Anda di halaman 1dari 16

SAP (SATUAN ACARA PENYULUHAN)

DEMAM TYPUS ABDOMINALIS

Disusun Oleh:

1. Daniel Herry K ST161007


2. Mujiran ST161025
3. Sri Nurwulan Hesti ST161035
4. Sri Subekti ST161036
5. Taryadi ST161041

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)\
DEMAM TYPUS ABDOMINALIS

Pokok Pembahasan : Penyakit Typus Abdominalis


Sasaran : Keluarga Y
Waktu : 40 menit
Hari/ Tanggal : Sabtu, 15 Januari 2017
Tempat : Rumah Sakit Sehat Selalu
Penyaji : Kelompok 2

A. Latar Belakang
Angka kejadian demam tifoid (typhoid fever) diketahui lebih tinggi
pada negara yang sedang berkembang di daerah tropis, sehingga tak heran jika
demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan di negara kita. Di
Indonesia sendiri, demam tifoid masih merupakan penyakit endemik dan
menjadi masalah kesehatan yang serius. Demam tifoid erat kaitannya dengan
higiene perorangan dan sanitasi lingkungan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam
tifoid di seluruh dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian tiap
tahunnya. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat
terjadi pada anak maupun dewasa. Anak merupakan yang paling rentan terkena
demam tifoid, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Di
hampir semua daerah endemik, insidensi demam tifoid banyak terjadi pada
anak usia 5-19 tahun.
Perbedaan antara demam tifoid pada anak dan dewasa adalah mortalitas
(kematian) demam tifoid pada anak lebih rendah bila dibandingkan dengan
dewasa. Risiko terjadinya komplikasi fatal terutama dijumpai pada anak besar
dengan gejala klinis berat, yang menyerupai kasus dewasa. Demam tifoid pada
anak terbanyak terjadi pada umur 5 tahun atau lebih dan mempunyai gejala
klinis ringan.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan 1 kali pertemuan ini
diharapkan keluarga Y mengetahui dan memahami tentang penyakit
thipoid dan mengetahui hal yang harus dilakukan jika terkena thipoid serta
cara mengatasi masalah tersebut.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 1 kali pertemuan,
keluarga Y dapat menjelaskan kembali tentang :
a. Menyebutkan pengertian Demam Typus
b. Menyebutkan penyebab Demam Typus
c. Menyebutkan tanda Demam Typus
d. Menyebutkan cara pencegahan Demam Typus
e. Menjelaskan perawatan dan pengobatan Demam Typus

C. Materi
Terlampir

D. Metode
Ceramah dan tanya jawab

E. Media
Leafleat

F. Kegiatan Penyuluhan
Waktu
No. Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta
(menit)
1. Pembukaan:
a. Memberi salam Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri Mendengarkan 5
c. Menyebutkan tujuan
penyuluhan
Waktu
No. Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta
(menit)
Mendengarkan dan
memperhatikan
2. Kegiatan inti:
a. Menjelaskan Memperhatikan dan
pengertian demam mendengarkan
thypoid
b. Menjelaskan manfaat Memperhatikan dan 10
demam thypoid mendengarkan

c. Menjelaskan macam- Memperhatikan dan


macam demam thypoid mendengarkan.
3. Penutup:
a. Memberikan Mengajukan pertanyaan
kesempatan kepada Ibu
untuk bertanya
12
b. Menyimpulkan materi Menyimpulkan materi
bersama ibu
c. Melaksanakan evaluasi Menjawab pertanyaan

4. Salam penutup:
Mengucapkan salam Menjawab salam 3

G. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Menyiapkan SAP
b. Menyiapkan materi dan media
c. Kontrak waktu dengan sasaran
d. Menyiapkan tempat
e. Menyiapkan pertanyaan
2. Evaluasi proses
a. Sasaran 90% memperhatikan dan mendengarkan selama penkes
berlangsung
b. Sasaran 90% aktif bertanya bila ada hal yang belum dimengerti
c. Sasaran 90% memberi jawaban atas pertanyaan pemberi materi
d. Sasaran 90% tidak meninggalkan tempat saat penkes berlangsung
3. Evaluasi hasil
a. Penkes dikatakan berhasil apabila sasaran mampu menjawab
pertanyaan 80 % lebih dengan benar
b. Penkes dikatakan cukup berhasil / cukup baik apabila sasaran mampu
menjawab pertanyaan antara 50 80 % dengan benar
c. Penkes dikatakan kurang berhasil / tidak baik apabila sasaran hanya
mampu menjawab kurang dari 50 % dengan benar.

H. Pengorganisasian
1. Penyaji : Daniel Herry K
2. Notulen : Sri Nurwulan Hesti
3. Fasilitator :
a. Sri Subekti
b. Mujiran
c. Taryadi
LAMPIRAN MATERI DEMAM TYPUS ABDOMINALIS
1. Pengertian Demam Typus

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang
disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas
berkepanjangan,ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur
endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam
sel fagosit mononuklear dari limpa,kelenjar limfe usus dan Peyers
patch. Terjadinya penularan salmonella typhi sebagian besar melalui makanan/
minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa
kuman, biasanya keluar bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal =
jalur oro-fekal).

2. Tanda dan Gejala


Gejala klinis pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih
bervariasi bila dibandingkan dengan penderita dewasa. Bila hanya berpegang
pada gejala atau tanda klinis, akan lebih sulit untuk menegakkan diagnosis
demam tifoid pada anak, terutama pada penderita yang lebih muda, seperti pada
tifoid kongenital ataupun tifoid pada bayi. Masa inkubasi rata-rata bervariasi
antara 7 20 hari, dengan masa inkubasi terpendek 3 hari dan terpanjang 60
hari. Dikatakan bahwa masa inkubasi mempunyai korelasi dengan jumlah
kuman yang ditelan, keadaan umum/status gizi serta status imunologis
penderita. Walaupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, secara
garis besar gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokkan :
a. Demam satu minggu atau lebih.
b. Gangguan saluran pencernaan
c. Gangguan kesadaran
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit
infeksi akut pada umumnya, seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual,
muntah, diare,konstipasi. Pada pemeriksaan fisik, hanya didapatkan suhu
badan yang meningkat. Setelah minggu kedua, gejala/ tanda klinis menjadi
makin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa,
perut kembung mungkin disertai ganguan kesadaran dari yang ringan sampai
berat.
Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti
pada orang dewasa, kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa
stepladder pattern, dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39 41oC) serta
dapat pula bersifat ireguler terutama pada bayi yang tifoid kongenital. Lidah
tifoid biasanya terjadi beberapa hari setelah panas meningkat dengan tanda-
tanda antara lain, lidah tampak kering, dilapisi selaput tebal, di bagian
belakang tampak lebih pucat, di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan.Bila
penyakit makin progresif, akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papilla
lebih prominen. Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan
awal minggu kedua. Merupakan suatu nodul kecil sedikit menonjol dengan
diameter 2 4 mm, berwarna merah pucat serta hilang pada penekanan.
Roseola ini merupakan emboli kuman yang didalamnya mengandung kuman
salmonella, dan terutama didapatkan di daerah perut, dada, kadang-kadang di
bokong, ataupun bagian fleksor lengan atas.
Limpa umumnya membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu
pertama dan harus dibedakan dengan pembesaran karena malaria.
Pembesaran limpa pada demam tifoid tidak progresif dengan konsistensi
lebih lunak. Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah
dengan ukuran 1 5 mm, sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks,
ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih, tidak pernah dilaporkan
ditemukan pada anak Indonesia. Ruam ini muncul pada hari ke 7 10 dan
bertahan selama 2 -3 hari.

3. Diagnosis Demam Typhoid?


Demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang
ringan bahkan asimtomatik. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun
gejala yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam demam, gangguan
saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran.
Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam
dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala, malaise, anoreksia, letargi,
nyeri dan kekakuan abdomen, pembesaran hati dan limpa, serta gangguan
status mental. Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal dan
kemudian pada minggu kedua timbul diare. Diare hanya terjadi pada setengah
dari anak yang terinfeksi, sedangkan sembelit lebih jarang terjadi. Dalam
waktu seminggu panas dapat meningkat. Lemah, anoreksia, penurunan berat
badan, nyeri abdomen dan diare,menjadi berat. Dapat dijumpai depresi
mental dan delirium. Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih
sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. Rose spots (bercak
makulopapular) ukuran 1-6 mm, dapat timbul pada kulit dada dan abdomen,
ditemukan pada 40-80% penderita dan berlangsung singkat (2-3hari). Jika
tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu, gejala dan tanda klinis menghilang
namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 bulan. Gambaran klinis lidah
tifoid pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan
asimtomatik.
Sering terjadi kesulitan dalam menegakkan diagnosis bila hanya
berdasarkan gejala klinis. Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis
demam tifoid perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium yang diandalkan.
Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam
tifoid meliputi pemeriksaan darah tepi, bakteriologis, dan serologis.
Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid
dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :

a. solasi kuman penyebab demam tifoid melalui biakan kuman dari


spesimen penderita, seperti darah, sumsum tulang, urin, tinja, cairan
duodenum dan rose spot. Berkaitan dengan patogenesis, maka kuman
lebih mudah ditemukan didalam darah dan sumsum tulang di awal
penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya didalam urin dan tinja.
Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid, namun hasil negatif
tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung dari
beberapa faktor.
b. Uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S.typhi dan
menentukan adanya antigen spesifik dari Salmonella typhi. Uji serologi
standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibody terhadap kuman
S.typhi yaitu uji Widal. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan
pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang
sama. Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. Di
Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin 1/40 dengan memakai
uji widal slide aglutination (prosedur pemeriksaan membutuhkanwaktu
45 menit) menunjukkan nilai ramal positif 96%. Artinya apabila hasil tes
positif, 96% kasus benar sakit demam tifoid, akan tetapi apabila negatif
tidak menyingkirkan. Banyak referensi yang mengemukakan apabila titer
O agglutinin sekali periksa 1/200 atau pada titer sepasang terjadi
kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. Aglutinin
H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau,
sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman S. typhi
(karier).

4. Komplikasi Demam Typhoid


Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini yaitu:
a. Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0,5 3%, sedangkan
perdarahan usus pada 1 10% kasus dema tifoid anak. Penyulit ini
biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit, walau pernah dilaporkan terjadi
pada minggu pertama. Komplikasi di dahului dengan penurunan suhu,
tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. Pada perforasi usus halus
ditandai oleh nyeri abdomen lokal pada kuadran kanan bawah akan tetapi
dilaporkan juga nyeri yang menyelubung. Kemudian akan diikuti muntah,
nyeri pada perabaan abdomen, defance muskulare, hilangnya keredupan
hepar dan tanda-tanda peritonitis yang lain. Beberapa kasus perforasi usus
halus mempunyai manifestasi klinis yang tidak jelas.
b. Komplikasi pada neuropsikiatri. Sebagian besar bermanifestasi gangguan
kesadaran, disorientasi, delirium, obtundasi, stupor bahkan koma.
Beberapa penulis mengaitkan manifestasi klinis neuropsikiatri dengan
prognosis buruk. Penyakit neurologi lain adalah rombosis sereberal, afasia,
ataksia sereberal akut, tuli, mielitis tranversal, neuritis perifer maupun
kranial, meningitis, ensefalomielitis, sindrom Guillain-Barre. Dari
berbagai penyakit neurologik yang terjadi, jarang dilaporkan gejala sisa
yang permanen (sekuele).
c. Miokarditis. Dapat timbul dengan manifestasi klinis berupa aritmia,
perubahan ST-T pada EKG, syok kardiogenik, infiltrasi lemak maupun
nekrosis pada jantung.
d. Hepatitis tifosa asimtomatik juga dapat dijumpai pada kasus demam tifoid
ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok.
e. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase, maupun
kolesistitis akut juga dapat dijumpai, sedang kolesistitis kronik yang
terjadi pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan
dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karier).
f. Sistitis bahkan pielonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid.
g. Proteinuria transien sering dijumpai, sedangkan glomerulonefritis yang
dapat bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik
mempunyai prognosis buruk.
h. Pneumonia sebagai komplikasi sering dijumpai pada demam tifoid.
Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi, namun
sering kali sebagai akibat infeksi sekunder oleh kuman lain.
i. Penyulit lain yang dapat dijumpai adalah trombositopenia, koagulasi
intrvaskular diseminata, Hemolytic Uremic Syndrome (HUS), fokal
infeksi di beberapa lokasi sebagai akibat bakteremia misalnya infeksi pada
tulang,otak, hati, limpa, otot, kelenjar ludah dan persendian.

5. Cara mengobati Demam Typhoid


Sebagian besar pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan
tirah baring, isolasi yang memadai, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi serta
pemberian antibiotik. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat dirumah
sakitagar pemenuhan kebutuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping
observasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan dengan seksama.
Pengobatanantibiotik merupakan pengobatan utama karena pada dasarnya
patogenesis infeksi Salmonella typhi berhubungan dengan keadaan
bakteriemia.Obat-obat antimikroba yang sering digunakan antara lain :
a. Kloramfenikol
Dosis yang dianjurkan ialah 50 100 mg/kgBB/hari, selama 10
14 hari. Untuk neonatus, penggunaan obat ini sebaiknya dihindari, dan
bila terpaksa, dosis tidak boleh melebihi 25 mg/kgBB/hari, selama 10
hari.
b. Tiamfenikol
Komplikasi hematologi pada penggunaan Tiamfenikol jarang
dilaporkan. Dosis oral dianjurkan 50 100 mg/kgBB/hari, selama 10
14 hari.
c. Kotrimoksasol
Dapat digunakan untuk kasus yang resisten terhadap kloamfenikol,
penyerapan di usus cukup baik, dan kemungkinan timbulnya
kakambuhan pengobatan pengobatan lebih kecil dibandingkan
kloramfenikol. Kelemahannya ialah dapat terjadi skin rash (1 15%),
sindrom Steven Johnson, agranulositosis, trombositopenia, anemia
megaloblastik, hemolisis eritrosit terutama pada penderita G6PD,Dosis
oral yang dianjurkan adalah 30 40 mg/kgBB/hari. Sulfametoksazoldan
6 8 mg/kgBB/hari untuk Trimetoprim, diberikan dalam 2 kali
pemberian,selama 10 14 hari.
d. Ampisilin dan Amoksisilin
Dapat digunakan pada kasus yang resisten terhadap
Kloramfenikol. Kelemahannya dapat terjadi skin rash (3 18%), dan
diare (11%). Ampisilin mempunyai daya anti bakteri yang sama dengan
Ampisilin, terapi penyerapan peroral lebih baik sehingga kadar oabat
yang tercapai 2 kalilebih tinggi, dan lebih sedikit timbulnya kekambuhan
(2 5%) dan karier (0 5%).Dosis yang dianjurkan adalah : Ampisilin
100 200 mg/kgBB/hari, selama 10 14 hari. Amoksisilin 100
mg/kgBB/hari, selama 10 14 hari. Pengobatan demam tifoid yang
menggunakan obat kombinasi tidak memberikan keuntungan yang lebih
baik bila diberikan obat tunggal.
e. Seftriakson
Dosis yang dianjurkan adalah 50 100 mg/kgBB/hari, tunggal atau
dalam2 dosis iv.
f. Sefotaksim
Dosis yang dianjurkan adalah 150 200 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3- 4dosis iv.
g. Siprofloksasin
Dosis yang dianjurkan adalah 2 x 200 400 mg oral pada anak
berumur lebih dari 10 tahun.

6. Pencegahan Demam Tifoid


Pencegahan adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota
masyarakat tidak tertular oleh bakteri Salmonella. Ada 3 pilar strategis yang
menjadi program pencegahan yakni:
a. Mengobati secara sempurna pasien dan carrier demam tifoid.
b. Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan.
c. Perlindungan dini agar tidak tertular.
Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan kebersihan
lingkungan. Orang Indonesia itu umumnya cuci tangan setelah makan,
padahal harusnya sebelum makan. Setelah makan, tangannya kotor, baru
dicuci. Tapi kalau sebelum makan dia lupa. Padahal tangan itu paling kotor,
kena segala macam. Lewat tangan kita bisa memindahkan kuman.
Berikut beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid:
a. Cuci tangan.
Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk
mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan
anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum
makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet.
Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.
Hindari minum air yang tidak dimasak.
Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah
endemik tifoid. Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka
seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum
tanpa menambahkan es di dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk
menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi.
b. Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah.
Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih
banyak daripada yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah
yang tercemar, cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang
mengalir. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau
tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak
disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, pilihlah
buah yang dapat dikupas.
c. Pilih makanan yang masih panas.
Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada
suhu ruang. Yang terbaik adalah makanan yang masih panas. Walaupun
tidak ada jaminan makanan yang disajikan di restoran itu aman, hindari
membeli makanan dari penjual di jalanan yang lebih mungkin
terkontaminasi.
Jika anda adalah pasien demam tifoid atau baru saja sembuh dari
demam tifoid, berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang
lain:
- Sering cuci tangan anda.
Ini adalah cara penting yang dapat anda lakukan untuk
menghindari penyebaran infeksi ke orang lain. Gunakan air
(diutamakan air mengalir) dan sabun, kemudian gosoklah tangan
selama minimal 30 detik, terutama sebelum makan dan setelah
menggunakan toilet.
- Bersihkan alat rumah tangga secara teratur.
Bersihkan toilet, pegangan pintu, telepon, dan keran air
setidaknya sekali sehari.
- Hindari memegang makanan.
Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter
berkata bahwa anda tidak menularkan lagi. Jika anda bekerja di
industri makanan atau fasilitas kesehatan, anda tidak boleh kembali
bekerja sampai hasil tes memperlihatkan anda tidak lagi menyebarkan
bakteri Salmonella.
- Gunakan barang pribadi yang terpisah.
Sediakan handuk, seprai, dan peralatan lainnya untuk anda
sendiri dan cuci dengan menggunakan air dan sabun.
DAFTAR PUSTAKA

Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update. Cetakan pertama; Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : 2003

Aru W, Sudoyo, dkk ; editor ; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Jilid III, edisi
IV;Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Jakarta : 2007

Hidayat, Aziz Alimul A. 2007. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 1.


Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 2.


Jakarta: Salemba Medika.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC

Rampengan. T H : Penyakit infeksi Tropis pada Anak ; edisi 2. Jakarta : EGC


2007