Anda di halaman 1dari 3

ETNISITAS DAN DEMOKRATISASI

Haryono
I363160071

Pendahuluan
Isu-isu suku, ras dan agama (SARA) sekarang-sekarang ini berkembang
dan marak diperdagangkan dalam perpolitikan lokal, regional bahkan
internasional. Misalnya pemilihan Presiden Amarika baru-baru ini,
memperdagangkan isu etnis sebagai dagangan politiknya dan terpilih. Hal ini
membuktikan bahwa politik sekarang ini telah mundur lagi kebelakang beberapa
abad silam, yaitu dengan melihat ada etnis yang lebih tinggi derajatmya dan ada
etnis yang rendah derajatnya dan yang tidak seideologi, maka dianggap musuh
atau lawan yang harus disingkirkan atau bahkan dimusnahkan dari lingkungan
mereka yang menduduki jabatan-jabatan penting.
Manusia telah lupa atau bahkan pura-pura lupa bahwa Tuhan menciptkan
manusia atau umatnya itu berbeda-beda agar mereka saling mengenal. Manusia
sebagai umatnya telah memaksakan bahwa mereka harus sama, maka apa yang
terjadi dengan hati nurani manusia. Mungkin sudah tertupi kepentingan-
kepentingan? Atau ada hal lain yang membuat manusia menjadi seperti itu?.
Perbedaan, keberagaman dan kebhinekaan itu bukanya untuk modal menjadi satu
dan itu juga yang digagas oleh para pendiri bangsa ini yaitu Bhineka Tunggal Ika.
Di Indonesia, baik itu Pemilihan Kepala Daerah maupun Pemilihan Umum
isu-isu SARA kerap kali telah menjadi dagangan para politisi. Dibukanya kran
demokrasi dan desentralisasi pusat ke daerah membuat banyak daerah
berkeinginan untuk menjadi daerah otonom sendiri yang bukan lagi didasarkan
pada kemampuan daerah untuk bisa menjadi pusat pemerintahan, tapi lebih
kepada unsur-unsur etnisitas yang melatarbelakinginya. Sebuah daerah otonom
yang merdeka, baik itu negara ataupun bagian-bagian kecilnya yang merupakan
kumpulan masyarakat tidak akan berkembang apabila didasarkan pada unsur yang
masih primodialisme dan tidak akan berkembangnya sebuah demokrasi yang ada
adalah sistem feodalisme berbentuk demokratis saja.

Konsep Etnis
Etnik pada waca primitif identik denga suku atau kelompok suku (tribe)
yang terpisah dan terisolir, hidup di hutan jauh dari orang kebanyakan dengan
budayanya yang masih sederhana animistik dan menampilkan diri sebagai apa
adanya. Kemudian, etnik dalam wacana politik budaya kontemporer adalah suatu
wacana batas (frontier) kami dan mereka, sebuah makna budaya yang intinya
adalah wacana pembedaan. Seperti peran-peran politik enis saat ini yang
merupakan pembacaan terhadap realitas kami dan mereka.(Abdilah, 2002).
Lebih dalam lagi, etnisitas dipakai untuk menggambarkan batasan-batasan
siapa yang masuk dalam suatu kelompok dan siapa yang tidak atau siapa yang
bagian dari etnis atau bukan bagian dari etnis. Sebuah kelompok etnis adalah satu
hal yang berurusan dengan pemeliharaan batasan-batasan itu. Etnisitas merupakan
cara untuk mengkonstruksi hubungan yang membaiarkan kerasnya perbedaan.
Jadi sebuah komunitas etnis selalu merupakan sebuah artefak dari batasan-batasan
yang menggambarkan aktivitas, senantiasa berselisih dan bersaing, memberikan
diferensiasi, dan merepresentasikan perbedaan-perbedaan yang lain sebgagai
faktor-faktor yang memisahkan dan berkuasa.
Etnisitas secara substansial bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya
tetapi keberadaannya terjadi secara bertahap. Etnisitas adalah sebuah proses
kesadaran yang kemudian membedakan kelompok kita dengan mereka. Basis
sebuah etnisitas adalah berupa aspek kesamaan dan kemiripan dari berbagai unsur
kebudayaan yang dimiliki, seperti misalnya adanya kesamaan dan kemiripan dari
berbagai unsur kebudayaan yang dimiliki, ada kesamaan struktural sosial, bahasa,
upacara adat, akar keturunan, dan sebagainya.
Pasca reformasi 1998 terlihat secara jelas bagaimana politik etnis sebagai
embrio atau dinamika tersendiri dalam perhelatan politik lokal. Seiring dengan
dinamika fragmentasi masyarakat lokal kedalam berbagai macam sub sistem
sosial membuat etnisitas sebagai suatu kekuatan politik dalam mendorong
percaturan politik, baik Pemilu Presiden, DPR dan DPRD maupun pemilihan
kepala daerah.
Perjuangan politik etnis pada dasarnya adalah perjuangan kelompok atau
orang-orang pinggiran (periperi), baik secara politik, sosial maupun budaya dan
ekonomi. Ini disebabkan kelompok etnis sangat dekat dengan kelompok atau
golongan minoritas kecil yang senantiasa tertindas. Perjuangan kelompok etnis
menggugat ketidakadilan untuk kondisi yang setara atas dasar hak-haknya sebagai
manusia. Hal ini karena terjadinya dominasi atau perjuangan wilayah-wilayah
politik dan sosial oleh suatu mayoritas etnis tertentu, atau kelompok etnis yang
memegang kekuasaan di suatu negara atau wilayah.

Perkembangan Demokrasi di Indonesia


Wajah demokrasi mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangan
tingkat ekonomi, poltik dan, ideologi sesaat atau temporer yang sedang dijalani
suatu bangsa. Pada masa orde baru dengan demokrasi Pancasila seolah-olah akan
mendistribusikan kekuasaannya kepada kekuatan masyarakat. Pada
perkembangannya terlihat adalah semakin lebarnya kesenjangan antara kekuasaan
negara dengan masyarakat. Orde Baru mewujudkan dirinya sebagai kekuatan
yang kuat dan relatif otonom, dan sementara masyarakat semakin teralienasi dari
lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan
Masa ini adalah masa kelam dimana pemerintah sebagai pemegang
kekuasaan dapat membuat suatu kebijakan yang akan terus melanggengkan
kekuasaannya saja dan hanya bisa bermanfaat terhadap kroninya saja. Partai
politik dan kebebasan untuk berpendapat dikekang dan dibatasi dengan tujuan
stabilitas dan keamanan nasional. Pergolakan atau isu-isu etnisitas dan kedaerahan
ditutup dengan represif kekuatan militer oleh negara.
Menurut M. Rusli Karim, rezim Orde Baru ditandai oleh; dominannya
peranan militer, birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik,
pembatasan peran dan fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam
persoalan partai politik dan publik, masa mengambang, monolitisasi ideologi
negara, dan inkorporasi lembaga nonpemerintah.
Runtuhnya orde baru, Indonesia memasuki suasana kenegaraan yang baru.
Demokrasi yang diterapkan era reformasi ini adalah demokresi Pancasila, tentu
saja dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru. Terjadi pula perubahan
dinamika politik di Indonesia terutama politik lokal. Berubahnya sistem
sentralisasi ke desentralisasi, ini memberikan kesempatan pada daerah untuk bisa
mengurus daerahnya sendiri secara baik tanpa campur tangan pusat. Bermunculan
daerah-daerah untuk memisahkan diri dari ketirikatan yang dipaksakan pada mas
orde baru. Pemekaran-pemekaran daerah didasarkan pada identitas kedaerahan,
seperti Banten, Papua, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan lain-lainnya.

Multikulturalisme adalah suatu gerakan pembacaan untuk penyadaran terhadap


bentuk-bentuk penghargaan atas perbedaan yang di dalamnya politik identitas bisa
lebih leluasa bermain.