Anda di halaman 1dari 14

TEMPO Interaktif, : "No bourgeoisie no democracy"(Barrington Moore, 1966) Demokrasi akan

tumbuh dan berkembang jika kelas borjuis menjadi kuat dan aktif dalam proses demokratisasi,
begitu argumen Moore. Banyak pengusaha menyepakati doktrin Moore dan terjun berpolitik.
Apakah ini merupakan tren baru seperti yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla? Nyatanya
tidak. Sejak dulu, baik di mancanegara maupun di Indonesia, banyak pengusaha menguasai
jabatan publik. Beberapa contoh mutakhir bisa kita simak. Masyarakat kita, terutama para tifosi,
tentu familiar dengan juragan jaringan media dan pemilik klub sepak bola langganan juara Seri
A, AC Milan, Silvio Berlusconi, yang juga Perdana Menteri Italia. Thaksin Shinawatra, taipan
media dan telekomunikasi, menjadi pemimpin puncak di Thailand. Bahkan Presiden Bush
merupakan dinasti politico-business di Amerika.Pada masa Orde Baru lalu, peran pengusaha
sebagai supporting system belaka dari jejaring politik dan ekonomi. Lantas mengapa taipan
berbondong-bondong menduduki jabatan publik? Kini kesempatan untuk masuk ke wilayah
politik terbuka lebar. Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan, dengan
daya pikat finansial yang besar, nominasi bisa dibeli agar mereka dicalonkan sebagai anggota
legislatif (Nuryanti, 2005). Berubahnya konstelasi politik dan ekonomi pasca-Soeharto membuat
kekuasaan tersebar serta pengaruh politiknya terbatas. Akibatnya, upaya untuk mendapatkan
kemudahan dan proteksi politik dalam berbisnis makin rumit dan berbiaya tinggi. Semakin
banyak kelompok politik yang harus didekati dan disuap, sehingga biaya transaksi malah
melampaui keuntungan dari rente. Kroni kapitalis Setumpuk penelitian secara empiris dan
komparatif menunjukkan bahwa para taipan di negara berkembang yang berpolitik adalah kroni
kapitalis, bukan wirausaha sejati. Pengusaha ini menikmati rente dari penguasa dengan
memberikan imbalan finansial serta dukungan politik. Penelitian Mushtag Khan (1999) di India,
Pakistan, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan mengurai hubungan mesra penguasa dan
pengusaha dalam mengejar rente ekonomi untuk membangun kelompok politico-business.
Yoshihara Kunio (1990) menyebut kapitalis yang berkembang di Asia Tenggara sebagai
"kapitalis semu" (ersatz capitalist), yaitu pengusaha yang tumbuh karena bergandeng mesra
dengan rezim. Pengusaha semu ini membangun bisnis dengan memperoleh kemudahan
(privilese) dan proteksi politik. Di Thailand sendiri, Pasuk Phongphaichit dan Chris Baker (2004)
membedah sejarah perkembangan bisnis Shin Corporation. Thaksin memulai bisnis sebagai
mantan perwira polisi yang memasok peralatan komputer dan ATK bagi institusi polisi. Pada
awal 1990-an, dia mendapat konsesi cable TV, telekomunikasi (paging, telepon seluler, card-
phone), satelit, dan datanet sebesar 1,3 miliar baht.Di Negeri Abang Sam pun sama. Kevin
Phillips membedah "Dinasti Bush" yang dibangun dari fondasi bisnis finansial, perminyakan,
dan industri militer. Prescott Bush, kakek Presiden Bush, adalah pengusaha yang menjadi senator
dari Connecticut dan teman main golf favorit Presiden Eisenhower. Dari relasi bisnis-politik ini,
dinasti Bush berkembang (Phillips, 2004). Di Korea Selatan, para chaebol membangun
perusahaan multinasional mereka dengan sokongan penuh dari rezim yang berkuasa saat itu
(Kang, 2002). Mereka menjalin hubungan mesra (cozy relationship) dengan penguasa untuk
memperoleh konsesi dan lisensi (Jungsoo Park, 2004). Di Filipina, pengusaha menguasai ranah
politik dan bisnis yang dibangun dengan cara yang sama. Istilahnya booty capitalism
(Hunchcroft, 1998). Bagaimana di Indonesia? Riset yang dilakukan Yoshihara Kunio (1990),
Richard Hefner (1998), serta Robison dan Hadiz (2004) mengkonfirmasikan pola di atas.
Pengusaha adalah pemburu rente dari hasil selingkuh kepentingan dengan penguasa. Celakanya,
kelompok bisnis inilah yang tertarik untuk berpolitik. Bahaya dwifungsi Dwifungsi ABRI sudah
dihapuskan, tapi dwifungsi pengusaha-penguasa justru menjamur. Dwifungsi tentu mempunyai
dampak negatif. Tanpa bermaksud menggeneralisasi sisi negatif, pengalaman empiris di Asia
Tenggara menunjukkan bahwa kemungkinan tabiat koruptif dari dwifungsi justru makin
membesar. Motivasi utama taipan berpolitik umumnya guna mempertahankan kepentingan
bisnisnya (Harris, 2003). Motivasi ini jelas bukan untuk mengabdi. Pengalaman menunjukkan
bahwa kelompok politico-business ini paling tidak loyal. Walaupun penguasa berganti, apa pun
jenis rezimnya, politico-business berusaha menjadi sekutu penguasa (Case, 2002). Pengalaman
di Thailand menunjukkan, walau rezim sipil diganti oleh rezim militer, pengusaha akan
menyesuaikan diri. Begitu pula di Filipina, pengusaha kroni Marcos, setelah People Power, yang
pertama kali berpindah "perahu" masuk ke institusi publik seperti kongres dan eksekutif serta
"menyandera" institusi tersebut (state captured). Kedua, dengan kemampuan finansialnya,
politico-business dengan mudah mendominasi proses politik. Thaksin dan Berlusconi, dengan
dukungan jaringan media, membuat propaganda untuk kampanye pribadi. Thaksin bahkan
berusaha mengontrol pemberitaan media--sesuatu yang fatal bagi demokrasi. Belum lagi
selingkuh kepentingan. Sebagai pemburu rente, pengusaha berupaya memperoleh akses terhadap
sumber daya ekonomi, kebijakan publik, lisensi bisnis, kredit, bahkan monopoli. Sementara itu,
sebagai pejabat publik, pengusaha memiliki wewenang atas kebijakan publik, lisensi, dan
kontrak proyek pemerintah. Bahaya jika terjadi split personality: kebijakan dan sumber daya
publik dinikmati oleh kelompok bisnisnya. Dalam kondisi ketika perilaku belum dapat
memisahkan kepentingan privat dan publik, penyalahgunaan kekuasaan sangat mungkin terjadi.
Ditambah lemahnya aturan main dan tidak konsistennya penegakan hukum di Indonesia, dampak
negatif kepribadian ganda penguasa-pengusaha mudah dihindari. Lebih arif jika dwifungsi
ditiadakan. Luky Djani Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch Kolom ini juga bisa
dibaca di Koran Tempo, 19 November 2005
Triangle Demokrasi Penguasa-Rakyat-
Pengusaha
Penguasa-Rakyat-Pengusaha

kondisi demokrasi Indonesia saat ini


diambil dari koran Tempo edisi agustus 2016

Pengusaha dan penguasa memiliki hubungan yang cukup dekat karena keduanya memiliki
hubungan yang saling menguntungkan dan menunjang hubungan ini ibarat mata uang dengan
dua sisinya. Sehingga hubungan mereka harus mesra dan terjalin dengan baik dan saling
melindungi. Seorang Penguasa yang berkuasa sangat membutuhkan pengusaha untuk
memajukan ekonomi dengan menciptakan pasar atau market.

Pasar atau market dibutuhkan untuk menciptkan transaksi dan ruang pengembangan ekonomi
rakyat, kemajuan suatu negara di tentukan oleh geliat perekonomian suatu negara. Pengusaha
dibutuhkan untuk melakukan investasi dan pengelolaan sumber daya alam, memproduksi
kebutuhan masyarakat, serta menciptakan pasar. Sebenarnya Pengusaha memiliki kecenderungan
dan bergelut dalam bidang ekonomi sedangkan Penguasa selalu berhubungan dengan urusan
kekuasaan yakni mengatur orang banyak dengan sejumlah aturan dan kebijakan. Sedangkan
pengusaha hanya berpikir bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya selalu di
pengaruhi oleh motif ekonomi.

Jika kita sepakat bahwa motif ekonomi adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebesarnya
berarti Pengusaha yang melakukan kegiatan ekonomi tidak membutuhkan Penguasa? Tidaklah
demikian karena yang mengatur kebijakan atau regulasi perekonomian mengenai pajak dan
retribusi adalah Penguasa.

Proses untuk memperoleh kekuasaan-pun membutuhkan uang, Firmanzah mengungkapkan


kembali pemikiran Machiaveli, dimana Machiaveli sebagai pemikir Politik yang sinis juga harus
berhadapan dengan kenyataan begitu dekatnya kekuasaan dengan uang serta hak miliknya.
Sedangkan Marx menyatakan bahwa ketika orang mulai memagari tanah miliknya dan
menyimpan harta benda termasuk uang kapitalisme dimulai. Maka politik dan kapitalisme
tampaknya tak bisa dipisahkan. Semangat kapitalisme telah bersinggungan dengan kepentingan-
kepentingan politik. Entah politik digunakan sebagai media untuk mengakumulasi kapital
ataukah akumulasi kapital digunakan untuk mendapatkan kekuasaan dalam masyarakat
(Firmanzah, Marketing Politik,Obor Indonesia – 2008). Pemikiran ini dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara penguasa dan penguasa sangat erat karena saling membutuhkan dan saling
menguntungkan. Karena dengan memiliki uang atau modal yang cukup dapat memperoleh
kekuasaan tersebut, dan kekayaan sebagai salah satu sumber kekuasaan selain kedudukan dan
kepercayaan (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia – 2008)

Hubungan antara Penguasa dan Pengusaha selalu menguntungkan bagi mereka tetapi resiko
akibat hubungan itu mengakibatkan keburukan atau bencana maka beban atau resiko tersebut di
bebankan kepada rakyat, contoh kasus seperti Lapindo Brantas yang melakukan ekplorasi Gas di
Sidoarjo, Usaha ini merupakan anak perusahaan dari Energi Mega Persada merupakan
Kelompok Usaha Bakrie & Brothers. Akibat human eror maka adanya semburan lumpur panas
yang menyembur keluar dari ladang ekplorasi, yang mengakibatkan kerugian yang
melumpuhkan ekonomi masyarakat Jawa Timur, bahkan korban harta dan modal hidup yakni
rumah dan sawah.

Keadaan ini memaksa negara harus merogoh kas negara untuk melakukan perbaikan
infrastruktur sebesar Rp. 3,7 triliun, padahal yang harus bertangung jawab adalah Pemilik usaha
yakni Aburizal Bakrie, namun kembali di bebankan kepada negara di mana otomatis uang atau
kas negara berasal dari pajak dan retribusi yang di tarik dari rakyat. Padahal majalah Forbes Asia
2007 mennominasikan Keluarga Bakrie sebagai orang terkaya nomor wahid di Indonesia dengan
total kekayaan US$ 5,4 miliar (setara hampir Rp. 50 triliun) sumber : Majalah Tempo Edisi 12 –
18 Mei 2008.

Hal ini menyakiti bahkan menusuk rasa keadilan rakyat, Kekayaannya sebesar Rp.50 triliun
mengapa tidak di pakai untuk melakukan ganti rugi terhadap korban lumpur lapindo dan
perbaikan infrastruktur tetapi malah negara yang dipaksa untuk mengeluarkan dana sebesar Rp.
3,7 triliun untuk penanganan infrastruktur dan kerusakan yang ada, bahkan proses ganti rugi pun
berlarut-larut hingga saat ini belum terselesaikan.

Pertanyaan mendasar apa yang mendorong pemerintah untuk mengeluarkan uang negara untuk
kepentingan pribadi pengusaha. Pertanyaan ini menjadi titik tolak untuk melakukan analisa
terhadap hubungan penguasa dan pengusaha di Indonesia, mengapa penguasa selalu memberi
perhatian dan fasilitas bagi pengusaha dari pada membela atau memihak kepada rakyat?.

Sudah tidak menjadi barang asing lagi bahwa hubungan penguasa dan pengusaha telah berjalan
sekian lama di Indonesia sejak President Soekarno yang di kenal dengan konsep ekonomi
benteng, dimana memberikan peluang bagi usahawan pribumi untuk ikut berperan dalam
konstelasi kesimbangan (Miftah Thoha - Birokrasi dan Politik - Rajawali Pers – 2007). hingga
saat ini hubungan ini terjalin mesra tak terpisahkan. Sudah tentu hubungan Pemerintah dan
Pengusaha ini memiliki motif ideal yakni menciptakan kesimbangan, sehingga peran sektor
swasta atau bussines sangat mendukung terciptanya kesimbangan, namun perlu ada batasan dan
kontrol sehingga tidak tejadi pembiasan dari pemberian peran yang berlebihan.

Hubungan yang terjadi antara Penguasa dan Pengusaha dapat dikategorikan sebagai hubungan
Patron – Klien seperti yang didefenisikan oleh James C. Scott bahwa ”patron - klien sebagai
hubungan dyadio (dua orana) yang terdiri dari seorang dengan status sosio-ekonomi yang lebih
tinggi (patron) yang menggunakan pengaruh dan sumber-sumber kebutuhan hidup (resources)
yang dimilikinya untuk memberi perlindungan dan keuntungan bagi orang lain (klien) yang
membalasnya dengan memberikan dukungan dan bantuan temasuk pelayanan pribadi” (Maswadi
Rauf - Konflik dan Konsensus Politik - Dirjen Dikti – Diknas – 2001)

Status sosiol- ekonomi yang lebih tinggi akan memberikan peluang yang cukup mencipktakan
hubungan patron – klien hal ini berhubungan dengan struktur sosial masyarakat. Patron adalah
sebuah status yang di raih jika melihat posisi dan kapasitas dirinya dan berdasarkan pembagian
status yang dipopulerkan Ralp Linton yakni status yang di peroleh (ascribed status) dan status
yang di raih (achieved status), (Kamanto Sunarto - Pengantar Sosiologi - LP-FE UI – 2004)
Penguasa adalah status yang di raih melalui persaingan dan penguasaan atas berbagai sumber
untuk mendukung kekuasaannya. Pada jaman primitif yang menjadi Patron adalah mereka yang
berperan sebagai tuan tanah dan kliennya adalah parah penggarap, namun dalam konteks saat ini
patron adalah mereka yang menjabat sebagai pejabat pemerintah atau pejabat politik. Penguasa
memiliki penguasaan atas berbagai sumber yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan
masyarakat sehingga Patron perlu menciptakan program – program pengembangan
pembangunan bagi masyarakat (proyek pembangunan fisik – non fisik) sehingga untuk
melaksanakannya Penguasa membutuhkan Pengusaha untuk mengeksekusi program tersebut
mereka berperan sebagai Klien yang bertugas memperkuat kekuasaan dan kedudukan politik
yang dimiliki patron.

Hubungan Dalam Kepresidenan RI

Salah satu semangat demokrasi adalah terciptanya pemerintahan yang baik dimana menciptakan
keterlibatan semua komponen masyarakat dalam mencapai tujuan demokrasi yakni menciptakan
kesejahteraan bagi rakyat. Jika melihat tema pembahasan makalah ini yakni hubungan Penguasa
dan Pengusaha maka tidak dapat melupakan Rakyat sebagai obyek atau implikasi dari hubungan
patron – klien yang terbangun antara Pengusaha dan Penguasa. Hal ini sesuai dengan apa yang di
katakana Max Regus bahwa sirkulasi social politik nasional dapat di lihat dalam kerangka
hubungan tiga ruang ini yakni negara (penguasa), pasar (korporasi- pengusaha), warga (rakyat),
(Boni Hargens - Trilogi Dosa Politik - Parrhesia Institute – 2008)

Idealnya pemerintahan yang dijalankan diharapkan membawa dampak yang berarti bagi rakyat
yang telah memberikan lgitimasi bagi penguasa lewat pemilihan umum untuk menjalankan
pemerintahan ini dengan baik namun kenyataan yang terjadi adalah rakyat pada posisi yang tidak
menguntungkan akbiat perselingkuhan yang terjadi antara penguasa dan pengusaha.

Gambar 1. Keseimbangan Tiga Komponen (Miftah Thoha - Birokrasi Politik - Rajawali Pers –
2007)
Gambar di atas memberikan gambaran dimana ketiga komponen tidak saling mendominasi jika
ada mendominasi dan melemahkan pihak lain maka akan tercipta kekacauan dan ketidakserasian.
Hubungan ketiga komponen dalam sejarah ada pasang surutnya menurut Thoha ada hubungan
yang beragam masa Soekarno, pemerintahan setelah merdeka hubungan antara rakyat dan negara
sangat, sementara itu peranan sektor business swasta belum begitu nampak, hanyalah hubungan
sebatas untuk sama-sama berjuang menegakan kemerdekaan saja, masa itu Bung Karno mulai
memberikan angina bagi beberapa usahawan pribumi untuk ikut berperan dalam konstelasi
keseimbangn. Namun pada masa Orde Barudi bawah kepemimpinan Soeharto konstelasi
keseimbangan ketiga komponen tersebut beralih tekanannya. Peran pemerintah sangat dominant
rakyat terpuruk pada posisi paling bawah, sementara usahawan yang dikenal dengan sebutan
konglomerat memperoleh kelonggaran peran oleh pemerintah yang bisa menghimpit peran
rakyat bahkan bisa dikatakan peran konglomerat berada di atas penguasa pemerintah. (Miftah
Thoha - Birokrasi Politik - Rajawali Pers – 2007)

Pada masa B.J. Habibie, Gus Dur dan Megawati hubungan pemerintah dan usahawan tidak
begitu panjang karena tenggang waktu kepemimpinan mereka yang tidak begitu lama namun
tetap ada hubungan saling menguntungkan antara dua komponen hal ini disebabkan karena masa
reformasi yang baru di raih dimana peran rakyat dalam melakukan control terhadap pemerintah
sangat kuat.

Namun peluang untuk membangun hubungan dan melakukan pemburuan rente untuk menambah
pundi-pundi keluarga tetap di lakukan oleh Habibie seperti yang di ungkapkan oleh George
Junus Aditjondro, bahwa “hidup dengan bantuan Soeharto selama dua decade, Habibie
mempraktekan nepotisme, yang bahkan lebih jelas dalam posisi resminya daripada Soeharto,
Habibie adalah Kepala Otoritas Batam kemudian posisi itu di alihkan kepada Fanny Habibie
setelah Soeharto memilih Habibie sebagai Wakil President, Otoritas batam di penuhi anggota
kelompok Habibie, dan tidak hanya itu tetapi ada beberapa perusahaan milik pemerintah juga di
kendalikan oleh Habibie seperti IPTN (pesawat), PT. PAL (perkapalan), PT. PINDAD (pabrik
senjata dan amunisi) dan Pasar pemasaran bisnis keluarga Habibie telah terbangun dengan baik
di Jerman sehingga sangat menguntungkan dengan mengggunakan asosiasi bisnis Indonesia –
Jerman (EKONID) dan yang bertanggung jawab adalah Yayuk Habibie adik terkecil Habibie
(George Junus Aditjondro - Korupsi Kepresidenan - LKIS – 2006) hasil keuntungan ini sangat
besar sehingga dapat menjamin kehidupan dan masa tua Habibie yang di habiskan di negara ini.

Gaya hubungan penguasa dan pengusaha yang dilakukan Habibie yakni melibatkan keluarga
sendiri terjun dalam bisnis, gaya ini menurut Yoshihara Kunio kapitalis keluarga president seperti
yang dilakukan oleh President Marcos di Filipina (Yoshihara Kunio - Kapitalisme Semu Asia
Tengara – LP3ES – 1990)

Habibie yang merupakan menurut anggapan umum kaum Reformis dianggap sebagai antek atau
kaki tangan Soeharto yang diketahui paling banyak melakukan KKN (Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme) sesuai dengan semangat demokrasi yakni memutuskan mata rantai kekuasaan orde
baru maka Habibie tidak diajukan dalam bursa pencalolan President pada tahun 2000. kehadiran
Gus Dur (Abdurahman Wahid) yang nyentrik diharapkan mewakili semangat reformasi Soeharto
dan Habibie tetapi Gus Dur tidak secara langsung melakukan hubungan dengan para pengusaha
tetapi dilakukan orang-orang dekat dari NU (Nadhatul Ulama) dan PKB (Partai Kebangkitan
Bangsa) seperti Gus Dur mengintervensi cabinet untuk membebaskan tiga konglomerat yakni
Marimutu Sinivasan (Texmaco Group), Syamsul Nursalim (Gajah Tunggal Group), Prayogo
Pangestu (Barito Pacific Group) karena keterlibatan mereka dalam urusan utang, yang
merupakan bagian dari Bantuan Likuiditas Bank Indoensia (BLBI), Sinivasan terkenal sebagai
konglomerat berdarah India yang bergerak dalam usaha tekstil dan truk, menurut Straits Time, 27
April 2000, konon telah memperkerjakan 150.000 anggota NU di Jawa Timur, serta memberikan
insentif kepada sejumlah kiai NU untuk melobi President Gus Dur. (George Junus Aditjondro –
Korupsi Kepresidenan – 2006) Kasus yang akhirnya menjungkalkannya dari kursi kepresidenan
(impeachment) yakni kasus Brunai Gate dan Bulog Gate yang menarik President Gus Dur tidak
melibatkan keluarga secara langsung dalam melakukan hubungan dengan pengusaha.

Hubungan pengusaha dan penguasa yang di bangun oleh Gus Dur lebih pada pemanfaatan
organisasi keumatan (NU) dan partai politiknya (PKB) untuk melakukan hubungan dengan
pengusaha perilaku ini menurut Yoshihara Kunio bahwa politisi yang beralih menjadi kapitalis,
(Yoshihara Kunio – Kapitalisme Semu – 1990) namun tidak cukup seperti apa yang di
ungkapkan Yoshihara tetapi lembaga keumatan keagamaan diseret untuk terlibat dalam
hubungan ini dengan mendirikan yayasan- yayasan sosial keagamaan. Keuntungan yang di
peroleh atau komisi-komisi yang diperoleh dari lobi-lobi politik ini dapat di salurkan lewat
yayasan-yayasan, memang bertujuan untuk keslamatan umat tetapi hal ini telah merampas uang
negara dengan cara yang tidak baik, dan hanya bagi komunitas terbatas.

Era Megawati hal ini yang menyebabkan korupsi yang terlihat jelas pasca reformasi 1998, dn
berbagai kasus menarik perhatian yakni penjualan aset negara kapal tanker pertamina yang
melibatkan Laksamana Sukardi, dan privatisasi terhadap sejumlah perusahaan seperti INDOSAT
dan lainnya. Tidak hanya itu tetapi gaya hubungn penguasa dan pengusaha hampir mirip apa
yang di lakukan oleh President Soeharto namun peran ini dimainkan langsung oleh Taufik
Kiemas dimana sejumlah mega proyek terutama di DKI dimenangkan olehnya yang berindikasi
bahwa hal ini di berikan Sutiyoso kepada PDIP guna meredam pengusutan kasus 27 Juli 1996.
(George Junus Aditjondro - Korupsi Kepresidenan – 2006)

Penguasaan proyek tidak hanya terbatas di situ tetapi penguasaan lain yang dilakukan yakni
menempatkan keluarga seperti adik dari Taufik Kiemas yakni Santanaya dan Nazarudin untuk
menjadi Komisaris di sejumlah perusahaan Bonafid seperti Gajah Tunggal guna menyelamatkan
Syamsul Nursalim, pada Kekuasaan Megawati dan terbangun opini di masyarakat bahwa
Megawati dikendalikan sepenuhnya oleh Taufik Kiemas. Peluang yang di berikan bagi
pengusaha di luar lingkaran keluarga ada sejumlah nama yang berada dalam barisan Megawati
seperti Arifin Panigoro, Murdaya Poo namun dia adalah anggota Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) dan berada di lingkaran uatama PDIP karena berada di Struktur Partai. Yang
pada tahun 2007 menurut majalah Forbes menempati peringkat ke – 13 dari 40 orang terkaya di
Indonesia di bawah bendera usaha Group Central Cipta Murdaya dan Group Berca yang total
kekayaan nya pada tahun 2006 sebesar US$ 900 juta. (George Junus Aditjondro – 2006) Yang
kemudian di pecat dari parti karena sebagai kader PDIP tetapi melakukan bantuan atau
memberikan dukungan politik bagi pencalonan SBY-Boediono pada pemilu 2009, padahal PDIP
memiliki calon yang harus di dukung olehnya, sehingga PDIP harus mencopotnya dari
kepengurusan partai dan melakukan PAW dari kursi DPR – RI dari wilayah pemilihan Banten.
Motif hubungan yang dilakukan oleh megawati mengadopsi apa yang di lakukan oleh Soeharto
dan mengkolaborasi dengan melibatkan politisi yang berasal dari kalangan pengusaha dan biasa
di kenal dengan istilah kapitalis yang beralih menjadi politisi. Mereka yang terlibat di sini karena
dengan berada di legislative dengan mudah dapat melakukan perburuan rente karena akses yang
di miliki mudah serta, biaya sogokan untuk mendapatkan proyek tidak terlalu besar namun
kompensasinya di alihkan untuk partai.

Masa SBY pun hampir sama hubungan ini tetap mesra namun pada periode pertama tidak terlalu
terlihat perilaku hubungan ini, karena membangun image dengan memberikan ruang penuh bagi
Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pengawasan dan penangkapan bagi
mereka yang melakukan korupsi. Akhir pada periode kepemimpinan pertama mulai bergeser dari
semangat awal di mana ingin membasmi praktek korupsi. Namun ini hanya sebuah kamuflase
untuk membentuk citra partainya.

Padahal jika mau melihat ke belakang saat pertarungan nya pada periode 2004-2009 dimana
sejumlah pengusaha ada di barisan SBY-JK dimana memberikan dukungan politik guna melawan
Incumbent waktu itu Megawati. Sehingga ketika Group Bakrie & Brothers saat mengalami
masalah dengan muncratnya Lumpur Lapindo mulai 29 Mei 2006 maka pemerintah melakukan
konspirasi dengan mudah mengatakan bahwa hal ini adalah bencana nasional sehingga
pemerintah mengambil alih dengan memberikan bantuan perbaikan infrastruktur dan bantuan
ganti rugi, apa lagi Aburizal Bakrie juga berada dalam cabinet yang di pimpin oleh SBY – JK,
konspirasi ini kembali terulang saat krisis keuangan global sehingga harga saham longsor hebat
termasuk harga saham Group Bakrie yang turun hingga 20% dari seluruh nilai saham sehingga di
pemerintahan terbentuk faksi dalam cabinet antara pro dan kontra (29 November 2006 Sri
Mulyani mengatakan bahwa tidak ada dana di APBN 2006 dan 2007 untuk menanggulangi
semburan Lumpur), (Koran Tempo - 11 Desember - 2009) untuk membantu konglomerat Group
Bakrie, bahkan wapres Jusuf Kalla ngotot dengan berkata, apa salahnya pemerintahan
membantu, dengan pemahaman bahwa group bisnis ini merupakan aset nasional. (Majalah
Tempo, Edisi 17 – 23 November 2008)

Pertimbangan yang di lakukan Jusuf Kalla karena dukungan financial beruntun yang di lakukan
Aburizal Bakrie pada saat JK akan bertarung menjadi Ketua Umum Golkar di Kongres Bali, dan
yang kedua ketika SBY - JK maju sebagai capres pada pemilu 2004. Sumber ini diungkapkan
majalah Tempo bahwa jasa Aburizal dalam menopang kebutuhan dana kampanye Yudhoyono –
Jusuf Kalla cukup besar, dan selalu memasok dana dalam jumlah yang besar (Majalah Tempo -
Edisi 17 – 23 November 2008)

Hubungan pemerintahan SBY dengan pengusaha tidak hanya dalam bidang usaha umum tetapi
melakukan hubungan dengan para pemilik bank seperti yang di lakukan pemerintahan SBY
terhadap Bank Century dengan mengeluarkan “bailout century” sebesar Rp. 6,7 triliun untuk
penyelamatan century dan kebijakan ini tidak mendapat restu sepenuhnya dari DPR – RI dan
pengucuran dana ini hanya disepakati oleh Bank Indonesia (Boediono) dan Departemen
Keuangan (Sri Mulyani) yang menjadi permasalahannya adalah penggelontoran dana ini bukan
untuk menggantikan uang nasabah, kenyataan yang terjadi adalah uang itu hilang bagaikan kabut
yang hilang dalam pandangan mata.
Kabar mengejutkan darang dari sebuah LSM – Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat)
menyebutkan bahwa lembaga pemelihan umum dan sejumlah politikus pendukung SBY-
Boediono menerima cipratan aliran dana Century, Bendera menyebutkan bahwa, KPU menerima
Rp. 200 miliar, Lembaga Survei Indonesia Rp. 50 miliar, kemudian Fox Indonesia Rp. 200
miliar, dan Partai Demokrat Rp. 700 miliar, Politikus Edhie Baskoro – Ibas, anak bungsu
Yudhoyono – di tuding menerima Rp. 500 miliar, Hatta Rajasa (kini Menteri Perekonomian) Rp.
10 miliar, Djoko Suyanto (sekarang Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan) Rp. 10
miliar, mantan juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng dan Choel Malarangeng pemilik Fox,
masing-masing Rp. 10 miliar dan Pengusaha Hartati Murdaya Rp. 100 miliar. (Majalah Tempo -
Edisi 7 – 13, 2009)

Terlepas hal ini benar atau tidak namun indikasi ini menunjukan Penguasa dapat berupaya
dengan kekuasaan nya untuk memperoleh modal politik untuk mempertahankan kekuasaannya,
dan membiarkan rakyat menjerit terutama para nasabah bank century yang tidak mendapatkan
kepastian hukum atas dana yang mereka miliki, sedangkan para penguasa menggunakan uang
rakyat untuk kepentingan memperpanjang kekuasaannya, kroni bahkan menyelamatkan aset
kekayaan mereka. Dari perilaku hubungan penguasa dan pengusaha selama kepemimpinan
kepresidenan di Indonesia dapat menghasilkan hubungan yang menghasilkan kolusi, korupsi dan
nepotisme dan menempatkan rakyat di bawah hanya sebagai obyek yang dapat di ekploitasi,
hubungan ini gambarkan oleh Miftah Thoha sebagai berikut:
Gambar 2. Gambar hierarki hubungan ketiga komponen zaman pemerintahan Soeharto hingga
saat ini masih menguat. (Miftah Thoha – Birokrasi & Politik – 2007)

Good Governance

Demokrasi yang di jalani bangsa Indonesia saat ini tidaklah menjawab esensi dari demokrasi itu
sendiri, potret yang terlihat dari gambaran hubungan pengusaha dan pengusaha ini menunjukan
bahwa yang mendapat keuntungan adalah pengusaha dan pengusaha sedangkan rakyat tetap
dirugikan bahkan dieksploitasi dengan alasan demi kemajuan bangsa, padahal demokrasi
memberi daulat sepenuhnya kepada rakyat.

Demokrasi di Indonesia memberikan pemahaman terbalik pejabat atau penguasa didaulat oleh
rakyat guna memberikan pelayanan terhadap rakyat, sebaliknya terbalik pejabat publik
menggunakan kesempatan itu untuk menanggung untung untuk kepentingan pribadi, kroni dan
keluarga.

Tarik menarik antara tiga komponen ini tidak seimbang hanya menguntungkan bagi mereka yang
berada dalam lingkaran kekuasaan dan oleh mereka yang dapat memperdaya kekuasaan dengan
modal yang mereka miliki. Menurut Thoha, hakikatnya keseimbangan peran dari ketiga
komponen berat sebelah, peran pemerintah yang sentral memberikan kontribusi yang besar
terhadap komponen sektor swasta tanpa diimbangkan peran rakyat untuk bisa mengontrolnya.
Komponen rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negara ini memberikan sebagian
kekuasaannya kepada pemerintah, dengan demikian kekuasaan pemerintah yang berasal dari
rakyat tersebut, agarbisa dijalankan dengan baik harus diimbangi dengan pengawasan yang
dilakukan rakyat. (Miftah Thoha – 2007)
Akibat Pejabat pemerintah (pengusa) telah di kuasai oleh swasta maka ketika pengusaha
melakukan kesalahan atau melanggar hukum bahkan merugikan rakyat maka pemerintah secara
otomatis memberikan perlindungan bagi pengusaha karena rasa utang budi. Hal ini sebagaimana
di ungkapkan oleh Boni Hargens, bahwa di berbagai tempat dapat ditemukan masalah konflik
lokal antara perusahaan (swasta) dengan local comunity, terkait kerusakan lingkungan,
kompensasi yang sangat minim, dari perusahaan terhadap pembangunan masyarakat setempat,
atau maslah kekerasan yang dialami rakyat yang dilakukan oleh militer yang dibayar perusahaan.
Beliau kembali menambahkan bahwa, masyarakat selalu berada pada posisi yang dirugikan
ketika berhadapan dengan pasar yang terlalu profit-oriented, sebagian alasan ditemukan pada
perilaku pejabat negara yang menjadi komprador yang mengambil untung dari hubungan negara-
pasar. (Boni Hargens - Trilogi Dosa Politik - 2008)

Peran pengusaha dilibatkan dalam membangun negara untuk memberikan dampak baik bagi
kesejahteraan masyarakat, dengan membuka lapangan pekerjaan baru bagi rakyat, pengelolan
sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat dengan mengembalikan sekian persen dari rofit
yang di peroleh melalui pengelolaan CSR (Coorporate Social Responsibility). bukan berarti
membatasi peran pengusaha dalam kerjasamanya dengan negara, namun kenyataan yang terjadi
CSR masuk ke tangan Penguasa atau melalui Yayasan sosial yang di buat untuk kepentingan
politik atau perpanjangan tangan guna mempertahankan kekuasaan pada periode berikutnya.

Peran rakyat harus dilibatkan dengan melakukan tranparansi dalam menjalankan pemerinthan
serta akuntabilitas dibutuhkan agar dapat diketahui oleh rakyat sehingga dapat melakukan
kontrol, tidak ada perlakuan istimewa atau khsusus terhadap pengusaha tertentu sehingga mereka
pun benar-benar bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya, dan tidak meras mendapatkan
jaminan dari pemerintah sehingga tidak maksimal bahkan melakukan korupsi dalam setiap
proyek yang dikerjakan. Penguasa tidak memanipulasi segala dana atau hak rakyat dari hasil atau
bantuan CSR dengan yayasan yang di bentuk untuk menampung atau memarkirkan dana tersebut
untuk biaya kampanye.

Kemudian lagi memakai kroni atau keluarga untuk terlibat dalam tender atau penguasaan proyek
tertentu yang kemudian keuntungan tersebut di arahkan untuk mensukseskan partai politik
tertentu, dan tidak lagi di laporkan sebagai sumber penghasilan rakyat, menjauhi gratifikasi atau
bentuk pemberian-pemberian tertentu yang tidak jelas dan asal-usul uangnnya.

Kenyataan hubungan patron klien di Indonesia kelihatan dari pembahsan ini menunjukan bahwa
patron tertinggi ada dalam tangan pengusaha karena bisa mengatur pengusaha seperti yang
terjadi dalam rekaman percakapan Anggodo dan Yuliana Ong di sana nama president SBY
disebut hal ini menunjukan bahwa pengusaha swasta bisa mengatur pengusaha, dalam era
demokrasi seharusnya Patron adalah rakyat dimana meberikan kepercyaan kepada klien-nya
yakni Penguasa, jika penguasa menjalankan kekuasaan dengan baik maka rakyat akan
memberikan kepercayaan tetapi jika penguasa berkhianat maka rakyat berhak untuk memutuskan
hubungan tersebut.

*Penulis : Mahasiwa Sarolangun-Triangle Demokrasi-FISIP


Universitas Jambi-Ilham Irawan*
*Mohon Komentar*
Dalam Asal-usul Sosial Kediktatoran dan Demokrasi, Barrington Moore berusaha untuk menjelaskan
lintasan perkembangan yang mengubah masyarakat agraris menjadi industri modern. Dengan
memanfaatkan pendekatan neo-marxist yang berfokus pada munculnya kelas sosial dan koalisi antar
kelas, Moore berpendapat bahwa ada tiga rute historis dari agrarisisme ke dunia industri modern. Dalam
rute demokrasi kapitalis, yang dicontohkan oleh Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, kaum tani secara
politis impoten atau telah diberantas secara keseluruhan, sebuah borjuasi yang kuat hadir, dan
aristokrasi bersekutu dengan borjuasi atau gagal menentang usaha demokratisasinya. Dalam rute
reaksioner kapitalis, yang dicontohkan oleh Jerman dan Jepang, kaum tani menimbulkan ancaman bagi
kepentingan kaum borjuis dan aristokrasi, yang kemudian membentuk aliansi konservatif melawan kaum
tani; Aliansi ini memperkuat sebuah negara otonom, kadang-kadang otoriter yang dapat dikooptasi oleh
seorang pemimpin fasis dalam sebuah revolusi dari atas. Akhirnya, di jalur komunis, yang dicontohkan
oleh China dan Rusia, kaum borjuis gagal muncul dan kaum tani cukup kuat dan mandiri dari kalangan
aristokrasi untuk memacu sebuah revolusi radikal dari bawah melawan birokrasi agraria terpusat. India
adalah outlier yang canggung, karena tidak mengikuti jalur yang disebutkan di atas (ibid: 413).

Tiga Trajektori ke Dunia Modern


Meskipun Asal Usul Sosial Diktator dan Demokrasi Barrington Moore bermaksud untuk menjelaskan
"beragam peran politik yang dimainkan oleh kelas atas yang mendarat dan kaum tani dalam transformasi
dari masyarakat agraris. . . untuk industri modern, "adalah kehadiran borjuasi yang kuat yang pada
akhirnya merupakan kondisi penting yang diperlukan bagi Moore dalam menentukan lintasan
perkembangan masyarakat tertentu (Moore 1966: xi). Saat dia dengan meyakinkan menyatakan, "kita
dapat dengan mudah mendaftarkan kesepakatan yang kuat dengan tesis Marxis bahwa kelas penghuni
kota yang kuat dan independen telah menjadi elemen yang tak dapat dipisahkan dalam pertumbuhan
demokrasi parlementer. Tidak ada borjuis, tidak ada demokrasi "(ibid: 418). Untuk meneruskan argumen
ini, Moore memanfaatkan analisis historis komparatif dan studi kasus di Prancis, Inggris, Amerika Serikat,
Jepang, China, dan India, dengan beberapa referensi sesekali ke Jerman dan Rusia juga (ibid: xi-xii). Dia
membenarkan pemilihan negara-negara ini dengan dasar bahwa mereka telah menjadi "pemimpin
politik pada berbagai titik waktu selama paruh pertama abad ke-20" (ibid: xiii). Dari studi kasus ini, dia
memperoleh tiga alur perkembangan: (1) rute demokrasi kapitalis, yang menghasilkan demokrasi
parlementer; (2) rute kapitalis-reaksioner, yang menimbulkan kediktatoran fasis; dan (3) rute komunis,
yang menimbulkan kediktatoran komunis. Mari kita pertimbangkan masing-masing secara bergantian.

Rute Kapitalis-Demokratik
Dalam rute demokrasi kapitalis, yang dicontohkan oleh Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, kaum tani
berada di bawah pengaruh politik dan ekonomi borjuasi dan aristokrasi yang mendarat, atau telah
dieliminasi seluruhnya. Kaum borjuis perkotaan muncul sebagai aktor yang paling ekonomis dan politis,
dan aristokrasi tidak menentang usaha demokratisasinya atau dihancurkan olehnya dalam sebuah
revolusi borjuis (ibid: 430-431).
Sebagai contoh ilustrasi, jalur Inggris menuju demokrasi dapat diringkas sebagai berikut:
(1) Perdamaian antara mahkota & aristokrasi →
(2) pertanian kapitalis →
(3) Pemusnahan kaum tani (via Enclosure Movement) →
(4) Munculnya borjuasi yang kuat →
(5) Konvergensi kepentingan antara aristokrasi & borjuasi →
(6) aliansi Bourgeois-aristokratik →
(7) Demokrasi parlementer
Secara khusus, perdamaian kerajaan melemahkan kekuatan raja berhadapan dengan aristokrasi yang
mendarat; pergantian aristokrasi ke pertanian komersial memperkuat perdagangan dan memacu
munculnya borjuasi urban yang kuat; Pertanian komersial dilakukan melalui pengambilalihan aristokrasi
tanah dari kaum tani dalam Gerakan Lampiran; "Kepentingan konvergen" antara aristokrasi dan borjuis
mendorong aliansi antara kedua kelas, dan aristokrasi tidak menghalangi upaya para penghuni kota
urban untuk mendorong demokrasi kapitalis (ibid: 420; 424; 430-431). Dalam kasus Amerika, di sisi lain,
aristokrasi mendarat selatan menentang usaha demokratisasi borjuasi utara, yang memicu perang
saudara yang terbukti sebagai kejatuhan aristokrasi karena kelemahan relatifnya (ibid: 431).

Rute Kapitalis-Reaksioner
Dalam rute reaksioner kapitalis, yang dicontohkan oleh Jerman dan Jepang, aristokrasi dan borjuasi yang
mendarat lebih lemah daripada di jalur demokratik-demokratik, dan kaum tani dengan demikian
merupakan ancaman sah bagi kepentingan mereka. Akibatnya, kaum bangsawan dan kaum borjuis
"masuk ke dalam birokrasi kerajaan, bertukar hak untuk memerintah hak menghasilkan uang" (ibid: 437).
Koalisi aristokrat borjuis ini memupuk sebuah negara otoriter yang relatif otonom yang tertusuk oleh
periode singkat pemerintahan kuasi-demokratis (ibid: 437). Apa yang membawa fasisme totaliter ke
negara-negara ini adalah keengganan mereka untuk memberlakukan perubahan struktural dalam
menghadapi krisis politik atau ekonomi, yang memungkinkan para pemimpin reaksioner untuk
menyesuaikan aparatur negara untuk diri mereka sendiri dan menghasilkan revolusi fasis dari atas (ibid:
438-440).
Sebagai contoh ilustratif, jalur Jerman menuju fasisme dapat diringkas sebagai berikut:
(1) Petani menentang ancaman aristokrat & borjuis →
(2) Bourgeoisie & aristokrasi secara independen terlalu lemah untuk menekan ancaman →
(3) Aliansi aristokrat-borjuis beralih ke negara untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka →
(4) Otonomi, sedikit otoriter negara muncul →
(5) Krisis ekonomi menyerang dan rezim tidak dapat mereformasi →
(6) Pemimpin fasis membawa revolusi dari atas →
(7) kediktatoran fasis

Rute Komunis
Di jalur komunis, yang dicontohkan oleh Rusia dan China, kaum tani muncul sebagai agen historis
perubahan sosial. Apa yang terbukti penting adalah adanya masyarakat yang tidak memiliki tingkat
sosial, sehingga kaum tani mampu menyatu sebagai satu aktor kolektif (dalam masyarakat yang sangat
tersegmentasi, seperti India, sektor petani besar dibagi oleh kasta dan karenanya terbukti "Tidak
relevan") (ibid: 459). Dalam kasus ini, aristokrasi yang mendarat lebih lemah; Akibatnya, tidak mampu
menciptakan transisi ke pertanian komersial, menghancurkan struktur sosial kelas petani yang ada, dan
membuat kaum tani secara ekonomi bergantung pada elit darat (ibid: 467; 477). Tidak berubah menjadi
pertanian komersial dan industri, kaum borjuis perkotaan gagal muncul (ibid: 467). Selain itu, sebuah
birokrasi agraris terpusat yang dioperasikan oleh negara monarki hadir, dan akibatnya kaum tani menjadi
bergantung pada negara untuk mendapatkan rezeki dan perlindungan (ibid 467; 469; 471). Namun,
birokrasi terpusat mungkin pada titik tertentu "membuat marah" para petani melalui "dorongan atau
permintaan mendadak yang mungkin menyerang orang sekaligus dan itu adalah penghentian dengan
peraturan dan kebiasaan yang berlaku" (ibid: 474). Karena aristokrasi andalan itu secara politis dan
ekonomi digusur oleh birokrasi agraria, dan karena tidak memiliki hubungan sosial dengan kaum tani, ia
tidak dapat menentang pemberontakan petani terhadap negara, dan beberapa elite yang mendarat
bahkan bergabung dalam pemberontakan radikal. Kondisi ini memupuk revolusi komunis dari bawah.
Sebagai contoh ilustratif, jalur China menuju komunisme dapat diringkas sebagai berikut:
(1) perdagangan lemah →
(2) Tidak borjuasi →
(3) Petani yang kuat →
(4) Negara birokrasi agraris yang kuat →
(5) Petani menjadi tergantung pada negara daripada aristokrasi →
(6) Negara membuat petani marah melalui ekstraksi sewenang-wenang →
(7) revolusi petani yang dipimpin dari bawah →
(8) kediktatoran komunis