Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IV

FARMAKOTERAPI PASIEN KOINFEKSI TB SEPSIS

Disusun oleh :

Oki Lia Saputri (G1F014001)


Melani Dian Arini (G1F014017)
Amyda Ayu Dianritami (G1F014053)
Raras Ravenisa (G1F014055)
Alifah Itmi Mushoffa (G1F014073)

Nama Dosen Pembimbing : Ika Mustikaningtyas


Tanggal Diskusi Kelompok : 12 September 2017
Nama Asisten : Khumrotin Entik
Tanggal Diskusi Dosen : 19 September 2017

LABORATORIUM FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
A. KASUS
a. Data Pasien

Nama Pasien : Tn. W (36 tahun)


Alamat : Rawaneng
Berat Badan : 53 kg
Status Jaminan : Umum
Tanggal MRS : 2/1/2013
Tanggal KRS :-
R. Penyakit Saat MRS : Pasien rawat jalan terakhir tanggal
31/12/2013, dating dengan keluhan sesak
napas dan batuk
R. Penyakit Terdahulu : Tuberkulosis
R. Penggunaan Obat : Obat Anti Tuberkolsis (OAT) 3 bulan putus
obat
Life Style : Merokok
Diagnosa : koinfeksi TB sepsis

b. Parameter Penyakit

Data Klinik
TTV Tanggal
2 3 4 5 6 7 8
TD 110/70 110/70 100/60 120/80 100/70 120/70 110/70
Nadi 88 80 108 100 108 108 120
RR 24 24 22 20 20 18 18
Suhu 36,5 36,5 39,4 38,2 38,4 37,9 37,3
Batuk +
Sesak + + +
Data Laboratorium

Tanggal
Pemeriksaan Satuan
31/12 4/1 6/1
Hb g/dl 8,4 7,8 11,3
Leukosit /µL 10970 10220 10740
Hct % 24 22 32
Eritrosit 106/µL 3,3 3,1 4,4
Trombosit /µL 284000 223000 257000
MCV Fl 72,7 73 71,7
MCH Pg 25,8 25,4 25,6
MCHC % 35,4 34,8 35,6
RDW % 18,4 16,9 19,2
Eosinofil % 0 0 0
Batang % 0 0 0
Segmen % 77,4 84,6 89,7
Limfosit % 5,4 3,4 3,8
Monosit % 17,2 12,0 6,4
LED mm/jam 119 85
Bilirubin direct mg/Dl 0,36
SGOT U/L 95
SGPT U/L 42
SCr mg/Dl 1,48
Ureum mg/Dl 43,9

c. Terapi yang diterima pasien


Nama Obat Dosis Frekuensi 2 3 4 5 6 7 8
IVFD 5% 20 tpm ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Inj. Ceftazidin 1 gr 2x1 ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Tutofusin ops 1x1 24 jam ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Inj. Ranitidin 1A 2x1 ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Terasma syr 1 cth 3x1 ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Pct 500 mg 3x1 k/p ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Biocurliv 2x1 ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Bionemi 2x1 ˅ ˅ ˅ ˅ ˅ ˅
Levofloxacin 1x500 ˅ ˅ ˅ ˅
Tranfuse PRC ˅
Extra tamoliv 1A/8 jam ˅
Curavit infus 750/hari ˅
B. DASAR TEORI
1. Patofisiologi

Individu rentan yang menghirup basil tuberkulosis dan menjadi

terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan napas ke alveoli, tempat

dimana mereka terkumpul dan mulai untuk memperbanyak

diri. Basil juga dipindahkan melalui sistem limfe dan aliran darah ke

bagaian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paru-

paru lainnya (lobus atas). Sistem imun tubuh berespon dengan

melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan

banyak bakteri, limposit spesifik- tuborkulosis melisis (menghancurkan)

basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan

penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan bronkopneumonia.

Infeksi awal biasanya terjadi dua sampai sepuluh minggu setelah

pemajanan. Masa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang

merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati di

kelilingi oleh makropag yang membentuk dinding protektif granulomas

diubah menjadi masa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari masa fibrosa

ini di sebut tuberkel ghon. Bahan (bakteri dan makropag) menjadi


nekrotik, membentuk masa seperti keju. Masa ini dapat mengalami

kalsifikasi, membentuk sekar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman

tanpa perkembangan penyakit aktif. Setelah pemajanan dan infeksi

awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau

respon yang inadekuat dari respon sistem imun. Penyakit aktif dapat

juga terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam

kasus ini, tuberkel ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju

kedalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar diudara,

mengakibatkanpenyebaran penyakit lebih jauh tuberkel yang memecah

menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru – paru yang terinfeksi

lebih membengkak mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih

lanjut, pembentukan tuberkel, dan selanjutnya.Kecuali proses tersebut

dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah kebawah ke

hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan.

Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika

penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang

diperbaharui. Hanya sekitar 10 % individu yang awalnya terinfeksi

mengalami penyakit aktif (Corwin, Elizabeth. 2009).

2. Guideline Terapi
a. Tuberkulosis

Pasien merupakan tipe pasien kategori 2/ Default artinya


pasien pernah mendapatkan OAT namun sudah 2 bulan atau lebih
putus obat. Selain itu pasien juga mengalami gangguan ginjal dan
hepar. Berdasarkan gudeline yang diperoleh, pasien mendapatkan
terapi tuberkulosis berupa Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan
Etambutol selama 2 bulan, kemudian dilanjutkan dengan
penggunaan Isoniazid dan Rifampisin selama 4 bulan (Kemenkes,
2014).
(Kemenkes, 2014).
b. Sepsis

(DiPiro, 2015).

c. Anemia

(WHO, 2011)
Nilai Hct yang didapat dari pemeriksaan laboratorium yaitu 78 g/l,
jika dilihat berdasarkan penggolongan anemia diatas, nilai tersebut
masuk ke dalam anemia severe. Menurut Sudoyo (2009), anemia
severe mendapat pengobatan transfusi darah untuk menormalkan
kadar hemoglobinnya.
C. PENATALAKSANAAN KASUS DAN PEMBAHASAN
1. Subjective
Data Pasien
Nama Pasien : Tn. W (36 tahun)
Alamat : Rawaneng
Berat Badan : 53 kg
Status Jaminan : Umum
Tanggal MRS : 2/1/2013
Tanggal KRS :-
R. Penyakit Saat MRS : Pasien rawat jalan terakhir tanggal
31/12/2013, datang dengan keluhan sesak
napas dan batuk
R. Penyakit Terdahulu : Tuberkulosis
R. Penggunaan Obat : Obat Anti Tuberkolsis (OAT) 3 bulan putus
obat
Life Style : Merokok
Diagnosa : koinfeksi TB sepsis
2. Objective
Data Klinik

Tanggal Nilai Keterangan


TTV
2 3 4 5 6 7 8 Normal
TD 110/70 110/70 100/60 120/80 100/70 120/70 110/70 120/80 Normal
Nadi 88 80 108 100 108 108 120 70-80 Meningkat
RR 24 24 22 20 20 18 18 12-20 Meningkat
Suhu 36,5 36,5 39,4 38,2 38,4 37,9 37,3 36,5 Meningkat
Batuk +
Sesak + + +
(Kemenkes,2011)
Data Laboratorium

Pemeriksaan Satuan Tanggal Nilai Normal Keterangan


31/12 4/1 6/1
Hb gr/Dl 8.4 7.8 11.3 13 - 18 Menurun :
Anemia
Leukosit /mm3 10970 10220 10740 3200–10.000 Meningkat
HCT % 24 22 32 40 - 50 Menurun :
Anemia
Eritrosit 106 sel/mm3 3.3 3.1 4.4 4,4 - 5,6 Menurun :
Anemia
Trombosit mm3 284.000 223.000 257.000 170 – 380. 103 Normal
MCV Fl 72.7 73 71.7 80 – 100 Menurun :
Anemia
MCH pg/sel 25.8 25.4 25.6 28– 34 Menurun :
Anemia
MCHC gr/Dl 35.4 34.8 35.6 32 – 36 Normal
RDW % 18.4 16.9 19.2 10-15 Meningkat
Eusinofil /mm3 0 0 0 0-6 -
Batang /mm3 0 0 0 0-11 -
Segmen mg/Dl 77.4 84.6 89.7 40-70 Meningkat
Limfosit /mm3 5.4 3.4 3.8 15-45 Menurun
Monosit /mm3 17.2 12 6.4 0-10 Meningkat
LED Mm/jam 119 85 <15 Meningkat
Bilirubin Mg/Dl 0.36 <1,4 Normal
direct
SGOT U/L 95 5 – 35 Meningkat :
gangguan hati
SGPT U/L 42 5 – 35 Meningkat
Scr mg/Dl 1.48 1,4 Meningkat
Ureum mg/Dl 43.9 15-40 Meningkat
(Kemenkes, 2011)
3. Assesment

Problem
No Subjective Objective DRP Uraian DRP Plan
Medik
1 2/1/12 RR = 24 TB Kebutuhan Pasien didiagnosis TB Perlu dilakukan
Sesak nafas x/menit terapi pada tanggal 2/1/12 periksa uji
dan batuk melebihi tambahan dan memiliki riwayat resistensi OAT
pada awal
normal TB. Pasien diduga
pengobatan dan
belum mendapatkan uji BTA. Pasien
terapi untuk mengatasi diberikan terapi
TB pasien. OAT 2HRZE/ 4HR
Pasien merupakan dengan dosis
pasien default yaitu Isoniazid 300 mg/
pasien pernah hari, Rifampisin
600 mg/hari,
mendapatkan OAT
Pirazinamid 2
dan sudah 3 bulan g/hari, dan
putus obat sehingga Etambutol 15
pasien disarankan mg/kgBB/hari
untuk diberikan (Kemenkes,
2(HRZE)S/ (HRZE)/ 2014).
5(HR)3E3 (Kemenkes,
2014). Namun, pasien
mengalami gangguan
fungsi ginjal dengan
ClCr = 52 mL/menit
sehingga terapi yang
disarakan adalah 2
HRZE/4 HR. Pasien
memiliki nilai SGOT
dan SGPT yang tinggi
adanya gangguan
fungsi hati namun
masih bisa ditoleransi
sehingga OAT yang
bersifat hepatotoksik
masih dapat digunakan
seperti Isoniazid,
Rifampicin, dan
Pirazinamid
(Kemenkes, 2014).
2 2/1/12 RR = 24 Sepsis Resiko Pasien mendapatkan Levofloxacin
Sesak nafas x/menit Adverse Levofloxacin pada diganti dengan
dan batuk melebihi Drug tanggal 5-8/1/12 dan Moxifloxacin
Reaction Cravit infus pada
normal
tanggal 8/1/12.
Suhu tubuh Levofloxacin banyak
naik > terekstresi diginjal
36,5oC sehingga dapat
memberatkan kondisi
ginjal. Hal ini kurang
sesuai dengan kondisi
pasien yang
mengalami gangguan
fungsi ginjal dengan
ClCr = 52 mL/menit.
Moxifloxacin lebih
aman digunakan untuk
pasien dengan
gangguan ginjal
karena hanya 20%
obat yang dieksresikan
melalui ginjal
(Medscape, 2017)
3 Demam, Nadi Sepsis Obat tidak Pada pasien sepsis, IVFD D5% dan
takikardi meningkat tepat penggunaan IVFD Tutofushin
( 80 – 120 D5% tidak dihentikan
x/min), direkomendasikan karena
Suhu (Medscape, 2017). kontraindikasi
meningkat Penggunaan dengan kondisi
pada hari Tutofushin ops juga pasien.
ke 4 dst tidak Sehingga,
(37,9 – direkomendasikan dilakukan
39,4 oC), karena pasien penggantian
leukositosi mengalami GGA terapi cairan
s stage 2 (Clcr : 52 yaitu
mL/min; serum: 1,48 menggunakan
mg/dL) infus RL (Avila
et al., 2016).
Obat tidak Pada kasus, pasien Penggunaan
tepat menerima injeksi ceftazidine
ceftazidine dan dihentikan.
levofloxacin. Pasien
mengalami
gangguan hati dan
ginjal, sehingga
penggunaan
ceftazidine tidak
direkomendasikan.
4 - Tanggal Anemia Obat tidak Pasien mendapat Pemberian
31/12, diperlukan bionemi untuk terapi bionemi
2/1,dan 4/1 anemia. Bionemi dihentikan
nilai Hb = merupakan obat
8,4; 7,8; anemia yang
11,3; Hct = mengandung Fe
24; 22; 32; fumarate 360 mg, folic
Eritrosit = acid 1.5 mg, vit B12
3,3; 3,1; 15 mcg, vit C 75 mg,
4,4; MCV vit D3 400 IU, Ca
= 72,7; 73; carbonate 200 mg
71,7; MCH digunakan untuk ibu
= 25,8; hamil/laktasi (MIMS,
25,4; 25,6; 2017). Selain itu
RDW = pasien tersebut adalah
18,4; 16,9; laki-laki.
19,2
5 - Tanggal Anemia Wrong Pada pemeriksaan data Pasien
31/12, dose laboratorium, pasien mendapatkan
2/1,dan 4/1 mengalami penurunan transfuse PRC
nilai Hb = pada tanggal 2-
Hb, Hct, eritrosit,
8,4; 7,8; 5/1
11,3; Hct = MCV, MCH, MCHC,
24; 22; 32; dan peningkatan
Eritrosit = RDW. Hal ini
3,3; 3,1; mengindikasikan
4,4; MCV bahwa pasien
= 72,7; 73; mengalami anemia.
71,7; MCH
Menurut (WHO, 2011)
= 25,8;
25,4; 25,6; Hct <80 merupakan
RDW = anemia berat. Terapi
18,4; 16,9; anemia severe
19,2 mendapat pengobatan
transfusi darah untuk
menormalkan kadar
hemoglobinnya
(Sudoyo, 2009). Pada
kasus pasien hanya
mendapatkan
Transfusi PRC pada
tanggal 6/1.

6 Sesak nafas Suhu tubuh Demam Duplikasi Pasien menerima Pasien diberikan
dan batuk tgl 2=36,5 ; Terapi terapi parasetamol oral extra tamoliv
3=36,5 ; pada tanggal 3 hingga yang
tanggal 8. Selain itu, mengandung
4=39,4 ;
pasien juga menerima Paracetamol 500
5=38,2 ; terapi extra tamoliv iv
6=38,4 ; mg
pada tanggal 5. Extra
7=37,9 ; tamoliv merupakan
8=37,3 obat dengan
Sesak kandungan
napas tgl 2, parasetamol 500 mg.
Saat MRS, pasien
3, 4.
datang dengan keluhan
Batuk pada sesak dan batuk.
tanggal 2. Penggunaan
paracetamol oral akan
menurunkan
kepatuhan pasien
dalam minum obat
karena pasien kurang
nyaman. Pemberian
secara IV dirasa lebih
tepat karena
pemberiannya lebih
mudah saat kondisi
pasien sedang sesak
atau batuk.
Parasetamol tetap
aman dikonsumsi
meski pasien
mengalami kenaikan
nilai SGOT dan SGPT
(Imani, et al, 2014 ).
Penggunaan ibuprofen
sebaiknya dihindari
pasien dengan nilai
ClCr <10 ml/jam
karena dapat
memperparah
kerusakan ginjal yang
terjadi (Imani, et al,
2014).

4. Plan
a. Tujuan Terapi
- Menyembuhkan pasien
- Mencegah kekambuhan dan kematian akibat TB dan sepsis
- Menurunkan tingkat penularan TB
- Menormalkan nilai Hb, Hct, MCH, MCV
- Menurunkan deman
b. Terapi Non Farmakologi
- Mengkonsumsi makanan mengandung sumber vitamin B12
seperti daging, telur, ikan salmon, ikan kod dan produk olahan
susu, termasuk susu itu sendiri
- Banyak minum air putih
- Menggunakan masker untuk mencegah penularan TB
- Menjaga kebersihan dan kesehatan diri
- Tidak merokok

(Dipiro, 2008)
c. Terapi Farmakologi
Terapi yang direkomendasikan
1) Terapi MRS

Tanggal
Obat Dosis Frekuensi
2 3 4 5 6 7 8
Isoniazid 300 mg 1 x sehari V V V V V V V
Rifampisin 600 mg 1 x sehari V V V V V V V
Pirazinamid 4 x 500 1 x sehari V V V V V V V
mg
Etambutol 2 x 400 1 x sehari V V V V V V V
mg
Moxifloxacin 400 mg 1 x sehari V V V V V V -

Transfusi PRC 31,8 ml 1x sehari V V V V - - -


Selama 1-
2 jam
Extra Tamoliv 1A/8 1 kali - - V - - - -
jam sehari
Terasma syr 1 cth 3 x sehari V V V V V V V

Infus RL 20 tpm 1 x sehari V V V V V V V

Inj. Ranitidin 1A 2 x sehari V V V V V V V

Biocurliv 1 tablet 2 x sehari V V V V V V V

Piridoxin 50 mg 1 x sehari V V V V V V V
(Vitamin B6)

2) Terapi KRS

Nama Obat Dosis Frekuensi

Isoniazid 300 mg 1 x sehari selama 6 bulan

Rifampisin 600 mg 1 x sehari selama 6 bulan

Pirazinamid 4 x 500 mg 1 x sehari selama 2 bulan

Etambutol 2 x 400 mg 1 x sehari selama 2 bulan

Piridoxin (Vitamin B6) 50 mg 1 x sehari selama 6 bulan


1. Obat Anti Tuberkulosis
Pasien didiagnosis TB pada tanggal 2/1/12 dan memiliki riwayat
TB. Pasien diduga belum mendapatkan terapi untuk mengatasi TB
pasien. Pasien merupakan pasien default yaitu pasien pernah
mendapatkan OAT dan sudah 3 bulan putus obat sehingga pasien
disarankan untuk diberikan 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3
(Kemenkes, 2014). Namun, pasien mengalami gangguan fungsi ginjal
dengan ClCr = 52 mL/menit sehingga terapi yang disarankan adalah 2
HRZE/4 HR. Streptomisin injeksi tidak dapat digunakan karena
sebagian besar obat diekskresi di ginjal sehingga akan memperberat
kerja ginjal. Pasien memiliki nilai SGOT dan SGPT yang tinggi
menunjukkan adanya gangguan fungsi hati namun masih bisa
ditoleransi (belum > 3 kali normal) sehingga OAT yang bersifat
hepatotoksik masih dapat digunakan seperti Izoniasid, Rifampicin, dan
Pirazinamid (Kemenkes, 2014). Dosis yang digunakan untuk
pengobatan TB pada pasien gangguan ginjal adalah Isoniazid 300 mg/
hari, Rifampisin 600 mg/hari, Pirazinamid 2 g/hari, dan Etambutol 15
mg/kgBB/hari (15 x 53 kg = 795 ≈ 800 mg/hari) selama 2 bulan,
kemudian dilanjutkan dengan penggunaan Isoniazid dan Rifampisin
selama 4 bulan dengan dosis yang sama (Kemenkes, 2014). Jadi, pada
2 bulan pertama pasien akan mengonsumsi 1 tablet Isoniazid 300 mg, 1
tablet Rifampisin 600 mg, 4 tablet Pirazinamid 500 mg, dan 2 tablet
Etambutol 400 mg.

2. Moxifloxacin
Antibiotik golongan fluorokuinolon baru mempunyai daya
antibakteri yang baik terhadap kuman gram-positif serta kuman atipik
penyebab infeksi saluran nafas bagian bawah. Daya antibakterinya
terhadap kuman gram-negatif sepadan dengan fluorokuinolon generasi
terdahulu. Contoh obat golongan ini adalah Ciprofloxacin,
Levofloxacin, Ofloxacin, Moxifloxacin, dan lain-lain (Departemen
Farmakologi dan Terapeutik FK UI, 2007). Berdasarkan kondisi pasien
dengan ClCr = 52 mL/menit, pasien lebih disarankan untuk
menggunakan Moxifloxacin dibandingkan Levofloxacin, Oflofoxacin,
dan Ciprofloxacin karena Moxifloxacin hanya di eksresikan melalui
ginjal sebanyak 20% saja, sedangkan Levofloxacin, Oflofoxacin, dan
Ciprofloxacin berturut-turut adalah sebanyak 87%, 80%, dan 30-50%
(Medscape, 2017).
Pasien mengalami sepsis. Menurut guideline, pasien sepsis karena
infeksi saluran pernapasan dapat diberikan levofloxacin/moxifloxacin,
atau kombinasi ceftriaxone dengan clarithromycin/azithromycin.
Namun, penggunaan kombinasi obat tidak direkomendasikan karena
obat bersifat hepatotoksik (Andrade dan Tulkens, 2011). Selain itu,
penggunaan ceftazidine dapat memperberat kerja ginjal (90% obat
diekskresi di ginjal) (Drug, 2017). Sehingga diberikan Moxifloxacin
karena dapat digunakan untuk mengatasi sepsis yang dialami pasien.
Dosis Moxifloxacin yang diberikan adalah 400 mg PO, 1 kali sehari
selama 7 hingga 10 hari (Wells, 2015).

3. Paracetamol
Paracetamol aman digunakan untuk menurunkan demam pada
pasien yang mengalami kenaikan nilai SGPT & SGOT karena menurut
penelitian Imani et al,2014, pada pasien yang mengalami kerusakan
hati, walaupun kadar PCT dalam hati tinggi, namun nilai CYP tidak
bertambah tinggi yang mengakibatkan nilai NAPQI tidak bertambah
(Imani,2014). Penggunaan penurun demam lain seperti ibuprofen
sebaiknya dihindari pada pasien dengan nilai ClCr <10 ml/jam karena
dapat memperparah kerusakan ginjal (Imani, et al, 2014).

(Imani, et al, 2014).


4. Terasma
Terasma digunakan untuk pasien bronkhospasme yang bersifat
reversibel yang berhubungan dengan hipersekresi mukus (lendir)
bronkhus. Sediaan ini mengandung komposisi aktif Glyceryl
Guaiacolate and Terbutaline Sulfate. Zat aktif yang terkandung didalam
terasma dapat yang dapat menghapus sekresi dari saluran pernapasan,
penghapusan sputum, menurunkan viskositas dan kerekatan sekresi.

5. Transfusi PRC

(WHO, 2011)
Nilai Hct yang didapat dari pemeriksaan laboratorium yaitu 78 g/l,
jika dilihat berdasarkan penggolongan anemia diatas, nilai tersebut
masuk ke dalam anemia severe. Menurut Sudoyo (2009), anemia
severe mendapat pengobatan transfusi darah untuk menormalkan kadar
hemoglobinnya.
Terapi obat yang digunakan untuk pasien penderita anemia severe
adalah pemberian transfusi darah (Carson et al, 2012). Penggunaan
darah untuk transfusi hendaknya selalu dilakukan dengan cara rasional
dan efisien yaitu dengan memberikan hanya komponen darah/derivat
plasma yang dibutuhkan saja. Whole blood digunakan untuk
meningkatkan jumlah eritrosit dan volume plasma dalam waktu yang
bersamaan, seperti pada pendarahan aktif dengan kehilangan darah
lebih dari 25-30% volume darah total, sedangkan packed red cell
digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien
yang menunjukkan gejala anemia, yang hanya memerlukan sel darah
merah pembawa oksigen saja, misalnya pada pasien gagal ginjal atau
anemia karena keganasan (Sudoyo, 2009).
Dosis PRC
dosis : 1 unit, 250ml
Jumlah PRC = ∆ Hb x 3 x BB
= (8 -7,8) x 3 x 53
= 31,8 mL
Di pakai secara IV, selama 1-2 jam tetapi tidak lebih dari 4 jam
(Dalimoenthe, 2011).

6. Biocurlive
Biocurlive merupakan kombinasi obat herbal yang mengandung
Ekstrak curcuma, Silymarin phytosome, Ekstrak Schizandrae,
Liquiritae radix, Choline, dan Pyridoxine digunakan sebagai Suplemen
Kesehatan. Ekstrak curcuma baik untuk menjaga dan memelihara organ
hati dan sebagai penambah nafsu makan. Pasien tuberculosis
mengalami peningkatan enzim hati yaitu SGOT dan SGPT karena
penggunaan OAT, curcumin dapat membantu menurunkan atau
mencegah peningkatan dari enzim hati yang menjadi penanda
hepatoksisitas tersebut (Gupta et al, 2013).

7. Infus RL
Infus RL mengandung natrium laktat 3,1 gram, NaCl 6 gram, KCl
0,3 gram, CaCl2 0,2 gram, air. Sebenarnya tidak ada aturan khusus
mengenai penggunaan terapi cairan pada pasien sepsis. Namun,
penggunaan infus RL lebih aman untuk kondisi pasien sepsis yang
mengalami gangguan ginjal dan hati (Avila et al., 2016). DiPiro (2015)
menyebutkan bahwa pemberian albumin dapat diberikan sebagai terapi
cairan pada pasien sepsis jika serum albumin pasien kurang dari 2 g/dL.
Selain itu pemberian albumin juga tidak dianjurkan untuk pasien
dengan gangguan hati dan ginjal, serta dapat meningkatkan pendarahan.

Kebutuhan cairan pasien:


2 cc/kgBB/jam
20 cc x 53 kg x 24 jam = 2544 mL ~ 2500 mL/hari
20 tpm setiap hari selama di RS
d. Monitoring

Monitoring Target
Obat
Keberhasilan ESO Keberhasilan

Neuropati perifer, kejang, Hasil pemeriksaan


Isoniazid
gangguan fungsi hati sputum dan BTA
Hasil pemeriksaan
Gangguan fungsi hati,
sputum dan BTA negatif. gangguan gastrointestinal, negatif. Tidak batuk.
Rifampisin Tidak sesak
Monitoring gangguan urin berwarna merah, skin
rash
penglihatan dan
Gangguan fungsi hati,
Pirazinamid pendengaran setelah gangguan gastrointestinal,
konsumsi obat gout, arthritis
Etambutol Gangguan penglihatan

Tidak terjadi infeksi/ Mual, diare, pusing Leukosit < 10.000


sepsis. Nilai leukosit, /mm3, Nadi 80-100
Moxifloxacin
nadi, RR normal. x/menit, RR sekitar
20 x/menit.
Pengecekan suhu tubuh Pada penggunaan jangka Suhu tubuh pasien
setiap hari. panjang, dapat turun menjadi
Extra
meningkatkan resiko kurang dari 38°C.
Tamoliv
kerusakan ginjal termasuk
gagal ginjal akut.
Pengecekan kondisi Mulut kering dan Sesak dan batuk
Terasma batuk dan sesak yang mengantuk teratasi.
Syrup dialami pasien setiap
hari.
Mencegah anemia pada Demam (55%), reaksi Hb= 13-18, Hct =
Transfusi
pasien alergi (terutama urtikaria) 40-50, MCV = 80-
PRC
20%, reaksi hemolitik 4% 100, MCH = 28-34
Mencegah dehidrasi Suhu tubuh kembali
yang mungkin diderita ESO RL yaitu mual, <36,5oC
pada pasien sepsis. muntah dan sakit kepala kadar
Infus RL leukosit
Kadar elektrolit pasien dipantau setiap hari
(MIMS, 2017). <10.000 /μL, nadi
dicek tiap 3 hari sekali
80-100 x/menit.
e. KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi )
1. Tenaga Kesehatan
- Melakukan pemeriksaan resistensi bakteri terhadap OAT
- Melakukan pemeriksaan BTA dan/atau fotothorax
- Melakukan pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan
gangguan keseimbangan pada pasien setelah pasien
mengonsumsi OAT
- Mengecek suhu tubuh pasien setiap hari
- Mengingatkan jadwal minum obat
- Mengecek efek samping paracetamol yang bersifat
hepatotoksik berupa pengecekan kadar SGOT dan SGPT.
2. Pasien
- Menjaga kebersihan dan kesehatan diri
- Menggunakan masker untuk mencegah penularan TB
- Meningkatkan motivasi untuk meminum obat secara teratur
- Menjaga hygiene, dengan rajin mencuci tangan hingga bersih,
menutup mulut saat batuk atau bersin dan saat berbicara
dengan orang lain
- Edukasi mengenai efek Rifampisin dapat menyebabkan urin
berwarna merah
3. Keluarga Pasien
- Menjaga Kebersihan dan lingkungan pasien untuk mencegah
penularan TB
- Mengingatkan dan memberikan motivasi agar pasien teratur
minum obat
- Memastikan pasien sudah menelan obat
D. KESIMPULAN
DTP yang dialami pasien diantaranya adalah terapi tidak efektif:
Bionemi, tutofushin ops dan infus IVFD 5%; duplikasi terapi: Ekstra
tamoliv dan Parasetamol; wrong dose: transfuse PRC; Obat tidak tepat:
ceftazidine; kebutuhan terapi tambahan: OAT (HRZE); resiko ADR:
Levofloxacin.
Terapi yang disarankan kepada pasien adalah : Infus Ringer laktat,
Injeksi ranitidin, Terasma syrup, Paracetamol, Biocurliv, Transfusi PRC,
OAT (2HRZE/ 4HR).
DAFTAR PUSTAKA

Andrade, Raul J., and Tulkens, Paul M., Hepatic Safety of Antibiotic Used in
Primary Care, J Antimicrob Chemother, 66: 1431–1446.
Avila, Audrey A., Kinberg, Eliezer C., Sherwin, Nomi K., Taylor, Robinson D.,
2016, The Use of Fluids in Sepsis, Cureus, 8(3): e528.
Carson, J.L., Grossman BJ, Kleinman S, et al, 2012, Red Blood Cell Transfusion:
A Clinical Practice Guideline from AABB*, Aron Intern Med, 159:49
Corwin, Elizabeth. 2009. Patofisiologi. Buku saku. Jakarta :EGC.
Dalimoenthe N. Z., 2011. Dasar-Dasar Transfusi Darah, Edisi 1, Divisi
Hematologi Klinik Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran: Bandung.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI, 2007, Farmakologi dan Terapi
Edisi 5, Bagian Farmakologi FK UI, Jakarta.
DiPiro, Joseph T., Robert T.L., Gary, C.Y., Gary R.M., Barbara G.W., dan L.M.
Posey, 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, McGraw-Hill
Med., USA
Drugs, 2017, Ceftazidine, www.drugs.com/pro/ceftazidine, diakses 18 September
2017.
Gupta et al, 2013, Therapeutic Roles of Curcumin: Lessons Learned from Clinical
Trials, AAPS J.; 15(1): 195–218.
Imani, et al. 2014. The Therapeutic Use of Analgesics in Patients With Liver
Cirrhosis: A Literature Review and Evidence-Based Recommendations.
Journal of hepato molecular.
Kemenkes RI, 2011, Pedoman Interpretasi Data Klinik, Kemenkes RI, Jakarta.
Kemenkes, 2014, Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, Kemenkes RI,
Jakarta.
Medscape, 2015, Community-Acquired Pneumonia Empiric Therapy,
http://emedicine.medscape.com/article/2011819-overview, diakses 18
September 2017.
Medscape, 2017, Moxifloxacin, http://reference.medscape.com/drug/avelox-
moxifloxacin-systemic-moxifloxacin-342537, diakses pada tanggal 18
September 2017.
MIMS, 2017, bionemi, http://www.mims.com/indonesia/drug/info/bionemi, diakses
tanggal 15 September 2017.
Sudoyo, 2009, Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam Ed V, Internal publishing, Jakarta
WHO, 2011, Haemoglobin Concentration for the Diagnosis of Anemia and
Assesment of Severity, Departemen of Nutrition for Health and Development,
Switzerland
Wells, B.G., DiPiro, J. T., Schwinghammer, T.L., DiPiro, C.V., 2015,
Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition, The McGraw-Hill Companies :
USA.