Anda di halaman 1dari 16

ANTENATAL CARE

DEFINISI
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan
obstetric untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui
serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.

TUJUAN

1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan Ibu


dan tumbuh kembang bayi

2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan


sosial ibu dan bayi

3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi


yang mungkin terjadi selama hamil

4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan


selamat, Ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin

5. Mempersiapkan peran Ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran


bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal

Empat Pilar Safe Motherhood yaitu meliputi :

Keluarga Berencana,

Antenatal Care,

Persalinan Bersih dan Aman,

Pelayanan Obstetri Essensial.

WAKTU KUNJUNGAN

Pemeriksaan kehamilan hendaknya dilakukan sedini mungkin yaitu segera


setelah seorang wanita merasakan dirinya hamil
Wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama
periode antenatal:

K1: Satu kali kunjungan selama trimester satu (< 14 minggu).


Tujuannya :

o Penapisan dan pengobatan anemia

o Perencanaan persalinan

o Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

K2: Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14


28). Tujuannya:

o Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

o Penapisan pre eklamsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan


saluran perkemihan

o Mengulang perencanaan persalinan

K3 dan K4: Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28
36 dan sesudah minggu ke 36). Tujuannya :

o Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III

o Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi

o Memantapkan rencana persalinan

o Mengenali tanda-tanda persalinan

Perlu segera memeriksakan kehamilan bila janin tidak bergerak lebih dari
12 jam.

HAMBATAN ANC

Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa wanita hamil tidak atau
enggan melaksanakan prenatal care. Alasan tersebut adalah sebagai
berikut:
kurangnya rasa percaya terhadap tenaga kesehatan
keterlambatan mengetahui kehamilan
perbedaan persepsi mengenai pentingnya prenatal care
kebudayaan yang bertentangan
STANDAR MINIMAL ANC

7 T (2002) 10 T (2009) 14 T (2015)

1. (Timbang) berat 1. Timbang berat badan dan 1. Timbang berat badan


badan ukur tinggi badan dan ukur tinggi badan

2. Ukur (Tekanan) 2. Pemeriksaan tekanan darah 2. Pemeriksaan tekanan


darah darah
3. Nilai status gizi (ukur lingkar
3. Ukur (Tinggi) lengan atas) 3. Pemeriksaan puncak
fundus uteri rahim (tinggi fundus
4. Pemeriksaan puncak rahim uteri)
4. Pemberian (tinggi fundus uteri) 4. Pemberian Tablet za
imunisasi (Tetanus besi minimal 90 table
Toxoid) 5. Tentukan presentasi janin dan selama kehamilan
denyut jantung janin (DJJ) 5. Imunisasi Tetanus
5. Pemberian Toksoid (TT)
Tablet zat besi, 6. Skrining status imunisasi 6. Pemeriksaan Hb
minimum 90 tablet Tetanus dan berikan imunisasi 7. Pemeriksaan protein urin
selama kehamilan Tetanus Toksoid (TT) bila 8. Pemeriksaan VDRL
diperlukan. 9. Pemeriksaan urin reduks
6. Tes terhadap 10. Perawatan payudara
penyakit menular 7. Pemberian Tablet zat besi 11. Senam hamil
sexual minimal 90 tablet selama 12. Pemberian oba
kehamilan malaria
7. Temu wicara 13. Pemberian kapsu
dalam rangka 8. Test laboratorium (rutin dan minyak yodium
persiapan rujukan. khusus) 14. Temu
wicara/konseling
9. Tatalaksana kasus

10. Temu wicara (konseling),


termasuk Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) serta KB
paska persalinan
PELAKSANAAN ANTENATAL CARE

a. Pemeriksaan

1. Pemeriksaan Pertama Kali


Tujuan pemeriksaan kehamilan pertama kali adalah untuk memastikan
bahwa ibu memang hamil dan untuk mengidentifikasi faktor resiko
dalam kehamilan (baik dari pihak ibu maupun janin)
Kehamilan dapat ditentukan dengan gejala-gejala:
Tanda pasti kehamilan
o terdengar bunyi jantung anak
o melihat, meraba, mendengar pergerakan anak
o dengan Ro atau USG dapat melihat kerangka janin

Tanda mungkin kehamilan


Tanda Subjektif Tanda Objektif
Amenore Pembesaran, perubahan bentuk &
Mual &muntah konsistensi rahim
Merasa pergerakan anak Perlunakan serviks
Dada terasa berisi & nyeri Kontraksi Braxton Hicks
Poliuria Balotemen
Meraba bagian anak
Pemeriksaan biologis yang positif
Pembesaran perut
Keluarnya kolostrum
Hiperpigmentasi kulit
Tanda Chadwick

Selain itu kehamilan juga dapat dipastikan melalui tes urin. Apabila
seorang ibu hamil, maka dalam urin pagi harinya akan ditemukan -hCG
>35mIU

a. Anamnesa
Usia kehamilan
Rumus Naegle dapat digunakan untuk menghitung tanggal taksiran
persalinan. Dengan menggunakan tanggal hari pertama haid terakhir
ditambah 7 hari, dikurangi 3 bulan dan ditambah 1 tahun. Rumus ini
berlaku untuk ibu yang memiliki siklus haid teratur dengan panjang
siklus selama 28 hari. Apabila ibu memiliki siklus haid 30 hari, maka
tanggal taksiran persalinannya adalah tanggal hari pertama haid
terakhir ditambah 9.

Kehamilan sebelumnya
Kondisi pada kehamilan sebelumnya memberikan petunjuk yang
penting mengenai masalah-masalah yang mungkin akan timbul pada
kehamilan yang sekarang. Informasi yang bisa didapatkan adalah
lamanya waktu kehamilan, berat lahir bayi, panjang bayi saat lahir,
presentasi janin, jenis persalinan, dan komplikasi (prenatal, intranatal,
postpartum). Apabila pernah dilakukan SC maka ditanyakan juga tipe
sayatan yang dilakukan.

Riwayat Kesehatan Ibu


Ditanyakan apakah ibu menderita penyakit lain yang dapat
memperberat kehamilan seperti penyakit kardiovaskular, asma,
ataupun kelainan endokrin. Selain itu ditanyakan pula apakah ibu
pernah mengalami infeksi selama kehamilan, apabila pernah maka
harus lebih berhati-hati akan terjadinya reinfeksi.

Riwayat Keluarga
Ditanyakan apakah ditemukan penyakit keturunan dalam keluarga
(co:DM), anak kembar, atau penyakit menular yang dapat
mempengaruhi kehamilan (co:TBC).

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan keadaan umum
Pemeriksaan keadaan umum harus dilakukan pada setiap pasien
baru, meliputi:
keadaan umum penderita, keadaan gizi, kelainan bentuk badan,
kesadaran
adakah anemia, sianosis, ikterus ataupun dispnea
keadaan jantung dan paru-paru
apakah ditemukan edema
reflex
tensi dan berat badan

Pemeriksaan Pelvis
1. Jaringan lunak pelvis
Periksa apakah ditemukan masa pada jaringan lunak pelvis. Bila
ditemukan masa maka harus dievaluasi dengan ultrasonografi
2. Bagian tulang pelvis
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan apakah pasien
mengalami cephalopelvic disproportion (CPD) pada saat
melahirkan.
Pintu atas panggul
Walaupun diameter transversa dari pintu atas panggul tidak
dapat ditentukan secara klinis, namun diameter anteroposterior
(konjugata diagonalis) dapat ditentukan. Konjugata vera
(diameter anteroposterior yang sebenarnya) dapat ditentukan
dengan mengurangi ukuran konjugata diagonalis dengan 1 cm.
Bagian tengah panggul
Ukuran bidang tengah panggul tidak dapat ditentukan dengan
pemeriksaan klinis. Namun beberapa ahli dapat memperkirakan
ukuran bidang tengah panggul melalui perkiraan jarak dan
penonjolan spina ischiadica. Jika dinding pelvis konvergen,
lengkung sacrum lurus atau dangkal maka dapat dikatakan
bahwa bidang tengah panggul pasien sempit
Pintu bawah panggul
Ukuran pintu bawah panggul dapat ditentukan dengan
pemeriksaan fisik. Bentuk pintu bawah panggul dapat ditentukan
dengan palpasi pada ramus pubikus dari simfisis ke tuber
isciadica dan angulus ramus pubicus. Angulus subpubis yang
kurang dari 90o menyatakan panggul sempit. Diameter
intertuberosus dapat diukur menggunakan Thoms pelvimeter.
Apabila lebih dari 8,5 cm maka cukup untuk dapat melahirkan
pervaginam. Diameter sagitalis posterior juga dapat diukur
menggunakan Thoms pelvimeter. Jika jumlah diameter tuber
ischiadia dan diameter sagitalis posterior lebih dari 15 cm maka
biasanya panggul tersebut adekuat untuk kelahiran per vaginam.
Os coccygeus yang terlalu menonjol dapat mengurangi diameter
anteroposterior

c. Pemeriksaan penunjang (laboratorium)


Skrining darah
Pada kunjungan pertama sebaiknya diperiksa hematokrit,
hemoglobin, leukosit, dan golongan darah. Kadar glukosa dalam
darah juga sebaiknya diperiksa pada usia kehamilan 24-28 minggu.
Pemeriksaan -hCG, estriol, dan -fetoprotein serum untuk
mendeteksi adanya kelaian neural tube dan kelainan kromosom
lainnya sebaiknya dilakukan pada minggu ke 16-18.
Tes genetik
Tes genetik sebaiknya dilakukan pada wanita diatas usia 35 tahun
dan pada wanita yang memiliki silsilah genetik yang abnormal.
Chorionic Villus Sampling (CVS) dapat dilakukan pada saat 10-12
minggu sedangkan amniosentesis dilakukan pada minggu ke 16-18.
Tes urin
Biasanya dilakukan urinalisis dan tes skrining (tes dipstik) atau kultur
pada infeksi saluran kemih. Jika jumlah bakteri pada urin sewaktu
melebihi 105/ml atau ditemukan bakteri pada urin yang diperoleh
melalui kateterisasi maka dilakukan tes sensitifitas antibiotik.
Pemeriksaan protein, glukosa, dan keton sebaiknya dilakukan.
Pemeriksaan protein dilakukan tiap kunjungan untuk dapat
mendeteksi adanya preeklampsia atau eklapsia. Glukosa yang
ditemukan pada urin menandakan jumlah glukosa yang dibuang
melalui ginjal melebihi kemampuan resorbsi dari ginjal itu sendiri.
Keadaan ini tidak terlalu bermasalah bila kadar gula dalam darah
tetap normal, namun bila kadar gula darah meningkat maka ibu
tersebut mengalami intoleransi karbohidrat. Oleh karena itu pasien
dapat dicurigai menderita diabetes gestasional. Adanya keton dalam
urin menandakan tidak adekuatnya asupan karbohidrat atau adanya
diabetes pada ibu hamil tersebut.
PAP smear
Ada beberapa dokter yang rutin melakukan PAP smear untuk
mendeteksi gonorrhea dan chlamydia, namun ada pula yang
melakukannya hanya pada pasien beresiko tinggi. Pemeriksaan
mikroskopis dari sekresi vagina dilakukan bila ada indikasi.
Streptokokus grup B
Beberapa buku menyarankan dilakukan kultur streptokokus grup B
dari vagina bagian bawah pada kehamilan tua (pada minggu ke 36
atau lebih). Apabila hasil kultur positif, maka ibu segera diobati
(dengan ampicillin) untuk menurunkan resiko terjadinya sepsis pada
bayi.
Kultur feses
Kultur feses untuk menemukan telur dan parasit dilakukan apabila
ditemukan indikasi, terutama pada wanita hamil yang berada pada
daerah endemik (co: Asia Tenggara).
Tes Tuberkulin: Tes tuberkulin dilakukan pada pasien yang beresiko
tinggi

2. Kunjungan Berikutnya / Pemeriksaan Ulangan


Beberapa hal yang harus diperiksa pada kunjungan

Fetus

Bunyi jantung janin

Ukuran janin

Jumlah cairan amnion

Presentasi dan station (pada kehamilan lanjut)

Aktivitas / pergerakan janin

Ibu hamil

Tekanan darah

Penambahan berat badan

Keluhan lain: sakit kepala, pandangan kabur, nyeri


abdomen,

mual muntah, perdarahan, keluar cairan dari vagina,


disuria
Tinggi fundus uteri diukur dari simfisis pubis

Pemeriksaan vagina pada kehamilan lanjut dapat


memberikan informasi

Konfirmasi presentasi

Penurunan dari bagian terbawah (station)

Estimasi klinis keadaan panggul

Konsistensi dan dilatasi serviks

Keterangan:
Pemantauan Kesejahteraan janin dan keadaan ibu
Berat dan tinggi badan ibu (penambahan berat badan ibu)

BMI Sebelum Penambahan Berat


Hamil Badan (Kg)

Rendah (BMI < 12,5 -18


19,8)

Normal (BMI 19,8- 11,5 -16


26)

Tinggi (BMI >26- 7 - 11,5


29)

Obesitas (BMI <7


>29)

Pada umunya penambahan berat badan ibu yang kurang dapat


digunakan sebagai tanda dangguan pertumbuhan janin dalam rahin.
Pertambahan berat badan yang berlebihan dapat disebabkan oleh
kehamilan kembar atau retensi air yang berlebihan.
Tekanan darah ibu
Pemeriksaan tekanan darah dilakukan untuk mengantisipasi adanya
hipertensi dalam kehamilan (preeklampsi / eklampsi).
Tinggi fundus uteri
Tinggi fundus uteri mulai dapat ditentukan mulai minggu ke-12.
Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan pita sentimeter
dari simfisis pubis ke puncak fundus uteri. Tinggi fundus uteri dapat
digunakan untuk menentukan taksiran berat badan anak dan juga
usia kehamilan.
Bunyi jantung anak
Dari bunyi jantung anak kita dapat mengetahui keadaannya. Anak
yang sehat memiliki bunyi jantung yang teratur dan frekuensinya
antara 120-140 per menit. Jika bunyi jantung anak kurang dari
120/menit atau lebih dari 160/menit atau tidak teratur, maka anak
dalam keadaan asfiksia (kekurangan O2). Pada waktu persalinan
penting sekali untuk tidak hanya mendengarkan ada atau tidaknya
bunyi jantung, tetapi juga menentukan sifatnya (cepat, lambat,
tidak teratur). Cara menghitung bunyi jantung dapat dengan
menghitung selama 1 menit atau dengan mendengarkannya 3x5
detik lalu dijumlah dan dikalikan 4.
Edema
Edema sering timbul pada kaki dan tungkai bawah. Harus selalu
diperiksa apakah edema tersebut disebabkan karena preeklampsi /
eklampsi. Apabila disebabkan karena tekanan dari uterus yang
membesar pada vena-vena panggul, maka akan hilang dengan
istirahat (terlihat jelas pada malam hari dan hilang pada pagi hari)
Ukuran dan posisi janin
Pemeriksaan manual dari ukuran janin dan posisi janin dapat
diperiksa pada minggu ke 26. Pada usia kehamilan awal, letak janin
dapat bermacam-macam, namun apabila letak janin masih tidak
benar pada usia kehamilan lanjut, maka dicurigai adanya letak
plasenta yang abnormal, anomali uterus, dll. Jika keadaan ini masih
menetap hingga usia kehamilan 37 minggu maka dapat dicoba
untuk melakukan versi luar

b. Intervensi dalam ANC

1. Pemberian Tetanus Toxoid

Tujuan pemberian TT adalah untuk melindungi janin dari tetanus


neonatorum, pemberian TT baru menimbulkan efek
perlindungan bila diberikan sekurang-kurangnya 2 kali dengan
interval minimal 4 minggu, kecuali bila sebelumnya ibu telah
mendapatkan TT 2 kali pada kehamilan yang lalu atau pada
masa calon pengantin, maka TT cukup diberikan satu kali (TT
ulang). Untuk menjaga efektifitas vaksin perlu diperhatikan cara
penyimpanan serta dosis pemberian yang tepat.

Dosis dan pemberian 0,5 cc pada lengan atas

Jadwal pemberian TT
2. Pemberian Vitamin Zat Besi

Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan


Fe pada ibu hamil dan nifas karena pada masa kehamilan dan
nifas kebutuhan meningkat.

Di mulai dengan memberikan satu sehari sesegera mungkin


setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 Mg
(zat besi 60 Mg) dan Asam Folat 500 Mg, minimal masing-masing
90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak di minum bersama teh
atau kopi, karena mengganggu penyerapan. (Saifudin, 2002)

c. Konseling
Tanda-tanda bahaya dalam kehamilan
Sebaiknya ibu hamil diberitahukan tanda-tanda bahaya dalam
kehamilan dimana apabila ibu menemukan tanda-tanda seperti
berikut maka harus segera dibawa ke dokter:
o perdarahan dari jalan lahir
o keluar cairan banyak dari vagina
o nyeri kram pada perut dengan kontraksi lebih dari enam kali
dalam 1 jam.
o Nyeri abdominal
o Demam dan menggigil
o Muntah hebat
o Sakit kepala yang terus-menerus, perubahan visual, dan edema
generalisata.
o Penurunan frekuensi dan intensitas gerak anak.

Tanda-tanda persalinan
Ibu juga perlu diberitahukan mengenai tanda-tanda inpartu (tanda
mulainya persalinan) yaitu:
o his yang teratur dan semakin sering, disertai nyeri yang mulai
terasa di pinggang dan menjalar ke perut
o apabila dibawa berjalan maka nyeri akan lebih sering timbul
o keluar lender bercampur darah dari vagina
o keluar cairan banyak dari vagina

Psikologis
Masa kehamilan hendaknya merupakan masa bahagia menanti
kedatangan anak. Pengertian terhadap keadaan calon ibu dan
keluarganya terutama suami sangat diperlukan. Persoalan yang
paling sering dijumpai adalah perasaan takut dan penolakan ibu
terhadap kehamilan
Perasaan takut timbul karena kehamilan menyebabkan perubahan
yang besar pada badan ibu namun ibu kurang mengerti sehingga
menggelisahkan ibu. Perubahan tersebut seperti perut yang
membesar, terasa pergerakan dalam perut, timbul hiperpigmentasi,
striae, kolostrum, takut akan timbulnya penyulit, dll. Lingkungan
rumah sakit yang asing juga dapat menimbulkan perasaan takut bagi
ibu.
Takut dalam kehamilan dapat bermanifestasi sebahagi hiperemesis,
kurang tidur, his berlebihan yang dapat berkembang menjadi spasme
otot.
Penolakan anak yang dikandung dapat karena ibu belum menikah
atau memberatkan ekonomi keluarga. Hal tersebut dapat mengarah
ke abortus provokatus yang mungkin membahayakan jiwa ibu.
Untuk mengatasi keadaan tersebut maka ibu harus diberi penerangan
dan pengertian mengenai kehamilan, serta perkenalan dengan
lingkungan rumah sakit dimana ibu akan melahirkan. Selain itu
keluarga pasien juga harus dimotivasi untuk memperhatikan dan
memberikan kasih sayang pada ibu. Disarankan juga untuk ibu tetap
beraktivitas dan melakukan kesibukannya sehingga ibu tidak terlalu
banyak melamun dan berfikir negatif.

Nutrisi
Makanan wanita hamil harus lebih diperhatikan daripada diluar
kehamilan karena dipergunakan untuk:
o mempertahankan kesehatan dan kekuatan tubuh
o tumbuhnya janin
o penyembuhan luka-luka persalinan
o cadangan untuk masa laktasi
Kebutuhan beberapa zat yang penting pada wanita yang belum
hamil, wanita hamil dan wanita menyusui adalah:

Tidak Hamil Laktas


Hamil i
Kalori 2500 2500 3000

Protein (g) 60 85 100

Kalsium (g) 0,8 1,5 2

Besi (mg) 12 15 15

Vit A (IU) 5000 6000 8000

Vit B (mg) 1,5 1,8 2,3

Vit C (mg) 70 100 150

Riboflavin 2,2 2,5 3


(mg)

As. Nikotin 15 18 23
(mg)

Vit D (IU) + 4000- 400-


8000 800

Pada umumnya jumlah kalori dalam kehamilan tidak usah


ditambah,malahan jika berat badan pasien terlalu meningkat harus
dikurangi. Memang pada kehamilan tua metabolisme bertambah,
namun diimbangi dengan aktivitas yang berkurang.

Olahraga
Olahraga dalam intensitas sedang tetap dapat dilakukan selama
kehamilan. Olahraga yang berbahaya (seperti berkuda) dan
menimbulkan stress fisik sebaiknya dihindari. Tidak ada penelitian
yang menunjukkan bahwa wanita hamil harus menurunkan intensitas
berolahraga. Wanita yang sudah terbiasa berolahraga dari sebelum
hamil bisa tetap meneruskan berolahraga pada saat hamil. Walaupun
demikian, perubahan fisiologis pada wanita hamil dapat membatasi
kemampuan tubuh untuk melakukan olahraga tertentu. Keadaan ibu
yang merupakan kontraindikasi relatif bagi ibu untuk melakukan
olahraga adalah:
o adanya tanda-tanda IUGR
o perdarahan per-vaginam yang persisten
o resiko persalinan prematur
o ketuban pecah dini
o hipertensi pada kehamilan
o menderita penyakit kronis yang dapat diperburuk oleh olahraga
berat

Hubungan Seksual
Ada dugaan bahwa koitus dapat menyebabkan terjadinya aborsi pada
kehamilan muda. Apabila terjadi kram atau ditemukan flek setelah
koitus, sebaiknya koitus dihindari terlebih dahulu. Pada wanita yang
mudah keguguran juga sebaiknya menghindari koitus pada saat hamil
muda..
Koitus pada akhir kehamilan juga sebaiknya dihindari karena dapat
menimbulkan infeksi pada persalinan nifas dan dapat pula
memecahkan ketuban pada kehamilan multipara. Selain itu, ada pula
penelitian yang menyatakan bahwa koitus pada akhir kehamilan
dapat memicu persalinan karena prostaglandin yang terkandung
dalam sperma dan karena orgasme yang dapat menimbulkan
kontraksi uterus.

Bepergian
Wanita hamil boleh bepergian seperti biasanya. Namun apabila
memerlukan duduk yang cukup lama, sebaiknya ibu meluruskan kaki
atau berjalan-jalan selama 10 menit tiap 2 jam untuk menghindari
terjadinya trombosis yang merupakan akibat sekunder dari kompresi
mekanik dari aliran darah vena ekstrimitas.. Edema juga dapat terjadi
bila ibu terlalu lama duduk.

Bekerja
Wanita hamil boleh tetap melakukan perkerjaan sehari-hari asal
bersifat ringan. Sebaiknya ibu hamil tidak melakukan pekerjaan yang
mengharuskan untuk berdiri selama lebih dari 5 jam karena menurut
penelitian dapat meningkatkan resiko kelahiran prematur. Pekerjaan
yang mengharuskan ibu untuk mengangkat benda-benda berat juga
sebaiknya dihindari.
Di Indonesia, wanita hamil diberikan cuti hamil selama 3 bulan yaitu
1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan setelah persalinan.

Imunisasi
Imunisasi menggunakan vaksin yang mengandung virus hidup yang
dilemahkan merupakan kontraindikasi untuk ibu hamil. Sebaiknya ibu
mendapatkan imunisasi difteri dan tetanus pada kehamilan apabila
ada kemungkinan untuk terpapar. Vaksin hepatitis B dan vaksin
influenza dapat diberikan pada ibu hamil yang beresiko tinggi

d. Keluhan yang Dirasakan


Sakit kepala
Sakit kepala biasanya timbul pada trimester pertama dalam
kehamilan dan sukar menentukan sebabnya. Pada pertengahan
kehamilan, sakit kepala dapat hilang ataupun berkurang
intensitasnya. Sakit kepala pada trimester terakhir dapat
merupakan gejala preeklampsi.
Ptyalism
Ptyalism adalah peningkatan produksi saliva yang kemungkinan
disebabkan karena konsumsi karbohidrat yang berlebihan.
Pengurangan konsumsi karbohidrat dapatmembantu mengurangi
gejala, dan biasanya keadaan ini dapat hilang dengan sendirinya.
Pica
Pica adalah keinginan untuk mengkonsumsi bahan-bahan yang tidak
memiliki nilai gizi (contoh: tanah liat). Bahaya dari pica adalah
kurangnya gizi ibu hamil karena ibu lebih memilih untuk
mengkonsumsi makanan yang tidak memiliki nilai gizi dibandingkan
dengan makanan yang bergizi. Oleh karena itu harus diberikan
penjelasan kepada ibu mengenai nutrisi yang diperlukan selama
kehamilan.
Nyeri Payudara
Pembesaran fisiologis dari payudara dapat menimbulkan perasaan
tidak nyaman, terutama pada awal dan akhir kehamilan. Tidak
diperlukan terapi hormonal.
Mual muntah
Mual dan muntah yang hilang timbul biasanya muncul pada
trimester pertama dalam kehamilan. Walaupun keadaan ini sering
dikenal sebagai morning sickness, namun perasaan mual dan
muntah dapat pula dirasakan sepanjang hari. Gejala biasanya mulai
timbul pada minggu ke-6 hingga 8, dengan puncaknya pada minggu
ke-12 sampai 14, dan biasanya hilang pada usia kehamilan 22
minggu.
Etiologinya belum jelas. Gejala yang diderita dapat ringan sampai
berat sehingga dapat mengakibatkan terjadinya dehidrasi dan
terjadinya ketidakseimbangan elektrolit. Untuk mengurangi
perasaan mual sebaiknya dihindari makanan yang berlemak dan
pedas. Sebaiknya ibu makan dalam porsi yang sedikit namun sering,
selain itu dianjurkan juga untuk banyak beristirahat.
Pada keadaan muntah-muntah yang berlebihan dapat diberikan
obat-obatan seperti piridosin, antihistamin, metoclopramid,
trimethobenzamid, metilprednisolon dan droperidol
Nyeri epigastrium
Nyeri epigastrium biasanya disebabkan oleh refluks esofagitis yang
terjadi akitat faktor mekanik ataupun hormonal (hormon
progesteron menyebabkan relaksasi sfingter esophageal). Keadaan
ini dapat diatasi dengan mengurangi konsumsi makanan yang asam
dan pedas, mengurangi jumlah makanan dan minuman dalam tiap
kali makan, mengurangi makan dan minum sebelum tidur, tidur
dengan posisi semi-Fowler, dan penggunaan antasida. Hati-hati
dengan penggunaan antasida yang mengandung alumunium karena
dapat menyebabkan terjadinya konstipasi
Sakit pinggang
Sebagian besar disebabkan karena perubahan sikap badan pada
kehamilan yang lanjut kerena titik berat badan pindah ke depan
disebabkan perut yang membesar. Keadaan ini diimbangi dengan
lordosis yang berlebihan dan sikap ini dapat menimbulkan spasme
dari otot-otot pinggang. Nyeri semacam ini dapat diringankan
dengan pemberian analgesik.
Sebagian dapat pula disebabkan karena melonggarnya sendi-sendi
panggul seperti simfisis dan articulatio sacroiliaca atas pengaruh
hormon-hormon kehamilan. Keadaan ini dapat diperingan dengan
istirahat dan pemakaian korset.
Keputihan
Peningkatan cairan vagina merupakan keadaan yang fisiologis
selama kehamilan. Namun keputihan yang disertai dengan perasaan
gatal atau terbakar serta berbau harus dicurigai adanya infeksi
gonokokus, trichomonas vaginalis, atau candida albicans.
Gonokokus menyebabkan keputihan seperti nanah, trichomonas
menyebabkan keputihan yang berbuih, sedangkan candida albicans
menyebabkan keputihan berupa gumpalan putih atau kuning yang
disertai rasa gatal.
Buang air kecil yang terlalu sering
Ibu hamil biasanya mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil
pada 3 bulan pertama kehamilan yang disebabkan karena
penekanan kandung kemih oleh uterus yang membesar. Selain itu,
keadaan ini juga dialami pada minggu-minggu terakhir kehamilan
yang disebabkan karena penekanan kandung kemih oleh kepala
janin yang turun ke dalam panggul. Apabila ditemukan disuria
ataupun hematuria maka pasien harus diperiksa untuk menentukan
kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih.
Konstipasi
Peningkatan kadar progesterone pada saat kehamilan menyebabkan
relaksasi otot polos sehingga menurunkan gerak peristaltik. Hal ini
dapat diatasi dengan meningkatkan konsumsi makanan yang
berserat dan memperbanyak konsumsi air.
Varises dan haemorrhoid
Timbulnya varises dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan, berdiri
lama dan usia. Dalam kehamilan, kondisi ini diperberat oleh faktor
hormonal (progesteron) dan bendungan dalam panggul. Pada waktu
istirahat sebaiknya kaki ditinggikan, sebaiknya juga ibu
menggunakan kaos kaki panjang yang elastis.
Haemorrhoid (varises dari vena rektal) disebabkan karena
penekanan mekanik pembuluh darah oleh uterus yang membesar.
Selain itu konstipasi juga dapat menimbulkan terjadinya
haemorrhoid. Haemorrhoid yang mengalami perdarahan banyak
perlu dilakukan operasi.
Perubahan pada kulit
Terdapat perubahan warna kulit menjadi lebih gelap pada wajah
(chloasma gravidarum) dan abdomen (pada garis ventral median).
Edema
Edema sering timbul pada kaki dan tungkai bawah. Biasanya edema
disebabkan karena terkanan dari uterus yang membesar pada vena-
vena panggul dan biasanya dapat hilang setelah istirahat dengan
meninggikan kaki saat tidur (nyata pada malam hari dan hilang
pada pagi hari). Namun harus juga dipertimbangkan apakah edema
yang terjadi disebabkan karena preeklampsi
Kram pada Kaki
Hampir seluruh wanita hamil pernah mengalami kram pada otot
kaki. Kram biasanya dirasakan pada malam hari dan biasanya
muncul pada trimester ketiga. Kram kaki pada saat kehamilan
biasanya disebabkan oleh berkurangnya kadar kalsium dalam serum
atau karena meningkatnya kadar fosfat dalam serum. Salah satu
tindakan yang dilakukan adalah dengan membatasi asupan fosfat
dan meningkatkan asupan kalsium (konsumsi kalsium dalam bentuk
kalsium karbonat atau tablet kalsium laktat). Pengobatan
simptomatis dapat dengan pemijatan kaki, stretching, dan kompres
hangat
Perubahan emosional
Perubahan hormonal, hubungan dengan lingkungan, dan perubahan
bentuk tubuh akan meningkatkan stress psikologi