Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan bimbinganNya
sehingga referat kelompok Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RSJ. Provinsi Jawa
Barat mengenai Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxietas Disorder) dapat
terselesaikan. Referat ini dibuat untuk memenuhi tugas dan sebagai pembelajaran bersama.

Kami ingin mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan nasihat para dosen dan dokter
spesialis Psikiatri Universitas Kristen Krida Wacana yang telah mengajar tanpa pamrih
kepada kami mahasiswa tentang Ilmu Kesehatan Jiwa. Kami juga turut mengucapkan terima
kasih kepada dr. Meutia Laksminingrum, Sp.KJ, yang telah banyak membantu dan
membimbing kami selama masa Kepaniteraan Klinik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa
Barat.

Referat mengenai Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxietas Disorder) masih


jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran dari para pembaca
sekalian. Semoga dengan kritik dan saran yang membangun, dapat tersusun referat yang
lebih baik di kemudian hari. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam proses penyusunan referat ini. Terima kasih.

Cisarua, April 2013

Penulis

DAFTAR ISI
1
Kata Pengantar…………………………………………………………………………… 1

Daftar Isi…………………………………………………………………………………. 2

BAB I. Pendahuluan

Latar belakang …………………………………………………………………… 3

Epidemiologi ........................................................................................................ 3

BAB II. Pembahasan

Definisi, Etiologi..................................................................................................... 5
Perjalanan penyakit……………………………………………………………….. 8
Manifestasi klinik………………………………………………………………..... 8
Kriteria diagnosis………………………………………………………………….. 10
Pemeriksaan penunjang……………………………………………………………. 13
Diagnosis banding…………………………………………………………………. 13
Penatalaksanaan…………………………………………………………………… 14
Prognosis…………………………………………………………………………... 18
Komplikasi………………………………………………………………………… 18

BAB III. Kesimpulan…………………………………………………………………….. 19

Daftar Pustaka .......................................................................................................... 20

BAB I
PENDAHULUAN
2
Latar belakang:

Gejala kecemasan baik yang sifatnya akut maupun kronik (menahun) merupakan
komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Secara
klinis, gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: gangguan cemas (anxiety
disorder), gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD), gangguan panik
(panic disorder), gangguan phobic (phobic disorder) dan gangguan obsesif-kompulsif
(obsessive-compulsive disorder).1

Tidak semua orang yang mengalami stressor psikososial akan menderita gangguan cemas,
hal ini bergantung pada struktur kepribadiannya. Orang dengan kepribadian pencemas lebih
rentan (vulnerable) untuk menderita gangguan cemas. Gangguan cemas merupakan gangguan
yang sering dijumpai pada klinik psikiatri. Prevalensinya 17,7 persen dari populasi, sehingga
diperlukan untuk mempelajari tentang gangguan cemas. Kondisi ini terjadi sebagai akibat
interaksi faktor-faktor biopsikosial, termasuk kerentanan genetik yang berinteraksi dengan
kondisi tertentu, stress atau trauma yang menimbulkan sindroma klinis yang bermakna.1

Epidemiologi:

National Comorbidity Study melaporkan bahwa satu di antara empat orang memenuhi
kriteria untuk sedikitnya satu gangguan ansietas dan terdapat angka prevalensi 12 bulan
sebesar 17,7 persen. Perempuan (prevalensi selama hidup 30,5 persen) lebih cenderung
mengalami gangguan ansietas daripada laki-laki (prevalensi selama hidup 19,2 persen).
Prevalensi gangguan ansietas menurun dengan meningkatnya status sosio-ekonomi.2

Angka prevalensi untuk gangguan cemas menyeluruh antara 3-8 persen. Gangguan
kecemasan menyeluruh merupakan gangguan yang paling sering ditemukan dengan
gangguan mental penyerta atau gangguan mood lainnya. Kemungkinan 50 persen pasien
dengan gangguan kecemasan menyeluruh memiliki gangguan mental lainnya. 2

Rasio wanita dan laki-laki pada gangguan ini adalah kira-kira 2 berbanding 1, tetapi rasio
wanita berbanding laki-laki yang dirawat inap di rumah sakit untuk gangguan ini adalah 1
berbanding 1. Onset usia sukar ditentukan, karena sebagian besar pasien melaporkan bahwa
mereka mengalami kecemasan selama yang dapat mereka ingat. Pasien biasanya datang
untuk mendapatkan perawatan dokter pada usia 20 tahunan, walaupun kontak pertama
3
dengan klinisi dapat dapat terjadi hampir setiap usia. Hanya sepertiga pasien yang menderita
ganguguan kecemasan menyeluruh mencari pengobatan psikiatri. Banyak pasien pergi ke
dokter umum, dokter penyakit dalam, dokter spesialis kardiologi, spesialis paru-paru, atau
dokter spesialis gastroenterology, untuk mencari pengobatan atas komponen spesifik
gangguan. 2

BAB II

PEMBAHASAN
4
a. Definisi

Gangguan ansietas (cemas) adalah suatu keadaan patologik yang ditandai oleh
perasaan ketakutan disertai tanda somatik pertanda sistem saraf autonom yang
hiperaktif. Dibedakan dengan rasa takut yang merupakan respon terhadap suatu
penyebab gejala yang jelas.3

Gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD) merupakan
kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang
berlebihan dan kadang tidak rasional bahkan kadang tidak realistik terhadap
berbagia peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang
hari, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan. Kecemasan yang dirasakan sulit
untuk dikendalikan dan berhubungan dengan gejala-gejala somatik seperti
ketegangan otot, iritabilitas, kesulitan tidur dan kegelisahan sehingga
menyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan yang bermakna dalam
fungsi sosial dan pekerjaan.4

b. Etiologi
Seperti pada sebagian besar gangguan mental, penyebab gangguan kecemasan
menyeluruh adalah tidak diketahui. Seperti yang sekarang didefinisikan, gangguan
kecemasan menyeluruh kemungkinan mempengaruhi kelompok pasien yang
heterogen. Kemungkinan karena berbagai derajat kecemasan tertentu adalah normal -
adaptif bagi beberapa orang. Cara membedakan kecemasan normal-adaptif dengan
kecemasan patologis cukup sulit, apalagi membedakan faktor penyebab biologis dari
faktor psikososial juga sukar. Faktor biologis dan psikologis kemungkinan bekerja
sama dalam menyebabkan gangguan kecemasan menyeluruh ini.2

Faktor biologis

Manfaat terapeutik benzodiazepin dan azapirone – sebagai contoh, busipirone


(BuSpar) – telah memusatkan usaha penelitian biologis pada sistem neurotransmitter
gamma-aminobutyric acid (GABA) dan serotonin (5-hydroxytrptamine [5-HT]).
Benzodiazepin (yang merupakan agonis reseptor benzodiazepin) diketahui
menurunkan kecemasan, sedangkan flumazenil (Mazicon) (suatu antagonis reseptor
benzodiazepin) dan beta carboline (agonis kebalikan reseptor benzodiazepin)
diketahui menginduksi kecemasan. Walaupun tidak ada ada data yang meyakinkan
yang menyatakan bahwa reseptor benzodiazepin adalah abnormal, pada pasien dengan

5
gangguan kecemasan umum, beberapa penelitian telah memusatkan pada lobus
oksipitalis, yang memiliki konsentrasi benzodiazepin tertinggi di otak.

Pada pemberhentian pemakaian benzodiazepin secara tiba – tiba dapat


mencetuskan withdrawal symptoms seperti anxietas. Daerah otak lain yang telah
dihipotesiskan terlibat didalam gangguan kecemasan menyeluruh adalah ganglia
basalis, sistem limbik, dan korteks frontalis. Karena Busipirone adalah suatu agonis
reseptor 5-HT1A, beberapa kelompok penelitian memusatkan pada hipotesis bahwa
regulasi sistem serotonergik pada gangguan kecemasan umum adalah abnormal.
Sistem neurotransmitter lainnya yang merupakan sasaran penelitian pada ganguan
kecemasan menyeluruh adalah sistem neurotransmitter norepinefrin, glutamat, dan
kolesistokinin. Beberapa bukti menyatakan bahwa pasien dengan gangguan
kecemasan menyeluruh mungkin memiliki subsensitivitas pada reseptor adrenergik
alfa-2, seperti yang dinyatakan oleh penumpulan pelepasan hormon pertumbuhan
setelah infus clonidine (Catapres).

Hanya sejumlah terbatas penelitian pencitraan otak pada pasien dengan


gangguan kecemasan umum telah dilakukan. Suatu penelitian tomografi emisi
positron (PET; positron emission tomography) melaporkan suatu penurunan
kecepatan metabolik di ganglia basalis dan substansia putih pada pasien gangguan
kecemasan menyeluruh dibandingkan kontrol normal. Sejumlah penelitian genetika
telah juga dilakukan dalam bidang ini. Satu penelitian menemukan bahwa hubungan
genetika mungkin terjadi antara gangguan kecemasan menyeluruh dan gangguan
depresif berat pada wanita.

Penelitian lain mengatakan bahwa adanya komponen genetik yang terpisah tetapi
sulit untuk ditentukan pada gangguan kecemasan menyeluruh. Kira – kira 25 persen
sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan kecemasan umum juga
terkena gangguan. Sanak saudara laki – laki lebih sering menderita suatu gangguan
penggunaan alkohol. Beberapa laporan penelitian pada anak kembar menyatakan
suatu angka kesesuaian 50 persen pada kembar monozigotik dan 15 persen pada
kembar dizigotik.

Berbagai kelainan elektroensefalogram (EEG) telah ditemukan dalam irama alfa


dan potensial cetusan. Penelitian EEG tidur telah melaporkan peningkatan
diskontinuitas tidur, penurunan tidur delta, penurunan tidur stadium I, dan penurunan
6
tidur REM (rapid eye movement). Perubahan pada arsitektur tidur adalah berbeda dari
perubahan yang ditemukan pada gangguan depresif.

Faktor psikososial

Dua bidang pikiran utama tentang faktor psikososial yang menyebabkan


perkembangan gangguan kecemasan umum adalah bidang kognitif perilaku dan
bidang psikoanalitik. Bidang kognitif perilaku menghipotesiskan bahwa pasien
dengan gangguan kecemasan menyeluruh adalah berespon secara tidak tepat dan tidak
akurat terhadap bahaya yang dihadapi. Ketidakakuratan tersebut disebabkan oleh
perhatian selektif terhadap perincian negatif dalam lingkungan, oleh distorsi
pemrosesan infromasi, dan oleh pandangan yang terlalu negatif tentang
kemampuan seseorang mengatasinya. Bidang psikoanalitik menghipotesiskan
bahwa kecemasan adalah suatu gejala konflik bawah sadar yang tidak
terpecahkan. Teori psikologis tentang kecemasan tersebut pertama kali diajukan oelh
Sigmund Freud pada tahun 1909 dengan penjelasan tentang Little Hans; sebelumnya,
Freud telah memandang kecemasan sebagai memiliki dasar fisiologis.

Suatu hierarki kecemasan adalah berhubungan dengan berbagai tingkat


perkembangan. Pada tingkat yang paling primitif, kecemasan mungkin berhubungan
dengan ketakutan akan penghancuran atau fusi dengan orang lain. Pada tingkat
perkembangan yang lebih matur, kecemasan adalah berhubungan dengan perpisahan
dari objek yang dicintai. Pada tingkat yang masih lebih matur, kecemasan adalah
berhubungan dengan hilangnya cinta dari objek yang penting. Kecemasan kastrasi
adalah berhubungan dengan fase oedipal dari perkembangan dan dianggap merupakan
satu tingkat tertinggi dari kecemasan. Kesemasan superego, ketakutan mengecewakan
gagasan dan nilai sendiri (didapatkan dari orang tua yang diinternalisasikan), adalah
bentuk kecemasan yang paling matur.

c. Perjalanan penyakit

Pasien dengan gangguan cemas menyeluruh biasa sudah mengeluh cemas


sepanjang ingatannya. Biasa pasien mulai ke dokter umur 20-an kebanyakan untuk
mengatasi gangguan somatiknyas, hanya 1/3 penderita datang ke psikiater, sedangkan
lainnya lebih banyak ke dokter-dokter lain. Perjalanan penyakit dari gangguan ini

7
sulit untuk diprediksi, karena banyaknya komorbiditas dengan penyakit lain.
Komorbiditas yang paling sering adalah depresi mayor.2

d. Gambaran klinis/ manifestasi klinis


Keluhan- keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami
gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut:
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
6. Keluhan-keluhan somatic, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran
berdenging (tinnitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan,
gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain sebagainya

Selain keluhan-keluhan cemas secara umum di atas, ada lagi kelompok cemas
yang lebih berat yaitu gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik, gangguan
phobik, dan gangguan obsesif-kompulsif.1

Gangguan cemas menyeluruh

Secara klinis gejala cemas yang biasa, disertai dengan kecemasan yang
menyeluruh dan menetap (paling sedikit berlangsung selama 6 bulan) dengan
manifestasi 3 dari 4 kategori gejala berikut ini:

1. Ketegangan motorik/ alat gerak:


 Gemetar
 Tegang
 Nyeri otot
 Letih
 Tidak dapat santai
 Kelopak mata bergetar
 Kening berkerut
 Muka tegang
 Gelisah
 Tidak dapat diam
 Mudah kaget

2. Hiperaktifitas saraf autonom (simpatis/ parasimpatis):


 Berkeringat berlebihan
 Jantung berdebar-debar
 Rasa dingin

8
 Telapak tangan/ kaki basah
 Mulut kering
 Pusing
 Kepala terasa ringan
 Kesemutan
 Rasa mual
 Rasa aliran panas atau dingin
 Sering buang air seni
 Diare
 Rasa tidak enak di ulu hati
 Kerongkongan tersumbat
 Muka merah atau pucat
 Denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat

3. Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang (apperehensive


expectation):
 Cemas, khawatir, takut
 Berpikir berulang (rumination)
 Membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya atau
orang lain

4. Kewaspadaan berlebihan:
 Mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan
perhatian mudah teralih
 Sukar konsentrasi
 Sukar tidur
 Merasa ngeri
 Mudah tersinggung
 Tidak sabar

Gejala-gejala tersebut di atas baik yang bersifat psikis maupun fisik (somatik)
pada setiap orang tidak sama, dalam arti tidak seluruhnya gejala itu harus ada. Bila
diperhatikan gejala-gejala kecemasan ini mirip dengan orang yang mengalami stress,
bedanya bila pada stress didominasi oleh gejala fisik sedangkan pada kecemasan
didominasi oleh gejala psikis.1

e. Kriteria diagnosis
1. Kriteria diagnosis DSMV-IV memasukkan beberapa modifikasi dari kriteria
DSM-III-R umtuk membuatnya lebih mudah digunakan dan membantu klinisi
membedakan gangguan kecemasan umum, kecemasan normal dan gangguan
mental lainnya. Perbedaan antar gangguan kecemasan umum dan kecemasan
normal adalah ditekankan dengan penggunaan kata “berlebihan” dan “sulit

9
untuk mengendalikan” didalam kriteria dan dengan menyebutkan bahwa gejala
menyebabkan gangguan atau penderitaan yang bermakna. Pembedaan antara
gangguan kecemasan umum dan gangguan mental lain dibantu dalam DSM-IV
dengan contoh ciri yang membedakan di dalam kriteria D.2

A. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan (harapan yang


menghawatirkan), yang lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama
sekurangnya 6 bulan , tentang sejumlah kejadian atau aktivitas (seperti
pekerjaan, prestasi sekolah)

B. Orang merasa sulit mengendalikan ketakutan

C. Kecemasan dan kekawatiran adalah disertai oleh tiga (atau lebih) dari enam
gejala berikut ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi
dibandingkan tidak terjadi selama enam bulan terakhir). Catatan : hanya satu
nomor yang diperlukan pada anak – anak.

1) Kegelisahan atau perasaan bersemangat atau gelisah

2) Merasa mudah lelah

3) Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong

4) Iritabilitas

5) Ketegangan otot

6) Gangguan tidur (sulit tidur atau tetap tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak
memuaskan)

D. Fokus kecemasan dan kekhawatiran adalah tidak terbatas pada gangguan axis I,
misalnya, kecemasan atau ketakutan adalah bukan tentang menderita suatu
serangan panik (seperti pada gangguan panik), merasa malu didepan publik
(seperti pada fobia sosial), terkontaminasi (seperti pada gangguan obsesif
kompulsif), merasa jauh dari rumah atau sanak saudara dekat (seperti pada
gangguan cemas perpisahan), penambahan berat badan (seperti pada anorexia
nervosa), menderita keluhan fisik berganda (seperti pada gangguan somatisasi),

10
atau menderita penyakit serius (sepertti pada hipokondriasis), serta kecemasan
dan kekhawatiran tidak terjadi semata – mata selama gangguan stres pasca
traumatik

E. Kecemasan kekhwatiran atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang


bermakna secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi
penting lain.

F. Gangguan adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya, obat yang disalahgunakan, medikas) atau kondisi medis umum
(mislanya, hipertiroidisme) dan tidak terjadi semata – mata selama suatu
gangguan mood, gangguan psikotik, atau gangguan perkembangan pervasif.

Tabel 1. Kriteria Diagnsotik untuk gangguan kecemasan umum

2. F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh


Pedoman Diagnostik5

 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang


berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa
bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi
khusus tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”).

 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:

a. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung


tanduk, sulit berkonsentrasi, dsb,);

b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat


santai) dan;

c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung


berdebar-debar, sesak nafas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut
kering, dsb).

 Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebih untuk di


tenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang

11
menonjol.

 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),


khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan
Anxietas Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria
lengkap dari episode depresif (F32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-),
gangguan panik (F41.0), atau gangguan obsesif-komplusif (F42.-).

f. Pemeriksaan penunjang

Perlu dilakukan juga pemeriksaan darah lengkap untuk mendifferential diagnosis,


serta pemeriksaan EKG untuk meneliti lebih jauh apakah cemas dan rasa berdebar
merupakan murni dari manifestasi cemas menyeluruh atau merupakan gejala dari
gangguan jantung.6

g. Diagnosis Banding

12
Diagnosis banding dari gangguan cemas menyeluruh berupa gangguan organik
maupun non organik. Gangguan organik dapat berupa penyalahgunaan zat, efek obat,
maupun penyakit pada organ-organ tertentu. Contoh-contoh dari penyakit yang dapat
menyebabkan gangguan cemas adalah gangguan jantung seperti angina pectoris,
gangguan neurologi, seperti epilepsi, gangguan paru seperti asma, hyperthyroid,
feokromositoma, premenstrual syndrome, dan gangguan adrenal. Penyalahgunaan zat
yang dapat menyebabkan gejala cemas berupa konsumsi stimulan, seperti amfetamin,
simpatomimetik, seperti efedrin, antikolinergik, seperti difenhidramin, dopaminergik
seperti obat-obat antipsikotik, dan gejal putus obat dari barbiturat, benzodiazepin,
narkotik, dan alkohol. Efek samping obat yang dapat menyebabkan gangguan cemas
berupa obat psikotik, dalam bentuk akitisia. Gangguan non organik yang dapat
menyebabkan gejala mirip cemas adalah skizofrenia dan depresi. Gangguan cemas
menyeluruh harus dibedakan dengan sindroma-sindroma cemas lainnya, seperti
dengan serangan panik, fobia, dan obsesif-kompulsif. Gangguan cemas panik berbeda
dengan gengguan cemas menyeluruh pada sifat serangan panik yang episodik dan
gangguan cemas menyuluruh yang bersifat kontinu. Sedangkan anxietas fobik hanya
terjadi karena stimuli eksternal tertentu yang menyebabkan cemas pada orang itu.
Cemas karena obsesif-kompulsif terjadi karena pikiran-pikiran obsesif yang jika tidak
lanjuti menyebabkan cemas.2

h. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada gangguan cemas menyeluruh

Farmakoterapi: 2

1. Golongan benzodiazepine

Contoh obat golongan benzodiazepine :

Generik Nama Dagang Sediaan mg/tab Sifat


Diazepam Valium, Stesolid 2 5 long acting
Klordiazepoksid Librium, Cetabrium 5 10 long acting
Klorazepat Tranxene 5 10 long acting
Lorazepam Ativan 0,5 1 2 short acting
Prazepam Equipax 5 long acting
Aprazolam Xanax 0,25 0,5 1 short acting

13
Dosis :

Diazepam : 2 x 1 tablet 5 mg. 1-0-1

Klordiazepoksid : Gangguan anxietas ringan-sedang : 3x1 Tablet 5 mg. 1-1-1

Gangguan anxietas berat : 3x1 Tablet 10 mg. 1-1-1

Klorazepat 3 x 1 tablet 5 mg. 1-1-1

Lorazepam : 2 x 1 tablet 1 mg. 1-0-1

Prazepam : 2 x 1 tablet 5 mg. 1-0-1

Aprazolam : 3 x 1 tablet 0.25 mg. 1-1-1

Efek samping : Sedasi, ataksia, depresi, agitasi, toleransi dan ketergantungan

Kontra indikasi : Pasien dengan gangguan nafas

2. Buspiron

Sediaan : Buspiron 10 mg

Dosis : Buspiron 2 x 1 tablet 10 mg. 1-0-1

Keuntungan : Efek sedasi dan resiko ketergantungan lebih kecil

dibandingkan benzodiazepine

Kerugian : Efek obat baru terlihat selama 2 minggu. Tidak untuk


mengobati anxietas akut.

Efek samping : Pusing, mual, sakit kepala, gugup, gelisah.

14
3. SSRI

Generik Sediaan mg/tab


Fluoksetin Prozac 20
Sertralin Zololf 50
Flufoksamin Luvox 50
Paroksetin Seroxat 20

Dosis:

Fluoksetin 1x1 tablet 20 mg. 1-0-0

Sertralin 1x ½ tablet 50 mg. 1-0-0

Flufoksamin 1x2 tablet 50 mg. 1-0-0

Paroksetin 1x ½ tablet 20 mg. 1-0-0

Keuntungan : Efek samping sistem kolinergik, adrenergik atau


histaminergik

Kerugian : Mual, penurunan libido dan fungsi seksual

Psikoterapi

Psikoterapi memiliki banyak ragam, yaitu :1

1. Psikoterapi suportif

Dengan terapi ini untuk meningkatkan motivasi, semangat, dan dorongan agar
tidak putus asa dan meningkatkan kepercayaan diri untuk mengatasi
masalahnya.

2. Psikoterapi re-edukatif

Tujuan : menanamkan pendidikan (cara) yang baru agar dapat berhasil dalam
mengatasi stressor di kemudian hari.

3. Psikoterapi re-konstruktif

15
Tujuan : memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami goncangan
stressor.

4. Psikoterapi kognitif

Tujuan : memulihkan fungsi kognitif (kosentrasi, daya ingat, dan berpikir secara
rasional) dan mampu membedakan mana yang baik dan buruk.

5. Psikoterapi psiko-dinamik

Tujuan : menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan seseorang


yang dapat menjelaskan sebab ia jatuh sakit (stress, cemas, atau depresi).
Diharapkan dengan mengetahui sebab dapat ditemukan cara mengatasinya.

6. Psikoterapi perilaku

Tujuan : mampu beradaptasi dengan kondisi baru sehingga bisa berfungsi secara
wajar dalam berbagai aspek kehidupan.

7. Psikoterapi keluarga

Tujuan : memperbaiki hubungan keluarga, sehingga keluarga tidak menjadi


stressor malah menjadi faktor pendukung.

Psikososial

Psikososial bertujuan untuk memulihkan kembali kemampuan adaptasi pasien di


berbagai tempat dalam masyarakat. Dapat dilakukan dengan cara analisa SWOT :1

Strength : menemukan aspek positif dalam hidup pasien agar menjadi kekuatan bagi
dirinya dalam menghadapi stressor

Weakness : menerima berbagai kelemahan pada diri seseorang agar tidak menjadi
penghambat penyelesaian dalam menghadapi stressor.

Opportunity : memiliki harapan di masa depan bisa menjadi faktor yang membantu
pasien menghadapi stressor.

Threat : mengetahui dan menyadari adanya ancaman yang dapat menghambat pasien
dalam mengatasi stressor di masa kini ataupun masa mendatang.

16
Psikoreligius

Psikoreligius adalah terapi agar mendekatkan diri pasien lebih kepada Yang Maha
Kuasa. Dengan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, maka diharapkan pasien menjadi
lebih bijaksana, sabar, dan kuat dalam menghadapi tantangan hidup berdasarkan
ajaran-ajaran sesuai dengan agama yang dianut.1

i. Prognosis
Karena tingginya insiden adanya gangguan jiwa komorbid pada pasien dengan
gangguan cemas menyeluruh, membuat prognosis ini sulit di prediksi. Terdapatnya
beberapa peristiwa hidup yang negatif sangat meningkatkan kemungkinan gangguan
tersebut untuk timbul. 2
Gangguan cemas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin
berlangsung seumur hidup. Sebanyak 25% penderita pada akhirnya mengalami
ganggguan panik, juga dapat mengalami gangguan depresi mayor. 4
j. Komplikasi
Memiliki gangguan cemas tentu akan membuat resah. Itu juga bisa mempengaruhi
kelainan mental dan fisik lainnya, seperti:7
 Depresi (dimana sering terjadi gangguan cemas)
 Penyalahgunaan obat
 Insomnia
 Gangguan pencernaan atau pembuangan
 Sakit kepala
 Menggeretakkan gigi

BAB III
PENUTUP

Gangguan cemas menyeluruh merupakan gangguan patologis yang menyebabkan


subjek merasa cemas terhadap segala sesuatu hal yang seharusnya tidak menimbulkan
gangguan yang berlebihan. Cemas ini disertai dengan hiperaktifitas otonom hampir sepanjang
hari dan berlangsung lama kira-kira dalam jangka waktu 6 bulan. Subjek dengan gangguan
ini tidak dapat menghilangkan rasa cemasnya, walaupun sebenarnya pasien sangat ingin lepas

17
dari perasaan was-was dan gejala klinik yang ditimbulkan dari gangguan cemas menyeluruh
tersebut.

GAD dapat disebabkan oleh faktor biologis, yaitu gangguan pada kadar serotonin dan
GABA pada otak. Dari faktor psikososial seperti stressor yang tidak dapat ditanggulangi dan
melihat secara keseluruhan sifat individual maka dapat mempengaruhi tingkat kerentanan
seseorang dalam terkena GAD ini.

Gejala klinis gangguan ini tidaklah khas dan spesifik, sehingga terkadang pasien
datang berobat apabila disertai oleh gejala komorbid lainnya. Pengobatan untuk penyakit ini
adalah mengobati gejala cemasnya dan gejala komorbid yang menyertai atau memperparah
rasa cemas. Selain obat-obatan perlu juga dilakukan psikoterapi, psikososial, dan
psikoreligius agar pasien dapat mengatasi kelemahan dalam dirinya dari berbagai aspek.
Sebesar 50% pasien bisa sembuh dengan obat-obatan tetapi sangat baik tingkat
kesembuhannya apabila dilakukan CBT, yaitu sebesar 80%-100%.

Prognosis pada penyakit gangguan cemas menyeluruh cukup sulit diprediksikan


karena tergantung dari lama penyakit timbul, ciri kepribadian, dan faktor komorbidnya.
Apabila gangguan cemas menyeluruh ini tidak diobati maka dapat berkembang menjadi
gangguan psikiatri lain.

18