beberapa patogen genital dan dapat menurunkan tingkat penularan. Aktivitas fisik
membersihkan vagina juga dapat berperan dalam penghapusan patogen yang
dapat mempengaruhi tingkat penularan. Oleh karena itu, apakah pembersihan
vagina menguntungkan, merugikan, atau kombinasi dari keduanya, belum jelas.9

Gambar 2. Interaksi vaginal douching dengan BV


Review pada tahun 2002 oleh Barbara Hansen Cottrell didapatkan bahwa
terdapat korelasi antara douching dengan kelainan reproduksi dan ginekologi

20

seperti BV, preterm birth, BBLR, PID, chlamydia infection, tubal pregnancy, HIV
transmission, kanker serviks.17 Begitu pula pada penelitian cross-sectional di
Alabama pada tahun 2008, didapatkan bahwa douching meningkatan resiko
disrupsi dari normal flora vagina. Dari 12.349 kunjungan selama penelitian
terdapat 40,2% mengalami BV. Onderdonk et al menemukan bahwa melakukan
vaginal douching dengan saline atau asam asetat berakhir pada perubahan
mikroflora vagina dalam 10 menit, ditambah lagi, diperlukan 72 jam untuk normal
flora agar kembali seperti sebelum vaginal douching.32
Pada sebuah penelitian di Sub-Sahara Afrika didapatkan bahwa diantara
wanita yang datang dengan flora normal vagina pada awalnya, mereka yang
membersihkan

dengan

sabun

sedikit

lebih

mungkin

untuk

terjadinya

perkembangan flora vagina intermediet dan BV, mungkin karena pH basa memicu
pertumbuhan bakteri BV terkait. Kehadiran flora vagina intermediet dan BV juga
dikaitkan dengan peningkatan kejadian HIV dalam penelitian tersebut. 9,11,12
Vaginal douching diyakini mengubah flora dominan vagina dan dengan
demikian, meningkatkan kerentanan terhadap BV. Hal ini telah digambarkan
sebagai salah satu faktor risiko untuk BV. Dalam penelitian lainnya di sub-Sahara
Afrika, hubungan antara vaginal douching dan BV adalah tidak konsisten,
mungkin hal ini terkait heterogenitas teknik dan bahan yang digunakan dalam
praktiknya.11,12
Pada penelitian yang dilakukan pada 625 pekerja seksual di Bali, 99,1%
menggunakan pembersih seperti sabun atau pasta gigi, dan 69,3% nya melakukan
hal tersebut setelah berhubungan. Penggunaan vaginal douching dapat
mempengaruhi gejala genital yang timbul pada wanita, dan juga dari temuan yang
didapatkan dari pemeriksaan fisik pada saat penelitian. Wanita yang menggunakan
vaginal douching setelah berhubungan mengalami gejala genital yang lebih jarang
dibandingkan wanita yang menggunakannya tiap hari atau kurang. 27

21

Tabel 5. Hubungan vaginal douching dengan gejala genital


Hasil yang berbeda didapatkan pada studi kasus pada tahun 2005 di
Gambia. Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa BV atau vaginal flora
patterns tidak berkorelasi dengan HIV maupun vaginal hygiene. 33 Begitu pula
dengan sistematik review yang dilakukan oleh Dana S. Forcey, et al pada tahun
2015, didapatkan bahwa BV tidak berkorelasi dengan etnik, vaginal douching,
maupun kontrasepsi hormonal. Pada review tersebut menyebutkan bahwa BV
terjadi karena wanita memiliki pasangan seks yang juga berjenis kelamin wanita
dimana mereka telah berhubungan seks selama minimal 3 bulan (hidup bersama)
dan salah satu dari pasangan tersebut sudah terkena BV (gejala maupun sudah
terdiagnosis BV).34 Studi lain menyebutkan pula bahwa aktivitas vaginal douche
memiliki hubungan dengan BV dengan catatan bahwa wanita tersebut sedari awal
memiliki flora vagina yang memang sudah terganggu keseimbangannya.
Sedangkan untuk wanita yang memiliki keseimbangan flora vagina normal maka
aktivitas douche tidak berhubungan dengan terjadinya BV.35
Uniknya sebuah review dan meta analisis yang dilakukan pada tahun 2010
oleh Adriane M. Hilber, et al disimpulkan bahwa tindakan vaginal douching dan
infeksi pada vagina dapat meningkakan terjadinya HIV, namun vaginal douching
tidak dapat mencegah HIV maupun infeksi lainnya.13
Pada penelitian yang dilakukan di Kamboja pada tahun 2000-2001
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara gejala vainal
dengan infeksi genital, meskipun gejala vaginal yang timbul lebih banyak

22

ditemukan pada peserta yang terkena infeksi genital. Pada penelitian tersebut juga
dicari hubungan antara frekuensi vaginal douching dengan gejala vaginal. 65,6%
partisipan melakukan vaginal douching lebih dari 1x per hari. Frekuensi vaginal
douching berhubungan positif dengan gejala vaginal yang timbul seperti rasa
gatal, adanya discharge dan disuria.9
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya BV. Dalam
penelitian studi deskriptif mengenai faktor risiko BV pada wanita di Indonesia
pada tahun 2010, diadapatkan bahwa wanita dengan paritas >5 lebih rentan
terhadap BV dibandingkan wanita nulipara maupun wanita dengan paritas 1-5.
Prevalensi BV juga tiggi pada wanita dengan suami yang belum disirkumsisi,
wanita yang menggunakan pantyliner dan wanita yang tidak menggunakan
kontrasepsi. Usia >40 tahun dan pasangan yang tidak disirkumsisi merupakan
faktor determinan yang secara signifikan berpengaruh terhadap kejadian BV.
Sedangkan riwayat DM, penggunaan antibiotik, riwayat STI, penggunaan sabun
tidak signifikan terhadap terjadinya BV.23

23

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1 Vaginal douching merupakan proses membersihkan intravagina dengan
cairan solusio. Douching digunakan untuk untuk alasan personal hygiene
atau kecantikan, untuk mencegah atau mengobati infeksi, untuk
membersihkan setelah menstruasi atau setelah berhubungan, dan untuk
2

mencegah kehamilan.
Vaginal douching meliputi eksternal douching dan internal douching.
Eksternal douching meliputi pembilasan labia dan bagian luar vagina
dengan bahan-bahan tertentu, sedangkan internal douching meliputi
memasukkan bahan atau alat pembersih ke dalam vagina dengan

menggunakan jari dan atau dalam bentuk spraying atau liquid.


BV merupakan sindrom polimikroba , yang mana laktobasilus vagina
normal, khususnya yang menghasilkan hidrogen peroksidase digantikan

oleh berbagai bakteri anaerob dan mikoplasma.


Bakteri yang sering ada pada BV adalah G.vaginalis, Mobiluncus sp,

Bacteroides sp dan M. hominis.


Vaginal douching diyakini mengubah flora dominan vagina dan dengan

demikian meningkatkan kerentanan terhadap BV.


Produk yang beredar di Indonesia mengandung bahan-bahan douching
yang dapat mengubah flora vagina sehingga terdapat kemungkinan terkena

7
8

BV.
Penggunaan vaginal douching pada prakteknya masih kontroversial.
Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi apakah
seseorang dengan aktivitas vaginal douching akan terkena BV, antara lain
durasi penggunaan, pasangan seksual, kondisi flora vagina, daya tahan
tubuh dan riwayat apakah sudah terkena BV sebelumnya atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA

24

Daili, S.F., Makes, W.I., Zubier, F.,.Infeksi Menular Seksual. 2011. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.

Sarwono. Ilmu Kandungan. 2008. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006. Pedoman Dasar Infeksi


Menular Seksual dan Saluran Reproduksi Lainnya pada Pelayanan
Kesehatan

Reproduksi

Terpadu.

Diperoleh

Jakarta:

dari:

Departemen

Kesehatan.

http://www.perpustakaan-

depkes.org:8180/handle/123456789/951. Diakses 27 Desember 2016.


4

Sianturi.

2005.

Keputihan

Pada

Remaja.

Diunduh:

http://72.14.203.104/search?q=bkkbn.go.id. Diakses 27 Desember 2016.


5

Mayangsari,

Diah.

Vaginal

douching.

Di

unduh:

http://angsamerah.com/pdf/Angsamerah%20Vaginal%20Douching.pdf.
2011. Akses : 28 Desember 2016.
6

Merchant S. Jeanne, et al. Douching: A Problem for Adolescent Girls and


Young

Women.

1999.

Di

jamanetwork.com/data/Journals/PEDS/8484/poa8424.pdf.

unduh:
Akses:

28

Desember 2016.
7

R. Asriningrum. Prevalensi dan Faktor Risiko Vaginosis Bakterial sesuai


Kriteria Amsel Pada Wanita Penjaja Seks di Tangerang. 2015. Diunduh:
www.perdoski.org/doc/mdvi/.../6_Artikel_Asli_2.pdf. Akses: 28 Desember
2016.

Spiegel

A.

Carol.

Bacterial

Vaginosis.

1991.

Diunduh:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/.../pdf/cmr00045-0095.pdf.
Akses 28 Desember 2016. Akses: 28 Desember 2016.
9

Heng, Yatsuya, Morita, and Sakamoto. Vaginal douching in Cambodian


Women: Its Prevalence and Association With Vaginal Candidiasis. J
Epidemiol 2010;20(1):70-76

10 Alcaide and Jones. Vaginal Cleansing Practices in HIV Infected Zambian


Women. AIDS Behav. 2013 March ; 17(3): 872878.

25

11 Carter, Gallo, Anderson, Snead, Wiener, Bailey, Costenbader, LegardyWilliams, and Hylton-Kong. Intravaginal Cleansing among Women
Attending a Sexually Transmitted Infection Clinic in Kingston, Jamaica.
West Indian Med J. 2013 January ; 62(1): 5661.
12 Low, Chersich, Schmidlin, Egger, Francis, van de Wijgert, Hayes, Baeten,
Brown. Intravaginal Practices, Bacterial Vaginosis, and HIV Infection in
Women: Individual Participant Data Metaanalysis. Plosmedicine,
February 2011, Volume 8, Issue 2
13 Hilber., Francis, Chersich, Pippa Scott, Shelagh Redmond, Bender, Paolo
Miotti, Temmerman, Low. Intravaginal Practices, Vaginal Infections and
HIV Acquisition: Systematic Review and Meta-Analysis. Plosone,
February 2010, Volume 5, Issue 2
14 Brown JM, Poirot E, Hess KL, Brown S, Vertucci M, Hezareh M.
Motivations for Intravaginal Product Use among a Cohort of Women in
Los

Angeles.

2016.

PLoS

ONE

11(3):

e0151378.

doi:10.1371/journal.pone.0151378
15 Truter and Graz. Bacterial vaginosis: Literature review of treatment
options with specific emphasis on non-antibiotic treatment. 2013. Afr. J.
Pharm. Pharmacol. Vol. 7(48), pp. 3060-3067.
16 Fridayani B. Novi. Hubungan antara Perilaku Eksternal Douching
dengan Kejadian Keputihan pada Ibu Rumah Tangga di Kledung
Karangdalem

Banyuurip

Purworejo.

2015.

Diunduh:

http://opac.unisayogya.ac.id/655/1/NASKAH%20PUBLIKASI%20NOVI
%20BELINDA%20FRIDAYANI%20201410104032.pdf.

Akses:

28

Desember 2016.
17 Cottrell

H.

Barbara.

Discourage

Douching.

2002.

Di

unduh:

www.jognn.org/article/S0884-2175(15)34031-4/pdf. Akses: 28 Desember


2016.
18 Klebanoff A. Mark, et al. A Pilot Study of Vaginal Flora Changes wisth
Randomization

to

Cessation

of

Douching.

2006.

Diunduh:

26

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/articles/16614585.pdf.

Akses:

28

Desember 2016.
19 Rothman J. Kenneth, et al. Randomized Field Trial of Vaginal douching,
Pelvic

Inflammatory

Disease

and

Pregnancy.

2003.

Diunduh:

www.procto.ca/files/Randomized_Field_Trial_of_Vaginal_Douching.pd
f. Akses: 30 Desember 2016.
20 Luong Me-Linh, MD, et al. Vaginal douching, Bacterial Vaginosis, and
Spontaneous Preterm Birth. 2009. Diunduh: www.jogc.com/article/S17012163(16)34474-7/pdf. Akses: 30 Desember 2016.
21 Pujiastuti and Murtiastutik. Studi Retrospektif: Vaginosis Bakterial. 2014.
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Vol. 26 , No. 2.
22 Koumans EH, Sternberg M, Bruce C, McQuillan G, Kendrick J, Sutton M,
Markowitz LE. The prevalence of bacterial vaginosis in the United States,
2001-2004;

associations

with

symptoms,

sexual

behaviors,

and

reproductive health. 2007. Sex Transm Dis.Nov;34(11):864-9.


23 Ocviyanti, Rosana, Olivia, Darmawan. Risk factors for bacterial vaginosis
among Indonesian women. 2010. Med J Indones. Vol. 19, No. 2
24 British Association for Sexual Health and HIV. National Guideline For
The Management Of Bacterial Vaginosis. 2006
25 Hickeya, Zhoua, Jacob D. Piersonb, Ravelc, and Forney. Understanding
vaginal microbiome complexity from an ecological perspective. 2012.
Transl Res. 160(4): 267282. doi:10.1016/j.trsl.2012.02.008
26 K Baisley,J Changalucha, H A Weiss, K Mugeye, D Everett, Hambleton, P
Hay, D Ross, C Tanton,T Chirwa, R Hayes, D Watson-Jones. Bacterial
vaginosis in female facility workers in north-western Tanzania: prevalence
and

risk

factors.

Sex

Transm

Infect

2009;85:370375.

doi:10.1136/sti.2008.035543
27 Reed, Ford, and Wirawan. The Bali STD/AIDS study: association between
vaginal hygiene practices and STDs among sex workers. Sex Transm Inf
2001;77:4652

27

28 Muzny A. Christina, et al. Pathogenesis of Bacterial Vaginosis:

Discussion

of

Current

Hypothese.

2016.

Diunduh:

jid.oxfordjournals.org/content/210/3/338.full. Akses: 30 Desember 2016.


29 Judanarso J. dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi VI. 2010. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI.
30 Zubier, Farida, et al. Efikasi Sabun Ekstra Sirih Merah dalam Mengurangi
Gejala

Keputihan

Fisiologis.

2010.

Diunduh:

http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/70
3/708. Akses: 3 Januari 2017.
31 Suryandari F. Diah, et al. Hubungan Pemakaian Sabun Pembersih

Kewanitaan dengan Terjadinya Keputihan pada Wanita Usia Subur


(WUS) di Desa Karang Jeruk Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto.
GOO2013.

Diunduh:

poltekkesmajapahit.ac.id/downlot.php?file...pdf.

Akses: 3 Januari 2017.


32 Brotman M. Rebecca, et al. A Longitudinal Study of Vaginal douching and

Bacterial Vaginosis-A Marginal Structural Modeling Analysis. 2008.


Diunduh:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2574994/.

Diakses: 30 Desember 2016.


33 Demba Edward, et al. Bacterial vaginosis, vaginal flora patterns and

vaginal hygiene practices in patients presenting with vaginal discharge


syndrome

in

The

Gambia,

West

Africa.

2005.

Diunduh:

http://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/1471-2334-5-12.
Diakses: 30 Desember 2016.
34 Forcey S. Dana, et al. Factor Associated with Bacterial Vaginosis amon

Women Who Have Sex With Women: A Systematic Review. 2015. Diunduh:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4682944/.

Diakses:

30

Desember 2016.
35 Hutchinson B. Katherine, et al. Vaginal douching and Development of

Bacterial Vaginosis Among Women with Normal and Abnormal Vaginal


Microflora.

Diunduh:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/articles/

17413534. Diakses: 30 Desember 2016.

28

29