Anda di halaman 1dari 7

Penjelasan Tentang Penyimpangan Ikhwanul

Muslimin (Mukadimah)
November 29, 2007 at 2:47 pm 25 komentar

Untuk Saudara-saudaraku yang Mengagumi Manhaj Ikhwanul Muslimin

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi bin Rosyid

Ada fatwa dari Syaikh bin Bazz yang diklaim sebagai fatwa pendukung bolehnya
berintima (bergabung) dengan jamaah Ikhwannul Muslimin, fatwa itu dijadikan senjata
ampuh untuk memukul / membantah salafyun yang menjelaskan bahwa Ikhwanul Muslimin
adalah jamaah hizbiyyah. Sehingga fatwa itu disebarkan di intrnet dengan kategori Ruddush
Shubuhat. Melebihi itu bahkan fatwa Syaikh terebut di beri judul
(hukum bergabung dengan jamaah). Itu semua menunjukkan bahwa fatwa Syaikh
merupakan sesuatu hal yang istimewa bagi mereka dijadikan hujjah untuk menjaring /
mempertahankan anggota jamaah (hizbiyyah)nya.

Bagi saya pribadi fatwa tersebut bermakna sebagai berikut :

1. Syaikh menganjurkan kaum mulimin untuk bergabung kepada jamaah manapun yang
berpegang teguh kepada Al-haq, sebagai mana ucapan Beliau berikut :

Yang wajib bagi setiap manusia untuk komitmen pada kebenaran, yaitu firman ALLAAH
SWT & sabda Nabi SAW dan untuk tidak komitmen kepada manhaj jamaah manapun, tidak
kepada Ikhwanul-Muslimin, tidak juga kepada Ansharus-Sunnah, tidak juga kepada apapun
selain mereka. Tetapi komitmen dengan kebenaran. (catatan : penulisan SWT dan SAW asli
dari sumber dan tidak kami rubah, adapun kami sendiri sedapat mungkin apabila menulis
yang seperti itu insya Allah taala tidak kami singkat, demikian untuk selanjutnya yang
berasal dari situ yang kami ambil hanya dengan cara copy paste)

juga ucapan beliau berikut ini :

Yang wajib bagi setiap manusia untuk komitmen pada kebenaran, yaitu firman ALLAAH
SWT & sabda Nabi SAW dan untuk tidak komitmen kepada manhaj jamaah manapun, tidak
kepada Ikhwanul-Muslimin, tidak juga kepada Ansharus-Sunnah, tidak juga kepada apapun
selain mereka. Tetapi komitmen dengan kebenaran

2. Sebuah kelompok disebut Al-Jamaah bukan dinilai dari namanya akan tetapi dinilai dari
komitmennya terhadap kebenaran, apapun namanya tidak menjadi penghalang untuk
bergabung kepadanya dengan syarat kelompok tersebut komitmen terhadap kebenaran. Hal
ini difahami dari ucapan Syaikh berikut :

Alhasil yang dipegang adalah istiqamah mereka di atas al-haq, jika ditemukan manusia atau
JAMAAH yang mengajak kepada KitabuLLAAH & Sunnah Rasul-NYA SAW, mengajak
mentauhidkan ALLAAH SWT & mengikuti syariat-NYA maka MEREKA SEMUA ITULAH
AL-JAMAAH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH. Adapun mereka yang
menyeru kepada selain kitabuLLAAH, atau kepada selain sunnah Ar-Rasul SAW maka
mereka itu bukan termasuk Al-Jamaah, bahkan termasuk firqah yang sesat & binasa, karena
firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab & As-Sunnah, sekalipun
mereka adalah Jamaah di sini atau Jamaah di sana, sepanjang tujuan & aqidah mereka satu.
MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS-SUNNAH,
DAN YANG INI BERNAMA AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu,
yang penting aqidah & amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al-Haq & atas
TauhiduLLAAH & Ikhlas kepada-NYA & mengikuti RasuluLLAAH SAW perkataan,
perbuatan & aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. Tetapi wajib
bagi mereka bertaqwa kepada ALLAAH SWT & benar dalam ketaqwaannya, ADAPUN
SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS-SUNNAH DAN
SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL-
IKHWAN AL-MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jamaah anu, tidak masalah jika
mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al-Kitab & As-Sunnah & berhukum kepada
keduanya & istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan & perbuatan, dan jika Jamaah tsb
salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ilmi untuk memperingatkan &
menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.

3. Wajib bagi para ahli Ilmu (ulama) untuk saling mengingatkan terhadap kelompok-
kelompok yang menyimpang / salah. Sebagaimana ucapan Syaikh berikut :

jika Jamaah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ilmi untuk
memperingatkan & menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.

Agara kaum muslimin dapat mengambil sikap terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin,
dikarenakan fatwa tersebut digunakan oleh untuk melegalkan kelompok mereka, pada
kesempatan ini dengan memohon pertolongan Allah taala saya berusaha menampilkan
penjelasan Syaikh Ahmad An-Najmi mengenai penyimpangan Ikhwanul Muslimin.

Dengan tulisan ini saya berharap Allah taala memberi petunjuk kepada kita semua,
khususnya para pemuda yang masih memiliki obyektifitas, ghiroh beragama yang tinggi,
kecemburuan terhadap kebenaran dan bermacam-macam nilai positif lainnya. Dengan tulisan
ini saya berharap kita mampu menilai, benarkan Ikhwanul Muslimin adalah kelompok yang
dimaksud oleh Syaikh bin Baaz , dimana dibolehkannya kita bergabung kepadanya,
atau justru sebaliknya Ikhwanul Muslimin adalah sebuah kelompok yang dengan secepat-
cepatnya kita semua harus meniinggalkan karena banyaknya penyimpangan-penyimpangan
yang ada padanya ?.

Dikarenakan keterbatasan waktu, ilmu dan kesempatan yang ada maka tulisan ini kami
rencanakan berseri. (Insya Allah taala)

Tulisan ini kami ambil dari buku yang berjudul Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin
terjemahan dari Karya Syaikh Ahmad An-Najmi yang berjudul : Al Mauridu Aladzbi
Az-zalaal Fiima Untuqida Alaa Badli Al-Manahij Ad-Dawiah Min Al-Aqaaid wa Al-Amal
yang diterbitkan oleh maktabah al-furqon.

Perlu diketahui para pembaca yang budiman bahwa footnot dari buku tersebut tidak
semuanya kami tampilkan. Oleh karena itu bagi para pembaca yang menginginkan data
lengkap sebagai bukti-bukti ilmiahnya, kami sarankan untu merujuk kepada buku yang saya
sebutkan.

Kepada semuanya saya memohon maaf atas kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat
atas penukilan dari sumber aslinya, tentunya sebagai orang yang sangat dhoif di sana sini
banyak kesalahan dikarenakan salah dalam membaca maupun salah dalam menulis, oleh
karena itu kami sangat menganjurkan bagi para pembaca untuk membaca buku aslinya.

Penjelasan Tentang Penyimpangan Ikhwanul Muslimin

Oleh : Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi

Ketahuilah semoga Allah taala memberiku taufik demikian pula engkau, ketika menjelaskan
kesalahan-kesalahan Ikhwanul Muslimin ataupun selainnya, sesungguhnya kami -insya
Allah- hanyalah melakukannya untuk menerangkan kebenaran, empati kepada makhluk lain
dan menunaikan kewajiban sebagai tanggung jawab yang dipikulkan oleh Allah taala kepada
para pewaris ilmu, Allah taala berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada
manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk)
yang dapat melanati, kecuali mereka yang telah taubat dan Mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan
Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah : 159-160)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mentaklif mereka dalam sabda Beliau
shallallahu alaihi wasallam : Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat saja,
bicarakanlah berita dari Bani Israil, tidak ada kesempitan. Barangsiapa yang membuat
kedustaan atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersiap menempati tempat dudukknya
di neraka.( Shahihul Jami 2834).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : Hendaklah yang hadir menyampaikan


kepada yang tidak hadir, terkadang orang yang disampaikan (ilmu kepadanya) lebih
memelihara (ilmu)nya daripada yang hadir menyaksikan (Al-Bukhari pada Kitab Ilmu).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Semoga Allah taala memberikan nikmat
dan mengelokkan seseorang yang mendengarkan ucapanku lantas dia hafalkan, kemudian dia
tunaikan apa adanya sebagaimana dia dengar.(Diriwayatkan oleh sekelompok sahabat
dengan beberapa bentuk kalimat namun berdekatan. Lihat Mausuah Athrafil Hadits X/35-
37).

Allah taala mewajibakan kepada para ahli ilmu untuk menerangkan kepada manusia
kandungan Al-Quran dan As-sunnah yang berupa hukum-hukum syareat, maka Allah taala
juga mewajibkan kepada manusia untuk membantah siapa saja yang menyalahi syareat itu
baik sedikit atau banyak, satu masalah atau berbagai masalah serta satu keputusan atau
banyak keputusan -jika penyelisihan itu menyangkut ushul dan akidah.

Kewajiban yang dipikulkan kepada manusia ini tidak lebih kurang dari kewajiban
menjelaskan ushul Dien (yang dibebankan kepada ulama), bahkan boleh jadi lebih
tegas, sebab hukum-hukum yang tidak terkotori dan mengalami perubahan akan tetap
terjaga aman untuk manusia di setiap masa dan tempat, hal ini akan diketahui oleh
siapa yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh siapa yang jahil.

Adapun hukum-hukum dan permasalahan yang telah tercemar, saya maksudkan tercemar
dengan pemahaman yang terbalik dan akal yang menyimpang dari kebenaran disebabkan
kesalahan yang menimpanya di dalam menimba ilmu, sehingga dia sangka sebagai Dien
perkara yang bukan Dien dan dia sangka kebenaran sesuatu yang sebenarnya kebathilan
akhirnya mereka menghadapi kenyataan pahit dan terkena firman Allah taala:

Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya?Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu
orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap)
perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak
Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.(QS. Al-Kahfi : 103-
105)

Kami mengimani bahwa siapa saja yang menemui Allah taala tanpa membawa tauhid yang
mana tidaklah diturunkan kitab-kitab,diutusnya para rasul, ditetapkan hari kiamat, serta
diciptakan surga dan neraka melainkan sebab tauhid itu, siapa yang menemui Allah taala
dengan demikian maka dia akan menerima kenyataan pahit, sekalipun dia adalah orang yang
berasumsi atau menyangka dirinya adalah seorang dai yang mengajak kepada Allah taala.
Siapa yang meragukan hakekat ini maka hendaklah dia mengetahui bahwa dirinya belum
mengenal Dienul Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dan yang dinyatakan oleh Al-Quran, dimana Al-Quran telah menjelaskan panjang
lebar dan demikian jelas apasaja yang telah membatalkan keislaman yang tidak mungkin
disusupi keraguan atau tanpa adanya suatu hakekat yang tersembunyi di belakang, misalnya
firman Allah taala:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa :
48)

Allah taala berfirman :




Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan
Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya. (QS.An-Nisa : 116)

Firman Allah taala :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al


masih putera Maryam, Padahal Al masih (sendiri) berkata: Hai Bani Israil, sembahlah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah :
72.)

Tatkala Allah taala menyebutkan para nabi di surat al-Anam, Allah taala taala berfirman :

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang
telah mereka kerjakan. (QS.Al-Anam : 88)

Allah taala berfirman :

Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
Termasuk orang-orang yang merugi. ((QS. Az-Zumar:65)

Allah taala membuka kabar ini dengan Lam pasangan kata sumpah yang menunjukkan
penegasan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa : JIka Beliau shallallahu
alaihi wasallam melakukan syirik -walaupun telah diketahui bahwa Baliau shallallahu alaihi
wasallam makhluk yang paling dicintai Allah taala sungguh amalannya kan runtuh dan
Beliau shallallahu alaihi wasallam sangat jauh dari kesyirikan dan hal ini hanyalah sebagai
pengandaian.

Jelaslah dengan ayat-ayat ini bahwa syirik akbar dapat meruntuhkan amal, mengeluarkan
seorang dari millah dan memastikan kekekalannya dalam neraka.

Kaum Sufi telah memutar-balikkan hakekat syareat, mereka berprasangka bahwa menyeru
makhluk -yang dia sangka mempunyai tingkat kewalian dan mengaku mempunyai banyak
keramat, sama saja masih hidup atau sudah menjadi mayat- kemudian beristighotsah kepada
mereka ketika mengalami bencana kesusahan, itulah Dien yang murni, inti dan hakekatnya.
Bahkan mereka ghuluw (terlampau berlebihan) dalam menyikapi para wali hingga
menjadikannya sebagai pendamping Rabb azza wajalla dengan kedudukan wali quthub yang
mengatur alam semesta. Lalu sikap ghuluw itu semakin menggila dengan menjadikan wali itu
sebagai Ilah Sesembahannya yang bertempat di tubuh makhluk ataupun sebagiannya.
Terakhir : Apakah engkau dapat melihat seseorang yang tertarbiyah dalam didikan
syufiyyah akan keluar dalam keadaan selamat dari virusnya ?! Tidak ! Demi Allah taala
tidak-kecuali siapa yang Allah taala kehendaki untuk diselamtkan- bahkan minimal
keadaannya tiada lagi memiliki kebencian terhadap syirik besar yang meruntuhkan dan
memotong keislamannya sejak akar pondasinya. Kalau tauhid sudah hilang maka
keislamannyapun akan hilang dan semua dakwah yang tidak dibangun di atas pondasi tauhid
ini maka dakwahnya itu adalah bathil sebab ia telah didirikan di atas pondasi yang tidak
benar berdasarkan asas dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Tibalah waktunya bagi kami untuk memulai pembahasan yang kami kehendaki, Allah taala
maha Tahu bahwa saya tidak bermaksud melukai perasaan seseorang kecuali jika penyebutan
celaan itu mengandung maksud yang dituntun oleh Dien, misalnya di dalam celaan itu ada
nasehat bagi orang-orang yang tertipu oleh person atau sesuatu manhaj, sebagaimana yang
telah dilakukan Salaf, Salaf mencela mereka sebab empati pada umat dan dalam rangka
menjelaskan kebenaran. Kitab-kitab Al-Jarh dan Tadil penuh dengan contoh-contoh semisal
itu.

Imam Muslim bin Al-Hajjaj berkata dalam muqodimah shahihnya :

((Amr bin Ali Hafs menceritakan kepada kami, dia menyatakan: Saya mendengar Yahya bin
Said berkata : Saya bertanya pada Sufyab Ats-Tsauri, Syubah, Malik dan Ibnu Uyainah
tentang seseorang yang tidak tsabit dalam hadits, dimana ada yang bertanya kepadaku
tentang seseorang tersebut. Maka semuanya menjawab Kabarkanlah bahwa dia tidak tsabit !.

Ubaidullah bin Said berkata kepada kami : Saya mendengar An-Nadhr berkata : Ibnu Aun
ditanya tentang haditnya Syahr sementara saat itu Syahr ada di depan pintunya, maka dia
berkata : Syahr dicela oleh mereka (para ulama hadits) .Syahr dicela oleh mereka. Imam
Muslim berkata : Lisan-lisan menyebutkan celaan terhadapnya. Muslim juga telah
meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Syabi yang berkata : Disampaikan hadits
kepadaku oleh Al-Harits Al-Awar Al-Hamdani, sedangkan dia seorang pendusta.

Diriwayatkan juga oleh Muslim dengan sanadnya sampai ke Ibnu Aun yang berkata :
Ibrahim berkata kepada kami : Waspadalah Al-Mugirah bin Said dan Abu Abdurrahman,
sebab keduanya pendusta.

Ibnu Kamil Al-Jahduri menyatakan kepada kami bahwa Hammad (Ibnu Zaid) mengatakan
kepadanya : Ashim berkata kepada kami : Dahulu kami pernah mendatangi Abu
Abdurrahman saat masih muda belia, maka dia berkata kepada kami :Janganlah kalian
duduk di hadapan tukang cerita selain Abul Ahwash. Waspadailah Syaqiq !, sebab Syaqiq
berfaham khawarij,tapi bukan Syaqiq bin Salamah))

Demikianlah kutipan dari Mukadimah Shahih Muslim yang membuka aib-aib perawi. Inilah
saatnya memasuki kesimpulan umum tentang aib yang ada pada ikhwanul Muslimin;

Bersambung Insya Allah taala.pada: Ikhwanul Muslimin Meremehkan Tauhid Ibadah dan
Tidak Menjadikan sebagai Asas Berpijak.

Artikel yang sangat berkaitan dengan tulisan ini :

http://abdurrahman.wordpress.com/2007/11/28/membongkar-pemikiran-hasan-al-banna-1/
http://abdurrahman.wordpress.com/2007/11/28/membongkar-pemikiran-hasan-al-banna-2/