Anda di halaman 1dari 11

PRINSIP DAN KODE ETIK DALAM BISNIS

Pengertian Profesi

Profesi, profesional, dan profesionalisme sudah sangat sering digunakan baik dalam
percakapan sehari-hari maupun dalam berbagai tulisan di media massa, jurnal ilmiah, atau
buku teks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan sebagai berikut :

Profesi : bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran dan
sebagainya) tertentu.

Profesional : (a) bersangkutan dengan profesia; (b) memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya; (c) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan
amatir).

Profesionalisme : merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional

Hidayat Nur Wahid dalam Economics, Business, Accounting Review, edisi II/April 2016:

Profesi adalah sebuah pilihan yang sadar dilakukan oleh seseorang, sebuah pekerjaan yang
secara khusus dipilih, dilakukan dengan konsisten, kontinu ditekuni, sehingga orang bisa
menyebut kalau dia memang berprofesi dibidang tersebut. Sedangkan profesionalisme yang
memayungi profesi tersebut adalah semangat, paradigma, spirit, tingkah laku, ideology,
pemikiran, gairah untuk terus menerus secara dewasa (mature), secara intelek meningkatkan
kualitas profesi mereka.

a. Definisi yang sangat luas, di mana profesi disamakan dengan pekerjaan diberikan
oleh Hidayat Nur Wahid.
b. Definisi lebih sempit di mana profesi adalah pekerjaan yang ditandai oleh
pendidikan dan keterampilan khusus diwakili oleh pemikiran Kanter dan Kamus
Besar bahasa Indonesia.
c. Definisi yang lebih khusus lagi di mana profesi ditandai oleh tiga unsur penting
pekerjaan, pendidikan atau keterampilan khusus, dan adanya komitmen moral/nilai-
nilai etis diberikan oleh Widjojo Nitisastro, Sony Keraf, dan Brooks.

Pada awalnya, sebenarnya pengertian profesi dimaksudkan sebagai sebutan untuk


pekerjaan mulia yang dilakukan oleh dokter, akuntan, pengacara, dan sejenisnya. Profesi ini
disebut mulia karena orang yang menyandang profesi seperti ini tidak semata-mata
menggunakan keahliannya untuk tujuan mencari nafkah (uang), tetapi juga mempunyai misi
sosial dan pekerjaannya berdampak luas bagi masyarakat.

Secara lebih rinci, pengertian profesi dalam konteks ini ditandai oleh cirri-ciri sebagai
berikut :

a. Profesi adalah suatu pekerjaan mulia.


b. Untuk menekuni profesi ini diperlukan pengetahuan, keahlian, and keterampilan
tinggi.
c. Pengetahuan, keahlian, dan keterampilan diperoleh melalui pendidikan formal,
pelatihan, an praktik/pengalaman langsung.
d. Memerlukan komitmen moral (kode etik) yang ketat.
e. Profesi ini berdampak luas bagi kepentingan masyarakat umum.
f. Profesi ini mampu memberikan penghasilan/nafkah bagi penyandang profesi untuk
hidup layak.
g. Ada organisasi profesi sebagai wadah untuk bertukar pikiran, mengembangkan
program pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, serta menyempurnakan, menegakan,
dan mengawasi pelaksanaan kode etik di antara anggota profesi tersebut.
h. Ada izin dari pemerintah untuk menekuni profesi ini.

Bisnis Sebagai Profesi

Sebenarnya, bila mengacu kepada pengertian profesi dalam arti luas di mana profesi diartikan
sebagai pekerjaan penunjang nafkah hidup. Maka sudah sangat jelas bahwa semua aktivitas
bisnis dapat dianggap sebagai profesi. Sebagaimana diketahui bahwa bisnis dapat diartikan
sebagai suatu lembaga atau wadah di mana di dalamnya berkumpul banyak orang dari
berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian untuk bekerjasama dalam menjalankan
aktivitas produktif dalam rangka memberikan manfaat ekonomi (pendapatan/keuntungan)
bagi semua pelaku bisnis yang berkepentingan (stakeholders).

Dalam konteks ini diperlukan minimal tiga kaidah agar suatu pekerjaan dapat disebut sebagai
profesi, yaitu : pengetahuan/ilmu, keterampilan, dan komitmen moral (etika). Timbul
pendapat pro dan kontra tentang apakah bisnis dapat disebut sebagai profesi atau tidak,
terutama bila dikaitkan dengan elemen ketiga dari persyaratan perlu tidaknya menegakkan
komitmen moral dalam menjalankan praktik bisnis, masih ada mitos/pandangan yang
meyakini bahwa bisnis itu adalah amoral. Pandangan bisnis amoral berarti bahwa bisnis tidak
ada hubungannya dengan masalah moral/etika. Bisnis adalah bisnis, dan dalam berbisnis
jangan dicampuradukkan dengan masalah etika. Dunia bisnis penuh dengan persaingan; siapa
yang lemah akan kalah dalam persaingan dan siapa yang kuat akan unggul dalam persaingan.
Meskipun masih banyak yang mendukung pandangan bisni amoral, namun diyakini bahwa
pandangan bisnis amoral akan makin ditinggalkan karena pelaku bsinis saat ini dan di masa
mendatang makin banyak yang menyadari bahwa dalam berbisnis pun diperlukan komitmen
moral yang tinggi.

Disadari atau tidak, aktivitas bisnis di samping memberikan dampak positif bagi masyarakat
berupa penciptaan lapangan kerja dan sumber penghasilan bagi banyak pemangku
kepentingan (stakeholders), juga dapat membawa dampak negative. Dampak negative
tersebut, anatara lain: meluasnya pencemaran lingkungan, meningkatnya penyalahgunaan
wewenang, korupsi, dan kejahatan kerah putih yang dilakukan oleh para eksekutif yang dapat
membawa kebangkrutan perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas, peranan bisnis saat ini dan di masa mendatang akan makin
penting karena aktivitas bisnis mempengaruhi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian
suatu negara secara langsung. Aktivitas bisnis menentukan pertumbuhan investasi dan
produksi yang pada gilirannya akan menciptakan dan memperluas lapangan kerja,
pendapatan masyarakat, pendapatan negara melalui pajak, bea masuk dan cukai.

Bisnis dapat dianggap sebagai profesi karena telah sesuai dengan definisi dan ciri-ciri suatu
profesi yaitu :

a. Profesi adalah pekerjaan dan di dalam bisnis terdapat banyak jenis pekerjaan.
b. Sebagian besar jenis pekerjaan di dalam perusaaan terutama yang dilaksanakan
oleh jajaran manajemen menuntut pengetahuan dan keterampilan tinggi, baik
melalui pendidikan formal maupun melalui berbagai jenis pelatihan dan pengalaman.
c. Profesi menuntut penerapan kajian/moral yang sangat ketat. Begitu pula di dalam
bisnis, saat ini telah disadari bahwa semua pelaku bisnis khususnya para
eksekutif/manajemen juga harus dituntut mempunyai tingkat kesadaran/kaodah
moral yang tinggi.
d. Tuntutan kaidah moral yang tinggi menjadi keharusan dalam bisnis karena
pengalaman membuktikan bahwa perilaku paar pelaku bisnis menentukan kinerja
perusahaan yang akan berpengaruh besar bagi kehidupan ekonomi masyarakat dan
negara baik secara positif (misalnya perluaasan lapangan kerja, peningkatan
pendapatan masyarakat, dan sebagainya) maupun secara negative (terjadinya kasus
penyelewengan/manipulasi yang mengakibatkan PHK, pengangguran penurunan
pendapatan masyarakat dan negara, dan sebagainya).

Prinsip Prinsip Etika Bisnis


1. Prinsip-prinsip etika bisnis menurut Caux Round Table (dalam Alois A. Nugroho,
2001).
Prinsip etika bisnis menurut Caux Round Table ini merupakan kombinasi yang
dilandasi secara bersamaan oleh konsep etika Jepang Kyosei yang sifatnya lebih
menekankan kebersamaan (communitarian) dan konsep etika Barat yang lebih
menekankan pada penghormatan terhadap martabat/nilai-nilai individu (human
dignity)
Prinsip-prinsip etika bisnis menurut Caux Round Table adalah :
a. Tanggung Jawab Bisnis : dari Shareholders ke stakeholders.
b. Dampak Ekonomis dan Sosial dari Bisnis : Menuju Inovasi, Keadilan dan
Komunitas Dunia.
c. Perilaku Bisnis : dari Hukum yang Tersurat ke Semangat Saling Percaya.
d. Sikap Menghormati Aturan.
e. Dukungan bagi Perdagangan Multilateral.
f. Sikap Hormat bagi Lingkungan Alam.
g. Menghindari Operasi-operasi yang Tidak Etis.
2. Prinsip etika bisnis menurut Sonny Keraf (1998)
Setidaknya ada lima prinsip etika bisnis yang dapat dijadikan titik tolak pedoman
perilaku dalam menjalankan peraktik bisnis, yaitu:
a. Prinsip Otonomi
b. Prinsip Kejujuran
c. Prinsip Keadilan
d. Prinsip Saling Menguntungkan
e. Prinsip Integritas Moral

Etika Lingkungan Hidup

Isu Lingkungan Hidup

Pada umumnya, masalah etika selama ini hanya dipahami sebatas pengaruh perilaku manusia
terhadap manusia lainnya.

Secara deontologist, perilaku eris hanya dilihat dari sudut pandang manusia, yaitu sejauh
mana setiap orang menghargai, mempertimbangkan, memelihara, dan memberdayakan umat
manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Secara teleologis, perilaku
etis juga hanya menyorot kepentingan umat manusia dilihat dari konsekuensi atau akibat dari
setiap keputusan dan tindakan manusia terhadap manusia lainnya. Secara teonomis,
pemaknaan ajaran agama juga dilihat semata-mata dari sudut pandang manusia sebagai pusat
perhatian, dalam hubungannya antara manusia dengan Tuhan.

Persoalan lingkungan hidup yaitu hubungan dan keterkaitan antara manusia dengan alam
dan pengaruh tindakan manusia terhadap kerusakan lingkungan baru mulai disadari pada
paruh kedua abad ke- 20. Pertumbuhan ekonomi global saat ini telah memunculkan enam
persoaalan lingkungan hidup, yaitu : akumulasi bahan beracun, efek rumah kaca, perusakan
lapisan ozon, hujan asam, deforestasi dan penurunan, serta kematian bentuk-bentuk
kehidupan.

Akumulasi Bahan Beracun

Masalah lainnya adalah hamper semua air sungai yang melewati kota-kota besar tidak lagi
jernih dan telah berubah warna kehitam-hitaman sehingga tidak lagi memenuhi syarat untuk
air minum. Air dari perusahaan air minum (PDAM) di kota-kota besar yang bahan bakunya
bersumber dari air sungai, banyak yang tidak memenuhi syarat untuk keperluan air minum.
Jangankan untuk air minum, ikan dan ejnis kehidupan lain yang biasa hidup disungai pun
terancam punah.

Bukan saja air sungai dan laut yang mulai tercemar. Udara disekitar kita terutama di kota-
kota besar juga telah tercemar oleh asap hitam yang mengandung gas beracun yang keluar
dari knalpot berbagai merek dan jenis kendaraan bermotor. Banyaknya penggunaan berbagai
jenis pupuk kimia non-organik dengan takaran tak terkendali untuk meningkatkan produksi
pertanian telah terbukti mulai mencemari hasil produksi pertanian. Minuman dan makanan
pun ada yang dicampur dengan zat pewarna yang berbahaya untuk kesehatan. Penemuan
teknologi nuklir untuk membuat berbagai jenis senjata jelas merupakan ancaman besar bagi
keberadaab bumi beserta seluruh isinya.

Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effet)

Para ahli mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadiny pemanasan global adalah akibat
efek rumah kaca (greenhouse effect). Hawa panas yang diterima bumi dari sinar matahari
terhalang dan terperangkap tidk dapat keluad dari atmosfer bumi oleh partikel-partikel gas
polutan atau yang sering disebut gas rumah kaca. Gas-gas yang memengaruhi atmosfer bumi
tersebut , diantaranya berupa : karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon (O3), nitrogen
oksida (NOx), dan chloro-fluoro-carbon (CFC).Mencarinya es di Antartika ini tentu saja
berakibat pada kenaikan permukaan air laut di dunia. Bila pemanasan global tidak dapat
dikendalikan, maka sebagaimana diprediksi, pada abad ke- 21 ini kenaikan permukaan air
laut akan menggenangi daratan sejauh 50 meter dari garis pantai dan akan menenggelamkan
ribuan pulau kecil di Indonesia. Selain itu, pemanasan global juga dapat menimbulkan
berbagai bencana, seperti kekeringan, banjir, badai dan topan akibat iklim yang tidak
menentu, mengganggu pola hidup flora dan fauna, mengacaukan pola tanam petani dan pola
penangkapan ikan nellayan di laut, merubah habitat hama dan enyakit, dan sebagainya.

Perusakan lapisan Ozon

Kegunaan lapisan ozon (O3) bagi bumi dan seluruh isinya adalah untuk melindungi semua
kehidupan di bumi dari sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh sinar matahari. Bahaya
radiasi sinar ultraviolet ini, antara lain bisa menyebabkan kanker kulit, penurunan sistem
kekebalan tubuh, katarak, serta kerusakan bentuk-bentuk (spesies) kehidupan di laut dan di
daratan. Fungsi utama lapisan ozon adalah untuk menyaring atau memperlemah daya sinar
ultraviolet yang dipancarkan oleh sinar matahari sebelum memasuki bumi. Lapisan ini ada
pada ketinggian sekitar 20-30 kilometer di atas permukaan bumi.

Penyebab paling utama dari kerusakan lapisan ozon ini adalah gas polutan yang disebut
chloro-fluoro-carbon (CFC). CFC banyak digunakan untuk penyejuk ruangan (AC), kulkas
industry plastic dan busa, dan aerosol.

Hujan Asam (Acid Rain)

Limbah asap telah mengakibatkan banyaknya volume asap hitam pekat yang terus menerus
dimuntahkan dari cerobong-cerobong pabrik tersebut. Asap tebal yang berwarna hitam pekat
ini kemudian menyatu dengan udara dan awan, yang pada gilirannya menurunkan hujan asam
(acid rain) ke bumi di sekitar awan tersebut. Hujan asam ini ternyata sangat berbahaya bagi
kehidupan di bumi. Bila ini terus berlangsung, maka hujan asam itu dapat merusak hutan,
mencemari air danau, dan bahkan merusak gedung-gedung.

Deforestasi dan Penggurunan

Keserakahan umat manusia untuk mengumpulkan kekayaan, maka manusia dengan


dukungan teknologi maju mulai berlomba-lomba memburu kayu dan berbagai jenis hasil
hutan lainnya. Konsekuensi logis dari eksploitasi hutan tak terkendali ini adalah timbulnya
penyempitan areal hutan serta perusakan hutan yang masih tersisa.

Akibat negative dari penyempitan hutan dan perusakan hutan ini, antara lain : terjadi erosi
dan banjir yang meluas; berkurangnya fungsi hutan untuk menyerap gas polutan;
musnah/kekurangan spesies flora dan fauna tertentu; meluasnya penggurunan daratan ;
menurunnya kualitas kesuburan tanah; berkurangnya cadangan air tanah; serta terjadi
perubahan pola cuaca (misalnya : musim kering yang panjang, musim hujan yang makin
pendek, hujan badai dan petir). Akibat lanjutannya adalah berkurangnya kapasitas produksi
hasil pertanian karena perubahan pola cuaca, berkurangnya kesuburan tanah, dan
mempercepat proses pemanasan global.

Keanekaragaman Hayati

Dengan terjadinya pencemaran lingkungan, perusakan hutan, dan pemanasan global, secara
pasti telah menyebabkan berkurangnya populasi jenis-jenis (spesies) kehidupan tertentu.
Bahkan tidak mustahil jenis-jenis kehidupan tertentu telah punah dari muka bumi.
Penyempitan dan perusakan hutan di Jawa dan Bali misalnya, secara nyata telah mengancam
keberadaan jenis dan bentuk kehidupan satwa tertentu atau bahkan mungkin telah punah,
seperti : harimau jawa, gajah jawa, burung rajawali, burun jalak bali, dan sebagainya.
Paradigma Etika Lingkungan

Sehubungan dengan hal ini, ada beberapa paradigm (cara pandang/pola piker) yang
berkembang dalam memahami etika dalam kaitannya dengan isu lingkungan hidup.

1. Etika kepentingan generasi mendatang, yang memandang bahwa suatu keputusan dan
tindakan hendaknya jangan hanya memikirkan kepentingan umat manusia pada
generasi saat itu saja, tetapi juga kepentigan umat manusia pada generasi-generasi
mendatang.
2. Etika lingkungan biosentris, yang memandang bahwa perilaku etis bukan saja dari
sudut pandang manusia, tetapi juga dari sudut pandang nonmanusia (flora, fauna dan
benda-benda bumi non-organisme) sebagai suatu kesatuan sistem lingkungan (
ecosystem).
3. Etika ekosistem (ecosystem) menganggap Sang Pencipta (Tuahn) dan seluruh
ciptaannya (bumi dan seluruh isinya, sistem tat surya, sistem galaksi, dan sistem alam
ajgat raya) dianggap sebagai moral patients.

Kode Etik di Tempat Kerja

Kode Etik Sumber Daya Manusia (Human Resourse)

Sasaran dari pengelolaan SDM adalah agar perusahaan mampu memiliki karyawan yang
tepat dilihat dari kuantitas (jumlah) dan kulitas yang dibutuhkan. Karyawan yang berkualitas
adalah karyawan yang professional, yaitu karyawan yang memiliki kualifikasi yang sesuai
dengan tuntutan pekerjaan yang meliputi : pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
dan sikap/perilaku (attitude) yang baik.

Sekarang ini makin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya aspek sikap perilaku
sehingga makin banyak perusahaan yang mengembangkan kode etik untuk dijadikan acuan
perilaku bagi seluruh karyawannya. Oleh karena itu, berdasarkan studi oleh Waever, Trevino,
dan Cochran (dalam Brooks, 2003:149), diperlukan paket program implementasi dengan
memperhatikan sedikitnya enam dimensi program kode etik agar suatu kode etik dapat dapat
dipatuhi.

1. Kode etik formal, yaitu suatu kode etik yang dirumuskan ayau ditetapkan secra resmi
oleh suatu asosiasi, organisasi profesi, atau suatu lembaga/entitas tertentu.
2. Komite Etika, yaitu entitas yang mengembangkan kebijakan , mengevaluasi tindakan,
menginvestigasi, dan menghakimi pelanggar-pelanggar etika.
3. Sistem komunikasi etika, yaitu suatu media atau cara untuk menyosialisasikan kode
etik dn perubahannya, termasuk isu-isu etika dan cara mengatasinya yang bersifat dua
arah-antara pejabat otoritas etika dengan pihak-pihak terkait dalam suatu
entitas/organisasi.
4. Pejabat etika (ethics officers, ombuds persons), yaitu pihak yang mengoordinasikan
kebijakan, memberikan pendidikan, dan menyelidiki tuduhan adanya pelanggaran
etika.
5. Program pelatihan etika, yaitu program yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran
dan membantu karyawan dalam merespons masalah-masalah etika.
6. Proses penetapan disiplin dalam hal terjadi perilaku tidak etis.

Kode Etik Pemasaran

Fungsi pemasaran di dalam perusahaan memegang peranan yang sangat penting dan
menentukan bagi kelangsungan hidup perusahaan karena menjadi ujung tombak perusahaan
yang bersentuhan langsung dengan pelanggan dari luar perusahaan

Perilaku dan kualitas hubungan para eksekutif dan karyawan pada fungsi pemasaran dengan
para pelanggan dan calon pelanggan menjadi sangat kruisal karena menentukan citra
peruhaan dan produknya di mata publik, serta menentukan tingkat loyalitas dan kepuasan
para pelanggan. Pekerjaan di bidang perusahaan memerlukan tiga persyaratan, yaitu :
knowledge, skill dan attitude.

Lawrence, Weber, Post (2005) mengungkapkan bahwa di AS telah terbentuk organisasi


profesi di bidang pemasaran yang bernama American Marketing Associatin (AMA).
Organisasi profesi ini telah mempunyai kode etik bagi anggotanya, yang pada intinya
mencakup hal-hal sebagai mana, terlihat pada Tabel 6.2

Tabel 6.2

Ringkasan Kode Etik

American Marketing Associaton (AMA)

a. Tanggung Jawab (Responsibilities), pelaku pemasaran harus bertanggung jawab


atas konsekuensi aktivitas mereka dan selalu berusaha agar keputusan, rekomendari,
dan fungsi tindakan mereka mengidentifikasi, melayani, dan memuaskan masyarakat
(publik) yang relevan: para pelanggan, organisasi, da masyarakat, .
b. Kejujuran dan Kewajaran (Honesty and Fairness), pelaku pemasaran harus menjaga
dan mengembangkan integritas, kehormatan, dan martabat profesi pemasaran .
c. Hak (Rights) dan Kewajiban (Duties), pihak-pihak, pelaku dalam proses
pertukaran pemasaran harus mampu mengharapkan bahwa : (1) produk dan jasa yang
ditawarkan perusahaan aman dan cocok dengan kegunaan yang dimaksudkan; (2)
mengomunikasikan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan tidak menipu; (3) semua
pihak mematuhi kewajiban, keuangan, dan sejenisnya dengan iktikad baik; (4)
Terdapat metode internalyang layak untuk penyesuaian yang adil dan/atau
memperbaiki keluhan yang menyangkut pembelian .
d. Hubungan Organisasi (Organizational Relationships), pelaku pemasaran harus
menyadari betapa perilakunya akan memengaruhi perilaku orang-orang lain dalam
hubungan organisasi. Mereka seharusnya tidak menimbulkan, mendorong, atau
menerapkan kekerasan untuk menimbulkan tindakan perilaku tidak etis dalam
hubungannya dengan orang lain .
Kode Etik Akuntansi

Pekerjaan akuntansi didalam organisasi/perusahaan dilakukan olrh departemen akuntansi.


Karyawan yang berada dibawah Departemen akuntansi yang memenuhi syarat yang
diperlukan sebagai akuntan, sering disebut akuntan manajemen. Tugas utamanya adalah
merancang dan memelihara sistem informasi akuntansi agar mampu menghasilkan dua jenis
laporan yaitu: (1) Laporan keuangan dan (2) Laporan Manajemen.

Efektivitas fungsi akuntansi diperusahaan ditenetukan oleh karakteristik kualitatif, didalam


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) pada bagian Kerangka Dasar penyusunan
dan Penyajian Laporan keuangan ditenetukan dua indicator yaitu: relavan (relevant), dan
dapat diandalkan (realible)

Pekerjaan di bidang akuntansi juga disebut suatu profesi karena: (1) memerlukan
pengetahuan akuntansi dari pendidikan formal (knowledge); (2) memerlukan keterampilan
dalam mengolah data dan menyajikan laporan, khususnya dengan memeanfaatkan teknologi
computer dan sistem informasi (skill); dan (3) orang/karyawan di bidang akuntansi tersebut
harus mempunyai sikap dan perilaku etis (attitude). Akuntan manajemen akan mudah sekali
terpengaruh untuk menyusun laporan keuangan yang tidak benar (menyesatkan) dan
terperangkap untuk mengikuti kemauan pihak tertentu bila tidak mempunyai kesadaran etis
yang kuat dalam menjalankan profesinya.

Di Indonesia, seluruh akuntan bernaung didalam satu organisasi profesi yang disebut Institusi
Akuntan Indonesia (Indonesian Institute Accountants-IIA), dulu organisasi ini disebut IAI,
sejalan dengan spesialisasi dibidang akuntan, maka dibentuk pula sub-sub profesi akuntan,
antara lain: Institut Akuntan Publik Indonesia, Institut Akuntan manajemen Indonesia, Institut
Akuntan Sektor Publik, dan sebagainya.

Pada bagian berikut akan dibahaskode etik profesi akunatan, menurut Duska dan Duska
(2005) kode etik akuntan manajeman harus meliputi 4 standar perilaku etis yaitu:
Kompetensi, Kerahasiaan, Integritas, dan Objektivitas.

Tabel 6.3

Ringkasan Kode Etik

Institude of Management Accountants

1. Kompetensi: praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan mempunyai


sebuah tanggung jawab untuk:
Memelihara tingkat kompetensi professional yang layakdengan mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan mereka.
Menjalankan kewajiban professional dengan mematuhi hokum, peraturan, dan
standar teknis yang relevan.
Menyiapkan laporan dan rekomendasi yang lengkap dan jelas setelah melakukan
analisis terhadap inforamasi yang andal dan relavan.
2. Kerahasiaan : Praktisi akuntansi manajemen dan manajeman keuangan mempunyai
tanggung jawab untuk:
Menahan diri untuk membeberkan informasi rahasia dari menjalankan tugas,
kecuali diwajibkan secara hokum untuk membeberkannya.
Memberitahukan kapada bawahan menyangkut kerahasian informasi yang
mereka ketahui dalam menjalankan tugas mereka dan memantau kegiatan mereka
untuk memastikan kerahasiaannya.
Menahan diri untuk menggunakan informai rahasia yang diperoleh dalam
menjalankan tugasnya untuk keperluan tidak etis atau melawan hokum.
3. Integritas: Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan mempunyai
tangguag jawab untuk:
Menghindari konflik kepentingan sesungguhnya.
Menahan diri untuk melakukan ikatan dalam setiap aktivitas yang
menimbulkan prasangka menyangkut kemampuannya.
Menolak setiap pemberian, kemurahan hati,dan pelayanan.
Menahan diri dari baik secara aktif maupun pasif dari tindakan yang
menyimpang.
Mengomunikasikan informasi yang tidak menyenangkan dan menyenangkan
serta pendapat dan penilaian yang professional.
Menahan diri dari suatu ikatan atau suatu dukungan aktivitas yang dapat
mendiskreditkan profesi.
4. Objektivitas: Praktisi Akuntsnsi manajemen dan manajemen keuangan mempunyai
tanggung jawab untuk :
Mengomunikasikan informasi secara adil dan objektif
Mengungkapkan semua informasi relavan sepenuhnya yang diperkirakan
dapat memengaruhi pemahaman pihak pengguna atas laporan, komentar,
rekomandasi yang disampaikan.
5. Resolusi atas Konflik: Dalam menerapkan standar kode etik, praktisi akuntansi
manajemen dan manajemen keuangan mungkin menghadapi masalah dalam
mengidentifikasikan perilaku etis atau didalam memecahkan suatu konflik etis.
Diskusikan masalah dengan atasan langsunng, kecuali ada indikasi atasan
langsung yang terlibat.
Mengklarifikasi isu etis yang relavan melalui diskusi rahasia dengan penasehat
yang tepat, konsuktasi dengan pengacara yang berkaitan dengan hak dan
kewaiban hokum yang menyangkut konflik etis tersebut.
Bila konflik etis masih muncul setelh bersusah payah mendapatkan pandangan
internal dari pejabat pada berbagai tingkatan, tidak ada jalan lain yang lebih
baik selain mengundurkan diri dan memberikan momerandum kepada
perwakilan organisasi yang tepat.

Kode Etik Keuangan

Fungsi akuntansi dan keungan dalam suatu perusahaan mempunyai keterkaitan kerja yang
sangat erat, bahkan dalam hal tertentu sering kali kedua fungsi tersebut saling tumpang
tindih. Fungsi akuntansi antara lain menghasilkan laporan keungan, sedangkan fungsi
keuangan mengelola arus kas, termasuk menetapkan struktur permodalan dan mencari
sumber-sumber dan jenis pembiayaan baik untuk membiayai kegiatan operasi maupun
investasi. Dalam mengelola arus kas fungsi keuangan akan memanfaatkan laporan keuangan
yang dibuat fungsi akuntansi, sedangkan fungsi akuntansi akan banyak memberikan laporan
realisasi yang berhubungan dengan arus uang masuk dan uang keluar secara periodic.

Akhir-akhir ini makin banyak terdengar isu-isu/skandal pelanggaran etika dibidang keuangan,
pelanggaran yang sering terjadi antara lain: insider trading, transaksi saham illegal, proyeksi
laporan keuangan yang direkayasa untuk memperoleh kredit bak, rekayasa laporan keuangan
untuk tujuan pembayaran pajak dan mendongkrak harga saham, dan sebagainya.

Para Profesional dibidang keuangan AS telah lama mempunyai organisasi profesi yang
disebut Association for Investment Management dan Research (AIMR) yang mempunyai
kode etik yang dijadikan acuan bagi semua anggotanya.

Tabel 6.4

Kode Etik

Association for Investment Management dan Research (AIMR)

Anggota AIMR akan:


1. Bertindak berdasarkan Integeritas, Kompetensi, Martabat, dan bertindak etis dalam
berhubungan dengan publik, pelanggan, calon pelanggan, atasan karyawan, dan
sesama anggota profesi.
2. Menjalankan dan mendorong pihak lain untuk bertindak etis dan professional yang
akan mencerminkan kepercayaan anggota profesi dan profesi mereka.
3. Berusaha keras untuk memelihara dan meningkatkan kompetensi dan kompetensi
pihak lain dalam profesi ini.
4. Menerapkan kehati-hatian dan menjalankan penilaian professional yang bersifat
independen

Standar-standar perilaku professional meliputi:


Tanggung jawab fundamental-memahami semua hokum, peraturan, dan regulasi yang
terkait.
Hubugan dan tanggung jawab atas profesi-termasuk tidak mengikatkan diri dari
perilaku tidak etis dan melarang melakukan plagiarism.
Hubungan dan tanggung jawab pada atasan -termasuk pengungkapan konflik dan
pengaturan kompensasi tambahan.
Hubungan dan tanggung jawab pada pelanggan dan calon pelanggan-termasuk
perwakilan yang masuk akal, independensi, dann objektivitas, tanggung jawab
fiduciary dan dealing yang wajar, memelihara kerahasiaan , dan pengungkapan
konflik serta jasa rujukan.
Hubungan dan tanggung jawab kepada publik -termasuk larangan informasi bukan
publik dan larangan atas penyesatan kinerja investasi.