Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yaitu Hipertensi. penyakit
darah tinggi yang dalam istilah medis disebut Hipertensi dianggap sebagai
penyakit serius karena dampak yang ditimbulkan sangat luas, bahkan dapat
berakhir pada kematian. Gejala Hipertensi juga dijuluki sebagai silent killer,
karena dapat mengakibatkan kematian mendadak bagi penderitanya. Kematian
terjadi akibat dampak hipertensi itu sendiri atau penyakit lain yang diawali oleh
hipertensi. Penyakit-penyakit tersebut di antaranya sebagai berikut kerusakan
ginjal, serangan jantung, stroke, glaukoma, disfungsi ereksi, demensia serta
alzheimer (Sativa, 2013).

Masalah kesehatan yang rentan dengan emergency salah satunya yaitu


keluarga yang memiliki lansia (lanjut usia) pengidap hipertensi merupakan
salah satu faktor yang berperan penting dalam mewujudkan sumber daya
manusia yang berkualitas hingga proses perawatan dapat di minimalisir supaya
membuat setiap individu menjadi sangat produktif hingga sangat
memperhatikan kualitas keberlangsungan kehidupan yang madani. Melalui
pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan
tingkat kesehatan masyarakat serta pelayanan kesehatan dapat dirasakan oleh
semua lapisan masyarakat secara memadai, pembangunan kesehatan di
Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah, di satu pihak penyakit penular
sementara di lain pihak telah terjadi peningkatan kasus penyakit-penyakit tidak
menular (PTM) yang banyak disebabkan oleh gaya hidup karena urbanisasi,
modernisasi, globalisasi termasuk juga penyakit dengan yang mengakibatkan
seseorang yaitu darah nya terjadi overload saat di periksa dengan
Sfigmomanometer diatas angka 160/90 mmHg atau terlalu tinggi.

Konsep sehat sakit adalah konsep yang kompleks multi interpretasi,


banyak faktor yang mempengaruhi kondisi sehat maupun sakit yang salah satu
nya juga penyakit sistem jantung tentang masalah hipertensi. Setiap individu,
keluarga, masyarakat maupun profesi kesehatan mengartikan sehat/sakit secara
berbeda tergantung paradigmanya. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-
hari) seperti masuk angin, pilek tetapi bila ia tidak terganggu untuk
melaksanakan kegiatannya, maka ia dianggap tidak sakit. Konsep sehat sakit
ini tentu mempengaruhi individu, keluarga, masyarakat dalam mengatasinya
diantaranya perubahan perilaku juga emosional, dampak sakit pada peranan
keluarga, dampak pada citra tubuh, dampak pada konsep diri, serta dampak
pada dinamika keluarga (Aisah, 2012).

Hipertensi merupakan penyakit yang proses perawatan nya cukup sulit


untuk dilakukan Askep dan juga dalam menulis LP Hipertensi, karena pada
dasarnya tidak diketahui penyebab pasti hipertensi oleh penderita karena
kurangnya pengetahuan klien terhadap penyakit hipertensi. Sebagian besar
timbul tanpa gejala yang khas terkait penyakit hipertensi itu sendiri. Penderita
hipertensi biasanya iritabel, mudah marah dan tersinggung. Pada klien
hipertensi sering terjadi kebosanan akan prosedur pengobatan dengan waktu
yang lama, diet, olah raga, merokok, minuman yang mengandung alkohol.
Dampak masalah terhadap keluarga akan merepotkan dalam memberikan
perawatan, pengaturan diet manambah beban biaya hidup yang terus-menerus.
Dampak lain terhadap masyarakat yaitu dengan adanya klien hipertensi
dimasyarakat memungkinkan terjadi perubahan peran dalam masyarakat, selain
itu akan menimbulkan kecemasan terhadap masyarakat dan akan terjadi
ancaman kehilangan salah satu anggotanya (Sativa, 2013).

Persentase penderita hipertensi saat ini dalam beberapa laporan


pendahuluan yang paling banyak terdapat di negara berkembang. Data Global
Status Report on Noncommunicable Disesases dari WHO menyebutkan, 40
persen negara ekonomi berkembang memiliki penderita hipertensi, sedangkan
negara maju hanya 35 persen. Kawasan Afrika memegang posisi puncak
penderita hipertensi sebanyak 46 persen. Sementara kawasan Amerika
menempati posisi buncit dengan 35 persen. Di kawasan Asia Tenggara, 36
persen orang dewasa menderita hipertensi.Untuk kawasan Asia, penyakit ini
telah membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya. Hal ini menandakan satu dari
tiga orang menderita tekanan darah tinggi (Candra, 2013).

Kondisi Hipertensi (Heart Deases) seringkali tidak disadari. Badan


Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 1 dari 3 orang dewasa menderita
tekanan darah tinggi. Badan PBB menuturkan negara Kanada, Amerika Serikat
memiliki pasien tekanan darah tinggi yang paling sedikit yaitu kurang dari 20%
orang dewasa, tapi negara-negara miskin seperti Nigeria diperkirakan
jumlahnya mendekati 50%. Di beberapa negara Afrika jumlah orang yang
memiliki tekanan darah tinggi mencapai setengah dari populasi orang dewasa.
Di Nigeria sebesar 50,3%, Malawi 44,5% dan Mozambik sebesar 46,3%
(Farah, 2013).

Data American Heart Association (AHA) yang dipublikasikan oleh


Purwandhono (2013), penduduk Amerika yang berusia diatas 20 tahun
menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun
hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Di Indonesia,
prevalensi hipertensi cukup tinggi. Menurut National Basic Health Survey
2013, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 15-24 tahun adalah 8,7 persen,
pada kelompok usia 25-34 tahun adalah 14,7 persen, 35-44 tahun 24,8 persen,
45-54 tahun 35,6 persen, 55-64 tahun 45,9 persen, 65-74 tahun 57,6 persen,
lebih dari 75 tahun adalah 63,8 persen (Kartika, 2014).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Hipertensi?
2. Apa penyebab Hipertensi?
3. Bagai mana tanda dan gejala Hipertensi?
4. Bagai mana patofisiologi Hipertensi?
5. Apa komplikasi pada Hipertensi?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada Hipertensi?
7. Bagaai mana penatalaksanaan medis pada Hipertensi?
8. Bagai mana pengkajaian terhadap penderita Hipertensi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

C. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik
dengan konsisten diatas 140/90 mmHg. Diagnosis hipertensi tidak
berdasarkan pada peningkatan tekanan darah yang hanya sekali, tekanan
darah harus diukur dalam posisi duduk dan berbaring (Barbadero, 2005.
Hal 49).
Hipertensi didefenisikan sebagai tekanan darah yang interminten
atau terus-menerus diatas 140/90 mmHg karena fluktuasi tekanan darah
terjadi antar individu dan dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan ansietas
(Marrelli. 2008. Hal 125).
Sedangkan menurut Graber (2005. Hal 103) hipertensi
didefenisikan sebagai rekanan darah sistolik yang menetap diatas atau sama
dengan 140mmHg atau tekanan darah diastolik yang menetap diatas atau
sama dengan 90 mmHg.

2. Faktor-faktor Penyebab Hipertensi


Riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan hipertensi
Pria usia 35 55 tahun dan wanita > 50 tahun atau sesudah menopause
Kebanyakan mengkonsumsi garam/natrium
Sumbatan pada pembuluh darah (aterosklerosis) disebabkan oleh
beberapa hal seperti merokok, kadar lipid dan kolesterol serum
meningkat, caffeine, DM, dsb.
Factor emosional dan tingkat stress
Gaya hidup yang monoton
Sensitive terhadap angiotensin
Kegemukan
Pemakaian kontrasepsi oral, seperti esterogen.
3. Tanda Dan Gejala
Tanda serta gejala hipertensi dapat dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala yang begitu spesifik yang dapat dihubungkan dengan
adanya peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
tenaga kesehatan yang memeriksa tekanan darahnya. Ini menunjukan
bahwa hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa atau dintentukan
apabila tekanan arteri tidak diukur.
b. Gejala yg lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yg menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala & kelelahan. Dalam kenyataannya ini
adalah gejala terlazim yg berkaitan kebanyakan pasien yg mencari bantuan
medis.
4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia
simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat
sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi. (Smeltzer, 2001).
Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal
mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal
mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi. (Price, 2005
5. Komplikasi
Efek pada organ :
a. Otak
Pemekaran pembuluh darah
Perdarahan
Kematian sel otak : stroke
b. Ginjal
Malam banyak kencing
Kerusakan sel ginjal
Gagal ginjal
c. Jantung
Membesar
Sesak nafas (dyspnoe)
Cepat lelah
Gagal jantung
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laborat

Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume


cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi
ginjal.
Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)
dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
danada DM.

b. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati


c. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.
d. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu
ginjal,perbaikan ginjal.
e. Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area
katup,pembesaran jantung.

7. Penatalaksnaan Medis
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis

DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB


dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas
rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging,bersepeda atau berenang.

b. Penatalaksanaan Farmakologis

Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
Mempunyai efektivitas yang tinggi.
Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
Tidak menimbulakn intoleransi.
Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
Memungkinkan penggunaan jangka panjang
PATHWAY HIPERTENSI

8. KLASIFIKASI
8. Klasifikasi hipertensi menurut WHO
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140
mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg
dan diastolik 91-94 mmHg
3.Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.
Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and
Treatment of Hipertension
1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 99 : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 : Hipertensi ringan
d. 105 114 : Hipertensi sedang
e. >115 : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 159 : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi

Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang


mendadak (sistole 180 mmHg dan/atau diastole 120 mmHg), pada
penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera yang
ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan
timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina),
ginjal, jantung, dan pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya
tekanan darah. Dibagi menjadi dua:
a. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan
obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut
atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg
disertai kerusakan organ target yang progresif dan di perlukan tindakan
penurunan TD yg segera dalam kurun waktu menit/jam.
b. Hipertensi urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa
adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna
tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan
tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan TD harus
dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah
dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari)
D. MANAJEMEN KEPERAWATAN
9. Pengkajian
Merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk
mengenal masalah klien, agar dapat memberikan arahan keperawatan tahap
pengkajian terdiri dari, pengumpulan data, pengelompokan data, dan
perumusan diagnosa keperawatan.
a. Pengumpulan data (mengumpulkan tentang status kesehatan klien)
1) Identitas klien
2) Keluhan utama
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Riwayat penyakit dahulu
5) Riwayat penyakit keluarga
6) Riwayat psikososial
7) Pola fungsi kesehatan
8) Pemeriksaan fisik
10. Diagnosa Keperawatan

. Diagnosa I : Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan


peningkatan tekanan vaskuler cerebral.
1. Tujuan : Menghilangkan rasa nyeri klien
Klien merasa nyaman
2. Hasil yang diharapkan : Sakit kepala hilang
3. Intervensi
a. Kaji tingkat nyeri dan kenyamanan.
b. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
c. Gunakan teknik relaksasi.

. Diagnosa II : Kurang pengetahuan mengenai kondisi,


rencana pengobatan berhubungan dengan
kurang pengetahuan atau daya ingat
1. Tujuan : Agar klien mengetahui tekanan darah batas
normal
2. Hasil yang diharapkan : Klien mengerti tentang hipertensi dan efeknya
pada jantung, pembuluh darah ginjal dan otak
3. Intervensi
a. kaji tingkat pengetahuan klien tentang hipertensi

11. Implementasi
Menurut Carpenito (2009, hal 57). komponen implementasi dalam proses
keperawatan mencakup penerapan keterampilan yang diperlukan untuk
mengimplentasikan intervensi keperawatan. Keterampilan dan pengetahuan
yang diperlukan untuk implementasi biasanya berfokus pada
a. Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien.
b. Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru
atau memantau status masalah yang telah ada.
c. Memberi pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan
pengetahuan yang baru tentang kesehatannya atau penatalaksanaan
gangguan.
d. Membantu klien membuat keputusan tentang layanan kesehatannya sendiri
e. Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk
mendapatkan pengarahan yang tepat.
f. Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau
menyelesaikan masalah kesehatan.
g. Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri.
h. Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan
yang tersedia.

12. Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan
perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama pengkajian,
analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan (Ignatavicus dan Bayne, 1994).
(Nursalam, 2001. Hal : 17).
Evaluasi keperawatan digunakan untuk mengetahui sejauh mana
perkembangan terhadap pasien dengan impleentasi keperawatan sesuai dengan
karakter S.O.A.P.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2,
Jakarta,EGC,
Hamzah, : Ensiklopedia Artikel Indonesia, Surabaya
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,
Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford:
Oxford University Press
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River