Anda di halaman 1dari 13

LUMPUR PENGEBORAN

Lumpur pengeboran dapat didefinisikan sebagai semua jenis fluida (cairan-


cairan berbusa, gas bertekanan) yang dipergunakan untuk membantu operasi
pengeboran dengan membersihkan dasar lubang dari serpih bor dan mengangkatnya
kepermukaan, dengan demikian pengeboran dapat berjalan dengan lancar. Lumpur
pengeboran yang digunakan sekarang pada mulanya berasal dari pengembangan
penggunaan air untuk mengangkat serbuk bor. Kemudian dengan berkembangnya
teknologi pengeboran, lumpur pengeboran mulai digunakan. Selain lumpur
pengeboran, digunakan pula gas atau udara sebagai fluida pengeboran.

1. Fungsi Lumpur Pengeboran


Pada awal penggunaan pengeboran berputar, fungsi utama fluida pengeboran
hanyalah mengangkat serpih dari dasar sumur ke permukaan. Tetapi saat ini fungsi
utama lumpur pengeboran adalah:
a. Pengangkatan Serpih Bor (Cutting Removal)
Lumpur yang disirkulasi membawa serpih bor menuju permukaan dengan
adanya pengaruh gravitasi serpih cenderung jatuh, tetapi dapat diatasi oleh daya
sirkulasi dan kekentalan lumpur. Dalam melakukan pengeboran serbuk bor
(cutting) dihasilkan dari pengikisan formasi oleh pahat, harus dikeluarkan dari
dalam lubang bor. Hal ini berdasarkan atas keberhasilan atau tidaknya lumpur
untuk mengangkat serbuk bor. Apabila serbuk bor tidak dapat dikeluarkan maka
akan terjadi penumpukan serbuk bor didasar lubang, jika hal ini terjadi maka
akan terjadi masalah seperti terjepitnya pipa oleh serbuk bor.
Serbuk bor dapat diangkat jika lumpur mempunyai kemampuan untuk
mengangkatnya. Kemampuan serbuk bor untuk terangkat hingga kepermukaan
tergantung yield point lumpur itu sendiri. Jika lumpur sudah memiliki yield
point yang memadai maka dengan melakukan sirkulasi serbuk bor dapat
terangkat keluar bersamasama dengan lumpur untuk dibuang melalui alat
pengontrol solid (Solid Control Equipment) berupa shale shaker, desander, mud
cleaner, dan centrifuge.
b. Mendinginkan dan Melumasi Pahat (Mata Bor)
Panas yang cukup besar terjadi karena gesekan pahat dengan formasi maka
panas itu harus dikurangi dengan mengalirkan lumpur sebagai pengantar panas
kepermukaan. Semakin besar ukuran pahat, semakin besar juga aliran yang
dibutuhkan. Kemampuan melumasi dan mendinginkan pahat dapat ditingkatkan
dengan menambahkan zatzat lubrikasi (pelincir) misalnya : minyak, detergent,
grapite, asphalt dan zat surfaktan khusus, serbuk batok kelapa
bahkan bentonite juga berfungsi sebagai pelincir karena dapat mengurangi
gesekan antara dinding dan rangkaian bor.
c. Membersihkan Dasar Lubang (Bottom Hole Cleaning)
Ini adalah fungsi yang sangat penting dari lumpur bor, lumpur mengalir melalui
corot pahat (bit nozzles) menimbulkan daya sembur yang kuat sehingga dasar
lubang dan ujungujung pahat menjadi bersih dari serpih atau serbuk bor. Ini
akan memperpanjang umur pahat dan akan mempercepat laju pengeboran.
Laju sembur (jet velocity) minimum 250 fps untuk tetap menjaga daya sembur
yang kuat kedasar lubang. Laju sembur yang optimal sebaiknya harus
memperhitungkan kekuatan formasi atau daya kemudahan formasi untuk dibor
(formation drillability). Kalau laju sembur terlalu besar pada formasi yang lunak,
dan akan mengakibatkan pembesaran lubang (hole enlargement) karena kikisan
semburan. Sedangkan pada formasi keras akan terjadi pengikisan pahat dan
menyianyiakan horse power
d. Melindungi Dinding Lubang Supaya Stabil
Lumpur bor harus membentuk deposit dari ampas tapisan (filter cake) pada
dinding lubang sehingga formasi menjadi kokoh dan menghalang-halangi
masuknya fluida (filtrat) kedalam formasi. Kemampuan ini akan meningkat jika
fraksi koloid dari lumpur bertambah, misalnya dengan menambahkan
attapulgite atau zat kimia yang dapat meningkatkan pendispersian padatan.
Dapat pula dengan menambahkan zatzat poliner sehingga viskositas dari filtrat
(air tapisan) meningkat, dengan demikian mobilitas filtrat didalam filter cake dan
formasi akan berkurang.
e. Menjaga atau Mengimbangi Tekanan Formasi
Pada kondisi normal gradien tekanan normal : 0.465/ft, 0.107-ksc/ft. Berat dari
kolom lumpur yang terdiri dari fase air, partikelpartikel padat lainnya cukup
memadai untuk mengimbangi tekanan formasi. Tetapi jika menjumpai daerah
yang bertekanan abnormal dibutuhkan materi pemberat khusus (misal : XCD-
polimer) yang mempunyai berat jenis tinggi untuk menaikkan tekanan hidrostatis
dari kolom lumpur agar dapat mengimbangi dan menjaga tekanan
formasi. Besarnya tekanan hidrostatik tergantung dari berat jenis fluida yang
digunakan dan tinggi kolom yang dapat dihitung dengan persamaan :

Hp = 0.052 x Mw (ppg) x D = Psi


= 0,00695 x Mw (pcf) x D = Psi
dimana :
Hp = Tekanan hidrostatic lumpur, psi.
Mw = Densitas lumpur, ppg/pcf
D = Kedalaman, ft.
f. Menahan Serpih/Serbuk Bor & Padatan Lainnya Jika Sirkulasi Dihentikan
Kemampuan lumpur bor untuk menahan atau mengapungkan serpih bor pada saat
tidak ada sirkulasi tergantung sekali pada daya agarnya (gel strengt). Daya agar
adalah suatu sifat fluida thixotropis yang mempunyai kemampuan mengental dan
mengagar jika didiamkan (static condition) dan kembali lagi mencair jika diaduk atau
digerakgerakkan. Sifat pengapungan atau penahan serpih didalam lumpur sangat
diinginkan untuk mencegah turunnya serpih kedasar lubang atau menumpuk di
anulus yang akan memungkinkan terjadinya rangkaian bor terjepit. Tetapi daya agar
ini tidak boleh terlalu tinggi supaya mengalirnya kembali lumpur tidak membutuhkan
tekanan awal yang terlalu besar.
g. Sebagai Media Logging
Data-data dari sumur yang diselesaikan sangat penting untuk dasar evaluasi
sumur yang bersangkutan, juga penting untuk dasar pembuatan program dan
evaluasi sumur-sumur yang akan di bor selanjutnya. Data-data tersebut diatas
didapat dari analisa cutting dan pengukuran langsung dengan wire logging.
Untuk itu lubang bor harus bersih dari cutting.
h. Menunjang (Support) Berat Dari Rangkaian Bor dan Selubung
Makin dalam pengeboran, maka berarti makin panjang pula rangkain pipa atau
casing, sehingga beban yang harus ditahan menara rig akan bertambah besar,
dengan adanya bouyancy effect dari lumpur akan menyebabkan beban efektif
menjadi lebih kecil sehingga dengan kemampuan yang ada mampu melakukan
pengeboran yang lebih dalam. Faktor yang mempengaruhi dalam hal ini adalah
berat jenis dari lumpur.
i. Menghantarkan Daya Hidrolika Kepahat
Lumpur pengeboran adalah media untuk menghantarkan daya hidrolika dari
permukaan kedasar lubang. Daya hidrolika lumpur harus ditentukan didalam
membuat program pengeboran sehingga laju sirkulasi lumpur dan tekanan
permukaan dihitung sedemikian agar pendayagunaan tenaga (power) menjadi
optimal untuk membersihkan lubang dan mengangkat serpih bor. Kemampuan
untuk membersihkan serbuk bor dari bit itu didapat karena adanya tenaga
hidrolik yang harus disalurkan dari permukaan menuju bit melalui media lumpur
yang disebut sebagai Bit Hydraulic Horsepower
j. Mencegah dan Menghambat Laju Korosi
Korosi dapat terjadi karena adanya gas-gas yang terlarut seperti oksigen CO 2,
dan H2S. Juga karena pH lumpur yang terlalu rendah atau adanya garam-garam
di dalam. Untuk menghindari hal - hal tersebut diatas, ke dalam lumpur dapat
ditambahkan bahan bahan pencegah korosi atau diusahakan untuk mencegah
pencemaran yang terjadi.

2 Sifat-Sifat Penting Lumpur Pengeboran


Dalam suatu operasi pengeboran semua fungsi lumpur pengeboran haruslah
berada dalam kondisi yang baik sehingga operasi pengeboran dapat
berlangsung dengan baik. Hal ini dapat dicapai apabila sifat lumpur selalu
diamati dan dijaga secara kontinyu dalam setiap tahap operasi pengeboran.
Selain hal tersebut di atas pengukuran dan pengamatan sifat - sifat kimia juga
harus dilakukan dengan seksama.Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan
sifat sifat lumpur pengeboran.
a. Berat Jenis
Sifat ini berhubungan dengan tekanan hidrostatik yang ditimbulkan oleh suatu
kolom lumpur, karenanya harus selalu di jaga guna mendapatkan tekanan
hidrostatik yang sesuai dengan tekanan yang dibor. Lumpur yang terlalu ringan
akan menyebabkan enterusi fluida formasi kedalam lubang dan hal ini akan
menyebabkan kerontokan dinding lubang, kick dan blow out. Lumpur yang
terlalu berat akan dapat menyebabkan problema Lost Circulation.
b. Rheology dan Gel Strength
Viscositas
Viscositas adalah tahanan terhadap aliran atau gerakan yang penting untuk
laminar flow. Alat untuk mengukur viscositas lumpur ialah Marsh Funnel.
Plastic Viscosity (Pv)
Plasctic viscosity merupakan tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh
gesekan antara sesama benda padat didalam lubang bor dan merupakan
salah satu parameter kenaikan solid yang ada dalam lumpur.
Yield Point (Yp)
Yield point merupakan tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh gaya
elektrokimia antara padatan padatan, cairan cairan dan padatan cairan.
Gel Strength
Gel strength adalah sifat dimana benda cair menjadi lebih kental bila
dalam keadaan diam, dan makin lama akan bertambah kental. Sifat ini
dikenal juga sebagai sifat THIXOTOPIC.
c. Sand Content
Penentuan kadar pasir pada lumpur pengeboran adalah untuk mencegah abrasi
Pada pompa dan peralatan pengeboran lainnya, juga untuk mencegah
penebalan mud cake dan drill pipe sticking.
d. Solid Control
Kandungan solid di dalam lumpur bila tidak dikontrol dengan baik akan
mempunyai akibat akibat yang buruk antara lain :
Memperlambat peneteration rate
Susah mengatur sifat sifat rheologi
Bit dan peralatan lainnya cepat aus.
Treatment menjadi lebih mahal.
Solid dapat berasal dari penambahan weighting agent dapat pula berasal dari
drilled cutting formasi.
e. Alkalinity Filtrate
Tujuan pemeriksaan alkalinity filtrate adalah untuk mengetahui kontaminan
kontaminan terhadap lumpur. Kontaminan kontaminan ini dapat berasal dari
formasi yang di bor maupun dari air yang digunakan untuk pembuatan lumpur.
f. Fluid (Water) Loss
Bila suatu campuran padat cair, seperti lumpur berada dalam kontak dengan
media porous seperti dinding lubang bor dengan adanya tekanan yang bekerja
padanya, makan akan terjadi perembesan zat cair kedalam media porous
tesebut.
g. PH
PH menyatakan konsentrasi dari gugus hidroxil (OH) yang terdapat dalam
lumpur yang akan mempengaruhi kereaktifan bahanbahan kimia yang
digunakan dalam lumpur.
3 Komposisi Lumpur Pengeboran
Komposisi dari lumpur pengeboran disusun dari berbagai bahan kimia yang
masing-masing mempunyai fungsi secara individual, dan diharapkan saling bekerja
secara sinergik untuk mendapatkan sifat-sifat lumpur yang di harapkan Bahan-bahan
kimia penyusun lumpur tidak hanya berfungsi tunggal melainkan dapat berfungsi
ganda. Fungsi pertama disebut primary fungtion sedangkan fungsi keduanya disebut
secondary fungtion.
Lumpur pengeboran yang paling banyak digunakan adalah lumpur pengeboran
dengan bahan dasar air (water base mud) dimana air sebagai fasa cair kontinyu dan
sebagai pelarut atau penahan materimateri didalam lumpur.
Empat macam komposisi atau fasa yang umum digunakan di dalam lumpur
pengeboran adalah sebagai berikut :
Fasa cair (air atau minyak)
Reactive solids (padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid )
Inert solids (zat padat yang tidak bereaksi)
Fasa kimia
Dari keempat komponen ini dicampurkan sedemikian rupa sehingga didapatkan
lumpur pengeboran yang sesuai dengan keadaan formasi yang ditembus.
a. Fasa Cair
Fasa cair adalah komponen utama lumpur pengeboran. Fungsi dari fasa cair adalah
sebagai fasa dasar yang dapat menyebabkan lumpur dapat mengalir. Disamping itu
bila bereaksi dengan reaktif solid akan membentuk koloid yang viscositasnya tertentu
sehingga lumpur dapat mengangkat serpih bor. Fasa cair yang digunakan disesuaikan
dengan kondisi lapangan dan kondisi formasi yang dibor. Fasa cair yang biasa
digunakan adalah air tawar, air garam, minyak dan emulsi antara minyak & air.
b. Reactive Solids
Padatan ini bereaksi dengan sekelilingnya untuk membentuk koloidal. Dalam hal
ini clay air tawar seperti bentonite mengisap (absorp) air tawar dan membentuk
lumpur. Istilah yield digunakan untuk menyatakan jumlah barrel lumpur yang dapat
dihasilkan dari satu ton clay agar viskositaslumpurnya 15 cp.
Bentonite digunakan antara lain sebagai bahan dasar lumpur pengeboran, pada
dasarnya Bentonite dibuat dari bahan lempung (clay) yang besifat Na-
Monntmorillonite dan Ca-Monntmorillonit. Na-Monntmorillonite sangat baik digunakan
sebagai bahan dasar lumpur pengeboran karena mampu mengembang (Swelling)
sampai 8 kali jika direndam dalam air. Kemampuan mengembang yang cukup besar,
akan membentuk suatu larutan dengan viscositas yang cukup besar, hal ini penting
untuk membersihkan dasar lubang sumur dan juga membentuk suatu lapisan dinding
yang elastic yang akan melindungi dinding lubang agar tidak runtuh.
Bentonite merupakan gabungan lempung (Clay) yaitu kumpulan mineral dan bahan
bahan seperti illit, kaolinit, siderite dan terbanyak adalah montmorillnite (85 90 %)
dan logam alkali tanah.
Untuk salt water clay (attapulgite), swelling terjadi baik di air tawar atau di air asin dan
karenanya digunakan untuk pengeboran dengan salt water muds.
Baik bentonite atau attapulgite akan memberikan kenaikan viskositas lumpur. Untuk oil
base mud, viskositas dinaikkan dengan penaikan kadar air dan penggunaan asphalt.
c. Inert Solids
Inert solid adalah padatan yang tidak bereaksi dengan air dan dengan komponen
lainnya dalam lumpur, dimana material ini tidak tersuspensi. Fungsi utama dari
material ini adalah berkaitan erat dengan densitas lumpur berguna untuk menambah
berat ata berat jenis dari lumpur, yang tujuannya untuk menahan tekanan dari tekanan
formasi dan tidak banyak pengaruhnya dengan sifat fisik lumpur yang lain.
Material inert ini antara lain adalah barite atau barium sulfate (BaSO4), besi
oxida (Fe2O3), calcite atau calsium sulfate (CaSO4) dan galena (PbS), dimana
kebanyakan dari zat-zat ini berfungsi sebagai material pemberat.
Inert solid dapat pula berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa oleh lumpur
sepertichert, pasir atau clay-clay non swelling, padatan seperti ini bukan disengaja
untuk menaikkandensitas lumpur dan perlu dibuang secepat mungkin (dapat
menyebabkan abrasi dan kerusakan pompa).
Sebagai contoh umum digunakan sebagai inert solid dalam lumpur bor, adalah :
Barite (BaSO4)
Oksida Besi (Fe2O3)
Kalsium Karbonat (CaCO3)
Galena (PbS)
d. Fasa Kimia
Zat kimia merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mengontrol sifat sifat
lumpur misalnya menyebarkan partikel-partikel clay (dispertion), menggumpalkan
partikel partikel clay (flocculation) yang akan berefek pada pengkoloidan partikel
clay itu sendiri. Banyak sekali zat kimia yang dapat digunakan untuk menurunkan
kekentalan, mengurangi water loss, mengontrol fasa kolid yang disebut
dengan surface active agent.
Zat kimia yang dapat menurunkan kekentalan dan mendispersi partikel clay biasa
disebut thiner. Thiner yang dapat menurunkan kekentalan atau mengencerkan partikel
clay diantaranya adalah :
Quobracho (dispersant)
Phosphate
Sodium Tannate (kombinasi caustic soda dan tannium)
Lignosulfonate
Lignite
Sedangkan zat-zat yang dapat menaikkan kekentalan antara lain :
C.M.C
Starch
Drispac
Zat-zat kimia tersebut diatas bereaksi dan mempengaruhi lingkungan sistem lumpur
tersebut, misalnya dengan menetralisir muatan muatan listrik clay, menyebabkan
dispertion dan lain sebagainya.
4. Jenis Lumpur Pengeboran
Pada umumnya lumpur pengeboran dibagi dalam dua sistem, yaitu lumpur bor
dengan bahan dasar air (water base mud) dan lumpur bor dengan bahan dasar
minyak (oil base mud). Lumpur bor berdasarkan fasa cairnya yaitu air dan minyak
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Water base mud
Lumpur jenis ini yang paling banyak digunakan, karena biayanya relatif murah.
Lumpur ini terbagi atas fresh water mud dan salt water mud, dan apabila dilihat
dari komposisinya lumpur ini terbagi lagi sebagai berikut :
1) Gel spud mud
Komposisinya adalah sebagai berikut :
20 25 lb/bbl bentonite
0.25 0.5 lb/bbl caustic soda
Lumpur ini digunakan pada awal pengeboran dimana pemeliharaannya
dengan cara menjalankan desander dan desilter secara terus menerus
selama sirkulasi lumpur.
2) Lignosulfonate mud
Lumpur ini dalah salah satu jenis fluida pengeboran yang serba guna, dan
dalam prakteknya lumpur ini akan menajadi optimal bilamana beberapa
syarat penting harus kita perhatikan, antara lain :
Berat Jenis tinggi ( > 14ppg )
Tahan Panas ( 121 150o )
Toleransi padatan yang tinggi
Tapisan yang rendah ( < 10 cc )
Toleransi terhadap garam, anhydrite, gypsum
Tahan kontaminasi semen
Komponen dasarnya meliputi air tawar atau air asin, bentonite, Chrome
Lignosulfonat, lignite, caustic soda, CMC, atau modified Starch. Ada
beberapa faktor yang harus diperhatikan di dalam penggunaan lumpur
Lignosulfonat :
Sifat inhibitive akan rusak paa suhu 300o F
Sifat pengontrolan laju tapisan akan rusak pada temperatur 350 o F
Pada temperatur > 400o F lignosulfonat akan pecah
Viscositas akan berkurang seiring kenaikan temperatur
Lignosulfonate tidak efektif dalam menstabilkan shale
Filtrat lumpur Lignosulfonat dianggap mempinya peranan merusak
formasi yang produktif
Lumpur Lignosulfonat yang sudah terkontaminasi semen akan
mengental
Tergolong lumpur medium sampai berat, temperatur kerja 250300 F,
mempunyai toleransi tinggi terhadap konsentrasi garam, anhidrit gipsum dan
semen.
Komposisinya adalah sebagai berikut :
Bentonite 20 25 lb/bbl
Spersene 2 lb/bbl
Xp 20 1 lb/bbl
Barite secukupnya sesuai dengan kebutuhan

3) Polimer mud
Komposisinya adalah sebagai berikut :
- Menggunakan air tawar
- 0.25 lb/bbl soda ash
- Bentonite
- Caustic soda

4) Sea water mud


Adalah lumpur lignosulfonate yang mempergunakan prehydrated untuk dasar
pengental didalam air asin, formulasinya berkisar 2 ppb caustic soda, 1.5 ppb
kapur (lime), 2-4 ppb lignosulfonate, 1-2 ppb lignite dan larutan prehydrated
bentonitesecukupnya. Biasanya alkalinity pf 1.3-3.00 cc dijaga
dengan caustic soda, pm 3.0-8.0 cc dengan kapur dan tapisan dipembuat
lumpur. Konsentrasi garam dalam air laut berkisar 30-35,000 ppm dengan
berbagai ion-ion lain (Mg+2, Ca+2).
b. Oil base mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinyunya, komposisinya diatur
agar kadar airnya rendah (3-5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap
contaminant. Tetapi airnya adalah contaminant karena memberikan efek negatif
bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, gel strength, mengurangi
efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat
kimia.
Faedah oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah
minyak, karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik
terhadap formasi biasa maupun formasi produktif. Kegunaan terbesar dari oil
base mud ini adalah pada completion dan work over sumur. Kegunaan yang lain
adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit , mempermudah pemasangan
casing dan liner. Oil base mud ini harus ditempatkan pada suatu tanki besi untuk
menghindarkan kontaminasi air. Rig harus dipersiapkan supaya tidak kotor dan
bahaya api berkurang.
Kerugian penggunaan oil base mud adalah :
dapat mengkontaminasi lingkungan terutama untuk daerah operasi offshore.
solid kontrol sulit dilakukan bila dibandingkan dengan water base mud.
Elektrik logging tidak dapat dilakukan.
Biayanya relatif lebih mahal.
c. Emulsion mud
Terbagi atas oil in water emulsion dan water in oil emulsion tergantung dari fasa
apa yang terdispersi. Fungsi lumpur ini adalah untuk menambah ROP,
mengurangi filtration loss, menambah pelumasan dan mengurangi torque,
dimana lumpur ini banyak digunakan dalam directional drilling. Komposisinya
adalah lumpur dasar ditambah minyak mentah atau minyak solar 2-15% atau
lumpur dengan dasar minyak ditambahkan air 24-45% air.

5 Faktor Utama Dalam Pemilihan Lumpur Bor


Dalam menentukan lumpur bor yang akan digunakan dalam operasi
pengeboran harus diperhatikan beberapa faktor utama untuk memilih lumpur bor
tersebut, yaitu :
Bahan dasar pembuatannya air tawar, air asin dan minyak.
Sifat formasi yang akan ditembus.
Problem yang akan terjadi dan yang berhubungan dengan lumpur diusahakan
sekecil mungkin.
Dibutuhkan atau tidaknya peralatan pengontrol padatan yang efektif.
Kestabilan terhadap temperatur dan kontaminasi yang terjadi (misalnya semen,
air tawar).
Pengaruh terhadap total biaya pengeboran.

6 Pemakain Polimer Pada Lumpur Dasar Air Tawar


Pemakaian polimer pada lumpur bor adalah yang dapat berfungsi sebagai
a. Penggumpal (flocculants)
Floculant berfungsi untuk mengikat cutting agar mudah dipisahkan dari
lumpur. Semua floculant tersusun dari polymer, contoh :
PHPA : (Partially Hidrolized Polyacril Amide)
SPA : (Sodium Poly Acrilate)
b. Pemecah gumpalan (deflocculants)
Bahan ini berfungsi untuk menurunkan viscositas dan pada umumnya
mempunyai second fungtion sebagai fluid loss reducer.
c. Pengontrol kehilangan lumpur (fluid loss control agent)
Bahan ini berfungsi sebagai viscosifier seperti cmc dan pac polymer,
sedangkan yang berfungsi sebagai thinner adalah lignite.penggunaan formulasi
yang menggunakan polymer hendaknya memeperhatikan temperatur, karena
pada umumnya jenis jenis polymer tidak tahan temperatur tinggi.
d. Pengental (viscosifier)
Viscosifier adalah bahan yang digunakan untuk menaikkan viskositas yang
biasanya mempunyai secondary fungtion sebagai fluid loss reducer.
Ada dua macam viscosifier yaitu :
Tipe clay mineral
Tipe polymer seperti XCD polymer dan guard gum polymer
e. Meningkatkan daya guna bentonite (bentonite extender)
Polimer dengan anion tinggi mampu meningkatkan viskositas dan gel strength di
dalam konsentrasi padatan 4% dan konsentrasi <20 ppb. Polimer jenis ini
mampu menempel pada ujung ujung lempung dan mengembang, sehingga
luas permukaan akan bertambah dan dengan sendirinya viskositas juga akan
meningkat.
f. Penstabil shale (shale stabilization agents)
Bahan ini berfungsi untuk menstabilkan shale formasi agar tidak gugur kedalam
lubang bor. Dengan pola kerja adalah sebagai berikut :
Pola Coating
Bahan akan menyelimuti partikel partikel shale sehingga kontaknya
dengan fluida dapat dikurangi.
Pola Osmosa
Pada pola ini mengandalkan garam garam terlarut untuk
mengabsorbsi air dari dalam shale.
g. Penstabil pada suhu tinggi (temperature stabilization)
Mengontrol rheologi lumpur pada temperatur tinggi, karena pada temperatur
tinggi lumpur biasanya akan terjadi gelation, yaitu naiknya viskositas lumpur jauh
diatas normal, jadi pada dasarnya bahan ini adalah defloculant untuk temperatur
tinggi.
h. Mencegah korosi (corrosion inhibitor)
Bahan ini berguna untuk mencegah terjadinya korosi pada drill string maupun
pada peralatan pengeboran lainnya.
i. Detergen
Detergen berfungsi untuk mencegah terjadinya balling oleh clay pada bit dan drill
string. Di samping itu juga berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan
lumpur , sehingga cutting lebih mudah diendapkan di settling pit.
j. Lubricant
Lubricant adalah bahan untuk mengurangi gesekan/torsi antara rangkain pipa
dengan dinding lubang dan pada umumnya di buat dari senyawa senyawa
derivat fatty acid.

7. Kandungan Garam
Kandungan Cl ditentukan untuk mengetahui kadar garam dari lumpur. Kadar
garam dari lumpur akan mempengaruhi interprestasi logging listrik. Kadar garam yang
besar aka menyebabkan daya hantarnya besar pula. Pembacaan resistivity dari
cairan formasi akan terpengaruh. Naiknya kadar garam dari lumpur
disebabkan cutting garam yang masuk kedalam lumpur disaat menembus formasi
yang mengandung garam, dengan kata lain lumpur terkontaminasi oleh garam.
8 Kontaminasi Lumpur Bor
Kontaminasi adalah suatu problem yang dapat muncul dengan gejala yang
perlahan-lahan ataupun dengan segera dan cepat, dan biasanya diamati suatu
fluktuasi sifat-sifat lumpur yang tadinya normal saja menjadi naiknya yield point,
naiknya daya agar, viskositas yang berlebih dan laju tapisan yang tidak terkontrol.
Kontaminan didefinisikan semua jenis zat (padat, cairan ataupun gas) yang
dapat menimbulkan pengaruh merusak terhadap sifat-sifat fisika atau kimiawi dari
fluida pengeboran. Semua jenis lumpur mempunyai satu kontaminan umum
yaitu padatan berat jenis rendah (Low Solid Gravity), baik yang berasal dari serbuk
bor ataupun dari pemakaian bentonite yang terlalu berlebihan.
a. Kontaminasi Sodium Chlorida
Kontaminasi ini terjadi saat pengeboran menembus kubah garam (salt dome), lapisan
garam, lapisan batuan yang mengandung konsentrasi garam yang cukup tinggi atau
akibat air formasi yang berkadar garam tinggi dan masuk kedalam sistim lumpur.
Akibat adanya kontaminasi ini, akan mengakibatkan berubahnya sifat lumpur seperti
viscositas, yield point, gel strengt dan filtration loss. Kadang-kadang penurunan pH
dapat pula terjadi bersamaan dengan kehadiran garam pada sistim lumpur.
b. Kontaminasi Gypsum dan Anhydrit
Hanya sedikit daerah didunia dimana tidak dijumpai formasi gypsum (CaSO 4), pilihan
yang diambil dalam mengatasi ini adalah dengan mengendapkan ion Ca +2 atau
merubah sistim lumpur kapur (dasar kalsium). Gejala mula-mula dari kontaminasi
gypsum adalah viskositas yang tinggi, daya agar tinggi dan laju tapisan bertambah.
c. Kontaminasi Semen
Kemungkinan untuk kontaminasi semen itu selalu ada pada setiap sumur
pengeboran. Semen tidak menjadi kontaminan hanya jika fluida yang dipakai air
jernih, air garam, lumpur kalsium dan lumpur minyak. Parah atau tidaknya
kontaminasi ini tergantung pada faktor-faktor seperti konsentrasi padatan dalam
lumpur dan keras atau lunaknya semen pada lubang.
Gejala kontaminasi semen adalah viskositas yang tinggi, yield point yang abnormal,
daya agar yang besar dan tapisan yang tidak terkontrol, ini disebabkan reaksi ion
Ca+2 dari semen dengan lempung dan tingginya pH larutan.

9 Sistem Lumpur Non Disperse Dengan Padatan Rendah


Sistem lumpur non dispersi dengan padatan rendah dipergunakan untuk
memperoleh laju penembusan yang lebih cepat tanpa merusak stabilitas lubang bor.
Hal ini dapat ditanggulangi dengan pemakain bahan kimia dan cara cara mekanis
seperti :
Menjaga lumpur dengan kadar padatan rendah dengan total kumulatif
dibawah 6%.
Partikel koloid diperkecil di bawah 1 mikron.
Lumpur ini menggunakan bentonite dengan polimer untuk mencapai hasil yang
dikehendaki dan sifat kehilangan cairan yang terkontrol. Untuk pemberat lumpur ini
dapat dipakai barite.
Jika lumpur ini dibuat dengan komposisi yang tepat dan terus dipelihara maka
pemakaian dispersane atau pengencer dapat dihindarkan. Jika koloid dan
keseluruhan kandungan tetap dijaga dalam batas batas yang dapat diterima maka
pengaturan sifat sifat aliran dapat dibuat dengan memakai sistem polyacrylate.
Lumpur tersebut memberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah dapat
memudahkan pembersihan padatan dengan kandungan rendah, meningkatkan daya
hidrolik, mempercepat laju penembusan, pemeliharaan yang mudah sehingga secara
keseluruhan membuat pelaksanaan operasi pengeboran akan berjalan lebih efisien.
Pemakaian lumpur polimer non dispersi dengan padatan rendah sering
digunakan pada operasi pengeboran dengan tingkat tinggi keberhasilan yang cukup
tinggi. Dengan manfaat yang terdapat dalam lumpur tersebut maka modifikasi dari
lumpur ini menjadi tipe fluida pengeboran yang layak dipergunakan.
Faktor ekonomis dari pemakaian lumpur non dispersi dengan padatan rendah
menjadi salah satu faktor yang harus dipertimbagkan, terutama pada daerah dengan
kemampuan laju penembusan formasi 1 30 ft/jam. Dengan lumpur jenis ini maka
laju penembusan akan meningkat bahkan pada formasi batuan keras, sehingga dari
segi biaya pemakaian lumpur ini lebih menguntungkan.
Untuk penggunaan lumpur ini pada formasi sedang dengan laju penembusan
(30 50 ft/jam), didapat keuntungan pada usia pakai pahat bor, sehingga biaya
pengeboran dapat lebih rendah.
Pada laju penembusan 50 75 ft/jam penggunaan lumpur ini akan memberikan
nilai keekonomisan yang cukup baik. Dengan catatan digunakannya menara bor (rig)
yang memiliki alat pengontrol padatan untuk membersihkan serbuk bor.
Pada kondisi luar biasa dengan kecepatan penembusan 75 200 ft/jam, lumpur
polimer non dispersi ini tidak dapat dipergunakan karena akan menghasilkan serbuk
bor dalam jumlah besar.

10 Sistem Lumpur Dispersi


Lumpur pengeboran dispersi yang paling sederhana adalah lumpur air tawar
yang tercampur hidrat lempung secara alami apabila mata bor menembus formasi.
Lumpur pengeboran dispersi ini disebut juga lumpur alami dan dipakai dalam
pengeboran dangkal atau untuk pengeboran bagian atas dari sumur yang dalam.
Pengeboran dimulai dengan sirkulasi air tawar,dimana reaksi padatan lempung
dalam formasi yang sedang di bor menjadi hidrat dan menyebar (dispersi). Sifat
kekentalan lumpur pengeboran juga diperlukan untuk pengangkatan serbuk bor
kepermukaan.
Untuk meningkatkan viskositas, bentonite bisa ditambahkan sebagai pelengkap
lempung, dan jika peningkatan viskositas lebih cepat secara berlebihan maka lumpur
pengeboran diencerkan dengan air. Pengencer ini terus berlanjut untuk tahap
berikutnya sehingga menjadi tidak praktis karena banyaknya volume lumpur yang
perlu diperhatikan.
Tahap berikutnya adalah mempertahankan dan memlihara jenis lumpur tersebut
dengan membersihkan bebrapa padatan pengeboran atau serbuk bor dengan
perlengkapan mekanis dan pengolahan bahan kimia.
Senyawa fosfat, asam sodium pyrofosfat, sodium tetrafosfat merupakan zat - zat
utama yang dipakai dalam mengontrol kondisi lumpur. Pengontrolan padatan
pengeboran didalam lumpur dilakukan melalui penambahan bahan kimia (additive)
pengenceran lumpur dengan air dan peralatan pembersih padatan bor.

Keuntungan Dan Kerugian Sistem Fluida Pengeboran Disperse


Keuntungan dan kerugian yang didapat dengan menggunakan sistem fluida
pengeboran disperse (Lumpur Lignosulfonate) antara lain :
Keuntungan :
Mudah dalam pembuatan dan relatif lebih sedikit menggunakan bahan
kimia.
Mempunyai efek penurunan laju penembusan (karena memiliki banyak
partikel yang berukuran < 1 mikron).
Sesuai untuk lumpur dengan berat jenis tinggi.
Dapat dipakai pada temperatur tinggi.

Kerugian :
Tidak dapat dipakai pada pengeboran formasi batuan yang keras.
Tidak dapat dipakai pada operasi pengeboran yang cepat karena terlalu
banyak serbuk bor yang dihasilkan.