Anda di halaman 1dari 40

UNIVERSITAS INDONESIA

PRESTASI AKADEMIS SEKOLAH MISKIN PERDESAAN : STUDI MODAL


SOSIAL

ARTIKEL JURNAL

WARDATUL HASANAH

(1306459543)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
DEPOK
JUNI 2017
UNIVERSITAS INDONESIA

PRESTASI AKADEMIS SEKOLAH MISKIN PERDESAAN : STUDI


MODAL SOSIAL

ARTIKEL JURNAL
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

WARDATUL HASANAH

(1306459543)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
DEPOK
JUNI 2017

i
ii
Universitas Indonesia
iii
Universitas Indonesia
iv
Universitas Indonesia
1
Prestasi Akademis Sekolah Miskin Perdesaan : Studi Modal Sosial

Wardatul Hasanah_ 1306459543

Departemen Sosiologi Universitas Indonesia

Email : wardatulhasanah34@yahoo.com

Abstrak

Artikel ini menjelaskan bagaimana sekolah yang berada pada komunitas


miskin dan mayoritas siswanya berasal dari status sosial ekonomi rendah di
perdesaan dapat memperoleh capaian akademis yang bagus. Belum banyak studi
yang membahas pencapain sekolah miskin dalam bidang akademis. Studi
sebelumnya lebih fokus pada faktor fisik sekolah dan latar belakang ekonomi
keluarga terhadap pencapaian akademis. Artikel ini fokus pada peran modal
sosial dalam pembangunan kualitas siswa melalui sekolah. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sekolah dengan modal sosial yang tinggi akan memperoleh
prestasi akademis yang bagus pada siswanya. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan studi kasus pada dua sekolah dasar di Kecamatan Panti dengan
melakukan perbandingan pada dua sekolah tersebut. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam terhadap pihak sekolah,keluarga dan komunitas. Peneliti
juga menggunakan data pendukung dari hasil penelitian sebelumnya dan studi lain
yang relevan .

Kata kunci : Pencapain Akademis, Sekolah Perdesaan , Modal Sosial, Trust,


Norma, Jaringan

Abstract

This research explain how schools in a poor communities which students


are likely come from a low socioeconomic status in rural areas can achieve a good
academic achievment. Studies that explain about the good echievements of poor
students from rurals is still less. The previous studies are more focusing in a
physical factors of school and the family socio-economic factors. This research
focus on the role of social capital on the increasing student quality through
school. The result of this research is that a school which has a high social capital
will earn a good academic achievements. This research uses qualitative methods,
a study case by comparing two elementary schools in Kecamatan Panti.
Researcher takes primary data by interviewing school, families, and community.
Researcher also uses the supporting data from earlier research and other relevant
studies.

2
Key Words : Academic achievment, Rural School, Social Capital, Trust, Norms,
Network

Pendahuluan

Sekolah di perdesaan cenderung lebih buruk dibanding dengan sekolah di


perkotaan, baik dari segi fisik maupun prestasi siswa (Gamoran dan Mare :
2012 ). Menurut Wachidah (2013) kesenjangan dalam pendidikan antara
perdesaan dan perkotaan sangat terasa seperti kondisi sekolah yang sangat buruk,
fasilitas yang kurang, serta jumlah dan kualitas guru. Isu rural school seringkali
tersingkir dari pembahasan tentang kebijakan pendidikan (Werfhorst dan Mijs :
2010). Kebijakan pendidikan umumnya didesain untuk kelompok dominan yakni
perkotaan serta kelas atas, sehingga sekolah swasta di perdesaan mengalami
permasalahan yang sangat kompleks. Menjadi menarik untuk diteliti bahwa
terdapat sekolah komunitas miskin dengan fasilitas fisik yang buruk memiliki
prestasi yang baik. Sekolah Masjid terminal Depok merupakan sekolah siswa
miskin yang dapat berprestasi.

Terdapat faktor diluar sekedar status sosial ekonomi keluarga yang dapat
mempengaruhi prestasi pada siswa didik. Menjadi menarik untuk diteliti bahwa
sekolah yang terletak di komunitas miskin dan di perdesaan memiliki capaian
akademis baik untuk para siswa didiknya. Hal tersebut dilihat dari nilai ujian
nasioanl, presentase siswa yang melanjutkan ke sekolah menengah serta
partisipasi di perlombaan di tingkat kecamatan dan kabupaten. Bagaimana hal
tersebut bisa terjadi ?. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi?

Beberapa studi sebelumnya menjelaskan tentang sarana fisik sekolah dan


latar belakang ekonomi keluarga yang menjadi faktor utama dalam menentukan
prestasi siswa. Studi Liddle (2008) di Afrika Selatan, Akande (2009) di Nigeria,
Darwin (2011) di Auatralia, Punjab (2010) di India, Chen (2006) di Peru,
menunjukkan bahwa sekolah di perdesaan kemampuan siswanya rendah dalam

3
bidang akademis dan non akademis. Hal ini disebabkan oleh fasilitas fisik sekolah
yang buruk seperti ruang belajar serta alat peraga dan buku yang sangat tidak
memadai (Park dan Keyi 2011). Kelompok studi tersebut menjelaskan bahwa
school factors sangat menentukan educational outcome. Selain fasilitas fisik,
studi dari Bahmand dan Hannum (2011) menunjukkan bahwa di negara
berkembang peran latar belakang keluarga paling signifikan dalam mempengaruhi
capaian akademis siswa, keluarga dengan sumber daya ekonomi yang cukup dapat
menunjang proses belajar anak, sehingga siswa yang berasal dari keluarga dengan
kemampuan ekonomi yang bagus akan lebih memperoleh pencapaian yang bagus.
Studi Wachidah (2011) yang dilakukan di sekolah komunitas nelayan di Sidoarjo
menunjukkan bahwa di sekolah mengajarkan habitus kelas dominan sehingga
kelompok kelas dominanlah yang akan keluar menjadi pemenang. Kemudian
lebih jauh Wachidah (2011) menyimpulkan bahwa meritokrasi hanyalah mitos
belaka. Pandangan dari studi ini memiliki sikap yang pesimis terhadap
pendidikan.

Berbeda dengan studi yang pertama yang memandang pendidikan sebagai


hal yang pesimistik studi selanjutnya lebih bersifat optimistik. Studi selanjutnya
lebih menekankan pada motivasi pada anak sebagai faktor yang menentukan
prestasi siswa di sekolah. Dalam studi Khoirunnisa (2013) yang dilakukan di
Bogor terhadap keluarga dengan status sosial ekonomi rendah menunjukkan
bahwa motivasi yang tinggi, seperti kemauan untuk bekerja keras, penghormatan
terhadap prestasi akademis adalah faktor yang dapat menentukan prestasi siswa di
sekolah.

Studi terdahulu dalam kajian sosiologi pendidikan lebih banyak studi yang
bersifat pesimistik sekalipun ada hanya pada tataran mikro yakni pada level
motivasi siswa yang lebih bersifat psikologis. Studi ini akan melihat pada level
komunitas dalam melihat prestasi akademis di sekolah, studi terdahulu
mengabaikan modal sosial menjadi hal yang berperan penting dalam pencapaian
akademis siswa. Modal tradisional seperti modal ekonomi, fisik dan manusia
hanya menentukan secara parsial dalam proses pencapaian akademis (Kameo
2012). Faktor penentu lainnya adalah modal sosial yaitu bagaimana cara aktor

4
dalam suatu komunitas saling berhubungan dan mengorganisasikan untuk
menghasilkan keluaran yang lebih baik. Studi terdahulu belum banyak yang
membahas prestasi siswa dari kelas bawah perdesaan yang memperoleh capaian
bagus di sekolah. Studi tentang modal sosial sebelumnya banyak digunakan dalam
studi perkembangan sosiologi ekonomi. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam
penelitian ini adalah bagaimana sekolah dengan mayoritas siswanya miskin dan
berada pada komunitas miskin di perdesaan dapat mencapai prestasi akademis
yang bagus pada siswa didiknya.

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa modal sosial dalam


komunitas sekolah menjadi penting dalam mempengaruhi capaian akademis
siswa. Modal sosial dapat meningkatkan atau menurunkan capaian akademis
siswa. Sekolah yang memiliki rasa saling percaya yang tinggi, norma yang
mendukung terhadap nilai-nilai pendidikan, serta jaringan yang luas maka prestasi
pada siswanya akan bagus pula. Sekolah, keluarga dan komunitas menjadi pusat
pendidikan utama bagi anak sehingga keselarasan nilai dan norma sangat
menentukan. Modal sosial tidak hanya terbatas pada komunitas yang kuat namun
juga dapat memberikan manfaat nyata bagi komunitas marginal dan terpinggirkan.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Pendekatan


kualitatif memiliki sifat menggali, berfokus kepada proses, melihat realitas sosial
secara holistik dan mendalam serta melihat makna dibalik sesuatu tindakan dan
fenomena sosial (Neuman, 2006 dan Creswell, 2009). Pendekatan ini paling tepat
digunakan untuk menggali bagaimana sekolah di perdesaan di komunitas miskin
dengan sarana fisik sekolah yang buruk namun prestasi siswanya baik. Selain itu
untuk menggali lebih dalam bagaimana modal sosial di komunitas tersebut
memepengaruhi capaian akademis siswa. Teknik pengumpulan data yang
dilakukan adalah wawancara mendalam dan observasi dengan penentuan
informan menggunakan teknik purposive, yakni penentuan informan dipilih
berdasarkan pengetahuan dan karakteristik yang sesuai dengan tujuan peneliti
(Babbie, 2010).

5
Terdapat dua sekolah yang diteliti yaitu SD Darussalam dan Al Furqon,
pemilihan sekolah tersebut dikarenakan memiliki kesamaan karakteristik sekolah
yakni mayoritas siswanya miskin, serta kualitas infrastruktur sekolah yang buruk
pula. Terdapat perbedaan antara sekolah Darussalam dan Al Furqon dalam hal
prestasi siswa didik SD Darussalam memiliki capaian prestasi pada siswa
didiknya lebih baik dibandingkan SD Al Furqon. Sehingga dilakukan analisis
komparasi terhadap dua sekolah tersebut dengan karakteristik sekolah yang
hampir sama namun memiliki keluaran yang berbeda. Wawancara mendalam
dilakukan kepada pihak sekolah, serta terhadap keluarga siswa, pemerintah daerah
serta masyarakat sekitar masing-masing sekolah. Selain itu wawancara mendalam
juga dilakukan kepada pihak Dinas Pendidikan Kecamatan Panti. Lokasi
penelitian dilakukan di Desa Panti dan Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten
Jember Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini bersifat cross-sectional, dilakukan
pada bulan Desember 2016 sampai April 2017.

Modal Sosial

Banyak definisi tentang modal sosial, setiap ahli sosiologi, ekonomi, dan
politik mendefinisikan modal sosial secara berbeda-beda. Coleman (1988) dalam
sebuah tulisan yang berjudul Social Capital in the creation of Human Capital
mendefinisikan modal sosial sebagai harapan dan kewajiban, jaringan dan
informasi, serta norma sosial, menentukan volume modal kemanusiaan baik
dalam lingkup keluarga maupun komunitas. Sedangkan Fukuyama (1995)
menjelaskan modal sosial sebagai sebuah kemampuan suatu kelompok untuk
memiliki rasa saling percaya (trust), yang dibangun dengan kejujuran, kerjasama
dan kesetiaan. Robert Putnam dalam bukunya Bowling Alone : Americas
Declining Social Capital, bowling alone sebagai metafora bahwa warga Amerika
semakin sedikit kecenderungannya terlibat dalam pertandingan formal dan lebih
memilih bermain bersama teman dan sahabat. Dalam buku tersebut Putnam
menjelasakan bahwa terjadi kemerosotan modal sosial seperti rendahnya
kejujuran dan keterpercayaan pada warganya. Hal tersebut dijelaskan oleh Putnam
disebabkan beberapa faktor. Pertama meningkatnya kesibukan dan tekanan
sehingga menurunnya kontribusi khusunya para perempuan dalam komunitasnya.
Faktor kedua disebebkan oleh pengaruh kota metropolitan yakni karena mobilitas

6
urban dan pertumbuhan berlebih sehingga waktu hanya tersita untuk nongkrong
akibatnya ikatan cenderung terfragmentasi. Faktor ketiga yaitu disebabkan oleh
hiburan elektronik seperti televisi yang membuat masyarakat semakin apatis
dalam kegiatan politik, serta memutuskan hubungan ketetanggan dan pertemanan.
Faktor yang keempat adalah karena perubahan generasi, generasi 1960an lebih
tidak beorientasi pada warga dan lebih individualis. Selanjutnya dalam artikel
Economic Growth and Social Capital in Italia (2000) menunjukkan bahwa
dukungan dari masyarakat serta efektivitas institusi negara meningkatkan
kemakmuran pada Italia Utara yang berbeda dengan Italia Selatan. Modal sosial
seperti tingkat pendidikan, keterbukaan, kepercayaan pada institusi pemerintah
menciptakan kepuasana terhadap institusi negara, sehingga trust terhadap
pemerintah lokal menjadi meningkat. Berdasarkan penelitian di Italia Robert
Putnam, (1993) menjelaskan bahwa modal sosial adalah modal fisik dan modal
manusia yang mengacu pada organisasi sosial dengan jaringan sosial, norma-
norma, dan kepercayaan sosial yang dapat menjembatani terciptanya kerjasama
dalam komunitas sehingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan.
Berdasarkan kerangka Putnam dalam membandingkan modal sosial di Italia Utara
dan Italia Selatan kemudian peneliti menggunakan kerangka berpikir Putnam
untuk membandingkan modal sosial di SD Darusslaam dan SD Al Furqon.

Trust

Putnam (1993) mengemukakan bahwa trust atau perasaan saling


mempercayai merupakan sumber kekuatan modal sosial yang dapat
memepertahankan keberlangsungan perekonomian yang dinamis dan kinerja yang
efektif. Rasa percaya adalah dasar dari perilaku moral dimana modal sosial
dibangun. Moralitas menjadi arahan bagi kerjasama dan koordinasi sosial dari
semua tindakan sehingga masyarakat dapat hidup bersama dan berinteraksi satu
dengan lainnya. Membangun rasa percaya adalah bagian dari proses kasih sayang
yang dibangun sejak awal dalam suatu keluarga. Sepanjang adanya rasa percaya
dalam perilaku dan hubungan kekeluargaan, maka akan terbangun prinsip-prinsip
resiprositas dan pertukaran (Bordieu, 1986; Fukuyama, 1995).

7
Rasa percaya merupakan alat untuk membangun hubungan yang dapat
menekan biaya transaksi, yaitu biaya yang muncul dalam proses pertukaran dan
biaya untuk melakukan kontak, kontrak dan kontrol. Rasa saling percaya juga
dapat menekan biaya pemantauan terhadap perilaku orang lain agar orang tersebut
berperilaku seperti yang diinginkan. Percaya berarti siap menerima risiko dan
ketidakpastian.
Norma

Norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nila-nilai, harapan-harapan


dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang
dalam komunitas. Norma dapat bersumber dari agama, panduan moral maupun
standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma
dibangun dan diterapkan untuk mendukung iklim kerjasama (Putnam, 2002).
Fukuyama (1999), menyatakan modal sosial sebagai norma informal yang bersifat
instan yang dapat mengembangkan kerjasama antar dua atau lebih individu.
Norma yang merupakan modal sosial dapat disusun dari norma resiprositas antar
teman. Norma sosial yang menentukan perilaku bersama dalam suatu kelompok
individu juga dipahami sebagai prinsip keadilan yang mengarahkan pelaku untuk
berperilaku yang tidak mementingkan diri sendiri. Norma juga bersifat resiprokal,
dalam arti isi norma menyangkut hak dan kewajiban kedua belah pihak, yang
dapat menjamin keuntungan yang diperoleh dari suatu kegiatan tertentu.

Jaringan

Coleman (1988), berpendapat bahwa jaringan kerja sosial akan


meningkatkan efisiensi penguatan perilaku kerjasama dalam suatu organisasi.
Menurutnya, modal sosial adalah jumlah dari relational capital yang dimiliki
beberapa individu dan dibangun berdasarkan norma resiprositas. Hubungan sosial
yang terbangun dalam suatu penutupan struktur sosial, tidak hanya penting untuk
membangun norma yang efektif tetapi juga membangun kepercayaan karena
penutupan jaringan kerja (network closure) tersebut menghasilkan eksternalitas
ekonomi positif melalui proses fasilitasi terhadap aksi bersama (collective action).

8
Model Analisis

Modal Sosial
Trust
Leadership Norma Academic Achievment
Jaringan

Sumber : Hasil olahan penulis

Deskripsi

SD Darussalam dan SD Al Furqon merupakan sekolah swasta yang


terletak di Kecamatan Panti Kabupaten Jember. SD Darussalam berada di Desa
Panti sedangkan SD Al Furqon berada di Desa Pakis. SD Al Furqon berdiri
setahun lebih awal dibanding SD Darussalam yaitu tahun 2006. SD Darussalam
terletak sekitar enam kilometer dari SD Al Furqon. Masyarakat sekitar SD
Darussalam berprofesi sebagai buruh tani dan kuli bangunan untuk kaum laki-laki
sedangkan perempuan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Profesi ini memiliki
implikasi terhadap sikap masyarakatnya terhadap pendidikan serta berimplikasi
pula pada tindakan yang mencerminkan sikap tersebut. Profesi sebagai buruh tani
dan kuli bangunan yang merupakan profesi yang tidak pasti membuat masyarakat
memiliki keinginan untuk merubah nasib anaknya agar dapat bekerja di sektor
formal. Pendidikan dipandang sebagai salah satu sarana untuk merealisasikannya.
Hal berbeda dengan masyarakat yang berada di sekitar SD Al Furqon, sekolah ini
berada di lereng gunung yang mayorias masyarakatnya berprofesi sebagai petani
kopi di lahan miring yang mereka sebut sebagai tetelan. Profesi ini menuntut
banyak tenaga sehingga baik laki-laki maupun perempuan ikut bekerja.
Komunitas ini memiliki harapan bahwa anak-anak mereka juga melanjutkan

9
pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan paling ideal ini. Ideal bukan berarti
lantas masyarakatnya menjadi sejahtera. Masyarakat di komunitas ini juga
tergolong miskin hal ini terbukti dari hampir 100 persen siswa SD Al Furqon
mendapatkan bantuan siswa miskin. Kedua sekolah tersebut memiliki kesamaan
yakni sekolah yang berada di komunitas miskin dan mayoritas siswanya dengan
latar belakang status sosial ekonomi rendah pula. Perbedaan dari keduanya adalah
SD Darussalam memiliki prestasi akademis yang bagus pada siswanya sedangkan
SD Al Furqon memiliki prestasi yang sangat rendah, hal ini dilihat dari angka
putus sekolah, kemampuan membaca tulis dll.

Trust di Sekolah, Ketetanggaan dan Komunitas

Trust menjadi komponen penting dalam modal sosial, trust menjadi


perekat bagi suatu kerjasama dan membuat kerjasama menjadi lebih efektif.
Masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi memiliki fleksibilitas yang
tinggi ( Putnam 2010). Kepercayaan berada pada tingkat paling kecil (mikro)
sampai pada tingkat yang paling luas ( makro) dalam hal ini pada level komunitas.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya rasa saling percaya yang tinggi di SD
Darussalam. Rasa saling percaya tersebut mulai dari level mikro yakni pada
keluarga sampai level makro yakni komunitas. Di level mikro adanya saling
percaya antar orang tua siswa serta ketetanggaan. Dari seluruh keluarga informan
percaya menitipkan anaknya untuk belajar bersama dengan keluarga tetangga, hal
ini dikarenakan tidak semua orangtua bisa mengajari anaknya. Selain itu sesuai
dengan penuturan beberapa informan saat mereka tidak bisa mengantar ke sekolah
maka orangtua bisa menitipkan kepada orangtua yang lain tanpa adanya keraguan.
Rasa saling percaya antar orangtua siswa dapat terbentuk karena terdapat tiga hal
yang menjadi penentu. Pertama, adanya hubungan sosial, hubungan sosial ini
terjadi karena faktor perempuan yang tidak bekerja di sektor publik sehingga
memiliki banyak waktu luang untuk berjejaring dengan orang tua siswa yang lain.
Kedua, karena adanya aspirasi atau harapan yang sama, sehingga adanya
kesadaran bahwa memiliki kesamaan nilai dan tujuan dan adanya kesadaran
bahwa mereka saling membutuhkan sehingga menimbulkan mutual trust. Ketiga,
karena adanya beberapa orang tua siswa yang masih terdapat hubungan

10
kekerabatan. Hal tersebut sesuai dengan unsur-unsur trust yang dikemukakan
oleh Kameo (2012) yaitu, hubungan sosial, harapan, serta tindakan sosial. Rasa
saling percaya tersebut tentunya akan mempermudah kerjasama dan
meningkatkan produktivitas, saat terdapat keluarga yang tidak bisa mengajari
anaknya kerena ada rasa saling percaya terhadap ketetanggaan maka anak tersebut
tetap memperoleh pembelajaran tanpa harus mengelurakan biaya seperti
membayar guru les. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bourdiou
(1986) bahwa rasa saling percaya yang tinggi dapat mempermudah kerjasama dan
menekan biaya transaksi. Hal serupa juga dijelaskan dalam penelitian Zulham
(2012) dalam meneliti produktivitas petani di Kabupaten Demak bahwa rasa
saling percaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian, karena petani akan
menjadi lebih mudah untuk saling meminjamkan alat alat pertanian, hal serupa
juga dapat terjadi dalam bidang pendidikan.

Rasa saling percaya yang kedua yaitu memiliki kepercayaan kepada pihak
sekolah SD Darussalam oleh para orangtua siswa, baik kepada guru maupun
kepada pihak yayasan. Rasa percaya kepada sekolah ini terutama kepada pihak
yayasan dikarenakan faktor ketokohan, ketua yayasan SD Darussalam. Ketua
yayasan merupakan seorang tokoh agama di komunitas tersebut, sehingga akan
selalu disegani dan cenderung mengikuti yang diperintahkan. Selain mendirikan
sekolah formal beliau juga memiliki pendidikan informal keagamaan seperti
madrasah dan mengajar mengaji. Berdasarkan penuturan seluruh informan yaitu
orangtua siswa menyebutkan bahwa ketua yayasan menjadi panutan karena
dianggap hidup dalam kesederhanaan. Hal ini terlihat dari bangunan fisik rumah
ketua yayasan yang tergolong buruk dan menolak untuk direnovasi warga. Selain
demikian menurut penuturan beberapa informan ketua yayasan mencontohkan
semangat berjuang dalam pendidikan seperti mewakafkan beberapa tanahnya
untuk membangun pendidikan. Rasa percaya yang tinggi ini terbukti dari SD
Darussalam menjadi satu satunya sekolah di Kecamatan Panti yang dipercaya oleh
orangtua siswa untuk mengelola dana bantuan siswa miskin. Bantuan Siswa
Miskin dikelola untuk keperluan peningkatan prestasi seperti untuk pembelian
buku pelajaran dan alat drum band. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di sekolah
lain para orangtua siswa tidak peracaya kepada sekolah sehingga dana dari BSM

11
dikelola sendiri dan tidak jarang yang kemudian disalah gunakan untuk keperluan
rumah tangga. Hal ini sesuai dengan penuturan Yayasan SA

alhamdulillah, saya sebenarnya tidak ada niatan untuk seperti


itu cuman ada saran dari salah satu guru disini, bagaimana kalau uang
bantuan itu sekolah yang ngelola daripada buat beli beras, seperti itu
ternyata rapat dengan walimurid alhamdulilah semuanya setuju
( wawancara dengan ketua yayasan SA pada 1 April 2017 )

Hal tersebut menjadi sangat unik, bahwa masyarakat dengan kemampuan


ekonomi rendah bersedia mengalokasikan dana bantuan siswa murni untuk
keperluan sekolah. Di Komunitas atau sekolah lain tidak jarang yang digunakan
untuk keperluan rumahtangga karena tuntutan ekonomi. Hal tersebut
menunjukkan adanya rasa percaya yang tinggi terhadap pihak sekolah dan sikap
yang optimis terhadap pendidikan. Rasa percaya ini karena adanya harapan untuk
memperoleh keuntungan yakni pada orangtua memiliki harapan agar anaknya
dapat berprestasi dan sekolah menjadi media mobilitas, sehingga orangtua
bersikap dan bertindak sesuai dengan harapannya. Sedangkan pihak sekolah
memiliki harapan agar sekolahnya menjadi maju dan berkembang dengan
meningkatkan prestasi siswa didiknya sehingga harapan tersebut bersifat bilateral
atau saling mengharapkan (Lawang, 2005).

Hal tersebut juga dikemukakan oleh Beugelsdijk (2009) dari studi empirik
yang dilakukan di Belanda menjelaskan bahwa rasa saling percaya (trust) ada
dalam mempromosikan pertumbuhan dan berperan mengurangi biaya transaksi.
Selain itu studi lain yang dilakukan oleh Sztompka (1999) di Polandia, berbeda
dengan negara Eropa Timur lainnya yang cenderung melakukan dekomunikasi
atau pembersihan pemerintah dari unsur-unsur komunisme. Pemerintah Polandia
justru menunjukkan kemauan politik yang baik dan melupakan pertentangan
ideologi masa lalu. Seluruh lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan
pemikiran dan material tanpa memandang ideologi diajak dan diberi kepercayaan
untuk bersama-sama membangun negara. Dengan dikesampingkannya perbedaan
ideologi maka pemerintah dan masyarakat Polandia lebih berpeluang untuk
berkonsentrasi dalam membangun ekonomi. Kasus Polandia ini memperlihatkan

12
bahwa modal sosial berupa kepercayaan dan jaringan hubungan antara pemerintah
dan seluruh lapisan masyarakat merupakan salah satu kunci utama bagi
kelancaran pelaksanaan pembangunan ekonomi.
Kepercayaan pada level yang lebih luas yaitu pada level komunitas,
walaupun rasa percaya ini tidak setinggi pada pihak sekolah namun pada
penuturan beberapa informan menunjukkan bahwa adanya rasa percaya terhadap
komunitas. Hal ini terjadi karena adanya jaringan sosial sehingga kepercayaan
bukan hanya terjadi ada tingkat keluarga namun pada level komunitas.
Kepercayaan ini seperti pada pemerintah lokal seperti Kepala Desa serta kepada
Ketua Dusun.
Sementara itu pada sekolah Al Furqon terdapat hal yang berbeda yakni
rasa saling percaya yang rendah baik pada level antar orangtua siswa sampai level
komunitas hal ini terjadi karena minimnya hubungan sosial antar keluarga siswa,
pihak sekolah maupun dengan komunitas. Minimnya hubungan sosial ini
khususnya ke pihak sekolah dikarenakan minimnya aspirasi pendidikan dari
keluarga terhadap sekolah, hal ini tidak terlepas dari sikap keluarga yang melihat
pendidikan bukan sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupan, namun hanya
sebagai ritual saja. Akan tetapi walaupun demikian masyarakat di komunitas ini
tetap mewajibkan anaknya untuk sekolah namun menurut penuturan seluruh
informan hanya untuk ibadah dan menunggu agar anak dapat bekerja bersama
orang tua di pekebunan kopi.

Perbedaan karakterisktik wilayah secara geografis ini yang membuat


tingkat kepercayaan menjadi berbeda antara sekolah Darussalam dan Al Furqon,
Al Furqon berada di dataran tinggi daerah perkebunan sehingga membuat
masyarakatnya bekerja sebagai petani kopi yang mengharuskan masyarakatnya
bekerja seharian termasuk para perempuan. Sehingga para orangtua siswa tidak
punya kesempatan untuk berinteraksi dengan pihak sekolah atau dengan orangtua
siswa yang lain. Jaringan tidak terbentuk sehingga trust atau kepercayaan juga
sulit untuk dibentuk. Pekerjaan sebagai petani serta buruh kopi menyita waktu dan
tenaga masyarakat, sehingga tidak adanya kesempatan untuk beraktifitas diluar
pekerjaan mereka selain petani kopi. Sedangkan SD Darussalam terletak sedikit
dibawah SD Al Furqon (dataran rendah) yang para perempuannya kebanyakan

13
tidak bekerja dan para laki-laki bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan.
Faktor perempuan yang tidak bekerja ini memanfaatkan untuk berjejaring di
sekolah sehingga menciptakan modal sosial yang tinggi yang mengasilkan
keluaran berupa capaian akadmeis yang bagus pula. Dari penjelasan tersebut
menunjukkan bahwa tidak dapat dipungkiri faktor perbedaan geografis dapat
mempengaruhi tingkat modal sosial pada komunitasnya. Karena tanpa
mengetahui dan memahami latar historis dinamika perkembangan komunitas
secara utuh, keberadaan dan peran modal sosialnya juga tidak akan bisa dipahami
secara utuh, apapun kecenderungannya, misalnya apakah modal sosial menjadi
semakin kuat, atau semakin lemah seperti di SD Al Furqon. Dengan kata lain,
rekonstruksi keberadaan dan peran modal sosial sangat bergantung pada
konteksnya.

Selain faktor tersebut faktor lain yang menyebakan rendahnya


kepercayaan orangtua siswa terhadap sekolah adalah karena adanya sikap apatis
dari orangtua siswa terhadap perkembangan pendidikan anak. Fokus dari orangtua
hanya permasalahan ekonomi. Sehingga diluar hal tersebut dianggap menjadi hal
yang biasa. Tidak hadirnya orangtua saat penerimaan rapot anak sehingga dalam
tiga tahun terkahir menurut penuturan beberapa guru di SD Al Furqon raport
diberikan langsung kepada siswa. Pertemuan dengan orangtua jarang sekali
dilakukan. Pertemuan hanya terjadi saat siswa mendapatkan batuan siswa miskin
dari pemerintah dan orang tua siswa mempertanyakan kepada sekolah mengenai
hal tersebut berbeda dengan apa yang terjadi di sekolah Darussalam yang
dipercaya orangtua siswa untuk mengelola untuk keperluan sekolah, di SD Al
Furqon orangtua tidak percaya kepada sekolah sehingga dana BSM tersebut
dikelola oleh orangtua dan tidak sedikit dari pengakuan keluarga informan yang
digunakan untuk keperluan rumah tangga. Rasa tidak percaya kepada sekolah ini
menurut penuturan seluruh informan yakni orangtua siswa karena adanya isu
bahwa ketua yayasan dianggap korupsi terhadap uang sekolah dan bekerjasama
dengan beberapa partai politik untuk mendapatkan dana dan digunakan untuk
keperluan pribadi. Rasa tidak percaya ini muncul karena tidak adanya hubungan
sosial antar orangtua siswa dengan sekolah sehingga kebenaran informasi menjadi
simpang siur.

14
Rendahnya trust pada kumunitas SD AL Furqon ini terjadi setidaknya
karen tiga faktor. Pertama hubungan sosial sangat rendah baik antar orangtua
siswa, orang tua siswa dengan sekolah sehingga trust akan sulit terbentuk. Dalam
penuturan beberapa informan mengaku tidak saling mengenal baik sesama
orangtua maupun dengan guru. Dalam penelitian Rambe (2010) menyebutkan
bahwa saling mengenal merupakan sebagai tahap awal dalam hubungan sosial
dan menjadi sebagai pelumas dalam hubungan sosial. Unsur yang kedua yaitu
aspirasi atau harapan, harapan pada yang dimiliki oleh komunitas ini adalah hanya
berhubungan dengan ekonomi yaitu permasalahan lahan kopi mereka, sehingga
pendidikan bukan merupakan aspirasi mereka dan cenderung apatis. Unsur ketiga
yaitu tindakan sosial, tindakan merupakan unsur paling sulit untuk terjadi di
komunitas ini tindakan hanya akan terejadi apabila stakeholder dalam komunitas
saling mengenal dan memiliki harapan dalam hubungan sosial. Contoh dari
tindakan ini adalah saling membantu, saling meminjamkan dll.

Rasa saling percaya yang sangat berbeda tersebut menyebabkan keluaran


yeng berbeda pula pada prestasi akademis sekolah dimana prestasi siswa di SD
Darusslaam lebih baik dibandingkan dengan SD Al Furqon dilihat dari hasil nilai
ujian nasional rata rata sekolah SD Darusslaam lebih tinggi dibandingkan AL
Furqon, presentase yang melanjutkan ke sokolah menengah SD Darussalam pada
tahun 2016 80% melanjutkan ke SMP sedangkan dari SD Al Furqon pada tahun
yang sama hanya 10% dari 20 siswa. Prestasi yang lain juga dilihat dari
partisipasi di acara kecamatan seperti perlombaan, menurut penuturan Ketua
Dinas Pendidikan Kecamatan Panti SD Al Furqon sering mendapatkan teguran
dari Dinas Pendidikan kecamatan karena sering tidak mengikutsertakan siswanya.

Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian Zulham (2012) di Demak,


Handoyo (2013) di Semarang yang menunjukkan bahwa rasa saling percaya yang
tinggi mendorong produktivitas serta kemajuan masyaraktanya baik dalam hal
ekonomi maupun permasalahan yang lain seperti pendidikan.

15
Tabel 1. Perbandingan Trust SD Darussalam dan Al Furqon

Trust

SD Darussalam Terdapat trust yang tinggi pada hubungan


ketetangaan ( antar orang tua siswa), kerabat,
sekolah sampai pada level komunitas
SD Al Furqon Trust yang rendah dengan ketetanggan
( pendidikan)

Tidak terdapat trust terhadap sekolah

Tidak terdapat trust terhadap orang tua siswa


yang lain.

Sumber : Hasil olahan


penulis

Norma Resiprositas di Sekolah, Keluarga dan Komunitas

Norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nila-nilai, harapan-harapan


dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang
dalam komunitas. Norma-norma dibangun dan diterapkan untuk mendukung iklim
kerja sama (Putnam, 2002). Norma-norma merupakan prakondisi maupun produk
dari kepercayaan sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SD
Darussalam terdapat norma- norma yang yang resiprokal antar sekolah, keluarga
dan komunitas. Artinya bahwa norma yang ada di sekolah, komunitas dan
keluarga merupakan norma yang sinergis dan tidak saling bertolak belakang.
Adanya norma yang mendukung pendidikan di keluarga dan komunitas seperti
penghargaan terhadap prestasi akademis, motivasi yang tinggi baik di keluarga
maupun komunitas. Di sekolah terdapat norma untuk berprestasi, kerja keras serta
sikap optimis terhadap pendidikan. Norma tersebut terbentuk di sekolah dan
disosialisasikan kemudian disepakati oleh warga sekolah dengan bertindak sesuai
dengan norma tersebut.

Norma dijadikan pedoman bagi warga sekolah selain itu juga untuk
dijadikan sebagai alat untuk mengurangi ketidakpastian dalam melakukan

16
pertukaran (Kameo dkk 2012). Norma menjadi jaminan dalam pertukaran dalam
kelompok, karena norma juga berfungsi sebagai pengendalian sosial atau sebagai
pengawasan terhadap tingkah laku. Norma tersebut kemudian dijadikan sebagai
pedoman untuk bertindak sehingga siswa, guru, kepala sekolah, orangtua
bertindak sesuai norma tersebut untuk mencapai harapaanya. Tentunya sekolah
bisa merealisasikan visi misi karena sekolah mendapat dukungan dari keluarga
siswa, maupun dari komunkitasnya. Upaya gigih yang dilakukan oleh siswa dan
guru di sekolah didukung pula dengan keluarga yang memiliki semangat yang
sama tentang pendidikan anak. Keluarga akan melanjutkan apa yang telah
diajarkan oleh guru di sekolah. Sekolah bukan satu satunya pusat pendidikan,
keluarga dan komunitas merupakan dua pusat pendidikan yang turut menentukan
prestasi anak. Siswa yang berasal dari keluarga dan tinggal di komunitas yang
mendukung suasana belajar yang kondusif tentunya akan berbeda dengan siswa
yang berasal dari keuarga yang abai terhadap pendidikan.

Berdasarkan wawancara mendalam yang dilakukan dengan beberapa


keluarga menyatakan bahwa adanya apresiasi terhadap pencapaian akademis anak
menunjukkan bahwa adanya norma yang resiprokal antara sekolah dan keluarga.
Penciptaan suasana kondusif belajar merupakan sebuah bentuk dukungan belajar
terhadap anak. Selain dalam keluarga norma pendidikan juga terdapat di
komunitas sebagai bukti bahwa adanya kesinergisan norma di skeolah, keluarga
dan komunitas. Adanya teguran dari pemerintah lokal saat etrdapat anak putus
sekolah dan apresiasi diberikan kepada yang berprestasi. Selain itu terdapat
program mengurangi kenakalan remaja seperti penggunaan minumamn keras.
Kemudian pendidik an baik formal maupun informal dlihat sebagai media yang
tepat untuk menanggulangi. Hal tersebut tentunya menjadi sejalan antara norma
yang ada di sekolah, keluarga serta norma di level komunitas sehingga dengan
keselarasan norma tersebut tentunya akan lebih mudah untuk menyelesaikan
permasalahan atau untuk mencapai harapan bersama. Keselarasan tersebut
tentunya tidak akan terjadi jika adanya hubungan sosial dan trust dalam
kelompok, keselasaran ini terjadi karena adanya interaksi yang sering baik antar
orangtua siswa maupun dengan pihak sekolah sehingga akan terjadi pemahaman
yang sama tentang pendidikan pada kelompok. Dukungan dalam bentuk yang lain

17
juga diperoleh dari komunitas yaitu seperti dari Kepala Dusun, RT dan RW yang
turut hadir dalam rapat di sekolah, mengontrol perilaku siswa seperti menegur
siswa yang berkeliaran saat jam sekolah.

Selain norma di sekolah komunitas juga memiliki norma yakni gotong


royong. Hal ini terlihat dari pembangunan gedung sekolah yang diprakarsai oleh
perempuan yakni orangtua siswa. Para orangtua siswa mengajukan kepada Kepala
Desa melalui Ketua RT untuk mengalokasikan dana PNPM Mandiri untuk
pembangunan gedung sekolah. Hal ini tentunya tidak akan terjadi apabila
keluarga, serta masyarakat luas tidak memiliki aspirasi yang sama yaitu
mengutamakan pendidikan. Sangat jarang dana PNPM Perdesaan yang
dialokasikan untuk pembangunan sekolah karena orientasi masyarakat perdesaan
umumnya adalah untuk perbaikan jalan atau rumah ibadah apalagi dalam konteks
komunitas miskin. Selain itu sangat jarang terjadi adanya pembangunna yang
bersifat murni buttom up seperti yang dilakukan oleh orang tua siswa SD
Darussalam karena biasanya masyarakat bersifat apatis terhadap pembangunan
dan cenderung setuju dengan yang dilakukan oleh pemerintah lokal. Tidak
adanya penolakan dari komunitas tersebut walaupun sebenarnya tidak semua
mendapatkan manfaat dengan dialokasikannya dan PNPM untuk pembangunan
gedung sekolah. Hal ini menjadi poin penting bahwa sekolah, keluarga serta
komunitas memiliki keselarasan nilai atau norma yakni pengutamaan
pembangunna pendidikan dibandingkan infrastruktur yang lain. Menurut
penuturan kepala desa terdapat dua pilihan yaitu untuk membangun saluran air
atau sekolah namun masyarakat menyetujui untuk pembangunna sekolah dan
menunda pembangunan saluran air yang sebenarnya lebih vital. Hal ini
menunjukkan adanya sikap optimis dari komunitas terhadap pendidikan hal ini
tidak terlepas dari adanya harapan baru yang selama ini belum benar-benar
diyakini yakni terdapat warga mereka yang berhasil memasuki pekerjaan sektor
formal dengan kualifikasi lulusan sekolah kejuruan. Fenomena tersebut
memberikan harapan baru bagi masyarakat tersebut bahwa pendidikan benar -
benar dapat menjadi alat mobilitas secara konkret.

Hal yang sangat menarik lainnya adalah prakarsa untuk membangun


sekolah ini oleh orangtua siswa awalnya tidak diketahui oleh pihak yayasan

18
Darussalam. Hal tersebut membuktikan bahwa pembangunan ini benar-benar
terjadi secara buttom up. Masyarakat memiliki kesadaran yang sangat tinggi
terhadap pembangunan manusia melalui pendidikan. Tidak hanya berhenti disitu
bahwa dalam proses pembangunan gedung sekolah para orangtua siswa
membangun bersama-sama dan menekan biaya pembangunan seperti biaya
tukang, konsumsi karena dilakukan sendiri oleh orangtua siswa SD Darussalam
dan masyarakat sekitar.

Partisipasi warga dalam upaya peningkatan sarana kolektif menurut


Mikkelsen dalam Ulinnuha (2012), disebut sebagai alat untuk pengembangan diri
pada masyarakat sekaligus sebagi tujuan akhir. Partisipasi menghasilkan
pemberdayaan karena setiap orang diberikan andil dan dapat mengungkapkan ide
dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu dalam jaringan sosial, partisipasi
menjadi hal yang penting karena kerjasama yang ada dalam komunitas dapat
terjadi karena adanya partisipasi individu-individu. Maka dari itu modal sosial
tidak hanya sekedar memberikan manfaat pada peningkatan prestasi akademis
siswa namun juga bermanfaat untuk peningkatan kemampuan masyarakat secara
luas, seperti peningkatan solidaritas pada warga.
Norma yang terdapat di sekolah Al Furqon adalah berakhlak, dan
berprestasi. Norma ini berdasarkan visi dan misi sekolah serta sesuai dengan
wawancara mendalam dengan beberapa guru. Norma tersebut menjadi sulit untuk
dicapai karena penuturan beberapa guru tidak mendapat bantuan dari rumah,
orangtua siswa tidak membantu anakanya untuk belajar atau mengontrol belajar
saat dirumah sehingga terdapat beberapa siswa kelas 4 SD yang belum bisa
membaca tulis. Terdapat perbedaan norma antara norma disekolah, keluarga dan
komunitas sehingga ketidaksinergisan ini yang menyebabkan norma disekolah
tersebut sulit untuk dicapai. Sekolah memiliki norma untuk berprestasi, sedangkan
keluarga dan komunitas tidak terlalu mementingkan prestasi yang menjadi
keharusan adalah kewajiban menuntut ilmu dan tidak harus berprestasi, seluruh
keluarga informan menyebutkan bahwa yang terpenting adalah anaknya dapat
sekolah dan mengaji tidak ada harapan untuk melakukan mobilitas sosial. Sekolah
hanya dijadikan sebagai tempat mempersiapkan anak anak mereka untuk siap
bekerja bersama orangtua di perkebunan kopi. Apabila terdapat siswa yang telah

19
dianggap mampu untuk bekerja sebelum lulus sekolah maka menjadi hal biasa
untuk putus sekolah. Begitu pula dengan komunitas karena daerah tersebut
dikenal dengan daerah perkebunan kopi yang masyarakatnya 80% menurut ketua
RT adalah petani kopi sedangkan sisanya adalah TKI di luar negeri. Masyarakat
sulit untuk memiliki harapan yang lain selain anak anak mereka dapat sekolah dan
mengaji umumnya sampai tingkat dasar dan kemudian ikut orangtua bekerja
sebagai petani kopi. Kebanggaan akan kepemilikan tanah di lereng gunung
merupakan salah satu penyebab komunitas tersebut enggan untuk bekerja di
sektor lain dan mengaharuskan anak anak mereka untuk melanjutkan pekerjaan
mereka. Pendidikan formal bukan menjadi hal yang utama dan tidak dipandang
sebagai sarana mobilitas sehingga tidak ada penghargaan yang bagus untuk
mereka yang berprestasi. Fokus keluarga adalah isu ekonomi sehingga
pendidikan merupakan sebuah ritual saja. Tidak adanya norma yang resiprokal ini
membuat masyarakat sulit untuk melakukan perubahan secara kolektif karena
masyarakat memiliki kesadaran yang berbeda-beda dan saling berkebalikan.

Dalam penelitian Hannum dan Buhman (2001), menjelaskan bahwa peran


keluarga, seperti sikap keluarga terhadap pendidikan, sangat menentukan dalam
educational outcome, sikap keluarga menentukan pengambilan keputusan dalam
pendidikan anak, alokasi sumberdaya untuk pendidikan, pendampingan belajar
anak yang secara langsung menentukan prestasi siswa disekolah. Hal ini terjadi
khusunya di negara berkembang keluarga memegang peranan sangat penting
dalam pencapaian akademik siswa didik. Selain itu dalam penelitian Rambe
(2010) yang dilakukan di Sumatera bahwa dalam penelitian tersebut prestasi
siswa yang bagus disebabkan oleh dukungan sosial dari komunitas tempat siswa
berada seperti dari teman, orangtua, guru dan sebagainya. Saat dukungan dari
keluarga dan komunitas minim maka menjadi tidak heran bahwa prestasi
akademik siswa di sekolah menjadi rendah.

Tabel 11 : Perbandingan Norma SD Darussalam dan SD Al Furqon

Norma

SD Darussalam Sekolah : Berprestasi, bekerja keras

20
Keluarga : Berprestasi

Komunitas : Bermartabat
SD Al Furqon Sekolah : Berprestasi

Keluarga : Bekerja keras (ekonomi tradisional)

Komunitas : Tertutup pada perubahan

Sumber : Hasil olahan penulis

Jaringan Sebagai Akses terhadap Sumberdaya

Jaringan menjadi hal yang penting, karena setidaknya jaringan memiliki


tiga fungsi yakni fungsi informasi, fungsi akses dan fungsi koordinasi (Putnam
2000). Jaringan sosial terjadi berkat adanya keterkaitan antara individu dan
komunitas. Keterkaitan tersebut terdapat dalam beragam tipe kelompok pada
tingkat lokal maupun di tingkat lebih tinggi.
Fungsi informasi dari jaringan memungkinkan setiap stakeholder dalam
jaringan itu dapat mengetahui dan memperoleh informasi yang berkaitan dengan
penyelesaian masalah serta peluang mengenai peningkatan atau kemajuan
kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SD Darussalam terdapat
fungsi informasi dari jaringan. Dalam menangani masalah buruknya bangunan
fisik sekolah orangtua siswa khususnya perempuan memanfaatkan jaringan yang
dimiliki. Pembangunan gedung sekolah melalui PNPM merupakan salah satu
bukti dari fungsi informasi jaringan. Pembangunan tersebut dapat terjadi karena
salah satu orangtua siswa bersahabat baik dengan istri Kepala Desa sehingga
mendapatkan informasi PNPM. Sekedar informasi tentunya tidak cukup untuk
memberikan perubahan. Pembangunan PNPM tereasilasi karena perkumpulan
orangtua siswa mengajukan bersama-sama kepada Kepala Desa untuk
mengalokaiskan dana PNPM untuk pembangunan sekolah. Jaringan dalam
komunitas yang baik merupakan sebuah kekuatan yaitu munculnya solidaritas
kelompok, perasaan menjadi satu, serta adanya perasaan bersahabat yang hal
tersebut kemudian disebut sebagi bonding social capital menurut Putnam ( 2000).

21
Jaringan tersebut muncul akibat adanya kesadaran bahwa individu adalah
bagian dari kelompok, kesadaran bahwa pengetahuan dan ide perorangan sulit
untuk memberikan manfaat yang signifikan. Faktor yang kedua yakni karena
adanya kerjasama yang timbul karena individu memiliki orientasi terhadap
kelompoknya. Jaringan yang dalam melibatkan warga dalam pengembangan
organisasi akan menciptakan satuan organisasi lokal yang erat dan meningkatkan
kemampuan warga kolektif dalam mengalihkan kepentingan saya menjadi
kita sehingga terbangunlah kekompakan atau solidaritas warga dalam
komunitas lokal. Keterlibatan warga dalam pembangunan gedung sekolah
merupakan bentuk solidaritas dalam komunitas lokal, sehingga warga
mengesampingkan kepentingan pribadi untuk pembangunan sekolah. Jaringan
yang kuat antar orang tua siswa ini semakin terjaga dan bertahan lama
dikarenakan adanya ikatan yang mempererat dan seperti diadakannya kelompok
arisan antara orangtua siswa.
Dari penjelasan diatas menunjukkan bahwa di SD Darussalam terdapat
empat hal yang menjadi kunci keberhasilan. Pertama adanya organisasi atau
perkumpulan yang menjadi wadah bagi stakeholder untuk membicarakan hal yang
dianggap kepentingan bersama. Kedua, diikutsertakannya semua pihak, orangtua,
pemerintah lokal, kepala sekolah untuk dilibatkan dalam pembicaraan yang
merupakan kepentingan bersama. Ketiga, adanya peran dan partisipasi aktif dari
semua pihak yang terlibat. Keempat, keikutsertaan dalam kegiatan merupakan
kesadaran dari diri sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Kelima, setiap
stakeholder berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

SD Darussalam memiliki jaringan yang kuat dalam satu komunitas namun


tidak pada jaringan diluar komunitasnya sehingga keterbatasan sumberdaya
mereka hanya bisa diselesaikan secara internal. Kurangnya jaringan ini tidak
terlepas dari faktor sikap ketua yayasan yang tidak mementingkan jaringan dan
cenderung percaya pada usaha kelompoknya. Hal inilah yang membuat bangunan
fisik sekolah tetap buruk karena bantuan pembangunan gedung umumnya berasal
dari luar seperti dari atau partai politik tertentu yang tentunya memerlukan
jaringan yang luas.

22
Berbeda dengan SD Darussalam yang memiliki jaringan yang bagus ke
dalam komunitas ( bonding social capital), SD Al Furqon memiliki jaringan yang
bagus dengan komunitas luar (linking social capital) yaitu DPRD kabupaten,
serta DPR Pusat. Jaringan eksternal yang bagus tersebut tidak terjadi dalam
internal komunitas. Rendahnya trust masyarakat sekitar terhadap yayasan SD Al
Furqon tentunya tidak terlepas dari jaringan yang lemah ini. Lemahnya ikatan
sosial atau jaringan di internal terjadi akibat minimnya hubungan sosial.
Hubungan sosial yang minim ini terlihat dari tidak saling mengenal antara
orangtua siswa, selain itu orangtua siswa mengaku tidak mengenal dengan pihak
sekolah hal ini terjadi tidak terlepas dari minimnya wadah bagi seluruh
stakeholder misalnya seperti tidak adanya perkumpulan atau pertemuan antar
orangtua dan sekolah serta dengan pemerintah lokal. Jaringan untuk kerjasama
tentunya akan sulit terbangun jika masing-masing pihak bahkan tidak saling
mengenal. Kerjasma akan terjadi apabila adanya jaringan yang bagus serta adanya
trust dalam jaringan tersebut, saling mengenal adalah tahap awal dari modal
sosial.

Selain faktor hubungan sosial lemahnya jaringan terjadi karena tidak


adanya norma yang sama. Ketidaksinergisan norma keluarga dan sekolah
menciptakan harapan yang berbeda sehingga jaringanpun sulit terjadi. Selain itu
juga tidak terlepas dari sikap apatis keluarga terhadap pendidikan. Keluarga
maupun komunitas memandang pendidikan hanya sebagai ritual dan menunggu
mempersiapkan anak mereka masuk dalam pertanian kopi yang dianggap sebagai
kewajiban meneruskan pertanian keluarga. Komunitas ini sama sekali tidak
melihat pendidikan sebagai alat mobilitas sosial hal ini tidak terlepas dari tidak
adanya keinginan dari komunitas untuk melakukan mobilitas. Pekerjaan sebagai
petani kopi dianggap sebagai pekerjaan yang ideal walaupun adanya kesadaran
pada diri mereka bahwa pekerjaan tersebut tidak terlalu mensejahterakan. Hal ini
menjadi sangat unik bahwa tedapat komunitas yang memiliki pola fikir yang
masih tradisional yakni pola pikir yang terisolasi sehingga akan sulit keluar dari
lingkaran kemiskinan. Dengan kondisi pola pikir masyarakat yang demikian
lantas menjadi sulit untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.

23
Jaringan yang luas antara ketua Yayasan dengan pihak luar memberikan
fungsi akses untuk sekolah seperti pembangunan gedung fisik sekolah. Secara
fisik, SD Al Furqon lebih baik dibandingkan dengan SD Darussalam hal ini terjadi
karena jaringan yang luas ini membuat SD Al Furqon sering mendapatkan
bantuan dana untuk renovasi gedung kelas. Menurut penuturan ketua yayasan SD
Al Furqon mengatakan sering mendapatkan bantuan dari DPR RI maupun DPRD.
Jaringan ini diperoleh dari salah satu anggota keluarga yayasan mengenal baik
anggota DPRD Kabupaten. Jika merujuk pada Robert Putnam terdapat fungsi
akses yang sangat terasa yakni dalam proses penyelesaian masalah yang tidak
dapat diselesaikan internal kelompok maka akan mendapatkan bantuan barang dan
jasa dari pihak lain. Namun kualitas bangunan fisik ini tidak lantas signifikan
dalam mempengaruhi prestasi siswanya. Hal ini terjadi karena SD Al Furqon tidak
memenuhi dimensi modal sosial yang lain seperti norma, trust, serta lemah nya
bonding social capital. Lebih jauh Putnam (2000) menyimpulkan bahwa dalam
pembangunan manusia yang terpenting bukan bangunan fisiknya namun jaringan
orang-orang yang ada didalamnya.

Tabel 111 : Perbandingan Jaringan SD Darussalam dan SD Al Furqon

Jaringan

SD Darussalam Adanya jaringan internal yang sangat kuat (


bonding social capital )

Lemahnya jaringan eksternal


SD Al Furqon Lemahnya jaringan internal

Terdapat jaringan yang luas dengan pihak


eksternal ( bridging social capital )

Sumber : Hasil olahan


penulis

Indikator Trust , Norma dan Jaringan

24
Selanjutnya dalam proses menganalisa temuan data untuk menggambarkan
trust, norma dan jaringan di SD Al Furqon dan SD Darussalam, peneliti melakukan
pemaknaan teori modal sosial Robert Putnam terhadap temuan data dilapangan. Pada
akhirnya menetapkan suatu bentuk ukuran terhadap data, seperti berikut :

Unsur modal sosial SD Darussalam SD Al Furqon


Trust + -
Norma + -
Bonding + -
social
Jaringan
capital
Linking _ +
social
capital

Keterangan

+ : Ketika hubungan dalam anggota ketetanggan dan antar orangtua siswa sangat
cair dan adanya saling percaya (mutual trust) antar orangtua siswa dilihat dari,
pertama orangtua percaya menitipkan anak untuk belajar dengan tetangga, kedua
percaya menitipkan anak disekolah kepada orangtua siswa yang lain. Kemudian
trust kepada pihak sekolah percaya kepada sekolah untuk mengelola BSM.
Percaya terhadap sosialiasi yang diberikan oleh sekolah tentang pentingnya
pendidikan

- : Ketika antar orangtua siswa tidak ada rasa saling percaya, karena tidak saling
mengenal. Minimnya hubungan sosial baik antar orangtua siswa maupun dengan
pihak sekolah. Selain itu adanya kecurigaan terhadap pihak sekolah adanya
indikasi korupsi dana BSM.

+ : Adanya keselarasan norma antara keluarga, sekolah dan komunitas (


resiprosity of norms ).

25
Sekolah, keluarga dan komunitas memiliki norma yang sinergis terhadap norma
pendidikan. Adanya apresiasi terhadap prestasi akademis baik di keluarga sekolah
dan komunitas.

- : Norma yang tidak saling mendukung antara norma di sekolah, keluarga dan
komunitas. Keluarga memiliki norma pengutamaan terhadap ekonomi, tidak
melihat pendidikan sebagai hal yang penting. Tidak adanya keselarasan norma.

+ : Adanya perkumpulan orangtua siswa di sekolah, adanya rapat rutin antar


sekolah, orangtua dan pemerintah lokal. Adanya partisipasi aktif dari dari setiap
stakeholder. Terdapat kelompok arisan orang tua siswa.

- : Minimnya kerjasama dengan pihak eksternal, kurangnya informasi mengenai


jaringan eksternal

+ : Banyaknya kerjasma dengan pihak eksternal ( DPRD dan DPR RI ), tiga kali
memperoleh bantuan dana pembangunan dari DPRD dan DPR RI.

- : Minimnya hubungan sosial dengan masyarakat sekitar dan orangtua siswa.


Minimnya koordinasi dengan orang tua siswa dan pemerintahy lokal. Minimnya
melibatkan orang tua siswa dalam pengambilan keputusan terkalit kepentingan
bersama ( koordinasi dana BSM ).

Hubungan Trust, Norma dan Jaringan

Setiap unsur dalam modal sosial tentunya tidak dapat berdiri sendiri,
melainkan saling mempengaruhi dan berjalan beriringan. Setidaknya terdapat tiga
bukti bahwa setiap unsur didalamnya saling berkaitan. Pertama, adanya jaringan
sosial memungkinkan adanya koordinasi dan komunikasi yang dapat
menumbuhkan rasa saling percaya di antara sesama anggota masyarakat. Trust
tentunya akan sulit terbentuk
Trust apabila tidak ada hubungan sosial dalam komunitas.
Trust antara SD Al Furqon dengan orang tua siswa menjadi nihil karena minimnya
koordinasi antar keduanya. Kedua, kepercayaan (trust) memiliki implikasi positif
dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dibuktikan dengan suatu kenyataan

26

Jaringan
bagaimana keterkaitan orang-orang yang memiliki rasa saling percaya (mutual
trust) dalam suatu jaringan sosial memperkuat norma-norma mengenai keharusan
untuk saling membantu. Keyakinan mengenai pentingnya pendidikan pada orang
tua siswa lantas tidak akan terjadi apabila tidak adanya trust pada pihak sekolah
oleh orang tua siswa, karena sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan
diperoleh dari sekolah. Ketiga berbagai keberhasilan yang dicapai melalui
kerjasama pada waktu sebelumnya dalam jaringan ini akan mendorong bagi
keberlangsungan kerjasama pada waktu selanjutnya. Bukti empiris bahwa terdapat
siswa yang dapat memasuki sektor formal merupakan sebuah keberhasilan dari
suatu jaringan yang memperkuat kerjasama dalam jaringan tersebut.
.

Trust

Jaringan Norma

Sumber : Hasil olahan penulis

Berdasarkan penjelasan diatas menunjukan bahwa tindakan yang


dilakukan oleh orang tua siswa, pihak sekolah merupakan sebuah tindakan
kolektif yang didasarkan pada norma secara kolektif pula. Pun demikian setiap
individu memiliki makna subjektif dari tindakan sosial yang dilakukan. Orang tua
siswa di SD Darussalam melakukan tindakan mengantar anak kesekolah,
mengorganisir pembangunan sekolah merupakan sebuah tindakan yang
berdasarkan rasionalitas yaitu sebuah investasi pada anak-anak mereka dengan

27
harapan adanya mobilitas sosial. Hal tersebut yang kemudian disebut Weber
sebagai rasional- instrumental ( zweckrational ), yaitu tindakan yang dilandasi
oleh rasionalitas sang aktor demi mencapai tujuan tertentu ( Ritzer 2012). Berbeda
dengan orang tua siswa, tindakan yang dilakukan oleh pihak sekolah SD
Darussalam dan SD AL Furqon bukan berdasarkan rasionalitas namun lebih
berdasarkan kepada tindakan berdasarkan nilai-nilai perjuangan yang kemudian
disebut Weber sebagai rasional nilai (wertrational).

Kesimpulan

Seluruh pembahasan diatas menunjukkan bahwa dalam konteks


pembangunan manusia melalui pendidikan, modal sosial memiliki pengaruh yang
sangat menentukan. Komunitas yang memiliki modal sosial rendah hampir dapat
dipastikan kualitas pembangunan manusiannya akan lebih tertinggal. Beberapa
dimensi pembangunan manusia yang dipengaruhi oleh modal sosial antara lain
kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah bersama dan mendorong roda
perubahan yang cepat di tengah masyarakat, memperluas kesadaran bersama
bahwa terdapat banyak jalan yang bisa dilakukan oleh setiap anggota kelompok
untuk memperbaiki nasib secara bersama, memperbaiki mutu kehidupan seperti
meningkatkan kesejahteraan, perkembangan anak dan banyak keuntungan lainnya
yang dapat diperoleh. Bangsa yang memiliki modal sosial tinggi akan cenderung
efektifan dalam menjalankan berbagai kebijakan untuk mensejahterakan dan
memajukan kehidupan rakyatnya membuka kemungkinan menyelesaikan
kompleksitas persoalan dengan lebih mudah (Putnam, 2000). SD Darussalam
dengan yang tergolong sebagai higt trust society, memiliki norma yang sinergis
antara sekolah, keluarga dan komunitas serta jaringan yang kuat di dalam
komunitas menjadikan sekolah tersebut memiliki pestasi yang baik dalam bidang
akademis. sementara SD Al Furqon dengan masyarakakat yang tergolong low
trust society, norma yang tidak sejalan antara sekolah, keluarga dan komunitas
serta rendahnya bonding social capital.

Dalam serangkaian penelitian mengenai pendidikan pada masyarakat di


perkampungan kumuh, Coleman menyimpulkan bahwa modal sosial tidak

28
terbatas pada mereka yang kuat, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi
orang miskin dan orang yang terpinggirkan. Coleman (2000) menjelaskan bahwa
modal sosial, baik berupa harapan dan kewajiban, jaringan dan informasi, serta
norma sosial, berpengaruh secara positif dalam menambah kapasitas modal
kemanusiaan baik dalam lingkup keluarga maupun komunitas. Intensitas relasi
dalam keluarga dan di luar keluarga memperkuat modal sosial dan turut
menciptakan modal manusia yang dapat berguna dalam pembangunan. SD
Darussalam yang berada di komunitas miskin dapat menyelesaikan permaslahan
pendidikan pada anak, dengan memanfaatkan modal sosial. Tentunya masyarakat
tidak mengenal istilah modal sosial namun jelas mereka telah mempraktekan
dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi para peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini masih kurang dalam
menjelaskan bagaimana meningkatkan modal sosial pada komunitas yang
memiliki modal sosial rendah. Masyarakat yang memiliki aspirasi yang rendah
terhadap pendidikan yang cenderung menerima dengan keadaan saat ini. Maka
menarik bagi para peneliti selanjutnya untuk melihat bagaimana seharusnya
membangun modal sosial pada komunitas yang memiliki modal sosial yang
rendah ( low trust society) .

Untuk SD Alfurqon dengan jaringan sosial yang lemah dalam komunitas (


bonding social capital), dalam peningkatan modal sosial setidaknya terdapat
empat langkah yang perlu di lakukan. Pertama, diperlukan adanya wadah bagi
stakeholder untuk membicarakan kepentingan bersama. Kedua, dilibatkannya
semua pihak dalam pembicaraan yang merupakan kepentingan bersama. Ketiga,
dalam strukutur organisasi sekolah dapat melibatkan anggota diluar kerabat ketua
yayasan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial ( downside of social
capital). Pranadji (2006) menjelaskan bahwa perlu pemberdayaan modal manusia
( human capital), keorganisasian masyarakat yang kuat, dan kepemimpinan lokal
yang kuat untuk dapat meningkatkan modal sosial. Maka penelitian lebih jauh
bagaimana upaya peningkatan modal sosial dapat dilakukan.

Berdasarkan temuan studi ini terdapat kritik terhadap pemikiran Robert


Putnam, sesuai dengan kritik yang dikemukakan peneliti-peneliti sebelumnya

29
seperti Kameo (2012) dalam studi tentang resistensi PKL di Semarang bahwa
Robert Putnam luput dalam menjelaskan bagaimana modal sosial kemudian
terbentuk. Bahwa seolah-olah modal sosial hadir dengan sendirinya sebagai
kemampuan masyarakat secara kolektif. Putnam luput menjelaskan bagaimana
kemudian terdapat aktor yang menggerakkan masyarakat dalam peningkatan
modal sosial. Dalam temuan studi ini terdapat faktor agen sebagai penggerak
komunitas sehingga modal sosial dapat terbentuk. Ketua yayasan SD Darussalam
berperan sebagai agen dalam menggerakkan komunitas dalam peningkatan modal
sosial, seperti dalam pelibatan warga dalam proses pendirian sampai
pengembangan sekolah. Pemberian sosialisasi kepada masyarakat mengenai
pentingnya pendidikan yang kemudian berimplikasi pada sikap dan tindakan
masyarakat terhadap pendidikan. Hal tersebut luput dari penjelasan Robert
Putnam tentang modal sosial.

Acknowledgement

Penulis tidak mampu menyelesaikan tanpa bantuan selaku Dr. Indera R.I.
Pattinasarany, MA selaku dosen pembimbing, serta Sakti Wira Yudha, S. Sos,
M.Si sebagai dosem mata kuliah seminar. Penulis juga berterimaksih kepada
pihak SD Darussalam dan SD Al Furqon, Dinas Pendidikan Kecamatan Panti
Kabupaten Jember yang sudah bersedia berpartisipasi dalam proses penulisan
artikel ini.

Daftar Pustaka

Artikel Jurnal

Ansar, Arifin 2012 . Nelayan dalam Perangkap Kemiskinan (Studi Strukturasi


Patron-Klien dan Perangkap Kemiskinan Pada Komunitas Nelayan di
Desa Tamalate, Kec. Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Provinsi

30
Sulawesi Selatan ) diakses pada 7 April 2017 Pukul 15 00 WIB diuduh
dari http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/1478

Brown, Carolyn A. 2007. .Are America's Poorest Children Receiving Their Share
of Federal Education Funds? School-Level Title I Funding in New York,
Los Angeles, and Chicago. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 13 01
diunduh dari

http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/40704320.pdf

Dana Griffin . 2010. Parent Perceptions of Barriers to Academic Success in a


Rural Middle School. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 13 09 WIB
diunduh dari

http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/42732752.pdf

Fuller B, 1999. Which girls stay in school? The influence of family economy,
social demands,

and ethnicity in South Africa. In Critical Perspectives on Schooling and Fertility


in the Developing World. Diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/29788598.pdf diakses pada 2 Januari 2017
pukul 12.31 WIB

Gamoran, Adam and Mare D. Robert. 2012. Secondary School Tracking and
Educational Inequality: Compensation, Reinforcement, orNeutrality?
Diakses pada 1 Maret 2017 pukul 08 03 WIB diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/2780469.pdf

Herman G. Van de Werfhorst and Jonathan J.B. Mijs.2010. Achievement


Inequality and the Institutional Structure of Educational Systems:
AComparative Perspective diakses pada 1 Maret 2017 pukul 08 08 WIB
diunduh dari http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/25735085.pdf

Heyneman SP, 1998. The Effect of Primary School Quality on Academic


Achievment. Diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/2778968.pdf diakses pada 15 januari 2017
pukul 19 00 WIB

Hoy, Wyne K. 2006. Academic Optimism of Schools: A Force for Student


Achievement. Diakses pada 27 Maret 2017 pukul 16 49 WIB diunduh dari

http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/4121765.pdf

31
Inkeles A, 1998. Convergent and Divergent trends in national education systems.
Diunduh dari http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/2578310.pdf
diakses pada 2 januari pukul 19 00 WIB

Kremer, Michael 2012 Public and Private Schools in Rural India diunduh dari
http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/10.1086/588796?
seq=1#page_scan_tab_contents diakses pada 1 januari 2017 pukul 14 01

Lemberger, Matthew. 2011. Student Success Skills: An Evidence-based Cognitive


and Social Change Theory for Student Achievement. Diakses pada 27
maret 2017 pukul 13.06 WIB diunduh dari

http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/42744237.pdf

Lipset SM, Bendix R, 1959. Social Mobility in Industrial Society. Barkeley


diunduh dari http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/3708987.pdf
diakses pada 30 Desember pukul 12. 50 WIB

Mueen, Zafar. 2008. Do Private Schools Produce More Productive Workers?


Diunduh dari http://remote-lib.ui.ac.id:2059/stable/41260215?
Search=yes&resultItemC diakses pada 4 januari 2017 pukul 13 22 WIB

Park, Hyunjoon. 1998. Literacy Gaps by Educational Attainment: A Cross-


National Analysis diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/41290092.pdf diakses pada 16 januari 2017
pukul 19 20 WIB

Pranaji, Tri. 2006. Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat


Perdesaan dalam Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering. Diunduh dari
http://www.ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jae/article/view/4731/
3996

diakses pada 22 Mei 2017 pukul 17 08 WIB

Riddle AR. 1992. An Alternative Approach to the Study of School Effectivness in


Third World Countries. Diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/1188450.pdf diakses pada 3 januari 2017
pukul 12 40

Saporito, Salvatore. 2002. School Choice in Black and White: Private School
Enrollment among Racial Groups. Diunduh dari http://remote-
lib.ui.ac.id:2059/stable/pdf/25594835.pdf diakses pada 2 januari 2017 12
21 WIB

Rambe, Rahma. 2010. Korelasi antara dukungan sosial orangtua dan self
directed learning pada siswa SMA . diakses pada 7 Februari 2017 Pukul

32
12 08 WIB diunduh dari
https://www.researchgate.net/profile/Tarmidi_Tarmidi/publication/261738
697_Korelasi_Antara_Dukungan_Sosial_Orang_Tua_dan_Self-
Directed_Learning_pada_Siswa_SMA/links/00b7d53566ee9d7df8000000.
pdf

Wachidah, Kemil. 2011. Mitos Kesempatan Sama dan Reproduksi Kesenjangan


Sosial : Gambaran Nyata Kesenjangan Sosial dalam Pendidikan terhadap
Anak-anak Petani Tambak Pinggiran Sidoarjo. diakses pada 2 Maret 2017
pukul 19 00 diunduh dari
http://ejurnal.iainmataram.ac.id/index.php/society/article/view/640

Widhyharto, Derajad S. 2016 . Komunitas Berpagar: Antara Inovasi Sosial dan


Ketegangan Sosial (Studi Kasus Komunitas Berpagar di Propinsi D.I
Yogyakarta, Indonesia) diakses pada 9 Maret 2017 Pukul 16 06 diunduh
dari https://journal.ugm.ac.id/jsp/article/view/10962

Wulandari, Riska Putu. 2013. Analsiis partisipasi Masyarakat dan Kepemimpinan


terhadap Tingkat Keberhasilan Proyek Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat PNPM di Kecamatan Gerokrak, Buleleng. diakses pada
3April 2017 pukul 08 11 WIB diunduh dari
http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-939-1166002174-tesis
%20riska%20fix.pdf

Buku

Babbie, Earl. 2010. The Practice of Social Research 12th ed. Belmont CA:
Wadsworth Cengage Learning

Coleman, James S. (1990) Foundations of Social Theory. Cambridge, Mass:


Harvard University Press.

Creswell, John. W. (2014). Penelitian Kualitatif dan Desain Riset Memilih di


Lima Pendekatan (Ahmad Lintang Lazuardi, Penerjemah.). Ed.ke- 3.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdikbud. (1996). Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia.

Fukuyama, Francis (2001) Social Capital and Development: The Coming


Agenda. Makalah pada Konperensi Social Capital and Poverty

33
Reduction In Latin America and The Caribbean: Toward A New
Paradigm.Santiago, Chile, September 24-26, 2001.

Martono, Nanang. 2002. Kekerasan Simbolik di Sekolah : Pustaka Pelajar

Neuman, W. Lawrence. 2007. Basic of Social Research: Qualitative and


Quantitative Research Approaches. Second Edition. Boston: Pearson
Education

Putnam, Robert dengan Robert Leonardi dan Rafaella Nanetti (1993) Making
Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy. Princeton, N.J.:
Princeton University Press.

Putnam, Robert. The Collaps and Revival American Community. Simon and
Schuster : New York

Sztompka, Pyotr (1999) Trust: A Sociological Theory. Cambridge, UK:


Cambridge University Press.

34
35