Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Setiap individu pasti pernah mengalami nyeri dalam tingkatan


tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan
kesehatan.Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang paling sering terjadi di
bidangmedis, nyeri merupakan salah satu yang paling sedikit dipahami. Individu
yangmerasakan nyeri merasa menderita dan mencari upaya untuk
menghilangkannya.Perawat megunakan berbagai intervensi untuk dapat
menghilangkan nyeritersebut dan mengembalikan kenyamanan klien. Perawat
tidak dapat melihat danmerasakan nyeri yang dialami oleh klien karena nyeri
bersifat subjektif. Tidak adadua individu yang mengalami nyeri yang sama dan
tidak ada kejadian nyeri yangsama menghasilkan respon yang identik pada
seseorang. Nyeri terkait erat dengan kenyamanan karena nyeri merupakan
factor utama yang menyebabkan ketidaknyamanan pada seorang individu. Pada
sebagian besar klien, sensasi nyeri ditimbulkan oleh suatu cidera atau rangsangan
yangcukup kuat untuk berpotensi mencederai. Bagi dokter nyeri merupakan masalahyang
membingungkan. Tidak ada pemeriksaan untuk mengukur atau
memastikannyeri.dokter hamper semata-mata mengandalkan penjelasan dari
pasien tentangnyeri dan keparahannya. Nyeri alas an yang paling sering diberikan
oleh klienditanya kenapa nerobat.Dampak nyeri pada perasaan sejahtera klien
sudah sedemikian luasditerima sehingga banyak institusi sekarang menyebut nyeri
tanda vital kelima,dan mengelompokkannya dengan tanda-tanda klasik
suhu,nadi, pernapasan, dantekanan darah.
B. Rumusan masalah
1. Apakah pengertian dari nyeri?
2. Sebutkan tiga komponen fisiologis dari nyeri?
3. Sebutkan dua jenis transmisi syaraf?
4. Apa sajakah klasifikasi dari nyeri?
5. Apa saja jenis-jenis dari nyeri?
6. Sebutkan skala dari nyeri?

C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mempelajari dan
melakukan tindakan-tindakan maupun proses keperawatan terhadap pasien
yang terkena masalah nyeri.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Nyeri

Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan
dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E. ).
Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan
dilepasnya bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti
serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi yang
akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk).
Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan
jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor C. dkk)
Ganong, (1998), mengemukakan proses penghantaran transmisi nyeri yang
disalurkan ke susunan syaraf pusat oleh 2 (dua) sistem serat (serabut) antara lain:
1. Serabut A delta (A) Bermielin dengan garis tengah 2 5 (m
yang menghantar dengan kecepatan 12 30 m/detik yang disebut
juga nyeri cepat (test pain) dan dirasakan dalam waktu kurang dari
satu detik, serta memiliki lokalisasi yang dijelas dirasakan seperti
ditusuk, tajam berada dekat permukaan kulit.
2. Serabut C, merupakan serabut yang tidak bermielin dengan garis
tengah 0,4 1,2 m/detik disebut juga nyeri lambat di rasakan
selama 1 (satu) detik atau lebih, bersifat nyeri tumpul, berdenyut
atau terbakar.
Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan
perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan
diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan
banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh
klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu
lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan
kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk
meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan
adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan
keperawatan.
Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa
kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori
subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan
kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan
B. Fisiologi Nyeri
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri,
meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri
ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka
perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:
a. Resepsi : proses perjalanan nyeri
b. Persepsi : kesadaran seseorang terhadap nyeri
c. Reaksi : respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri
Adapun pengertian lain yang berkaitan dengan fisiologi nyeri adalah:
a. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius aktivitas
elektrik reseptor terkait.
b. Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu
saraf sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla
spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls
yang menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke
batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik
antara thalamus dan cortex.
c. Modulasi yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri.
Suatu jaras tertentu telah diteruskan di sistem saran pusat yang
secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis.
Jaras ini diaktifkan oleh stress atau obat analgetika seperti
morfin (Dewanto).
d. Persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga
menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum
jelas. bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut
juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena nyeri secara
mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga tidak
terhindarkan keterbatasan untuk memahaminya (Dewanto).
Ada dua jenis transmisi saraf :
1. Ionotropik dimana mediator bekerja langsung pada pintu ion ke dalam sel.
Ciri jenis transmisi itu adalah:
a. proses berlangsung cepat dan singkat
b. masa proses
2. Metabotropik dimana mediator bekerja lewat perubahan biokimia pada
membrane post-sinaps.
Ciri transmisi cara ini adalah:
a. lambat
b. berlangsung lama.
Prostaglandin E 2 termasuk dalam golongan metabotropik; Hiperalgesia
karena prostaglandin E 2 terjadi lambat tapi berlangsung lama. Morfin dan obat-
opiat lainnya juga masuk golongan metabotropik, tetapi obat-obat ini menghambat
hiperalgesia bekerjanya juga lambat dan berlangsung lama. Trauma mekanik
rupa-rupanya langsung merusak integritas membran dan tergolong ionotropik ,
bersama bradykinin. Rasa nyeri timbul cepat dan berlangsung singkat, kecuali bila
kerusakan yang ditimbulkannya hebat tentu rasa nyeri dapat berlangsung lama.
a. Transduksi
Pada nyeri nosiseptif, fase pertamanya adalah transduksi, konversi
stimulus yang intens apakah itu stimuli kimiawi seperti pH rendah yang terjadi
pada jaringan yang meradang , stimulus panas diatas 420C, atau kekuatan
mekanis. Disini didapat adanya protein transducer spesifik yang diekspresikan
dalam neuron nosiseptif ini dan mengkonversi stimulus noksious menjadi aliran
yang menembus membran, membuat depolarisasi membran dan mengaktifkan
terminal perifer.
Proses ini tidak melibatkan prostanoid atau produksi prostaglandin oleh
siklo-oksigenase, sehingga nyeri ini, atau proses ini, tidak dipengaruhi oleh
penghambat enzim COX-2. Neuron transduksi diperankan oleh suatu nosiseptor
berupa serabut A- dan serabut C yang menerima langsung suatu stimulus
noksius. Serabut A- merupakan suatu serabut saraf dengan tebal 1- 3 mm dan
diliputi oleh selaput mielin yang tipis. Kecepatan transimisi impuls pada serabut
A- adalah sekitar 20m/s. Seperti serabut sensorik lainnya, serabut A- merupakan
perpanjangan dari pesudounipolar neuron dimana tubuh selnya berlokasi pada
akar ganglion dorsal. Sedangkan serabut C merupakan suatu serabut saraf dengan
tebal 1 mm dan tidak memiliki mielin. Karena serabut ini sangat tipis dan karena
tidak memiliki mielin yang mempercepat transmisi saraf, kecepatan konduksi
rendah, dan suatu rangsang berespon dengan kecepatan 1m/s.
Selain dari peran serabut A- dan serabut C, disebutkan juga terdapat
peran dari neuroregulator yang merupakan suatu substansi yang memberikan efek
pada transmisi stimulus saraf, biasanya substansi ini ditemukan pada nosiseptor
yaitu akhir saraf dalam kornu dorsalis medulla spinalis dan pada tempat reseptor
dalam saluran spinotalamik. Neuroregulator ada dua macam, yaitu
neurotransmitter dan neuromodulator. Neurotransmitter mengirimkan impuls
elektrik melewati celah synaptik antara 2 serabut saraf dan neuromodulator
berfungsi memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf
tanpa mentransfer secara langsung sinyal saraf melalui synaps
b. Transmisi
Disini terjadi transfer informasi dari neuron nosiseptif primer ke neuron di
kornu dorsalis, selanjutnya ke neuron proyeksi yang akan meneruskan impuls ke
otak. Transmisi ini melibatkan pelepasan asam amino decarboxilic glutamate, juga
peptida seperti substantia P yang bekerja pada reseptor penting di neuron post-
sinaptic. Selanjutnya ini akan memungkinkan transfer yang cepat dari input
mengenai intensitas, durasi, lokasi, dari stimuli perifer yang berbeda lokasi.
Secara umum, ada dua cara bagaimana sensasi nosiseptif dapat mencapai
susunan saraf pusat, yaitu melalui traktus neospinothalamic untuk nyeri cepat
spontan dan traktus paleospinothalamic untuk nyeri lambat.

Pada traktus neospinothalamik, nyeri secara cepat bertransmisi melalui


serabut A- dan kemudian berujung pada kornu dorsalis di medulla spinalis dan
kemudian bersinapsis dengan dendrit pada neospinothlamaik melalui bantuan
suatu neurotransmitter. Akson dari neuron ini menuju ke otak dan menyebrang ke
sisi lain melalui commisura alba anterior, naik keatas dengan columna
anterolateral yang kontralateral. Serabut ini kemudian berakhir pada kompleks
ventrobasal pada thalamus dan bersinapsis dengan dendrit pada korteks
somatosensorik. Nyeri cepat-spontan ini dirasakan dalam waktu 1/10 detik dari
suatu stimulus nyeri tajam, tusuk, dan gores.
Sebenarnya terdapat beragam jalur khusus hantaran sinyal dari kerusakan
jaringan dibawa ke berbagai tujuan, dimana dapat memprovokasi proses
kompleks. Transmisi nosiseptif sentripetal memicu berbagai jalur : spinoreticular,
spinomesencephalic, spinolimbic, spinocervical, dan spinothalamic. Traktus
spinoreticular membawa jalur aferen dari somatosensorik dan viscerosensorik
yang berakhir pada tempat yang berbeda pada batang otak. Traktus
spinomesencephalik mengandung berbagai proyeksi yang berakhir pada tempat
yang berbeda dalam nukleus diencephali. Traktus spinolimbik termasuk dari
bagian spinohipotalamik yang mencapai kedua bagian lateral dan medial dari
hypothalamus dan kemudian traktus spinoamygdala yang memanjang ke nukleus
sentralis dari amygdala. Traktus spinoservikal, seperti spinothalamik membawa
sinyal ke thalamus.
c. Modulasi
Pada fase modulasi terdapat suatu interaksi dengan system inhibisi dari
transmisi nosisepsi berupa suatu analgesic endogen. Konsep dari system ini yaitu
berdasarkan dari suatu sifat, fisiologik, dan morfologi dari sirkuit yang termasuk
koneksi antara periaqueductal gray matter dan nucleus raphe magnus dan formasi
retikuler sekitar dan menuju ke medulla spinalis.
Analgesik endogen meliputi :
1. Opiat endogen
2. Serotonergik
3. Noradrenergik (Norepinephric)
Sistem analgesik endogen ini memiliki kemampuan menekan input nyeri di
kornu posterior dan proses desendern yang dikontrol oleh otak seseorang, kornu
posterior diibaratkan sebagai pintu gerbang yang dapat tertutup adalah terbuka
dalam menyalurkan input nyeri. Proses modulasi ini dipengaruhi oleh
kepribadian, motivasi, pendidikan, status emosional & kultur seseorang. Secara
skematik proses modulasi dapat dilihat pada skema dibawah ini.
d. Persepsi
Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat
individu menjadi sadar akan adanya suatu nyeri, maka akan terjadi suatu reaksi
yang kompleks. Persepsi ini menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu
sehingga kemudian individu itu dapat bereaksi.
Fase ini dimulai pada saat dimana nosiseptor telah mengirimkan sinyal
pada formatio reticularis dan thalamus, sensasi nyeri memasuki pusat kesadaran
dan afek. Sinyal ini kemudian dilanjutkan ke area limbik. Area ini mengandung
sel sel yang bisa mengatur emosi. Area ini yang akan memproses reaksi emosi
terhadap suatu nyeri. Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga suatu stimulus
nyeri dapat segera menghasilkan emosi. (7, 9)
e. Resepsi
Stimulus Pengeluaran histamin bradikinin, kalium, (mekanik, termal,
kimia) Kornu dorsalis Serabut syaraf perifer Impuls syaraf Nosiseptor
Pusat syaraf di otak Neurotransmiter (substansi P)medulla spinalis Respon
reflek protektif. Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia)
akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin,
kalium. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor
mencapai ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh
serabut saraf perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf
ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa
sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf
tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi
P). Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf
traktus spinotalamus.
Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam
system saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls
syaraf kemudian akan timbul respon reflek protektif.
Contoh:
Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan sensasi terbakar,
tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan
setrika.
Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh
atau berfungsi normal. Ada beberapa factor yang menggangu proses
resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut:
1. Trauma
2. Obat-obatan
3. Pertumbuhan tumor
4. Gangguan metabolic (penyakit diabetes mellitus)
f. Perilaku ( Behavior )
Terdiri dari perilaku verbal dan non verbal dalam merespon suatu nyeri seperti
keluhan atau komplain, rintihan, sikap dan ekspresi wajah.

C. Klasifikasi Nyeri
Nyeri diklasifikasikan dalam beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
1) Nyeri perifer (peripheral pain)
a) Superfisial : Rangsangan secara kimiawi, fisik, pada kulit, mukosa, biasanya
terasa nyeri tajam-tajam didaerah rangsangan.
b) Deep : Bila di daerah viceral, sendi, pleura, peritonium terangsang akan timbul
rasa nyeri dalam. Umumnya nyeri dalam banyak berhubungan dengan refered
pain, keringat, kejang otot didaerah yang berjauhan dari asal nyerinya.
c) Reffered pain : Rasa nyeri didaerah jauh dari tempat yang terangsang, biasanya
terlibat pada nyeri dalam, yang dirasakan atau menyebarkan nyeri ke arah
superficial, kadang-kadang di samping rasa nyeri terjadi kejang pada otot-otot
atau kelainan susunan saraf otonom seperti gangguan vaskuler, berkeringat yang
luar biasa. Penyebaran nyeri yang timbul bisa berupa: hiperalgesia, hiperasthesia
dan allodynia, yang mana perjalanan nyeri ini dapat berasal dari sistem somatis
maupun sistem otonom.
2) Nyeri sentral (central pain)
Nyeri sentral adalah nyeri yang dirasakan akibat adanya rangsangan dari
sistem-sistem saraf pusat.
3) Nyeri psikologik (psycologic pain)
Penyebab nyeri tidak dapat diketemukan, atau tidak diketemukan kelainan
organik tapi si penderita mengeluh nyeri hebat, umumnya keluhan berupa sakir
kepala, sakit perut dan lain-lain.
Klasifikasi Nyeri - Nyeri secara esensial dapat dibagi atas dua tipe yaitu nyeri
adaptif dan nyeri maladaptif. Nyeri adaptif berperan dalam proses survival dengan
melindungi organisme dari cedera atau sebagai petanda adanya proses
penyembuhan dari cedera. Nyeri maladaptif terjadi jika ada proses patologis pada
sistem saraf atau akibat dari abnormalitas respon sistem saraf. Kondisi ini
merupakan suatu penyakit (pain as a disease).

Pada praktek klinis sehari-hari kita mengenal 4 jenis nyeri:

1. Nyeri Nosiseptif
Nyeri dengan stimulasi singkat dan tidak menimbulkan kerusakan
jaringan. Pada umumnya, tipe nyeri ini tidak memerlukan terapi khusus
karena perlangsungannya yang singkat. Nyeri ini dapat timbul jika ada
stimulus yang cukup kuat sehingga akan menimbulkan kesadaran akan
adanya stimulus berbahaya, dan merupakan sensasi fisiologis vital.
Intensitas stimulus sebanding dengan intensitas nyeri. Contoh: nyeri pada
operasi, nyeri akibat tusukan jarum, dll.
2. Nyeri Inflamatorik
Nyeri dengan stimulasi kuat atau berkepanjangan yang menyebabkan
kerusakan atau lesi jaringan. Nyeri tipe II ini dapat terjadi akut dan kronik
dan pasien dengan tipe nyeri ini, paling banyak datang ke fasilitas
kesehatan. Contoh: nyeri pada rheumatoid artritis.
3. NyeriNeuropatik
Merupakan nyeri yang terjadi akibat adanya lesi sistem saraf perifer
(seperti pada neuropati diabetika, post-herpetik neuralgia, radikulopati
lumbal, dll) atau sentral (seperti pada nyeri pasca cedera medula spinalis,
nyeri pasca stroke, dan nyeri pada sklerosis multipel).
4. NyeriFungsional
Bentuk sensitivitas nyeri ini ditandai dengan tidak ditemukannya
abnormalitas perifer dan defisit neurologis. Nyeri disebabkan oleh respon
abnormal sistem saraf terutama hipersensitifitas aparatus sensorik.
Beberapa kondisi umum memiliki gambaran nyeri tipe ini yaitu
fibromialgia, iritable bowel syndrome, beberapa bentuk nyeri dada non-
kardiak, dan nyeri kepala tipe tegang. Tidak diketahui mengapa pada nyeri
fungsional susunan saraf menunjukkan sensitivitas abnormal atau hiper-
responsifitas (Woolf, 2004).

Berbagai Tipe Nyeri

Nyeri nosiseptif dan nyeri inflamatorik termasuk ke dalam nyeri adaptif, artinya
proses yang terjadi merupakan upaya tubuh untuk melindungi atau memperbaiki
diri dari kerusakan. Nyeri neuropatik dan nyeri fungsional merupakan nyeri
maladaptif, artinya proses patologis terjadi pada saraf itu sendiri sehingga impuls
nyeri timbul meski tanpa adanya kerusakan jaringan lain. Nyeri ini biasanya
kronis atau rekuren, dan hingga saat ini pendekatan terapi farmakologis belum
memberikan hasil yang memuaskan (Rowbotham, 2000; Woolf, 2004).

D. Mengkaji skala Nyeri

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :


1)skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numeric
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat
mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih
posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau
intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri
sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda
bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk
dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih
obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan
sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun
dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak
terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Perawat menunjukkan klien
skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia
rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan
dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini
memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri.
Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai
pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan
menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas
nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk
menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS
adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan
penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran
keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik
pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter,
2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan
tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien
dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat.
Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan
nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat
menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai
apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan
dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E. ).
Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan
dilepasnya bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti
serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi
yang akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk).
Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan
jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor C. dkk)

B. Saran
Di harapkan mahasiswa dalam praktiknya dapat menerapkan dengan baik
tentang materi apa yang di dapatkan sehingga dalam pelaksaannya sesuai
dengan prosedur yang dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA

http://ummieyummy.blogspot.com/2011/10/definisi-nyeri-dan-skala-
nyeri.html

http://jhunyprayitno.blogspot.com/2011/10/skala-nyeri.html