Anda di halaman 1dari 88

Universitas Indonesia - Magister Eksplorasi Geothermal

MK Geologi Geothermal

Surface Manifestations
(Kenampakan Permukaan)

Oleh: Untung Sumotarto


Manifestasi Geothermal
Manifestasi permukaan adalah segala bentuk, rupa, gejala,
dan aktifitas kebumian di permukaan yang mengindikasikan
kemungkinan adanya potensi panas bumi di daerah tsb.
Manifestasi permukaan sebuah sistem geothermal di su-
atu daerah volkanik biasanya merupakan kenampakan yang
pertama kali menstimulasi kegiatan eksplorasi.
Karena itu, pengenalan, pemetaan dan evaluasi kenampak-
an2 tsb penting dilakukan selama penyelidikan tahap kedua
atau studi prakelayakan, dimana potensi geothermal dieva-
luasi.
Tahap Prakelayakan juga melibatkan pengambilan conto
bermacam fluida dan gas untuk dipelajari dengan teknik2
hidrogeokimia yang dapat membantu dalam estimasi kom-
posisi dan temperatur fluida2 reservoir hidrotermal.
Kenampakan paling jelas dari suatu reservoir geothermal ter-
jadi ketika fluida geothermal merembes ke permukaan sepan-
jang bidang sesar dan rekahan atau melalui singkapan batuan2
permeabel.
Tergantung pada temperatur reservoir dan kecepatan alir, ma-
nifestasi permukaan ini dapat berbentuk rembesan (seeps), fu-
marola, mata air panas, mata air mendidih, geyser, kawah le-
tusan freatik, dan zona2 alterasi batuan-asam.
Selain itu, bisa terdapat endapan2 sinter silika, travertine,
dan/atau breksi berlapis yang mengelilingi kawah2 freatik.
Block diagram of the Valles/Toledo caldera complex in New Mexico. The topographic
depression is 22 km in diameter. The actual collapse crater is 15 km in diameter; its location
was inferred from locations of rhyolite domes erupted after the caldera collapse.
The bulbous mountain near the caldera center is a structural resurgent dome caused by
the buoyant rise of magma after the caldera collapsed.
(Block diagram by Harlan Foote, Pacific Northwest Laboratories).
Bromo-Tengger Sattelite Photo
Bromo area : Gunung Penanjakan, Gunung Batok , Gunung Widodaren

G.Penanjakan

Kaldera G.Tengger
G.Mungal
G.Batok

G.Bromo

G.Widodaren

Kawah G.Bromo

G.Iderider
Bromo crater from 1.2 km high space

Kawah G.Bromo
Gunung Batok berdiri di dalam
Kaldera Gunung Tengger

Kawah Gunung Bromo


Dilihat dari puncak
Mata air panas adalah manifestasi yang paling jelas dari su-
atu sistem geothermal yang mengalirkan panas ke permu
kaan tanah (White, 1973).
Sekelompok mata air panas berada langsung di atas sistem
geothermal dan karenanya dapat digunakan untuk menen-
tukan letak titik bor.
Akan tetapi, mata air panas jugadapat muncul ke permuka-
an setelah mengalir beberapa kilometer ke arah gradien tu
run dari suatu reservoir geothermal; pemunculan outflow
spt ini dapat menyesatkan ketebalannya terbatas, 0,5 s/d
1 km, dan berada di atas air tanah dingin.
Lubang bor yang menembus pemunculan air panas spt ini
memperlihatkan T meningkat di permukaan tetapi kemudi-
an turun dengan cepat di bagian bawah.
Geyser Hot Springs
http://www.alternative-energy-action-now.com http://www.nea.is/geothermal/the-resource/high-
/geothermal-energy.html temperature-fields/
Mud Pots (Mud Pools)
http://meihva.com/2011/12/23/mud-bulb-in-
around-lahendong-geothermal-area/

Crater (Kawah)
http://ensiklopedigeothermal.blogspot.com/
2011/10/surface-manifestation-of-geothermal.html
UPFLOW ZONE

OUTFLOW
ZONE

Upflow and Outflow Zones of a Geothermal System


Surface Manifestations as a product of underground Geothermal System
http://g-drilling.blogspot.com/2011/03/what-is-geothermal-energy.html
Analisis kimia mata air panas, bersama dengan analisis re-
gime hidrogeology dan struktur volkanik, akan memberikan
data untuk menginterpretasi tingkat percampuran (mixing)
antara air tanah dingin dan bubungan air panas outflow dari
reservoir geothermal (Ellis & Mahon, 1977; Goff & Shevenell,
1987).

Mata air panas dapat berperan sebagai pemandu yg baik un-


tuk pemboran geothermal jika:
a) analisa air mengindikasikan adanya percampuran minim
dengan air tanah dingin dan,
b) struktur2 geologi (misalnya kawah) yg mengimplikasikan
bhw mata air panas menutupi heat source dan tempera-
tur maksimum reservoir yang akhirnya dapat dicapai me-
lalui pemboran.
Geothermal System
http://unugtp.is/page/geothermal-utilization
http://www.docstoc.com/docs/20243925/Karakteristik-kimia-dari-Geothermal-fluids
http://infogeology.blogspot.com/2008/05/epithermal-systems.html
Schematic distribution of hydrothermal alteration associated with LS and HS epithermal deposits; ore is
located in paleoconduits. Beneath the epithermal environment, a degassing magma body contributes heat,
water, acidic gases, and ore metals. In LS systems, the magmatic component equilibrates with wall rocks at
depth during meteoric-water dominated convection, before ascent to epithermal depths. In HS systems,
magmatic volatiles ascend to the epithermal environment with little modification, then are absorbed by
meteoric water to form an acidic hypogene fluid that leaches wallrock outward from conduits. Ore metals
are commonly introduced by late-stage magmatic-meteoric water mixtures.
http://www.sciencedirect.com/science/
article/pii/S037702739900195X

http://www.sciencedirect.com/science/
article/pii/S0016703709001951
Zones of fluid mixing between end-member fluid types are indicated.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0375650503000944
Berdasarkan kandungan fluida di dalamnya, reservoir geo-
thermal dibedakan menjadi:
a) (hot) water-dominated geothermal systems dan
b) vapor-dominated geothermal systems.
Temperatur reservoir sistem air panas memperlihatkan kisar-
an mencolok:
a) <90C (low temperature),
b) 90 - 150C (intermediate temperature), dan
c) 150 - 240C (high temperature)
(White and Williams, 1975).
T mata air panas tidak akan melebihi titik didih air pada ke-
tinggian mata air tsb. Kegaraman sistem mata air dapat ber-
kisar dari 0.1 hingga 3% (Renner et al., 1975).
An Ideal Geothermal Systems

Cap Rock
& Seal

Reservoir
Rock
Fluid Flow
& Migration

Source
Rock
Conceptual model of the geothermal system of Pantelleria
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0009254101002765
Water-Dominated and Vapor-Dominated Geothermal Systems
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0377027305001393
http://www.sciencedirect.com/science/
article/pii/S0883292711003532
Reservoir dominan uap umumnya lebih dari 85% uap
merupakan sumberdaya geothermal ideal, tetapi, jumlah-
nya lebih sedikit dibanding sistem air panas (Truesdell
and White, 1973; Ingebritsen and Sorey, 1988)

Meskipun sistem uap panas banyak ditemukan di berbagai


bagian bumi (misalnya lapangan geothermal Geyser), ma
sih belum banyak yang diketahui tentang apa yang ada di
bawahnya; satu yang diketahui adalah adanya garam ber-
kadar khlorida tinggi.
Biasanya reservoir dominan uap terbentuk dimana ada alir-
an panas tinggi tetapi mendapatkan pasokan air sedikit
(high heat flow but low water recharge).
Maturity of Geothermal Fluids
Gas2 di dekat permukaan yang berasal dari reservoir domi-
nan uap akan terkondensasi membentuk bermacam asam,
yag akan melarutkan batuan2 di sekitar mata air panas.

Daerah2 spt ini dicirikan oleh batuan2 yang terubah, mata2


air berasam sulfat, dan tidak ada air mengandung khlorida;
mata air asam dapat berada bersaa mudpots, geysers, dan
fumarola (Rener et al., 1975).
Macam-Macam Manifestasi Geothermal
Mata Air Panas & Geyser
Mata air panas dapat berukuran dari sekedar rembasan
yang hanya cukup untuk mandi beberapa orang hingga da-
erah air panas yang luas seperti di Yellowstone dan Pulau
Utara New Zealand, dimana air panas dan uap digunakan
untuk pemanas ruangan, rumah kaca hingga pembangkitan
tenaga listrik.
Mata air panas dapat memberikan sedikit manfaat dengan
cara mengekstrak energi panas yang terkandung dalam air
dan/atau uap panas yang terkubur di dalam reservoir.
Output energi panas (Et) dari satu atau sekelompok mata
air panas dapat dihitung sbb (Goff et al., 1987):

dimana:
Vf = the volume fraction of geothermal water downstream from the
hot springs (if all water issuing from a spring group is from hot
springs, Vf = 1);
Cpw@ 4.2 MJ/m3 or 4.2 kJ/l;
Hr = the enthalpy of reservoir fluid;
Tf = temperature (C) of the hot springs;
Ha = the enthalpy of water at ambient temperature; and
Ta = ambient temperature. If cold spring water is mixed with
geothermal fluids, one must know the chemistry of those waters to
estimate the percentage of geothermal fluids.
Geyser pada dasarnya adalah mata air panas yang secara
periodik mendadak menjadi tidak stabil secara hidrodina-
mik maupun secara termodinamik (Rinehart, 1980).

Kenampakan ini secara tradisional diklasifikasikan sebagai:


a) air mancur atau geyser kolam dp air panas dari mana ge-
lembung2 air superheated tiba2 naik ke permukaan dan
meletus di permukaan bumi secara eksplosive atau
b) geyser yang membentuk kerucut atau gundukan sinter
silisik di atas lubang bawah permukaan yang sempit; lu-
bang ini terisi air yang secara periodik mengembang men-
jadi uap sehingga mengosongkan lubang tsb, kemudian
terisi air panas lagi.
Geyser Hot Springs
http://www.alternative-energy-action-now.com http://www.nea.is/geothermal/the-resource/high-
/geothermal-energy.html temperature-fields/
Endapan Sinter Silikaan
Endapan Sinter Silikaan banyak ditemukan di daerah hidro-
thermal bertemperatur tinggi. Endapan berbentuk gunduk-
an atau teras ini berasosiasi dengan mata air panas medidih
serta merupakan indikator bagus dari keberadaan reservoir
hidrotermal dengan temperatur >1750C (Fournier & Rowe,
1966).
Untuk membentuk endapan sinter silikaan, fluida dari air pa-
nas alkaline harus memiliki cukup silika dalam larutan untuk
menjadi jenuh dengan silika amorf pada saat air panas tsb
mengalami pendinginan dari 100 hingga 500C.
Sinters
Rimstadt & Cole (1983) menguraikan tiga tahapan dalam
pembentukan sinter silikaan:
1) fluida hidrotermal jenuh silika dalam reservoir membu-
bung ke permukaan dimana kemudian menjadi superje-
nuh dengan silika amorf;
2) partikel2 silika amorf membentuk inti2 untuk menghasil-
kan suspensi koloidal; dan
3) partikel2 silika amorf
kemudian teraglomerasi
dan tersemen sebagai
endapan silika amorf di
antara butiran batuan
spt digambarkan sbb:
Teras-teras sinter berlapis
di San Ignacio, Honduras

Peta dan penampang geologi


Steamboat Springs geothermal area.
(dari White et al ., 1964.)
Travertine
Travertine terbentuk dari air meteorik yang terpanaskan
di sekitar tubuh magma atau selama sirkulasi di bagian da-
lam sesar2, berreaksi dengan batuan2 karbonat kemudian
melepaskan gas CO2. Air panas ini kemudian mendingin
ketika bercampur dengan air tanah dingin dan mencapai
kesetimbangan dengan batuan2 akuifer pada ~ 700C
(Bargar, 1978).
Jika air ini mencapai permukaan melalui rekahan, CO2 le-
pas dan air menjadi superjenuh dengan CaCO3; pengen-
dapan karbonat membentuk travertine di dekat atau di
atas permukaan. Endapan travertine dapat terbentuk di
sekitar mata2 air, dg T berkisar ~ 30 hingga 1000C.
Endapan travertine merupakan indikator temperatur reser-
voir geothermal yang mungkin terlalu rendah untuk dapat
menghasilkan tenaga listrik tetapi dapat digunakan untuk
pemanfaatan langsung misalnya untuk rumah2 kaca atau
pemanas air, dll. Ellis & Mahon (1977) menguraikan potensi
masalah dengan scaling pada sumur dimana endapan ini bi-
sa pula muncul.

Travertine dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori:


1) Bentuk kerucut atau tower di sekitar lubang mata air pa-
nas tunggal.
2) Bentuk memanjang di atas bidang sesar atau rekahan.
3) Teras-teras.
Travertines
http://www.unr.edu/geothermal/pdffiles/
CoolbaughLechlerSladekKrattGRC09.pdf
Travertines
http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=
ft6v19p151;chunk.id=d0e6663;doc. view=print
Endapan dan Kawah (Freatik) Hidrotermal
Erupsi2 uap yang mengandung sedikit tefra atau tidak ada
tefra dinamakan erupsi hidrotermal (Muffler et al., 1971),
erupsi freatik, atau gunung lumpur (White, 1955); yang men-
jadi penciri perilaku periodik dari banyak daerah fumarola.
Erupsi2 ini membentuk kawah2 kecil, biasanya dengan dia-
meter kurang dari beberapa ratus meter, yang dikelilingi
oleh breksi, endapan2 jatuhan berkomposisi pecahan2 li-
tik.
Erupsi2 hidrotermal terjadi di daerah2 dimana tekanan uap
fluida geothermal melebihi tekanan didih hidrostatik pada
temperatur tsb.
Erupsi hidrotermal terjadi pada tempat dimana pembu-
bungan arus konvektif fluida geothermal terhalang oleh la-
pisan yang relatif impermeabel bernama caprock (Facca and
Tonani, 1967).
Caprocks (batuan penudung) umumnya terbentuk ketika ba-
tuan permeabel tertutup (sealed) oleh presipitasi zat padat
yang mengendap dari fluida geothermal.
Models of hydrothermal eruptions, showing (a) pressure vs depth and (b) a schematic cross section.
Pressure variations with depth of rock overburden (lithostatic), cold, vapor-unsaturated water
(hydrostatic), and hot, vaporsaturated water (saturated liquid) are indicated. The saturated liquid
curve depicts the effect of vapor pressure transmitted from a hot, underlying reservoir. For the
first model, involving a shallow reservoir at a temperature of 195C, the pressurization history is
shown by a dashed line (AA'). A gradual buildup of vapor pressure under the silica-cemented
cap continues until its failure, at which time steam erupts through a conduit with choked flow
and emerges at the surface at atmospheric pressure (dotted line). For the second model (BB'),
which involves a deep reservoir, the transmitted vapor pressure greatly exceeds the lithostatic
overburden at the silicified cap. Ensuing eruptions are greatly overpressured as they emerge
from the vent conduit (dotted line), so that vent erosion promotes
the entrainment of lithic ejecta in expanding fluids.
Kawah2 freatik dan depositnya merupakan indikator meyakin-
kan tentang keberadaan sistem hidrotermal temperatur tinggi
dan karenanya bisa menjadi alat prospeksi yang ekselen.

Karena erupsi freatik dapat terjadi karena kecelakaan pem


boran atau pecahnya selubung (casing) di dalam sumur geo-
thermal (Bixley & Browne, 1988), peristiwa ini dapat digolong-
kan sebagai potensi bencana selama proses pemboran dan
produksi.
Phreatic Eruption
Plumes of steam, gas, and ash often occurred at Mount St.
Helens in the early 1980s. On clear days they could be seen
from Portland, Oregon, convert 50 mi km abbr on to
the south. (http://www.rtbot.net/Phreatic_eruption, )
The Ubehebe Craters are a small field of some 13 phreatic explosion craters, the largest of which is Ubehebe
Crater itself. These craters formed when rising basaltic magma encountered groundwater and flashed to
steam. The most recent research suggests that Ubehebe Crater formed only 300 years ago.
http://www.marlimillerphoto.com/Ig-108.html
Peta geologi yang disederhanakan
Bagian Timur Lapangan Geothermal
Kawerau, NZ, memperlihatkan lokasi
kawah2 letusan freatik, breksi letusan
freatik Rotoiti, dan sesar normal yang
memotong daerah ini (garis dan titik
ada pada bagian turun). Ketebalan
dalam meter.
(Diadaptasi dari Nairn & Solia, 1980)
Table : Deskripsi Umum Endapan2 Erupsi Hidrotermal
Geologic Kawah freatik dan breksi letusan; kawah dikelilingi oleh cincin tufa rendaha
Expression
Tephra Breksi letusan dan abu freatik; bongkah2 meruncing dalam matriks yang
Deposits memperlihatkan rekahan tertutup, mineralisasi sekunder, dan dike breksib
Abu mungkin berbutir halus; biasanya terpilah buruk dan berlapis tidak beraturanc
Mud coatings on blocks; phreatic ejecta blanket topography surrounding the crater;
wet-surge facies are common
Location Associated with fumaroles and boiling springs
Geothermal If datable material can be found in the deposits (for example, carbon), the age of
Significance active, shallow hydrothermal activity can be determined
Rocks in the tuff ring provide information on both the stratigraphy of the hydrothermal
reservoir and the type of hydrothermal alteration
Analysis of ejecta dispersal can reveal the explosion energy and reservoir temperature
a From Muffler et al . (1971), Nairn and Wiradiradja (1980), and Hedenquist and Henley (1985).
b From Nelson and Giles (1985).
c From Heiken and Wohletz (1985).
Phreatic explosion breccia on the east wall of
South Crater, Inyo Craters, California. South
Crater is a 100-m-diameter phreatic (and
possibly partly phreatomagmatic) crater that
overlies both rhyolitic and basaltic dikes.
Deposits here are 25 m thick and consist of a
poorly bedded, cross-bedded lithic ash that
contains blocks up to 0.5 m in diameter (lower
half of the deposit) and massive, block-
bearing coarse ash (upper half of the deposit).
Explosion breccia and phreatic ash;
angular, matrix-supported blocks.
http://www.wired.com/wiredscience/2011/10/busy-september-for-
costa-rican-volcanoes/

Section of tephra seen just S of Anatahan's


active crater on 18 July showing deposits laid
down in the eruptions that began in May 2003.
The section contains a lower (brown) pumice-fall
deposit (~ 25 cm thick) covered by multiple
layers (~ 20 cm thick) of gray ash from phreatic
eruptions. Courtesy of S. Nakada, University of
Tokyo.
http://www.volcano.si.edu/world/ volcano.cfm?vnum=0804 -20=&volpage= var
Alterasi Hidrotermal
Alterasi Hidrotermal merupakan istilah umum yang meli-
puti respon mineralogi, tekstur, dan kimia batuan terhadap
perubahan termal dan lingkungan kimiawi karena adanya
air, uap, atau gas (Henley dan Ellis, 1983).
Dengan memetakan kelompok2 mineral ubahan di permu-
kaan (dan juga di dalam lubang sumur), dapat menentukan
lokasi zona2 dengan temperatur, tekanan, atau permeabili-
tas tertinggi semuanya penting dalam eksplorasi geother-
mal.
Teknik yang sama digunakan dalam pemetaan sistem2 hi-
drotermal fosil yang berasosiasi dengan tubuh bijih epi-
termal.
Suatu zona alterasi hidrotermal yang
disebabkan oleh emisi uap dan fluida
hidrotermal sepanjang zona sesar.
http://www.indiana.edu/~sierra2/news_04/day13.html

Geothermal Alteration in Cliffs at


Paleohori Beach, Milos.
http://www.dipity.com/tickr/Flickr-cyclades-milos/
Hydrothermal alteration, the most prominent
cause of mineralization has created this suite of
new minerals by altering the original minerals
and by introducing various forms of silicas from
quartz crystal to agate.
http://corosbud.ipage.com/wufstuff/index.php?osCsid=uj3kujldsgt3mop0d4lcebq0p5

Tufa batuapung yang terlaterasi


secara hidrotermal. Fragmen2
batuapung tercuci dan menyisakan
lubang2 yang terisi oleh mikrokristal
alunite (ukuran coin 2,3 cm).
http://abyss.elte.hu/users/segeusc/arhivum/2002_tokaj/day3.htm
The hydrothermal cycle. This diagram
demonstrates the interplay of
water/rock interaction, deposition of
hydrothermal minerals, and fracturing in
a constantly evolving hydrothermal
reservoir.
(Adapted from Elders, 1981.)
http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=ft6v19p151&chu
nk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055&brand=ucpress
Hydrothermal Alteration
http://reinesin.blogspot.com/2012/04/geology-
week-hydrothermal-alterasion.html

Conceptual distribution of temperatures,


smectite-rich alteration.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S037565050800028X
Karakterisasi dan Interpretasi
Dua tipe dasar alterisasi yang berasosiasi dengan sistem geo-
thermal volkanik yakni: model acid-sulfate dan adularia-seri-
cite spt digambarkan dalam slide berikut.
Alterasi acid-sulfate terjadi di dalam bagian paling atas sebu-
ah gunung berapi atau sepanjang rekahan lingkar kaldera, di-
mana banyak ditemukan air tanah dingin. Air acid-sulfate ter-
bentuk dimana air tanah bercampur dengan gas2 magmatik
yang bergerak ke atas.
Alterasi adularia-sericite terjadi di dalam suatu regime aliran
di bagian atas atau dekat sumber panas dalam dan dicirikan
oleh pH netral dan air alkalichloride (Heald et al., 1987).
Models of two types of fossil
hydrothermal systems that are
responsible for epithermal ore deposits.
a) In the system characterized by acid-
sulfate alteration, wiggly arrows
represent rising sulfur-rich magmatic
gases; these gases condense and
oxidize to form the acid fluids
responsible for leaching and argillic
alteration of rocks within the volcano
and at the surface.
b) In the system characterized by
adularia-sericite alteration, alkali-
chloride waters have a neutral pH.
(Adapted from Henley and Ellis, 1983, and
Heald et al ., 1987.)
http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=ft6v19p151&chunk.i
d=d0e7055&toc.id=d0e7055&brand=ucpress
Istilah Alteration Rank digunakan sebagai indikasi empiris
temperatur dan permeabilitas di lapangan panas bumi (gu-
nung api), ditentukan melalui studi2 mineral sekunder; mi-
salnya, epidote merupakan indikator T tinggi dan adularia
mencirikan T dan permeabilitas tinggi di dalam suatu sistem
hidrotermal (Browne, 1977).
Banyak istilah digunakan untuk mendiskripsi kelompok2 al-
terasi yang ada di berbagai literatur geothermal dan eksplo-
rasi endapan bijih. Heald et al., (1987) melakukan evaluasi
dan korelasi istilah2 ini serta penggunaannya di kedua bi-
dang tsb seperti diperlihatkan dalam tabel di bawah ini.
Table 3.2. Terminology for Alteration Assemblages a
Alteration Common
Terminology Characteristics Synonyms Notes
Silicic Characterized by introduced silica Silicification Wallrock is silicified; amethyst
or chalcedony is present in
veins
Potassium Introduced K-feldspar present as veins Adularia, potassic Typically adularia
(K)-Feldspar selvages
Potassium (K)- K-feldspar and white mica-type minerals pyrite Sericitic, potassic, Structurally controlled;
Feldspar- K-silicate disseminated near veins
Sericitic
Sericitic Mica-type mineral (for example, illite + quartz + Phyllic quartz-
pyrite; includes mixed-layer illite in which illite sericite, illitic
layers are dominant
Sericitic- Both white mica-type and kaolin-smectite-group Argillic,
Argillic minerals intermediate argillic,
sericitic, phyllic
Argillic Kaolin- and smectite-group minerals (for example, Intermediate argillic Often zoned, with kaolinite
montmorillonite); does not typically include mica- nearer veins and
type minerals montmorillonite farther from
veins.

http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId= ft6v19p151&chunk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055& brand=ucpress


Table 3.2. Terminology for Alteration Assemblages a (Conted)
Alteration Common
Terminology Characteristics Synonyms Notes
Advanced Minerals representing extreme base leaching (for Argillic, alunitic,
Argillic example, kaolinite) and sulfate or halogen fixation quartz + alunite
(for example, alunite, zunyite)
Chloritic Introduction of a chlorite component (usually Fe- Chloritic Vein mineral or selvage; rarely
rich) into the vein; may occur alone or with disseminated in wall rock
hematite, quartz, and pyrite or other sulfides; occurs
sparsely as a replacement of phenocrysts or pumice
fragments in wallrock
Propylitic Characterized by chlorite, albite, epidote, carbonate Quartz-chlorite- Typically a regional alteration
pyrite, Fe-oxides, and minor sericite pyrite
Potassium Introduced potassium, resulting in recrystallization Potassium silicate Regional alteration
Metasomatism of wall rocks to K-feldspar- and biotite-rich
assemblages
a From Heald et al . (1987).

http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId= ft6v19p151&chunk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055& brand=ucpress


Browne (1977) menguraikan 51 mineral hidrotermal yang
ditemukan pada sistem2 geothermal aktif; beberapa dari mi-
neral2 ini juga terbentuk di batuan2 metamorfik tingkat ren
dah. Interaksi2 air/batuan dl dalam sistem ini menyebabkan
alterasi gelas volkanik kemudian satu seri fasa mineral
menggantikan, melarutkan atau mengendapkan mineral2 ba-
ru di dalam ruang pori (Browne, 1982). Produk2 pengalihan
alterasi tampak dalam Tabel berikut ini.
Table 3.3. Typical Hydrothermal Alteration Replacement Productsa
Original Mineral or Phase Replacement Products
Volcanic Glass Zeolites (for example, mordenite, laumontite), cristobalite, quartz,
calcite, clays (for example, montmorillonite)
Magnetite Pyrite, leucoxene, sphene, pyrrhotite, hematite
Ilmenite
Titanomagnetite
Pyroxene Chlorite, illite, quartz, pyrite, calcite, anhydrite
Amphibole
Olivine
Biotite
Calcic plagioclase Calcite, albite, adularia, wairakite, quartz, anhydrite, chlorite, illite,
kaolin, montmorillonite, epidote
Anorthoclase Adularia
Sanidine
Orthoclase
a From Browne (1982).

http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId= ft6v19p151&chunk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055& brand=ucpress


Terdapat hubungan umum antara temperatur dan mineral-
ogi mineral2 alterasi aluminosilikat, dan kelompok2 mineral
dapat digunakan untuk menginterpretasi T di dalam sistem
geothermal (Henley & Ellis, 1983). Misalnya, mineral2 epidote
dan wairakite tidak akan muncul hingga T mencapai 2000C.
Selama peneliatian di lapangan geothrmal Broadlans, NZ,
Browne (1970) mendapati bahwa banyak mineral2 hidro-
termal sedikit berguna dalam mengestimasi T dan permeabi-
litas; di antaranya chlorite, pyrite, calcite dan kuarsa, yang
pada kisaran T yang lebar.
Calcite sangat terpengaruh oleh tekanan CO2 bawah tanah.
Mordenite, siderite, dan cristobalite, yang terbentuk pada
T rendah, serta epidote yang terbentuk T tinggi, tidak banyak
terpengaruh oleh permeabilitas. Lempung, yang merupakan
indikator ekselen T, tidak bagus untuk indikator permeabilitas.
Summary of temperature ranges for
common aluminosilicate minerals.
Solid lines indicate the most common
temperature ranges for these
occurrences. The three ranges shown
for chlorite are related to the
transition, with rising temperature,
from swelling chlorite through mixed
swelling and nonswelling chlorite to
nonswelling chlorite.

(Adapted from Henley and Ellis,


1983.)

http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId= ft6v19p1
51&chunk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055&brand=ucpress
Epidote is HCa2(Al,Fe)3Si 3O13
http://skywalker.cochise.edu/wellerr/mineral/epidote/epidoteL.htm

Note the high-order interference colors of


epidote. This slide is actually cut a little
thin, and doesn't show the third-order
colors that epidote may display in some
sections.
http://leggeo.unc.edu/Petunia/IgMetAtlas/minerals/epidote.X.html
Wairakite
CaAl2Si4O122H2O

http://ajsonline.org/content/308/1/1/F13.expansion
Pemetaan Manifestasi Permukaan
Example of a spring map from a site
near Azacualpa, Honduras.
Descriptions and measurements of
hot springs include details of local
landmarks such as streams, large
boulders, and canyon walls.

(Adapted from Eppler et al., 1987.)


http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId= ft6v19p151&
chunk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055&brand=ucpress
Pictured are subtle geothermal
related alterations of associated
minerals such as Illites.
http://www.spectir.com/applications/geologic/
Maps of alteration zones from the
eastern Hachimantai geothermal area in
Japan.
a) Map of alteration zones indicates
the predominant marker minerals.
b) Distribution of fluorine in
hydrothermally altered rocks.
c) Schematic cross-section of the
eastern Hachimantai geothermal
area.
(Adapted from Geological Survey of
Japan, 1986.)

http://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=ft6v19p151&chu
nk.id=d0e7055&toc.id=d0e7055&brand=ucpress
Distribution of alteration zones at the surface (Kimbara, 1983)
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0375650506000101
Pustaka:
1. Wohletz, Kenneth, and Grant Heiken. Volcanology and
Geothermal Energy. Berkeley: University of California
Press, 1992.
2. Gupta, H. & Roy, S.: Geothermal Energy: An Alternative
Resource For The 21st Century, First Ed 2007, Elsevier.
Tahapan Survei Geothermal
Diagram alir Tahapan dalam Metodologi Survei Geothermal
(Latin American Energy Development Organization)
Tahap 1 Evaluasi Informasi Yang Ada Tentang Daerah Studi
peta2 topografi dan geologi skala besar & kecil;
sintesis geologi regional, termasuk stratigrafi, geologi struktur,
dan sejarah volkanisme;
seluruh laporan terpublikasi/tidak ttg geologi, geokimia dan
geofisika;
citra2 satelit dan bermacam foto udara;
informasi keberadaan dan karakteristik mata2 air panas,
fumarola, dan alterasi hidrotermal;
informasi sumur2 bor atau inti2 batuan (cores) dari setiap
sumber, termasuk pemboran sumur air, minyak, dan coring
oleh perusahaan pertambangan;
data geofisika baik yang terpublikasi atau tidak; dan
informasi ttg hidrogeologi dan meteorologi.
Tahap 2 Penyelidikan Lapangan dan Penelitian Laboratorium

Pada Tahap ini perlu dipahami/ dijawab beberapa pertanyaan


sbb:
Kemungkinan adanya anomali termal dangkal;
Kondisi hidrogeologi regional;
Sifat manifestasi termal yang ada;
Di daerah volkanik perlu fokus pada beberapa titik observasi
saja.
Tahap 2 Penyelidikan Lapangan dan Penelitian Laboratorium
Identifikasikan daerah2 dimana ada episode2 volkanisme
masa kini. Definisi masa kini berragam tergantung pada
volume material yang dierupsikan, karena tubuh magma
besar menyimpan panas lebih lama dibanding yang kecil;
Evaluasi jumlah relatif produk2 volkanik yang bersifat silicic,
dan mafic atau intermediate;
Tentukan pada skala regional hubungan masa kini antara
struktur volkanik dan kerangka tektonik regional.
Identifikasikan kawah2 eksplosi freatik yang ada.
Kumpulkan sampel2 secara sistematis seluruh jenis litologi
untuk analisis lab, termasuk analisis petrografi dan kimiawi.
Kumpulkan klastika2 litik (xenoliths) dari satuan2 piroklastik
untuk analisis petrografi.
Tahap 2 (Lanjutan)
Tentukan umur absolut satuan2 litologi yang mewakili;
Pelajari (pada tahap awal) seluruh satuan reservoir dan ba-
tuan2 penudung yang mungkin ada di lapangan.

Analisis dan interpretasi lapangan dan lab pada tahap ini


akan membantu menentukan area2 geothermal utama un-
tuk dipelajari lebih detail dan, jika layak, dipilih untuk sur-
vei2 geofisika serta pemboran eksplorasi.

Bersama dengan hasil survei2 hidrogeokimia regional, data


awal tsb dapat digunakan untuk menentukan area yang akan
dievaluasi untuk pengembangan potensi komersial.
Tahap 3 Studi Lapangan dan Lab Detail: Geologi dan
Volkanologi
Studi lapangan dan lab detail dimulai dengan:
a) Interpretasi foto udara;
b) Identifikasi awal struktur2 volkanik dan sesar2;
c) Hipotesa menyangkut setting volkanotektonik regional; dan
d) Integrasi informasi dari peta-peta yang ada.

Selanjutnya dilakukan studi lapangan detail yang tersusun oleh


aspek2 sbb:
(1) Pencarian anomali2 termal di kulit bumi bagian atas meli-
libatkan pemetaan dan pemercontoan sekuen2 erupsi vol-
kanik muda, khususnya tipe2 batuan yang indikatif terha-
dap keberadaan tubuh2 magma dangkal.
Seluruh daerah manifestasi geothermal, baik yang fosil
maupun yang masih aktif, dipetakan dan diambil contoh-
nya sehubungan dg pemercontohan hidrogeokimia.

Seluruh struktur volkanik dipetakan, termasuk jika ada ka-


wah2, kubah, kawah freatik, dan sesar2 yang berasosiasi.
(2) Di daerah2 dengan manifestasi hidrotermal permukaan,
batuan2 penudung potensial dipetakan dan disampel, ser-
ta asal usulnya ditentukan. Di zona2 volkanik, ditekankan
pencarian kawah2 ekplosi freatik.

(3) Luasnya potensi reservoir2 geothermal dapat diestimasi


dengan cara:
Studi klastika2 litik (xenolith) dalam endapan2 piroklastik;
klastika2 ini memberikan info tentang sifat2 unit batuan
yang mendasari keberadaan gunung api.
Identifikasi dan pemetaan sesar2 masa kini. Usaha ini
penting dilakukan karena sesar2 aktif merepresentasikan
zona2 permeabilitas rekahan.
Tentukan tingkat aktifitas hidrovolkanik yang menyebab-
kan pembentukan endapan2 piroklastik di daerah gunung
api. Pekerjaan ini dapat mengidentifikasi adanya akuifer2
di bawah gunung selama erupsi2 masa kini. Akuifer2 ini
dapat merupakan reservoir2 hidrotermal masa kini.
(4) Di negara2 tropis dimana tanah2 terbentuk secara cepat
dan singkapan2 segera tertutup oleh tumbuhan, pemeta-
an geologi lebih sulit dilakukan. Dlm situasi spt ini, diper-
lukan sejumlah pendekatan tambahan, a.l.:
Pemetaan bentang alam. Peta2 ini didasarkan terutama
pada interpretasi foto2 udara dancitra2 satelit, khusus-
nya di daerah2 volkanik muda. Interpretasi2nya dicheck
sepanjang galian2 jalan, dasar2 sungai, dan garis pantai,
serta galian2 tambang.
Citra radar udara (SLAR). Citra2 spt itu sangat bermanfaat
dalam pemetaan sesar2 dan bentang alam volkanik di
daerah2 tropis, meskipun relatif mahal untuk diperoleh.
Contoh Peta Geologi Geothermal Hasil Tahapan Survei Geothremal
Back-up Slides