Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stem cell adalah sel tubuh yang belum terdiferensiasi, sehingga dapat
berkembang menjadi macam-macam sel manusiawi. Penggunaan teknologi dalam
penggunaan stem cell ini dapat membuka perspektif baru dalam dunia kedokteran.
Penggunaan teknologi stem cell dapat menjadi bentuk pengobatan dengan
menggantikan sel-sel yang sudah rusak dengan sel-sel induk yang berpotensi
tumbuh sebagai sel-sel baru yang sehat. Metode ini membuka jalan baru untuk
menyelamatkan penderita kanker dan berbagai penyakit lain yang belum ada
obatnya.
Penelitian teknologi stem cell menimbulkan kontroversi saat banyak
peneliti ingin mengembangkan teknologi stem cell dari embrio manusia yang
dapat mendatangkan banyak manfaat. Permasalahan etis ini terjadi karena
menggunakan embrio sebagai bahan penelitian akan menutup kemungkinan bagi
embrio itu memperoleh kehidupan sebagai manusia. Banyak peneliti setuju
dengan penggunaan teknologi ini karena dapat memperoleh manfaat yang sangat
besar walaupun harus mengorbankan embrio.
Pada tanggal 15 Juli 2005, parlemen Uni Eropa menyetujui anggaran
2007-2013 untuk penelitian biomedis yang melibatkan sel induk, termasuk sel
induk embrionik. Di lain sisi, pada tanggal 19 Juli 2005, Presiden George W. Bush
memveto undang-undang yang bermaksud menyetujui pendanaan penelitian
biomedis ini di Amerika Serikat dan pada bulan Juni 2007, Presiden Bush kembali
mengeluarkan veto untuk menghalangi rancangan Undang-Undang yang mau
menyediakan dana bagi penelitian biomedis ini.
Kembali kepada sejarah penggunaan manusia sebagai objek penelitian
yang banyak membunuh manusia oleh dokter-dokter pada era kejayaan Nazi,
beberapa badan mengatur dan membatasi penelitian kedokteran dengan
mengembangkan etika penelitian biomedis. Misalnya , deklarasi Helsinki yang
dirumuskan oleh World Medical Association pada tahun 1964, menetapkan bahwa
keprihatinan untuk kepentingan-kepentingan subjek penelitian harus selalu
melebihi kepentingan-kepentingan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Bioetik
yang dkembangkan bermaksud mengutamakan kepentingan subjek penelitian dan
mengutamakan hak subjek di atas penelitian.
Dalam mengembangkan penelitian biomedis yang melibatkan stem cell,
sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa sel punca yang terdapat pada
darah menstruasi dapat mendatangkan banyak manfaat. Diantaranya dapat
menjadi salah satu terapi untuk mengobati pasien dengan stroke, osteoporosis,
Alzheimer, dan parkninson. Untuk sementara ini, penelitian ini belum
menimbulkan kontroversi, berbeda dengan penelitian sel punca yang melibatkan
ombrio manusia. Dalam makalah ini, penulis mengkaji penerapan kaidah bioetik
dalam penelitian dan teknologi yang melibatkan sel punca pada darah menstruasi.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah melakukan pengkajian dan
studi bioetik terhadap penelitian biomedis yang melibatkan stem cell pada darah
menstruasi untuk terapi pengobatan berbagai penyakit.
BAB II
ISI

2.1 Kaidah Bioetik


2.1.1 Definisi dan Sejarah Bioetika
Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan ilmu kedokteran
membuat etika kedokteran tidak mampu lagi menampung keseluruhan
permasalahan yang berkitan dengan kehidupan. Etika kedokteran berbicara
tentang bidang medis dan kedokteran saja, terutama hubungan dokter dengan
pasien, keluarga, masyarakat dan teman sejawat. Oleh karena itu, sejak tiga
dekade terakhir ini telah dikembangkan bioetika atau disebut juga etika biomedis.
Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang
berarti norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika atau bioetika medis
merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh
perkembangan di bidang biologi dan ilmu keokteran baik secara mikromaupun
makro, masa kini dan masa mendatang ( Bartens, 2001).
Bioetika mencakup isu-isu sosial,agama, ekonomi dan hukum bahkan
politik. Bioetik selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, eutanasia,
transplantasi organ, teknologi reproduksi buatan dan rekayasa genetik, membahas
pula masalah kesahatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan
masyarakat, hak pasien, moralitas, penyembuhan tradisional, lingkungan kerja,
demografi dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian yang besar pula terhadap
penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan.
Masalah bioetika mulai diteliti pertama kali oleh institute for the study of
society, ethics and the life sciences, New York ( Amerika Serikat ) pada tahun
1969. Kini terdapat banyak lembaga di dunia yang menekuni penelitian dan
diskusi mengenai berbagai isu etika biomedik.
Di indonesia bioetika baru berkembang sekitar satu dekade terakir yang
dipelopori oleh pusat pengembangan etika universitas atma jaya jakarta.
Perkembangan ini sangat menonjol setelah universitas Gajahmada Yogyakarta
yang melaksanakan pertemuan bioethics 2000., An International Exchange dan
pertemuan nasional 1 bioetika dan humaniora pada bulan agustus 2000. Pada
waktu itu universitas Gajahmada juga mendirikan Center for Bioethics and
Medical Humanities. Dengan terselengaranya pertemuan nasional 2 bioetika dan
humaniora pada tahun 2002 di bandung, pertemuan 3 pada tahun 2004 di Jakarta
dan pertemuan 4 pada tahun 2006 di Surabaya serta telah terbentuknya Jaringan
Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia ( JBHKI ) pada tahun 2002,
diharapkan studi bioetika akan lebih berkembang dan tersebar luas di seluruh
indonesia pada masa datang.
Humaniora atau humanities merupakan pemikiran yang berkaitan dengan
martabat dan kodrat manusia seperti yang terdapat dalam sejarah, filsafat, etika,
bahasa dan satra.
Etika kedokteran, etik( ethics) berasal dari kata yunani ethos yang berarti
akhlak, adat kebiasaan, watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak. Menurut
kamus umum bahasa indonesia (Purwadarminta, 1993), etika adalah ilmu
pengetahuan tentang azas, akhlak. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1988), etika adalah:
1. Ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan tentang kewajiban moral.
2. Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

Menurut kamus kedokteran (Ramali dan Pamuncak,1987), etika adalah


pengetahuan tentang perilaku yang benar dalam suatu profesi.
Istilah etika dan etik sering di pertukarkan pemakaiannya dan tidak jelas
perbedaan diantara keduanya. Dalam buku ini, yang dimaksud dengan etika
adalah ilmu yang mempelajari asas, akhlak, sedangkan etik adalah seperangkat
asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak seperti dalam kode etik. Istilah etis
biasanyaa digunakan untuk menyatakan sesuatu sikap atau pandangan yang secara
etis dapat diterima (ethically acceptable) atau tidak dapat diterima (ethically
unacceptable) tidak etis.
2.1.2 Kaidah Bioetika dalam Bidang Kedokteran
Fondasi etika kedokteran dibangun oleh 3 hal pokok yaitu: moralitas
eksternal, etika internal dan moralitas internal. Moralitas eksternal merupakan
teori-teori etika yang diterapkan dalam dunia kedokteran. Sedangkan etika
internal adalah kode etik profesi yang dibuat dan ditetapkan oleh dokter dan untuk
dokter sebagai bentuk pertanggungjawaban profesi pada masyarakat. Yang
membuat dinamis adalah moralitas internal. Moralitas internal adalah merupakan
fenomena umum yang terjadi dalam hubungan dokter pasien. Dalam konteks ini
amat tergantung dengan fakta empirik yang ada pada pasien secara individual.
Menurut Pellegrino, meskipun ketiga aspek tersebut tumbuh dan
berkembang secara bebas satu sama lain, empat principle based of bioethics atau
kini populer dengan kaidah dasar bioetika dari Beuchamps and Childress
merupakan salah satu contoh teori yang dapat menyatukan antara moralitas
eksternal dan fakta empirik klinik (moralitas internal). Etika kedokteran sebagai
profesi luhur, bersama dengan etika lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan telah
memberi andil terhadap kaidah dasar ini dengan menyumbangkan 4 kaidah dasar
bioetika yakni: sikap berbuat baik (beneficence), tidak merugikan orang lain (non
maleficence), berlaku adil (justice) dan menghormati otonomi pasien (autonomy).
1. Beneficence
Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat
manusia, dokter tersebut harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam
kondisi sehat. Perlakuan terbaik kepada pasien merupakan poin utama dalam
kaidah ini. Kaidah beneficence menegaskan peran dokter untuk menyediakan
kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk
memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang buruk. Prinsip prinsip yang
terkandung didalam kaidah ini adalah;
a) Mengutamakan Alturisme.
b) Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia.
c) Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak
hanyamenguntungkan seorang dokter.
d) Tidak ada pembatasan goal based.
e) Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan
dengan suatu keburukannya.
f) Paternalisme bertanggung jawab/kasih saying.
g) Menjamin kehidupan baik-minimal manusia.
h) Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan.
i) Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti
yang orang lain inginkan.
j) Memberi suatu resep berkhasiat namun murah.

Mengembangkan profesi secara terus menerus.


1. Minimalisasi akibat buruk.
2. Non Malficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak
melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang
paling kecil resikonya bagi pasien yang dirawat atau diobati olehnya. Pernyataan
kuno Fist, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Non-malficence
mempunyai ciri-ciri:
a) Menolong pasien emergensi
b) Mengobati pasien yang luka
c) Tidak membunuh pasien
d) Tidak memandang pasien sebagai objek
e) Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
f) Melindungi pasien dari serangan
g) Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
h) Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
i) Menghindari misrepresentasi
j) Memberikan semangat hidup
k) Tidak melakukan white collar crime

3. Autonomi
Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak
manusia. Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai
hak menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir
secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomi bermaksud menghendaki,
menyetujui, membenarkan, membela, dan membiarkan pasien demi dirinya
sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai prinsip prinsip sebagai berikut:
a) Menghargai hak menentukan nasib sendiri
b) Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan
c) Berterus terang menghargai privasi
d) Menjaga rahasia pasien
e) Menghargai rasionalitas pasien
f) Melaksanakan Informed Consent
g) Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
h) Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien
i) Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan,
termasuk keluarga pasien sendiri
j) Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi
k) Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien
l) Mejaga hubungan atau kontrak

4. Justice
Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib
memberikan perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan
pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik, agama,
kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak
boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya. Justice
mempunyai ciri-ciri :
a) Memberlakukan segala sesuatu secara universal
b) Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
c) Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang
sama
d) Menghargai hak sehat pasien
e) Menghargai hak hukum pasien
f) Menghargai hak orang lain
g) Menjaga kelompok rentan
h) Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status
social, dan sebagainya
i) Tidak melakukan penyalahgunaan
j) Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
k) Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya
l) Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil
m) Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan
kompeten
n) Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat
o) Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan
kesehatan
p) Bijak dalam makroalokasi
2.2 Stem Sel
2.2.1 Definisi dan Sejarah Stem Sel
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai 2
sifat:
1. Kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate). Dalam
hal ini stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel matang,
misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas, dan lain-
lain.
2. Kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri
(self-regenerate/self-renew). Dalam hal ini stem cell dapat membuat
salinan sel yang persis sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.

Pada 1800-an, profesional medis datang untuk mengetahui bahwa


beberapa sel dapat menghasilkan sel-sel lain dan di tahun 1900-an, itu bisa
membuktikan bahwa sel induk dapat menghasilkan bahkan sel darah. Para ahli
sumsum tulang ditransplantasikan ke pasien yang memiliki leukemia. Padahal, hal
itu tidak berhasil tetapi termotivasi para ahli untuk membuat transplantasi sumsum
tulang berhasil pada manusia. Ini dilakukan di Perancis pada 1950-an.
Jean Dausset mengatakan bahwa protein pada permukaan sel leukosit atau
antigen HLA. Dengan bantuan dari antigen HLA, sistem kekebalan tubuh
menentukan negara yang sehat sel dan harta benda mereka. Pada tahun 1960,
transplantasi sel dilakukan antara saudara kandung. Setelah ini, Undang-Undang
Transplantasi Organ Nasional pada tahun 1984 dan National Marrow Donor
Program itu dilakukan. Lebih dari 16.000 transplantasi dilakukan selama periode
ini, dan itu menemukannya menyembuhkan penyakit seperti immunodeficiencies,
hemofilia dan kanker darah atau leukemia.

2.2.2 Jenis-jenis Stem Sel


Berdasarkan Potensi atau Kemampuan Berdiferensiasi
Berdasarkan kemampuan berdiferensiasi, stem cell dibagi menjadi:
1. Totipotent. Dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel. Yang termasuk
dalam stem cell totipotent adalah zigot (telur yang telah dibuahi).
2. Pluripotent. Dapat berdiferensiasi menjadi 3 lapisan germinal: ektoderm,
mesoderm, dan endoderm, tapi tidak dapat menjadi jaringan
ekstraembryonik seperti plasenta dan tali pusat. Yang termasuk stem cell
pluripotent adalah embryonic stem cells.
3. Multipotent. Dapat berdiferensiasi menjadi banyak jenis sel. Misalnya:
hematopoietic stem cells.
4. Unipotent. Hanya dapat menghasilkan 1 jenis sel. Tapi berbeda dengan
non-stem cell, stem cell unipoten mempunyai sifat dapat memperbaharui
atau meregenerasi diri (self-regenerate/self-renew).

Berdasarkan Sumbernya
Stem cell ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh. Berdasarkan sumbernya,
stem cell dibagi menjadi:
1. Zygote. Yaitu pada tahap sesaat setelah sperma bertemu dengan sel telur.
2. Embryonic stem cell. Diambil dari inner cell mass dari suatu blastocyst
(embrio yang terdiri dari 50 150 sel, kira-kira hari ke-5 pasca
pembuahan). Embryonic stem cell biasanya didapatkan dari sisa embrio
yang tidak dipakai pada IVF (in vitro fertilization). Tapi saat ini telah
dikembangkan teknik pengambilan embryonic stem cell yang tidak
membahayakan embrio tersebut, sehingga dapat terus hidup dan
bertumbuh. Untuk masa depan hal ini mungkin dapat mengurangi
kontroversi etis terhadap embryonic stem cell.
3. Fetus. Fetus dapat diperoleh dari klinik aborsi.
4. Stem cell darah tali pusat. Diambil dari darah plasenta dan tali pusat segera
setelah bayi lahir. Stem cell dari darah tali pusat merupakan jenis
hematopoietic stem cell, dan ada yang menggolongkan jenis stem cell ini
ke dalam adult stem cell.
5. Adult stem cell. Diambil dari jaringan dewasa, antara lain dari:

a) Sumsum tulang.
Ada 2 jenis stem cell dari sumsum tulang:
hematopoietic stem cell. Selain dari darah tali pusat dan dari sumsum
tulang, hematopoietic stem cell dapat diperoleh juga dari darah tepi.
stromal stem cell atau disebut juga mesenchymal stem cell.

b) Jaringan lain pada dewasa seperti pada:


susunan saraf pusat
adiposit (jaringan lemak)
otot rangka
pankreas
Adult stem cell mempunyai sifat plastis, artinya selain berdiferensiasi menjadi
sel yang sesuai dengan jaringan asalnya, adult stem cell juga dapat berdiferensiasi
menjadi sel jaringan lain. Misalnya: neural stem cell dapat berubah menjadi sel
darah, atau stromal stem cell dari sumsum tulang dapat berubah menjadi sel otot
jantung, dan sebagainya.
2.2.3 Mekanisme Stem Sel
Stem cell dapat diperoleh melalui teknik transplantasi. Transplantasi stem
cell dapat berupa transplantasi autologus, transplantasi alogenik, dan transplantasi
singenik.
1. Transplantasi autologus, yaitu transplantasi menggunakan sel induk pasien
sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi dosis tinggi.
2. Transplantasi alogenik, yaitu transplantasi menggunakan sel induk dari
donor yang cocok, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan
keluarga.
3. Transplantasi singenik, yaitu transplantasi menggunakan sel induk dari
saudara kembar identik.
Berdasarkan sumbernya, transplantasi stem cell dapat dibedakan menjadi
sebagai berikut.
a) Transplantasi sel induk dari sumsum tulang (bone marrow transplantation)
Sumsum tulang adalah jaringan spons yang terdapat dalam tulang-
tulang besar seperti tulang pinggang, tulang dada, tulang punggung, dan tulang
rusuk. Sumsum tulang merupakan sumber yang kaya akan sel induk
hematopoietik. Sejak dilakukan pertama kali kira-kira 30 tahun yang lalu,
transplantasi sumsum tulang digunakan sebagai bagian dari
pengobatan leukemia, limfoma jenis tertentu, dan anemia aplastik. Karena teknik
dan angka keberhasilannya semakin meningkat, maka pemakaian transplantasi
sumsum tulang sekarang ini semakin meluas. Pada transplantasi ini prosedur yang
dilakukan cukup sederhana, yaitu biasanya dalam keadaan teranestesi total.
Sumsum tulang (sekitar 600 cc) diambil dari tulang panggul donor dengan
bantuan sebuah jarum suntik khusus, kemudian sumsum tulang itu disuntikkan ke
dalam vena resipien. Sumsum tulang donor berpindah dan menyatu di dalam
tulang resipien dan sel-selnya mulai berproliferasi. Pada akhirnya jika semua
berjalan lancar, seluruh sumsum tulang resipien akan tergantikan dengan sumsum
tulang yang baru. Namun, prosedur transplantasi sumsum tulang memiliki
kelemahan karena sel darah putih resipien telah dihancurkan oleh terapi radiasi
dan kemoterapi. Sumsum tulang yang baru memerlukan waktu sekitar 2-3 minggu
untuk menghasilkan sejumlah sel darah putih yang diperlukan guna melindungi
resipien terhadap infeksi. Transplantasi sumsum tulang memerlukan
kecocokan HLA 6/6 atau paling tidak 5/6. Risiko lainnya adalah timbulnya
penyakit GvHD, di mana sumsum tulang yang baru menghasilkan sel-sel aktif
yang secara imunologi menyerang sel-sel resipien. Selain itu, risiko kontaminasi
virus lebih tinggi dan prosedur pencarian donor yang memakan waktu lama.

b) Transplantasi sel induk darah tepi (peripheral blood stem cell


transplantation).
Seperti halnya sumsum tulang, peredaran darah tepi merupakan sumber sel
induk walaupun jumlah sel induk yang dikandung tidak sebanyak pada sumsum
tulang. Untuk mendapatkan jumlah sel induk yang jumlahnya mencukupi untuk
suatu transplantasi, biasanya pada donor diberikan granulocyte-colony stimulating
factor (G-CSF) untuk menstimulasi sel induk hematopoietik bergerak dari
sumsum tulang ke peredaran darah. Transplantasi ini dilakukan dengan proses
yang disebut aferesis. Jika resipien membutuhkan sel induk hematopoietik, pada
proses ini darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan memisahkan
darah menjadi komponen-komponennya, secara selektif memisahkan sel induk
dan mengembalikan sisa darah ke donor. Transplantasi sel induk darah tepi
pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1986. Keuntungan transplantasi sel
induk darah tepi adalah lebih mudah didapat. Selain itu, pengambilan sel induk
darah tepi tidak menyakitkan dan hanya perlu sekitar 100 cc. Keuntungan lain, sel
induk darah tepi lebih mudah tumbuh. Namun, sel induk darah tepi lebih rentan,
tidak setahan sumsum tulang. Sumsum tulang juga lebih lengkap, selain
mengandung sel induk juga ada jaringan penunjang untuk pertumbuhan sel.
Karena itu, transplantasi sel induk darah tepi tetap perlu dicampur dengan
sumsum tulang.

c) Transplantasi sel induk darah tali pusat


Pada tahun 1970-an, para peneliti menemukan bahwa
darah plasenta manusia mengandung sel induk yang sama dengan sel induk yang
ditemukan dalam sumsum tulang.Karena sel induk dari sumsum tulang telah
berhasil mengobati pasien-pasien dengan penyakit-penyakit kelainan darah yang
mengancam jiwa seperti leukemia dan gangguan-gangguan sistem kekebalan
tubuh, maka para peneliti percaya bahwa mereka juga dapat menggunakan sel
induk dari darah tali pusat untuk menyelamatkan jiwa pasien mereka. Darah tali
pusat mengandung sejumlah sel induk yang bermakna dan memiliki keunggulan
di atas transplantasi sel induk dari sumsum tulang atau dari darah tepi bagi pasien-
pasien tertentu. Transplantasi sel induk dari darah tali pusat telah mengubah bahan
sisa dari proses kelahiran menjadi sebuah sumber yang dapat menyelamatkan
jiwa. Transplantasi sel induk darah tali pusat pertama kali dilakukan
di Perancis pada penderita anemia Fanconi tahun 1988. Pada tahun 1991, darah
tali pusat ditransplantasikan pada penderita Chronic Myelogenous
Leukemia. Kedua transplantasi inii berhasil dengan baik. Sampai saat ini telah
dilakukan kira-kira 3.000 transplantasi darah tali pusat.

2.2.4 Keuntungan dan Kerugian Stem Sel


Keuntungan embryonic stem cell:
1. Mudah didapat dari klinik fertilitas.
2. Bersifat pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel
dalam tubuh.
3. Immortal. Berumur panjang, dapat berproliferasi beratus-ratus kali lipat
pada kultur.
4. Reaksi penolakan rendah.

Kerugian embryonic stem cell:


1. Dapat bersifat tumorigenik. Artinya setiap kontaminasi dengan sel yang
tak berdiferensiasi dapat menimbulkan kanker.
2. Selalu bersifat allogenik sehingga berpotensi menimbulkan penolakan.
3. Secara etis sangat kontroversial.

Keuntungan umbilical cord blood stem cell (stem cell dari darah tali pusat).
1. Mudah didapat (tersedia banyak bank darah tali pusat).
2. Siap pakai, karena telah melalui tahap prescreening, testing dan
pembekuan.
3. Kontaminasi virus minimal dibandingkan dengan stem cell dari sumsum
tulang.
4. Cara pengambilan mudah, tidak berisiko atau menyakiti donor.
5. Risiko GVHD (graft-versus-host disease) lebih rendah dibandingkan
dengan menggunakan stem cell dari sumsum tulang, dan transplantasi
tetap dapat dilakukan walaupun HLA matching tidak sempurna atau
dengan kata lain toleransi terhadap ketidaksesuaian HLA matching lebih
besar dibandingkan dengan stem cell dari sumsum tulang.

Kerugian umbilical cord blood stem cell:


1. Kemungkinan terkena penyakit genetik. Ada beberapa penyakit genetik
yang tidak terdeteksi saat lahir sehingga diperlukan follow up setelah
donor beranjak dewasa.
2. Jumlah stem cell relatif terbatas sehingga ada ketidaksesuaian antara
jumlah stem cell yang diperlukan resipien dengan yang tersedia dari
donor, karena jumlah sel yang dibutuhkan berbanding lurus dengan usia,
berat badan dan status penyakit.

Keuntungan adult stem cell:


1. Dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan
imun.
2. Sudah terspesialisasi sehingga induksi menjadi lebih sederhana.
3. Secara etis tidak ada masalah.
Kerugian adult stem cell:
1. Jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan matur
sehingga sulit mendapatkan adult stem cell dalam jumlah banyak.
2. Masa hidupnya tidak selama embryonic stem cell.
3. Bersifat multipoten, sehingga diferensiasi tidak seluas embryonic stem
cell yang bersifat pluripoten.

2.2.5 Peran Stem Sel dalam Riset


1. Terapi gen, stem cell (dalam hal ini hematopoietic stem cell) digunakan
sebagai alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien, dan selanjutnya
dapat dilacak jejaknya apakah stem cell ini berhasil gen tertentu dalam
tubuh pasien. Dan karena stem cell mempunyai sifat self-renewing, maka
pemberian pada terapi gen tidak perlu dilakukan berulang-ulang, selain
itu hematopoietic stem cell juga dapat berdiferensiasi menjadi
bermacam-macam sel, sehingga transgen tersebut dapat menetap di
berbagai macam sel.
2. Mengetahui proses biologis, yaitu perkembangan organisme dan
perkembangan kanker. Melalui stem cell dapat dipelajari nasib sel, baik
sel normal maupun sel kanker.
3. Penemuan dan pengembangan obat baru, yaitu untuk mengetahui efek
obat terhadap berbagai jaringan .
4. Terapi sel berupa replacement therapy. Oleh karena stem cell dapat
hidup di luar organ tubuh manusia misalnya di cawan petri, maka dapat
dilakukan manipulasi terhadap stem cell itu tanpa mengganggu organ
tubuh manusia. Stem cell yang telah dimanipulasi tersebut dapat
ditransplantasi kembali masuk ke dalam organ tubuh untuk menangani
penyakit-penyakit tertentu.

Ada 3 golongan penyakit yang dapat diatasi oleh stem cell:


a) Penyakit autoimun.
Misalnya pada lupus, artritis reumatoid dan diabetes tipe 1. Setelah
diinduksi oleh growth factor agar hematopoietic stem cell banyak dilepaskan
dari sumsum tulang ke darah tepi, hematopoietic stem cell dikeluarkan dari
dalam tubuh untuk dimurnikan dari sel imun matur. Lalu tubuh diberi agen
sitotoksik atau terapi radiasi untuk membunuh sel-sel imun matur yang tidak
mengenal self antigen (dianggap sebagai foreign antigen). Setelah itu
hematopoietic stem cell dimasukkan kembali ke tubuh, bersirkulasi dan
bermigrasi ke sumsum tulang untuk berdiferensiasi menjadi sel imun matur
sehingga sistem imun tubuh kembali seperti semula.
b) Penyakit degeneratif.
Pada penyakit degeneratif seperti stroke, penyakit Parkinson, penyakit
Alzheimer, terdapat beberapa kerusakan atau kematian sel-sel tertentu sehingga
bermanifestasi klinis sebagai suatu penyakit. Pada keadaan ini stem cell setelah
dimanipulasi dapat ditransplantasi ke dalam tubuh pasien agar stem cell tersebut
dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel organ tertentu yang menggantikan sel-sel
yang telah rusak atau mati akibat penyakit degeneratif.
c) Penyakit keganasan.
Prinsip terapi stem cell pada keganasan sama dengan penyakit autoimun.
Hematopoietic stem cell yang diperoleh baik dari sumsum tulang atau darah tali
pusat telah lama dipakai dalam terapi leukemia dan penyakit darah lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teknologi stem sel dari pengunaan darah menstruasi telah sesuai dengan
kaidah dasar bioetik kedokteran. Namun, hal ini masih menimbulkan kontroversi
di berbagai kalangan masyarakat umum yang dikarenakan oleh pertentengan pada
nilai agama, sosial, dan budaya masyarakat.
3.2 Saran
Pengunaan teknologi ini perlu dikaji kembali dalam perspektif agama,
sosial, budaya, dan nilai-nilai yang tumbuh berlaku di masyarakat. Oleh sebab itu,
diperlukan penelitian lebih lanjut dari peneliti untuk meningkatkan keefektifan
dari teknologi stem sel dalam terapi penyakit tertentu.
DAFTAR PUSTAKA

Afandi, D dkk. 2008. Analisis Butir Uji, Reliabilitas, dan Validitas Tes Kaidah Dasar
Bioetika. Jurnal Maj. Kedokteran Indonesia. Juni 2008. Volume 56. No 6.
Ahmad. 2008. Aspek Dasar Sel Punca Embrionik. Universitas Muhammadiyah Malang.
Malang.
Bertens K. 2009. Perspektif Etika Baru. Yogyakarta : Kanisius.
Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta:
EGC.
Hartono, Budiman., Salim Darminto. 2011. Modul Blok 1 Who Am I? Bioetika, Humaiora
dan Profesoinalisme dalam Profesi Dokter. Jakarta: UKRIDA.
Saputra, Virgi. 2006. Dasar-dasar Stem Sel dan Potensi Aplikasinya dalam Ilmu
Kedokteran. Jakarta: PT. Kalbe Farme Tbk.
TUGAS MAKALAH BIOETIKA

PANDANGAN BIOETIKA TERHADAP PENGGUNAAN MANUSIA


SEBAGAI OBJEK EKSPERIMEN : DARAH MENSTRUASI SEBGAI
STEM SEL DALAM PENGOBATAN STRUK

OLEH :

NAMA : ANDI FIRDAYANTI (F1D115011)

NAMA : DEWI ANAJAL SARI (F1D115017)

NAMA : MARHAMA SAHLIN (F1D115039)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017