Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan


retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah
berkontraksi, selmiometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan
lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal
secara progresif, dan kavum uterimengecil sehingga ukuran juga mengecil.
Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan
plasenta. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak
dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Pengamatan terhadap persalinan
kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka
perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal
dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu: 1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya
duding uterus yang bebas tempat plasenta, namundinding uterus tempat plasenta
melekat masih tipis. 2. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus
tempat plasenta melekat (dariketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm). 3. Fase
pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya
daridinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding
uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara
plasenta yang pasif dengan ototuterus yang aktif pada tempat melekatnya
plasenta, yang mengurangi permukaan tempatmelekatnya plasenta. Akibatnya
sobek di lapisan spongiosa. 4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak
meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan
sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa
perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab.
Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi.
Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-
abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak
dapat mengeluarkan plasenta secara spontan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15
sampai 20 cm dan teballebih kurang 2.5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat
berhubungan dengan plasenta biasanya ditengah (insertio sentralis). Umumnya plasenta
terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah
mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari
sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan
sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis. Darah ibu yang
berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di
desidua basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80
mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai
chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut
membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg
kevena-vena di desidua. Plasenta berfungsi : sebagai alat yang memberi makanan
pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan
CO2, membentuk hormon, serta penyalur berbagai antibodi ke janin.
B. Definisi
Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam
setengah jamsetelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan
tertinggalnya bagian plasentadalam rongga rahim yang dapat menimbulkan
perdarahan postpartum dini (early postpartumhemorrhage) atau perdarahan post
partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanyaterjadi dalam 6-10 hari
pasca persalinan.Menurut Sarwono Prawirohardjo : Retensio plasenta adalah
tertahannya atau belum lahirnya plasentahingga atau melebihi waktu 30 menit setelah
bayi lahir.
C. Jenis Retensio Plasenta:
1. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehinggamenyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.

2
2. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian
lapisanmiometrium.
3. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga
mencapai/memasukimiometrium.
4. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan
otot hinggamencapai lapisan serosa dinding uterus.
5. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan
oleh konstruksiostium uteri
D. Etiologi
Penyebab terjadinya retensio plasenta diantaranya yaitu :
Plasenta belum lepas dari dinding uterus
Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan Jika plasenta belum lepas sama
sekali, tidak terjadi perdarahan. Jika lepas sebagian terjadi perdarahan dan
merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.
Faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta :
Kelainan dari uterus sendiri, yaitu : Kontraksi uterus kurang kuat untuk
melepaskan plasenta(plasenta adhessiva)
Kelainan dari plasenta, misalnya : Plasenta melekat erat pada dinding uterus
oleh sebab villi khorialis menembus desidua sampai miometrium sampai
dibawah peritoneum (plasenta akreta- perkreta)
Kesalahan manajemen kala III persalinan, seperti : manipulasi dari uterus yang
tidak perlusebelum terjadinya pelepasan dari plasenta dapat menyebabkan
kontraksi yang tidak ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat
waktunya juga dapat menyebabkan serviks kontraksi(pembentukan
constriction ring) dan menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).
E. Diagnosis dan Managemen
1. Perdarahan Sebelum lahirnya plasenta
Perdarahan dalam kala III persalinan biasanya disebabkan karena
retensio plasenta. Meskipun demikian pasien juga dapat berdarah karena
adanya robekan jalan lahir. Ketika terjadi perdarahan dan plasenta masih
didalam uterus hal pertama yang dilakukan adalah berusaha untuk

3
mengeluarkan plasenta dengan tarikan ringan dengan penekanan
pada uterus dengan menekan abdomen. Bila berhasil,uterus harus
tetap ditekan dan diberikan oksitosin intravena. Kompresi bimanual harus tetap
dilakukan hingga uterus berkontraksi dengan baik

2. Retensio Plasenta karena kontraksi serviks


Retensio plasenta karena kontraksi serviks hampir selalu terjadi pada
persalinan preterm. Serviksakan menutup hingga hanya terbuka 2 jari. Pada
situasi ini tidak dianjurkan untuk melakukan pengeluaran plasenta dengan
tarikan pada tali plasenta, tekanan pada abdomen maupun
pemberian oksitosin. Hal yang lebih baik dilakukan adalah dengan
memberikan nitrogliserin untuk merelaksasi serviks sehingga dapat dilakukan
manual plasenta. Nitrogliserin merupakan vasodilator kuat,
hipotensor dan relaksan otot miometrium. Pemberiandosis rendah
intra vena membuat relaksasi uterus tanpa mempengaruhi tekanan darah.
Meskipun demikian, obat ini sebaiknya tidak digunakan pada pasien syok dan
tekanan darah rendah. Sebelum memasukkan nitrogliserin sebaikknya
diberikan cairan intravena berupa kristaloid sebanyak 500-1000 cc, Kemudian
500 micro gram intravena. Kurang lebih 60-120 detik setelah nitrogliserin
dimasukkan, serviksakan relaksasi sehingga tangan operator dapat masuk
kedalam kavum uteri.

4
3. Retensio Plasenta karena Perlekatan plasenta yang abnormal
Terdapat beberapa derajat kuatnya perlekatan plasenta ke dinding
uterus. Pada kebanyakan kasus plasenta dapat lepas dari dinding uterus
tanpa kesulitan. Pada beberapa kasus plasenta melekat erat pada
dinding uterus sehingga plasenta sulit lepas dari dinding uterus sehingga
memerlukan tindakan berupa manual plasenta dan perdarahan menjadi sangat
banyak. Kondisi ini disebut plasenta akreta dan kebanyakan berakhir dengan
histerektomi. Plasenta akreta menunjukkan angka kematian 4 kali lebihtinggi
dari plasenta yang dapat lahir normal yang merupakan indikasi histerektomi.
Pada plasenta akreta, perlekatan villi plasenta langsung pada miometrium, yang
mengakibatkan pelepasan yang tidak sempurna pada saat persalinan.
Komplikasi yang signifikan dari plasenta akreta adalah perdarahan
post partum. Berdasarkan penelitian oleh Resnik, angka kejadian plasenta
akreta meningkat dan dokter diharapkan waspada akan kondisi ini, terutama
pada wanita yang memiliki riwayat seksio sesaria sebelumnya atau berbagai
penyebab parut pada uterus.
4. Perdarahan setelah Plasenta lahir
Perdarahan setelah plasenta lahir biasanya disebabkan atonia uteri.
Tidak jarang juga disebabkan karena adanya sisa plasenta, robekan
jalan lahir, inversi uteri, ruptur uteri dan juga gangguan sitem
koagulasi. Hal pertama yang dilakukan pada perdarahan setelah plasenta lahir
adalah penekanan bimanual vaginal dan abdominal, hal ini dapat mengurangi
perdarahan. Kemudian dipasang satu atau dua infus dan diberikan infus
oksitosin (30 IU dalam 1000 cc RL). Bila penekanan uterus dan infus
oksitosin tidak berhasil, pasien diperiksa dengan USG untuk memeriksa sisa
jaringan yang masih tertinggal atau dengan tangan memeriksa adanya robekan
uterus.
F. Penatalaksanaan
Inspeksi plasenta segera setelah bayi lahir. jika ada plasenta yang hilang, uterus
harus dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan khususnya jika kita menghadapi
perdarahan post partumlanjut.Jika plasenta belum lahir, harus diusahakan

5
mengeluarkannya. Dapat dicoba dulu parasat Crede, tetapi saat ini tidak digunakan lagi
karena memungkinkan terjadinya inversio uteri. Tekanan yang kerasakan menyebabkan
perlukaan pada otot uterus dan rasa nyeri keras dengan kemungkinan syok. Cara
lainuntuk membantu pengeluaran plasenta adalah cara Brandt, yaitu salah satu tangan
penolong memegangtali pusat dekat vulva. Tangan yang lain diletakkan pada dinding
perut diatas simfisis sehingga permukaan palmar jari-jari tangan terletak
dipermukaan depan rahim, kira-kira pada perbatasan segmen bawah dan
badan rahim. Dengan melakukan penekanan kearah atas belakang, maka
badan rahim terangkat. Apabila plasenta telah lepas maka tali pusat tidak tertarik
keatas. Kemudian tekanan diatassimfisis diarahkan kebawah belakang, ke arah vulva.
Pada saat ini dilakukan tarikan ringan pada tali pusatuntuk membantu megeluarkan
plasenta. Tetapi kita tidak dapat mencegah plasenta tidak dapat dilahirkanseluruhnya
melainkan sebagian masih harus dikeluarkan dengan tangan. Pengeluaran plasenta
dengantangan kini dianggap cara yang paling baik. Tehnik ini kita kenal sebagai
plasenta manual.
Indikasi Plasenta manual
Perdarahan pada kala III persalinan kurang lebih 500 cc
Retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir
Setelah persalinan yang sulit seperti forceps, vakum, perforasi
dilakukan eksplorasi jalan lahir.
Tali pusat putus
Tehnik Plasenta Manual
Sebelum dikerjakan penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan
umum penderita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus Ringer Laktat.
Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva, lakukan desinfeksi pada genitalia
eksterna begitu pula tangan dan lengan bawah si penolong (setelah
menggunakan sarung tangan). Kemudian labia dibeberkan dan tangan kanan
masuk secara obstetris kedalam vagina. Tangan luar menahan fundus uteri.
Tangan dalam sekarang menyusun tali pusat yangsedapat-dapatnya
diregangkan oleh asisten. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta, maka
tangan pergi ke pinggir plasenta dan sedapat-dapatnya mencari pinggir yang

6
sudah terlepas. Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking, plasenta
dilepaskan ialah antara bagian plasenta yang sudah terlepas dengan dinding
rahim dengan gerakan yangsejajar dengan dinding rahim. Setelah plasenta
terlepas seluruhnya, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik
keluar.

7
PENANGANAN RETENSIO PLASENTA

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC. GastroIntestinal


Disorders. Viral hepatitis. Williams Obstetric. 23rd Ed. Mc.Graw
Hill Publishing Division New York, 2010
2. Manuaba, Ida Bagus Gede. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta : EGC.
3. Winkjosastro, H. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.