Anda di halaman 1dari 2

Tiga Belas Tahun Pondasi Makkah (2/2)

UST. BUDI ASHARI, LC. SEPTEMBER 29, 2016 2 COMMENTS


Fase Mekah juga dikenal dengan fase yang banyak berbicara tentang masalah akhirat. Tentang surga
neraka, tentang masalah hari kebangkitan, yaumul hisab, dan seterusnya. Hal ini yang harus banyak
dibicarakan di mereka, di usia-usia awal atau pada mereka yang baru belajar Islam. Sedangkan
pembicaraan tentang hukum muamalah, beberapa hukum ibadah, bahkan hukum yang terlihat
menakutkan-huduud-(yaitu hukuman dalam Islam) apapun bentuknya: cambuk, potong tangan, penggal
kepala, diasingkan, dibuang, dan seterusnya, hukuman-hukuman itu baru dibahas nanti di Madinah ketika
memang muslimin telah siap.

Maka kalau ada anak kita, atau ada orang yang baru belajar Islam, lalu tiba-tiba diajak berbicara tentang
khilafiyah hukum, ini bukan merupakan cara yang bijak untuk belajar mendalami Islam. Karena khawatir
mereka akan merasakan betapa tidak nyamannya Islam, betapa tidak nikmatnya Islam. Padahal Islam ini
sangat nikmat. Islam ini adalah anugerah. Islam adalah sebuah kenikmatan. Ini baru bisa dirasakan bagi
mereka yang memang memiliki pondasi yang cukup seperti Nabi yang diberi Allah ayat-ayat Al-Quran
di fase Mekah.

Fase Mekah juga dikenal fase yang banyak berbicara tentang sekitar kita. Ini (hampir) tidak ada di
Madinah. Fase Mekah banyak bicara tentang alam sekitar. Tentang matahari, bulan, langit, bumi dan yang
ada di bumi, gunung, sungai, air, tumbuhan, binatang, dan seterusnya. Karena kita akan lebih mudah
belajar ketika mengamati sekeliling kita. Karena itu terlihat betul (nyata) di sekeliling kita. Kita diminta
untuk membahas tentang alam dan yang lainnya di sekitar kita. Lagi, ini kesalahan kurikulum kita hari
ini. Anak-anak belajar IPA, biologi, geologi, astronomi, atau yang lainnya tapi sayangnya hanya berbicara
tentang proses alam itu. Seakan kita tidak punya Allah.

Mana kurikulum Islam? Mana pendidikan Islam yang katanya menerapkan konsep Islam? Lihatlah Al-
Quran, kita lihat ayat dalam Surat Qaaf.

Dan kami turunkan dari langit air yang diberkahi.


Bicara tentang hujan, air yang diberkahi dari langit adalah hujan.

yang dengannnya Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen.


Ayat ini bicara tentang masalah hujan dan fungsinya.

Masih bicara fungsi, tapi Allah mulai memberikan dengan sentuhan khusus, agar kita juga belajar lebih
dalam yaitu tentang masalah an-nakhl, yaitu tentang pohon kurma. Ada apa dengan pohon kurma?
Maka seharusnya ilmuwan Muslim hadir untuk melakukan penelitiannya. Pohon-pohon kurma yang
mayang-mayangnya terlihat. Ini adalah fungsi bagaimana secara khusus Allah bicara tentang pohon
kurma.

sebagai rizqi bagi hamba


Ada sentuhan lain. Bicara tentang hujan, kemudian menumbuhkan, Allah berikan sentuhan ini rizqi bagi
hamba. Semestinya rasa syukur hadir di hati kita kita kepada Allah Subhanahu Wataala. Betapa tidak
ada yang bisa menurunkan hujan kecuali Allah. Dan ternyata Allah memberikan itu sebagai rizqi bagi kita
semuanya.

Dan kami hidupkan negeri setelah matinya.


Dan ini lagi-lagi tentang rizqi bagi kita.

begitulah nanti hari kebangkitan, hari semua dikeluarkan dari kuburnya masing-masing.
Ada poin berikutnya, ini poin mahal. Setelah kita belajar hujan dan fungsinya, dan kita bersyukur, tiba-
tiba ayat melompat, menyadarkan kita bahwa proses hujan yang menumbuhkan adalah proses yang sama
dengan proses kebangkitan nanti. Bayangkanlah ketika bicara hujan langsung bersambung dengan iman
pada hari akhir.

Di mana kurikulum pendidikan? Di mana konsep parenting hari ini yang menghadirkan konsep bicara
tentang sekitar tapi dengan gaya seperti Al-Quran? Maka pantas saja dulu Al Quran menghasilkan orang
hebat. Dan pantas kurikulum hari ini tidak melahirkan orang-orang yang beriman.

Ini adalah contoh-contoh pada fase Mekah, fase yang dilalui oleh Nabi Salallahualaihi Wassalam dengan
penuh perjuangan.

Perjalanan kehidupan Nabi penuh dengan gangguan, dan bersabar selama 13 tahun membangun pondasi,
merahasiakan kajian-kajian beliau, kemudian beliau terus bergerilya membaca Al-Quran, membuka hati
manusia-manusia yang jahiliyah, dan sombong itu dengan izin Allah Subhanahu Wataala. Hingga
mereka mendapatkan hidayah. Perjuangan yang disokong penuh oleh orang yang dicintainya. Istri yang
tak pernah ada penggantinya, Khadijah ra.

Mudah-mudahan ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Agar kita bisa menyiapkan lebih baik lagi. Insyaa
Allah kita akan pelajari lebih detail lagi tentang bagaimana persiapan itu dengan izin Allah Subhanahu
Wataala. Agar kita bisa membawa tinggi risalah Islam, seluruh beban Islam ini dengan penuh
kenikmatan hingga Islam mencapai kebesarannya.

Wallahu alam bishawab.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast Siroh Nabawiyah Ust. Budi Ashari, Lc., dengan
perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Nunu Karlina