Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

CORPUS ALIENUM

Disusun Oleh:
ARIS
113116008

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
A. Pengertian
Corpus alienum pada jalan nafas adalah benda asing yang berasal dari luar
tubuh atau dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada saluran
nafas tersebut.
Corpus Alienum adalah benda, baik tajam atau tumpul, atau makanan yang
tersangkut dan terjepit di esophagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun
tidak sengaj ( Kapita Selekta Editor Mansjoer Arif Edisi 3, 1999 ).
Corpus Alienum adalah terdapatnya suatu benda asing di dalam rongga mulut
baik tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di
esophagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja ( Buku Ajar
Ilmu Kesehatan THT, 2000 ).

B. Klasifikasi
Benda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen
sedangkan yang berasal dari dalam tubuh disebut benda asing endogen. Benda
asing eksogen biasanya masuk melalui hidung atau mulut.
Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda asing
eksogen padat dapat berupa zat organik seperti kacang-kacangan dan tulang,
ataupun zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu dan lain sebagainya. Benda
asing eksogen cair dapat berupa benda cair yang bersifat iritatif, yaitu cairan
dengan pH 7,4.
Benda asing endogen dapat berupa secret kental, darah atau bekuan darah,
nanah, krusta, cairan amnion, atau mekonium yang dapat masuk ke dalam saluran
nafas bayi pada saat persalinan.

C. Faktor-Faktor Predisposisi
1. Faktor individual; umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat
tinggal.
2. Kegagalan mekanisme proteksi yang normal, antara lain; keadaan tidur,
kesadaran menurun, alkoholisme dan epilepsi.
3. Faktor fisik; kelainan dan penyakit neurologik.
4. Proses menelan yang belum sempurna pada anak.
5. Faktor dental, medical dan surgical, misalnya tindakan bedah, ekstraksi gigi,
belum tumbuhnya gigi molar pada anak usia kurang dari 4 tahun.
6. Faktor kejiwaan, antara lain, emosi, gangguan psikis.
7. Ukuran, bentuk dan sifat benda asing.
8. Faktor kecerobohan, antara lain; meletakkan benda asing di mulut, persiapan
makanan yang kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa, makan sambil
bermain, memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molarnya
belum tumbuh.
D. Jenis Sumbatan
By pass valve obstruction atau partial bronchial obstruction atau obstruksi
bentuk katup terbuka.
Pada bentuk ini udara pernapasan masih dapat keluar masuk pada saat
inspirasi dan ekspirasi meskipun tidak adekuat.
Inspiratory check valve obstruction atau obstruksi bentuk katup pengatur
inspirasi.
Karena udara tidak dapat masuk pada saat inspirasi, tetapi dapat keluar pada
saat ekspirasi, maka udara di bagian distal sumbatan akan habis, sehingga paru
akan kolaps atau atelektasis.
Expiratory check valve obstruction atau obstruksi bentuk katup pengatur
ekspirasi.
Kebalikan dari bentuk yang kedua, pada bentuk ini udara dapat masuk pada
saat inspirasi, tetapi tidak dapat keluar pada saat ekspirasi. Sehingga di bagian
distal sumbatan akan mengalami emfisema.
Stop valve obstruction atau obstruksi bentuk katup tertutup.
Pada obstruksi bentuk ini benda asing menutup seluruh lumen saluran
respiratorik, baik pada saat inspirasi maupun pada saat ekspirasi, sehingga
seluruh udara paru di bagian distal sumbatan akan mengalami absorpsi dan
dalam waktu 24 jam akan mengalami kolaps atau atelektasis.
PATHWAY CORPUS ALINEUM JALAN NAFAS (TERSEDAK)

- Tersedak makanan
- Muntahan
- Adanya bekun darah
- Sekret yang kental
ANSIETAS
- Epiglotitis
KEMATIAN MENDADAK - Karsinoma laring

Tidak dapat berfanas spontan


Menyumbat jalan nafas KETIDAKEFEKTIFAN
BERSIHAN JALAN
NAFAS
Apnea dan sianosis
Batuk hebat secara tiba-tiba, rasa
tercekik, rasa tersumbat di
Spasme laring tenggorokan

CORPUS ALINENIUM JALAN NAFAS


Total Parsial
(TERSEDAK)

Kerusakan sel Edema alveolar Peningkatan permeabilitas


epitel alveolar Sumbatan jalan nafas sebagian
membran kapiler

Kehilangan Alveolar rusak, Hipoksemia akibat Batuk disertai sesak nafas


surfactan akibat kolaps alveoli akibat kekurangan oksigen
rusaknya sel epitel tidak ada udara di perifer
Dyspnea

Pernafasan cepat Hipoksemia akibat KETIDAKEFEKTIFAN


dan dangkal kekurangan oksigen PERFUSI Dyspnea memberat
di perifer JARINGANPERIFER

Peningkatan Peningkatan tahanan jalan


usaha nafas nafas dan penurunan Perubahan di jalan nafas Status asmatikus
komplinasi paru yang mengecil

Abnormalitas ventilasi-perfusi

Fungsi paru menurun

POLA NAFAS Membran alveolar rusak


TIDAK Penurunan
cardiac output PENURUNAN
EFEKTIF CURAH JANTUNG
Granulosit teraktivasi

Pernafasan Peningkatan
menjadi cepat dan aliran ventrikel
kanan Menempel dan merusak
dangkal endothelium mikrovaskuler paru
Terbentuknya
Hipertensi pulmonal (tekanan
alveolar dead space
dara meningkat di arteri Permeabilitas kapiler meningkat
pulmonal)

Vasokonstriksi pulmonal ARDS (ACUTE


Kerusakan vaskularisasi
dan pembentukan RESPIRATORY STRESS
pulmonal
mikroemboli SYNDORME)

Respon inflamasi

Aktivasi neutrofil & makrofag,


pelepasan endotoxin

Pelepasan mediator histamin,


serotonin dan bradikinin
E. Gejala Klinis
Gejala dari masuknya benda asing ke dalam saluran pernafasan
ditunjukkan dengan penderita batuk-batuk hebat secara tiba-tiba, rasa tersumbat di
tenggorok, bicara gagap, dan obstruksi jalan napas segera. Jika benda asing di
laring dapat menimbulkan kematian akibat penderita tak bisa bernapas.
Gejala sumbatan benda asing di dalam saluran napas tergantung pada
lokasi benda asing, derajat sumbatan (total atau sebagian), sifat, bentuk dan
ukuran benda asing. Benda asing yang masuk melalui hidung dapat tersangkut di
hidung, nasofaring, laring, trakea dan bronkus. Benda yang masuk melalui mulut
dapat tersangkut di orofaring, hipofaring, tonsil, dasar lidah, sinus piriformis,
esofagus atau dapat juga tersedak masuk ke dalam laring, trakea dan bronkus. Ge-
jala yang timbul bervariasi, dari tanpa gejala hingga kematian sebelum diberikan
pertolongan akibat sumbatan total.
Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing saluran napas akan
mengalami 3 stadium, yaitu:
1. Stadium pertama merupakan gejala permulaan yaitu batuk-batuk hebat secara
tiba-tiba (violent paroxysms of coughing), rasa tercekik (choking), rasa
tersumbat di tenggorok (gagging) dan obstruksi jalan napas yang terjadi
dengan segera.
2. Stadium kedua, gejala stadium permulaan diikuti oleh interval asimtomatis.
Hal ini karena benda asing tersebut tersangkut, refleks-refleks akan melemah
dan gejala rangsangan akut menghilang. Stadium ini berbahaya, sering
menyebabkan keterlambatan diagnosis atau cenderung mengabaikan
kemungkinan aspirasi benda asing karena gejala dan tanda yang tidak jelas.
3. Stadium ketiga, telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi atau
infeksi sebagai akibat reaksi terhadap benda asing, sehingga timbul batuk-
batuk, hemoptisis, pneumonia dan abses paru.
Benda asing di laring dapat menutup laring, tersangkut di antara pita suara
atau berada di subglotis. Gejala sumbatan laring tergantung pada besar, bentuk
dan letak (posisi) benda asing. Sumbatan total di laring akan menimbulkan
keadaan yang gawat biasanya kematian mendadak karena terjadi asfiksia dalam
waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh timbulnya spasme laring dengan gejala
antara lain disfonia sampai afonia, apnea dan sianosis.
Sumbatan tidak total di laring dapat menyebabkan disfonia sampai afonia,
batuk yang disertai serak (croupy cough), odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis,
dan rasa subjektif dari benda asing (penderita akan menunjuk lehernya sesuai
dengan letak benda asing tersebut tersangkut) dan dispnea dengan derajat
bervariasi. Gejala ini jelas bila benda asing masih tersangkut di laring, dapat juga
benda asing sudah turun ke trakea, tetapi masih menyisakan reaksi laring oleh
karena adanya edema.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus benda asing di saluran napas dapat dilakukan pemeriksaan
radiologis dan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis. Benda asing
yang bersifat radioopak dapat dibuat rongent foto segera setelah kejadian, benda
asing radiolusen dibuatkan rongent foto setelah 24 jam kejadian, karena sebelum
24 jam kejadian belum menunjukkan gambaran radiologis yang berarti. Biasanya
setelah 24 jam baru tampak tanda-tanda atelektasis atau emfisema.
Video fluoroskopi merupakan cara terbaik untuk melihat saluran napas
secara keseluruhan, dapat mengevaluasi pada saat ekspirasi dan inspirasi dan
adanya obstruksi parsial. Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk
mengetahui adanya gangguan keseimbangan asam basa, serta tanda-tanda infeksi
saluran napas

G. Penatalaksanaan
Persiapan ekstraksi benda asing harus dilakukan sebaik-baiknya dengan
tenaga medis/operator, kesiapan alat yang lengkap. Besar dan bentuk benda asing
harus diketahui dan mengusahakan duplikat benda asing serta cunam yang sesuai
benda asing yang akan dikeluarkan. Benda asing yang tajam harus dilindungi
dengan memasukkan benda tersebut ke dalam lumen bronkoskop. Bila benda
asing tidak dapat masuk ke lumen alat maka benda asing kita tarik secara
bersamaan dengan bronkoskop.
Di Instalasi Gawat Darurat, terapi suportif awal termasuk pemberian
oksigen, monitor jantung dan pulse oxymetri dan pemasangan IV dapat dilakukan.
Bronkoskopi merupakan terapi pilihan untuk kasus aspirasi. Pemberian steroid
dan antibiotik preoperatif dapat mengurangi komplikasi seperti edema saluran
napas dan infeksi. Metilprednisolon 2 mg/kg IV dan antibiotik spektrum luas yang
cukup mencakup Streptokokus hemolitik dan Staphylococcus aureus dapat
dipertimbangkan sebelum tindakan bronkoskopi.

Bronkoskopi
Prinsip penanganan benda asing di saluran napas adalah mengeluarkan
benda asing tersebut dengan segera dalam kondisi paling maksimal dan trauma
paling minimal. Penentuan cara pengambilan benda asing dipengaruhi oleh faktor
misalnya umur penderita, keadaan umum, lokasi dan jenis benda asing, tajam atau
tidaknya benda asing dan lamanya benda asing berada di saluran napas.
Sebenarnya tidak ada kontraindikasi absolut untuk tindakan bronkoskopi, selama
hal itu merupakan tindakan untuk menyelamatkan nyawa (life saving). Pada
keadaan tertentu dimana telah terjadi komplikasi radang saluran napas akut,
tindakan dapat ditunda sementara dilakukan pengobatan medikamentosa untuk
mengatasi infeksi. Pada aspirasi benda asing organik yang dalam waktu singkat
dapat menyebabkan sumbatan total, maka harus segera dilakukan bronkoskopi,
bahkan jika perlu tanpa anestesi umum.
Benda asing di bronkus dapat dikeluarkan dengan bronkoskopi kaku maupun
bronkoskopi serat optik. Pada bayi dan anak-anak sebaiknya digunakan
bronkoskopi kaku untuk mempertahankan jalan napas dan pemberian oksigen
yang adekuat, karena diameter jalan napas pada bayi dan anak-anak sempit. Pada
orang dewasa dapat dipergunakan bronkoskop kaku atau serat optik, tergantung
kasus yang dihadapi. Ukuran alat yang dipakai juga menentukan keberhasilan
tindakan. Keterampilan operator dalam bidang endoskopi juga berperan dalam
penentuan pelaksanaan tindakan bronkoskopi.
Bronkoskop kaku mempunyai keuntungan antara lain ukurannya lebih besar
variasi cunam lebih banyak, mempunyai kemampuan untuk mengekstraksi benda
asing tajam dan kemampuan untuk dilakukan ventilasi yang adekuat. Selain
keuntungan di atas, penggunaan bronkoskop kaku juga mempunyai kendala yaitu
tidak bisa untuk mengambil benda asing di distal, dapat menyebabkan patahnya
gigi geligi, edema subglotik, trauma mukosa, perforasi bronkus dan perdarahan.
Pada pemakaian teleskop maupun cunam penting diperhatikan bahwa ruang untuk
pernapasan menjadi sangat berkurang, sehingga lama penggunaan alat-alat ini
harus dibatasi sesingkat mungkin. Bronkoskop serat optik dapat digunakan untuk
orang dewasa dengan benda asing kecil yang terletak di distal, penderita dengan
ventilasi mekanik, trauma kepala, trauma servikal dan rahang.
Beberapa faktor penyulit mungkin dijumpai dan dapat menimbulkan
kegagalan bronkoskopi antara lain adalah faktor penderita, saat dan waktu
melakukan bronkoskopi, alat, cara mengeluarkan benda asing, kemampuan tenaga
medis dan para medis, dan jenis anestesia. Sering bronkoskopi pada bayi dan anak
kecil terdapat beberapa kesulitan yang jarang dijumpai pada orang dewasa, karena
lapisan submukosa yang longgar di daerah subglotik menyebabkan lebih mudah
terjadi edema akibat trauma. Keadaan umum anak cepat menurun, dan cepat
terjadi dehidrasi dan renjatan. Demam menyebabkan perubahan metabolisme,
termasuk pemakaian oksigen dan metabolisme jaringan, vasokontriksi umum dan
perfusi jaringan terganggu. Adanya benda asing di saluran napas akan
mengganggu proses respirasi, sehingga benda asing tersebut harus segera
dikeluarkan.
Pemberian kortikosteroid dan bronkodilator dapat mengurangi edema laring
dan bronkospasme pascatindakan bronkoskopi. Pada penderita dengan keadaaan
sakit berat, maka sambil menunggu tindakan keadaan umum dapat diperbaiki
terlebih dahulu, misalnya: rehidrasi, memperbaiki gangguan keseimbangan asam
basa, dan pemberian antibiotika. Keterlambatan diagnosis dapat terjadi akibat
kurangnya pengetahuan dan kewaspadaan penderita maupun orang tua mengenai
riwayat tersedak sehingga menimbulkan keterlambatan penanganan.
Kesulitan mengeluarkan benda asing saluran napas meningkat sebanding
dengan lama kejadian sejak aspirasi benda asing. Pada benda asing yang telah
lama berada di dalam saluran napas atau benda asing organik, maka mukosa yang
menjadi edema dapat menutupi benda asing dan lumen bronkus, selain itu bila
telah terjadi pembentukkan jaringan granulasi dan striktur maka benda asing
menjadi susah terlihat.
Cara lain untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat laring secara
total ialah dengan cara perasat dari Heimlich (Heimlich maneuver), dapat
dilakukan pada anak maupun dewasa. Menurut teori Heimlich, benda asing yang
masuk ke dalam laring ialah pada saat inspirasi. Dengan demikian paru penuh
dengan udara, diibaratkan sebagai botol plastik yang tertutup, dengan menekan
botol itu, maka sumbatnya akan terlempar keluar.
Komplikasi perasat Heimlich adalah kemungkinan terjadinya ruptur
lambung atau hati dan fraktur kosta. Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara
menolongnya tidak dengan menggunakan kepalan tangan tetapi cukup dengan dua
buah jari kiri dan kanan. Pada sumbatan benda asing tidak total di laring perasat
Heimlich tidak dapat digunakan. Dalam hal ini penderita dapat dibawa ke rumah
sakit terdekat yang memiliki fasilitas endoskopik berupa laringoskop dan
bronkoskop.
1) PUKULAN DAN HENTAKAN UNTUK SUMBATAN BENDA ASING
Pada penderita sadar yang mengalami aspirasi sehingga menyebabkan
sumbatan partial sebaiknya penderita disuruh batuk dan meludahkannya. Pada
penderita yang mengalami sumbatan total baik penderitanya sadar ataupun tidak
apalagi sianosis, maka segera lakukan tindakan yang mungkin masih efektif dan
dibenarkan.
Langkah-langkah untuk pukulan dan hentakan yang dianjurkan:
Pada penderita sadar:
1. Penderita disuruh membatukkan keluar benda asing tersebut. Bila dalam
beberapa detik tindakan tersebut gagal, suruh penderita membuka mulut, dan
bila penderita tidak sadar, buka mulutnya secara paksa, dan segera bersihkan
mulut dan faringnya dengan jari. Kalau keadaan memungkinkan kita
menggunakan laringoskop dan forsep Magill untuk mengeluarkan benda asing
tersebut.
2. Bila cara no.1 gagal, maka pada penderita sadar: Lakukan tiga sampai empat
kali pukulan punggung diikuti tiga sampai lima kali hentakan abdomen atau
dada dan ulangi usaha-usaha pembersihan.
Pada penderita tidak sadar:
Penderita diletakkan pada posisi horizontal dan usahakan ventilasi paru. Jika
tindakan ini gagal, maka lakukan pukulan punggung sebanyak 3-5 kali, diikuti 3-5
kali hentakan abdomen atau hentakan dada. Ulangi usaha pembersihan dan
ventilasi. Jika tindakan tersebut juga mengalami kegagalan, maka ulangi urutan
ventilasi, pukulan punggung, hentakan dada, penyapuan dengan jari sampai
penolong berhasil memberi ventilasi atau sampai perlengkapan untuk
mengeluarkan benda asing dari jalan nafas secara langsung tiba. Selama
melakukan tindakan-tindakan tersebut diatas periksa denyut nadi pembuluh darah
besar, bila tidak teraba, segera lakukan Resusitasi Jantung Paru.
3. Tindakan terakhir yang masih dapat kita lakukan adalah, krikotirotomi, dan ini
hanya dapat dilakukan oleh tenaga terlatih.
2) CARA-CARA MELAKUKAN PEMUKULAN PUNGGUNG DAN
HENTAKAN ABDOMEN
Untuk pukulan punggung (A) lakukan 3 sampai 5 kali pukulan dengan
pangkal telapak tangan diatas tulang belakang korban diantara kedua tulang
belikatnya. Jika mungkin rendahkan kepala dibawah dadanya untuk
memanfaatkan gravitasi.
Untuk hentakan abdomen (B) berdirilah di belakang penderita, lingkarkan
kedua lengan penolong mengitari pinggang penderita, pergelangan atau kepalan
tangan penolong berpegangan satu sama lain, letakkan kedua tangan penolong
pada abdomen antara pusat dan prosesus sifoideus penderita dan kepalan tangan
penolong menekan ke arah abdomen dengan hentakan cepat. Ulangi 3 sampai 5
kali. Hindari prosesus sofoideus. Hentakan dada diatas sternum bawah kurang
menimbulkan bahaya, lebih-lebih pada wanita hamil atau gemuk.
3) CARA-CARA PUKULAN PUNGGUNG (A) DAN HENTAKAN
ABDOMEN (B) UNTUK SUMBATAN BENDA ASING PADA KORBAN
BERBARING YANG TIDAK SADAR
Untuk pukulan punggung (A) gulirkan penderita pada sisinya sehingga
menghadap penolong, dengan dadanya bertumpu pada lutut penolong, berikan 3
sampai 5 kali pukulan tajam dengan pangkal telapak tangan penolong diatas
tulang belakang penderita, diantara kedua tulang belikat.
Untuk hentakan abdomen (B) letakkan penderita telentang (muka menghadap ke
atas), penolong berlutut disamping abdomen penderita atau mengangkanginya.
Penolong meletakkan tangan diatas tangan lainnya, dengan pangkal telapak
tangan sebelah bawah digaris tengah antara pusat dan prosesus sifoideus
penderita. Miringkan sehingga bahu penolong berada diatas abdomen penderita
dan tekan ke arah diafragma dengan hentakan cepat ke dalam dan keatas. Jangan
menekan ke arah kiri atau kanan garis tengah. Jika perlu ulangi 3 sampai 5 kali.
4) PUKULAN PUNGGUNG PADA BAYI DAN ANAK KECIL
Peganglah anak dengan muka kebawah, topanglah dagu dan leher dengan lutut
dan satu tangan penolong kemudian lakukan pemukulan pada punggung secara
lembut antara kedua tulang belikat bayi. Pada tindakan hentakan dada, letakkan
bayi dengan muka menghadap keatas pada lengan bawah penolong, rendahkan
kepala dan berikan hentakan dada secara lambat dengan dua atau tiga jari seperti
kalau kita melakukan kompresi jantung luar. Jika jalan nafas anak hanya
tersumbat partial, anak masih sadar serta dapat bernafas dalam posisi tegak, maka
sebaiknya tindakan dikerjakan dengan peralatan yang lebih lengkap, bahkan
mungkin menggunakan tindakan anestesi. Tindakan hentakan abdomen jangan
dilakukan pada bayi dan anak kecil.
5) MEMBERSIHKAN JALAN NAFAS
Membersihkan jalan nafas ada dua cara :
a. Dengan manual
b. Dengan penghisapan
Penghisapan benda asing dari jalan anfas ada dua cara:
1. Penghisapan benda asing dari daerah faring, hendaknya menggunakan
penghisapan dengan tekanan negatif yang besar.
2. Penghisapan benda asing dari daerah trakheobronkus, hendaknya
menggunakan penghisap dengan tekanan negatif yang lebih kecil, karena
kalau terlalu besar dapat menyebabkan paru kolaps, sehingga paru dapat
cedera dan penderita dapat mengalami asfiksi.
Untuk penghisapan di daerah trakheobronkus dan nasofaring sebaiknya
menggunakan kateter dengan ujung lengkung dan lunak yang diberi jelly mulai
dari ujung kateter sampai hampir seluruh kateter. Ujung yang lengkung tersebut
memungkinkan kateter dapat dimasukkan ke dalam salah satu bronkus utama,
sedangkan kalau kita menggunakan kateter yang lurus biasanya masuk ke bronkus
kanan. Kalau kita ingin memasukkan kateter kedalam bronkus utama kiri
sebaiknya kepala penderita dimiringkan ke kanan. Diameter kateter seharusnya
kurang dari setengah diameter pipa trakea.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Primery survey
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain (Gilbert.,
DSouza., & Pletz, 2009) :
a) General Impressions
Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum.
Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera
Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)

b) Pengkajian Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa responsivitas
pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan ada atau tidaknya
sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas maka
jalan nafas pasien terbuka (Thygerson, 2011). Pasien yang tidak sadar mungkin
memerlukan bantuan airway dan ventilasi. Tulang belakang leher harus
dilindungi selama intubasi endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala,
leher atau dada. Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi
lidah pada kondisi pasien tidak sadar (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau bernafas
dengan bebas?
Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
Adanya snoring atau gurgling
Stridor atau suara napas tidak normal
Agitasi (hipoksia)
Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
Sianosis
Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan
potensial penyebab obstruksi :
Muntahan
Perdarahan
Gigi lepas atau hilang
Gigi palsu
Trauma wajah
Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.
Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang
berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai
indikasi :
Chin lift/jaw thrust
Lakukan suction (jika tersedia)
Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask Airway
Lakukan intubasi

c) Pengkajian Breathing (Pernafasan)


Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan nafas
dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien tidak
memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah: dekompresi
dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan
ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi
pasien.
Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda
sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking chest
wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga, subcutaneous
emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax dan pneumotoraks.
Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.
Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut mengenai
karakter dan kualitas pernafasan pasien.
Penilaian kembali status mental pasien.
Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau oksigenasi:
Pemberian terapi oksigen
Bag-Valve Masker
Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang benar),
jika diindikasikan
Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway procedures
Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan
terapi sesuai kebutuhan.

d) Pengkajian Circulation
Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan oksigenasi
jaringan. Hipovolemia adalah penyebab syok paling umum pada trauma.
Diagnosis shock didasarkan pada temuan klinis: hipotensi, takikardia, takipnea,
hipotermia, pucat, ekstremitas dingin, penurunan capillary refill, dan penurunan
produksi urin. Oleh karena itu, dengan adanya tanda-tanda hipotensi merupakan
salah satu alasan yang cukup aman untuk mengasumsikan telah terjadi perdarahan
dan langsung mengarahkan tim untuk melakukan upaya menghentikan
pendarahan. Penyebab lain yang mungkin membutuhkan perhatian segera
adalah: tension pneumothorax, cardiac tamponade, cardiac, spinal
shock dan anaphylaxis. Semua perdarahan eksternal yang nyata harus
diidentifikasi melalui paparan pada pasien secara memadai dan dikelola dengan
baik (Wilkinson & Skinner, 2000)..
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara
lain :
Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan pemberian
penekanan secara langsung.
Palpasi nadi radial jika diperlukan:
Menentukan ada atau tidaknya
Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
Regularity
Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia
(capillary refill).
Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
e) Pengkajian Level of Consciousness dan Disabilities
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah
yang diberikan
V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak
bisa dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)
U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal.

f) Expose, Examine dan Evaluate


Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika pasien
diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-line penting
untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung
pasien. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien
adalah mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua
pemeriksaan telah selesai dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga
privasi pasien, kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang (Thygerson, 2011).

Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang mengancam
jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa pasien luka
dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang berpotensi tidak stabil atau
kritis.
Secondary Survey
1. Identitas pasien.
2. Riwayat kesehatan yang lalu:
a. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru
sebelumnya.
b. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor
lingkungan.
c. Kaji riwayat pekerjaan pasien.
3. Pengkajian keperawatan pasien yang mempunyai masalah pernapasan
difokuskan pada ventilasi, perfusi, kognisi, dan eliminasi.
a. Ventilasi
1) Bunyi napas
Ronki basah atau mengi dapat terdengar pada banyak masalah
pernapasan. Hilangnya atau berkurangnya bunyi napas merupakan
temuan yang signifikan dan mungkin mengindikasikan pneumotoraks
atau beberapa bentuk konsolidasi alveolar. Bunyi napas dapat saja hilang
atau berkurang sebagai akibat konstriksi bronkus kanan yang disebabkan
oleh aspirasi benda asing
2) Pernapasan
Tentukan karakter pernapasan. Frekuensi pernapasan > 50
pernapsan/menit pada bayi atau >40 pernapsan/menit pada anak-anak
usia<3 tahun merupakan kondisi sensitive dan spesifik adanya infeksi
saluran pernapasan bawah.
3) Lajua aliran ekspirasi
Jika apsien PPOK atau asma, periksa laju aliran ekspirasi puncak dengan
menggunakan peak flowmeter.Jika nilainya kurang dari 200 l/menit,
triase segera ke ruang tindakan.
4) Saturasi oksigen
Tentukan tingkat SpO2 dengan oksimetri nadi kontinu.Jika tingkat SpO2
91 % atau kurang, diperkirakan pasien harus dirawat di rumah sakit.

5) Sputum
Jelaskan produksi sputum.Sputum merah muda yang berbusa merupakan
tanda edema alveoli paru kardiogenik.
6) Dispnea
Kaji dispnea dengan menggunakan skala yang sudah distandarisasi.
b. Perfusi
1) Bunyi jantung
Bunyi jantung ketiga sering kali terdengar pada kasus-kasus gagal jantung.
2) Titik impuls maksimal
Palpasi titik impuls maksimal. Bagian apeks jantung biasanya sampai pada
dinding anterior dada atau dekat dengan ruang interkosta lima kiri di garis
midklavikula.
3) Distensi vena jugularis
Tentukan ada tidaknya distensi vena jugularis. Ubah posisi pasien menjadi
semifowler dengan kepala miring kanan atau kiri.
c. Kognisi
Lakukan pengkajian neurologis dan catat nilai GCS. Medikasi misalnya
teofilin dan alupent. Yang digunakan untuk mengatasi gangguan pulmonal
menimbulkan efek pada sistem saraf pusat, seperti kegelisahan, takikardia,
dan agitasi. Hipoksemia dan hiperkapnia dapat menyebabkan kegelisahan
dan penurunan kesadaran.

4. Kondisi Pernafasan.
a. Dapat menjawab, lengkap tidak terputus-putus , tidak tersendat-sendat ,
tidak menggeh-menggeh -> Fungsi pernafasan baik.
b. Bila menjawab terputus-putus , tersendat-sendat , menggeh-menggeh ->
Fungsi pernafasan terganggu.
c. Bila tidak menjawab, tidak ada suara, tidak ada gerak nafas, tidak ada
hawa nafas -> Pernafasan berhenti
Jika pengobatan mencakup pembedahan, penting artinya jika perawat mengetahui
sifat dari pembedahan sehingga dapat merencanakan asuhan yang sesuai. Jika
pasien diperkirakan akan tidak mempunyai suara lagi, evaluasi paska operatif oleh
terapi wicara diperlukan. Kemampuan pasien untuk mendengar, melihat,
membaca, dan menulis dikaji.kerusakan visual dan buta huruf fungsional dapat
menimbulkan masalah tambahan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
c. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d. inflamasi trakheobronkial, edema
dan peningkatan produksi sputum, menurunnya fungsi fisiologis saluran
pernapasan, ketidakmampuan batuk, adanya benda asing (ETT, Corpus
alienum).
d. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan tidak adekuatnya ventilasi
e. Resiko terhadap aspirasi berhubungan dengan masuknya sekret, benda
padat, atau cairan ke dalam saluran nafas.
f. Cemas pada orang tua dan anak b.d penyakit yang dialami anak.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil

1 Bersihan jalan napas NOC: a. Auskultasi bunyi


tidak Respiratory nafas, catat adanya
efektif berhubungan status : bunyi nafas, ex:
dengan bronkospasm Ventilation mengi
e Respiratory b. Kaji/pantau
status : frekuensi
Airway patency pernafasan, catat
Aspiration rasio
Control inspirasi/ekspirasi
Setelah dilakukan c. Catat adanya
tindakan derajat dispnea,
keperawatan ansietas, distress
selama pernafasan,
..pasien penggunaan obat
menunjukkan d. Tempatkan klien
keefektifan pada posisi yang
jalan nafas nyaman. Contoh:
dibuktikan meninggikan
dengan kriteria kepala TT, duduk
hasil : pada sandaran TT.
Mendemonstras e. Pertahankan polusi
ika lingkungan
n batuk efektif dan minimum. Contoh:
suara nafas yang debu, asap,dll.
bersih, f. Tingkatkan
tidak ada sianosis masukan cairan
dan sampai dengan
dyspneu (mampu 3000 ml/hari sesuai
mengeluarkan toleransi jantung,
sputum, memberikan air
bernafas dengan hangat.
mudah, tidak ada g. Kolaborasi dengan
pursed dokter untuk
lips) pemberian obat
Menunjukkan sesuai indikasi.
jalan
nafas yang paten
(klien
tidak merasa
tercekik,
irama nafas,
frekuensi
pernafasan dalam
rentang normal,
tidak
ada suara nafas
abnormal)
Mampu
mengidentifikasika
n dan
mencegah faktor
yang
penyebab.
Saturasi O2
dalam
batas normal
2 Pola Nafas tidak NOC NIC
efektif Respiratory status :
Ventilation Posisikan
Definisi : Pertukaran Respiratory status : pasien untuk
udara inspirasi Airway patency memaksimalkan
dan/atau ekspirasi Vital sign Status ventilasi
tidak adekuat Pasang mayo
Faktor yang Setelah dilakukan bila perlu
berhubungan : tindakan keperawatan Lakukan
- Hiperventilasi selama. Pasien fisioterapi dada jika
- Penurunan menunjukan perlu
energi/kelelahan keefektifan pola napas, Keluarkan
- Perusakan/pele dibuktikan dengan : sekret dengan batuk
mahan atau suction
muskuloskletal Kriteria Hasil : Auskultasi
- Obesitas Mendemonstrasikan suara nafas, catat
- Kelelahan otot batuk efektif dan suara adanya suara
pernafasan nafas yang bersih, tidak tambahan
- Hipoventilasi ada sianosis dan Berikan
sindrom dyspneu (mampu bronkodilator .
- Nyeri mengeluarkan sputum, Berikan
- Kecemasan mampu bernafas pelembab udara Kassa
- Disfungsi dengan mudah, tidak basah NaCl Lembab
Neuromuskuler ada pursed lips) Atur intake
- Injuri tulang Menunjukkan jalan untuk cairan
belakang nafas yang paten (klien mengoptimalkan
DS tidak merasa tercekik, keseimbangan.
- Dyspnea irama nafas, frekuensi Monitor
- Nafas pendek pernafasan dalam respirasi dan status O2
DO rentang normal, tidak Bersihkan
- Penurunan ada suara nafas mulut, hidung dan
tekanan abnormal) secret trakea
inspirasi/ekspirasi Tanda Tanda vital Pertahankan
- Penurunan dalam rentang normal jalan nafas yang paten
pertukaran udara (tekanan darah, nadi, Observasi
permenit pernafasan) adanya tanda tanda
- Menggunakan otot hipoventilasi
pernafasan tambahan Monitor
- Orthopnea adanya kecemasan
- Pernafasan pasien terhadap
pursed-lip oksigenasi
- Tahap ekspirasi Monitor vital
berlangsung sangat sign
lama Informasikan
- Penurunan pada pasien dan
kapasitas vital keluarga tentang
respirasi < 11- teknik relaksasi untuk
24x/menit memperbaiki pola
nafas
Ajarkan
bagaimana batuk
secara efektif
Monitor pola
nafas

3 Gangguan pertukaran NOC : NIC :


gas b/d kongesti paru, Respiratory Status : Airway Management
hipertensi pulmonal, Gas exchange Buka jalan
penurunan perifer Respiratory Status : nafas, guanakan
yang mengakibatkan ventilation teknik chin lift atau
asidosis laktat dan Vital Sign Status jaw thrust bila perlu
penurunan curah Kriteria Hasil : Posisikan
jantung. Mendemonstrasikan pasien untuk
peningkatan ventilasi memaksimalkan
Definisi : Kelebihan dan oksigenasi yang ventilasi
atau kekurangan adekuat Identifikasi
dalam oksigenasi dan Memelihara pasien perlunya
atau pengeluaran kebersihan paru paru pemasangan alat jalan
karbondioksida di dan bebas dari tanda nafas buatan
dalam membran tanda distress Pasang mayo
kapiler alveoli pernafasan bila perlu
Mendemonstrasikan Lakukan
Batasan batuk efektif dan suara fisioterapi dada jika
karakteristik : nafas yang bersih, tidak perlu
- Gangguan ada sianosis dan Keluarkan
penglihatan dyspneu (mampu sekret dengan batuk
- Penurunan mengeluarkan sputum, atau suction
CO2 mampu bernafas Auskultasi
- Takikardi dengan mudah, tidak suara nafas, catat
- Hiperkapnia ada pursed lips) adanya suara
- Keletihan Tanda tanda vital tambahan
- somnolen dalam rentang normal Lakukan
- Iritabilitas suction pada mayo
- Hypoxia Berika
- kebingungan bronkodilator bial
- Dyspnoe perlu
- nasal faring Barikan
- AGD Normal pelembab udara
- sianosis Atur intake
- warna kulit untuk cairan
abnormal (pucat, mengoptimalkan
kehitaman) keseimbangan.
Monitor
respirasi dan status O2

4 Kelebihan volume NOC : Fluid management


cairan b/d Electrolit and acid Pertahankan
berkurangnya curah base balance catatan intake dan
jantung, retensi cairan Fluid balance output yang akurat
dan natrium oleh Pasang urin
ginjal, hipoperfusi ke Kriteria Hasil: kateter jika diperlukan
jaringan perifer dan Terbebas dari Monitor hasil lAb
hipertensi pulmonal edema, efusi, anaskara yang sesuai dengan
Bunyi nafas retensi cairan (BUN ,
Definisi : Retensi bersih, tidak ada Hmt , osmolalitas
cairan isotomik dyspneu/ortopneu urin )
meningkat Terbebas dari Monitor status
Batasan distensi vena jugularis, hemodinamik
karakteristik : reflek hepatojugular (+) termasuk CVP, MAP,
- Berat badan Memelihara PAP, dan PCWP
meningkat pada tekanan vena sentral, Monitor vital sign
waktu yang singkat tekanan kapiler paru, Monitor indikasi
- Asupan output jantung dan vital retensi / kelebihan
berlebihan dibanding sign dalam batas cairan (cracles, CVP ,
output normal edema, distensi vena
- Tekanan darah Terbebas dari leher, asites)
berubah, tekanan kelelahan, kecemasan Kaji lokasi dan
arteri pulmonalis atau kebingungan luas edema
berubah, peningkatan Menjelaskanind Monitor masukan
CVP ikator kelebihan cairan makanan / cairan dan
- Distensi vena hitung intake kalori
jugularis harian
- Perubahan pada Monitor status
pola nafas, nutrisi
dyspnoe/sesak nafas, Berikan diuretik
orthopnoe, suara sesuai interuksi
nafas abnormal Batasi masukan
(Rales atau crakles), cairan pada keadaan
kongestikemacetan hiponatrermi dilusi
paru, pleural effusion dengan serum Na <
- Hb dan 130 mEq/l
hematokrit menurun, Kolaborasi dokter
perubahan elektrolit, jika tanda cairan
khususnya perubahan berlebih muncul
berat jenis memburuk
- Suara jantung Fluid Monitoring
SIII Tentukan riwayat
- Reflek jumlah dan tipe intake
hepatojugular positif cairan dan eliminaSi
- Oliguria, Tentukan
azotemia kemungkinan faktor
- Perubahan status resiko dari ketidak
mental, kegelisahan, seimbangan cairan
kecemasan (Hipertermia, terapi
diuretik, kelainan
Faktor-faktor yang renal, gagal jantung,
berhubungan : diaporesis, disfungsi
- Mekanisme hati, dll )
pengaturan melemah Monitor serum
- Asupan cairan dan elektrolit urine
berlebihan Monitor serum
- Asupan natrium dan osmilalitas urine
berlebihan Monitor BP, HR,
dan RR
Monitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama
jantung
Monitor parameter
hemodinamik infasif
Monitor adanya
distensi leher, rinchi,
eodem perifer dan
penambahan BB
Monitor tanda dan
gejala dari odema

5 Cemas b/d penyakit NOC : NIC :


kritis, takut kematian Anxiety control Anxiety Reduction
atau kecacatan, Coping (penurunan
perubahan peran Impulse control kecemasan)
dalam lingkungan Kriteria Hasil : Gunakan
social atau Klien mampu pendekatan yang
ketidakmampuan mengidentifikasi dan menenangkan
yang permanen. mengungkapkan gejala Nyatakan dengan
cemas jelas harapan terhadap
Definisi : Mengidentifika pelaku pasien
Perasaan gelisah yang si, mengungkapkan dan Jelaskan semua
tak jelas dari menunjukkan tehnik prosedur dan apa yang
ketidaknyamanan untuk mengontol cemas dirasakan selama
atau ketakutan yang Vital sign prosedur
disertai respon dalam batas normal Pahami prespektif
autonom (sumner Postur tubuh, pasien terhdap situasi
tidak spesifik atau ekspresi wajah, bahasa stres
tidak diketahui oleh tubuh dan tingkat Temani pasien
individu); perasaan aktivitas menunjukkan untuk memberikan
keprihatinan berkurangnya keamanan dan
disebabkan dari kecemasan mengurangi takut
antisipasi terhadap Berikan informasi
bahaya. Sinyal ini faktual mengenai
merupakan diagnosis, tindakan
peringatan adanya prognosis
ancaman yang akan Dorong keluarga
datang dan untuk menemani anak
memungkinkan Lakukan back /
individu untuk neck rub
mengambil langkah Dengarkan dengan
untuk menyetujui penuh perhatian
terhadap tindakan Identifikasi tingkat
Ditandai dengan kecemasan
Gelisah Bantu pasien
Insomnia mengenal situasi yang
Resah menimbulkan
Ketakutan kecemasan
Sedih Dorong pasien
Fokus pada diri untuk
Kekhawatiran mengungkapkan
Cemas perasaan, ketakutan,
persepsi
Instruksikan
pasien menggunakan
teknik relaksasi
Barikan obat
untuk mengurangi
kecemasan

6 Kurang pengetahuan NOC : NIC :


b/d keterbatasan Kowlwdge : disease Teaching : disease
pengetahuan process Process
penyakitnya, tindakan Kowledge : health Berikan penilaian
yang dilakukan, obat Behavior tentang tingkat
obatan yang Kriteria Hasil : pengetahuan pasien
diberikan, komplikasi Pasien dan tentang proses
yang mungkin keluarga menyatakan penyakit yang spesifik
muncul dan pemahaman tentang Jelaskan
perubahan gaya hidup penyakit, kondisi, patofisiologi dari
prognosis dan program penyakit dan
Definisi : pengobatan bagaimana hal ini
Tidak adanya atau Pasien dan berhubungan dengan
kurangnya informasi keluarga mampu anatomi dan fisiologi,
kognitif sehubungan melaksanakan prosedur dengan cara yang
dengan topic spesifik. yang dijelaskan secara tepat.
benar Gambarkan tanda
Batasan Pasien dan dan gejala yang biasa
karakteristik : keluarga mampu muncul pada penyakit,
memverbalisasikan menjelaskan kembali dengan cara yang
adanya masalah, apa yang dijelaskan tepat
ketidakakuratan perawat/tim kesehatan Gambarkan proses
mengikuti instruksi, lainnya. penyakit, dengan cara
perilaku tidak sesuai. yang tepat
Identifikasi
Faktor yang kemungkinan
berhubungan : penyebab, dengna
keterbatasan kognitif, cara yang tepat
interpretasi terhadap Sediakan
informasi yang salah, informasi pada pasien
kurangnya keinginan tentang kondisi,
untuk mencari dengan cara yang
informasi, tidak tepat
mengetahui sumber-
sumber informasi.
DAFTAR PUSTAKA

Nastiti N. Raharjoe, dkk. Aspirasi Benda Asing dalam Saluran Respiratori; Buku
Ajar Respirologi, Edisi ke-3, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta, 2012
hal.420-426
Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT (K), Benda Asing di Saluran Napas;
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Kepala, dan Leher,
Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2007, hal.259-265
World Health Organization, Aspirasi Benda Asing, Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Anak di Rumah Sakit, WHO Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 119-
121
Price, Sylvia A. Patofisiologi. EGC, Jakarta, 2000.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Nelson. vol 2, Jakarta, 2008, EGC