Anda di halaman 1dari 22

Mekanisme Pembekuan Darah yang Terjadi Akibat DVT

Jebsa Beypi Amnifu

102016198 / C3

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

No. Telp (021) 5694-2061 Email : jebsa.2016fk198@civitas.ukrida.ac.id

ABSTRAK

Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi missal jarak jauh berbagai bahan
antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Transportasi semacam itu
penting untuk memelihara hemostatis. Leukosit atau sel darah putih adalah sel yang
merupakan unit-unit pertahanan system imun, diangkut dalam darah ke tempat-tempat cedera
atau invasi mikroorganisme penyebab penyakit. Karena darah sangat penting, harus ada
mekanisme yang dapat memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh
darah. Untunglah di dalam tubuh setiap manusia mempunyai suatu mekanisme pengendalian
pendarahan atau hemostasis dan pembekuan darah atau koagulasi.

Kata kunci: Darah, hemostatis dan koagulasi.

ABSTRACT

Blood is a vehicle or medium for long distance transport of various materials between the
cell and the external environment or between the cells themselves. Such transportation is
essential for maintaining hemostatis. Leukocytes or white blood cells are cells that are
immune system defense units, transported in the blood to places of injury or invasion of
disease-causing microorganisms. Because blood is very important, there must be a
mechanism that can reduce the loss of blood in the event of damage to the blood vessels.
Fortunately in the body every human being has a mechanism for controlling bleeding or
hemostasis and blood clotting or coagulation.

Keywords: Blood, hemostatis and coagulation.

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 1


PENDAHULUAN

Dalam suatu kejadian fraktur dapat terjadi berbagai komplikasi baik yang dikarenakan cedera
itu sendiri maupun yang terjadi secara iatrogenik. Referat ini akanmembahas beberapa
komplikasi yang sifatnya iatrogenik. Komplikasi yang bersifat iatrogenik adalah yang
disebabkan oleh manajemendari fraktur tersebut. Komplikasi ini kebanyakan dapat dicegah
dan berhubungandengan tiga faktor utama, yaitu: tekanan lokal yang berlebihan, traksi yang
berlebihan, dan infeksi.1 Oleh sebab itu di dalam tubuh setiap manusia mempunyai
mekanisme pembekuan darah. Pembekuan darah merupakan peristiwa dimana terjadi
pembekuan darah akibat pembuluh darah yang terpotong atau ruptur. Tes-tes pembekuan
darah bisa dikelompokan menjadi 3 macam, yaitu pemeriksaan masa pendarahan (bleeding
time), pemeriksaan masa protombin atau PPT (Plasma Protombin Time), dan pemeriksaan
masa tromboplastin atau APTT (Activated Partial Tromboplastin Time). Masa pendarahan
merupakan rentan waktu rentan waktu darah keluar sampai darah berhenti pada permukaan
volar lengan bawah pada daerah bebas vena. PTT atau APTT merupakan waktu yang
dibutuhkan untuk pembentukan jendalan. Bedanya pada PTT dan APTT merupakan waktu
yang dibutuhkan untuk pembentukan jendalan. Bedanya pada PTT, plasma yang mengandung
semua faktor koagulasi ekstrinsik (FII, FV, FVII, FIX) dan jalur bersama kecuali Ca2+
ditambah dengan kalsium fosfolipid akan membentuk jendalan. Pengetahuan-pengetahuan
tentang pembekuan darah tersebut sangatlah penting untuk dikuasai oleh mahasiswa
kedokteran dan setelah memahaminya diharapkan juga dapat menerapkannya secara holistik.

PEMBAHASAN

Makroskopis

1. Art Coxae

Gambar 1: Suplai Darah pada Sendi Coxae2

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 2


Suplai vaskuler bagi sendi coxae di dominasi melalui cabang-cabang arteria
obturatoria, arteria circumllexa femoris medialis dan arteria circumllexa
femoris lateralis, arteria glutea superior dan arteria glutea inferior, serta arteria
perforans pertama dari arteria profunda femoris. Cabang articularis pembuluh-
pembuluh darah ini membentuk anyaman di sekitar sendi (Gambar 1).
Sendi coxae dipersarafi oleh cabang-cabang articularis nervus femoralis,
nervus obturatorius, dan nervus gluteus superior, dan nervus untuk musculus
quadratus femoris.2
Anastomosis daerah articulatio coxae:3
1. Spinous anastomosis: dekat SIAS
A glutea superior
Aa circumflexa ilium superf & prof
A circumfl femoris later. r ascendens
2. Trochanteric anastomosis: fossa trochanterica
A glutea superior
A circumfl femoris later & medialis
A glutea inferior
3. Cruciate anastomosis: tepi atas M add magnus
A glutea inferior r descendens
Aa circumflexa femoris later & medialis
A perforans I r ascendens
2. Art Genu

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 3


Gambar 2: Arteri-Arteri Extremitas Inferior Ventral dan Dorsal4

Cabang-cabang A. Poplitea:3

A genus superior medialis


A genus superior lateratis
A genus media
A genus inferior medialis
A genus inferior lateralis
Aa surales -> nadi yang masuk ke otot
poplitea mendarahi Articulatio genus dan membentuk jejaring arteri dengan cabang-
cabang di atas (Aa. superiores medialis et lateralis genus) dan di bawah (Aa.
inferiores medialis et lateralis genus) Cavitas articularis. Jejaring arteri ini turut
membentuk Rete articulare genus di sisi ventral lutut. Di tingkat sendi ini, A. media
genus bercabang untuk mendarahi Articulatio genus. Aa. surales mendarahi otot-otot
betis.4
3. Drainase vena

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 4


Gambar 3: Drainase Vena pada Extermitas Inferior2

Venae yang melakukan drainase extremitas inferior adalah kelompok venae


superficiales dan venae profundae (Gambar 3) Venae profundae umumnya mengikuti
arteriae (femoralis, glutea superior, glutea inferior, dan obturatoria). Vena profunda
utama yang melakukan drainase extremitas adalah vena femoralis (Gambar 3). Vena
femoralis menjadi vena iliaca externa ketika lewat di bawah ligamentum inguinale
untuk memasuki abdomen Venae superficiales terletak di jaringan ikat subcutaneus

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 5


dan saling berhubungan dan akhirnya bermuara ke dalam venae profundae. Venae
superficiales membentuk dua saluran utama vena saphena magna dan vena saphena
parva. Kedua venae tersebut berasal dari arcus venosus dorsalis pedis (Gambar 3):2

Vena saphena magna berasal dari sisi medial arcus venosus dorsalis pedis,
dan kemudian berjalan naik di sisi medial regio cruralis, genus, dan regio
femoralis untuk berhubungan dengan vena femoralis tepat di inferior
ligamentum inguinale.
Vena saphena parva berasal dari sisi lateral lateral arcus venosus dorsalis
pedis, berjalan naik di permukaan posterior regio cruralis, dan kemudian
menembus fascia dalam untuk bergabung dengan vena poplitea di posterior
terhadap genus; di proximal genus, vena poplitea akan menjadi vena femoralis.

Mikroskopis

Komponen darah

Gambar 4: Komposisi Darah Orang Dewasa yang Normal. PMN, sel-sel neutrofil polimorfo
nuklear; WBC, sel darah putih

Darah merupakan pengangkut jarak jauh, transportasi massal bahan-bahan antara sel dan
lingkungan eksternal atau di antara sel itu sendiri. Transportasi yang demikian penting untuk
mempertahankan homeostasis. Darah terdiri dari cairan plasma tempat elemen-elemen

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 6


selulareritrosit, leukosit, dan trombositberada. Eritrosit (sel darah merah atau SDM)
secara esensial merupakan membran plasma kantong-tertutup hemoglobin yang menyangkut
O2 di dalam darah. Leukosit (sel darah putih, atau SDP), unit pertahanan mobil sistem imun,
di angkut melalui darah ke tempat terjadinya luka atau invasi oleh mikroorganisme
penyebabpenyakit. Platelet (trombosit) penting bagi homeostasis untuk menghentikan
pendarahan akibat pembuluh yang cedera.5

Gambar 5: Hematokrit dan jenis-jenis sel darah. Angka-angka yang disajikan adalah
untuk pria. Hematokrit rerata untuk wanita adalah 42%, dengan plasma membentuk 58%
volume darah. Perhatikan bentuk bikonkaf etritrosit.5

Pergerakkan darah secara terus-menerus ketika darah mengalir melalui pembuluh


darah menyebabkan sel-sel darah relatif tersebar merata di dalam plasma. Namun, jika Anda
meletakkan sampel darah lengkap dalam tabung reaksi dan mencegahnya membeku, selsel
yang lebih berat akan mengedap ke dasar dan plasma yang lebih ringan akan naik ke atas.
Proses ini dapat dipercepat dengan sentrifugasi, yang secara cepat menempatkan sel-sel ke
dasar tabung (Gambar 5). Karena lebih dari 99% sel darah adalah erotrosit, hematokrit, atau
packed cell volume, pada dasarnya mencerminkan persentase eritrosit di dalam volume darah
total. Nilai hematokrit rerata pada wanita adalah 42% dan pada pria sedikit lebih tinggi yaitu,

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 7


45%. Plasma membentuk volume sisanya. Karena itu, volume rerata plasma dalam darah
adalah 58% untuk wanita dan 55% untuk pria. Sel darah putih dan trombosit, yang tidak
berwarna dan kurang padat daripada eritosit, term ampatkan dalam suatu lapisan tipis
berwarna krem yang dinamai bully coat, di atas kolom sel darah merah. Lapisan ini
membentuk kurang dari 1% volume darah total.

1. Plasma
Plasma, sebagai cairan, terdiri dari 90% air. Air plasma merupakan medium bagi
bahan-bahan yang dibawa oleh darah. Selain itu, plasma menyerap dan menyebarkan
sebagian besar panas yang dihasilkan oleh proses metabolisme di dalam jaringan,
sementara suhu darah itu sendiri hanya mengalami sedikit perubahan. Ketika darah
mengalir mendekati permukaan kulit, energi panas yang tidak dibutuhkan untuk
mempertahankan suhu tubuh di keluarkan ke lingkungan. Sejumlah besar bahan
inorganik dan organik terlarut dalam plasma. Konstituen inorganik membentuk
sekitar- 1% berat plasma. Elektrolit (ion) paling banyak dalam plasma adalah Na+ dan
Cl-, komponen garam dapur. Terdapat juga HCO3-, K+, Ca2+, dan ion lain dalam
jumlah lebih kecil. Fungsi terpenting ion-ion ini adalah peran mereka dalam
eksitabilitas membran, distribusi osmotik cairan antara cairan ekstrasel (CES) dan sel,
dan menyangga perubahan pH; fungsi-fungsi ini dibahas di bagian lain. Konstituen
organik yang paling banyak berdasarkan berat adalah protein plasma, yang
membentuk 6% hingga 8% berat plasma. Kita akan mengulas protein-protein ini
secara lebih menyeluruh di bagian selanjutnya. Persentase kecil plasma sisanya terdiri
dari bahan organik lain, termasuk nutrien (seperti glukosa, asarn amino, lemak, dan
vitamin), produk sisa (kreatinin, bilirubin, dan bahan bernitrogen seperti urea), gas
terlarut (O2 dan CO2), dan hormon. Sebagian besar bahan ini hanyalah bahan yang
diangkut oleh plasma. Sebagai contoh, kelenjar endokrin menyekresikan hormon ke
dalam plasma, yang mengangkut perantara kimiawi ini ke tempat kerja mereka.5

Plasma darah

Protein plasma adalah suatu kelompok konstituen plasma yang tidak sekedar sebagai
pengangkut. Komponen - kompon penting ini dalam keadaan normal tetap berada
dalam plasma, tempat mereka melakukan banyak fungsi penting.5
a. Tidak seperti konstituen plasma lain yang larut dalam ail plasma, protein

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 8


plasma terdispersi sebagai koloid. Selain itu, karena merupakan konstituen
plasma terbesar, protein plasma biasanya tidak keluar melalui poripori halus di
dinding kapiler untuk masuk ke cairan interstisium. Berkat keberadaan mereka
sebagai dispersi koloid dalam plasma dan ketiadaannya dalam cairan
interstisium, protein plasma menciptakan suatu gradien osmotik antara darah
dan cairan interstisium. Tekanan osmotik koloid ini adalah gaya primer yang
mencegah keluarnya plasma secara berlebihan dari kapiler ke dalam cairan
interstisium sehingga membantu mempertahankan volume plasma.
b. Protein plasma ikut berperan dalam kemampuan plasma menyangga
perubahan pH.
c. Tip kelompok protein plasmaalbumin, globulin, dan fibrinogen
diklasifikasikan berdasarkan berbagai sifat fisika dan kimiawi mereka. Selain
fungsi umum yang telah disebutkan, masingmasing tipe protein plasma
melakukan tugas spesifik sebagai berikut.
Albumin
protein plasma yang paling banyak, berperan besar dalam menentukan
tekanan osmotik koloid berkat jumlahnya. Protein ini juga secara non-
spesifik berikatan dengan bahan-bahan yang kurang larut dalam
plasma (misalnya, bilirubin, garam empedu, dan penisilin) untuk
transportasi dalam plasma.
Globulin: alfa (), beta(), dan gama().
i. Seperti albumin, sebagian globulin alfa dan beta mengikat
bahan-bahan yang kurang larut dalam plasma untuk
transportasi dalam plasma tetapi globulin ini sangat spesifik
terhadap bahan yang akan mereka ikat dan angkut. Contoh
bahan-bahan yang diangkut oleh globulin spesifik mencakup
hormon tiroid, kolesterol, dandan besi.
ii. Sebagian besar faktor yang berperan dalam proses pembekuan
darah adalah globulin alfa atau beta.
iii. Beberapa protein plasma darah merupakan, molekul prekursor
yang bersirkulasi, dan tidak aktif, yang diaktifkan sesuai
kebutuhan oleh masukan regulatorik tertentu. Contohnya,
globulin alfa angiotensinogen diaktifkan menjadi angiotensin,

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 9


yang beperan penting dalam mengatur keseimbangan garam
dalam tubuh.
iv. Globulin gama adalah imunoglobulin (antibodi) yang sangat
penting bagi mekanisme pertahanan tubuh.
Fibrinogen
adalah faktor kunci dalam pembekuan darah.

Protein plasma disintesis oleh hati, kecuali antibodi, yang dihasilkan oleh limfosit,
salah satu tipe sel darah putih.

2. Eritrosit5

Gambar 6: Eritrosit
Setiap mililiter darah rata-rata mengandung 5 miliar eritrosit (sel darah merah atau
SDM), secara klinis sering dilaporkan dalam hitung sel darah merah sebagai 5 juta
sel per milimeter kubik (mm3). Bentuk dan isi eritrosit sangat cocok dan sesuai untuk
melaksa-nakan fungsi primernya, yaitu mengangkut O2 di dalam darah yaitu yang ada
hemoglobin didalamnya.

Hemoglobin

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 10


.Gambar 7: Molekul hemoglobin. Sebuah molekul hemoglobin terdiri dari empat
rantai polipeptida yang sangat berlipat-lipat (bagian globin) dan empat gugus hem
yang mengandung besi.

Untuk memaksimal-kan kandungan hemoglobinnya, satu eritrosit dipenuhi oleh lebih


dari 250 juta molekul hemoglobin, menyingkirkan hampir semua organel yang lain.
(Ini berarti bahwa setiap SDM dapat membawa lebih dari 1 miliar molekul O2.). Sel
darah merah tidak mengandung nukleus atau organel. Selama perkembangan sel,
struktur-struktur ini dikeluarkan untuk menyediakan ruang lebih banyak bagi
hemoglobin. Karena itu, pada dasarnya SDM adalah suatu kantong penuh hemoglobin
yang dibungkus membran plasma. Hanya beberapa enzim penting yang tidak dapat
diperbarui yang tetap terdapat di dalam eritrosit matang: enzim glikolitik dan karbonat
anhidrase. Enzim glikolitik penting untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan
untuk menjalankan mekanisme transpor-aktif yang berperan dalam mempertahankan
konsentrasi ion yang sesuai di dalam sel. Enzim-enzim penting lain dalam SDM,
karbonat anhidrase, sangat berperan dalam transpor dan CO2. Enzim ini
mengatalisis suatu reaksi kunci yang akhirnya menyebabkan perubahan CO2 yang
dihasilkan oleh proses metabolik menjadi ion bikarbonat (HCO3-), yaitu bentuk
utama pengangkutan CO2 dalam darah. Masing-masing dari kita memiliki total 25
triliun hingga 30 triliun SDM yang mengalir melalui pembuluh darah setiap saat
(100.000 kali lebih banyak daripada jumlah seluruh populasi AS.). Namun, kendaraan
pengangkut gas vital ini berumur pendek dan harus diganti dengan laju rerata 2 juta

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 11


hingga 3 juta sel per detik. Harga yang harus dibayar oleh eritrosit atas banyaknya
kandungan hemoglobin hingga eksklusi perangkat intrasel khusus yang lazimnya
dijumpai adalah usia yang singkat. Tanpa DNA, RNA, dan ribosom, sel darah merah
tidak dapat membentuk protein untuk perbaikan, pertumbuhan, dan pembelahan sel
atau memperbarui enzimen enzimnya. SDM, yang hanya dilengkapi oleh bekal awal
yang disintesis sebelum sel ini menyingkirkan nukleus dan organelnya, hanya
bertahan hidup rerata 120 hari, berbeda dengan sel saraf dan otot, yang bertahan
sepanjang hayat orang yang bersangkutan. Selama masa usia 4 bulan yang singkat
tersebut, setiap eritrosit berkelana sekitar 700 mil saat mengelilingi pembuluh darah.
Eritropoiesis5

Gambar 8: Langkah-langkah utama dalam produksi eritrosit (eritropoiesis).


Karena eritrosit tidak dapat membelah diri untuk mengganti sendiri jumlahnya, sel tua
yang pecah harus diganti oleh sel baru yang diproduksi di pabrik eritrosit-sumsum
tulang yaitu jaringan lunak yang sangat selular yang mengisi rongga internal tulang.
Sumsum tulang dalam keadaan normal menghasilkan sel darah merah baru, suatu
proses yang dinamai eritropoiesis, dengan kecepatan menyamai kecepatan kerusakan
sel tua. Eritrosit berasal dari sel punca pluripoten di dalam sumsum tulang merah yang
menghasilkan seluruh jenis sel darah. Sel punca mieloid adalah sel punca yang
terdiferensiasi sebagian yang menghasilkan eritrosit dan beberapa jenis sel darah lain.
Eritroblas berinti akan menjadi eritrosit matur. Sel ini mengeluarkan nukleus dan
organelnya, menciptakan ruang yang lebih banyak untuk hemoglobin. Retikulosit
merupakan sel darah merah imatur yang mengandung sisa organel (terutama ribosom).
Eritrosit matur dilepaskan ke kapiler yang banyak terdapat di dalam sumsum tulang
(Gambar: 8).

Eritropoiesis dikontrol oleh eritropoietin dari ginjal5

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 12


Gambar 9: Kontrol Eritropoiesis5

Karena transpor O2 dalam darah adalah fungsi utama eritrosit, secara logis, Anda
mungkin akan mengira bahwa rangsangan utama peningkatan produksi eritrosit
adalah berkurangnya. penyaluran O2 ke jaringan. Anda mungkin benar tetapi kadar
O2 yang rendah tidak merangsang eritropoiesis dengan bekerja langsung pada
sumsum merah. Penurunan penyaluran O, ke ginjal (EPO) merangsang ginjal
mengeluarkan hormon eritropoietin ke dalam darah dan hormon ini pada gilirannya
merangsang eritropoiesis oleh sumsum merah (Gambar 9).

3. Leukosit
Leukosit (sel darah putih atau SDP) adalah unit yang dapat bergerak pada sistem
pertahanan imun tubuh. Imunitas adalah kemampuan tubuh untukmenahan atau
menyingkirkan benda asing atau sel abnormal yang berpotensi merugikan. Leukosit
dan turunan-turunannya, bersama dengan berbagai protein plasma, membentuk sistem
imun, suatu sistem pertahanan internal yang mengenali dan menghancurkan atau
menetralkan benda-benda dalam tubuh yang asing bagi "individu normal". Secara
spesifik, sistem imun:
A. mempertahankan tubuh dari invasi mikroorganisme penyebab penyakit
(misalnya, bakteri dan virus).
B. berfungsi sebagai "petugas kebersihan" yang membersihkan sel-sel tua
(misalnya, sel darah merah yang sudah tua) dan sisa jaringan (misalnya,

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 13


jaringan yang rusak akibat trauma atau penyakit), menyediakan jalan bagi
penyembuhan luka dan perbaikan jaringan.
C. mengidentifikasi dan menghancurkan sel kanker yang timbul di tubuh.

Gambar 10: Elemen sel darah normal dan hitung sel darah manusia.5

1) Neutrofil
adalah spesialis fagositik, sel-sel ini menelan dan menghancurkan bakteri secara
intraseluler. Selain itu, neutrofil juga dapat bertindak sebagai "born bunuh diri".
Neutrofil dapat menjalankan suatu tipe kematian sel terprogram yang tidak lazim
yang disebut NETosis yang menggunakan materi seluler penting untuk
mempersiapkan suatu jaringan serat yang disebut neutrophil extracellular trap
(NET) yang dilepaskan ke CES pada saat kematiannya.
2) Eosinofil
adalah spesialis jenis lain. Peningkatan eosinofil dalam darah (eosinofilia) berkaitan
dengan keadaan alergik (misalnya asma dan hay fever) dan dengan infestasi parasit
internal (misalnya cacing).
3) Basofil
adalah leukosit yang paling sedikit dan paling kurang dipahami. Sel ini secara struktur
dan fungsi cukup mirip dengan set mast, yang tidak pernah beredar dalam darah,
tetapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh.
4) Monosit
seperti neutrofil, berkembang menjadi fagosit profesional. Sel-sel ini muncul dari
sumsum tulang selagi masih belum matang dan beredar hanya satu atau dua hari

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 14


sebelum menetap di berbagai jaringan di seluruh tubuh. Di tempat barunya, sel-sel ini
melanjutkan pematangan dan menjadi sangat besar, berubah menjadi fagosit jaringan
besar yang dikenal sebagai makrofag (makro berarti "besar"; faga berarti "pemakan").
5) Limfosit
telah diprogram secara spesifik untuk membentuk pertahanan imun terhadap sasaran-
sasaran mereka. Terdapat dua jenis limfosit, limfosit B dan limfosit T (sel B dan T).
yang terlihat serupa:
a) Limfosit B
menghasilkan antibodi, yang beredar dalam darah dan bertanggung jawab
dalam imunitas humoral, atau yang diperantarai oleh antibodi. Suatu antibodi
berikatan dengan benda asing yang mengandung antigen spesifik, misalnya
bakteri, yang memicu produksi antibodi tersebut dan menandainya untuk
dihancurkan.
b) Limfosit T
tidak memproduksi antibodi; sel ini secara langsung menghancurkan sel
sasaran spesifiknya dengan mengeluarkan beragam zat kimia yang melubangi
sel korban, suatu proses yang dinamai imunitas selular.

4. Trombosit

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 15


Gambar 11: Sebuah megakariosit yang membentuk trombosit5

Dalam setiap mililiter darah secara normal terdapat sekitar 250 juta trombosit
(berkisar dari 150.000 hingga 350.0001 mm3). Trombosit, atau keping darah bukan
merupakan sel lengkap, tetapi fragmen kecil sel (garis tengah sekitar 2 hingga 4 mm)
yang dilepaskan dari tepi luar sel terikat-sumsum tulang yang sangat besar (garis
tengah hingga 60 mm) yang dikenal sebagai megakariosit (Gambar 11). Satu
megakariosit biasanya memproduksi sekitar 1000 trombosit. Megakariosit berasal dari
sel punca belum berdiferensiasi yang sama dengan yang menghasilkan turunan
eritrosit dan leukosit. Trombosit pada hakikatnya adalah vesikel yang terlepas yang
mengandung sebagian sitoplasma megakariosit yang terbungkus dalam membran
plasma. Trombosit tetap berfungsi selama rerata 10 hari, setelah itu keping darah ini
dibersihkan dari sirkulasi oleh makrofag jaringan, terutama yang terdapat di limpa dan
hati, dan diganti oleh trombo-sit baru yang dibebaskan dari sumsum tulang. Hormon
trombopoietin, yang dihasilkan oleh hati, meningkatkan jumlah megakariosit di sum
sum tulang dan merangsang tiap-tiap megakariosit untuk menghasilkan lebih banyak
trombosit sesuai yang diperlukan. faktor-faktor yang mengontrol sekresi
trombopoietin dan mengatur kadar trombosit saat ini sedang dalam penelitian.5

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 16


Koagulasi Darah5

Koagulasi darah, atau pembekuan darah, adalah transformasi darah dari cairan menjadi gel
padat. Pembentukan bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menopang sumbat,
meningkatkan tambalan yang menutupi kerusakan pembuluh. Selain itu, sewaktu darah di
sekitar kerusakan pembuluh memadat, darah tidak lagi dapat mengalir. Pembekuan darah
adalah mekanisme hemostatik tubuh yang paling kuat. Mekanisme ini diperlukan untuk
menghentikan perdarahan dari semua kecuali kerusakan-kerusakan yang paling kecil.

Gambar 12: Eritrosit terperangkap di jala fibrin di suatu bekuan5.

Langkah terakhir dalam pembentukan bekuan adalah perubahan fibrinogen, suatu protein
plasma larut berukuran besar yang dihasilkan oleh hati dansecara normal selalu ada di dalam
plasma, menjadi fibrin, suatu molekul tak-larut berbentuk benang. Perubahan menjadi fibrin
ini dikatalisis oleh enzim trombin di tempat cedera. Molekul-molekul fibrin melekat ke
permukaan pembuluh yang rusak, membentuk jala longgar yang menjerat sel-sel darah,
termasuk agregat trombosit. Massa yang terbentuk, atau bekuan, biasanya tampak merah
karena banyaknya SDM yang terperangkap tetapi bahan dasar bekuan dibentuk dari fibrin
yang berasal dari plasma (Gambar 12). Kecuali trombosit, yang membantu perubahan

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 17


fibrinogen menjadi fibrin, pembekuan dapat berlangsung tanpa adanya sel-sel darah lain. Jala
fibrin awal ini relatif lemah karena untai-untai fibrin saling menjalin secara longgar. Namun,
dengan cepat terbentuk ikatan kimia antara untai-untai fibrin yang berdekatan untuk
memperkuat dan menstabilkan jala bekuan ini. Proses pembentukan ikatan-silang ini
dikatalisis oleh suatu faktor pembekuan yang dikenal sebagai faktor XIII (fibrin-stabilizing
factor) yang secara normal terdapat dalam plasma dalam bentuk inaktif. Fibrin adalah protein
alami yang paling elastis yang pernah diteliti ilmuwan. Secara rerata, serat fibrin dapat secara
pasif diregangkan hingga 2,8 kali panjang asli mereka dan masih dapat kembali ke ukuran
awal serta dapat diregangkan hingga 4,3 kali panjang mereka sebelum akhirnya putus. Sifat
yang sangat elastis ini berkontribusi pada sifat regang bekuan darah yang sangat kuat.

Peran Trombin5

Gambar 13: Peran trombin dalam hemostatsis5

Trombin, selain mengubah fibrinogen menjadi fibrin (langkah 1a di Gambar 13), juga
mengaktifkan faktor XIII untuk menstabilkan jala fibrin yang terbentuk (langkah 1b ),
bekerja melalui mekanisme umpan balik positif untuk mempermdah pembentukan dirinya
(langkah 1c), dan meningkatkan agregasi trombosit (langkah1 1d ), yang pada saatnya
penting bagi proses pembekuan darah (langkah 2 ). Karena trombin mengubah molekul-
molekul fibrinogen yang selalu ada dalam plasma menjadi bekuan darah, dalam keadaan
normal trombin seharusnya tidak ada dalam plasma kecuali di sekitar pembuluh yang rusak.

Jika ada, darah akan selalu mengalami koagulasisuatu keadaan yang tidak memungkinkan

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 18


kehidupan. Bagaimana trombin dalam keadaan normal tidak terdapat di dalam plasma tetapi
segera tersedia untuk memicu pembentukan fibrin begitu ada pembuluh cedera? Jawabannya
adalah bahwa trombin berada dalam plasma dalam bentuk prekursor inaktif yang dinamai
protrombin, yang diubah menjadi trombin ketika dibutuhkan pembekuan darah. Perubahan
ini melibatkan kaskade pembekuan.

Kaskade Pembekuan5

Gambar 14: Jalur pembekuan darah. Jalur pembekuan intrinsik (warna biru) dimulai ketika
faktor XII (faktor Hageman) diaktifkan oleh kontak dengan kolagen yang terpajan di
permukaan pembuluh yang rusakatau oleh kontak dengan permukaan benda asing. Jalur ini
menimbulkan pembekuan di dalam pembuluh yang rusak dan pembekuan sampel darah di
tabung reaksi. Jalur pembekuan ekstrinsik yang lebih singkat (warna abu-abu) dimulai ketika
faktor X, suatu faktor yang diaktifkan separuh jalan di jalur intrinsik, diaktifkan oleh
tromboplastin jaringan yang dikeluarkan oleh jaringan yang rusak. Jalur ekstrinsik
menyebabkan pembekuan darah yang telah keluar dari pembuluh darah ke jaringan sekitar

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 19


sewaktu cedera. Dad faktor X dan seterusnya, langkah-langkah di kedua jalur adalah identik
(warna abu-abu biru).5

Sementara faktor pembekuan plasma teraktivasi lainnya, faktor X, mengubah protrombin


menjadi trombin; faktor X itu sendiri dalam keadaan normal terdapat dalam bentuk inaktif di
dalam darah dan harus diubah menjadi bentuk aktifnya oleh faktor teraktivasi lainnya,
demikian seterusnya. Secara bersama-sama, 12 faktor pembekuan plasma ikut serta dalam
tahap-tahap esensial yang menyebabkan perubahan akhir fibrinogen menjadi jala fibrin yang
stabil (Gambar 14). Faktor-faktor ini diberi nama angka romawi sesuai urutan penemuannya,
bukan urutan keikutsertaannya dalam proses pembekuan1. Sebagian besar faktor pembekuan
ini adalah protein plasma yang disintesis oleh hati. Dalam keadaan normal, faktor-faktor ini
selalu terdapat di dalam plasma dalam bentuk inaktif, misalnya fibrinogen dan protrombin.
Berbeda dengan fibrinogen, yang diubah menjadi untai-untai fibrin tak-larut, protrombin dan
prekursor lain, ketika diubah menjadi bentuk aktifnya, bekerja sebagai enzim proteolitik
(pengurai protein). Enzim-enzirn ini mengaktifkan faktor spesifik lain dalam rangkaian
pembekuan. Jika faktor pertama dalam rangkaian ini diaktifkan maka faktor tersebut akan
mengaktifkan faktor berikutnya,demikian seterusnya, dalam suatu rangkaian reaksi berantai
yang dikenal sebagai kaskade pembekuan, hingga trombin mengatalisis perubahan akhir
fibrinogen menjadi fibrin. Beberapa tahap ini memerlukan keberadaan Ca2+ plasma dan
platelet factor 3 (PF3), suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh sumbat trombosit teragregasi.
Karena itu, trombosit juga ber-peran dalam pembentukan bekuan (lihat Gambar 13).

Jalur Intrinsik dan Ekstrinsik5

1. Jalur intrinsik memicu pembekuan di dalam pembuluh


yang rusak serta pembekuan sampel darah di dalam tabung reaksi. Semua unsur yang
diperlukan untuk menghasilkan pembekuan melalui jalur intrinsik terdapat di darah.
Jalur ini, yang melibatkan tujuh langkah berbeda (diperlihatkan dalam warna biru di
Gambar 14), teraktifkan jika faktor XII (faktor Hageman) diaktifkan oleh kontak
dengan kolagen yang terpajan di pembuluh yang cedera atau permukaan benda asing
misalnya kaca tabung reaksi. Ingat bahwa kolagen yang terpajan juga memicu
agregasi trombosit. Karena itu, pembentukan sumbat trombosit dan reaksi berantai
yang men-yebabkan pembentukan bekuan secara bersamaan diaktifkan jika terjadi
kerusakan pembuluh darah. Selain itu, mekanismemekanisme hemostatik

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 20


komplementer ini saling memperkuat. Agregat trombosit menyekresikan PF3, yang
esensial bagi kaskade pembekuan yang pada gilirannya meningkatkan agregasi
trombosit lebih lanjut.
2. Jalur ekstrinsik mengambil jalan pintas dan hanya memerlukan empat langkah
(diperlihatkan dalam warna abu-abu di Gambar 14). Jalur ini, yang memerlukan
kontak dengan faktor-faktor jaringan yang eksternal terhadap darah, memicu
pembekuan darah yang telah keluar dari jaringan. Ketika mengalami trauma, jaringan
mengeluarkan suatu kompicks protein yang dikenal sebagai tromboplastin jaringan.

Tromboplastin jaringan secara langsung mengaktifkan faktor X sehingga


melewatkan semua tahap sebelumnya di jalur intrinsik. Dan titik ini, kedua jalur
identik. Mekanisme ekstrinsik dan intrinsik biasanya bekerja bersamaan. Jika cedera
jaringan melibatkan robeknya pembuluh darah, mekanisme intrinsik menghentikan
darah di pembuluh yang cedera dan mekanisme ekstrinsik membekukan darah yang
permukaan keluar dari jaringan sebelum pembuluh tertambal. Biasanya, bekuan darah
terbentuk sempurna dalam tiga hingga enam menit.

Pelarutan bekuan5

Gambar 15: Peran faktor XII dalam pembentukan dan pelarutan bekuan. Aktivasi faktor XII (faktor Hageman) secara
bersamaan menginisiasi sebuah reaksi cepat yang menghasilkan pembentukan bekuan dan sebuah reaksi cepat yang

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 21


menghasilkan aktivasi plasmin. Plasmin, yang terperangkap dalam bekuan, selanjutnya melarutkan bekuan secara perlahan.
Karla ini menghilangkan bekuan ketika bekuan tidak lagi diperlukan setelah pembuluh diperbaiki. 5

Bersamaan dengan proses penyembuhan, bekuan darah, yang tidak lagi diperlukan untuk
mencegah perdarahan, secara perlahan dihancurkan oleh suatu enzim fibrinolitik (pengurai
fibrin) yang dinamakan plasmin. Jika bekuan tidak dibersihkan setelah bekuan tersebut
melakukan fungsi hemostatiknya, pembuluh darah, terutama yang berukuran kecil yang
setiap hari mengalami ruptur kecil, akhirnya akan tersumbat oleh bekuan. Plasmin, seperti
faktor pembekuan, adalah protein plasma yang diproduksi oleh hati dan terdapat di dalam
darah dalam bentuk prekursor inaktif, plasminogen. Plasmin diaktifkan dalam suatu kaskade
reaksi cepat yang melibatkan banyak faktor, antara lain faktor XII (faktor Hageman) yang
juga memicu reaksi berantai yang menyebabkan terbentuknya bekuan (14). Ketika bekuan
terbentuk dengan cepat, plasmin yang teraktivasi terperangkap di dalam bekuan dan
kemudian melarutkan bekuan dengan secara perlahan menguraikan jala-jala fibrin. Sel darah
putih fagositik secara bertahap menyingkirkan produk- produk pelarutan bekuan. Anda telah
mengamati hilangnya darah yang telah membeku secara perlahan setelah keluar ke lapisan
jaringan kulit sesudah suatu cedera. Tanda hitam-dan-biru kulit memar tersebut terjadi karena
adanya darah beku terdeoksigenasi di dalam kulit; darah ini akhirnya dibersihkan oleh kerja
plasmin, diikuti oleh sel-sel fagositik "pembersih".

DAFTAR PUSTAKA

1. Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System; edisi
ke-3. Maryland: Lippincott Williams & Wilkins, 1999: 464, 468-476.
2. Drake RL, Vogi AW, Mitchell AWM. Gray Dasar-Dasar Anatomi: edisi ke-1.
Singopre: Elsevier Churchill Livingstone 2014; 276, 278-79.
3. Modul Kuliah Blok 8: Cardiovaskular 1; P. 45, 47.
4. Paulsen F, Waschke J. Ditranslate oleh: Klonisch T, Klonisch SH. Sobotta atlas
anatomi manusia nomenklatur latin anatomi umum dan sistem muskuloskeletal. 15th
ed. Munich: Urban & Fischer Verlag is an imprint of Elsevier GmbH; 2011.h. 340,
358.
5. Sherwood L. Fisiologi manusia. Ed 8. Jakarta: EGC. 2014 .h. 409-29.

Fakultas Kedokteran - UKRIDA 22