Anda di halaman 1dari 7

Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat

Paper 12 : Rangkuman dan Pembahasan Prinsip 5 dan 6 OECD


di Satyam

disusun oleh : Kelompok 11


Rani Oktaviani (406838)
Risty Ridharty Diman (414069)
Veronika Narendra Novelita (414076)

Program Pendidikan Profesi Akuntansi


Universitas Gajah Mada Yogyakarta
2017
Prinsip 5 OECD : Pengungkapan dan Transparansi
Keterbukaan informasi yang akurat dan tepat waktu atas semua hal yang material harus
dipastikan dalam kerangka kerja corporate governance. Termasuk didalamnya hal-hal material
perusahaan seperti kondisi keuangan perusahaan, kinerja perusahaan, kepemilikan serta tata
kelola perusahaan. Informasi yang bersifat keuangan dan non-keuangan tersebut harus
disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Audit perusahaan
pun harus dilakukan oleh pihak eksternal yang independen, kompeten, dan memenuhi
kualifikasi dalam rangka menyediakan jaminan kepada pihak yang berkepentingan dalam
laporan keuangan perusahaan.
Dalam kasus Satyam, PWC merupakan auditor eksternal yang dipilih perusahaan guna
memberikan opini mengenai laporan keuangan perusahaan. Price Waterhouse Coopers India
(PwC) sebagai akuntan publik mengacuhkan kode etik akuntan publik; antara lain sebagai
berikut:
1. Independensi
Dalam SA Seksi 220, pada paragraph 02, independensi diartikan auditor mempertahankan
sikap yang tidak memihak dalam melaksanakan perkerjaannya. Independence in
appearance merupakan independensi yang dipandang dari pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan yang diaudit dan pihak tersebut mengetahui hubungan
antara auditor dan kliennya. PwC India praktis telah melanggar independensi karena PwC
memiliki hubungan istimewa dengan Satyam, yakni kemitraan strategis hingga akhir tahun
2009 meski aturan internasional U.S Securities and Exchange Comission dan standar audit
India melarang kemitraan semacam itu. PwC juga mengacuhkan bukti-bukti
penggelembungan dana. Misalnya dalam saldo kas dan bank itu fiktif sebanyak Rs 50,40
miliar dibandingkan dengan Rs 53,61 miliar yang ditunjukkan dalam pembukuan. Ini
merupakan pelanggaran independence in fact.
2. Integritas dan Objektivitas Akuntan
Integritas mengharuskan seorang auditor untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa
harus mengorbankan rahasia penerima jasa, pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh
dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan atau
peniadaan prinsip (Mulyadi). Tetapi dari dokumen SEC yang memeriksa kasus ini, terdapat
bukti bahwa PwC melanggar integritas, seperti PwC yang meskipun mengetahui sistem
pengendalian internal Satyam yang lemah, tetapi tidak melakukan tindakan untuk
melaporkan hasil temuannya itu.
Objektivitas mengharuskan akuntan publik bebas dari benturan kepentingan dan tidak boleh
membiarkan faktor salah saji material yang diketahuinya dan mengalihkan pertimbangan
kepada pihak lain. PwC jelas melanggar benturan kepentingan karena tidak memperhatikan
independensi penampilan dengan memiliki hubungan kemitraan strategis dengan Satyam.
3. Standar Umum
Ada beberapa standar yang harus dipatuhi akuntan publik, yakni kompetensi profesional,
kecermatan dan keseksamaan professional, perencanaan dan supervisi, dan data relevan
yang memadai. PwC juga melanggar standar umum akuntan publik. Dari hasil bukti kasus
Satyam, diketahui bahwa PwC tidak memperhatikan kompetensi, kecermatan dan
keseksamaan professional dengan tidak memeriksa secara keseluruhan sejumlah invoice
dalam transaksi Satyam. PwC juga melanggar standar perencanaan dan supervisi karena
tidak melakukan pemeriksaan dengan benar dari awal perikatan audit hingga akhir perikatan
audit.
4. Kepatuhan Terhadap Standar
PwC melanggar aturan Indian Audit and Accounts Service (IAAS), yaitu basic postulate
dimana akuntan publik harus mengikuti standar auditing yang berlaku dan melaporkan hasil
temuannya terhadap laporan keuangan. Sedangkan PwC justru menutupi laporan
pemeriksaan audit tersebut.
5. Prinsip-Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi mengharuskan akuntan publik untuk memeriksa dan menemukan
kejanggalan dalam laporan keuangan penerima jasa. Dalam perikatan umum, auditor
melaksanakan auditnya atas dasar pengujian, bukan atas dasar pemeriksaan terhadap seluruh
bukti. Namun auditor internal Satyam tidak melakukan pengujian, meneliti atas verifikasi
setiap transaksi mulai dari awal terjadinya transaksi setiap tahun hingga berakhirnya tahun
laporan. Selain itu, auditor juga tidak memverifikasikan cash and bank balance.
6. Fee Profesional
Besarnya fee anggota bervarasi tergantung risiko penugasan, komplesitas jasa yang
diberikan, tingkat keahlian, biaya yang bersangkutan dan hal-hal lannya. Tetapi ada
kejanggalan dalam audit fee PwC yang dibayarkan oleh Satyam. Dari hasil perbandingan
audit fee yang sama-sama menggunakan jasa PwC, yaitu Satyam, Wipro dan Infosys didapat
bahwa pendapatan PwC 2007 sebagai berikut. Satyam: Wipro: Infosys = 0,059% : 0,006%
: 0,004%. Sedangkan perbandingan pendapatan PwC tahun 2008 adalah Satyam: Wipro:
Infosys = 0,046% : 0,006% : 0,005%. Bisa dilihat bahwa fee yang dibayarkan oleh Satyam
tidak wajar dan berkali-kali lipat dibanding pesaing Satyam.

Perbandingan Audit Fee yang Dibayarkan Satyam dengan Pesaingnya (jutaan US$)
Entitas Pendapatan Pendapatan Fee Fee Fee/Pendapatan Fee/Pendapatan
2008 2009 2008 2007 2008 2007
Satyam 2,028 1,380 0.9 0.8 0.046% 0.059%
Wipro 4,920 3,313 0.3 0.2 0.006% 0.006%
Infosys 3,899 2,915 0.2 0.1 0.005% 0.004%

Pelanggaran Prinsip GCG


Pengertian GCG menurut Bank Dunia (World Bank) adalah kumpulan hukum, peraturan, dan
kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan
bekerja secara efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan
bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. Satyam juga
melakukan pelanggaran prinsip GCG antara lain:
1. Transparansi (transparency) adalah keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan
keputusan dan mengemukakan informasi materil yang relevan mengenai perusahaan. Raju
tidak terbuka dalam mengemukakan informasi materil perusahaan. Hal ini bisa dilihat dari
tindakan Raju yang memalsukan saldo sebesar Rs 50,40 miliar, piutang bunga sebesar Rs 3,76
miliar dan utang yang tidak dinyatakan sebesar Rs 12,3 miliar.
2. Pengungkapan (disclosure) adalah penyajian informasi kepada stakeholders, baik diminta
maupun tidak diminta, mengenai hal-hal yang berkenaan dengan kinerja operasional,
keuangan, dan resiko usaha perusahaan. Raju juga menyajikan informasi palsu dengan bukti
seperti poin diatas.
3. Kemandirian (independence) adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
PwC India tidak seharusnya menjadi auditor eksternal Satyam karena keduanya memiliki
benturan kepentingan berupa kemitraan strategis dalam bentuk jasa IT.
4. Akuntabilitas (accountability) adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban
manajemen perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif dan
ekonomis. Aksi CEO Satyam, Raju tentu kebalikan dari prinsip akuntabilitas. Raju melebih-
lebihkan dana sebesar Rs 53,61 miliar. Tindakan tidak benar itu diketahui sistem pengendalian
internal Satyam yang hanya mengabaikan Raju dan justru mengindahkan faktur-faktur palsu
dalam transaksi Satyam. Pelaksanaan tugas masing-masing pihak menjadi tidak jelas.
5. Pertanggungjawaban (responsibility) adalah kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat. Jika dilihat dari standar aturan Indonesia, ada pelanggaran yang dilakukan Auditor
Satyam dan PwC. Misalnya dalam Pasal 55 khususnya ayat (b) dan Pasal 56 UU RI Nomor 5
Tahun 2011 tentang Akuntan Publik yang dijadikan sebagai subjek uji materiil Pemohon
dinyatakan bahwa akuntan publik yang dengan sengaja melakukan manipulasi, memalsukan,
dan/atau menghilangkan data atau catatan pada kertas kerja, atau tidak membuat kertas kerja
yang berkaitan dengan jasa yang diberikan.
Dalam hal ini, auditor satyam dan PwC bersalah karena tidak melakukan pengujian dan
verifikasi dari awal terjadinya transaksi hingga pelaporan tiap tahun juga mengabaikan bukti-
bukti berupa invoice palsu dalam transaksi. Raju juga melanggar Pasal 56 dinyatakan bahwa
pihak terasosiasi yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, dipidana
dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 300 juta rupiah.

Prinsip 6 OECD : Tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris


Kerangka kerja corporate governance harus memastikan pedoman strategis
perusahaan, monitoring yang efektif terhadap manajemen oleh dewan, serta akuntabilitas
dewan terhadap perusahaan dan pemegang saham. Setahun sebelum munculnya skandal
tersebut, Satyam memenangkan penghargaan Golden Peacock untuk kesempurnaan dalam
corporate governance dari World Council for Corporate Governance. Dewan tersebut
kemudian membatalkan penghargaan dan mengeluhkan kegagalan perusahaan Satyam untuk
mengungkap fakta-fakta materi sebenarnya.
Reporter Business Week Beverly Behan menulis bahwa dewan Satyam jelas-jelas
mencemooh praktik-praktik corporate governance yang baik. Para wartawan dapat mengetahui
dengan menelaah komposisi dewan bahwa dewan direksi Satyam kurang memiliki keahlian
ekonomi, hampir sama sekali tidak independen dan gagal untuk memenuhi syarat manajemen
yang independen dimana hal ini berlawanan dengan praktik-praktik corporate governance yang
baik. Seperti yang diperlihatkan kasus Satyam, penghargaan bisnis yang mengesankan dan
laporan tahunan yang mengkilap bukanlah jaminan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut
beroperasi secara legal dan penuh etika.
Banyak bisnis keluarga yang menunjuk dewan keluarga untuk menyelaraskan
kepentingan mereka dan bertindak sebagai penghubung utama antara keluarga, dewan dan
manajemen senior. Dewan juga mengajukan kandidat untuk keanggotaan dewan dan membuat
rancangan kebijakan atas hal-hal seperti mempekerjakan keluarga, kompensasi dan
kepemilikan saham. Kemandirian Dewan merupakan isu utama dalam kelanjutan skandal
Satyam Computer Systems Ltd. di India.
Laporan BusinessWeek menghitung sinyal-sinyal masalah yang tidak terdeteksi pada
kasus Satyam sebagai berikut:
1. Dewan di Satyam memiliki enam direktur non-manajemen, tetapi empat diantaranya
akademisi dan satu adalah seorang mantan sekretaris kabinet pada pemerintahan. Hanya
satu anggota dewan yang sebelumnya pernah menjabat eksekutif puncak di suatu
perusahaan teknologi.
2. Perusahaan tersebut tidak memiliki pakar keuangan pada komite auditnya.
3. Meskipun Satyam membedakan posisi CEO dan kepala dewan, dua posisi tersebut
diduduki oleh bersaudara yang memiliki kepentingan utama dalam perusahaan dan anggota
manajemen.
4. Dewan tidak memiliki kepemimpinan dewan independen.

Berdasarkan Pasal 92 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tugas
Direksi adalah menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai
dengan maksud dan tujuan Perseroan. Direksi PT dapat terdiri atas 1 orang atau lebih.
Sedangkan, tugas dari Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan
pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan maupun usaha
Perseroan, dan memberi nasihat kepada Direksi (Pasal 108 ayat [1] UUPT). Dewan Komisaris
dapat terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih (Pasal 108 ayat [3] UUPT).
Bila melihat dua ketentuan mengenai Direksi dan Dewan Komisaris tersebut, sudah
dapat diketahui bahwa tugas utama Direksi adalah melakukan pengurusan PT, sedangkan tugas
utama Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan atas pengurusan PT. Jika di dalam
suatu PT Direksi merangkap sebagai Dewan Komisaris, terlebih lagi bila dipegang oleh satu
orang, maka akan berakibat munculnya benturan kepentingan. Benturan kepentingan ini karena
jalannya pengurusan PT dikhawatirkan tidak terkendali sebab kewenangan untuk melakukan
pengawasan dan pengurusan dipegang oleh orang yang sama. Kaitannya dalam kasus Satyam,
meskipun posisi Direksi dan Komisaris dipegang oleh orang yang berbeda, namun kedua posisi
tersebut diduduki oleh bersaudara yang memiliki kepentingan utama dalam perusahaan dan
anggota manajemen. Penyalahgunaan wewenang dan sistem pengendalian internal Satyam
yang lemah. Hal ini menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kasus fraud Satyam terjadi.
Kasus kecurangan yang menyangkut masalah praktek tranparansi dan akuntabilitas
pelaporan keuangan perusahaan harus mendorong profesi akuntan, pengguna laporan
keuangan, dan pemerintah memberikan perhatian yang serius terhadap pentingnya keberadaan
komite audit dan mekanisme GCG menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis sebagai barometer
akuntabilitas dari suatu perusahaan.