Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budaya Perusahaan di Indonesia nampaknya belum begitu popular, walaupun bukan


berarti di Indonesia tidak ada perusahaan yang telah memiliki dan mengembangkan budaya
perusahaan. Contohnya seperti kesuksesan yang diraih PT Indosat maupun perusahaan
penerbangan Garuda Indonesia kiranya tidak terlepas dari budaya perusahaan yang telah
dimiliki kedua BUMN tersebut. Maka, pembicaraan tentang budaya perusahaan masih
sangat relevan dan kontekstual, terutama melihat fakta-fakta masih minimnya perusahaan
yang ada di Indonesia.
Tipe-tipe organisasi saat ini sangat bervariasi dalam hal ruang lingkup dan ukuran
dan mungkin akan memiliki beberapa praktik yang unik pada organisasi itu. Misalnya,
sebuah organisasi yang umum adalah organisasi akademik yaitu universitas. Terdapat
beberapa ritual dalam perguruan tinggi, seperti orientasi mahasiswa baru. Praktik-praktik
seperti bimbingan dan magang juga memberi ciri kebanyakan institusi di perguruan tinggi.
Jelaslah bahwa inti dari kehidupan organisasi ditemukan di dalam budayanya. Dalam
hal ini, budaya tidak mengacu pada keanekaragaman ras, etnis, dan latar belakang individu.
Melainkan budaya adalah suatu cara hidup di dalam sebuah organisasi. Budaya perusahaan
mencakup iklim atau atmosfer emosional dan psikologis. Hal ini mungkin mencakup
semangat kerja karyawan, sikap, dan tingkat produktivitas. Budaya perusahaan juga
mencakup simbol (tindakan, rutinitas, percakapan) dan makna-makna yang dilekatkan orang
pada simbol- simbol ini. Makna dan pemahaman budaya dicapai melalui interaksi yang
terjadi antar karyawan dan pihak manajemen.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari budaya perusahaan?
2. Apa saja teori-teori mengenai budaya perusahaan?
3. Apa dimensi-dimensi budaya perusahaan?
4. Apa saja tipe-tipe budaya perusahaan?
5. Apa manfaat dan peranan budaya perusahaan?
6. Bagaimana cara karyawan mempelajari budaya perusahaan?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mahasiswa dapat mengatahui pengertian budaya perusahaan.
2. Mahasiswa dapat mengatahui teori-teori mengenai budaya perusahaan.
1
3. Mahasiswa dapat mengatahui dimensi-dimensi budaya perusahaan.
4. Mahasiswa dapat mengatahui tipe-tipe budaya perusahaan.
5. Mahasiswa dapat mengatahui manfaat dan peranan budaya perusahaan.
6. Mahasiswa dapat mengatahui cara karyawan mempelajari budaya perusahaan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Pengertian Budaya Perusahaan
Pengertian budaya perusahaan secara luas yaitu suatu sistem dari nilai-nilai yang
dipegang bersama tentang apa yang penting serta keyakinan tentang bagaimana dunia itu
berjalan.
Menurut Susanto, AB. (1997) budaya perusahaan adalah suatu nilai-nilai yang
menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan
penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota organisasi
harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana meraka harus bertindak atau
berperilaku.
Menurut Koentjoroningrat (1994), budaya itu sendiri memiliki tiga tingkatan yang
saling berinteraksi satu sama lain. Tingkatan yang pertama berupa benda-benda hasil
kecerdasan dan kreasi manusia (artefacts dan creation). Tingkatan kedua adalah nilai-nilai
dan ideologi yang merupakan aturan, prinsip, norma, nilai, dan moral yang menuntun
organisasi dan merupakan harta kekayaan yang ingin mereka penuhi. Tingkatan ketiga
adalah asumsi dasar yang tidak disadari mengenai keadaan kebenaran dan kenyataan,
kemanusiaan, hubungan manusia dengan alam, hubungan antar manusia, keadaan waktu dan
alam semesta.
Menurut Hofstade, Geerst (1990), budaya perusahaan didefinisikan sebagai
perencanaan bersama dari pola pikir (collective programming mind) yang membedakan
anggota-anggota dari suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari suatu budaya yang
lain. Pola pikir ini pada dasarnya hanya ada dalam pikiran individu yang kemudian
mengalami kristalisasi dan memiliki bentuk. Pada gilirannya pola pikir bersama ini akan
meningkatkan sikap mental para anggota kelompok tersebut.
Budaya organisasi yang terbentuk, dikembangkan, diperkuat atau bahkan diubah,
memerlukan praktik yang dapat membantu menyatukan nilai budaya anggota dengan nilai
budaya organisasi. Praktik tersebut dapat dilakukan melaluiinduksi atau sosialisasi, yaitu
melalui transformasi budaya organisasi. Sosialisasi organisasi merupakan serangkaian
aktivitas yang secara substantif berdampak kepada penyesuaian aktivitas individual dan
keberhasilan organisasi, antara lain komitmen, kepuasan dan kinerja. Beberapa langkah
sosialisasi yang dapat membantu dan mempertahankan budaya organisasi adalah melalui
seleksi calon karyawan, penempatan, pendalaman bidang pekerjaan, penialian kinerja, dan
pemberian penghargaan, penanaman kesetiaan pada nilai-nilai luhur, perluasan cerita dan
berita, pengakuan kinerja dan promosi. Berbagai praktik di atas dapat memperkuat budaya
organisasi dan memastikan karyawan yang bekerja sesuai dengan budaya
organisasi memberikan imbalan sesuai dukungan yang dilakukan. Sosialisasi yang
efektif akan menghasilkan kepuasan kerja, komitmen organisasi, rasa percaya diri

3
pada pekerjaan, mengurangi tekanan serta kemungkinan keluar dari pekerjaan. Beberapa hal
yang dapat dilakukan organisasi untuk mempertahankan organisasi adalah menyusun asumsi
dasar, menyatakan dan memperkuat nilai yang diinginkan dan menyosialisasikan melalui
contoh.

2.2 Teori Budaya Perusahaan

Terdapat tiga asumsi yang mengarahkan pada teori budaya perusahaan, yaitu:

1. Angota-anggota organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki


bersama mengenai realitas organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih baik
mengenai nilai-nilai sebuah organisasi
Asumsi yang pertama berhubungan dengan pentingnya orang di dalam
kehidupan organisasi. Secara khusus, individu saling berbagi dalam menciptakan dan
mempertahankan realitas. Individu-individu ini mencakup karyawan, supervisor, dan
atasan. Pada inti dari asumsi ini adalah yang dimiliki oleh organisasi. Nilai adalah
standar dan prinsip-prinsip dalam sebuah buadanya yang memiliki nilai intrinsik dari
sebuah budaya. Nilai menunjukkan kepada anggota organisasi mengenai apa yang
penting. Orang berbagi dalam proses menemukan nilai-nilai perusahaan. Menjadi
anggota dari sebuah organisasi membutuhkan partisipasi aktif dalam organisasi tersebut.
2. Penggunaan dan intepretasi simbol sangat penting dalam budaya organisasi
Realitas organisasi juga sebagiannya ditentukan oleh simbol-simbol, dan ini
merupakan asumsi kedua dari teori ini. Perspektif ini menggaris bawahi penggunaan
simbol di dalam organisasi. Simbol-simbol ini sangat penting bagi budaya perusahaan.
Simbol-simbol mencakup komunikasi verbal dan non-verbal di dalam organisasi.
Seringkali simbol-simbol ini mengkomunikasikan nilai-nilai organisasi. Simbol dapat
berupa slogan yang memiliki makna. Sejauh mana simbol-simbol ini efektif bergantung
tidak hanya pada media tetapi bagaimana karyawan perusahaan mempraktikannya.
3. Budaya bervariasi dalam organisasi-organisasi yang berbeda, dan interpretasi tindakan
dalam budaya ini juga beragam
Asumsi yang ketiga mengenai teori budaya organisasi berkaitan
dengan keberagaman budaya organisasi. Sederhana, budaya organisasi sangat
bervariasi. Persepsi mengenai tindakan dan aktivitas di dalam budaya-budaya ini
juga seberagam budaya itu sendiri.

2.3 Dimensi Budaya Perusahaan


Terdapat banyak dimensi yang membedakan budaya. Dimensi ini mempengaruhi
perilaku yang dapat mengakibatkan kekeliruan pemahaman, ketidakepakatan, atau bahkan
4
konflik. Konsep budaya pada awalnya berasal dari lapangan antropologi dan mendapat
tempat pada awal perkembangan ilmu perilaku organisasi.
Luthan (1998) menyebutkan sejumlah karakteristik yang penting dari budaya
organisasi, yang meliputi:
1. Aturan-Aturan Perilaku, yaitu bahasa, terminologi, dan ritual yang biasa dipergunakan
oleh anggota organisasi.
2. Norma, adalah standar perilaku yang menjadi petunjuk bagaimana melakukan sesuatu.
Lebih jauh di masyarakat kita kenal adanya norma agama, norma susila, norma sosial,
norma adat, dll.
3. Nilai-Nilai Dominan, adalah nilai utama yang diharapkan dari organisasi untuk
dikerjakan oleh para anggota, misalnya tingginya kualitas produk, rendahnya tingkat
absensi, tingginya produktivitas dan efisiensi, serta tingginya disiplin kerja.
4. Filosofi, adalah kebijakan yang dipercaya organisasi tentang hal-hal yang disukai para
karyawan dan pelanggannya, seperti Kepuasan Anda Adalah Harapan Kami.
5. Peraturan-Peraturan, adalah aturan yang tegas dari organisasi. Pegawai baru harus
mempelajari peraturan ini agar keberadaannya dapat diterima dalam organisasi.
6. Iklim Organisasi, adalah keseluruhan perasaan yang meliputi hal-hal fisik,
bagaimana para anggota berinteraksi dan bagaimana para anggota organisasi
mengendalikan diri dalam berhubungan dengan pelanggan atau pihak luar organisasi.

Hofsede (dalam Gibson, 1996) mengemukakan empat dimensi budaya, yaitu:


1) Penghindaran atas ketidakpastian yaitun tingkat dimana anggota masyarakat merasa
tidak nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas. Perasaan ini mengarahkan
mereka untuk mempercayai kepastian yang menjanjikan dan untuk memelihara
lembaga-lembaga yang melindungi penyesuaian.
2) Maskulin VS Feminisme, Maskulinitas berarti kecenderungan dalam masyarakat
akan prestasi, kepahlawanan, ketegasan, dan keberhasilan materil. Feminitas
berarti kecenderungan akan kesederhanaan, perhatian pada yang lemah, dan
kualitas hidup.
3) Jarak kekuasaan yaitu ukuran dimana anggota suatu masyarakat menerima bahwa
kekuasaan dalam lembaga atau organisasi tidak didistribusikan secara merata.
4) Individualisme/Kolektivitisme merupakan sifat kultur nasional yang mendeskrikan
tingkatan dimana orang lebih suka bertindak sebagai individu daripada sebagai
kelompok. Kolektivitisme menunjukkan kerangka sosial yang kuat dimana individu
mengharap orang lain dalam kelompok mereka untuk menjaga dan melindungi
mereka.

2.4 Tipe Tipe Budaya Perusahaan

5
Menurut Cameron dan Quinn, Handy (dalam Amstrong 2003) yang diterjemahkan
oleh Sudarmanto (2009), mengemukakan 4 (empat) tipe budaya perusahaan yaitu :
1. Budaya Kekuasaan(Power Culture)
Merupakan sumber kekuatan inti yang menonjolkan kontrol. ada beberapa
peraturan atau prosedur dan atmosfer kompetitif, berorientasi pada kekuatan, dan
politis.
2. Budaya Peran (Role Culture)
Pekerjaan dikontrol oleh prosedur dan peraturan. Peran atau deskripsi jabatan
adalah lebih penting daripada orang yang mengisi jabatan tersebut.
3. Budaya Pendukung (Support Culture)
Tujuannya bersama-sama membawa orang yang tepat dan membiarkan mereka
melakukan tugas. Pengaruhnya lebih didasarkan pada kekuatan ahli daripada kekuatan
posisi atau pribadi.
4. Budaya Orang (People Culture)
Individu adalah titik utama, perusahaan hanya ada untuk melayani individu yang
ada dalam perusahaan.

Gibson (2006), mengemukakan 4 (empat) tipe budaya perusahaan, diantaranya yaitu:


1) Budaya Birokrasi (Bureauractic Culture)
Suatu perusahaan yang mementingkan peraturan, kebijakan, prosedur, perintah
dan pengambilan keputusan yang terpusat memiliki budaya birokratis. Pihak militer,
instansi pemerintah dan perusahaan memulai dan mengelola dengan manajer yang
otokrat merupakan contoh dari birokratis. Beberapa individual lebih memilih yang pasti,
hierarki, dan perusahaan yang ketat, seperti perusahaan ini.

2) Budaya Keluarga (Clan Culture)

Menjadi bagian dari keluarga yang bekerja, mengikuti tradisi dan adaptasi,
kerjasama dan semangat, manajemen diri, dan pengaruh sosial merupakan karakteristik
budaya keluarga. Karyawan bersedia untuk bekerja keras untuk suatu kompensasi yang
adil, sesuai dan paket tunjangan tambahan. Dalam budaya keluarga, karyawan
bersosialisasi dengan karyawan lainnya. Anggota saling menolong sesama dan sukses
bersama.

3) Budaya Wirausaha (Entrepreneurial Culture)


Inovasi, kreativitas, pengambilan resiko dan secara agresif mencari kesempatan
menggambarkan budaya wirausaha. Karyawan mengerti akan dinamika perubahan,
inisiatif individu dan otonomi dari praktik-praktik standar.

6
4) Budaya Pasar (Market Culture)
Suatu penekanan pada pertumbuhan penjualan, peningkatan pangsa pasar, stabilitas
keuangan dan keuntungan merupakan atribut-atribut budaya pasar. Karena karyawan
mempunyai hubungan yang bersifat kontrak dengan perusahaan. Hanya terdapat sedikit
rasa kerjasama dan hubungan dalam tipe budaya seperti ini.

2.5 Manfaat dan Peranan Budaya Perusahaan


1. Manfaat Budaya Perusahaan
AB. Susanto (2002), mengemukakan manfaat yang diperoleh apabila budaya
perusahaan itu dipahami dan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
a. Bagi Sumber Daya Manusia :
Memberikan arah atau pedoman berperilaku di dalam perusahaan. Dalam hal
ini sumber daya manusia tidak dapat semena-mena bertindak atau berperilaku
sekehendak hati, melainkan harus menyesuaikan diri dengan siapa dan dimana
dia berada.
Mempunyai kesamaan langkah dan visi di dalam melakukan tugas dan
tanggungjawab, masing-masing individu dapat meningkatkan fungsinya dan
mengembangkan tingkat interpedensi antar individu atau bagian yang saling
melengkapi dalam kegiatan usaha perusahaan.
Mendorong sumber daya manusia mencapai prestasi kerja atau produktivitas
yang baik. Hal ini dapat dicapai apabila proses sosialisasi dapat dilakukan
dengan tepat sasaran.
Memiliki atau mengetahui secara pasti tentang karirnya di perusahaan sehingga
mendorong mereka untuk konsisten dan tanggung jawab.
b. Bagi Perusahaan :
Sebagai salah satu unsur yang dapat menekan turn over karyawan ini dapat
dicapai karena budaya perusahaan mendorong sumber daya manusia
memutuskan untuk berkembang bersama perusahaan.
Sebagai pedoman di dalam menentukan kebijakan yang berkenaan dengan
ruang lingkup kegiatan intern perusahaan seperti tata tertib, administrasi,
hubungan antar bagian, penghargaan prestasi sumber daya manusia, penilaian
kinerja, dan lain-lain.
Untuk mengajukan kepada pihak eksternal tentang keberadaan perusahaan dan
ciri-ciri khas yang dimiliki, ditengah-tengah perusahaan yang ada
dimasyarakat.
Sebagai acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan (corporate planning)
yang meliputi pembentukan marketing plan, penentuan segmen pasar yang
akan dikuasai, penentuan penempatan perusahaan yang akan dikuasai.

7
Dapat membuat program-program pengembangan usaha dan pengembangan
sumber daya manusia dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran sumber daya
manusia yang ada.

2. Peranan Budaya Perusahaan


Dalam hidupnya, manusia dipengaruhi oleh budaya dimana dia berada,
seperti nilai-nilai, keyakinan dan perilaku sosial/masyarakat yang kemudian
menghasilkan budaya sosial atau budaya masyarakat. Hal yang sama juga akan terjadi
bagi para anggota organisasi. Hal yang sama juga akan terjadi bagi para anggota
organisasi dengan segala nilai, keyakinan,dan perilakunya dalam organisasi yang
kemudian menciptakan budaya organisasi.
Wheelen dan Hunger (1986) secara spesifik mengemukakan sejumlah peranan
penting yang dimainkan oleh budaya organisasi, yaitu :
a. Membantu menciptakan rasa memilki jati diri bagi pekerja
b. Dapat dipakai untuk mengembangkan keikatan pribadi dengan organisasi
c. Membantu stabilisasi organisasi sebagai suatu sistem sosial
d. Menyajikan pedoman perilaku, sebagai hasil dari norma-norma perilaku yang sudah
terbetuk.

2.6 Cara Karyawan Mempelajari Budaya Perusahaan


Proses transformasi budaya oleh karyawan dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu:
1. Cerita
Cerita mengenai bagaimana kerasnya perjuangan pendiri organisasi di dalam
memulai usaha sehingga kemudian menjadi maju seperti sekarang merupakan hal yang baik
untuk disebarluaskan. Bagaimana sejarah pasang-surut perusahaan dan bagaimana
perusahaan mengatasi kemelut dalam situasi tak menentu merupakan kisah yang dapat
menodorong dan memotivasi karyawan untuk bekerja keras jika mereka mau memahaminya.

2. Ritual / Upacara-Upacara
Semua masyarakat memiliki corak ritual sendiri-sendiri. Di dalam perusahaan, tidak
jarang ditemui acara-acara ritual yang sudah mengakar dan menjadi bagian hidup
perusahaan. Sehingga tetap dipelihara keberadaannya, contohnya adalah selamatan mulai
musim giling di pabrik gula.

3. Simbol-Simbol Material
Simbol-simbol atau lambang-lambang material seperti pakaian seragam, ruang
kantor dan lain-lain, atributfisik yang dapat diamati merupakan unsur penting budaya
organisasi yang harus diperhatikan sebab dengan simbol-simbol itulah dapat dengan cepat

8
diidentifikasi bagaimana nilai, keyakinan, norma, dan berbagai hal lain itu menjadi milik
bersama dan dipatuhi anggota organisasi.

4. Bahasa
Dalam suatu organisasi atau perusahaan, tiap bidang, divisi, strata atau semacamnya
memiliki bahasa atau jargon yang khas, yang kadang-kadang hanya dipahami oleh kalangan
itu sendiri. Hal ini penting karena untuk dapat diterima di suatu lingkungan dan menjadi
bagian dari lingkungan, salah satu syaratnya adalah memahami bahasa yang berlaku di
lingkungan itu. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bahasa merupakan unsur penting
dalam budaya perusahaan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Budaya perusahaan adalah suatu sistem dari nilai-nilai yang dipegang bersama serta
keyakinan tentang bagaimana dunia itu berjalan.
Terdapat beberapa tipe budaya perusahaan yaitu :
Budaya Kekuasaan
Budaya Peran
Budaya Pendukung
Budaya Orang
Dimensi budaya terbagi menjadi 4, yaitu penghindaran atas ketidakpastian,
maskulin vs feminisme, jarak kekuasaan, dan individualisme.

9
DAFTAR PUSTAKA

Ruky, Achmad. 2001. Sistem Manajemen Kinerja. Jakarta : PT Gramedia.

10