Anda di halaman 1dari 5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1` Definisi
Low back pain (LBP) merupakan rasa nyeri yang dirasakan pada punggung bawah yang
sumbernya adalah tulang belakang daerah spinal (punggung bawah), otot, saraf, atau struktur
lainnya di sekitar daerah tersebut. Penyebab low back pain ini sangat beragam dan
memerlukan suatu pendekatan yang sistematik dalam upaya mencari penyebab utamanya.
Faktor risiko potensial untuk terjadinya LBP adala merokok, multiparitas, mengendarai
kendaraan bermotor dan mengangkat beban berulang-ulang. Demikian pula dalam
penatalaksanaan keluuhan nyeri pinggang tersebut memrlukan seni tersendiri. 1
Hernia nukleus pulposus adalah keadaan dimana terjadi penonjolan sebagian atau
seluruh bagian dari nukleus pulposus atau anulus fibrosus diskus intervertebralis, yang
kemudian dapat menekan ke arah kanalis spinalis atau radiks saraf melalui anulus fibrosus
yang robek.2

2.2 Epidemiologi
Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting pada semua
negara. Besarnya masalah yang diakibatkan oleh nyeri pinggang dapat dilihat dari ilustrasi
data berikut. Pada usia kurang dari 45 tahun, nyeri pinggang menjadi penyebab kemangkiran
yang paling sering, penyebab tersering kedua kunjungan ke dokter, urutan kelima masuk
rumah sakit dan masuk 3 besar tindakan pembedahan. 3
Di Indonesia, low back pain (LBP) dijumpai pada golongan usia 40 tahun. Secara
keseluruhan, low back pain (LBP) merupakan keluhan yang paling banyak dijumpai (49 %).
Pada negara maju prevalensi orang terkena low back pain (LBP) adalah sekitar 70-80 %.
Sekitar 80-90% pasien low back pain (LBP) menyatakan bahwa mereka tidak melakukan
usaha apapun untuk mengobati penyakitnya jadi dapat disimpulkan bahwa low back pain
(LBP) meskipun mempunyai prevalensi yang tinggi namun penyakit ini dapat sembuh
dengan sendirinya.
Prevalensi hernia nukleus pulposus berkisar antara 1-2% dari populasi. Kejadian hernia
nukleus pulposus paling sering (90%) mengenai diskus intervertebralis L5-S1 dan L4-L5,
kemudian daerah servikalis (C6-C7 dan C5-C6) dan paling jarang terkena di daerah torakalis.
Prevalensi tertinggi terjadi antara umur 30-50 tahun, dengan rasio pria dua kali lebih besar
daripada wanita. Pada usia 25-55 tahun, sekitar 95% kejadian HNP terjadi di daerah lumbal.
HNP di atas daerah tersebut lebih sering terjadi pada usia di atas 55 tahun. 1
2.3 Etiologi
Penyebab LBP dapat dibagi menjadi:
2.3.1 Vaskular
Aneurisma aorta abdomialis dan penyakit pembuluh darah perifer dapat muncul
ssebagai nyeri punggung atau dengan gejala menyerupai sciatica. 4
2.3.2 Neurogenik
Regangan, iritasi, dan kompresi nervus dan ganglion lumbaris dapat menyebabkan
nyeri yang menjalar ke salah satu atau kedua kaki. Lesi di sepanjang sistem saraf pusat
terutama pada medula spinalis, dapat muncul sebagai nyeri punggung dan nyeri tungkai. 4
2.3.3 Viserogenik
Nyeri punggung bawah dapat diperoleh dari gangguan pada organ yang berada di
rongga abdomen bagian bawah, pelvis, dan struktur retroperitoneal seperti pankreas dan
ginjal. Batu ginjal dapat bergejala seperti nyeri punggung berat. 4
2.3.4 Psikogenik
Faktor psikogenik seperti lonjakan emosi dapat mengaburkan manifestasi klinis nyeri
punggung. Faktor tunggal psikogenik jarang menyebabkan nyeri punggung bawah. 4
2.3.5 Spondilogenik
Beberapa kondisi yang menyebabkan spondylogenic back pain antara lain 4:
a. Degenerasi diskus
b. Spondilolistesis
c. Trauma, myofascial sprain/strain, fraktur
d. Infeksi (bacterial Tuberculosis)
e. Tumor (benign, malignant, metastatic)
f. Reumoatologi, ankylosing spondylitis/ spondyloarthropathy, fibrositis/ fibromyalgia
g. Metabolik, osteoporosis, osteomalasia, paget disease

2.4 Faktor Resiko


Faktor risiko penderita HNP dapat dibagi atas :
2.4.1 Faktor risiko yang tidak dapat diubah 5
a. Umur: semakin umur bertambah, risiko makin tinggi.
b. Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak daripada wanita.
c. Riwayat akibat cedera punggung atau HNP sebelumnya
2.4.2 Faktor risiko yang dapat diubah 5
a. Aktivitas dan pekerjaan, misalnya duduk dalam waktu lama, mengangkat ataupun
menarik beban yang berat, terlalu sering memutar punggung ataupun membungkuk,
latihan fisik terlalu berat dan berlebihan, paparan pada vibrasi yang konstan.
b. Olahraga tidak menentu, misalnya memulai aktivitas fisik yang sudah sekian lama
tidak dilakukan dengan berlatih berlebih dan berat dalam jangka waktu yang cukup
lama.
c. Merokok, dimana nikotin dalam rokok dapat mengganggu kemampuan diskus
menyerap nutrisi yang diperlukan dari darah.
d. Berat badan yang berlebihan, terutama beban ekstra di perut yang menyebabkan
strain pada punggung bawah.
e. Batuk dalam waktu yang lama dan berulang-ulang.

2.5 Klasifikasi
Klasifikasi hernia nukleus pulposus secara anatomis terfokus pada protrusi atau ekstrusi
diskus dan hubungannya dengan annular margin: 6
a. Protruded intervertebral disc
Nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan anulus fibrosus.
b. Prolapsed intervertebral disc
Nukleus berpindah, tetapi masih dalam lingkaran anulus fibrosus.
c. Extruded intervertebral disc
Nukleus keluar dan anulus fibrosus berada di bawah ligamentum, longitudinalis
posterior.
d. Sequestrated intervertebral disc
Nukleus telah menembus ligamentum longitudinal posterior.
Gambar 2.1 Hernia nukleus pulposus menurut gradasi
2.6 Patofisiologi
Diskus intervertebralis tersusun atas jaringan fibrokartilago yang berfungsi sebagai
shock absorber, menyebarkan gaya pada kolumna vertebralis dan juga memungkinkan
gerakan antar vertebra. Kandungan air diskus berkurang dengan bertambahnya usia (dari 90%
pada bayi sampai menjadi 70% pada orang usia lanjut). Selain itu serabut-serabut menjadi
kasar dan mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya perubahan ke arah herniasi
nukleus pulposus melalui anulus dan menekan radiks saraf spinal. Pada umumnya hernia
paling mungkin terjadi pada bagian kolumna vertebralis dimana terjadi peralihan dari segmen
yang lebih mobil ke yang kurang mobil (perbatasan lumbosakral dan servikotolarak). 3,7
Dimulainya degenerasi diskus mempengaruhi mekanika sendi intervertebral, yang
dapat menyebabkan degenerasi lebih jauh. Selain degenerasi, gerakan repetitive, seperti
fleksi, ekstensi, lateral fleksi, rotasi, dan mengangkat beban dapat memberi tekanan abnormal
pada nukleus. Jika tekanan ini cukup besar sampai bisa melukai annulus, nucleus pulposus ini
berujung pada herniasi. Trauma akut dapat pula menyebabkan herniasi, seperti mengangkat
benda dengan cara yang salah dan jatuh. 3,7
Nukleus pulposus yang mengalami herniasi ini dapat menekan nervus di dalam medulla
spinalis jika menembus dinding diskus (annulus fibrosus); hal ini dapat menyebabkan nyeri,
rasa tebal, rasa keram, atau kelemahan. Rasa nyeri dari herniasi ini dapat berupa nyeri
mekanik, yang berasal dari diskus dan ligamen; inflamasi, nyeri yang berasal dari nucleus
pulposus yang ekstrusi menembus annulus dan kontak dengan suplai darah; dan nyeri
neurogenik, yang berasal dari penekanan pada nervus.2

1. Sudoyo, Aru et. al. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan UI.
2. Foster, Mark R. 2014. Herniated Nucleus Pulposus. Medscape
3. Wheeler, Anthony H. 2016. Low Back Pain and Sciatica. Medscape
4. Swiontkowski, Marc F dan Steven D. Stovitz. 2012. Manual of Orthopaedics Seventh
Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer
5. Delitto, Anthony et. al. 2012. Low Back Pain: Clinical Practice Guidelines Linked to
the International Classification of Functioning, Disability, and Health from the
Orthopaedic Section of the American Physical Therapy Association .Journal of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, Volume 42, Number 4
6. Lasanianos, Nick G et. al. 2015. Trauma and Orthopaedic Classification. London:
Springer
7. Price, Sylvia A. Dan Lorraine M. Wilson. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Prose-
Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC