Anda di halaman 1dari 7

BAB III

RENCANA KERJA

Strategi Usaha Membangun kepercayaan melalui perintisan usaha pelayanan


kepada unit-unit yang mengalami krisis pasokan. Kebijakan-Kebijakan Perusahaan
diterapkan selaras dengan strategi usaha meliputi

i. Mengembangkan kerjasama CPP dengan para mitra.


ii. Research and Development ("R & D") teknologi coal upgrading
iii. Pengurusan Ijin Usaha Pertambangan ("IUP") tambang di Barito Selatan,
dan
iv. Usulan shareholder loan untuk mendanai investasi cadangan terkendali.
v. Program Kegiatan Berdasarkan strategi dan kebijakan seperti diuraikan di
atas, program kegiatan adalah sebagai berikut :

1. Pemasaran dan Penjualan

Berdasarkan uraian di atas, dapat kami simpulkan bahwa pada dasarnya jual beli
batubara merupakan jual beli yang sama dengan jual beli lainnya. Namun, terdapat hal-
hal lain yang harus diperhatikan oleh para pihak dalam melakukan jual beli batubara
yang akan dituangkan dalam perjanjian jual tersebut.

Untuk mengetahui tata cara pembelian batubara, berikut di bawah ini adalah hal-
hal yang harus diperhatikan:

1. Pihak yang berhak menjual batubara

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan


Mineral dan Batubara (UU Minerba), diatur bahwa para pihak yang dapat melakukan
kegiatan usaha di bidang pertambangan adalah pihak-pihak yang memiliki izin dalam
bidang usaha pertambangan. Dalam hal kegiatan usaha yang akan dijalankan adalah
jual beli batubara, maka berdasarkan UU Minerba pihak yang berhak untuk melakukan
kegiatan penjualan batubara tersebut adalah pemegang IUP Operasi Produksi (IUP
OP) dan IUPK Pengangkutan dan Penjualan (IUPK Trading).

2. Perjanjian Jual Beli Batubara


Setelah kita mengetahui para pihak yang berhak melakukan penjualan batubara,
maka tahap selanjutnya adalah pembuatan perjanjian jual beli batubara antara
perusahaan saudara dengan pemegang IUP OP atau dengan pemegang IUPK Trading.

Pada dasarnya, perjanjian jual beli batubara merupakan perjanjian yang sama
dengan perjanjian lainnya yang harus memenuhi unsur dari Pasal 1320 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Namun, khusus untuk perjanjian jual beli
batubara terdapat hal-hal yang harus diperhatikan pada pembuatan perjanjian tersebut
yaitu:

i. lingkup hak izin menentukan lingkup wilayah penjualan batubara

Dalam membuat perjanjian dengan penjual yang dalam hal ini adalah IUPK
Trading, Kita harus mengetahui lingkup izin yang dimiliki oleh pemegang IUPK
Trading tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengetahui bagaimana cakupan hak atas
wilayah penjualan yang dimiliki oleh pemegang IUPK Trading. Dalam hal IUPK
Trading diberikan oleh Menteri, maka kegiatan penjualan dapat dilakukan lintas
provinsi dan negara, kemudian jika diberikan oleh Gubernur maka kegiatan penjualan
batubara dapat dilakukan lintas kabupaten atau kota, sedangkan jika diberikan oleh
Bupati maka kegiatan penjualan terbatas hanya pada satu kabupaten/kota.

ii. status clean and clear

Berdasarkan praktik dalam usaha pertambangan, batubara yang dijual oleh


pemegang IUPK Trading dipersyaratkan diperoleh dari pemegang IUP OP yang telah
terdaftar dalam daftar clean and clear yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dibuktikan dengan sertifikat clean and clear.

iii. harga batubara

Bagi para pihak yang ingin melakukan jual beli batubara dan akan menentukan
harga batubara harus mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral dan Batubara. Harga
batubara akan ditentukan oleh ESDM yang berlaku untuk jangka waktu tertentu dan
ditetapkan berdasarkan peraturan direktorat jenderal. Penentuan harga patokan batubara
ini dimaksudkan sebagai patokan dalam menentukan besarnya jumlah royalti yang
harus dibayarkan oleh para pihak dalam perjanjian tersebut.
2. Pengadaan

Mengacu pada KEPDIR-NO-270-THN-2013 point F :

F. Bahwa pengadaan batubara ditujukan untuk menentukan tambang yang paling


sesuai dengan kebutuhan Pebangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT. PLN (Persero)
(*PLN*) di mana pengadaan batubara adalah untuk memperoleh sumber batubara
dengan kriteria :

a. Kualitas batubata paling sesuai dengan spesifikasi Pembangkit Listrik Tenaga


Uap (PLTU);

b. Kuantitasnya mencukupi untuk waktu tertentu atau selama umur Pembangkit


Listrik Tenaga Uap (PLTU);

c. Jadwal kesiapan tambangnya esuai dengan jadwal kesiapan Pembangkit Listrik


Tenaga Uap (PLTU)

d. Cara transportasi yang menjamin ketersediaan batubara adalah jarak yang


paling dekat antara lokasi tambang dan lokasi Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU).

3. Produksi dan Kualitas Produk

Berikut ini adalah upaya dalam peningkatan kualitas produk :

Alat Pengumpulan Data

Data yang akan diperoleh ialah parameterkualitas batubara yang terdiri dari
nilai proksimat (inherent moisture, ash content,voaltile matter, fixed carbon), nilai
kalori, totalsulfur.

1. Leco TGA-701; Alat ini dugunakan untuk analisis nilai proksimat.

2. Bombcalorimeter Parr-1266 ;Alat ini digunakan untuk analisis nilai kalori.

3. Leco S144DR ;Alat ini digunakan untuk analisis nilai totalsulfur.


Upgrading

4. Teknologi Informasi

Mencakup manajemen informasi dan komunikasi perusahaan kepada seluruh


aspek

5. Keuangan dan Akuntansi

6. Organisasi dan SDM

Berhubungan dengan kontribusi dan regulasi perusahaan terhadap lingkungan


masyarakat terhadap bidang pendidikan, sosial, dan sebagainya.

7. Penelitian dan Pengembangan


Penelitian dan pengembangan batubara dapat memberikan kontribusi yang
sangat besar artinya baik bagi pihak produsen batubara karena nilai jual batubara yang
bertambah maupun bagi masyarakat umum misalnya karena menurunnya jumlah
polutan dari hasil pembakaran batubara.

8. Lingkungan dan Keselamatan Kerja

Kerangka dasar manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat disusun


sebagai berikut :

a. Fungsi utama manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,


pelaksanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Contoh dari kelima fungsi ini ditentukan
oleh konsep dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dianut industri tersebut.

b. Kegiatan utama manajemen yang meliputi pembiayaan dan pelaporannya,


pengoperasian, produk pemasaran dan penjualan serta sistem komunikasi dan
informasi. Kegiatan-kegiatan ini merupakan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh
perusahaan.

c. Sumber daya dan pembatas yang meliputi manusia, materialisme dan


peralatan, kebutuhan konsumen, kondisi ekonomi, masyarakat dan lingkungan kerja
serta peraturan pemerintah dapat merupakan masukan kegiatan manajemen dan fungsi
manajemen.

Dengan melandaskan pada kerangka dasar manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja tersebut diatas maka tujuan manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja adalah melakukan pencegahan kecelakaan atau kerugian perusahaan dengan
merealisasikan setiap fungsi manajemen dalam melaksanakan kegiatan yang dibatasi
oleh sumber atau masukan yang dimiliki.

9. Investasi

Prosedur yang akan digunakan dalam melakukan analisis keuangan

(finansial analysis) dalam rangka kajian ekonomi pada rencana investasi


proyek tersebut adalah sebagai berikut :

2.1. Menentukan Parameter Dasar

Sebagai titik tolak analisis keuangan pada rencana investasi adalah

hasil kajian teknis dan pemasaran dari studi kelayakan dalam penambangan

batubara. Kajian teknis penambangan batubara menghasilkan parameter

dasar yang melandasi perhitungan nilai-nilai investasi dari proyek tersebut,

seperti :

1. Jumlah cadangan batubara tertambang (mineable reserve);


2. Kapasitas produksi batubara;
3. Jenis dan jumlah peralatan utama operasi penambangan;
4. Jenis dan jumlah peralatan pendukung;
5. Infrastuktur dalam dan luar tambang;
6. Segmen pasar batubara;
7. Harga jual batubara, dan lain-lain.

2.2. Menghitung Proyeksi Pendapatan (Revenue)

Perhitungan proyeksi pendapatan (revenue) adalah perkiraan dana

yang masuk atau diterima oleh PT. ANU sebagai hasil penjualan (sales)

produksi batubara yang dihasilkan sesuai dengan skenario produksi dan

harga batubara yang direncanakan.

2.3. Menghitung Ongkos Produksi (Production Cost)

Perhitungan ongkos produksi (production cost) adalah perkiraan dana yang

dikeluarkan PT. ANU sebagai akibat dari kegiatan operasi untuk

menghasilkan produk batubara bersih yang siap dijual ke pasar. Dalam

kegiatan memproduksi batubara bersih sampai siap menjualnya ada

keterkaitan dengan kegiatan operasi utama atau kegiatan yang sifatnya

mendukung kegiatan produksi.


Untuk itu, beberapa komponen biaya operasi yang perlu dimasukkan dalam

perhitungan ongkos produksi yaitu antara lain :

a) Ongkos operasi penambangan batubara, yang terdiri dari :

1) Ongkos pengupasan dan pemindahan top soil;


2) Ongkos penggalian dan pemindahan overburden;
3) Ongkos penggalian dan pemindahan batubara;
4) Ongkos operasi pendukung penambangan (mining suport);
5) Ongkos overhead operasi penambangan.

b) Ongkos operasi pengolahan batubara, yang terdiri dari :

1) Ongkos pemindahan batubara dari raw coal stockpile ke crushing


plant;
2) Ongkos proses pengolahan batubara di crushing plant;
3) Ongkos operasi pendukung pengolahan (crushing plant support);
4) Ongkos overhead operasi pengolahan.