Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan seks
Teori tentang perkembangan seks manusia ditemukan oleh tokoh psikologi Sigmund
Freud (dalam Sallun, 1990 : 12). Freud membagi perkembangan seks manusia menjadi
lima tahap, mulai dari bayi sampai remaja, yaitu:
1. Tahap Oral
Tahap oral terjadi pada tahun pertama kelahiran, dimana anak mendapatkan
perasaan nikmat melalui mulutnya yaitu ketika sedang menyusu dan menghisap air
susu melalui putting susu ibunya. Tahap ini dimulai sejak bayi hingga usia antara 1
2 tahun. Pada usia ini seorang anak terikat sangat antusias memasukkan apa saja
kedalam mulutnya. Hal itu merupakan tahap awal pemenuhan dari perkembangan
psikoseksual dalam dirinya.
2. Tahap Anal
Tahap anal kenikmatan yang dirasakan berubah dari mulut kedaerah anus dan
sekitarnya (seperti saluran kencing), rasa nikmat dan puas dirasakan ketika anak
sedang menahan kencing dan buang air besar. Tahap ini dimulai saat anak berusia
pada saat anak berusia 24 tahun.
3. Tahap Phalic
Tahap Phalic biasa terjadi antara usia 46 tahun atau lebih. Pada tahap ini
perhatian anak mulai terfokus pada alat kelamin dan biasanya sedang
mempermainkannya. Pada atahp ini pula anak menemukan perbedaan jenis kelamin.
4. Tahap Latency
Tahap Latency yang berlansung dari usia enam sampai dua belas tahun. Pada
masa ini dorongan-dorongan seks anak masih terpendam karena mereka masih
menyibukkan diri untuk mempelajari hal-hal baru dan dunia sekitarnya.
5. Tahap Genital
Rasa seks itu muncul kembali pada tahap genital yang berlangsung pada usia
puber dimana perhatian anak terfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan hubungan
kelamin.
B. Berkembangnya seksualitas dan pertalian seksual
1. Remaja
Pada awal masa remaja, sebagian besar seksualitas berkaitan dengan penegasan
identitas gender dan harga diri. Pada saat awitan pubertas terjadi perubahan-
perubahan di tubuh yang berlangsung tanpa dapat diduga sementara perubahan-
perubahan hormon menimbulkan dampak pada reaktivitas emosi.
2. Pasangan dan awal perkawinan
Setelah perkawinan dimulai, tantangannya adalah membangun rasa aman dalam
pertalian seksual yang juga mulai kehilangan pengaruh pengalaman barunya. Pada
tahap inilah membangun komunikasi yang baik menjadi sangat penting untuk
kelanjutan perkembangan pertalian seksual. Apabila pasangan tidak mengembangkan
cara-cara yang memungkinkan pasangannya mengetahui apa yang mereka nikmati
dan apa yang tidak menyenangkan maka akan muncul masalah yang seharusnya dapat
dihadapi dan dipecahkan.
3. Awal menjadi orang tua
Kehamilan, dan beberapa bulan setelah kelahiran, menimbulkan kebutuhan
lebih lanjut akan penyesuaian seksual. Wanita besar kemungkinannya mengalami
penurunan keinginan seksual dan kapasitas untuk menikmati seks menjelang akhir
kehamilnya karena terjadinya perubahan-perubahan fisik dan mekanis. Periode
pascanatal, karena berbagai alasan merupakan salah satu periode saat munculnya
kesulitan-kesulitan seksual yang apabila pasangan obesitas belum mengembangkan
metode-metode yang sesuai untuk mengatasinya, dapat menimbulkan kesulitan
berkepanjangan. Masalah jangka panjang yang paling sering dalam hali ini adalah
hilangnya gairah seksual pihak wanita.
4. Usia paruh baya
Seksualitas pada hubungan yang sudah terjalin lama biasanya menghadapi
hambatan yang berbeda-beda. Pada tahap ini sesuatu yang baru dalam hubungan
seksual telah lama hilang. Bagi banyakorang halini tidak menimbulkan masalah.
Mereka telah mengembangkan bentuk kenyamanan intimasiseksual lain yang tetap
menjadi bagian integral dari hubungan mereka. Tetapi bagi yang lain, kualitas
hubungan seksual yang rutin ini akan memakan korban. Pada keadaan seperti ini
stress di tempat kerja misalnya akan mudah menyebabkan kelelahan dan
memadamkan semua antusiasme spontan untuk melakukan aktivitas seksual.
Hubungan intim menjadi jarang dilakukan dan sebagai konsekuensinya dapat timbul
ketegangan dalam hubungan pasangan tersebut.
Pada kelompok yang lebih tua lagi masalah seksual yang kita hadapi terutama
adalah masalah ereksi pada pria dan hilangnya minat seksual pada wanita. Proses
penuaan memang menimbulkan dampak pada seksualitas tetapi tentu tidak selalu
negatif. Pasangan pada usia ini lebih kecil kemungkinannya meminta pertolongan
dalam konteks keluarga berencana atau kesehatan reproduksi.
(Glasier: 2005)

C. Organ Reproduksi
Perkembangan seksual telah dimulai sejak manusia dalam kandungan
sampai manusia itu dewasa. Perkembangan seksual diikuti dengan kematangan
organ kelamin yang mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual,
sehingga terjadi ketegangan fisik dan psikis akibat dari kelenjar hipofisa.
Kalenjar hipofisa adalah kalenjar buntu yang membentuk dan mengeluarkan
zat-zat hormon seks dalam darah, maka terjadilah perubahan organ reproduksi
perempuan maupun organ reproduksi laki-laki yaitu :
1. Organ repruduksi pada wanita
a. Pukas (vulva), ialah semua bagian dari kelamin perempuan yang bisa dilihat
dibagian luar tubuh di antara kedua paha.
b. Liang senggama (vagina), ialah alat penghubung rahim dengan dunia luar,
juga alat penerima zakar (penis) waktu senggama dan jalan kelahiran anak.
c. Clitoris, yaitu alat yang mudah menerima rangsangan apabila penis
menyinggungnya sewaktu senggama.
d. Rahim (uterus), ialah tempat berkembangnya anak di dalam kandungan.
e. Indung telur (ovarium), ialah kelenjar wanita yang menghasilkan hormon
kandungan.
f. Saluran telur (tuba fallopi), ialah alat penghubung antara indung telur dan
rongga rahim.
2. Organ reproduksi pada pria
a. Buah zakar (testis), yaitu kelenjar kelamin pria yang menghasilkan hormon
kelamin pria dan sel-sel mani.
b. Kantung mani (vesica seminalis), yaitu tempat penyimpanan sel-sel mani
sebelum dikeluarkan dari tubuh pria.
c. Saluran mani (epididimis dan vas deferents), ialah alat penghubung antara
buah zakar dan kantung mani.
d. Kelenjar posat (glandula prostate), kelenjar prostat dan beberapa kelenjar
lainnya (seperti kelenjar cowper) mengehasilkan sejenis cairan yang
merupakan bagian cair dari air mani.
e. Zakar (penis), ini merupakan alat senggama (coitus) dan berkemih.
D. Ciri-ciri seks primer
1. Pada pria ditandai dengan mimpi basah
Mimpi basah disebut juga ejakulasi atau wet dream yang terjadi pada remaja
laki-laki karena sperma yang dihasilkan tidak disalurkan, misalnya melalui senggama.
Sesuatu yang pernah dilihat, dialami atau dikhayalkan sebelumnya dapat muncul
kembali dan membayang dalam mimpinya. Hal ini merupakan suatu keadaan normal
dan bukan menunjukkan adanya gangguan seksual atau gangguan sperma, melainkan
keadaan umum yang dialami oleh orang yang normal

2. Pada wanita terjadi haid dan menstruasi


Dengan mulai berfungsinya kelenjar kelamin wanita, maka akan timbul pada
peristiwa datang bulan yang dinamakan dengan haid. Haid atau menarche adalah
pengeluaran darah dari liang senggama yang berasal dari perlukaan pada dinding
rongga rahim akibat terkelupasnya selaput lendir rongga rahim yang menebal.
Penebalan ini merupakan persiapan untuk menerima dan menjadi tempat
bersarangnya sel telur bila terjadi pembuahan. Dengan datangnya menstruasi, sebagai
tanda perempuan secara fisik sudah dianggap dewasa dan bisa menghasilkan
keturunan. Menstruasi terjadi setiap bulan pada perempuan yang normal, yeitu sekitar
2830 hari sekali. Kecuali dalam keadaan hamil dan perempuan berusia tua. Lama
pendarahan haid berlangsung selama 26 hari, diantaranya perempuan mempunyai
lama menstruasi yang berbeda.

E. Ciri-ciri seks sekunder


1. Wanita
Perkembangan fisik yang terjadi pada wanita adalah penumpukkan jaringan
lemak pada jaringan-jaringan tertentu khususnya pinggul menjadi bertambah lebar
dan bulat. Kemuadian payudara juga berkembang sangat menonjol lebih besar dan
lebih bulat. Rambut kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara mulai
berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid,
sedangkan suara yang dimiliki wanita menjadi lebih merdu.

2. Pria
Perubahan yang timbul pada pria adalah tubuh menjadi lebih jantan terutama
bertambah lebar bagian bahu, tumbuhnya rambut untuk perubahan kumis, janggut,
rambut pada kaki, ketiak dan alat kemaluan.