Anda di halaman 1dari 6

1.

Tegar
Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam musibah ini menjadi tegar.
Pada awalnya (cek Kamus Umum Bahasa Indonesia, karya W.J.S Purwadarminta),
kata tegar berarti keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan
kata ini bertambah makna (jadi dua makna) yaitu tabah; kuat; sabar. Padahal makna
kedua ini bertolak belakang dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam
keseharian makna yang lebih sering beredar makna yang kedua seperti pada
kalimat contoh di atas.

2. Ubah vs rubah
Aku Mau (Once)
Kau boleh acuhkan diriku
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu
Apa yang janggal dari lirik salah satu lagu yang pernah hits di radio ini? Ada apa
dengan kata ubah?
Ya, dalam bahasa formal atau informal, seringkali kata ini dieja dengan kata rubah
atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me-, kata yang terbentuk adalah
mengubah (me+ubah=meng+ubah) dan bukan merubah. Merubah bisa saja berarti
menjadi (seperti binatang) rubah. Gue menduga ini disebabkan karena salah paham
saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi bentuk melakukan
atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Dalam pengamatan gue, kesalahan ini acap dilakukan oleh para orang tua kita.

3. Absensi vs presensi
Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan Infrastruktur Indonesia
Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru adalah
penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari
bahasa Belanda (absent), berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi,
kalau absensi digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beza, kalau
kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan.
Namun begitu, penggunaan kata mengabsen (pemanggilan daftar hadir agar tahu
mana yang hadir dan tidak) atau absensi (daftar ketidakhadiran) sah-sah saja
digunakan.
Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
4. Acuh
Gelandang Manchester United Nani mulai menunjukkan sikap acuh terhadap
klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya
Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan "hidup dan mati".
Kata "acuh" merupakan kata paling sering disalahartikan. Bagi sebagian penutur,
acuh itu berarti cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti
peduli; hirau; ingat; indah; hisab. Jadi kalau kalimat: dia sudah mengacuhkanku
lagi berarti dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dengan frasa acuh
tak acuh? Ya, berarti itu berarti peduli-tidak peduli atau terkadang perhatian dan
terkadang tidak.

5. Geming
Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi grogi, diam tak bergeming.
Selain acuh, kata geming termasuk yang sering salah tempat. Coba bayangkan,
kata yang berarti diam dan tak bergerak ini dijadikan ke dalam kalimat di atas. Jadi,
apa coba artinya? Diam tak diam? Padahal maksudnya itu kan diam dan
Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini
diam (tenang-tenang saja) saat isu jabatan rangkap ini bergulir ke publik.

6. Nuansa vs suasana (sanskerta: suasana)


Penggunaan kata nuansa dalam lirik lagu yang pernah dipopulerkan oleh Vidi
Aldiano ini termasuk yang benar ya. Nuansa diserap dari bahasa Belanda (nuance)
dan berarti variasi, derajat atau perbedaan yang sangat halus/kecil sekali.
Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan makna kata. Atau pemisalan lain:
terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata murah dan murahan.
Namun demikian, kita masih mendengar kata ini digunakan maksud yang sama dari
kata suasana. Contoh konkret penggunaan salah kaprah ini adaah pada berita
berikut.
Nuansa Seram dalam Ritual Sumpah Pocong
Kalau aja si wartawan mau cek kamus, dia bakal menemukan kalo
"Suasana menyeramkan" lebih pas digunakan daripada "Nuansa menyeramkan".

7. Ke luar vs keluar
Menurut elo mana yang tepat:
Sandra akan pergi ke luar negeri
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?
Walaupun dua kata ini ditulis berbeda, namun saat diucapkan, kedengarannya sama
aja. Sebetulnya, dua kata ini sangat beda. Ke luar merupakan bentuk preposisi,
sama seperti ke dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dll. Kalau kita contohkan
dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri. Sebut saja ia akan ke Singapura. Artinya,
Sandra akan pergi ke luar dari negeri Indonesia menuju Singapura.
Sedangkan keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata
kerja (verba) dan bermakna bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar. Coba kita
cari apa lawan dari kata keluar? Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata
keluar: Ia dikeluarkan dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di
kelas atau Shanti mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu
menyanyi.
Kedua contoh ini mencerminkan makna memindahkan sesuatu dari dalam (dari
dalam sekolah dan dari dalam saku). Nah, sesuai dong kalau lawannya adalah
masuk?

8. Pasca vs paska
Kuliah Perdana Paska Sarjana Sekolah Tinggi Intelijen Negara
Akhir-akhir ini para pembawa berita di televisi sering membubuhkan
kata pasca untuk mengganti kata sesudah atau setelah. Mungkin kata itu terdengar
lebih keren dibandingkan dua kata padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi
masalahnya banyak yang menulis atau membaca kata ini dengan ejaan paska.
Kesalahan lain adalah memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang
melekat setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca tsunami.
Lalu, bagaimana dengan contoh yang gue berikan di atas? Salahnya ganda, euy.
Hehehe
Pasca merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta dan dalam penulisannya
mesti digabung karena termasuk bentuk terikat. Ada juga penulisan yang
menggunakan tanda strip (-) seperti pasca-SBY, maksudnya setelah pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN, setelah ujian Seleksi
Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu, bedakan
penulisan pascatsunami denganpasca-Tsunami Aceh. Pascatsunami, penulisannya
dirangkai karena tsunami yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum
sedangkan pasca-Tsunami Aceh lebih khusus.

9. Garang vs gahar
Maksud hati ingin memberikan nilai garang, seram, keras atau laki banget, hal yang
terucap malah kata gahar. Gue ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan
empat kata sebelumnya. Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari
contoh di atas: menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang Indonesia,
kata gahar baru senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum
diakui sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu percakapan
santai saja.
Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini, bukan tidak mungkin mengalami nasib yang
sama dengan tegar(memiliki dua makna padahal awalnya cuma satu), akhirnya
bermakna dua dan saling tidak berkaitan satu sama lainnya. Cuma,
sayang kan, kalau memang artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi
dimaklumkan lalu direstui masuk kamus besar.

10. Nol tau kosong?


Tanya : Mba, saya mau pesan taksi..
Jawab : Oh, baik. Berapa nomor teleponnya pak?
Tanya : nol delapan satu tiga
Jawab : kosong delapan satu tiga
Tanya: mba, nol. Bukan kosong
Sebagian dari kita sering menemukan perlakuan seperti itu. Ya, ini terjadi karena
ada yang menyamakan peran angka nol (0) yang diambil dari bahasa Belanda (nul),
dengan kata kosong. Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia, padanan untuk
nol itu kosong, namun hanya diberi label cak (cakapan alias tidak resmi; informal).
Sementara makna kedua adalah hampa; nihil dan keduanya merupakan kata sifat.
Padahal kata nol pada contoh di atas merupakan kata bilangan, bukan kata sifat.

11. Ketika kamu sedang marah, kamu pasti bilang sedang emosi.

Selama ini, emosi hampir selalu identik dengan rasa marah yang meluap-luap.
Selain itu, orang yang mudah marah-marah, kamu menyebut sifat orang itu dengan
sebutan emosional. Padahal emosi bukan hanya sekedar rasa marah. Tahukah
kamu, bahwa ternyata rasa senang, sedih, bahkan cinta juga merupakan bagian dari
emosi.
Menurut KBBI, emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam
waktu singkat.
Jadi sekarang sudah jelas kan, bahwa emosi bukan hanya untuk rasa marah saja,
melainkan seluruh perasaan yang kita rasakan.

12. Aktifitas atau Aktivitas

Kamu kalo menggambarkan kegiatanmu pakai tulisan yang mana? Aktifitas atau
aktivitas? Manakah penulisan yang tepat?
Kata itu diserap dari Bahasa Inggris activity dan Bahasa Belanda activiteit. Dalam
Bahasa Indonesia, bunyi huruf c pada kata asing ditukar dengan k, sedangkan huruf
v tidak perlu karena dari bunyi huruf yang dilambangkan tidak membedakan
maknanya.
Jadi yang benar dalam Bahasa Indonesia ditulis aktivitas ya!
Sedangkan untuk kata dasarnya kita tulis aktif, bukan aktiv. Karena huruf v dalam
Bahasa Indonesia tidak digunakan di akhir kata umum.
Contoh lain: motif-motivasi, produktif-produktifitas, positif-positivisme, dan lain-lain.
So, jangan salah lagi ya menulisnya!

13. Yang suka bolos, pasti sering bilang gini Eh, gue nitip absen dong! atau
Tolong tandatangankan absensi gue ya!
Kata absen sangat sering disalahartikan sebagai kehadiran dan kata absensi
sebagai tanda kehadiran. Tapi kata-kata itu justru bermakna sebaliknya.
Absen diambil dari kata Belanda absent yang artinya tidak hadir atau tidak
masuk.
Jadi kalau kamu mau bolos tidak perlu repot-repot bilang nitip absen, toh kamu
sendiri sudah absen dari kelas. Kalau mau bilangnya nitip presensi aja. :D hehee
Sinonim absen : bolos; tidak hadir; tidak masuk
Antonim absen : presen; hadir; masuk

14. Dia diam tak bergeming di pojok kelas.


Pernahkan kamu mendengar kalimat yang serupa atau mirip dengan kalimat di
atas? Ternyata kata bergeming ini juga sering dipakai berkebalikan 180 derajat
dengan makna aslinya. Maksud kalimat di atas mungkin artinya seseorang hanya
diam saja di pojok kelas. Padahal arti sebenarnya keliru dalam menggunakan kata
bergeming.
Bergeming dalam KBBI, artinya tidak bergerak sedikitpun atau diam saja.
Kalo seperti itu, kalimat di atas sama aja Dia diam tak diam saja di pojok kelas.
Jadi bingung kan, sebenarnya tuh orang lagi diem apa lagi gerak-gerak di pojok
kelas? Aduuhh jadi pusing pala berbie,, :D
Makanya lain kali, kita harus cek lagi kesesuaian kata yang digunakan dalam kalimat
dengan makna yang sebenarnya, biar nggak salah kaprah kaya gitu :D
15. Besok jadi nggak kita liburan ke Pantai? Jangan cuma wacana aja dong!

Hayo.. siapa nih di antara kamu yang suka ngomong begitu? Kamu pasti
beranggapan bahwa wacana itu adalah kata yang menggambarkan sebuah
rencana yang gagal atau hanya omong kosong belaka. Padahal itu keliru lho
Dalam KBBI, wacana adalah percakapan atau komunikasi verbal. Biasanya berupa
pidato, khutbah, dan diskusi.
Jadi, menggunakan kata wacana untuk menggambarkan rencana yang gagal
merupakan salah kaprah yang masih sering terjadi dalam berbahasa Indonesia
terutama di kalangan anak muda.

16. Kalau kamu pakai baju tidak boleh seronok


Menurutmu, maksud kalimat di atas apa sih maksudnya? Ngelarang kitasupaya tidak
memakai pakaian yang seksi? Hmm, apasih maksud kata seronok sebenarnya?
Selama ini kata seronok sangat identik dengan pakaian yang terbuka dan seksi.
Benar tidak? Tetapi ternyata dalam KBBI, kata seronok itu bermakna sesuatu yang
menyenangkan hati dan sedap dilihat.
Jadi kalau disuruh untuk berpakaian tidak seronok, berarti sama saja menyuruh
untuk berpakaian yang tidak enak dilihat. Nasihatnya jadi negatif kalo gitu :(.