Anda di halaman 1dari 30

WRAP UP PBL

SKENARIO 2
“REAKSI ALERGI”

Disusun oleh:
KELOMPOK A-1

KETUA : ANDREW ROZAAN F (1102013028)


SEKRETARIS : ADELIA PUTRI SABRINA (1102013005)
ANGGOTA : ABIYYA FARAH PUTRI (1102013003)
ADELINA ANNISA PERMATA (1102013006)
ANDINI ZULMAETA (1102013027)
ANGGIE ELKA PRATIWI (1102013029)
ANISA NURJANAH (1102013033)
FADHILA AYU SAFIRINA (1102013101)

UNIVERSITAS YARSI
Jl. Let. Jend. Suprapto. Cempaka Putih, Jakarta Pusat. DKI Jakarta. Indonesia. 10510. Telepon:
+62 21 4206675.
SKENARIO 2
REAKSI ALERGI
Seorang perempuan berusia 20 tahun, datang ke dokter dengan keluhan gatal-gatal serta
bentol-bentol merah yang hamper merata ke seluruh tubuh, timbul bengkakpada kelopak mata
dan bibir sesudah minum obat penurun panas (Parasetamol). Pada pemeriksaan fisik didapatkan
angioedema di mata dan bibir serta urtikaria di seluruh tubuh. Dokter menjelaskan keadaan ini
diakibatkan oleh reaksi alergi (hipersesitivitas tipe cepat), sehingga ia mendapatkan obat anti
histamine dan kortikosteroid. Dokter memberikan saran agar selalu berhati-hati dalam meminum
obat sertaberkonsultasi dulu dengan dokter.
A. Kata-kata Sulit
1. Angioedema : Suatu pembengkakan edematous yang difuse pada jaringan lunak
umumnya melibatkan jaringan penghubung subkutan dan submukosa.
Pembengkakan ini disebabkan karena dilatasi dan peningkatan
permeabilitas kapiler
2. Urtikaria : Reaksi alergi yang ditandai dengan bentol-bentol merah dan disertai rasa
gatal
3. Antihistamin : Zat yang mengurangi efek histamine dalam tubuh
4. Kortikosteroid : Hormon steroid yang dihasilkan kelenjar adrenal
5. Alergi : Respon imun spesifik yang tidak sesuai

B. Brainstroming
1. Mengapa bisa terjadi angioedema dan urtikaria?
2. Apa yang dimaksud dengan hipersensitivitas tipe cepat?
3. Mengapa dokter memberikan obat antihistamin dan kortikosteroid?
4. Mengapa paracetamol menyebabkan alergi?
5. Apa saja macam-macam reaksi hipersensitivitas?
6. Bagaimana mekanisme kerja obat antihistamin?
7. Mengapa terjadi bentol-bentol seluruh tubuh?
8. Mengapa angioedema terjadi pada mata dan bibir?

C. Jawaban
1. Karena pembuluh darah mengalami dilatasi dari intraselular ke ekstraselular dan
permeabilitas kapilernya naik. Selain itu, ada juga mediator faktor seperti histamine yang
menyebabkan timbulnya bentol-bentol.
2. Hipersensitivitas tipe cepat yaitu reaksi yang terjadi dalam beberapa menit dan
menghilang dalam 2 jam atau lebih
3. Karena antihistamin berfungsi untuk memblokade pengeluaran histamin yang
menyebabkan timbulnya rasa gatal dan kemerahan.Sedangkan kortikosteroid berfungsi
sebagai anti inflamasi
4. Karena paracetamol mengandung acetaminophen yang ada cincin nitrogennya yang
kadang membuat tubuh menganggapnya sebagai allergen
5. - Hipersensitivitas tipe I
- Hipersensitivitas tipe II
- Hipersensitivitas tipe III
- Hipersensitivitas tipe IV
6. Mekanisme kerja obat antihistamin yaitu memblokade pengeluaran histamine dan sekresi
asam lambung
7. Karena reaksi yang ditimbulkan bersifat sistemik
8. Karena angioedema menyerang jaringan mukosa seperti yang ada pada bibir, mata dan
vagina
D. Hipotesa
Hipersensitivitas adalah reaksi yang disebabkan oleh interaksi antigen dan antibody yang
tidak sesuai
E. Sasaran Belajar
LI.1. Mehamami dan Menjelaskan Hipersensitivitas
1.1. Definisi
1.2. Etiologi
1.3. Klasifikasi
LI.2. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe I
2.1. Definisi
2.2. Etiologi
2.3. Mekanisme
2.4. Manifestasi
LI.3. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe II
3.1. Definisi
3.2. Etiologi
3.3. Mekanisme
3.4. Manifestasi
LI.4. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe III
4.1. Definisi
4.2. Etiologi
4.3. Mekanisme
4.4. Manifestasi
LI.5. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe IV
5.1. Definisi
5.2. Etiologi
5.3. Mekanisme
5.4. Manifestasi
LI.6. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin dan Kortikosteroid
6.1. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin
6.2. Memahami dan Menjelaskan Kortikosteroid
LI.7. Memahami Pandangan Islam tentang alergi obat sebagai dokter muslim
LI.1. Mehamami dan Menjelaskan Hipersensitivitas

1.1. Definisi

Hipersensitivitas adalah keadaan perubahan reaktivitas saat tubuh bereaksi terhadap


respons imun yang berlebihan atau tidak tepat terhadap sesuatu yang dianggap benda asing.
Hasil reaksi ini dapat berupa sutu lesi yang berbentuk ringan sebagai inflamasi lokal sampai syok
menyuluruh. Hipersensitivitas terhadap antigen tubuh sendiri disebut penyakit autoimun.
(Dorland, 2010)

Suatu keadaan dengan respons sistem imun yang menyebabkan reaksi berlebihan atau
tidak sesuai yang membahayakan hospesnya sendiri. Pada orang tertentu, reaksi-reaksi tersebut
secara khas terjadi setelah kontak kedua dengan antigen spesifik (alergen). Kontak pertama
adalah kejadian pendahulu yang diperlukan yang dapat menginduksi sensitasi terhadap antigen
spesifik tersebut.

(Jawetz et al. 2008 )

1.2. Etiologi

Penyebab alergi tidaklah jelas walaupun tampaknya terdapat predisposisi genetic.


Predisposisi tersebut dapat berupa pengikatan IgE yang berlebihan, mudahnya sel mast dipicu
untuk berdegranulasi , atau respon sel T helper yang berlebihan. Hasil penelitian terkini
menunjukan bahwa defisiensi sel T regulatori dapat menyebabkan responsivitas berlebihan dari
system imun dan alergi. Pajanan berlebihan terhadap alergen-alergen tertentu setiap saat,
termasuk selama gestasi, dapat menyebabkan respon alergi.
Secara umum semua benda di lingkungan (pakaian, makanan, tanaman, perhiasan, alat
pembersih, dsb) dapat menjadi penyebab alergi, namun faktor lain misalnya :

 Perbedaan keadaan fisik setiap bahan


 Kekerapan pajanan
 Daya tahan tubuh seseorang
 Adanya reaksi silang antar bahan akan berpengaruh terhadap timbulnya alergi
(Retno W.Soebaryo, 2002)

Faktor yang berperan dalam alergi makanan yaitu :


Faktor Internal
 Imaturitas usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi : asam lambung, enzym-
enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi imunologis (misalnya : IgA sekretorik)
memudahkan penetrasi alergen makanan. Imaturitas juga mengurangi kemampuan usus
mentoleransi makanan tertentu.
 Genetik berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai janin sampai masa
bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma kehidupan setempat.
 Mukosa dinding saluran cerna belum matang yang menyebabkan penyerapan alergen
bertambah.
Fakor Eksternal
 Faktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau
beban latihan (lari, olah raga).
 Contoh makanan yang dapat memberikan reaksi alergi menurut prevalensinya: ikan
15,4%; telur 12,7%; susu 12,2%; kacang 5,3% dll.
 Hampir semua jenis makanan dan zat tambahan pada makanan dapat menimbulkan reaksi
alergi.

1.3. Klasifikasi

 Pembagian reaksi Hipersensitivitas menurut waktu timbulnya reaksi


A. Reaksi Cepat
Reaksi cepat terjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam. Ikatan silang antara
allergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi penglepasan mediator vasoaktif.
Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal.
B. Reaksi Intermediet
Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam. Reaksi ini
melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui aktivasi
komplemen dan atau sel NK/ADCC. Manifestasi reaksi intermediet berupa:
 Reaksi transfusi darah, eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun
 Reaksi arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness, vaskulitis nekrotis,
glomerulonefritis, arthritis rheumatoid dan LES
Reaksi intermediet diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan pejamu yang disebabkan
oleh sel neutrofil atau sel NK.
C. Reaksi Lambat
Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah terjadi pejanan dengan antigen yang
terjadi oleh aktivasi sel Th. Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel
efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh reaksi lambat adalah
dermatitis kontak, reaksi M. tuberculosis dan reaksi penolakan tandur.

Perbedaan Reaksi cepat Reaksi intermediet Reaksi lambat


Waktu timbul Terjadi setelah beberapa Terjadi setelah 48 jam
Hitungan detik
reaksi jam terpajan terpajan

 Pembagian reaksi Hipersensitivitas menurut Gell dan Coombs


Reaksi menurut Gell dan Coombs dibagi menjadi 4 bagian berdasarkan tipe mekanisme
imunologi yaitu :
1. Hipersensitivitas tipe I
2. Hipersensitivitas tipe II
3. Hipersensitivitas tipe III
4. Hipersensitivitas tipe IV
http://childrenallergyclinic.wordpress.com

Pembagian Gell dan Coombs seperti terlihat di atas dibuat sebelum analisis yang mendetail
mengenai subset dan fungsi sel T diketahui. Berdasarkan penemuan-penemuan dalam penelitian
imunologi, telah dikembangkan beberapa modifikasi klasifikasi Gell dan Coombs yang membagi
lagi Tipe IV dalam beberapa subtype reaksi. Meskipun reaksi Tipe I, II, dan III dianggap sebagai
reaksi humoral, sebetulnya reaksi-reaksi tersebut masih memerlukan bantuan sel T atau peran
selular. Oleh karena itu pembagian Gell dan Coombs telah dimodifikasi lebih lanjut seperti
terlihat pada tabel:

Mekanisme Gejala Contoh


Tipe I: IgE Anafilaksis, Urtikaria, Penisilin dan β-lactam lain, enzim,
Angioedema, Mengi, antiserum, protamin, heparin
Hipotensi, Nausea, antibody monoclonal, ekstrak
Muntah, Sakit Abdomen, allergen, insulin,
Diare
Tipe II: Sitotoksik  Agranulotis  Metamizol, Fenotiazin
(IgG dan IgM)  Anemia Hemolitik  Penisilin, Sefalosporin, β-
Lactam, Kinidin, Metildopa
 Trombositopenia  Karbamazepin, Fenotiazin,
Tiourasil, Sulfonamid,
Antikonvulsan, kinin, kinidin,
Parasetol, Sulfonamid, Propil
Tiourasil, Perparat Emas
Tipe III : Kompleks Imun  Panas, Urtikaria,  B-lactam, Sulfonamid, Fenitoin,
(IgG dan IgM) Atralgia, Limfadenopati Streptomisin
 Serum Sickness  Serum Xenogenik, Penisilin,
Globulin anti-timosit
TipeIV : Hipersensitivitas  Eksim, Eritema,  Penisilin, Anestetik Lokal
Seluler Melepuh, Pruritus
 Fotoalergi  Antihistamin topical, Neomisin,
Pengawet, Eksipien, Desinfektan
 Barbiturat, kinin
 Fixed Drug Eruption  Penisilin, Emas, Barbiturat, β-
 Lesi Makulopapular blocker
Tipe V: Reaksi Granuloma Ekstrak allergen, Kolagen larut
Granuloma
Tipe VI: Hipersensitivitas Resistensi Insulin Hidralazin, Prokainamid. Antibodi
Stimulasi terhadap insulin (IgG)

LI.2. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe I


2.1. Definisi
Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi, timbul
sesudah tubuh terpapar dengan alergen. Istilah alergi yang pertama kali digunakan Von Pirquet
pada tahun 1906 yang berasal dari alol (Yunani) yang berarti perubahan dari asalnya yang
dewasa. Ini diartikan sebagai perubahan reaktivitas organisme. Reaksi Tipe I ini diperantarai
oleh IgE. Pada reaksi ini, Sel mast akan mengeluarkan histamin, leukotrin, prostaglandin,
sitokinin dan Platelet activating factor (PAF)
2.2. Etiologi
Pasien-pasien dengan alergi saluran nafas musiman sebagai akibat inhalasi tepungsari,
serpihan kulit hewan dan spora jamur. Selain itu dapat juga dicetuskan makanan tertentu seperti
buah-buahan, udang, ikan, produk-produk susu, coklat, kacang-kacangan dan obat-obatan. Bahan
tersebut dapat mencetuskan reaksi anafilaksis dengan keluhan yang menonjol pada sistem
kardiovaskular dan gastrointestinal, selain juga menyebabkan urtikaria kronik. Pencetus urtikaria
lainnya yang mungkin adalah rangsangan fisik seperti dingin, panas, sinar matahari, latihan
fisik/olahraga dan iritasi mekanik. Demam, mandi air hangat, atau olahragadimana terjadi
peningkatan temperatur tubuh dapat mencetuskan urtikaria koligemik. Pemicu lain
hipersensitivitas adalah cahaya, air pada temperatur berapapun dan bahan kimia tertentu. Bahan-
bahan karet alam seperti lateks, merupakan masalah tersendiri bagi pekerja medis.

2.3. Mekanisme

Pada reaksi tpe I, alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun berupa
produksi IgE dan penyakit alergi seperti rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi.
Pada tipe I terdapat beberapa fase, yaitu :
o Fase sensitasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat silang
oleh reseptor spesifik pada permukaan sek mast/basofil.
o Fase aktivasi yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang
spesifik dan sel mast/basofil melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan
reaksi. Hal ini terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE.
o Fase efektor yaitu waktu yang terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator-mediator yang dilepas sel mast/basofil dengan aktivasi farmakologik.
http://nfs.unipv.it/nfs/minf/dispense/immunology/lectures/files/images/type1_hypersensitivity.jpg

Pajanan dengan antigen mengaktifkan sel Th2 yang merangsang sel B berkembang menjadi
sel plasma yang memproduksi IgE. Molekul IgE yang dilepas diikat oleh FceR1 pada sel mast
dan basofil (banyak molekul IgE dengan berbagai spesifisitas dapat diikat FceR1). Pajanan
kedua dengan alergen menimbulkan ikatan silang antara antigen dan IgE yang diikat sel mast,
memacu pelepasan mediator farmakologis aktif (amin vasoaktif) dari sel mast dan basofil.
Mediator-mediator tersebut menimbulkan kontraksi otot polos, meningkatkan permeabilitas
vaskular dan vasodilatasi, kerusakan jaringan dan anafilaksis.

Preformed Mediator pada Reaksi Hipersensitivitas tipe I


A. Histamin
Histamin merupakan komponen utama granul sel mast dan sekitar 10% dari berat granul.
Histamine yang merupakan mediator primer yang dilepas akan diikat oleh reseptornya. Ada
4 reseptor histamine ( H1,H2,H3,H4 ) dengan distribui yang berbeda dalam jaringan dan
bila berikatan dengan histamine, menunjukkan berbagai efek.
B. PG dan LT
PG dan LT dihasilkan dari metabolism asam arakidonat serta berbagai sitokin berperan pada
fase lambat reaksi tipe 1. PG dan LT merupakan mediator sekunder yang kemudian
dibentuk dari metabolism asam arakidonat atas pengaruh fosfolipase A2. Efek biologisnya
timbul lebih lambat, namun lebih menonjol dan berlangsung lebih lama disbanding dengan
histamine. LT berperan pada bronkokonstriksi, peningkatan permeabilitas vascular dan
produksi mucus. PGE2 menimbulkan bronkokonstriksi.
C. Sitokin
Sitokin dilepas sel mast dan basofil (IL-3,IL-4,IL-5,IL-6,IL-10,IL-13,GM-CSF dan TNF-α).
Beberapa berperan dalam reaksi tipe 1. Sitokin tersebut mengubah lingkungan mikro dan
dapat mengerahkan sel inflamasi seperti neutrofil dan eosinofil. IL-4 dan IL-13
meningkatkan produksi IgE oleh sel B. IL-5 berperan dalam pengerahan dan aktivasi
eusinofil.
Mediator primer utama pada hipersensitivitas Tipe 1
Mediator Efek
Histamin H1: permeabilitas vaskuler meningkat, vasodilatasi, kontraksi otot
polos
H2: Sekresi Mukosa Gaster Aritmia Jantung
H3: SSP (regulator?)
H4: Eosinofil (?)
ECF-A Kemotaksis eosinofil
NCF-A Kemotaksis neutrofil
Eosinophil chemotactic Kemotaktik untuk eosinofil
Neutrophil chemotactic Kemotaktik untuk neutrofil
Protease Sekresi mukus bronkial, degradasi membran basal pembuluh
darah, pembentukan produk pemecah komplemen
PAF Agregasi dan degranulasi trombosit, kontraksi otot polos paru
Hidrolase asam Degradasi matriks ekstraseluler
NCA Kemotaksis neutrofil
BK-A Kalikrein : kininogenase
Proteoglikan Heparin, kondrotin sulfat, sulfat dermatan; mencegah komplemen
yang menimbulkan koagulasi (?)
Enzim Kimase, triptase, proteolisis

Mediator sekunder utama pada Hipersensitivitas Tipe 1


Mediator Efek
LTR (SRS-A) Peningkatan permeabilitas vascular,
vasodilatasi, sekresi mucus, kontraksi oto
polos paru, kemotaktik neutrofil
PG Vasodilatasi, kontraksi otot polos paru,
agregasi trombosit, kemotaktik neutrofil,
potensial mediator lainnya
Bradikinin Peningkatan permeabilitas kapiler,
vasodilatasi kontraksi otot polos, stimulasi
ujung saraf nyeri
Sitokin Bervariasi
IL-1 dan TNF-a Anafilaksis, peningkatan ekspresi CAM
pada sel endotel venul
IL-3, IL-5, IL-6, IL-10, TGF-B dan GM-CSF Berbagai efek dapat dilihat di sitokin
IL4, PMN, demam TNF-a Aktivasi monosit, eosinofil, demam
FGF Fibrosis
Inihibitor Protease Mencegah kinase
Lipoksin Bronkokonstriksi
Leukotrin (LTC4 LTD4 LTE4) Kontraksi otot polos (jangka lama),
meningkatkan permeabilitas, kemotaksis
Leukotrin B4, 15 –HETE Sekresi Mukus
PAF Kemotaksis (terutama eosinofil),
bronkospasme
2.4. Manifestasi

 Reaksi Lokal
Reaksi hipersensitivitas tipe I local terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang
biasanya melibatkan permukaan epitel tempat allergen masuk. 20% populasi
menunjukkan penyakit melalui IGE yaitu asma, rintitits alergi dan dermatitis atopi.
Sekitar 50-70% membentuk IgE terhadap antigen yang masuk ke tubuh melalui mukosa
seperti selaput lender hidung, paru, konjungtiva. IgE yang sudah ada pada permukaan sel
mast akan menetap selama beberapa minggu. Sensitasi dapat terjadi secara pasif jika
serum orang yang alergi dimasukkan ke dalam kulit/ sirkulasi orang normal
 Reaksi Sistemik-Anafilaksis
Anafilaksis adalah reaksi tipe I yang dapat fatal dan terjadi dalam beberapa menit
saja.Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang cepat, ditimbulkan IgE yang dapat
mengancam nyawa. Reaksi dapat dipicu oleh berbagai allergen seperti makanan (asal
laut, kacang-kacangan), obat atau sengatan serangga dan juga lateks.
 Reaksi Pseudoalergi atau Anafilaktoid
Reaksi Pseudoalergi atau anafilaktoid adalah reaksi sistemik umum yang melibatkan
pelepasan mediator oleh sel mast yang tidak terjadi melalui IgE. Secara klinis, reaksi ini
menyerupai reaksi tipe I seperti syok, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis, pruritus,
tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun. Reaksi ini tidak memerlukan pajanan terlebih
dahulu untuk menimbulkan sensitasi. Reaksi anafilaktoid dapat ditimbulkan antimikroba,
protein, kontras dengan yodium, AINS, etilenoksid, taksol dan pelemas otot
(Baratawidjaja, 2009)

Pemicu Reaksi Anafilaksis / Anafilaktoid


Obat Antibiotik, aspirin dan AINS lain, vaksin,
obat perioperasi, antisera, opiate
Hormon Insulin, Progesteron
Darah / produk darah Imunoglobuin IV
Enzim Streptokinase
Makanan Susu, telur, terigu, soya, kacang tanah
Venom (bisa) Lebah, semut api
Lain Lateks, kontras, membrane dialisa, ekstrak
imunoterapi, protamin, cairan seminal

Reaksi Alergi
Jenis Alergi Alergen Umum Gambaran
Anafilaksis Obat, serum, kacang- Edema dengan peningkatan
kacangan permeabilitas kapiler, okulasi trakea ,
koleps sirkulasi yang dapat
menyebabkan kematian
Urtikaris akut Sengatan serangga Bentol, merah
Rinitis alergi Polen, tungau debu rumah Edema dan iritasi mukosa nasal
Asma Polen, tungau debu rumah Konstriksi bronkial, peningkatan
produksi mukus, inflamasi saluran
nafas
Makanan Kerang, susu, telur, ikan, Urtikaria yang gatal dan potensial
bahan asal gandum menjadi anafilaksis
Ekzem atopi Polen, tungau debu runah, Inflamasi pada kulit yang terasa gatal,
beberapa makanan biasanya merah dan ada kalanya
vesikular

LI.3. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe II

3.1. Definisi

Reaksi tipe II disebut juga reaksi sitotoksik, terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG
atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi diawali oleh reaksi
antibody dengan determinan antigen yang merupakan bagian dari membrane sel. Antibodi
tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fcy-R dan juga sel NK yang dapat
berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui ADCC.

3.2. Etiologi
Reaksi hipersensitivitas tipe II atau Sitotoksis terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG
atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi ini dimulai dengan
antibodi yang bereaksi baik dengan komponen antigenik sel, elemen jaringan atau antigen atau
hapten yang sudah ada atau tergabung dengan elemen jaringan tersebut. Kemudian kerusakan
diakibatkan adanya aktivasi komplemen atau sel mononuklear.
(http://www.analiskesehatan.web.id)

Penyebabnya adalah adanya sel klon yang terbentuk karena tumor, infeksi virus, atau
terinduksi mutagen. Sel klon tersebut memiliki kecacatan DNA sehingga harus dimusnahkan.
Jika tidak dimusnahkan, sel target tersebut dapat membentuk klon baru yang lebih banyak dan
menyebabkan kerusakan jaringan. Tubuh merespon terhadap sel klon ini dengan cara
membentuk IgG atau IgM yang selanjutnya menyebabkan lisis sel target.
Contoh kasus yang menyebabkan hipersensitivitas tipe II adalah reaksi transfuse darah
yang tidak cocok, inkompabilitas Rh dalam kehamilan yang menyebabkan erythroblastosis
fetalis, dan penyakit anemia hemolitik karena alergi antibiotic.

(Baratawidjaja, 2009)

3.3. Mekanisme

Reaksi yang bergantung pada Komplemen

Hipersensitivitas Reaksi yang bergantung pada ADCC


Tipe II
Disfungsi Sel akibat Antibodi
REAKSI YANG BERGANTUNG PADA KOMPLEMEN

Sel normal terinfeksi oleh antigen → IgG berikatan dengan antigen → Sel
diopsonisasi agar mudah di fagosit → Pengaktifan komplemen yang menghasilkan C3B
dan C4B yang dapat meningkatkan fagositosis → Sel yang diopsonisasi dikenali oleh Fc
receptor → Sel di fagositosis oleh makrofag dan neutrofil

Antibodi terikat pada jaringan ekstraseluler (membrane basal atau matriks) →


Pengaktifan komplemen → Menghasilkan C5a dan C3a C5a menarik neutrofil dan monosit →
Leukosit aktif melepaskan bahan perusak → Kerusakan Jaringan

Saat antibodi terikat pada jaringan ekstraselular (membran basal dan matriks), kerusakan
yang dihasilkan merupakan akibat dari inflamasi, bukan fagositosis/lisis sel. Antibodi yang
terikat tersebut akan mengaktifkan komplemen, yang selanjutnya menghasilkan terutama C5a
(yang menarik neutrofil dan monosit). Sel yang sama juga berikatan dengan antibodi melalui
reseptor Fc. Leukosit aktif, melepaskan bahan-bahan perusak (enzim dan intermediate oksigen
reaktif), sehingga menghasilkan kerusakan jaringan. Reaksi ini berperan pada glomerulonefritis
dan vascular rejection dalam organ grafts.

REAKSI YANG BERGANTUNG PADA ADCC

Pertama, sel target mengekspresikan protein asing atau antigen. Lalu antigen ditangkap
oleh limfosit b. Selanjutnya, limfosit B aktif dan berubah menjadi sel plasma.Lalu sel plasma
menghasilkan antibody. Antibody akan berikatan dengan sel killer yang memiliki reseptor
antibody. Sel killer bersana dengan antibody yang menempel di permukaannya selanjutnya
menyerang sel target yang memasang antigennya di permukaannya. Antibody berikatan dengan
antigen di permukaan dan selanjutnya menyebabkan sel target tersebut lisis
DISFUNGSI SEL AKIBAT ANTIBODI

Pada beberapa kasus, antibodi yang diarahkan untuk melawan reseptor permukaan sel
merusak atau mengacaukan fungsi tanpa menyebabkan jejas sel atau inflamasi. Contohnya yaitu
pada penyakit miastenia gravis, antibodi terhadap reseptor asetilkolin dalam motor end-plate
otot-otot rangka mengganggu transmisi neuromuskular disertai kelemahan otot. Jadi antibodi
mem-block reseptor asetikolin yang berfungsi dalam kontraksi otot.
Contoh lainnya yaitu yang terjadi pada Graves disease. Graves disease adalah penyakit
yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar
tiroid. Akibatnya, Sel tiroid akan memproduksi hormon tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme).

(Kumar,2005)
3.4. Manifestasi

1. Reaksi transfusi
Sejumlah besar protein dan glikoprotein pada membran SDM disandi oleh berbagai gen.
Individu golongan darah A mendapat transfusi golongan B terjadi reaksi transfusi, karena
anti B isohemaglutinin berikatan dengan sel darah B yang menimbulkan kerusakan darah
direk oleh hemolisis masif intravascular. Reaksi dapat cepat atau lambat .
Reaksi cepat biasanya disebabkan oleh inkompatibiltas golongan darah ABO yang dipacu
oleh IgM. Dalam beebrapa jam hemoglobin bebas dapat ditemukan dalam plasma dan
disaring melalui ginjal dan menimbulkan hemoglobinuria. Beberapa hemoglobin diubah
menjadi bilirubin yang Pada kadar tinggi bersifat toksik. Gejala khasnya berupa demam,
menggigil, nausea, bekuan dalam pembuluh darah, nyeri pinggang bawah dan
hemoglobinuria.
Reaksi transfuse darah yang lambat terjadi pada mereka yang pernah mendapat transfuse
berulang dengan darah yang kompatibel ABO namun inkompatibel dengan golongan darah
lainnya. Darah yang ditransfusikan memacu pembentukan IgG terhadap berbagai antigen
membrane golongan darah, tersering adalah golongan rhesus, kidd, kell dan Duffy
2. Reaksi Antigen Rhesus
Ada sejenis reaksi transfusi yaitu reaksi inkompabilitas Rh yang terlihat pada bayi baru
lahir dari orang tuanya denga Rh yang inkompatibel (ayah Rh+ dan ibu Rh-). Jika anak
yang dikandung oleh ibu Rh- menpunyai darah Rh+ maka anak akan melepas sebagian
eritrositnya ke dalam sirkulasi ibu waktu partus. Hanya ibu yang sudah disensitasi yang
akan membentuk anti Rh (IgG) dan hal ini akan membahayakan anak yang dikandung
kemudian. Hal ini karena IgG dapat melewati plasenta. IgG yang diikat antigen Rh pada
permukaan eritrosit fetus biasanya belum menimbulkan aglutinasi atau lisis. Tetapi sel
yang ditutupi Ig tersebut mudah dirusak akibat interaksi dengan reseptor Fc pada fagosit.
Akhirnya terjadi kerusakan sel darah merah fetus dan bayi lahir kuning, Transfusi untuk
mengganti darah sering diperlukan dalam usaha menyelamatkan bayi.
3. Anemia hemolitik
 Antibiotika tertentu seperti penisilin, sefalosporin, dan streptomisin dapat diabsorbsi
non spesifik pada protein membran SDM yang membentuk kompleks serupa
kompleks molekul hapten pembawa
 Pada beberapa penderita, kompleks membentuk ab yang selanjutnya mengikat obat
pada SDM dan dengan bantuan komplemen menimbulkan lisis dengan dan anemia
progresif.
(Baratawidjaja, 2009)

LI.4. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe III

4.1. Definisi

Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun. Antibodi untuk hipersensitivitas III
menggunakan jenis IgM atau IgG. Terjadinya reaksi kompleks imun dirangsang oleh
pengendapan kompleks antigen-antibodi dalam sirkulasi jaringan dan pembuluh darah. Reaksi
ini mengakibatkan aktivasi komplemen, respons radang polimorfonuklear dan kerusakan
jaringan. Tipe hipersensitivitas ini ditemukan pada infeksi bakteri persisten tertentu.
(Baratawidjaja, 2009)

4.2. Etiologi

Penyebab reaksi hipersensitivitas tipe III yang sering terjadi, terdiri dari :
o Infeksi persisten
- Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat kompleks mengendap
adalah organ yang diinfektif dan ginjal.
o Autoimunitas
- Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat kompleks mengendap
adalah ginjal, sendi, dan pembuluh darah.
o Ekstrinsik
- Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen lingkungan. Dimana
tempat kompleks yang mengendap adalah paru.

Selain itu, reaksi hipersensitivitas III bisa disebabkan oleh adanya kompleks imun ukuran
kecil yang susah untuk dimusnahkan dan malah mengendap di dinding pembuluh darah.
Kompleks antibodi berikatan dengan komplemen dan memicu neutrophil untuk berdegranulasi.
Degranulasi neutrofil menyebabkan kerusakan jaringan.

4.3. Mekanisme

Dalam keadaan normal, kompleks imun yang terbentuk akan diikat dan diangkut oleh
eritrosit ke hati, limpa dan paru untuk dimusnahkan oleh sel fagosit dan PMN. Kompleks imun
yang besar akan mudah untuk di musnahkan oleh makrofag hati. Namun, yang menjadi masalah
pada reaksi hipersensitivitas tipe III adalah kompleks imun kecil yang tidak bisa atau sulit
dimusnahkan yang kemudian mengendap di pembuluh darah atau jaringan.

1. Kompleks Imun Mengendap di Dinding Pembuluh Darah


Makrofag yang diaktifkan kadang belum dapat menyingkirkan kompleks imun sehingga
makrofag dirangsang terus menerus untuk melepas berbagai bahan yang dapat merusak
jaringan. Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan:
- Agregasi trombosit
- Aktivasi makrofag
- Perubahan permeabilitas vaskuler
- Aktivasi sel mast
- Produksi dan pelepasan mediator inflamasi
- Pelepasan bahan kemotaksis
- Influks neutrofil

2. Kompleks Imun Mengendap di Jaringan


Hal yang memungkinkan kompleks imun mengendap di jaringan adalah ukuran kompleks
imun yang kecil dan permeabilitas vaskuler yang meningkat. Hal tersebut terjadi karena histamin
yang dilepas oleh sel mast.

http://medchrome.com/wp-content/uploads/2011/08/type-3-hypersensitivity.jpg
 Immune Complex Formation
Adanya antigen di dalam pembuluh darah memicu respon imun yang membuat
dilakukannya produksi antibodi, sekitar satu minggu sesudah injeksi protein. Pada reaksi
hipersensitivitas tipe III, antibodi bereaksi dengan antigen bersangkutan membentuk
kompleks antigen antibodi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi.
 Immune Complex Deposition
Kompleks imun akan mengendap pada jaringan tertentu seperti endotel, kulit,
ginjal dan persendian. Organ yang darahnya tersaring pada tekanan tinggi untuk
membentuk cairan lain seperti urin dan cairan sinovial lebih sering terserang sehingga
meningkatkan kejadian kompleks imun pada glomerulus dan sendi. Neutrofil dan leukosit
mulai digerakkan ke tempat reaksi dan menimbulan obstruksi aliran darah. Aktivasi
sistem komplemen, menyebabkan pelepasan berbagai mediator oleh mastosit.
 Immune Complex-Mediated Inflammation
C3a dan C5a yang terbentuk pada aktivasi komplemen meningkatkan
permeabilitas pembuluh darah yang menimbulkan edema. C3a dan Ca berfungsi sebagai
fakor kemotaktik. Neutrofil yang diaktifkan memakan kompleks imun bersama dengan
trombosit yang digumpalkan melepas berbagai bahan seperti kolagenase proteinase,
kolegenase, enzim pembentuk kinin dan bahan vasoaktif. Akhirnya terjadi pendarahan
yang disertai nekrosis jaringan setempat.

Reaksi tipe III mempunyai 2 bentuk :


a. Reaksi Arthus
Pada reaksi bentuk arthus, ditemukan eritema ringan dan edema dalam 2-4 jam sesduah
suntikan. Reaksi tersebut menghilang keesokan harinya. Suntikan selanjutnya
menimbulkan edema yang lebih besar dan suntikan yang ke 5-6 menimbulkan perdarahan
dan nekrosis. Hal tersebut disebut fenomena arthus yang merupakan bentuk reaksi dari
kompleks imun. Reaksi arthus membutuhkan antigan dan antibodi dalam jumlah besar.
Antigen yang disuntikkan akan membentuk kompleks yang tidak larut dalam sirkulasi
dan mengalami pengendapan. Mekanisme pada reaksi arthus adalah sebaga berikut :
1. Neutrofil menempel pada endotel vaskular kemudian bermigrasi ke jaringan
tempat kompleks imun diendapkan. Reaksi yang timbul yaitu berupa
pengumpulan cairan di jaringan (edema) dan sel darah merah (eritema) sampai
nekrosis.
2. C3a dan C5a yag terbentuk saat aktivasi komplemen meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah sehingga memperparah edema. C3a dan C5a juga bekerja sebagai
faktor kemotaktik sehingga menarik neutrofil dan trombosit ke tempat reaksi.
Neutrofil dan trombosit ini kemudian menimbulkan statis dan obstruksi total
aliran darah.
3. Neutrofil akan memakan kompleks imun kemudian akan melepas bahan-bahan
seperti protease, kolagenase dan bahan-bahan vasoaktif bersama trombosit
sehingga akan menyebabkan perdarahan yang disertai nekrosis jaringan setempat.

b. Reaksi serum sickness


Reaksi serum sickness ditemukan sebagai konsekuensi imunasi pasif pada pengobatan
infeksi seperti difteri dan tetanus. Antibodi yang berperan dalam reaksi ini adalah IgG
atau IgM dengan mekanisme sebagai berikut:
1. Komplemen yang telah teraktivasi melepaskan anafilatoksin (C3a dan C5a) yang
memacu sel mast dan basofil melepas histamin.
2. Kompleks imun lebih mudah diendapkan di daerah dengan tekanan darah yang
tinggi dengan putaran arus (contoh: kapiler glomerulus, bifurkasi pembuluh darah,
plexus koroid, dan korpus silier mata)
3. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mkrotrombi
kemudian melepas amin vasoaktif. Bahan-bahan vasoaktiv tersebut mengakibatkan
vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan inflamasi.
4. Neutrofil deikerahkan untuk menghancurkan kompleks imun. Neutrofil yang
terperangkap di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks tetapi akan tetap
melepaskan granulnya (angry cell) sehingga menyebabkan lebih banyak kerusakan
jaringan.
5. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut juga meleaskan mediator-mediator
antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan

Dari mekanisme diatas, beberapa hari – minggu setelah pemberian serum asing akan
mulai terlihat manifestasi panas, gatal, bengkak-bengkak, kemerahan dan rasa sakit di
beberapa bagian tubuh sendi dan kelenjar getah bening yang dapat berupa vaskulitis
sistemik (arteritis), glomerulonefritis, dan artiritis. Reaksi tersebut dinamakan reaksi
Pirquet dan Schick.

4.4. Manifestasi

Manifestasi klinis hipersensitivitas III yaitu :


a. Urtikaria, angioedema, eritema, makulopapula, eritema multiforme
b. Demam
c. Kelaianan sendi
d. Limfadenopati
e. Sindrom lupus eritematosus sistemik
f. Glomerulonefritis

Penyakit oleh kompleks imun

Penyakit Spesifitas Mekanisme Manifestasi


antibody klinopatologi
Lupus eritematosus DNA, Inflamasi diperantarai Nefritis, vaskulitis,
nucleoprotein komlplemen dan arthritis
reseptor Fc
Poliarteritis nodosa Antigen Inflamasi diperantarai Vaskulitis
permukaan virus komplemen dan
hepatitis B reseptor Fc
Glomreulonefritis Antigen dinding Inflamasi diperantarai Nefritis
post-streptokokus sel streptokokus komplemen dan
reseptor Fc
LI.5. Memahami dan Menjelaskan Hipersensitivitas tipe IV

5.1. Definisi

Reaksi tipe IV disebut juga reaksi hipersensitivitas lambat, cell mediated imunity (CMI),
Delayed Type Hypersensitivity (DTH). Reaksi terjadi karena respons sel T yang sudah
disensitasi terhadap antigen tertentu. Tidak ada pernan antibodi. Antigen yang dapat
menimbulkan reaksi tersebut berupa jaringan asing, mikroorganisme intraseluler, protein atau
bahan kimia yang dapat menembus kulit. Merupakan hipersensitivitas tipe lambat yang dikontrol
sebagian besar oleh reaktivitas sel T terhadap antigen. Reaksi hipersensitivitas tipe IV telah
dibagi menjadi :

 Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV


Merupakan hipersensitivitas granulomatosis, terjadi pada bahan yang tidak dapat
disingkirkan dari rongga tubuh seperti talkum dalam rongga peritoneum dan kolagen
sapi dari bawah kulit.

 T Cell Mediated Cytolysis


Kerusakan jaringan terjadi melalui sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel
sasaran.
5.2. Etiologi

Reaksi ini terjadi karena sel T melepas sitokin bersama dengan produksi mediator
sitotoksik lainnya yang menimbulkan respon inflamasi yang terlihat pada penyakit kulit
hipersensitivitas lambat.

5.3. Mekanisme

http://nfs.unipv.it/nfs/minf/dispense/immunology/lectures/files/images/type4_hypersensitivit
y.jpg
a. Fase Sensitasi
Membutuhkan waktu 1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th diaktifkan oleh
APC melalui MHC-II. Berbagai APC (sel Langerhans / SD pada kulit dan makrofag)
menangkap antigen dan membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk dipresentasikan ke
sel T sehingga terjadi proliferasi sel Th1 (umumnya).

b. Fase Efektor
Pajanan ulang dapat menginduksi sel efektor sehingga mengaktifkan sel Th1 dan melepas
sitokin yang menyebabkan :
- Aktifnya sistem kemotaksis dengan adanya zat kemokin (makrofag dan sel inflamasi).
Gejala biasanya muncul nampak 24 jam setelah kontak kedua.
- Menginduksi monosit menempel pada endotel vaskular, bermigrasi ke jaringan sekitar.
- Mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai APC, sel efektor, dan menginduksi sel
Th1 untuk reaksi inflamasi dan menekan sel Th2.

Mekanisme kedua reaksi adalah sama, perbedaannya terletak pada sel T yang teraktivasi.
Pada Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV, sel Th1 yang teraktivasi dan pada T Cell
Mediated Cytolysis, sel Tc/CTL/ CD8+ yang teraktivasi.
Granuloma terbentuk pada : TB, Lepra, Skistosomiasis, Lesmaniasis dan Sarkoidasis .

5.4. Manifestasi

 Dematitis kontak
Merupakan penyakit CD8+ yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang tidak berbahaya
seperti formaldehid, nikel, bahan aktif pada cat rambut (contoh reaksi DTH).

 Hipersensitivitas tuberkulin
Bentuk alergi spesifik terhadap produk filtrat (ekstrak/PPD) biakan Mycobacterium
tuberculosis yang apabila disuntikan ke kulit (intrakutan), akan menimbulkan reaksi ini
berupa kemerahan dan indurasi pada tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu yang
pernah kontak dengan M. tuberkulosis, kulit akan membengkak pada hari ke 7-10 pasca
induksi. Reaksi ini diperantarai oleh sel CD4+.

 Reaksi Jones Mote


Reaksi terhadap antigen protein yang berhubungan dengan infiltrasi basofil yang mencolok
pada kulit di bawah dermis, reaksi ini juga disebut sebagai hipersensitivitas basofil kutan.
Reaksi ini lemah dan nampak beberapa hari setelah pajanan dengan protein dalam jumlah
kecil, tidak terjadi nekrosis jaringan. Reaksi ini disebabkan oleh suntikan antigen larut
(ovalbumin) dengan ajuvan Freund.

 Penyakit CD8+ ( T cell mediated cytolysis )


Kerusakan jaringan terjadi melalui sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel sasaran.
Penyakit ini terbatas pada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik, contoh pada
infeksi virus hepatitis.
Contoh mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe IV :
Reaksi pada infeksi parasit dan bakteri intrasel
a. DTH mengaktifkan influks makrofag pada infeksi yang tidak dapat ditemukan oleh
antibodi.
b. Makrofag melepaskan enzim litik yang menyebabkan kerusakan jaringan.
c. Bila enzim litik terus diproduksi dapat mengakibatkan reaksi granulomatosis yang
akan menyebabkan nekrosis pada jaringan yang dapat mengenai jaringan pembuluh
darah.

Respon pada infeksi M. tuberkulosis


a. Bakteri mengaktifkan respon DTH yang selanjutnya mengaktifkan makrofag yang
merangsang isolasi kuman dalam lesi granuloma (tuberkulin)
b. Tuberkulin akan melepaskan enzim litik yang akan merusak jaringan paru-paru dan
menimbulkan nekrosis jaringan.

Granuloma terbentuk pada :


a. TB
b. Lepra
c. Skistosomiasis
d. Lesmaniasis
e. Sarkoidasis

LI.6. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin dan Kortikosteroid

6.1. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin

Generasi I CTM (klorfeniramin)

AH1
Terfenadin, Astemizol,
Generasi II Loratadin, Akrivastin,
Antihistamin
Setirizin

1. Simetidin
AH2 2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin
terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor –histamin (penghambatan saingan). Antagonis
Reseptor Antihistamin dibedakan menjadi 2 yaitu AH1 dan AH2.
A. Antagonis Reseptor H1 (AH1)

 FARMAKODINAMIK
AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, bermacam otot polos.
Selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang
disertai penglepasan histamin endogen berlebihan. Obat AH1 dibedakan menjadi 2 yaitu
AH1 generasi pertama dan AH2 generasi kedua. Obat AH1 generasi pertama adalah
klorfeniramin (CTM). AH1 generasi kedua tidak menyebabkan efek samping karena tidak
menembus sawar otak sehingga tidak menyebabkan efek pada SSP seperti kantuk,
inkoordinasi, dll. Contoh obat AH1 generasi kedua adalah terfenadin, astemizol, loratasin,
akrivastin, dan setirizin. Obat antihistamin yang digunakan untuk anestesi local adalah
prometazin dan pirilamin.

 FARMAKOKINETIK
Efek yang ditimbulkan dari antihistamin 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal
setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 umumnya 4-6 jam. Kadar tertinggi terdapat pada paru-
paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat
utama biotransformasi AH1 ialah hati. AH1 disekresi melalui urin setelah 24 jam, terutama
dalam bentuk metabolitnya. Meminum obat saat makan akan mengurangi efek samping.

 INDIKASI
- Untuk alergi debu yang tidak parah
- Mengatasi urtikaria akut, dermatitis atopic, dermatitis kontak dan gigitan serangga
- Untuk anti muntah pasca bedah atau hamil dan setelah radiasi
- Untuk paralisis agintans (Parkinson)
- Untuk mabuk perjalanan
- Kontraindikasi untuk pasien penderita penyakit hati

 EFEK SAMPING
- Mengentalkan sekresi bronkus sehingga menyulitkan ekspektorasi (sehingga tidak efektif
untuk penderita asma
- Sedasi (mengantuk parah). Namun ada obat non-sedasi yaitu Astemizol, Terfenadin,
Loratadin
- Vertigo, Insomnia, Tremor, Nafsu makan menurun, inkoordinasi, pandangan kabur,
diplopia, euphoria, gelisah, lemah, penat, mulut kering, disuria, hipotensi, sakit kepala,
dll.
- Astemizol yang berlebihan menyebabkan gemuk
- Pemberian astemizol, terfenadin yang diberikan bersama makrolida (eritromisin) seperti
ketokonazol, itrakonazol akan menyebabkan keadaan fatal yaitu aritmia ventrikel.

B. Antagonis Reseptor H2 (AH2)


AH2 menghambat sekresi asam lambung. AH2 dibedakan menjadi 4 golongan yaitu :
1. Simetidin
2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin
1. SIMETIDIN DAN RANITIDIN

 FARMAKODINAMIK
Simetadin dan ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Kerjanya
menghambat sekresi asam lambung. Simetadin dan ranitidin juga mengganggu volume dan
kadar pepsin cairan lambung.

 FARMAKOKINETIK
Absorpsi simetidin diperlambat oleh makan, sehingga simetidin diberikan bersama atau
segera setelah makan dengan maksud untuk memperanjang efek pada periode pascamakan.
Ranitidn mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam jumlah cukup besar setelah
pemberian oral. Ranitidin dan metabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya
melalui tinja. Masa paruh simetidin adalah 2 jam sedangkan masa paruh ranitidine adalah
1,75-3 jam dan bisa makin lama pada orang tua, pasien gagal ginjal dan pasien yang
mempunyai penyakit hati.

 INDIKASI
Efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat penyembuhannya.
Selain itu, juga efektif untuk mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan tukak
lambung. Dapat pula untuk gangguan refluks lambung-esofagus.
Untuk melakukan pencegahan digunakan dosis yang lebih kecil, sedangkan untuk
mencegah kekambuhkan dosis nya setengah.

 EFEK SAMPING
Efek sampingnya rendah, yaitu penghambatan terhadap resptor H2, seperti nyeri kepala,
pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam, kulit, pruritus, kehilangan libido
dan impoten.

2. FAMOTIDIN

 FARMAKODINAMIK
Famotidin merupakan AH2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung pada
keadaan basal, malam, dan akibat distimulasi oleh pentagastrin. Famotidin 3 kali lebih
poten daripada ramitidin dan 20 kali lebih poten daripada simetidin.

 FARMAKOKINETIK
Famotidin mencapai kadar puncak di plasma kira kira dalam 2 jam setelah penggunaan
secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam. Metabolit utama adalah famotidin-S-oksida.
Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi dapat melibihi 20 jam.

 INDIKASI
Efektifitas Obat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis, dan
untuk pasien dengan sindrom Zollinger-Ellison.

 EFEK SAMPING
Efek samping ringan dan jarang terjadi, seperti sakit kepala, pusing, konstipasi dan diare,
dan tidak menimbulkan efek antiandrogenik.

3. NIZATIDIN

 FARMAKODINAMIK
Potensi nizatin daam menghambat sekresi asam lambung.

 FARMAKOKINETIK
Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam, masa paruh
plasma sekitar 1,5 jam dan lama kerja sampai dengn 10 jam, disekresi melalui ginjal.

 INDIKASI
Efektifitas untuk tukak duodenum diberikan satu atau dua kali sehari selama 8 minggu,
tukak lambung, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellion.
 Kontraindikasi : Kehamilan & Ibu menyusui

 EFEK SAMPING
Efek samping ringan saluran cerna dapat terjadi, dan tidak memiliki efek antiandrogenik.

6.2. Memahami dan Menjelaskan Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah hormon kelas steroid yang dihasilkan di korteks adrenal.


Kortikosteroid terlibat dalam berbagai sistem fisiologis seperti respon stres, respon imun dan
regulasi inflamasi, metabolisme karbohidrat, katabolisme protein, kadar elektrolit darah, dan
tingkah laku.Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul
hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif.

 FARMAKODINAMIK
- Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.selain itu
juga mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf dan
organ lain.
- Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu
glukokortikoid dan mineralokortikoid.
 Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan efek anti-
inflamasi, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil.
Contohnya adalah kortisol.
 Efek pada mineralokortikoid ialah terhadap keseimbangan air dan elektrolit,
sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar sangat kecil. Contohnya
adalah aldosteron atau desoksikortikosteron.
- Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan massa kerjanya.
 Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam.
 Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis antara 12-36 jam.
 Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.
- Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis, makin besar dosis,
makin besar dosis terapi makin besar efek yang didapat. Mekanismenya adalah melalui
pengaruh steroid terhadap pembentukan protein yang mengubah respons jaringan
terhadap hormon lain.

 FARMAKOKINETIK
 Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor dan ikatan protein.
 Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik. Untuk
mencapai kadar tinggi sebaiknya diberikan secara IV, untuk mendapatkan efek yang
lama kortisol dan esternya diberikan secara IM. Perubahan struktur kimia sangat
mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja karena juga
mempengaruhi afinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein. Prednison adalah prodrug
yang dengan cepat diubah menjadi prednisolon bentuk aktifnya dalam tubuh.
 Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang
 sinovial. Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat
 menyebabkan efek sistematik, antara lain supresi korteks adrenal.

 INDIKASI
Dari pengalaman klinis diajukan 6 prinsip yang harus diperhatikan sebelum obat ini
digunakan :
1. Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial dan
error dan harus di evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit.
2. Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya.
3. Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik,
tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar.
4. Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih dari hingga dosis melebihi
dosis substisusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah.
5. Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan merupakan terapi
kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek anti-inflamasinya.
6. Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar,
mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa pasien.

 EFEK SAMPING

Berikut efek samping kortikosteroid sistemik secara umum.

1. Saluran cerna Hipersekresi asam lambung, mengubah proteksi gaster,


ulkus peptikum/perforasi, pankreatitis, ileitis regional,
kolitis ulseratif.
2. Otot Hipotrofi, fibrosis, miopati panggul/bahu

3. Susunan saraf pusat Perubahan kepribadian (euforia, insomnia, gelisah,


mudah tersinggung, psikosis, paranoid, hiperkinesis,
kecendrungan bunuh diri), nafsu makan bertambah
4. Tulang Osteoporosis,fraktur, kompresi vertebra, skoliosis,
fraktur tulang panjang.
5. Kulit Hirsutisme, hipotropi, strie atrofise, dermatosis
akneiformis, purpura, telangiektasis
6. Mata Glaukoma dan katarak subkapsular posterior

7. Darah Kenaikan Hb, eritrosit, leukosit dan limfosit

8. Pembuluh darah Kenaikan tekanan darah

9. Kelenjar Atrofi, tidak bisa melawan stres


adrenal bagian
kortek

10. Metabolisme Kehilangan protein (efek katabolik), hiperlipidemia,gula


Protein dan meninggi, obesitas, buffao hump, perlemakan hati.
Karbohidrat

11. Elektrolit Retensi Na/air, kehilangan kalium (astenia, paralisis,


tetani, aritmia kor)

12. Sistem Menurun, rentan terhadap infeksi, reaktivasi Tb dan


immunitas herpes simplek, keganasan dapat timbul.

- Pemberian kortikosteroid jangka lama yang dihentikan tiba-tiba dapat menimbulkan


insifisiensi adrenal akut dengan gejala demam, malgia, artralgia dan malaise.
- Komplikasi yang timbul akibat pengobatan lama ialah gangguan cairan dan elektrolit ,
hiperglikemia dan glikosuria, mudah mendapat infeksi terutama tuberkulosis, pasien
tukak peptik mungkin dapat mengalami pendarahan atau perforasi, osteoporosis dll.
- Alkalosis hipokalemik jarang terjadi pada pasien dengan pengobatan derivat
kortikosteroid sintetik.
- Tukak peptik ialah komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada pengobatan dengan
kortikosteroid. Sebab itu bila bila ada kecurigaan dianjurkan untuk melaakukan
pemeriksaan radiologik terhadap saluran cerna bagian atas sebelum obat diberikan.
http://www.bmb.leeds.ac.uk/teaching/icu3/lecture/24/image82.gif

 KLASIFIKASI OBAT KORTIKOSTEROID

Masa bekerja Nama obat

Short Acting (8-12 hours) - Cortisone


- Hydrocortisone
Intermediate Acting (18-36 hours) - Prednisolone
- Triamcinolone
- Methylprednisolone
- Fludrocortisone
Long Acting (36-54 hours) - Dexamethasone
- Betamethasone

 Short Acting

1. Cortisone
Cortisone adalah jenis steroid yang diproduksi secara alami oleh kelenjar dalam
tubuh yang disebut kelenjar adrenal. Cortisone berfungsi untuk meredakan inflamasi.
Efek samping yang biasa ditimbulkan adalah rasa nyeri.
2. Hydrocortisone
Hydrocortisone adalah kostikosteroid topical yang mempunyai efek anti-
inflamasi, anti alergi dan antipruritus pada penyakit kulit. Indikasi pemberian obat ini
adalah untuk penderita dermatitis atopi, dermatitis alergik, dermatitis kontak, pruritus
anogenital dan neurodermatitis. Hydrocortisone tidak boleh diberikan kepada
penderita yang hipersensitif, herpes simplex, varicella dan infeksi jamur. Efek
samping yang mungkin ditimbulkan dari obat ini adalah rasa terbakar, gatal,
kekeringan, atropi kulit dan infeksi sekunder

 Intermediate Acting
1. Prednisolone
Prednisolone diberikan untuk pasien penekanan jangka pendek peradangan pada
gangguan alergi dan pengobatan jangka pendek peradangan pada mata . Efek
samping yang ditimbulkan adalah mual, dyspepsia, malaise, cegukan, reaksi
hipersensitifitas termasuk anafilaksis, dll.

2. Triamcinolone
Triamcinolone mempunyai efek antiinflamasi dan pembentukan glikogen yang
lebih besar, dan berkurangnya efek samping retensi garam. Efek samping yang dapat
timbul adalah fraktur spontan, ulkus peptik/tukak lambung, perubahan cushingoid,
purpura, flushing, sering berkeringat, jerawat, striae, hirsutisme, vertigo, sakit kepala,
tromboembolisme, nekrosis aseptik, pangkreatitis akut, kelemahan otot, esofagitis
ulseratif, peningkatan tekanan intrakranial, papiledema, katarak subkapsular.

3. Methylprednisolone
Methylprednisolone adalah suatu obat glukokortikoid alamiah (memiliki sifat
menahan garam (salt retaining properties)), digunakan sebagai terapi pengganti pada
defisiensi adrenokortikal. Methylprednisolone dikontraindikasikan pada infeksi
jamur sistemik dan pasien yang hipersentitif terhadap komponen obat.

4. Fludrocortisone
Fludrocortisone merupakan mineralokortikoid yang paling banyak digunakan.
Mempunyai aktivitas retensi garam yang kuat dan efek anti-inflamasi yang berarti
walaupun digunakan dalam dosis yang sedikit.

 Long Acting

1. Dexamethasone
Obat ini digunakan sebagai glucocorticoid khususnya untuk Anti inflamasi,
Pengobatan rematik arthritis, dan penyakit kolagen lainnya, Alergi dermatitis,
Penyakit kulit, dll. Pengobatan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek
katabolik steroid seperti kehabisan protein, osteoporosis, dan penghambatan
pertumbuhan anak. Penimbunan garam, air dan kehilangan potassium jarang terjadi
bila dibandingkan dengan glucocorticoid lainnya. Penambahan nafsu makan dan
berat badan lebih sering terjadi.
2. Betamethasone
Betamethasone digunakan untuk meringankan inflamasi dari dermatosis yan
responsive terhadap kortikosteroid. Penggunaan kostikosteroid topical dapat
menyebabkan efek samping local seperti kulit kering, gatal-gatal, rasa terbakar,
iritasi, hipopigmentasi, dermatitis alergi, dll.

LI.7. Memahami Pandangan Islam tentang alergi obat sebagai dokter muslim

Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, “Kesembuhan ada pada tiga hal, minum madu,
pisau bekam, dan sengatan api. Aku melarang umatku menyengatkan api.” (HR Bukhari
dan Muslim)

Dari firman Allah disini dapat dipahami: bahwasanya agama islam di bagun untuk
kemaslahatan artinya : semua syari’at dalam perintah dan larangannya serta hukum-
hukumnya adalah untuk mashoolihi (manfaat-manfaat) dan makna masholihi adalah :
jamak dari maslahat artinya : manfaat dan kebaikan.

Misal : Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih
besar dari pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219

‫اس َو ِإثْ ُم ُه َما أَ ْك َب ُر ِم ْن نَ ْف ِع ِه َما‬ ِ ‫سأَلُونَكَ ع َِن ا ْل َخ ْم ِر َوا ْل َم ْيس ِِر قُ ْل ِف‬
ٌ ‫يه َما ِإثْ ٌم َك ِب‬
ِ َّ‫ير َو َمنَا ِف ُع ِللن‬ ْ ‫َي‬

2:219. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya”.
DAFTAR PUSTAKA

 Dorland W.A.N. 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC.


 Underwood J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Vol 1. Jakarta : EGC.
 Kumar, Abbas, Fausto. Robbins and Cotran: 2005. Pathologic basis of disease. 7th ed.
China: Elsevier Saunders
 Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Rengganis. 2010. Imunologi Dasar. Ed. 9.
FKUI:Jakarta.
 Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth. (2009). Farmakologi dan Terapi.
Edisi V, Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI
 Jawetz, Melnick and Adelberg’s, 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical
Microbiology). Jakarta: Salemba Medika

 (http://www.analiskesehatan.web.id/2012/11/penjelasan-reaksi-hipersensitivitas.html
diakses pada tanggal 10 Mei 2014, pukul 19:33)