Anda di halaman 1dari 2

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

A. Etiologi
Etiologi hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti, dahulu penyakit ini
dikelompokkan ke dalam penyakit oksemia gravidarum karenadiduga adanya semacam racun
yng berasal dari janin atau kehamilan, penyakit ini juga digolongkan ke dalam gestosis bersama
pre-eklamsi dan eklampsi. Beberapa teori menjelaskan terjadinya hperemesis gravidarum namun
tak ada satupun yang dapat menjelaskan proses terjadinya secara tepat (Simpson, et al 2001;
Runiari, 2010). Teori tersebut antara lain Teori Endrokin, Teori Metabolik, Teori Alergi, Teori
infeksi, dan Teori Psikosomatik (Family Nurse Practioner Program, 2002; Kuscu & Koyuncu,
2002; Tiran, 2004; Runiari, 2010)
Teori endokrin menyatakan bahwa peningkatan kadar progesteron, estrogen dan human
chorionic gonadotropin (hCG)dapat menjadi factor pencetus mual muntah. Peningkatana
hormone progesterone menyebabkan otot polos pada sistem gastrointestinal mengalami relaksasi
hal itu mengakibatkan penurunan motilitas lambung sehingga pengosongan lambung melambat.
Refluk esophagus, penurunan motilitas lambung dan penurunan sekresi dari asam
hidroklorid juga berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah. Selain itu hCG juga
menstimulasi kelenjar tiroid yang dapat mengakibatkan mual dan muntah (Kuscu & Koyuncu,
2002; Neil & Nelson, 2003; Tiran, 2004; Verberg, et al, 2005; Runiari, 2010).
Teori metabolic menyatakan bahwa kekurangan vitamin B6 dapat mengakibatkan ual
dan muntah pada kehamilan. Adanya histamin sebagai pemicu mual muntah mendukung
ditegakkannya teori alergi sebagai etiologi hiperemesis gravidarum. Lebih jauh, mual dan
muntah berlebihan juga terjadi pada klien yang sangat sensitive terhadap sekresi dari korpus
luteum.
Penelitian yang dilakukan oleh kocak et al (1999) menemukan adanya hubungan antara
infeksi Helicobacter Pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum sehingga dijadikan dasar
dikemukakannya teori infeksi sebagai penyebab hiperemesis gravidarum.
Menurut teori psikosomatik hiperemesis gravidarum merupakan kondisi gangguan
psikologis yang dirubah dalam bentuk gejala fisik (Michelini, 2004; Runiari, 2010). Kehamiln
yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan serta tekanan pekerjaan dan pendapatan
menyebabkan terjadinya perasaan berduka, ambivalen, serta konvlik dan hal tersebut dapat
menjadi factor psikologis penyebab hiperemesis gravidarum (Verberg, 2005; Runiari, 2010).
Gejala mual dan muntah dapat juga disebabkan oleh gangguan traktus digestif seperti
pada penderita diabetes mellitus (gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan oleh gangguan
motilitas usus atau keadaan pacsaoperasi vagotomi. Selain merupakan refleksi gangguan intrinsic
dari lambung, gejala mual muntah dapat disebabkan oleh gangguan yang bersifat sentral pada
pusat muntah (chemoreceptor trigger zone). Perubahan metabolism hati juga dapat menjadi
penyebab penyakit ini, oleh karena itu pada kasus yang berat harus dipikirkan kemungkinan
akibat gangguan fungsi hati, kantung empedu, pancreatitis, atau ulkus peptikum (Sastrawinata,
2005; Runiari, 2010).
Leeners dan Sauer (2000) menyatakan bahwa factor psikologis sangat kuat terlibat
sebagai etiologi hiperemesis gravidarum dan dampaknya tidak hanya pada lama dan beratnya
gejala namun juga menimbulkan resisten terhadap pengobatan yang diberikan. Mazzota, et al.
(2000) menyetujui hal ini dan mengakui bahwa beratnya muntah ada hubungannya dengan
resistensi pemberian medikasi antiemetic.
Selain factor psikologis, factor budaya juga dapat menjadi pemicu terjadinya hiperemesis
gravidarum. Tiran (2004) menyatakan bahwa factor budaya merupakan hal penting adalah
berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi. Penelitian lain mengenai
pengaruh budaya terhadap hiperemesis gravidarum dapat meningkat pada wanita yang
mengalami pembatasan dalam intake nutrisi (contohnya pada wanita yang menjalankan puasa).
Ditegaskan oleh Rabinerson, et al. bahwa pembatasan intake nutrisi dapat menimbulkan efek
samping terhadap volume cairan amnion sehingga perlu di pertimbangkan pelaksanaan puasa
pada wanita hamil.

B. Manifestasi Klinik