Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PERBANDINGAN BUDAYA HUKUM DAN DIMENSI HUKUM


JAKSA DAN ADVOKAT

Sebagaimana diketahui bahwa di dalam penegakan hukum (law


enforcement) yang dilakukan atau ditampilkan di forum peradilan yakni di
pengadilan, untuk perkara pidana, perkaranya diperiksa di pengadilan negeri dan
profesi hukum yang terlibat ada 3 (tiga) , yakni : hakim, jaksa dan advokat .
Pemeriksaan untuk perkara perdata juga di pengadilan negeri , tetapi profesi
hukum yang terlibat hanya ada 2 (dua) profesi hukum, yakni hakim dan advokat
(advokat Penggugat dan advokat Tergugat).

Untuk perkara perkara kepailitan dan perkara permohonan penundaan


kewajiban pembayaran utang (PKPU), perkara tentang sengketa merek, hak cipta,
hak paten dan hak-hak atas kekayaan intelektual lainnya, pemeriksaan perkara
dilakukan oleh pengadilan niaga, sedangkan profesi hukum yang terlibat ada 2
(dua) profesi yakni hakim dan advokat (advokat Pemohon / Penggugat dan
advokat Termohon /Tergugat).

Perkara-perkara tentang ketenagakerjaan diperiksa oleh pengadilan


hubungan industrial (PHI), sedangkan profesi hukum yang terlibat ada 2 (dua),
yakni hakim dan advokat (advokat Penggugat dan advokat Tergugat) .

Perkara perceraian bagi mereka yang beragama Islam diperiksa di


pengadilan agama, sedangkan bagi mereka yang non-muslim , perkaranya
diperiksa di pengadilan negeri . Profesi hukum yang terlibat di dalam perkara
perceraian adalah hakim dan advokat (advokat Penggugat dan advokat Tergugat) .

Untuk sengketa tentang Surat Keputusan yang diterbitkan oleh pejabat


pemerintah (beschikking) , perkaranya diperiksa oleh pengadilan tata usaha negara,
sedangkan profesi hukum yang terlibat adalah hakim dan advokat (advokat
Penggugat dan advokat Tergugat) .

1
Dengan demikian, berdasarkan atas uraian tersebut di atas, dapat diketahui
bahwa di dalam penegakan hukum (law enforcement) yang dilaksanakan di
forum peradilan yakni di pengadilan, baik di pengadilan negeri, pengadilan niaga,
pengadilan tata usaha negara, pengadilan hubungan industrial maupun pengadilan
agama, profesi hukum yang terlibat ada 2 (dua) profesi yakni hakim dan advokat
dan hanya perkara-perkara pidana saja yang melibatkan 3 (tiga) profesi hukum,
yakni : hakim, jaksa dan advokat .

Di dalam tulisan ini akan dibahas tentang perbandingan budaya hukum dan
dimensi hukum jaksa dan advokat. Hal ini berarti bahwa pembahasan akan
berfokus kepada profesi hukum di dalam perkara pidana saja, karena sebagaimana
telah dikemukakan di atas, bahwa di dalam penegakan hukum (law enforcement)
yang dilaksanakan di forum peradilan yakni di pengadilan, kehadiran atau
tampilnya jaksa hanya untuk perkara pidana saja, sedangkan untuk perkara-
perkara lainnya, jaksa tidak dimungkinkan untuk tampil .

A. Budaya Hukum Jaksa

Apabila berbicara tentang budaya hukum jaksa, hal ini tidak dapat
dilepaskan dari kedudukan jaksa sebagai penuntut umum di dalam perkara
pidana yang diperiksa oleh hakim di pengadilan negeri.
Peran (role) seorang penegak hukum (law enforcement officer) tidak dapat
dilepaskan dari kedudukannya atau jabatannya .
Ruang lingkup tugas dan kewenangan (scope of assignment and authority)
seorang penegak hukum (law enforcement officer) diatur dan ditentukian di
dalam undang-undang .

Dengan demikian, tugas dan kewenangan seorang hakim , seorang


jaksa dan seorang advokat, masing-masing diatur dan ditentukan di dalam
undang-undang yang berbeda, yakni undang-undang tentang kekuasaan
kehakiman bagi para hakim, undang-undang tentang kejaksaan bagi para
jaksa dan undang-undang tentang advokat bagi para advokat , berikut
peraturan-peraturan pelaksanaannya.

2
Setiap undang-undang akan dimulai dengan konsiderans
(pertimbangan) yang biasanya mengandung aspek filosofis, aspek
sosiologis dan aspek yuridis . Hal ini berarti bahwa filosofi tentang tugas
dan kewenangan seorang hakim akan berbeda dengan filosofi tentang
tugas dan kewenangan seorang jaksa dan berbeda pula dengan filosofi
tentang tugas dan kewenangan seorang advokat, meskipun idealnya, ketiga
profesi hukum tersebut berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar dan
menseimbangkan atau menserasikan 3 (tiga) aspek tujuan dari penegakan
hukum (law enforcement), yakni : kepastian hukum (rechtszekerheid),
keadilan (billijheid) , dan aspek manfaat (doelmatigheid) , disamping agar
jangan sampai terjadi main hakim sendiri (eigenrichting) .

Budaya hukum jaksa, sudah dapat dipastikan akan sangat


dipengaruhi oleh undang-undang tentang kejaksaan karena sebagaimana
telah dikemukakan di atas, bahwa tugas dan kewenangan seorang jaksa
diatur dan ditentukan di dalam undang-undang tentang kejaksaan.
Seorang jaksa tidak mungkin akan menjalankan profesinya tanpa
berlandaskan atas ketentuan-ketentuan yang diatur dan ditentukan di dalam
undang-undang tentang kejaksaan, berikut peraturan pelaksanaannya .
Tugas jaksa adalah melakukan penuntutan terhadap terdakwa dan oleh
karena itu, budaya hukum yang melingkupinya adalah semangat yang
tinggi untuk mencari kesalahan terdakwa dengan berbagai argumentasi
hukum, baik didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku
(hukum positif = positief recht = ius constitutum) , yurisprudensi, pendapat
para ahli (doktrin) maupun hukum kebiasaan .

Adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk menyusun Surat


Dakwaan, karena jika jaksa tidak dapat membuktikan kebenaran Surat
Dakwaan yang disusunnya, hakim akan menjatuhkan putusan yang
membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan (vrijspraak), atau setidak-
tidaknya hakim akan menjatuhkan putusan yang melepaskan terdakwa dari
segala tuntutan hukum (onslag van alle recht vervolging) .

3
Oleh karena itu, adalah logis jika jaksa di dalam persidangan perkara
pidana, akan selalu berusaha mengajukan argumentasi dan alat-alat bukti ,
termasuk alat bukti saksi fakta maupun saksi ahli (expert witness) yang
memberatkan terdakwa, karena memang itulah tugas dan kewenangan jaksa
sebagaimana diatur dan ditentukan di dalam undang-undang berikut
peraturan-peraturan pelaksanaannya .

B. Budaya Hukum Advokat

Seperti halnya profesi jaksa yang tugas dan kewenangannya diatur dan
ditentukan oleh undang-undang dan peraturan-peraturan pelaksanaannya,
profesi advokat pun demikian .
Cara kerja advokat juga diatur dan ditentukan oleh undang-undang yang
dalam hal ini adalah undang-undang tentang advokat, berikut peraturan-
peraturan pelaksanaannya . Bahkan di dalam organisasi profesinya juga
ada Kode Etik bagi para advokat yang dibuat oleh organisasi profesi
advokat sendiri.
Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa seorang advokat akan dianggap
melanggar kode etik profesi apabila dia menerima perkara dari klien baru,
padahal dia (advokat tersebut) mengetahui bahwa klien tersebut masih
menggunakan jasa hukum dari advokat lain, atau dengan kata lain , klien
tersebut masih terikat hubungan hukum dengan advokat yang menangani
perkara yang sama .

Budaya hukum advokat sudah dapat dipastikan berbeda dengan


budaya hukum jaksa , karena tugas dan kewenangan advokat bertolak
belakang dengan tugas dan kewenangan jaksa .
Jika jaksa dengan segala upaya berusaha untuk mengajukan argumentasi-
argumentasi hukum dan alat-alat bukti, termasuk saksi, baik saksi fakta
maupun saksi ahli (expert witness) yang memberatkan terdakwa, advokat
akan mengajukan argumentasi-argumentasi hukum dan alat-alat bukti,
termasuk saksi fakta dan saksi ahli (expert witness) yang menguntungkan
atau meringankan terdakwa (kliennya) .

4
Namun satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa di dalam melaksanakan
penegakan hukum (law enforcement), baik jaksa maupun advokat,
kedua-duanya mempunyai satu tujuan, yakni mengejar dan
menseimbangkan atau menserasikan 3 (tiga) aspek dari tujuan
penegakan hukum (law enforcement) sebagimana telah dikemukakan di
atas, yakni : aspek keadilan (billijheid), aspek kepastian hukum
(rechtszekerheid) dan aspek manfaat (doelmatigheid) , disamping agar tidak
terjadi main hakim sendiri (eigenrichting) .

Adalah sesuatu hal yang aneh dan tidak logis jika seorang advokat di
dalam menjalankan profesinya tidak berusaha maksimal untuk membela
segala hak-hak dan kepentingan kliennya, dengan catatan bahwa tindakan
advokat tersebut harus tetap didalam koridor hukum dalam arti bahwa
segala argumentasinya harus didasarkan atas peraturan perundang-
undangan yang berlaku (hukum positif = positief recht = ius constitutum),
yurisprudensi, doktrin dan hukum kebiasaan.
Argmentansi-argumentasi yang TIDAK didasarkan atas peraturan
perundang-undangan yang berlaku (hukum positif = positief recht = ius
constitutum), yurisprudensi, doktrin dan hukum kebiasaan, boleh dikatakan
argumentasi tanpa landasan yuridis atau dengan akta lain argumentasi
ASAL BUNYI yang secara yuridis tidak perlu dipertimbangkan dan patut
dikesampingkan dan bahkan harus ditolak.

---------- sbn ---------