Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL KERJA PRAKTEK MAHASISWA TEKNIK PERTAMBANGAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


Strategi Pengembangan Pertambangan Rakyat Di Wilayah Provinsi Aceh Sesuai
UU Minerba Tahun 2009

Oleh

RAHMAD EVENDI
1304108010002

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS STIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
DAFTAR ISI

I. LATAR BELAKANG KEGIATAN...............................................................2


II. LANDASAN TEORI...............................................................................3
III. MAKSUD DAN TUJUAN.........................................................................9
IV. RUMUSAN MASALAH..........................................................................9
V. JADWAL KERJA PRAKTEK..................................................................14
V. METODOLOGI....................................................................................14
VI. PESERTA............................................................................................15
VII. PENUTUP...........................................................................................15

I. LATAR BELAKANG KEGIATAN


2
Untuk menyelesaikan pendidikan pada jenjang strata-1 (S-1),mahasiswa Jurusan
Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala harus memenuhi berbagai
persyaratan dan salah satu diantaranya adalah melaksanakan Kerja Praktek (KP), dimana
Kerja Praktek (KP) merupakan bagian dari kurikulum perkuliahan.
Pada hakikatnya Kerja Praktek sangat menguntungkan dan berguna bagi
mahasiswa karena dengan program ini mahasiswa berkesempatan untuk mengamati,
mempelajari dan mengaplikasikan secara langsung ilmu-ilmu dan teori dari kuliah
dengan dibimbing langsung oleh pembimbing tempat kerja praktek. Dalam era industri
dan teknologi yang sudah maju ini, mahasiswa yang merupakan salah satu sumber daya
manusia secara otomatis dituntut untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan
skill terhadap penguasaan teknologi, terutama bagi mahasiswa Jurusan Teknik
Pertambangan sesuai dengan bidang ilmunya yakni tentang konsepsi wilayah
pertambangan. Maka untuk mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuan itu semua
tidaklah cukup dengan teori semata namun dengan turun langsung ke badan
pemerintahan Dinas Pertambangan dan Energi sehingga mahasiswa dapat mendapatkan
pengetahuan lebih tentang strategi pengembangan pertambangan rakyat di Provinsi Aceh
yang sesuai dengan UU Minerba Tahun 2009.
Dalam kerja praktek ini, diharapkan mahasiswa dapat mendapatkan gambaran
dalam penerapan penerapan strategi yang efektif untuk pengembangan pertambangan
rakyat di Provinsi Aceh. Selain itu juga diharapkan kerja praktek ini dapat menjadi bekal
dan pengalaman bagi mahasiswa untuk terjun ke lapangan kerja sesuai dengan disiplin
ilmu yang telah di dapat di Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas
Syiah Kuala.
Untuk melaksanakan kerja praktek yang dimaksud di atas sesuai dengan disiplin
ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan, maka saya memilih Dinas
Pertambangan dan Energi Aceh.

II. LANDASAN TEORI

3
Istilah Pertambangan Rakyat (PR) digunakan untuk kegiatan pertambangan yang
dilakukan oleh masyarakat secara legal dan formal dan mengacu pada ketentuan-
ketentuan atau peraturan yang ada. Dalam konteks tersebut, UU Minerba No. 4 Tahun
2009, yang merupakan pengganti UU No.11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan, memberikan porsi yang cukup banyak untuk pengaturan PR.
Setidaknya terdapat 32 pasal yang menyinggung secara langsung dan terkait dengan
pertambangan rakyat dari semua pasal yang terdapat dalam UU ini. Jumlah ini jelas jauh
lebih signifikan dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya yang hanya memuat
satu pasal saja, yaitu tentang batasan pengertian PR. Namun demikian, banyaknya jumlah
pasal yang memberikan perhatian kepada PR tidak otomatis menjamin pasal-pasal
tersebut dapat dioperasionalkan atau diterjemahkan langsung ke dalam peraturan daerah
untuk dilaksanakan.

Secara umum PR dalam UU Minerba tahun 2009 digambarkan sebagai suatu


kegiatan yang berkesan tidak ada bedanya dengan pertambangan yang dilakukan oleh
perusahaan. Kegiatan pertambangan tersebut hanya berbeda dalam skala luas wilayah dan
investasi. Akibatnya dapat ditafsirkan bahwa aktivitas PR menurut UU ini, diperlakukan
sebagai bagian dari aktivitas pertambangan pada umumnya, yaitu suatu rangkaian
kegiatan yang dimulai dengan penyelidikan umum, ekplorasi, eksploitasi hingga
penjualan. Padahal bila diperhatikan karakteristik kegiatan masyarakat yang melakukan
penambangan, maka akan terlihat bahwa lingkungan dan kondisinya sangat berbeda
sehingga akan sangat sulit diatur dengan cara dan pola sebagaimana suatu perusahaan
pertambangan.

Menyitir hasil penelitian tim LIPI sebelumnya, bahwa masyarakat yang


melakukan penambangan cenderung memiliki mobilitas yang tinggi dan pada umumnya
tidak berkelompok. Mereka cenderung bersifat individual, namun ketika mereka sampai
pada suatu wilayah, maka dengan cepat mereka dapat menyesuaikan diri untuk mencari
teman dan membentuk kelompok. Menariknya, ketika hasil galiannya terlihat
menjanjikan, maka tidak lama kemudian teman-teman sekampungnya akan menyusul,
biasanya dalam jumlah besar dan membentuk kelompok-kelompok sendiri. Pada
umumnya identitas daerah asalnya akan tetap dibawa, tetapi tidak membuat mereka

4
saling mengganggu satu dengan yang lain, karena interaksi yang dibangun biasanya
hanya dalam kelompoknya. Apabila hasil yang mereka peroleh tidak lagi cukup
memadai, maka mereka dengan mudah pula pergi berpindah mencari tempat lain. Kondisi
ini dapat terjadi, karena mereka selalu melakukan kegiatan penambangan secara ilegal,
tanpa izin dan tanggungjawab hukum sebagaimana layaknya sebuah aktifitas
pertambangan. Sifat kegiatan mereka yang ilegal tersebut tidak dapat dihindari karena
mereka tidak memiliki modal ekonomi dan keahlian yang dibutuhkan untuk menjalankan
suatu usaha pertambangan. Oleh karena itu, dengan karakter masyarakat penambang yang
seperti itu, maka akan sulit menerapkan aturan penambangan yang digunakan untuk
perusahaan terhadap PR.

Selain yang telah diuraikan di atas, hal penting lainnya yang perlu dicermati
adalah kenyataan bahwa ternyata tidak ada satu pasal pun dalam UU Minerba 2009 yang
menjelaskan batasan atau pengertian tentang PR. Dengan demikian, dapat
diinterpretasikan bahwa batasan tentang PR tersebut masih mengacu kepada peraturan
sebelumnya, yakni UU no. 11 tahun 1967 ataupun Peraturan Menteri (PerMen)
Pertambangan dan Energi (Tamben) tahun 1986 yang memuat batasan tentang PR.
Walaupun batasan tersebut juga tidak cukup menjelaskan tentang pengaturan kegiatan
pertambangan yang dilakukan oleh rakyat, namun setidaknya terdapat pengertian atau
batasan dari kegiatan tersebut, yaitu:

Pertambangan Rakyat adalah suatu usaha pertambangan bahan-bahan galian


dari semua golongan a,b,c yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-
kecilan atau secara gotong royong dengan alat sederhana untuk mata pencaharian
sendiri.

Sementara itu, dalam PerMen Tamben No. 01P/201/M.PE/1986 sudah terdapat


penekanan siapa pelaku penambangan tersebut yaitu dengan tambahan kalimat yang
berbunyi

yang dilakukan oleh rakyat setempat yang bertempat tinggal di daerah


bersangkutan.

5
Batasan pengertian tersebut setidaknya akan memudahkan dalam pengelompokan
masyarakat yang dapat dimasukkan kedalam batasan PR. Di samping itu, batasan tersebut
juga memberikan kemudahan kepada pemerintah daerah dalam penataan mobilitas
penduduk.

Bila diteliti dari kasus-kasus konflik di kawasan pertambangan, seperti di Bangka-


Belitung, Kalimantan maupun di Maluku Utara, keterlibatan masyarakat yang melakukan
aktivitas penambangan dalam situasi konflik, sepertinya tidak dapat dilepaskan dari
ketidakjelasan batasan pengertian PR tersebut. Akibatnya segala kegiatan penggalian
yang dilakukan oleh masyarakat, dengan alat sederhana ataupun alat berat di suatu
wilayah tertentu dapat dipersepsikan sebagai PR. Selain itu, ketidakjelasan batasan
tentang asal masyarakat pelaku penambangan juga akan turut mempengaruhi kondisi
demografi, sosial budaya dan ekonomi suatu wilayah.

Batasan ini menjadi penting, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku hasil
penelitian tim LIPI yang berjudul

Dinamika dan Peran Pertambangan Rakyat di Indonesia, karena karakteristik


masyarakat yang melakukan penambangan secara turun temurun dan berpindah-pindah
perlu untuk dipahami dan dicarikan jalan keluarnya. Mobilitas mereka pada
kenyataannya memicu terjadinya mobilitas secara masiv pada masyarakat non
penambang, yang pada umumnya petani atau pengangguran untuk ikut mengadu nasib di
kawasan penambangan yang dikerjakan masyarakat. Dengan adanya batasan kebutuhan
sendiri, dengan peralatan sederhana dan masyarakat lokal, maka sedikit banyak dapat
membatasi besarnya mobilitas penduduk di suatu wilayah yang dari banyak kasus
menunjukkan sebagai penyebab terjadinya gesekan sosial ekonomi yang berpotensi
menjadi konflik horizontal.

Meskipun dalam pasal 3 ayat e pada UU Minerba tersebut juga ditekankan bahwa
dalam rangka mendukung pembangunan nasional, pengelolaan mineral dan batubara juga
ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, serta menciptakan lapangan
6
kerja dan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat, namun klausul tersebut
adalah suatu pernyataan umum bagi seluruh pertambangan yang dikelola di Indonesia,
dan bukan khusus untuk PR.

UU Minerba dan peraturan turunannya tersebut tidak lagi membagi komoditi


berdasarkan golongan kepentingan negara, yaitu golongan A (strategis), golongan B
(vital) dan golongan C (mineral industri), tetapi lebih didasarkan pada jenis komoditinya
dalam usaha pertambangan. Dalam pasal 34 disebutkan bahwa usaha pertambangan
dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan batubara. Sedangkan pertambangan
mineral sendiri masih dibagi menjadi 4 jenis yaitu: mineral radioaktif, mineral logam,
mineral bukan logam dan batuan. Untuk usaha PR, yang dulunya dimasukkan pada
golongan A, B maupun C, maka dengan pengelompokan baru ini seperti yang tertuang
dalam pasal 66 disebutkan bahwa kegiatan PR dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pertambangan mineral logam

2. Pertambangan mineral bukan logam

3. Pertambangan batuan, dan/atau

4. Pertambangan batubara

Namun sayangnya pengelompokkan tersebut ternyata tidak cukup diterjemahkan


dalam PP sebagai peraturan turunannya, sehingga tidak cukup memberi arti dalam
penataan kegiatan penambangan yang dilakukan dalam skala PR.

Usaha PR dapat dilaksanakan bila telah memiliki Izin Pertambangan Rakyat


(IPR). Pihak yang berhak memberikan IPR, dalam pasal 67 ayat 1 pada UU Minerba No.
4/2009 dan peraturan turunannya PP No. 23/2010, disebutkan:

Bupati/Walikota memberikan IPR terutama kepada penduduk setempat, baik


perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi. Penekanan pemberian
IPR terutama kepada penduduk setempat, adalah suatu cara yang penting untuk
mencegah terjadinya mobilitas besar-besaran pada suatu wilayah, seperti yang terjadi
sekarang ini di banyak wilayah penambangan yang dilakukan oleh masyarakat. Namun
7
demikian, karena pasal tersebut menyebutkan terutama kepada penduduk setempat
maka dapat diartikan masih memberi peluang kepada bukan penduduk setempat. Peluang
ini yang harus diatur lebih lanjut dalam kebijakan dan peraturan turunannya di tingkat
pusat maupun daerah, sebab bila tidak ada kejelasan dan ketegasan, maka persoalan
penduduk setempat dan non setempat akan terus berulang.

Dalam operasional penerbitan IPR tersebut disebutkan dalam ayat 2 UU Minerba


pada pasal yang sama, bahwa kewenangan pelaksanaan pemberian IPR dapat
dilimpahkan kepada Camat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun
pada ayat 3 ditekankan bahwa pemohon IPR tetap wajib membuat surat permohonannya
kepada Bupati/Walikota. Adapun pada pasal 68 dijelaskan IPR diberikan untuk jangka
waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang. Kewenangan tersebut terkait
dengan berbagai kewajiban pemerintah seperti yang tertuang dalam pasal 73, 139, 140,
142, 143, yang secara ringkas isinya adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan pembinaan dan pengawasan di bidang pengusahaan, teknologi


pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam usaha meningkatkan
kemampuan usaha PR. Pembinaan yang dilakukan terhadap pemegang IPR yaitu:

a. Memberikan pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha


pertambangan;

b. Pemberian bimbingan, supervisi dan konsultasi;

c. Pendidikan dan latihan;

d. Perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan dan evaluasi


pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan.

2. Wajib mencatat hasil produksi dari seluruh kegiatan dan melaporkan secara
berkala kepada Menteri dan Gubernur setempat, setidaknya 6 bulan sekali.

3. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab terhadap pengamanan teknis dan


pengawasan pada usaha PR yang meliputi:

8
a. Keselamatan dan kesehatan kerja;

b. Pengelolaan lingkungan hidup; dan

c. Pasca tambang

4. Untuk memudahkan pelaksanaan kewajiban dan tanggungjawab tersebut, maka


suatu kabupaten/kota wajib mengangkat pejabat fungsional inspektur tambang,
sebagaimana ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

III. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Untuk mendapatkan pengalaman kerja dan penerapan antar ilmu yang diajarkan
dengan kenyataan di dunia kerja.
2. Memberikan latihan dan kesiapan pada mahasiswa untuk menemukan suatu "problem
statement" dan solusinya di lapangan kerja.
3. Sebagai suatu bentuk kerjasama efektif antar mahasiswa pertambangan dengan badan
pemerintahan khususnya di Dinas Pertambangan dan Energi.
4. Merancang pola pikir pada mahasiswa tentang kondisi dunia pertambangan yang
semestinya dan masalah-masalah yang terjadi di lapangan kerja.

IV. RUMUSAN MASALAH


Terminologi PR hanya dikenal di Indonesia dan tidak digunakan dalam lingkup
regional apalagi global. Di dunia internasional, kegiatan pertambangan rakyat
diekspresikan dengan sebutan artisanal (pendulangan) dan atau Small Scale Mining
(SSM atau TSK). Kedua peristilahan tersebut pada dasarnya juga tidak berada pada level
atau hirarki pengertian yang sama, karena artisanal hanya menunjukkan sebuah kegiatan
secara deskriptif yakni suatu aktivitas pendulangan tanpa adanya gambaran informasi
lainnya tentang siapa yang melakukannya, bagaimana dan dimana melakukannya,
prosedur dan peralatan yang digunakan, apalagi tentang organisasi dan mekanisme yang
mengatur kegiatan tersebut. Sementara itu, istilah SSM atau TSK memiliki pengertian
yang melekat padanya sebagai sebuah kegiatan penambangan yang memenuhi kaidah-
kaidah penambangan yang baik dan benar dan dalam skala yang terbatas atau kecil, baik
dalam modal yang dimiliki, jumlah tenaga kerja yang terlibat maupun jumlah produksi
yang dihasilkan. Kegiatan SSM atau TSK ini diatur dengan jelas dan rinci dalam

9
peraturan perundang-undangan di negara-negara lain, seperti di Zimbabwe, Afrika
Selatan, Bolivia dan Filipina. Sedangkan di Indonesia, aturan-aturan yang diterbitkan
tentang kegiatan TSK tersebut masih belum ada, walaupun istilah TSK tersebut telah
diperkenalkan sejak tahun 1986 namun belum diakomodir secara spesifik dalam berbagai
peraturan perundang-undangan yang sudah diterbitkan hingga saat ini.
Terminologi PR ini juga sesungguhnya keluar dari aturan umum tata bahasa
Indonesia karena bila dianalogikan dengan kata pertambangan emas yang berarti aktivitas
penambangan untuk memperoleh emas, maka pertambangan rakyat bukan berarti
aktivitas penambangan untuk memperoleh rakyat tetapi bermakna aktivitas penambangan
yang dilakukan oleh rakyat. Dalam hal ini, terminologi PR tersebut merupakan sebuah
idiom, atau sebuah terminologi yang keluar dari ketentuan bahasa yang umum.

Di kalangan masyarakat luas, seringkali terjadi pemahaman yang bias tentang PR.
Pertambangan Rakyat yang bersifat legal dan memiliki sejumlah hak dan kewajiban
dalam kegiatannya, seringkali disamakan dengan kegiatan rakyat yang menambang
walaupun berstatus ilegal, karena hanya dilihat pelakunya saja, yaitu rakyat. Lebih jauh
lagi, karena sifat kegiatan masyarakat tersebut itu ilegal, maka seringkali PR juga
disamakan dengan kegiatan masyarakat yang sering dikenal dengan sebutan
Penambangan Tanpa Ijin (PETI). Namun kemudian, terjadi distorsi pengertian dalam
terminologi PETI itu sendiri ketika istilah tersebut lebih ditekankan pada aspek ilegalnya
tanpa melihat siapa pelakunya, apa teknologi yang dipergunakan dan berapa besarnya
modal yang ditanamkan. Akibatnya, istilah PETI tidak lagi identik dengan kegiatan
masyarakat yang menambang tanpa izin, tetapi digunakan untuk semua kegiatan
penambangan yang dilakukan tanpa izin oleh siapapun.
Pertambangan Rakyat yang sebenarnya, seperti yang tercantum dalam UU No.11
tahun 1967, didefinisikan sebagai suatu kegiatan penggalian atau penambangan yang
dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan peralatan atau teknologi sederhana
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lebih tepatnya pada pasal 2 UU tersebut di
atas disebutkan:
yang dimaksud dengan Pertambangan Rakyat adalah suatu usaha
pertambangan bahan-bahan galian dari semua golongan A,B dan C yang
10
dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan atau secara gotong royong
dengan alat sederhana untuk pencaharian sendiri.
Analisis Dampak Teknik Penambangan Rakyat
Dampak yang dimaksud disini lebih ditekankan pada dampak lingkungan karena
pemilihan teknik penambangan akan menetukan dampak seperti apa yang akan
ditanggung oleh lingkungan tersebut.
Tipologi penambangan dengan cara pendulangan ini berdampak pada terjadinya
pemborosan sumber daya tambang karena kurang efisien, terutama untuk menangkap
emas yang berbutir halus. Dulang sesungguhnya hanya cocok digunakan untuk pekerjaan
yang berhubungan dengan prospecting (yakni, pencarian emas dalam tahap penyelidikan
umum), proses cleaning terhadap konsentrat hasil roughing, atau untuk mengeksploitasi
cebakan eluvial yang kaya akan emas berbutir kasar dan/atau cebakan emas letakan yang
lokasinya memang benar-benar terisolasi.
Pendulangan di sungai tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup
berarti, karena tidak dilakukan penggalian dan secara fisik hanya menyebabkan
penurunan kualitas air berupa meningkatnya kekeruhan air. Namun ketika ribuan
pendulang tinggal di sekitar sungai maka dampak penambangan yang ditimbulkan
menjadi signifikan. Hal ini terjadi karena mereka mulai melakukan penggalian di
bantaran sungai dan bahkan hingga ke kaki bukit untuk mendapatkan material yang akan
didulang. Ampas dari pendulangan itu mereka biarkan berserakan di daerah aliran sungai
sehingga ekosistem sungai menjadi rusak dan bahkan seringkali sangat sulit untuk
mengidentifikasi badan sungai asalnya.
Tipologi 2 ini masih menekankan pada proses pendulangan sebagai cara
memisahkan emas dari material pengotornya, namun material umpan pendulangan
tersebut tidak lagi diambil dari sungai melainkan diperoleh dengan melakukan penggalian
sumuran atau paritan. Mereka membuat sumuran atau paritan mulai dari lokasi yang
masih dekat dengan sungai hingga agak jauh ke kaki bukit. Penggalian tersebut bertujuan
untuk memperoleh lapisan tanah yang diduga mengandung emas, yang selanjutnya
diangkut secara manual ke lokasi pengolahan untuk dilakukan pemisahan butiran emas
dari material pengotornya dengan cara pendulangan.

11
Dalam melakukan penggalian sumuran atau paritan tersebut, para penambang
tidak memiliki keahlian untuk menentukan dengan tepat lokasi yang mengandung emas,
sehingga seringkali lobang yang mereka gali tersebut tidak mengandung emas.
Akibatnya, hampir seluruh wilayah akti-vitas masyarakat tersebut telah penuh dengan
lobang-lobang galian.
Penerapan teknik penambangan tipologi 2 telah menimbulkan dampak lingkungan
yang sangat serius dan jauh lebih besar dari penerapan teknik penambangan tipologi 1.
Dapat dikatakan semua lahan di sekitar aliran sungai hingga ke punggungan bukit di
sekitarnya telah mengalami degradasi yang sangat parah karena tidak akan dapat
dimanfaatkan lagi bila tidak direhabilitasi terlebih dahulu. Bentang alam dari dataran atau
daerah landai yang tadinya sebagian merupakan perkebunan coklat masyarakat berubah
menjadi kumpulan lobang-lobang dengan tumpukan tanah-tanah di pinggirnya.
Sedangkan di tempat proses pendulangan, mereka membuang tailing pendulangan itu
secara acak sehingga aliran sungai tersebut tidak dapat lagi dikenali arah alirannya.
Secara konseptual tipologi penambangan tipe ketiga ini merupakan teknik
penambangan yang lazim dan ideal untuk digunakan dalam proses eksploitasi cebakan
emas letakan. Seperti dampak akibat teknik penambangan tipologi 2, penerapan teknik
penambangan ini juga menimbulkan kerusakan fisik lingkungan yang parah, karena akan
terbentuk lobang-lobang berdiameter cukup besar (bisa mencapai lebih dari 3 meter) pada
lokasi penyemprotan dengan kedalaman bervariasi (sangat tergantung dari kedalaman
lapisan pasir pembawa emas yang mereka cari atau sampai pada ditemukannya batuan
dasar/keras yang tidak lagi bisa disemprot). Sementara itu, pada lokasi dimana sluicebox
dioperasikan akan terjadi penumpukan kerikil-kerikil lepas dan aliran lumpur yang cukup
deras, sehingga mampu mengubah pola aliran sungai yang sudah ada. Aliran lumpur
tersebut tentu saja menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air permukaan atau air
sungai di lokasi tersebut, sehingga tidak akan dapat dimanfaatkan lagi untuk kebutuhan
sehari-hari. Selain itu, karena wilayah yang dipengaruhi oleh aliran lumpur tersebut
cukup luas, maka akan terjadi perubahan ekosistem sungai tersebut yang dapat berujung
pada punahnya biota-biota endemik tertentu dari wilayah tersebut.

12
Untuk melengkapi laporan kerja praktek mahasiswa akan melakukan studi literatur
mencari, mengumpulkan dan membaca dokumen-dokumen untuk memenuhi data
konsepsi wilayah pertambangan aceh, antara lain :
1. Gambaran umum wilayah secara geografis dan secara administratif yang meliputi
luas wilayah dan data geologi wilayah
2. Analisis potensi wilayah
3. Analisis wilayah pertambangan
Wilayah pertambangan yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau
informasi geologi selanjutnya dapat dijadikan wilayah usaha pertambangan (WUP)
yang ditetapkan oleh menteri. Adapun kriteria rencana penetapan WUP adalah
sebagai berikut :
a. Memiliki formasi batuan pembawa batubara, formasi batuan pembawa mineral
logam, dan/atau formasi batuan pembawa mineral radioaktif, termasuk wilayah
lepas pantai berdasarkan peta geologi;
b. Memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, mineral logam, batubara,
mineral bukan logam, dan/atau batuan;
c. Memiliki potensi sumber daya mineral atau batubara;
d. Memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral termasuk mineral ikutannya
dan/atau batubara;
e. Tidak tumpang tindih dengan WPR danlatau WPN;
f. Merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan
secara bekelanjutan; dan
g. Merupakan kawasan peruntukan pertarnbangan sesuai dengan rencana tata
ruang.
4. Data potensi sumber daya mineral

5. Konsepsi wilayah pertambangan di Provinsi Aceh


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2010, Wilayah Pertambangan atau WP
adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat
dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari rencana tata
ruang nasional. WP merupakan kawasan yang memiliki potensi mineral dan/atau
batubara, baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah, yang berada dalam
wilayah daratan atau wilayah laut untuk kegiatan pertambangan. Potensi mineral dan
batubara tersebut dapat berupa mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam,
batuan dan batubara.
13
Wilayah pertambangan yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau
informasi geologi selanjutnya dapat dijadikan wilayah usaha pertambangan (WUP) yang
ditetapkan oleh menteri. Adapun kriteria rencana penetapan WUP adalah sebagai berikut,

a. Memiliki formasi batuan pembawa batubara, formasi batuan pembawa mineral


logam, dan/atau formasi batuan pembawa mineral radioaktif, termasuk wilayah
lepas pantai berdasarkan peta geologi;
b. Memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, mineral logam, batubara,
mineral bukan logam, dan/atau batuan;
c. Memiliki potensi sumber daya mineral atau batubara;
d. Memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral termasuk mineral ikutannya dan/atau
batubara;
e. Tidak tumpang tindih dengan WPR danlatau WPN;

f. Merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan secara


bekelanjutan; dan
g. Merupakan kawasan peruntukan pertarnbangan sesuai dengan rencana tata ruang.

V. JADWAL KERJA PRAKTEK

Mahasiswa yang bersangkutan berharap waktu pelaksanaan kerja praktek di Dinas


Pertambangan dan Energi Aceh ini dapat dilaksankan bulan Mei-Juni 2017 dengan
kesepakatan dari Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Aceh.

V. METODOLOGI

a. Metodologi
Melakukan pengamatan langsung ke lapangan kerja dan mencatat hal-hal yang perlu.

b. Wawancara
Melakukan interaksi langsung dengan para pekerja dan menanyakan pertanyaan yang
diperlukan.

14
c. Studi Literatur
Mencari, mengumpulkan, dan membaca dokumen - dokumen yang berkaitan dengan
judul tugas. Dokumen tersebut dapat berupa buku, jurnal, dan laporan.

VI. PESERTA
Peserta kerja praktek ini adalah mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah
Kuala, yaitu;
Nama : Rahmad Evendi
NIM : 1304108010002
Email : mulkigempimalindo@gmail.com
No. Hp : 081372662935

Dosen Pebimbing
Nama : Dr. Abrar Muslim, ST. M.Sc
NIP : 197205251999031002
No Hp : 082161194913

VII. PENUTUP
Demikian proposal kerja praktek ini kami buat sebagai penjelasan dan pertimbangan bagi
semua pihak. Untuk itu kami berterima kasih dan mengharapkan bantuan dari semua
pihak, demi terselenggaranya kerja praktek ini.

Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan terima kasih.

Banda aceh, 11 April 2017


Hormat saya,

Mulki Gempi Malindo


NIM: 1304108010002

15
16