Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang perlu
penanganan serius, dilihat dari tingginya prevalensi kasus dan komplikasi
kronis penyakit yang ditimbulkan.Hepatitis B adalah infeksi pada organ hati
yang disebabkan oleh HBV (Virus Hepatitis B).
Menurut WHO (2012), sekitar 2 miliar penduduk di seluruh dunia pernah
terinfeksi dengan virus hepatitis B dan sekitar 600.000 penduduk meninggal
setiap tahunnya oleh karena komplikasi dari hepatitis B itu sendiri serta lebih
dari 240 juta menderita infeksi hati yang kronik (jangka panjang).
Keadaan ini mengakibatkan komplikasi hati kronis seperti sirosis dan kanker
hati yang dapat menyebabkan kematian.
Adapun peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor 53 tahun
2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus, Bahwa Hepatitis Virus
merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat
dan memerlukan upaya penanggulangan melalui pencegahan, pengendalian
dan pemberantasan agar kesakitan, kematian, dan dampak sosial ekonomi
yang ditimbulkan dapat ditekan serendah-rendahnya, Indonesia digolongkan
sebagai negara dengan kategori endemisitas sedang sampai tinggi.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan dari
10.391 serum yang diperiksa, prevalensi HBsAg positif 9,4% yang berarti 1
dari 10 penduduk Indonesia pernah terinfeksi hepatitis B. Bila dikonversikan
dengan jumlah penduduk Indonesia maka jumlah penduduk hepatitis B di
negeri ini mencapai 23 juta orang (Depkes RI, 2013).
Berdasarkan data Depkes RI (2010), resiko penularan pada hepatitis B sebesar
27%-37%. Berdasarkan data WHO (2011), dari 35 juta petugas kesehatan di
seluruh dunia, 3 juta diantara nya menerima paparan perkutan dari spesimen
darah yang patogen setiap tahunnya ; 2 juta diantaranya menerima paparan

Page
1
virus hepatitis B. Paparan ini menghasilkan sekitar 70.000 infeksi hepatitis B.
Lebih dari 90% infeksi ini terjadi di negara berkembang.
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kemkes, Sigit
Priohutomo mengatakan, Permenkes tersebut akan menjadi pedoman dalam
penanggulangan hepatitis yang mencakup upaya promotif, preventif, hingga
kuratif.

Pencegahan infeksi virus hepatitis B merupakan prioritas kesehatan


masyarakat, terutama bagi mereka yang merupakan kelompok yang berisiko
besar menjadi pengidap kronis. Tingkat infeksi dapat dikurangi melalui
modifikasi perilaku dan meningkatkan pendidikan masing-masing individu
(Franco, et al., 2012).

Adapun virus yang mengenai bayi dan balita, kemungkinan untuk menjadi
hepatitis B kronik ringan sedang maupun berat sebanyak 30-90% sisanya
sembuh. Sedangkan orang dewasa kemungkinannya 5 persen bisa sembuh
(bersih dari virus hepatitis B).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Untuk mengetahui UU yang mengatur tentang penanggulangan hepatitis


2. Untuk mengetahui definisi dari hepatitis
3. Untuk mengetahui epidemiologi dari hepatitis B
4. Untuk mengetahui pencegahan serta penanggulangan hepatitis B

1.3 TUJUAN

Page
2
1 Agar dapat mengetahui UU yang mengatur tentang penanggulangan hepatitis
2 Mengetahui definisi dari hepatitis
3 Agar bisa mengetahui epidemiologi dari hepatitis B
4 Agar dapat mengetahui pencegahan serta penanggulangan dari hepatitis B

1.4 MANFAAT
1. Sebagai sarana bagi pembaca dan penulis untuk menambah wawasan
mengenai penyakit Hepatitis B.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 UU TENTANG PENANGGULANGAN HEPATITIS

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015

Tentang Penanggulangan Hepatitis Virus

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Menimbang :

Page
3
a. Bahwa Hepatitis Virus merupakan penyakit menular yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat dan memerlukan upaya
penanggulangan melalui pencegahan, pengendalian dan
pemberantasan agar kesakitan, kematian, dan dampak sosial ekonomi
yang ditimbulkan dapat ditekan serendah-rendahnya;
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 44 Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit
Menular, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Penanggulangan Hepatitis Virus;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit


Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor
20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3273);
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor
9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

Page
4
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3447);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 184, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5570);
7. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2015 tentang Kementerian
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 59);
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1479/Menkes/SK/X/2003
tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi
Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 585) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun
2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi Dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 741);
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/Menkes/Per/IX/2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 464);

Page
5
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010
tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan
Wabah Dan Upaya Penanggulangan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 503);
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Imunisasi (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2013 Nomor 966);
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 193);
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 1113);
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 1676);
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang
Penanggulangan Penyakit Menular (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 1755);
17. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan Tahun 2015 2019

Menetapkan : Peraturan Menteri Kesehatan

Tentang : Penanggulangan Hepatitis Virus.

Pasal 1 :

Dalam peraturan ini ini yang dimaksud dengan:

Page
6
1. Hepatitis Virus adalah penyakit menular dalam bentuk peradangan hati yang
disebabkan oleh virus.
2. Penanggulangan Hepatitis Virus adalah upaya kesehatan yang
mengutamakan aspek promotif dan preventif yang ditujukan untuk
menurunkan dan menghilangkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian,
membatasi penularan, serta penyebarannya tidak meluas antar daerah
maupun antarnegara yang dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa
(KLB)/wabah serta menimbulkan dampak sosial, ekonomi, produktivitas dan
angka harapan hidup.
3. Surveilans Hepatitis Virus adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan
secara sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi tentang
kejadian Hepatitis virus serta kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan Hepatitis Virus untuk memperoleh dan
memberikan informasi guna mengarahkan tindakan penanggulangan secara
efektif dan efisien.
4. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil
Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
5. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom.
6. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.

Pasal 2 :

1. Penyelenggaraan Penanggulangan Hepatitis Virus dilaksanakan oleh


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran serta
masyarakat.
2. Penyelenggaraan Penanggulangan Hepatitis Virus sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan melalui upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perorangan.

Page
7
3. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan
Penanggulangan Hepatitis Virus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) menunjuk satuan kerja atau unit pengelola program untuk
melaksanakan penanggulangan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan.

Pasal 3 :

1. Jenis Hepatitis Virus terdiri atas:

a. Hepatitis A, disebabkan oleh Virus Hepatitis A (VHA);


b. Hepatitis B, disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB);
c. Hepatitis C, disebabkan oleh Virus Hepatitis C (VHC);
d. Hepatitis D, disebabkan oleh Virus Hepatitis D (VHD);
e. Hepatitis E, disebabkan oleh Virus Hepatitis E (VHE).

2. Terhadap jenis Hepatitis Virus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diselenggarakan penanggulangan berdasarkan cara penularannya, yaitu:

a. Hepatitis Virus yang penularannya melalui fecal oral untuk Hepatitis A


dan Hepatitis E; dan
b. Hepatitis Virus yang penularannya melalui parenteral untuk Hepatitis
B, Hepatitis C, dan Hepatitis D.
Pasal 4 :

Penanggulangan Hepatitis Virus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dilakukan


melalui kegiatan:

A. promosi kesehatan;
B. perlindungan khusus;

Page
8
C. pemberian imunisasi;
D. surveilans Hepatitis Virus;
E. pengendalian faktor risiko;
F. deteksi dini dan penemuan kasus; dan/atau
G. penanganan kasus;

Pasal 5 :

Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a ditujukan untuk:

1. peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap gejala, cara penularan, cara


pencegahan, penanganan penderita, dan resistensi obat Hepatitis Virus;
2. menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan Hepatitis
Virus;
3. peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pencegahan Hepatitis Virus; dan
4. peningkatan komitmen pemangku kepentingan untuk kesinambungan
pelaksanaan kegiatan Penanggulangan Hepatitis Virus.

Pasal 6 :

Perlindungan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b dilakukan


paling sedikit dengan penggunaan kondom, penggunaan alat pelindung diri,
dan/atau mencegah penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi.

Pasal 7 :

1. Pemberian imunisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c hanya


dilaksanakan untuk:
a. Hepatitis A melalui imunisasi secara aktif; dan
b. Hepatitis B melalui imunisasi secara aktif dan pasif

Page
9
2. Pemberian imunisasi Hepatitis A dianjurkan diberikan kepada pelaku
perjalanan ke daerah endemis, petugas kesehatan, penjamah makanan, atau
masyarakat yang mempunyai risiko tertular dan menularkan.
3. Pemberian imunisasi Hepatitis B aktif wajib diberikan kepada bayi baru lahir
segera setelah kelahirannya.
4. Pemberian imunisasi Hepatitis B pasif diberikan kepada bayi baru lahir dari
ibu dengan hepatitis B segera setelah kelahirannya.
Pasal 8 :

A. Surveilans Hepatitis Virus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d


dilaksanakan berbasis faktor risiko dan berbasis kejadian dengan melakukan
analisis terhadap data yang dikumpulkan melalui penemuan penderita secara
aktif dan pasif.
B. Surveilans Hepatitis Virus dilakukan dalam rangka:
1. pemantauan wilayah setempat;
2. kewaspadaan dini; dan / atau
3. surveilans sentinel.
Pasal 10:

Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e paling


sedikit dilakukan dengan cara:

1. peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat;


2. peningkatan kualitas lingkungan;
3. skrining darah donor;
4. skrining organ untuk transplantasi; dan
5. penggunaan alat-alat medis yang berpotensi terkontaminasi virus hepatitis.
Pasal 11 :

1. Deteksi dini dan penemuan kasus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf
f dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan atau dilakukan secara khusus di
lapangan secara aktif.

Page
10
2. Untuk mendukung deteksi dini dan penemuan kasus sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan uji sebagai konfirmasi pada laboratorium terakreditasi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Dalam hal deteksi dini menunjukan hasil reaktif, wajib dilakukan rujukan
kepada fasilitas pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjut
Pasal 12 :

(1)Penanganan kasus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g dilakukan


dengan pengobatan dan perawatan pada setiap penderita.
(2)Penanganan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
pedoman nasional pelayanan kedokteran atau standar pelayanan/tatalaksana
penyakit yang berlaku.
Pasal 13 :

Dalam penyelenggaraan penanggulangan Hepatitis Virus harus didukung dengan:

a. ketersediaan sumber daya kesehatan yaitu sumber daya kesehatan manusia,


pendanaan, teknologi, sarana dan prasarana;
b. koordinasi, jejaring kerja dan kemitraan;
c. peran serta masyarakat;
d. penelitian dan pengembangan;
e. pemantauan dan evaluasi;
f.pencatatan dan pelaporan; dan
g. pembinaan dan pengawasan.

Pasal 14:

Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Penanggulangan Hepatitis Virus


diatur dalam Pedoman sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Page
11
2.2 DEFINISI

o Hepatitis adalah proses terjadinya inflamasi dan atau nekrosis jaringan hati
yang dapat disebabkan oleh infeksi, obat -obatan, toksin, gangguan metabolik,
maupun kelainan autoimun. Infeksi yang disebabkan virus, bakteri, maupun
parasit merupakan penyebab terbanyak hepatitis akut. Virus hepatitis
merupakan penyebab terbanyak dari infeksi tersebut. Infeksi virus hepatitis
masih merupakan masalah kesehatan utama, baik di n egara yang sedang
berkembang maupun di negara maju (Arief, 2012).

o Hepatitis B adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui darah


dimana virus ini adalah yang paling menular dan di banyak bagian dunia,
prevalensinya sangat tinggi . Hepatitis B merupakan infeksi virus yang
menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit akut maupun kroni k dan
secara potensial merupakan infeksi hati yang mengancam nyawa disebabkan
oleh virus hepatitis B (WHO, 2012).

o Menurut Dorland (2002), Hepatitis B adalah penyakit virus yang disebabkan


oleh virus hepatitis B yang endemik di seluruh dunia. Hepatitis B mempunyai
nama lain, yaitu hepatitis tipe B, serum hepatitis dan penyakit kuning serum
homologous. Menurut Franco et al. (2012), infeksi virus hepatitis B
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dimana infeksi dapat
ditularkan melalui hubungan seksual, kontak parenteral atau dari ibu yang
terinfeksi kepada bayinya saat lahir dan, jika menginfeksi sejak awal
kehidupan, dapat menyebabkan penyakit hati kronik, termasuk sirosis dan
karsinoma hepatoselular.

Page
12
Hepatitis B
a. Hepatitis B akut
1. etiologinya virus Hepatitis B dari golongan virus DNA
2. masa inkubasi 60-90 hari
3. penularannya vertical 95% terjadi masa perinatal (saat persalinan) dan 5%
intra uterine.penularan horizontal melalui transfuse darah,jarum suntik
tercemar,pisau cukur,tattoo,transplantasi organ
4. gejala tidak khas seperti rasa lesu,nafsu makan berkurang,demam
ringan,nyeri abdomen sebelah kanan,dapat timbul icterus,air kencing
warnah the
5. diagnosis ditegakkan diperlukan antiviral,pengobatan umumnya bersifat
simtomatis

pencegahannya:

a. telah dilakukan penapisan darah sejak tahun 1992 terhadap Bank Darah
melalui PMI
b. imunisasi yang sudah masuk dalam program Nasional : HBO
(<12jam),DPT/HB1 (2bulan),DPT/HB2(3bulan),DPT/HB3(4bulan).
c. Menghidari factor resiko yang menyebabkan terjadinya penularan

b. Hepatitis B Kronik
1. Hepatitis B kronik berkembang dari hepatitis B akut
2. Usia saat terjadinya infeksi mempengaruhi kronisitas penyakit.Bila
penularan terjadi saat bayi maka 95% akan menjadi penderita Hepatitis B
kronik. Sedangkan bila penularan terjadi paada usia balita,maka 20-30%
menjadi penderita Hepatitis B kronik dan bila penularan saat dewasa maka
hanya 5% yang menjadi penderita hepatitis B kronik
3. Hepatitis B kronik ditandai dengan HBsAg (Hepatitis B sulface Antigen)
positif (>6bulan).
selain HBsAg,perlu diperiksa HBsAg(Hepatitis B E-Antigen,anti-HBe dalam
serum,kadar ALT (Alanin Amino Transferase)HBV-DNA(Hepatitis B
Virus-Deoxyribunukleic Acid)serta biopsy hati.
4. Biasanya tanpa gejala

Page
13
5. Sedangkan untuk pengobatannya saat ini telah tersedia 7 macam obat untuk
hepatitis B (interferon alfa-2a, Peginterferon alfa-2a, Lamivudin, Adefovir,
Entecavir, Telbivudin dan Tenofovir)
6. Prinsip pengobatan tidak perlu terburu-buru tetapi jangan terlambat
7. Adapun tujuan pengobatan memperpanjang harapan hidup,menurunkan
kemungkinan terjadinya sirosis hepatis atau hepatoma

2.3 EPIDEMIOLOGI HEPATITIS B


Menurut WHO (2012), sekitar 2 miliar penduduk di seluruh dunia pernah
terinfeksi dengan virus hepatitis B dan sekitar 600.000 penduduk meninggal
setiap tahunnya oleh karena komplikasi dari hepatitis B itu sendiri serta lebih dari
240 juta menderita infeksi hati yang kronik (jangka panjang).

Menurut Mandal et al. (2008), pada area tertentu di dunia, angka karier dapat
melampaui 25% (kepulauan Pasifik, Thailand, Senegal), dan di daerah lain kira-
kira 5-10% (area yang luas di subbenua India, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa
bagian timur).
Diperkirakan bahwa hampir 200 juta orang di seluruh dunia adalah karier.

Di Indonesia digolongkan sebagai negara dengan kategori endemisitas sedang


sampai tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan
dari 10.391 serum yang diperiksa, prevalensi HBsAg positif 9,4% yang berarti 1
dari 10 penduduk Indonesia pernah terinfeksi hepatitis B. Bila dikonversikan
dengan jumlah penduduk Indonesia maka jumlah penduduk hepatitis B di negeri
ini mencapai 23 juta orang (Depkes RI, 2013).

Berdasarkan data Depkes RI (2010), resiko penularan pada hepatitis B sebesar


27%-37%. Berdasarkan data WHO (2011), dari 35 juta petugas kesehatan di
seluruh dunia, 3 juta diantara nya menerima paparan perkutan dari spesimen

Page
14
darah yang patogen setiap tahunnya ; 2 juta diantaranya menerima paparan virus
hepatitis B. Paparan ini menghasilkan sekitar 70.000 infeksi hepatitis B. Lebih
dari 90% infeksi ini terjadi di negara berkembang.

2.4 PENCEGAHAN HEPATITIS B

A. Vaksinasi
Pencegahan infeksi virus hepatitis B merupakan prioritas kesehatan
masyarakat, terutama bagi mereka yang merupakan kelompok yang berisiko
besar menjadi pengidap kronis. Tingkat infeksi dapat dikurangi melalui
modifikasi perilaku dan meningkatkan pendidikan masing-masing individu
(Franco, et al., 2012).
Menurut Mandal (2008), berikut merupakan beberapa hal yang perlu
diperhatikan untuk mengurangi risiko tertularnya hepatitis B :
1. Menguji semua darah pendonor.
2. Menjamin asepsis dalam praktek klinis .
3. Screening terhadap semua wanita hamil (membantu untuk menghindari
penularan dari ibu ke anak saat lahir).
4. Tidak memperbolehkan orang -orang berisiko tinggi menjadi donor darah.
5. Screening donor darah untuk antigen permukaan virus hepatitis B.

Menurut Franco (2012), vaksinasi adalah cara yang paling efektif untuk
mencegah hepatitis B . Menurut Lubis (2008), penggunaan vaksin hepatitis B
ternyata dapat menurunkan angka penularan hepatitis B hampir 100%. Ada dua
produk yang digunakan untuk tindakan pencegahan hepatitis B yaitu :

1. Hepatitis B immune globulin (HBIG)

Page
15
HBIG berasal dari plasma yang mengandung anti -HBS dengan titer tinggi
dan digunakan untuk prophylaxis postexposure.

Dosis yang direkomendasikan untuk anak -anak dan dewasa: 0,06 ml/kg
dan dosis 0,5 ml untuk infeksi virus hepatitis B perinatal yaitu infant yang
lahir dari ibu dengan HBsAgnya yang positif

1. Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B menggunakan HBsAg yang diproduksi dari yeast


Saccharomyces cerevisiae dengan teknologi recombinant DNA dan digunakan
sebagai immunisasi preexposure dan profilaksis postexposure.
Ada dua vaksin hepatitis B monovalent yang tersedia, digunakan untuk
dewasa dan anak-anak yaitu Recombivax HB (Merck and Co., Inc.) dan
Engerix
B (SmithKline Beecham Biologicals ). Pemberiannya secara bertahap
sebanyak tiga dosis, diberikan intramuskular pada musk ulus deltoid.
Kombinasi Hepatitis B Immune Globulin dan vaksinasi hepatitis B dimulai
dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, diikuti dengan tiga dosis imunisasi
yang jadwalnya dimulai pada usia 1-2 bulan, telah terbukti

Page
16
Jadwal dan Rute Pemberian Vaksinasi Hepatitis B

Vaksinasi Jadwal Rute Keterangan


Pemberia
n Pemberian

paha Pemberia hepatiti


Bayi 0, 1, dan 6 anterolateral n imunoglobulin s B
bula berkontribusi untuk mencegah infeksi
n pada bayi baru neonatus
lahir dan bayi Tingkat
(<1 seroprotection antibodi terhadap
HBsAg (anti-HBs) hamper
tahun usia) mendekati 100%
intramuskul
er ke pada anak-anak
daera
h deltoid
pada anak-anak
(
usia 1
tahun)

0,1, intramuskul seroprotectio


Dewasa dan 6 er Tingkat n antibodi terhadap
bula HBsAg (anti-HBs) hampir 95% pada
(sehat) n ke daerah orang
deltoi dewasa muda yang
d sehat.
Diberikan setelah terpapar hepatitis B
sebagai
profilaks
is

0,1,2 intramuskul Diberikan pada orang yang sudah lanjut


Dewasa , dan er usia,
(dengan 6 bulan ke daerah obesitas, perokok berat atau
deltoi immunocompromised, termasuk mereka
faktor d yang
terinfeksi HIV serta pasien
resiko) imunodefisiensi
(menjala
ni hemodialisis atau terapi
imunosupresan)
karena mereka memiliki
respon yang suboptimal letika divaksin
asi.
Memerlukan dosis yg lebih besar dan
suntikan
vaksin lainnya

0,1, intramuskul Perlindungan yang cepat (yaitu bagi


Dewasa dan 2 er pekerja
perawatan kesehatan yang terkena
(petugas bulan. ke daerah hepatitis B
kesehatan deltoi virus atau berhubungan seksual dengan
) Diikuti d orang
dosi yang rentan terkena hepatitis B
s akut)
penguat
pada bulan
ke-
12

Menurut Lubis (2008), Rekomendasi Pemberian vaksin hepatitis B yaitu:

A. Preexposure
1. Seluruh infants
2. Remaja 11-12 tahun
3. Petugas kesehatan yang beresiko terpapar dengan dar ah atau penggunaan
jarum suntik
4. Staf pada perawatan cacat mental
5. Pasien hemodialisa
6. Homoseksual laki-laki yang aktif
7. Heteroseksual laki-laki dan wanita yang aktif
8. Pecandu obat (obat suntik)
9. Penerima donor darah
10.Anak-anak yang diadopsi dari negara endemik virus hepatitis B

B. Postexposure
1. Infants yang lahir dari ibu dengan virus hepatitis B positif
Penelitian menunjukkan bahwa antibodi yang di induksi oleh vaksin bertahan
selama periode minimal 10 -15 tahun dan bahwa durasi anti -HBs
berhubungan dengan tingkat puncak tercapainya antibodi setelah vaksinasi
primer dilakukan. Penelitian lebih lanjut terhadap vaksin telah menunjukkan
bahwa konsentrasi antibodi biasanya menurun dari waktu ke waktu, tetapi
infeks i secara klinis jarang terjadi. Bukti juga menunjukkan bahwa individu
yang berhasil divaksinasi yang telah kehilangan antibodi dari waktu ke waktu
biasanya menunjukkan respon yang cepat bila di berikan dengan dosis vaksin
tambahan atau bila terkena birus hepatitis B. Ini berarti bahwa memori
imunologi HBsAg dapat hidup lebih lama daripada deteksi anti-HBs, dimana
memberikan perlindungan jangka panjang terhadap penyaki t akut (Franco, et
al., 2012).

Imunisasi rutin untuk pekerja kesehatan terhadap infeksi hepatitis B adalah


cara yang efektif untuk melindungi mereka. Vaksin hepatitis B sangat efektif,
vaksin juga relatif murah dan tersedia secara luas. Beberapa yang perlu
diperhatikan adalah:

a) Melakukan imunisasi pada petugas kesehataan pada awal mereka


masuk kerja
b) Uji serologi pre-vaksinasi tidak terlalu diperlukan, tetapi mungkin
menghemat sumber daya jika memungkinkan dan jika prevalensi
kekebalan tinggi.
c) Menggunakan jadwal tiga suntikan yaitu pada 0, 1 dan 6 bulan
d) Jika memungkinkan, mengkontrol tingkat antibodi antara dua sampai
enam bulan setelah dosis terakhir diberi.
e) Jangan mengambil booster secara rutin sebagai perlindungan seumur
hidup (WHO, 2011).

Untuk pasien immunocompromised, dilakukan pemeriksaan rutin dan administrasi


booster saat kadar antibodi anti -HBs turun di bawah 10 mIU / mL . Antibodi
terhadap antigen permukaan hepatitis B terutama ditargetkan untuk mengikat asam
amino daerah hidrofilik, disebut sebagai determinan HBsAg. Vaksinasi hepatitis B
memberikan perlindungan terhadap infeksi d ari semua genotipe virus hepatitis B dan
bertanggung jawab untuk kekebalan tubuh. Beberapa yang perlu diperhatikan dalam
memahami vaksinasi hepatitis B:

1. Setiap orang yang tinggal dengan atau memiliki hubungan seksual dengan
seseorang yang tertular hepatitis B kronik harus divaksinasi.
2. Vaksinasi diberikan pada mereka yang berisiko tinggi tertular hepatitis B,
seperti perawat; mereka yang tingkah laku seksualnya rentan terhadap
virus hepatitis B (prostitusi, lelaki heteroseksual dengan banyak pasangan,
lelaki homoseksual); orang yang kerap memerlukan transfusi darah atau
produk darah (seperti pasien cuci darah karena ginjal atau hemofilia), atau
mereka yang tinggal di daerah di mana transfusi darah tidak disaring.
3. Vaksin diindikasikan untuk bayi baru lahir yang ibunya memiliki antigen
permukaan HBV positif
4. Vaksin diberikan untuk pekerja kesehatan pasc a pajanan yang sebelumnya
tidak diimunisasi.
5. Booster diberikan pada orang yang t idak membentuk antibodi permukaan
HBV (HBVsAb) pada 6 -8 minggu setelah melengkapi paket vaksinasi.
6. Hiperimunoglobulin diindikasikan untuk bayi baru lah ir dari ibu yang
merupakan karier antigen permukaan hepatitis B yang juga antigen e HBV
(HBVeAb) negatif .
Paket yang dipercepat dapat diberikan dalam situasi pasca pajanan (minggu 0,2,4, dan
8). Interferon dosis rendah telah terlihat dapat mengurangi insidensi hepatoma pada
pasien dengan sirosis (Franco, et al., 2012).

A. Universal Precaution
Standar Precaution merupakan hal pokok dalam universal precaution
(tindakan pencegahan terhadap darah dan cairan tubuh, yang dibuat untuk
mengurangi resiko transmisi pat ogen yang dapat ditularkan melalui darah)
dan body substance isolation (dibuat untuk mengurangi resiko transmisi
patogen melalui cairan tubuh), serta diaplikasikan pada semua pasien yang
dirawat di rumah sakit, tanpa memandang diagnosis atau status infeksinya.
(Soedarmo, et al.. 2012).
2.5 PEDOMAN PENANGGULANGAN HEPATITIS VIRUS
Hepatitis Virus merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat, yang berpengaruh terhadap angka kesakitan, angka
kematian, status kesehatan masyarakat, angka harapan hidup, dan dampak sosial
ekonomi lainnya. Besaran masalah Hepatitis Virus di Indonesia dapat diketahui
dari berbagai hasil studi, kajian, maupun kegiatan pengamatan penyakit.

Menurut Riskesdas tahun 2007, didapatkan hasil prevalensi HBsAg sebesar 9,4%
dan prevalensi Hepatitis C 2,08%, sehingga apabila diestimasi secara kasar maka
saat ini terdapat 28 juta orang terinfeksi Hepatitis B dan/atau Hepatitis C. Dari
jumlah tersebut 50% akan menjadi kronis (14 juta), dan 10% dari jumlah yang
kronis tersebut berpotensi untuk menjadi sirosis hati dan kanker hati primer
(1,4juta).

Dengan besaran masalah yang ada dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat,
maka perlu dilakukan upaya yang terencana, fokus, dan meluas agar epidemi
Hepatitis Virus ini dapat ditanggulangi. Untuk itu diperlukan payung hukum
berupa Peraturan Menteri Kesehatan yang dapat dijadikan acuan bagi pelaksana
kegiatan dalam melakukan penanggulangan Hepatitis virus ini.

Dalam upaya mengendalikan penyakit hepatitis di Indonesia, Kementerian


Kesehatan (Kemkes) baru saja menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan
(Permenkes) 53/2015 tentang hepatitis. Permenkes tersebut ditandatangani oleh
Menteri Kesehatan, Nila Moeloek pada 15 Juli 2015.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kemkes, Sigit


Priohutomo mengatakan, Permenkes tersebut akan menjadi pedoman dalam
penanggulangan hepatitis yang mencakup upaya promotif, preventif, hingga
kuratif

A. Bagaimana hepatitis B secara umum di seluruh dunia?


Terdapat lebih dari 350 juta penduduk yang terinfeksi hepatitis B kronis di
seluruh dunia, dan setiap tahunnya menyebabkan lebih dari 1 juta kematian.
Di beberapa komunitas, cara penularan virus hepatitis B yang sering terjadi
adalah melalui seorang ibu kepada anaknya pada saat melahirkan.

Di Australia, kebanyakan hepatitis B kronis adalah mereka yang dilahirkan di


negara negara dimana hepatitis B sangat umum. Jumlah Penderita Hepatitis
B di Indonesia Terbesar Ke-3 di Asia

Jakarta - Angka kejadian (prevalensi) hepatitis B kronik di Indonesia


mencapai 5 hingga 10 persen dari total penduduk, atau setara dengan 13,5 juta
penderita. Jumlah ini membuat Indonesia menjadi Negara ke 3 di Asia yang
penderita hepatitis B kroniknya paling banyak.

Penyandang hepatitis B kronik di Indonesia mencapai 13,5 juta orang, di


bawah China yang berjumlah 123,7 juta dan India 30 hingga 50 juta. kata ahli
penyakit dalam, Prof LA Lesmana, dalam jumpa pers mengenai Hepatitis B
kronik di Hotel Manhattan, Jl Casablanca, Jakarta, Sabtu
(21\/4\/2007).Lesmana menjelaskan, tidak diketahuinya penderita yang
terjangkit virus ini, lantaran virus hepatitis B tidak menunjukkan gejala.
Sehingga menjadi penyakit kronik atau menahun yang sewaktu-waktu bisa
muncul.Namun, menurut Lesmana, virus hepatitis B tidak langsung
mencederai hati. Virus tersebut bisa menimbulkan infeksi pada hati yang
cedera oleh berbagai penyebab. Virus tersebut bisa mengalami reaktivasi jika
antara lain terkena infeksi Human Immuno Defficiency Virus (HIV),
terinfeksi hepatitis C, dan terlalu banyak minum alkohol, ujarnya.Gejala
hepatitis B biasanya baru muncul setelah virus tersebut menginfeksi hati dan
menjadi hepatitis B akut.

Gejala yang timbul seperti meriang, rasa eneg,muntah-muntah, serta kulit


tubuh menjadi kuning. Jika menjadi akut, penderita bisa kena kanker hati
hingga meninggal.

Di Indonesia, lanjut Lesmana, penderita yang terserang virus hepatitis B


sebagian besar karena diturunkan dari ibu ke anak, sehingga yang terkena
virus hepatitis B sebagian besar adalah balita dan anak-anak.

Hal tersebut berbeda di negara-negara barat yang terpapar virus hepatitis B


setelah usia dewasa melalui transmisi seksual.

Kalau virus mengenai bayi dan balita, kemungkinan untuk menjadi hepatitis B
kronik ringan sedang maupun berat sebanyak 30-90% sisanya sembuh.
Sedangkan orang dewasa kemungkinannya 5 persen bisa sembuh (bersih dari
virus hepatitis B).
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA

i. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
hepatitis.pdf
ii. http://www.beritasatu.com/kesehatan/296654-kemkes-terbitkan-permenkes-
pengendalian-hepatitis.html
iii. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40133/4/Chapter%20Il.pdf
iv. http://www.mhahs.org.au/index.php?
option=com_content&view=article&id=803&Itemid=2563&lang=en
v. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/46669/5/Chapter%20I.pdf
vi. http://news.detik.com/berita/770793/jumlah-penderita-hepatitis-b-di-
indonesia-terbesar-ke-3-di-asia