Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Radiografi merupakan satu-satunya cara visual untuk mendapatkan

pengetahuan klinis tentang gigi dan jaringan periapikal yang tidak dapat dilihat

dengan mata (Grossman dkk., 2013). Dalam bidang kedokteran gigi, salah satu

sarana penunjang dalam pemeriksaan adalah foto radiografi. Peranan foto

radiografi dalam bidang kedokteran gigi yang penting adalah dalam menegakkan

diagnosis, merencanakan perawatan, dan mengevaluasi hasil perawatan

(Margono, 2014). Bila dokter gigi menggunakan data tambahan dari radiografi,

maka pekerjaan dokter gigi akan lebih efisien, efektif dan dengan tingkat

keberhasilan yang optimal (Sitam, 2013).

Radiografi dalam bidang kedokteran gigi dibedakan berdasarkan teknik

pemotretan dan penempatan film yaitu teknik ekstraoral dan teknik intraoral

(Whaites, 2003). Teknik foto rontgen ekstraoral, film rontgen diletakkan diluar

mulut pasien, beberapa teknik pemotretan ekstraoral adalah foto panoramik,

lateral, cephalometri, dan lain-lain. Teknik intraoral, teknik pemotretan radiografi

gigi geligi dan jaringan disekitarnya dengan film rontgen diletakkan di dalam

rongga mulut pasien, yang termasuk dalam teknik ini antara lain adalah foto

periapikal dan bite-wing serta oklusal (Haring, 2000).

Radiografi periapikal intraoral dapat diperoleh dengan menggunakan dua

macam teknik yaitu teknik paralel dan teknik biseksi. Pada teknik paralel posisi

1
2

film sejajar dengan sumbu panjang gigi dan arah pusat sinar diarahkan tegak

lurus dengan film dan gigi. Pada teknik biseksi yaitu pusat sinar diarahkan tegak

lurus terhadap bidang khayal yang membagi sudut yang dibentuk oleh film dan

sumbu panjang gigi (Sitam, 2013).

Radiografi periapikal intraoral berguna dalam kebanyakan prosedur

kedokteran gigi. Indikasi utama untuk teknik ini meliputi deteksi karies gigi,

patologi periapikal, penilaian status periodontal, prosedur endodontik dan

peranan foto radiografi lainnya (Margono, 2014). Radiografi yang tidak memenuhi

syarat dapat disebabkan oleh karena kesalahan teknik pembuatan serta

pengembangan filmnya. Kesalahan teknik misalnya, gambar yang dihasilkan

terlalu panjang atau terlalu pendek, kesalahan pengembangan, misalnya terlalu

gelap atau terlalu terang (Whaites, 2003).

Ada beberapa faktor yang digunakan untuk menilai kualitas radiografi gigi,

salah satunya adalah tidak terjadi distorsi. Distorsi adalah kesalahan dalam

penafsiran ukuran atau bentuk dari struktur yang diteliti (Carlton & Adler, 2013).

Salah satu kesalahan atau distorsi yang paling umum adalah elongasi yang

merupakan bentuk pemanjangan yang terjadi pada saat radiografi dibuat (White

dan Pharoah, 2009). Penyebab terjadinya elongasi mayoritas karena kesalahan

dalam penentuan sudut vertikal pada saat peletakan film dan dalam meletakkan

tabung kepala sinar-X yang tidak tegak lurus pada obyek dan film (Whaites,

2003). Informasi yang terkandung dalam radiografi penting bagi kedokteran gigi,

maka dari itu radiografi haruslah memiliki kualitas yang bagus (Goaz dan White,

1994).

Masalah pemanjangan gambar terjadi secara khas pada regio insisif

kaninus dan molar. Hal tersebut disebabkan kesukaran penempatan film pada
3

daerah ini, yaitu mulut yang kecil, ukuran gigi yang besar, dan kesukaran yang

dihubungkan dengan lurusnya tabung kepala sinar-X yang tegak lurus pada

obyek dan film. Masalah ini dapat dicegah dengan penempatan film yang dekat

dengan lengkung rahang yang berlawanan dan mempertahankan suatu keadaan

sejajar antara film dengan gigi yang akan dilakukan pemfotoan (Whaites, 2003).

Pengambilan gigi insisif sentral rahang bawah sebagai sampel karena memiliki

frekuensi kesalahan tertinggi dalam angulasi vertikal dibandingkan dengan

angulasi horizontal yang dapat merubah ukuran panjang gigi pada gambaran

radiografi periapikal (Felippe dkk., 2008).

Berdasarkan uraian diatas, radiografi penting dalam membantu

menegakkan diagnosa, untuk itu dibutuhkan hasil gambaran radiograf yang

akurat sesuai dengan bentuk dan ukuran aslinya. Radiograf periapikal yang

terdiri dari teknik paralel dan biseksi bisa digunakan untuk menafsirkan ukuran

sebenarnya berdasarkan struktur yang diamati dalam radiograf. Namun demikian

kedua teknik tersebut tentunya memiliki kemungkinan hasil yang berbeda,

termasuk pada permasalahan pemanjangan gambar yang terjadi pada regio

insisif, kaninus, dan molar. Berdasarkan latar belakang tersebut, sangat penting

untuk menganalisis perbedaan hasil pengukuran pada gigi insisif sentral rahang

bawah dalam radiografi intraoral periapikal dengan menggunakan teknik biseksi

dan paralel.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang disajikan dalam latar belakang penelitian, maka

rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana

perbedaan hasil pengukuran panjang gigi insisif sentral rahang bawah dalam

radiografi intraoral periapikal antara teknik biseksi dan paralel?


4

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis perbedaan hasil pengukuran panjang gigi insisif sentral

rahang bawah dalam radiografi intraoral periapikal antara teknik biseksi dan

paralel.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Menganalisis panjang gigi insisif sentral rahang bawah dalam radiografi

intraoral periapikal dengan menggunakan teknik biseksi.

b. Menganalisis panjang gigi insisif sentral rahang bawah dalam radiografi

intraoral periapikal dengan menggunakan teknik paralel.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

a. Dapat memberi pengetahuan dan bahan pertimbangan dalam pemeriksaan

radiografi di kedokteran gigi untuk menunjang diagnosa, membuat rencana

perawatan, melakukan perawatan serta untuk mengevaluasi hasil perawatan.

b. Dapat dijadikan dasar untuk penelitian di bidang radiologi selanjutnya bagi

mahasiswa Kedokteran Gigi.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam pemilihan teknik

radiografi periapikal intraoral sehingga diharapkan dapat membantu memberikan

ketepatan dalam diagnosa, membuat rencana perawatan, melakukan perawatan

serta mengevaluasi hasil perawatan.