Anda di halaman 1dari 8

Magnesium: emerging potensials in anesthesia practice

Abstrak
Magnesium merupakan non-competitive blocker dari reseptor N-methyl D-aspartate.
Biasanya digunakan untuk terapi pada preeklamsia, aritmia dan asma bronchial sekarang ini
berperan penting dalam praktek anestesi. Digunakan secara intravena, intatekal serta epidural
untuk mengurangi nyeri post operasi. Saat ini juga popular digunakan sebagai adjuvant dalam
anestesi block. Pemberian magnesium untuk analgesic dan anestetik membuat para anestesiologi
mengurangi dosis anestesi ketika operasi dan penggunaan analgesic setelah operasi.

Pendahuluan
Magnesium mempunyai peranan penting dalam berbagai macam proses fisiologis.
Semenjak dilakukan studi tentang magnesium sulfat dalam praktek anestesi di awal tahun 1996,
magnesium mendapat banyak perhatian di bidang anestesi dan obat-obatan analgetik [1].
Magnesium termasuk empat kation terpenting dalam tubuh dan termasuk kation kedua terpenting
di intraselular. Magnesium banyak ditemukan di dalam kerak bumi sebagai deposit magnesit dan
dolomit. pertama kali diisolasi pada tahun 1808 oleh seorang ahli kimia inggris Sir Humphrey
Davy menggunakan elektrolisis percampuran magnesium dan mercury oxide.
Magnesium mempunyai banyak kegunaan dalam praktek anesthesia karena beberapa
alasan. Pertama, ion ini penting dalam banyak reaksi biokimia dan kekurangan ion ini dapat
menimbulkan konsekuensi yang cukup buruk selama anestesi ataupun saat di ICU. Kedua,
penggunaan magnesium sulfat secara luas dalam praktik obstetrik, menuntut anestesiologi
memahami dengan baik farmakologi dan interaksi obat ini dengan obat-obatan anestetik. Ketiga,
beberapa sifatnya mungkin berpengaruh penting dalam praktek anestesi [2,3]. Peranan fisiologis
magnesium berhubungan dengan calcium channel blocker di otot polos, otot rangka dan sistem
konduksi. Sifat analgetiknya berhubungan dengan memblokade reseptor NMDA. Obat ini cukup
berhasil dan efektif dalam penggunaannya dengan penerapan multidisiplin [4].

Fisiologi
Pada tubuh manusia, magnesium terdistribusi di tulang (53%), komponen intraseluler otot
(27%) dan jaringan lunak (19%). 1% dari total magnesium di tubuh dapat ditemukan di serum
dan sel darah merah. Serum magnesium hanya terdapat sekitar 0.3% dari total magnesium dalam
tubuh, yang terbagi dalam tiga bagian: terionisasi (62%), terikat dengan protein (33%) terutama
terhadap albumin dan kompleks anion seperti sitrat dan fosfat. Estimasi kebutuhan magnesium
sehari-hari yaitu sekitar 200 mg untuk perempuan dan 250mg untuk laki-laki. Kadar normal
magnesium dalam plasma berkisar antara 1.4-2.2 meq/L (0.7-1.1 mmol/L) [5].

Formulasi yang tersedia


Formulasi yang tersedia untuk magnesium intamuskular dan intravena adalah magnesium
sulfat. Obat ini tersedia dalam sediaan ampul (2cc). setiap cc mengandung magnesium sulfat

1
(heptahydrate) 500mg, dimana terdapat masing-masing 4.06 meq magnesium dan sulfat dan air
untuk melarutkan. pH nya adalah 5.5-7.0. cairan ini tidak terdapat bakteriostatik atau bahan
pengawet lainnya. Formula molekular dari magnesium sulfat adalah MgSO4.7H2O dan berat
molekulnya adalah 246.47.

Efek magnesium pada berbagai sistem


Dengan bersaing dengan kalsium untuk membrane binding site dan dengan merangsang
penyerapan kalsium oleh retikulum sarkoplasma, magnesium membantu untuk mempertahankan
konsentrasi ion kalsium bebas potensi rendah di intraseluler. Sifat listrik dari membran dan
karakteristik permeabilitasnya juga dipengaruhi oleh magnesium. Magnesium memiliki efek
penting pada sistem kardiovaskular. Dia mempengaruhi kontraktilitas miokard dengan
mempengaruhi konsentrasi kalsium intraseluler dan aktivitas listrik sel miokard serta sistem
konduksi jantung dengan kemampuannya untuk mempengaruhi pergerakan ion seperti natrium,
kalium dan kalsium untuk melintasi membran sakrolema. Magnesium juga dapat mempengaruhi
tonus otot polos pembuluh darah. Magnesium memiliki peran kunci dalam banyak proses
biologis penting lainnya seperti metabolisme energi sel , replikasi sel dan sintesis protein [6].
Kadar normal magnesium di plasma berkisar 0.7-1.1 mmol/L. Efek samping timbul pada kisaran
yang berbeda (tabel 1).

Mekanisme kerja
Magnesium adalah non-competitive blocker dari reseptor N-methyl D-aspartate (NMDA)
dengan efek antinociception. Dan fisiologisnya merupakan calcium antagonis dalam saluran
yang berbeda yang mungkin penting dalam mekanisme antinociception [7,8]. Magnesium sendiri
bukan merupakan analgetik primer, dia memunculkan aksi analgetik sebagai bahan tambahan.
Peranan pemberian magnesium sebagai analgesia saat operasi telah banyak diteliti oleh
penulis pada saat anestesi umum ataupun anestesi spinal. Magnesium sulfat dilaporkan efektif
sebagai pengobatan untuk mengurangi nyeri ketika operasi dan menumpulkan reflex somatik,
autonomik dan endokrin yang dipicu oleh rangsangan berbahaya [9,10]. Dosis magnesium sulfat
yang biasa diberikan adalah loading dose 30-50mg/kg lalu dilanjutkan dengan dosis 6-20
mg/kg/jam hingga operasi selesai. Selain itu, magnesium dosis tunggal tanpa pemberian cairan
maintenance juga dilaporkan efektif sebagai analgetik post operasi. Beberapa studi menunjukkan

2
efek positif pada nyeri post operasi dengan pemberian magnesium pre operasi dengan dosis yang
berbeda dimulai dari bolus intravena dosis tunggal hingga infus intravena.
Peranan magnesium dalam anestesi
Mengurangi nyeri post operasi
Mengurangi respon hipertensi pada intubasi
Pada feokromositoma
Pada kehamilan dan anesthesia pada kehamilan
Pada anestesi jantung
Penatalaksanaan shivering
Relaksasi otot

Penghilang nyeri post operasi


Magnesium digunakan secara intravena, intratekal dan juga epidural untuk
menghilangkan nyeri. Akhir-akhir ini juga sering digunakan sebagai bahan tambahan pada
anestesi block.
Peranan dalam anestesi umum: Ryu et al. melaporkan bahwa pemberian segera
magnesium sulfat 50 mg/kg sebelum operasi lalu dilanjutkan 15 mg/kg/jam selama operasi
hingga operasi selesai pada pasien ginekologi yang menerima propofol remifentanil TIVA secara
signifikan menurunkan kebutuhan neuroblocking agent selama operasi dan menurunkan
kebutuhan analgesic setelah operasi. Selain itu juga pasien yang mendapatkan magnesium
menunjukkan post operasi sedikit yang mengalami muntah dan menggigil [11]. Observasi serupa
dilakukan oleh lee at al. [12]. Koinig et al. dalam studi kasus yang melaporkan bahwa pemberian
intravena magnesium sulfat saat operasi menurunkan kebutuhan analgesic saat atau post operasi
[13].
Kiran et al. meneliti efektifitas dari pemberian magnesium sulfat single dose secara
intravena dalam mengurangi nyeri post operasi pada pasien yang menjalani operasi inguinal yang
dilakukan anestesi umum. Grup pasien yang menerima single dose magnesium sulfat 50 mg/kg
dalam 250 ml normal salin secara infus selama lebih dari 30 menit dan disimpulkan bahwa
pemberian magnesium sulfat secara intravena signifikan mengurangi nyeri post operasi [14].
Keterbatasan sebagai analgetik. Selain itu, beberapa studi menyimpulkan bahwa
magnesium sulfat efeknya terbatas atau tidak mempunyai efek. Ko et al. dan peach et al.
melaporkan bahwa pemberian magnesium sulfat intravena pada operasi tidak mengurangi nyeri
post operasi dan konsumsi pemberian analgetik pada pasien histerektomi dan sectio caesar
[15,16]. Tramer et al. juga mengobservasi pemberian magnesium sulfat sebagai pre treatment
pada pasien yang menjalani operasi hernia dan varises [17].
Kisaran normal magnesium dalam plasma 1,4-2,2 mEq / L. Hypomagnesimia dapat
sering terjadi setelah operasi, seperti operasi perut, ortopedi dan bedah jantung serta setelah
operasi minor [13,18]. Tramer et al. menyimpulkan sebuah hipotesa bahwa substitusi magnesium
bermanfaat sebagai analgesik hanya pada pasien yang memiliki hypomagnesimia [17]. Demikian
juga penurunan intensitas nyeri bukan karena efek analgesik langsung dari magnesium

3
melainkan untuk lebih ke pencegahan hypomagnesemia dan demikian juga untuk pencegahan
aktivasi NMDA. Pasien yang menjalani operasi besar tanpa pemberian magnesium menunjukkan
dapat berisiko terkena hypomagnesimia di 24 jam pertama pasca operasi [19]. Penurunannya
mungkin dikarenakan hilangnya cairan dalam jumlah besar dan perpindahan cairan antara
kompartemen tubuh. Magnesium adalah penghambat reseptor NMDA non-kompetitif. Telah
diamati bahwa didalam cairan magnesium, rangsangan dari asam amino L-glutamat dan L-
aspartat membuka saluran kation NMDA dan dengan kehadiran magnesium, kemungkinan
pembukaan saluran berkurang [20]. Demikian, substitusi dari magnesium pada pasien yang
berisiko terjadi hypomagnesimia harus Mencegah hypomagnesimia terkait pembukaan reseptor
NMDA. Hubungan terbalik antara tingkat keparahan nyeri dan tingkat serum magnesium telah
diamati pada wanita selama persalinan dan pada pasien dengan kondisi medis yang berbeda:
seperti miokardium infark atau pankreatitis. Oleh karena itu kontrol kadar serum magnesium
sebelum operasi dan pencegahan hypomagnesemia harus menjadi prioritas utama [21].
Peranan selama anestesi spinal. Studi terakhir menerangkan peranan magnesium sulfta
sebagai bahan tambahan pada anestesi local untuk anestesi spinal dalam dosis yang berbeda.
Pada studi kasus pertama yang dilakukan oleh Buvanendran et al. mengevaluasi apakah
pemberian intratekal magnesium dapat memperpanjan anestesi spinal analgetik opioid. 52 pasien
yang meminta diberikan analgesik saat persalinan diacak mana yang mendapatkan intratekal
fentanil 25 g dimbah saline dan mana yang fentanil 25 g ditambah magnesium sulfat 50 mg
sebagai tehnik pemberian spinal-epidural. Secara signifikan, pemanjangan durasi analgesia (75
menit) didapatkan pada grup magnesium plus fentanyl disbanding pada grup yang hanya diberi
fentanyl (60 menit) dan tidak ditemukannya efek samping [22]. Ozalevli et al. dalam studinya
menginvestigasi efek penambahan 50 mg intratekal magnesium sulfat ke dalam anesthesia spinal
dengan bupivacaine-fentanyl pada pasien yang menjalani operasi pada ekstremitas bahwa
menyimpulkan bahwa magnesium sulfat secara signifikan menunda onset blockade system
motoric dan sensorik dan juga memperpanjang jangka waktu anestesi tanpa menimbulkan efek
samping [23]. Jaiswal et al. mengevaluasi dan membandingkan efek penambahan 2 macam dosis
yaitu 50 mg dan 100 mg magnesium sulfat intratekal ke dalam bupivacaine pada pasien yang
menjalani operasi ortopedi. Ditemukan peningkatan signifikan dari durasi anesthesia dan
analgesia ketika magnesium sulfat ditambahkan ke intratekal bupivacaine dan tidak ditemukan
efek samping malahan dapat menurunkan terjadinya menggigil pada pasien. Ditambah lagi,
kelihatannya analgesia mempunyai dosis yang berhubungan dengan magnesium sulfat [24].
Sebagai tambahan, infuse Magnesium sulfat intravena saat anastesi spinal dilaporkan
meningkatkan postoperative analgesia dan mengurangi penumpukan konsumsi analgesic setelah
hip replacement arthroplasty total [25]. Hasil yang sama pernah diamati oleh Agrawal et al [26].
Penggunaan infuse Magnesium sulfat intravena paskaoperasi juga meningkatkan waktu untuk
kebutuhan analgesik dan mengurangi total konsumsi dari analgesik setelah anastesi spinal [27].
Sebuah studi yang mengamati efek dari infuse intravena dengan Magnesium sulfat
intrathecal selama spinal anastesi pada pasieng yang menjalani bedah hip arthroplasty total. Para
penulis menyarankan bahwa kedua intravena infuse dan injeksi intrathecal Magnesium sulfat

4
meningkatkan analgesia postoperative. Sebagai tambahan infuse intravena Magnesium sulfat
menyebabkan hipotensi relative dan menurunkan kehilangan darah [28].
Peran epidural anastesi: Arcioni et al. mengamati bahwa intrathecal dan epidural
Magnesium sulfat memberikan potensi dan menyebabkan prolong blok motorik. Para penulis ini
menyimpulkan bahwa pada pasien yang menjalankan bedah ortopedi, suplementasi pada anastesi
spinal yang dikombinasi dengan intrathecal dan epidural Magnesium sulfat secara signifikan
mengurangi kebutuhan penggunaan analgesic postoperative pada pasien. Magnesium
menyebabkan chanel NMDA dalam arus yang berkaitan dan menghasilkan reduksi arus NMDA
[29]. Magnesium sulfat sebagai tambahan pada bupivacaine epidural menambah durasi analgesi
[30,31]
Peran pada anastesi blok: sebagai tambahan dari pentingnya lokasi reseptor NMDA,
reseptor ini telah diketahui sebagian. El Shamaa et al. mengamati bahwa campuran Magnesium
sulfat dengan bupivacaine lokal selama anastesi blok pada femoral menyebabkan penambahan
durasi pada blok sensorik dan motorik, juga mengurangi skor nyeri secara signifikan dan dosis
penuh atas penyelamatan analgesia dengan rasa nyeri yang dapat ditoleransi pada awal
postoperative [32]. Magnesium mempengaruhi syaraf perifer dengan mempengaruhi pengeluaran
neurotransmiter pada celah synaptic atau memberikan potensi untuk lokal anastesi [2]. Hassan et
al. mengevaluasi efek dari Magnesium sulfat sebagai tambahan dalam memberikan potensi efek
analgesi bupivacaine blok paravertebral dalam mastectomy radikal yang dimodifikasi dan
menyimpulkan penambahan Magnesium sulfat dalam bupivacaine menghasilkan efek analgesi
yang lebih efisien dengan opioid-sparing and menurunkan vomitus dan nausea postoperative
pada 24 jam pertama [33]. Goyal et al. menyimpulkan bahwa penggunaan dosis kecil magnesium
pada axillary sheath saat analgesi plexus brachialis menghasilkan waktu yang lebih lama dalam
menurunkan rasa nyeri atas penggunaan analgesia postoperative tanpa efek samping yang besar
[34].

Untuk mengurangi respon hipertensi atas intubasi


Magnesium telah diketahui atas kegunaan untuk memenuhi respon kardivaskular terkait
dengan intubasi trakea [35,36]. Laryngoscopy dan intubasi trakea menyebabkan pengeluaran
katekolamin endogen yang meningkatkan tekanan darah dan nadi dengan gejala sisa yang
mungkin seperti perdarahan intrakanial dan MCI. Magnesium dapat dijadikan parameter
stabilisasi kardiovaskular dan mencegah hipertensi saat intubasi. Efek ini dapat menjadi
bermakna pada kasus hipertensi pada kehamilan. James et al. mempelajari kadar katekolamin
post intubasi dan akibat dari intubasi pada nadi dan tekanan darah pada percobaan terkontrol
secara acak atas Magnesium 60 mg/kg vs. 0.9% normal saline yang diberikan sebelum intubasi.
Kadar noradrenalin secara signifikan lebih tinggi pada grup yang terkontrol dibandingkan pada
mereka yang menerima magnesium dan peningkatan kadar ini bertahan selama 5 menit paska
intubasi. Tekanan nadi sedikit meningkat atas pemberian magnesium namun kemudian tetap
stabil selama intubasi. Grup yang terkontrol menunjukkan peningkatan yang signifikan pada nadi
dan tekanan darah [37].

5
Dalam pheochromocytoma
Magnesium telah ditandai sebagai antiadrenergic. Menambahkan hal ini, efek
vasolidatasi dan antiaritmia dari magnesium telah menyebabkan penggunaan magnesium pada
operasi pheochromocytoma [5].
Peran dalam obstetrics dan anastesi obstetric
Magnesium mempunyai peran penting dalam treatment pada pasien inpartu dengan
implikasi yang penting bagi dokter anastesi. Magnesium telah digunakan untuk terapi krisis
hipertensi akut terutama pada manajemen pheochormocytoma dan hipertensi pada kehamilan.
Magnesium juga digunakan untuk manajemen pada PEB dan mencegah kejang eklampsi, yang
dipertimbangkan sebagai standar terapi. Magnesium mencegah atau mengkontrol kejang dengan
menyumbat transmisi neuromuskular dan menurunkan pengeluaran asetilkolin pada syaraf
motorik. Efek hipertensi dari magnesium sebagai golongan calcium channel blocker.
Penggunaan magnesium sebagai neuroprotector pada janin, mencegah terjadinya cerebral palsy
pada bayi baru lahir, tanpa diragukan lagi untuk tetap meningkat [38]. Magnesium digunakan
untuk persalinan prematur. Magnesium memiliki efek yang menguntungkan bagi hemodinamik
maternal dan uteroplacental pada preeklampsi [5].
Sebagai tambahan pada general anastesi, Lee and Kwon dalam studinya mengamati
bahwa penggunaan intravena magnesium 45 mg/kgBB sebelum induksi anastesi, menyebabkan
hemodinamik yang lebih stabil dan menurunkan terjadinya gangguan kesadaran [39]. Akan
tetapi, pretreatment dengan Magnesium sulfat tidak menurukan kadar cardiac troponin I pada
pasien preeclampsia yang menjalani operasi caesar menggunakan anastesi spinal [40].

Peran dalam anastesi cardiac


Lingkup relevansi khusus pada bidang anastesi yaitu aritmia dan operasi jantung. Ini
sangat berguna sebagai anti-aritmia agent. Ini sangat berguna dalam perawatan ventricular
aritmia yang berhubungan dengan MCI akut, sindrom QT memanjang dan keracunan digitalis
[5]. Terdapat resiko yang tinggi atas penggunaan mangnesium bedah CABG dengan CPB.
Hypomangesmia ini mempercepat aritmia jantung dan vasokonstriksi baik arteri koroner maupun
penggunaan mammary graft yang mencetuskan aritmia. Suplementasi magnesium dapat
menstabilisasi sel membrane miokard dan mengembangkan efek cardioprotective terhadap
artimia. Selama bedah CABG, kombinasi magnesium dan lidokain bolus setelah intubasi dan
diikuti dengan pemberian infuse dapat mengurangi reperfusi VF sebanyak 62% dan pada post-
CPB artimia ventrikel sebanyak 70%. Penambahan magnesium telah menstabilkan sel membran
myocardial dan memberikan efek kardioprotektif terhadap ventricular aritmia [42]. Pemberian
magnesium sebelum operasi, menginduksi myocardial ischemia dan pada saat reperfusi
myocardial muncul untuk mengurangi post-ischemic myocardial tetapi bila diberikan setelah
reperfusi myocardial dimulai tidak menghasilkan efek yang menguntungkan [43].

6
Manajemen tremor
Magnesium sulfat diketahui sangat efektif dalam manajemen tremor postoperative yang
timbul setelah general anastesi dan anastesi spinal [44,45]. Elsonbaty et al. menemukan bahwa
Magnesium sulfat efekti dalam mengontrol tremor dan diharapkan bahwa Magnesium sulfat
dapat menggantikan meperidine sebagai terapi untuk tremor selama anastesi spinal dengan efek
samping yang rendah efek anti tremor dimungkinkan karena blocking dari reseptor NMDA dan
menyebabkan penurunan noraprinephrine dan 5 HT dimana keduanya memiliki peran dalam
kontrol termoregulasi. Magnesium sulfat merupakan pilihan yang menarik untuk mengontrol
tremor karena hipomagnesia diamati selama induksi hipotermia. [45]. Ibrahim et al. lebih lanjut
mengamati bahwa pemberian infus Magnesium sulfat sebagai profilaksis pada spinal anastesi
menurunkan angka kejadian tremor [46].

Relaksasi otot
Magnesium menyebabkan aksi non-depolarisasi neuromuskular blocker dengan
menghambat pengeluaran asetilkolin dari saraf motorik akhir. Magnesium juga menurunkan
sensitifitas membran postjunction dan menurunkan pengeluaran dari serabut saraf. Sebagai hasil
dari dikuranginya dosis non-depolarisasi muscle relaxants sangat disarankan apabila Magnesium
sulfat digunakan [2].
Terdapat perbedaan implikasi klinis kemungkinan relaksasi oto oleh Magnesium sulfat.
Pertama, Magnesium sulfat dapat digunakan sebagai tambahan intubasi trakea. Kim et al.
mengamati bahwa Magnesium sulfat ketika dikombinasi dengan rocuronium priming,
meningkatkan efek intubasi yang lebih cepat jika dibandingkan baik dengan magnesium sendiri
atau penggunaan priming tersebut [47]. Karena efek penggunaan obat atau penyakit, terkadang
pasien menunjukkan perlawanan terhadap non-depolarisasi muscle relaxants. Pada kasus ini
magnesium dapat digunakan secara efektif. Kim et al. melaporkan asam valproat dapat
menurunkan durasi rocuronium menghasilkan peningkatan penggunaannya, namun peningkatan
ini terpenuhi oleh pemberian magnesium [48]. Anak-anak dengan cerebral palsy juga
menunjukan resistensi pada non-depolarisasi muscle relaxants. Kebutuhan recuronium secara
siginifikan menurun pada pasien yang diberikan magnesium [49]. Lebih lanjut, pretreatment
dengan Magnesium sulfat berkaitan dengan berkurangnya fasikulasi yang ditimbulkan oleh
suksinilkolin.

Peran magnesium pada perawatan kritis


Kekurangan magnesium ditemukan 65% pada pasien dewasa dan 30% pada neonates
dalam ICU sebagaimana dibandingkan dengan 11% dalam pasien rawat inap. Magnesium
digunakan pada kasus gagal nafas, hipertensi pulmonal neonates dan tetanus [5].
Banyak factor yang menyebabkan kekurangan magnesium pada pasien perawatan kritis.
Factor tersebut termasuk gangguan absorpsi GI, nasogastric suction, kurangnya formula
pemberian magnesium atau TPN solution, pemberian obat-obatan diuretics, aminoglycosides,
amphotericin-B yang menyebabkan pengeluaran magnesium melalui ginjal [50].

7
Hypomagnesemia dikaitkan dengan peningkatan mortalitas pasien yang kritis lebih pada
pasien dengan sepsis, diabetes dan gangguan eletrolit lainnya.

Mortalitas
Safavi et al. mengamati tingginya angka mortalitas pada pasien hipomagnesemia
dibandingkan pada normonagnesemia pasien (55% vs 35%) [51]. Limaye et al. mengamati
bahwa angka mortalitas pada pasien hipomagnesemia 57% lebih tinggi dibandingkan pada 31%
pasien normomagnesemia. Tingginya angka mortalitas pada pasien hipomagnesemi dijelaskan
oleh gangguan elektrolit khususnya hipokalemia dan cardiac aritmia dan hubungan kuat atas
hipomangesemia dengan sepsis maupun syok septic. Kebutuhan dan lama penggunaan ventilasi
secara signifikan lebih tinggi pada pasien hipomagnesemia [52].

Sepsis dan diabetes


Hipomagnesia umumnya dikaitkan dengan peningkatan pengeluaran endotelin dan
sitokin proinflamasi sehingga menyebabkan sepsis. Terdapat hubungan kuat antara hipomagnesia
dengan resisten insulin. Suplementasi magnesium menyebabkan penurunan kebutuhan insulin.
Abnormalitas elektrolit lainnya
Hipomagnesemia umumnya dikaitkan dengan abnormalitas elekrolit lainnya seperti
hipokalmeia, hipofosfatemia, hiponatremia, dan hipokalsemia. Hipokalemia terlihat pada pasien
hipomagnesia relative refrakter pada suplementasi kalium sampai kekurangan magnesium
tersebut terkoreksi. Keadaan ini terkait dengan kerusakan aktivitas membrane ATPase dan juga
disebabkan karena meningkatnya kehilangan kalsium renal akibat hipomagnesemia. Mekanisme
hubungan antara hipokalsemia dengan hipomagnesemia berkaitan dengan adanya defek pada
sintesis dan pengeluaran hormon paratiroid selain itu adanya resisten pada organ. Sebagai
tambahan, kekurangan magnesium dapat secara langsung mempengaruhi pengurangan kalsium
tulang terlepas dari paratiroid hormone. Hipokalsemia yang berkaitan dengan deplesi magnesium
juga sulit dikoreksi kecuali magnesium deplesi itu sendiri terkoreksi [52].

Kesimpulan
Magnesium sulfat, obat yang sangat tua, pertama kali digunakan pada pasien
preeclampsia, cardiac aritmia, dan asma bronkiale, saat ini telah dipergunakan sebagai obat
anestesi dan obat analgesic pelengkap dalam praktek anestesi. Terdapat perkembangan dalam
peranan magnesium pada pasien kritis dimana magnesium telah menunjukkan pengurangan
angka mortalitas diberbagai studi, terutama pada pasien dengan sepsi dan diabetes.