Anda di halaman 1dari 8

UJIAN TENGAH SEMESTER

TEORI AKUNTANSI

Fidela Luthfiana

145020307121004
1. Jelaskan dengan luas dan mendalam tentang Decision Usefulness Approach to Financial
Reporting
Pendekatan decision usefulness merupakan penyediaan informasi keuangan historis agar
lebih bermanfaat. Pendekatan ini dalam teori akuntansi mengambil tinjauan bahwa jika kita
tidak dapat menyajikan laporan keuangan secara teoritis benar, sedikitnya kita mecoba untuk
membuat laporan yang berdasarkan pada harga historis yang lebih bermanfaat. Dengan kata
lain, tinjauan dari pendekatan ini memiliki pandangan bahwa ketika menyiapkan laporan
keuangan yang secara teoritis tidak dapat dilakukan secara benar, maka dapat menggunakan
historical cost dalam menyiapkan atau menyusun laporan keuangan supaya menghasilkan
pelaporan yang lebih bermanfaat.
Penerapan pendekatan decision usefulness ini dalam laporan keuangan didasarkan oleh dua
hal yaitu pengguna dan keputusan yang dihadapi oleh pengguna. Berikut penjelasanya:
- Pengguna laporan keuangan
Terdapat banyak pengguna laporan keuangan atau pihak yang berkepentingan dengan
laporan keuangan. Para pengguna atau pemakai laporan keuangan dapat
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu: investor, kreditor, manajer,
karyawan internal, auditor owner, labor union, penyusun standar akuntansi, dan
pemerintah. Kelompok pengguna laporan keuangan tersebut disebut sebagain
konstituen akuntansi atau constituencies of accounting
- Keputusan yang dihadapi oleh pengguna
Akuntan akan menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh pengguna dan
kepada pengguna (konstituen) melalui pelaporan laporan keuangan. Setiap pengguna
memiliki perbedaan preferensi tentang informasi seperti apa yang harus disajikan
dengan memahami persoalan keputusan pengguna tersebut. Dengan memahami apa
saja keputusan yang dihadapi dan kebutuhan spesifik para pemakai laporan keuangan,
akuntan akan lebih mampu menyiapkan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh
pemakai sehingga informasi dapat sesuai dan berguna dalam proses pengambilan
keputusan, dengan begitu laporan keuangan dapat dikatakan bermanfaat.

Decision Perspective Vs Measurement Perspective


Perbedaan preferensi tentang informasi seperti apa yang harus disajikan dapat digambarkan
dalam dua perpektif yaitu:
1. Decision Perspective
The role of financial statement for investor to:
a. Estimate probable future returns (Capital gain & dividends)
b. Choose among alternative investments
c. Assess likelihood of future profits, cash flows
2. Measurement Perspective
The role of financial statement for investor statement as:
a. Performance measurement
b. Resource efficiency measurement
c. Basis for compensation
Reaksi Badan Akuntan Profesional Terhadap Decision Usefullness Approach
FASBs SFAC 1 menjelaskan suatu adaptasi yang penting dari teori keputusan terhadap
laporan keuangan dan pelaporannya. Sedangkan SFAC 2 mengoperasionalkan pendekatan
manfaat keputusan dengan mengembangkan karakteristik dimana informasi akuntansi
seharusnya terkandung didalamnya supaya lebih bermanfaat. Dalam esensinya, informasi
akuntansi seharusnya menyediakan informasi yang berisi mengenai sistem yang
menghubungkan laporan keuangan periode saat ini dengan realisasi dan pelunasan di masa
depan.
Dua karakteristik informatif yang utama ialah relevan dan reliable. Informasi yang relevan
ialah informasi yang memiliki kapasitas untuk mempengaruhi kepercayaan investor mengenai
pengembalian di masa depan dan informasi yang reliable menggambarkan suatu hal yang
pokok untuk diukur (harus tepat dan tidak bias)

2. Jelaskan dengan luas dan mendalam efficient market hypothesis dan bagaimana
keterkaitanya dengan akuntansi
Teori Efficient Market Hypothesis (EMH) menjelaskan bahwa harga saham yang terbentuk
merupakan hasil refleksi dari seluruh informasi yang ada, dari sisi fundamental dan insider
information dan berasal dari masalalu maupun sekarang. Salah satu researcher menyatakan
bahwa investor tidak dapat mengalahkan return pasar secara sistematis dan harga saham adalah
rasional. Yang dimaksud dengan rasional adalah harga saham yang terbentuk merupakan
cerminan dari fundamental, bukan aspek psikologis. Contohnya: harga saham mencerminkan
nilai resiko dan tidak mencerminkan sentiment dari para investor.
Ada 3 bentuk hipotesa dari teori EMH:
a. EMH lemah
Harga saham telah mencerminkan semua informasi masa lalu yang tersedia di pasar seperti
data harga, volume perdagangan, atau short interest. Data perdagangan masa lalu tersebut
telah tersedia dan di pasar dan tidak membutuhkan biaya untuk mendapatkanya. Semua
investor akan berusaha mengambil keuntungan dengan cara membaca pola data dari data
masa lalu apabila data tersebut mengandung sinyal yang dapat dipercaya mengenai hasil
masa depan. Implikasinya adalah semua investor akan mengeksploitasi sinyal tersebut
sehingga sinyal tersebut akan kehilangan nilainya dan akan segera tercermin dalam harga
b. EMH sedang
Semua informasi yang tersedia di pasar termasuk informasi potensi pertumbuhan
perusahaan harus telah tercermin di dalam harga saham sepertu data lini produk, kualitas
manajemen, komposisi laporan keuangan seperti neraca, paten, proyeksi laba, dan
perlakuan akuntansi. Jadi ketika seluruh informasi telah diketahui oleh para investor maka
refleksinya sudah ada pada harga saham
c. EMH kuat
Harga saham telah mencerminkan semua informasi yang relevan bagi perusahaan termasuk
informasi yang hanya tersedia untuk pihak internal perusahaan sehingga walaupun pihak
manajemen dan karyawan perusahaan mempunyai akses untuk mengetahui informasi
sebelum informasi tersebut tersedia di pasar, hal itu tidak memungkinkan mereka untuk
mengambil keuntungan dengan melakukan perdagangan berdasarkan informasi tersebut
karena semua informasi tersebut akan dipublikasikan

Ketika investor mengetahui adanya informasi baru yanga akan mempengaruhi nilai
fundamental saham maka mereka akan cepat bereaksi terhadap informasi tersebut dengan
melakukan bid pada harga tinggi ketika informasi bagus dan melakukan bid pada harga rendah
ketika informasi buruk. Implikasinya adalah harga saham akan selalu mencerminkan semua
informasi yang tersedia secara cepat dan harga saham akan bergerak le level harga sesuai nilai
fundamental yang baru shingga harga saham akan bergerak acak dan tidak dapat diprediksi.
3. Jelaskan dengan luas dan mendalam perpektif pengukuran pada kebermanfaatan
keputusan

Perspektif pengukuran (measurement perspective) terhadap pelaporan keuangan adalah


suatu pendekatan yang menuntut akuntan untuk melaksanakan tanggungjawab memasukkan
nilai wajar terhadap laporan keuangan pokok, dengan reliabilitas yang masih rasional, yang
berarti meningkatnya tanggungjawab akuntan untuk membantu investor dalam memprediksi
kinerja masa depan perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan relevansi laporan
keuangan, tetapi jangan meninggalkan reliabilitasnya dalam rangka membantu investor
mengambil keputusan.
Measurement perspective dapat meningkatkan earnings quality dengan semakin
relevannya informasi akuntansi. Apabila informasi akuntansi semakin relevan, maka reaksi
investor terhadap informasi tersebut akan semakin besar. Namun demikian, measurement
perspective juga dibatasi oleh reliabilitas. Metode fair value yang dapat dimasukkan dalam
laporan keuangan pokok adalah metode yang tidak mengakibatkan menurunnya reliabilitas
laporan keuangan tersebut. Measurement perspective berusaha untuk meningkatkan relevansi
informasi akuntansi. Akuntan mengambil tanggungjawab untuk membantu investor dengan
cara menggunakan pengukuran fair value terhadap laporan keuangan pokok. Akan tetapi,
sesuai dengan SFAC 2 menyatakan bahwa ada dua kualitas informasi pokok, yaitu relevansi
dan reliabilitas, yang harus dijaga keseimbangannya.
Apabila hanya memperhatikan relevansi, maka reliabilitas akan berkurang dan
menyebabkan laporan keuangan tidak bisa diaudit. Akuntan publik yang merupakan ujung
tombak profesi akuntansi tidak lagi bisa berjalan karena laporan keuangan tidak bisa diaudit.
Karena itu, batasan measurement perspective adalah berusaha untuk menggunakan
pengukuran yang berorientasi pada fair value terhadap laporan keuangan pokok asalkan
kualitas reliabilitas laporan keuangan pokok tersebut tidak berkurang.

4. Jelaskan dengan luas dan mendalam konsep asset


Berdasarkan penjelasan dalam FASB, asset didefinisikan sebagai manfaat ekonomis masa
depan yang memungkinkan untuk diperoleh atau dikuasai ataupun dikendalikan oleh suatu
entitas sebagai akibat adanya transaksi atau kejadian pada masa lalu. Definisi tersebut
menginterpretasikan bahwasanya asset merupakan manfaat ekonomis dan bukan sebagai
sumber ekonomis karena manfaat ekonomis tidak memiliki batasan bentuk atau jenis sumber
ekonomis yang dapat dikategorikan sebagai asset.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bawa asset memiliki tiga karateristik yang
harus dipenuhi agar suatu objek dapat dikategorikan sebagai asset.
1. Manfaat Ekonomis
Asset harus memiliki nilai manfaat ekonomis di masa depan yang cukup pasti. Objek yang
dikategorikan sebagai asset harus memiliki daya beli atau daya tukar dengan kas, barang,
atau jasa, sehingga dapat memiliki manfaat atau potensi jasa, sehingga dapat digunakan
untuk memproduksi barang&jasa, dan dapat digunakan juga untuk melunasi kewajibanya.
2. Dikuasai atau dikendalikan entitas
Asset harus dimiliki dan dikendalikan oleh entitas, dimana arti kepemilikan tersebut
diartikan sebagai kepemilikan atas asset secara yuridis atau legal, sedangkan arti
pengendalian atau penguasaan diartikan sebagai sebuah kemampuan entitas untuk
mendapatkan, memelihara, menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomis serta
mencegah pihak lain menggunakan manfaat tersebut. Dengan kata lain entitas memiliki
kuasa penuh dalam mengolah atau melakukan tindakan apapun atas asset tersebut sehingga
dapat menghasilkan manfaat kedepanya.
3. Timbul akibat adanya kejadian atau transaksi pada masa lalu
Kepemilikan atau penguasaan atas suatu asset harus didahului oleh adanya transaksi atau
kejadian ekonomis yang telah terjadi. FASB memberikan kriteria ini dengan alasan bahwa
transaksi atau kejasian ekonomis yang telah terjadi tersebut dapat mempegaruhi jumlah
atau nilai asset. contohnya adalah pembayaran tunai atas penjualan sebelumnya, penjualan
kredit, pembayaran sewa dimuka, dll.

Selain tiga karakteristik yang dijelaskan di atas, FASB juga memberikan beberapa karakteristik
pendukung yaitu:
Melibatkan Cost
Pemerolehan aset akan melibatkan kos atau biaya. Apabila kos timbul akibat perolehan
suatu objek dengan pertukaran maupun pembelian, objek tersebut dapat dikategorikan
sebagai aset walaupunn nilai kos teresbut harus ditaksir secara layak sebagai dasar
pencatatan awal. Esensi utama terletak pada nilai ekonomis yang akan diperoleh dimasa
mendatang.
Berwujud
Wujud bukanlah merupakan kriteria yang baku untuk mengidentifikasi aset. Objek seperti
hak paten, goodwill dan pos-pos tak berwujud lainnya dapat dikategorikan sebagai aset
lancar dan tidak masuk dalam aset tidak berwujud karena objek-objek tersebut memiliki
nilai tersendiri.
Pertukaran
Banyak pendapat yang mengatakan dalam memenuhi definisi sebagai aset, suatu sumber
ekonomis harus dapat ditukarkan dengan sumber ekonomis lainnya. Syarat ini diajukan
untuk melihat seberapa jauh manfaat ekonomi akan menjadi cukup pasti dan terukur
dengan handal apabila suatu aset tersebut memiliki nilai ukur maupun nilai tukar.
Terpisahkan
Syarat dari suatu aset untuk dapat ditukarkan harus dapat dipisahkan ddengan sumber
ekonomis lain atau berdiri sendiri,akan tetapi argument lain menyatakan keterpisahan dan
dan ketertukaran hanyalah merupkan syarat untuk memperoleh manfaat aset. Dengan
argumen diatas FASB tidak memasukkan keterpisahan sebagai kreteria untuk
mendefinisikan aset.
Berkekuatan Hukum
Penguasaan atas aset tidak harus didukung dengan cara yuridis. Klaim atas piutang tidak
harus diidukung oleh dokumen yang mempunyai daya paksa secara hukum untuk
memenuhi definisi aset.

5. Jelaskan dengan luas dan mendalam konsep value relevance

Para pemakai informasi laporan keuangan terutama investor dan kreditor membutuhkan
informasi yang lebih baik dan bermanfaat untuk membantu pengguna dalam melamarkan
prospek perusahaan pada masa yang akan datan dan mengevaluasi kinerja pada saat tertentu
(memiliki value relevance yang baik).
Penelitian mengenai relevance value dirancang untuk menetapkan nilai-nilai akuntansi
terhadap penilaian ekuitas perusahaan. Relevance value merupakan laporan angka-angka
akuntansi yang memiliki suatu model prediksi berkaitan dengan nilai - nilai pasar sekuritas.
Kriteria untuk mengakui transaksi atau peristiwa tertentu dalam laporan keuangan antara lain
( Imam Ghozali,2007):
1. Definisi - Suatu pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi
memenuhi definisi elemen laporan keuangan.
2. Keterukuran - Suatu pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur
jumlahnya dengan reabilitas yang tinggi.
3. Relevansi (Relevance) - Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut
memiliki kemampuan untuk membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil
pemakai laporan keuangan.
4. Reliabilitas (Reliability) - Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaaan yang
digambarkan atau direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya (Verifiable) dan netral.
Dari keterangan diatas, informasi dikatakan relevan apabila informasi tersebut memiliki
manfaat, sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan oleh pemakai laporan keuangan. Atau
dengan kata lain, relevan merupakan kemampuan dari suatu informasi untuk mempengaruhi
keputusan manajer atau pemakai laporan keuangan lainnya sehingga keberadaan informasi
tersebut mampu mengubah atau mendukung harapan mereka tentang hasil-hasil atau
konsekuensi dari tindakan yang diambil.
Menurut Belkoui (2006), relevansi mengacu pada kemampuan informasi untuk
mempengaruhi keputusan manajer dengan mengubah atau mengonfirmasikan ekspektasi
mereka atas hasil atau konsekuensi dari tindakan atau peristiwa. Informasi yang relevan akan
membantu investor, kreditor dan para pengguna yang lain untuk mengevaluasi peristiwa-
peristiwa di masa lalu, masa kini, dan masa depan (nilai prediktif) untuk mengonfirmasi atau
memperbaiki ekspektasi sebelumnya dan sekaligus pada saat yang sama harus disampaikan
pada waktu yang tepat. Agar relevan, informasi harus tersedia untuk para pengambil keputusan
sebelum ia kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.
Value-relevance juga mengandung pengertian mengenai isi yang terkandung di dalamnya (
information content ), yaitu yang memiliki daya muat informasi yang dapat lebih menjelaskan
suatu kondisi perusahaan sebenarnya (Atmini,2002).