Anda di halaman 1dari 2

BUKU FURNIVALL

BAB X KEMAJUAN EKONOMI


Terjadinya depresi tahun 1900 memukul mati kebijakan laisser-faire sebagai mazhab liberalism
dan digantikan oleh kebijakan Etis atau konstruktif. Dengan kebijikan ini ekonomi didorong
disemua lini kehidupan yaitu: pertanian, perkebunan, pertambangan, industri dan tataniaganya.
Negara atau pemerintah atau negara mengatur regulasinya secara langsung dengan tujuan untuk
menghimpun kekayaan material demi kesejahteraan manusia. Ekonomi negara tidak
tersentralisasi hanya di pulau Jawa saja, tapi dibeberapa propinsi dikembangkan
perkeonomiannya demi apa yang dinamakan pemerataan ekonomi. Komesialisasi terjadi disemua
lini kehidupan ekonomi, yang dilakukan oleh negara maupun pemerintah.

BAB XI EKONOMI SOSIAL


Sebagai suatu negara atau pemerintahan Hindia Belanda mengemban mandat ganda, ini berarti
bagian yang menjadi tanggungjawabnya selain mengembangkan sumber daya alam (la richesse
naturalle) juga dituntut tanggungjawab lainnya yang lebih sulit yaitu kepada penduduknya atau
rakyatnya (la richesse humanie), yaitu kekayaan manusiawi rakyat yang berada dibawah
tanggung jawab pemerintah atau negara. Kebijakan etis yang dilakukan antara lain:
Buruh
Setelah penghapusan perbudakan pada tahun 1815, muncullah masalah buruh. Sistem tanam
paksa dan buruh murah dianggap sebagai aset utama. Permaslahan buruh berbeda di erapa dan di
Jawa serta di luar Jawa. Di Eropa modal dan buruh berkembang bersama-sama, bertahun-tahun
keduanya bersifat lokal. Di Jawa modal dan buruh tumbuh bersama-sama, tapi yang ada adalah
modal asing dan buruh lokal, sehingga konflik kepentingan ekonomi diperkentalkan dengan
pertikaian warna kulit, sedangkan di luar Jawa modal dan buruh harus di import.
Kredit Negara
Sebagai bentuk politik etis yang lain pemerintah Hindia Belanda membuat bank-bank tabungan.
Seperti bank tabungan pegawai pemerintah (priaji banken). De Wolff mengusulkan
pengembangan gudang desa menjadi bank padi, menyediakan pinjaman padi untuk dibayar
sesudah panen. Dibentuk juga pegadaian dan koperasi untuk masyarakat.
Kesehatan Masyarakat
Adanya 38 dokter praktek eropa di Jawa yang bekerja paruh waktu pada pemerintahan dan di
propinsi di luar Jawa ada 21, 14 berada diwilayah perkebunan. Dengan program hygiene pribumi
ini mngurangi angka kematian dibawah 20 per 1000 orang.
Pendidikan
Dibukanya sekolah untuk pribumi dengan tujuan untuk memenuhi akan bawahan yang lebih
kompeten akibat kemajuan ekonomi.

BAB XIII
EKONOMI MAJEMUK
Bagi Furnivall, yang dimaksud dengan masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari
satu atau lebih golongan atau tata sosial yang hidup berdampingan, tapi tanpa berbaur, dalam
suatu unit politik. (Furnivall, 471). Artinya, dalam kehidupan sosial yang bermacam-macam latar
belakang dan budaya, mereka hidup dalam satu unit politik yang sama, namun proses
berdampingan itu yang beragam membentuk golongan sendiri dalam unit politik yang sama.
Hubungan antar golongan yang berbeda, namun hidup berdampingan itu, hanya berinteraksi
dalam urusan ekonomi saja. Inilah yang dimaksud dengan ekonomi majemuk (prular economy).
Ciri-ciri khas tertentu dalam ruang politis dan ekonomis dalam masyarakat majemuk, yang
membedakan mereka dari masyarakat lainya yang lebih momogen adalah tidak adanya kehendak
sosial bersama. Teori ekonomi liberal memposisikan sebuah masyarakat homogenous,
mengasumsikan sebuah kehendak sosial bersama dan menekankan peranan individu sebagai
aktor eonomi utama. Tidak adanya kehendak sosial bersama memiliki konsekuensi panjang
dalam masyarakat majemuk. Pertama, timbulnya penekanan produksi ekonomi, dan kedua,
menimbulkan anake macam tuntutan sosial. Masyarakat majemuk terobsesi dengan pasar, karena
pasar satu-satunya arena umum di mana aneka bagian dari sebuah masyarakat majemuk bisa
sependapat.
Dalam aspek politiknya suatu masyarakat majemuk menyerupai konfederasi propinsi-propinsi
sekutu, bersatu dengan perjanjian atau di dalam batas-batas konstitusi formal, hanya demi tujuan
tertentu yang disepakati unit-unit konstituennya dan dalam urusan di luar persyaratan
persekutuan, masing-masing menjalani kehidupan sendiri. (Furnivall, 472). Konfederasi
pemisahannya tidak menimbulkan kekacauan total semua ikatan sosial, sementara dalam
masyarakat majemuk pemisahannya akan menimbulkan anarkis karena ada unsur-unsur
golongan yang saling terjalin. Jadi masyarakat majemuk terdapat instabilitas konfederasi.
Sehingga Furnivall menolak konsep nasionalisme, dikarenakan tidak adanya kehendak bersama
dan nasionalisme sangat berbahaya. Nasionalisme hanya akan menimbukan perpecahan dimana
setiap golongan menginginkan dan mengembangkan nasionalisme golongannya masing-masing.