Anda di halaman 1dari 12

No Tanggal Pemeriksaan Terapi

10/7/2015 S: Sesak +, Batuk +, demam -. IVFD Kaen 3B 12tpm

O: KU : Lemah, KS: Compos Mentis Dexametason 1 amp / 8 jam

R: 40x/menit N:125x/menit Nebulisasi Combivent / 2


jam
Kepala : Sianosis per oral
240mg Aminophilin dalam
Thoraks : Retraksi suprasternal +, 20cc NaCl dengan
kecepatan 4cc/jam
wheezing +/+, Rhonki +/+.

Ambroxol syr 1/2cth / 8 jam


Abdomen : Retraksi epigastrium +.

11/7/2015 S: Sesak +, Batuk -, demam -. IVFD Kaen 3B 12tpm



Metilprednisolon loading
12/7/2015 O: KU : Lemah, KS: Compos Mentis
36mg, selanjutnya 18mg /
R: 40x/menit N:125x/menit 8jam

Kepala : Sianosis per oral Nebulisasi Combivent +


NaCl / 6 jam
Thoraks : Retraksi suprasternal +,

240mg Aminophilin dalam


wheezing +/+, Rhonki +/+.
20cc NaCl dengan
Abdomen : Retraksi epigastrium +. kecepatan 1,3cc/jam

Ambroxol syr 1/2cth / 8 jam

13/7/2015 S: Sesak +, Batuk +, demam -. IVFD Kaen 3B 12tpm



Metilprednisolon loading
21/7/2015 O: KU : Lemah, KS: Compos Mentis
36mg, selanjutnya 18mg /
R: 40x/menit N:125x/menit 8jam

Kepala : Sianosis per oral Nebulisasi Combivent +


NaCl / 6 jam
Thoraks : Retraksi suprasternal +,

240mg Aminophilin dalam


wheezing +/+, Rhonki +/+.
20cc NaCl dengan
Abdomen : Retraksi epigastrium +. kecepatan 1,3cc/jam
Eritromisin 250mg / 8 jam

Ambroxol syr 1/2cth / 8 jam

II. DIAGNOSIS ASMA

Pada kasus ini dari anamnesis didapatkan pasien dengan keluhan sesak, tidak membaik
dengan istirahat, dirasakan lebih nyaman duduk, batuk sudah 2 hari. Pasien dapat berbicara
kata demi kata. Pasien juga memiliki riwayat asma dengan terakhir kambuh 1 tahun yang
lalu. Pemeriksaan fisik ditemukan KU : Lemah, N : 120x/menit, R : 40x/menit, sianosis
peroral +, retraksi suprasternal dan epigastrium +, rhonki +/+, wheezing +/+.

Dengan anamnesa dan pemeriksaan tersebut dapat diketahui terdapat gangguan saluran
pernafasan berupa asma bronkiale episodik jarang, serangan berat.

PENATALAKSANAAN

Terapi Instalasi Gawat Darurat

02 sungkup 5 l/m

Rehidrasi Kaen 3B 70cc/kgBB selama 4 jam (105tpm), bila terehidrasi berikan


maintenance (12tpm).

Nebulisasi Combivent + NaCl / 2 jam, bila membaik / 4 jam, bila membaik / 6 jam.

Dexametason loading 2 ampul, selanjutnya 1/3 ampul / 8jam.

240mg Aminophilin dalam 20cc NaCl, habis dalam 30 menit, selanjutnya 240mg
Aminophilin dalam 20cc NaCl dengan kecepatan 1cc/jam.

Ambroxol syr 1/2cth / 8 jam.


Pasien sesak dengan RR 40 x/menit mendapatkan penanganan 02 sungkup 5 liter/menit.
Nebulisasi Combivent + NaCl untuk melebarkan bronkus yang menyempit.

Pasien tampak dehidrasi dengan keadaan umum lemas, mata tampak cekung, mukosa bibir
kering, turgor berkurang. Dilakukan rehidrasi dengan menggunakan cairan Kaen 3B
70mg/kgBB selama 4 jam (105tpm), observasi tanda tanda dehidrasi.

Pemberian kortikosteroid pada kasus asma berat merupakan tindakan tepat.

Terapi Ruangan

IVFD Kaen 3B 12tpm

Metilprednisolon loading 36mg, selanjutnya 18mg / 8jam

Nebulisasi Combivent + NaCl / 6 jam

240mg Aminophilin dalam 20cc NaCl dengan kecepatan 3cc/jam

Ambroxol syr 1/2cth / 8 jam

Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangatlah penting. Tujuannya, selain untuk menegakkan
diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding, anamnesis juga berguna untuk menyususn
srategi pengobatan pada penderita asma. Pada anamnesis akan kita jumpai adanya keluhan,
batuk, sesak, mengi dan atau rasa berat di dada yang timbul secara tiba-tiba dan hilang secara
spontan atau dengan pengobatan. Tetapi adakalanya juga penderita hanya mengeluhkan
batuk-batuk saja yang umumnya timbul pada malam hari atau sewaktu kegiatan jasmani
ataupun hanya pada musim-musim tertentu saja. Disamping itu, mungkin adanya riwayat
alrgi baik pada penderita maupun pada keluarganya, seperti rhinitis alergi, dermatitik atopic
dapat membantu menegakakan diagnosis.
Yang perlu juga diketahui adalah faktor-faktor pencetus serangan, dengan mengetahui factor
pencetus kemudian menghindarinya, diharapkan gejala asma dapat dicegah. Faktor-faktor
pencetus pada asma, terdiri dari:7,10
Allergen, baik yang berupa inhalasi seperti debu rumah, tungau, serbuk sari, bulu binatang,
kapas, debu kopi atau the, maupun yang berupa makanan seperti udang, kepiting, zat
pengawet, zat pewarna dan sebagainya.
Infeksi saluran napas, terutama oleh virus seperti Respiratory syncitial, parainfluensa dan
sebagainya.
Kegiatan jasmani/ olahraga, seperti lari.
Ketegangan atau tekanan jiwa.
Obat-obatan, seperti penyekat beta, salisilat, kodein, AINS dan sebagainya.
Polusi udara atau bau yang merangsang, seperti asap rokok, semprot nyamuk, parfum dan
sebagainya.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka seseorang dicurigai menderita asma apabila:10


Sesak atau batuk yang berkepanjangan setelah menderita influenza
Batuk-batuk setelah olahraga, terutama pada anak-anak atau rasa berat atau tercekik pada
dada sehabis olahraga (yang terbukti tidak ada kelainan jantung)
Sesak atau batuk-batuk pada waktu ruang berdebu atau berasap
Batuk-batuk setelah mencium bau tertentu
Batuk-batuk atau sesak yang sering timbul pada malam hari dan tidak berkurang sesudah
duduk.

Dengan kata lain, bila seseorang mengeluh sesak, batuk atau mengi yang tidak bisa
diterangkan penyebabnya, kita perlu mencurigai itu suatu asma. Atau yeng membedakan
asma dengan penyakit paru lain yaitu pada asma serangan dapat hilang dengan atau tanpa
obat. Artinya, serangan asma ada yang hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Tetapi,
membiarkan penderita asma dalam srangan tanpa obat selain tidak etis, juga bisa
membahayakan nyawa penderita.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik, selain berguna untuk menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis
banding, juga berguna untuk mengetahui penyakit-penyakit yang mungkin menyertai asma.
Pemeriksaan fisik meliputi seluruh badan, mulai dari kepala sampai ke kaki.

Kelainan fisik pada penderita asma tergantung pada obstruksi saluran napas (beratnya
serangan) dan saat pemeriksaan. Pada saat serangan, tekanan darah bisa naik, frekuensi
pernapasan dan denyut nadi juga meningkat, mengi (wheezing) sering dapat terdengar tanpa
statoskop, ekpirasi memanjang (lebih dari 4 detik atau 3 kali lebih panjang dari inspirasi)
disertai ronki kering dan mengi. Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan diameter
anteroposterior rongga dada, dimana pada perkusi akan terdengan hipersonor. Pernapasan
cepat dan susah, ditandai dengan pengaktifan otot-otot bantu pernapasan, sehingga tanpak
retraksi suprasternal, supraklavicula dan sel iga dan pernapasan cuping hidung.

Dalam praktek, jarang dijumpai kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma, tetapi batuk,
sesak ataupun mengi (wheezing) tidak hanya dijumpai pada penderita asma, untuk itu, perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk menegakkan diagnosis.

Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan laboratorium7,10
Pada pemeriksaan darah tepi, terutama jumlah eosinofil total sering meningkat pada pasien
asma, dan hal ini dapat membantu untuk membedakan asma dengan bronchitis kronik.
Jumlah eosinofil menurun dengan pemberian kortikosteroid, sehingga dipakai juga untuk
patokan cukup tidaknya dosis kortikosteroid yang dibutuhkan pada pasien asma.

Pada pemeriksaan sputum, dimana sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma,
sedangkan neutrofil sangat dominan pada bronchitis kronik. Selain untuk melihat adanya
eosinofil, Kristal Charcot-Leyden, dan Spiral Curschmann, pemeriksaan ini penting untuk
melihat adanya miselium Aspergillus fumigates.
Pemeriksaan analisis gas darah, hanya dilakukan pada asma yang berat. Pada fase awal
serangan terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PaCO2 < 35 mmHg) kemudian pada fase yang
lebih berat PaCO2 justru mendekati normal sampai normokapnia. Selanjutnya pada asma
yang sangat berat terjadinya hiperkapnia (PaCO2 > 45 mmHg), hipoksemia dan asidosis
respiratorik.

2.Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis dada ditujukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang memberikan
gejala serupa, seperti ggal jantung kiri, atau menemukan penyakit lain yang menyertai asma
seperti tuberculosis, atau mendeteksi adanya komplikasi asma seperti pneumothoraks,
pneumomediastinum, atelektasis dan lain-lain.7,10

3.Uji Kulit
Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui adanya antibody IgE yang spesifik pada kulit, yang
secara tidak langsung menggambarkan adanya antibody yang serupa pada saluran napas
penderita asma. Tes ini hanya menyokong anamnesis, karena allergen yang menunjukkan
tes kulit positif tidak selalu merupakan pencetus serangan asma, demikian pula sebaliknya.7

4.Pemeriksaan Spirometri
Spirometri merupakan alat yang digunakan untuk mengukur faal ventilasi paru. Pemeriksaan
ini sangat penting baik dalam diagnostic dan penilaian beratnya asma maupun dalam
pengololaan dan penilaian keberhasilan pengobatan, sama dengan tensimeter dalam
diagnostic dan pengelolaan hipertensi atau glukometer pada diabetes mellitus.
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma adalah dengan
melihat respons pengobatan dengan bronkodilator.
Reversibilitas penyempitan saluran napas yang merupakan ciri khas asma dapat dinilai
dengan meningkatnya FEV1 dan atau FVC sebanyak 20% atau lebih sesudah pemberian
bronkodilator. Tetapi tidak adanya peningkatan sebesar 20% tidak berarti bukan asma. Hal
ini dapat dijumpai pada penderita yang sudah normal atau mendekati normal. Respons
mungkin juga tidak dijumpai pada obstruksi saluran napas yang berat oleh karena dosis
tunggal aerosol tidak cukup memberikan efek seperti yang diharapkan mungkin perlu
pemberian obat kombinasi (agonis beta 2, teofilin dan kortikosteroid).

Penilaian beratnya obstruksi dapat dilihat pada rendahnya FEV1 dan FEV1/FVC atau
perbandingan FEV1 yang diukur dengan FEV1 yang prediktif seperti terlihat dalam table
berikut:
Tabel 1. Derajat Obstruksi Saluran Napas
Derajat obstruksi FEV1 (liter) FEV1/FVC FEV1/FEV1p

Dikutip dari Buku Penatalaksanaan Asma Bronkhial, Diagnosis Asma; karangan Samsu. Hal
22.
Apabila tes spirometri dengan bronkodilator hasilnya diragukan dapat dilakukan tes
pemantauan faal paru untuk jangka waktu 1-3 minggu dengan Miniright Peak Flowmeter,
dimana APE diukur 3 kali sehari ditambah ekstra pada saat munculnya sesak. Apabila
selisih APE yang tertinggi dengan yang terendah 20% atau lebih merupakan petanda asma.

5.Tes Provokasi Brokial


Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukkan adanya hiperaktivitas bronkus
dilakukan tes provokasi bronkus. Tes ini tidak dilakukan apabila tes spirometri
menunjukkan resersibilitas 20% atau lebih.

Ada beberapa cara yang dilakukan untuk tes provokasi bronchial seperti tes provokasi
histamine, metakolin, allergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin bahkan
inhalasi dengan aqua destila. Penurunan FEV1 sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi
merupakan pertanda adanya hiperaktivitas bronkus.10

IV. PENATALAKSANAAN ASMA

Sebagaimana penyakit lain, penatalaksanaan asma didasarkan pada pemahaman mengenai


pathogenesis penyakit. Penatalaksanaan asma dibagi menjadi dua, yaitu: penatalaksanaan
asma saat serangan (reliever) dan penatalaksanaan asma di luar serangan (controller).
Berdasarkan panduan asma internasional (GINA: Global Intiative for Asthma), tujuan
penatalaksanaan asma yang berhasil adalah bagaimana penyakit asma tersebut bisa dikontrol.
Menurut GINA yang telah diakui oleh WHO dan National Healt, Lung and Blood Institute-
USA (NHBCLI), ada beberapa kriteria yang dimaksudkan dengan asma terkontrol. Idealnya
tidak ada gejala-gejala kronis, jarang terjadi kekambuhan, tidak ada kunjungan ke gawat
darurat, tidak ada keterbatasan aktivitas fisik, seperti latihan fisik dan olahraga, fungsi paru
normal atau mendekati normal, minimal efek samping dari penggunaan obat dan idealnya
tidak ada kebutuhan akan obat-obat yang digunakan kalau perlu.
Dalam penatalaksanaan asma, yang penting adalah menghindari pencetus (trigger) dan
memilih pengobatan yang tepat untuk mencegah munculnya gejala asma. Selain itu,
menghilangkan gejala dengan cepat dan menghentikan serangan asma yang sedang terjadi.2

Penatalaksanaan Asma Saat Serangan


Penatalaksanaan asma saat serangan bertujuan untuk: mencegah kematian, dengan segera
menghilangkan obstruksi saluran napas; mengembalikan fungsi paru sesegera mungkin;
mencegah hipoksemia dan mencegah terjadinya serangan berikutnya.
Penatalaksanaan asma saat serangan dibagi lagi menjadi dua, yaitu penatalaksanaan saat
serangan di rumah dan penatalaksanaan asma saat serangan di rumah sakit.

Penatalaksanaan Saat Serangan di Rumah


1.Terapi awal
Berikan segera Inhalasi agonis beta2 kerja cepat 3 kali dalam 1 jam berarti setiap 20 menit,
contohnya Salbutamol 5mg, Terbutalin 10 mg, Fenoterol 2,5 mg
Jika tidak tersedia inhalasi agonis beta2 maka dapat diberikan agonis beta2 oral 3x1tablet 2
mg
2.Evaluasi respon pasien
Jika keadaan pasien membaik yaitu gejala batuk, sesak dan mengi berkurang atau tidak
terjadi serangan ulang selama 4 jam maka pemberian beta2 agonis diteruskan setiap 3-4 jam
selama 1-2 hari.

Jika keadaan pasien tidak membaik atau malah memburuk maka berikan kortikosteroid oral
seperti 60-80 mg metilprednisolon kemudian pemberian beta2 agonis diulangi dan segera
rujuk pasien ke rumah sakit.

Gambar 2. Penatalaksanaan serangan Asama di rumah.

Dikutip dari: Peranan Edukasi dalam Penatalaksanaan Asma yang Rasional sehingga
Meningkatkan Kualitas Hidup. Buku pidato pengukuhan Guru Besar, Eddy Mart Salim. Hal
10.
Pengelolaan Serangan Asma di Rumah Sakit
1.Terapi awal
Inhalasi beta2 agonis kerja singkat secara nebulisasi 1 dosis tiap 20 menit selama 1 jam atau
agonis beta2 injeksi seperti Terbutalin o,5 ml subkutan atau adrenalin 1/1000 0,3 ml
subkutan. Berikan oksigen dengan kanul nasal 4-6 l/menit untuk mencapai saturasi 90%
pada dewasa dan 95% pada anak-anak. Berikan kortikosteroid sistemik seperti hidrokortison
100-200mg atau metilprednisolon IV jika:
1.Serangan asma berat
2.Tidak ada respon segera dengan beta2 agonis
3.Jika pasien sedang mendapat kortikosteroid peroral
2.Lakukan penilaian ulang APE, saturasi oksigen dan pemeriksaan lain bila diperlukan
Jika respon baik maka pasien dipulangkan, teruskan pengobatan inhalasi beta2 agonis dan
dapat ditambahkan kortikosteroid oral, berikan arahan pada pasien untuk minum obat secara
teratur. Jika respon pasien tidak sempurna dalam 1-2 jam maka pasien dirawat di rumah
sakit dengan:
1.Pemberian inhalasi beta2 agonis dan inhalasi antikolinergik
2.Beri kortikosteroid sistemik
3.Berikan oksigen sama seperti sebelumnya
4.Dapat diberikan aminofilin IV

Jika respon buruk dalam 1 jam maka pasien dirawat di ICU dengan diberikan
Inhalasi beta2 agonis dan inhalasi antikolinergik,
Kortikosteroid IV
Beta2 agonis subkutan, IM dan IV
Beri oksigen
Aminofilin IV
Berikan intubasi dan ventilasi mekanik

Gambar 3. Penatalaksanaan serangan Asma di Rumah Sakit

Dikutip dari Guidelines for the Diagnosis and Management of Astma. 2007. P. 55

Penatalaksanaan Asma di Luar Serangan


Penatalaksanaan asma diluar serangan, mengacu kepada berat ringannya gejala asma.
Berdasarkan berat ringannya gejala asma, maka penatalaksanaan asma di luar serangan dapat
dibagi menjadi; penatalaksanaan asma intermiten , penatalaksanaan asma persisten ringan,
sedang dan berat.

Penatalaksanaan Asma Intermiten


Gambaran klinis sebelum pengobatan, terdiri dari: gejala intermiten (kurang dari satu kali
seminggu), serangan singkat (beberapa jam sampai hari), gejala asma malam kurang dari dua
kali sebulan, diantara serangan pasien bebas gejala dan fungsi paru normal, nilai APE dan
VEP1 > 80% dari nilai prediksi, variabilitas < 20%.

Pada asma intermiten ini, tidak diperlukan pengobatan pencegahan jangka panjang. Tetapi
obat yang dipakai untuk menghilangkan gejala yaitu agonis beta 2 inhalasi, obat lain
tergantung intensitas serangan, bila berat dapat ditambahkan kortikosteroid oral.

Penatalaksanaan Asma Persisten Ringan


Gambaran klinis sebelum pengobatan, terdiri dari: gejala lebih dari 1x seminggu, tapi kurang
dari 1x per hari, serangan mengganggu aktivitas dan tidur, serangan malam lebih dari 2x per
bulan dan nilai APE atau VEP1 > 80% dari nilai prediksi, variabilitas 20-30%.

Pengobatan jangka panjang terdiri dari: inhalasi kortikosteroid 200-500 mikrogram,


kromoglikat, nedocromil atau teofilin lepas lambat. Dan jika diperlukan, dosis kortikosteroid
inhalasi dapat ditingkatkan sampai 800 mikrogram atau digabung dengan bronkodilator kerja
lama (khususnya untuk gejala malam), dapat juga diberikan agonis beta 2 kerja lama inhalasi
atau oral atau teofilin lepas lambat. Sedangkan untuk menghilangkan gejala digunakan:
agonis beta 2 inhalasi bila perlu tapi tidak melebihi 3-4 kali per hari dan obat pencegah setiap
hari.

Penatalaksanaan Asma Persisten Sedang


Gambaran klinis sebelum pengobatan, terdiri dari: gejala setiap hari, serangan mengganggu
aktivitas dan tidur, serangan malam lebih dari 1x per minggu dan nilai APE atau VEP1 antara
60-80% nilai prediksi, variabilitas > 30%.

Pengobatan jangka panjang terdiri dari: inhalasi kortikosteroid 800-2000 mikrogram,


bronkodilator kerja lama, khususnya untuk gejala malam: inhalasi atau oral agonis beta 2 atau
teofilin lepas lambat. Sedangkan obat yang digunakan untuk menghilangkan gejala, terdiri
dari: agonis beta 2 inhalasi bila perlu tapi tidak melebihi 3-4 kali per hari dan obat pencegah
setiap hari.

Penatalaksanaan Asma Persisten Berat


Gambaran linis sebelum pengobatan, terdiri dari: gejala terus-menerus, sering mendapat
serangan, sering serangan malam, aktivitas fisik terbatas dan nilai APE atau VEP1 kurang
dari 60% nilai prediksi, variabilitas > 30%.

Pengobatan jangka panjang terdiri dari: inhalasi kortikosteroid 800-2000 migrogram;


bronkodilator kerja lama (inhalasi agonis beta 2 kerja lama, teofilin lepas lambat, dan atau
agonis beta 2 kerja lama tablet atau sirup; kortikosteroid kerja lama tablet atau sirup.
Sedangkan, obat yang digunakan untuk menghilangkan gejala, agonis beta 2 inhalasi bila
perlu dan obat pencegah setiap hari.

Tabel 2. Pengobatan Asma Bronkhial di luar serangan (jangka panjang)

Dikutip dari: Peranan Edukasi dalam Penatalaksanaan Asma yang Rasional sehingga
Meningkatkan Kualitas Hidup. Buku pidato pengukuhan Guru Besar, Eddy Mart Salim. Hal
15.

Jadi, pada prinsipnya pengobatan asma dimulai sesuai dengan tingkat beratnya asma, bila
asma tidak terkendali lanjutkan ke tingkat berikutnya. Tetapi sebelum itu perhatikan dulu,
apakah teknik pengobatan, ketaatan berobat serta pengendalian lingkungan (menghindari
factor pencetus) telah dilaksanakan dengan baik.

Setelah asma terkendali dengan baik, paling tidak untuk waktu 3 bulan, dapat dicoba untuk
menurunkan obat-obat anti asma secara bertahap, sampai mencapai dosis minimum yang
dapat mengandalikan gejala.

Akhir-akhir ini diperkenalkan terapi anti IgE untuk asma alergi yang berat. Penelitian
menunjukkan anti IgE dapat menurunkan berat asma, pemakaian obat anti asma serta
kunjungan ke gawat darurat karena serangan asma akut dan kebutuhan rawat inap.

Berbagai penelitian telah dilakukan mengenai kombinsi kortikosteroid dan bronkodilator,


untuk mencegah kerusakan kronik dan gangguan fungsi paru. Panduan pengobatan
menganjurkan pemakaian kortikosteroid sedini mungkin pada pasien yang mengkonsumsi
agonis beta 2 inhalasi aksi pendek lebih dari sekali sehari. Ada dua penelitian yang
melaporkan bahwa penambahan salmeterol pada pasien asma ringan, sedang maupun berat
yang sedang dalam pengobatan kortikosteroid inhalasi menghasilkan perbaikan fungsi paru
dan gejala asma. Bila dibandingkan dengan menaikan dosis kortikosteroid inhalasi dua kali
lipat. Penelitian lain melaporkan perbaikan gejala fungsi paru dan penurunan eksaserbasi
pada pasien yang mendapat salmaterol yang dikombinasi dengan flutikason propionate
dibandingkan denganpasien yang memperoleh dosis kortikosteroid dua kali lipat. Penelitian
lain juga menemukan, keberhasilan kombinasi budesonide dengan formoterol dalam satu
sediaan untuk mengontrol asma dan meningkatkan kualitas hidup.2

Disamping itu semua, dalam pengobatan asma, ketaatan pemakaian obat juga menentukan
keberhasilan terapi. Ketaatan pemakaian obat akan menurunkan dalam kompleksitas
pengobatan dan seringnya frekuensi pemakaian obat. Untuk itu, diperlukan penyederhanaan
rejimen pengobatan dengan mengkonsumsikan agonis beta 2 aksi panjang dengan
kortikosteroid dalam suatu sediaan. Kombinasi ini dipakai 2 kali sehari diharapkan akan
memperbaiki pengendalian asma dan kualitas hidup pada pasien-pasien yang membutuhkan
ke arah jenis pengobatan di atas.2

Pentingnya Edukasi dalam Penatalaksanaan Asma


Edukasi pada pasien asma merupakan suatu hal yang sangat penting, dan sebelumnya harus
ada dulu kerjasama yang baik antara dokter/tenaga medis dengan penderita dan keluarganya.
Bila penderita dan keluarganya memahami penyakitnya dengan baik, maka ia secara sadar
akan menghindari factor-factor pencetus serangan, menggunakan obat secara benar dan
berkonsultasi kepada dokter secara tepat. Panderita dan keluarganya harus diberi motivasi
bahwa untuk mengatasi penyakit asma tidak akan berhasil dengan baik bila hanya dengan
obat-obatan saja, tetapi harus juga mempunyai pengetahuan tentang penyakit asma dan
penatalaksanaannya.2, 11
Salah satu factor penyulit dalam pengobatan asma adalah penderita datang dalam keadaan
penyakit berat karena penderita berusaha mengobati diri sendiri dan menunda-nunda untuk
meminta pertolongan dokter. Maka dengan edukasi yang baik, penderita diharapkan bisa
membedakan keadaan serangan yang ringan dan berat. Bahkan penderita dan keluarga harus
bisa memilah kapan harus ke dokter dan kapan tidak perlu ke dokter.

Penderita asma dan keluarganya hurus memahami tujuh masalah dalam bidang penyakit asma
untuk mengengatasi penyakitnya, yaitu:2 memahami pengertian dasar dari penyakitnya,
artinya kita harus memberikan edukasi kepada penderita dan keluarganya mengenai penyakit
asma, termasuk didalamnya: patofisiologis, gejala, berat-ringannya penyakit asma, berat-
ringannya serangan asma, factor pencetus serta pengendalian lingkungan, cara pengobatan
preventif maupun kuratif yang dianjurkan, termasuk obat asma serta efek samping dan cara
pemakaiannya, dan hal-hal lain yang dianggap perlu. Disamping itu, penderita juga
diharapkan dapat menilai atau memantau berat-ringannya penyakit asma serta berat-
ringannya serangan dan termasuk didalamnya pengelolaan yang dianjurkan; memahami dan
memantau pengobatan pencegahan asma jangka panjang; memahami dan melaksanakan
rencana pengobatan emergensi untuk mengatasi serangan asma yang mendadak; serta
olahraga yang teratur untuk meningkatkan kebugaran tubuh dan control secara teratur ke
dokter pribadinya.

V. RINGKASAN

Asma bronkial merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang melibatkan berbagai
sel imun serta menyebabkan peningkatan respons saluran napas terhadap berbagai
rangsangan.

Konsep patogenesis asma bronkial adalah hipereaktivitas saluran napas yang didasari oleh
inflamasi alergik kronis. Inflamasi ini akan menyebabkan penyempitan saluran napas yang
bersifat reversibel, dan mebaik secara spontan ataupun dengan pengobatan. Gejala yang
timbul dapat berupa batuk berulang, mengi, dada terasa tertekan, dan sesak napas, terutama
pada malam dan/atau pagi hari. Dengan demikian pengobatan asma tidak hanya ditujukan
untuk mengatasi bronkokonstriksi tapi juga untuk mengatasi inflamasi alergi dan
hiperreaktifitas bronkus.

Asma dapat timbul pada berbagai usia, terjadi pada laki-laki dan wanita. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa prevalensi asma di Indonesia diperikakan sekitar 2 8%. Prevalensi
morbiditas dan mortalilas asma akhir-akhir ini dilaporkan meningkat di seluruh dunia,
meskipun berbagai obat baru terus dikembangkan dan digunakan untuk mengobati penyakit
ini.

Penatalaksanaan asma ada dua, yaitu: penatalaksanaan asma pada saat serangan (reliever)
dengan memakai obat bronkodilator (salbutamol, terbutalin, theophilin) termasuk
penatalaksanaan asma di rumah dan di rumah sakit dan penatalaksanaan asma di luar
serangan (controller) dengan memakai anti implamasi
Edukasi kepada penderita asma dan keluarganya mutlak harus dilakukan dan ini memerlukan
kerjasama yang erat antara dokter/tenaga medis dengan penderita dan keluarganya.