Anda di halaman 1dari 6

Diagnosis Keperawatan Komunitas

Tabel 8
Analisa Data

Data Penunjang Indikator Masalah


Keperawatan
 Keluarga mengatakan Menurut World Health Organization (WHO), Perilaku
suami mereka bisa penyakit ISPA merupakan penyakit yang paling
kesehatan
menghabiskan rokok sering menyebabkan kematian pada anak balita,
lebih dari 1 bungkus sehingga ISPA masih merupakan penyakit yang cenderung
perhari mengakibatkan kematian cukup tinggi,
beresiko
 100% suami pada Kematian tersebut sebagian besar disebabkan
keluarga didesa gading oleh pneumonia (Depkes RI, 2002).
kembar mempunyai Secara umum terdapat tiga faktor risiko
kebiasaan merokok terjadinya ISPA, yaitu faktor lingkungan, faktor
dalam rumah individu anak serta faktor perilaku. Faktor
 Balita yang mengalami lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam
ISPA sebanyak 16% rumah (asap rokok dan asap hasil pembakaran
 Sebagian besar bahan bakar untuk memasak dengan
pekerjaan kepala konsentrasi yang tinggi), ventilasi rumah dan
keluarga adalah petani kepadatan hunian. Faktor individu anak
dan wiraswata (masing- meliputi: umur anak, berat badan lahir, status
masing 25%) gizi, vitamin A dan status imunisasi. Faktor
 Responden sebagian perilaku meliputi perilaku pencegahan dan
besar berpendidikan SD penanggulangan ISPA pada bayi
sebesar 71% atau peran aktif keluarga/masyarakat dalam
 Responden yang menangani penyakit ISPA (Prabu, 2009).
mengalami diare sebesar Kebiasaan kepala keluarga yang merokok di
17% dalam rumah dapat berdampak negatif bagi
 Sebagian besar anggota keluarga khususnya balita. Indonesia
responden memiliki merupakan negara dengan jumlah perokok aktif
kebiasaan tidak mencuci sekitar 27,6% dengan jumlah
tangan dengan sabun 65 juta perokok atau 225 miliar batang per
yaitu sebanyak 75% tahun (WHO, 2008).Rokok merupakan benda
 Sebagian besar beracun yang memberi efek yang sangat
responden memilih membahayakan pada perokok ataupun perokok
pengolahan sampah pasif, terutama pada balita yang tidak sengaja
dengan dibakar yaitu terkontak asap rokok. Nikotin dengan ribuan
sebesar 71% bahaya beracun asap rokok lainnya masuk ke
 Keluarga mengatakan saluran pernapasan bayi yang dapat Ketidakadekuatan
tidak ada lagi petugas menyebabkan Infeksi pada saluran pernapasan hygiene personal
kebersihan sampah rutin (Hidayat, 2005).Nikotin dengan ribuan bahaya dan lingkungan
 Keluarga menyatakan beracun asap rokok lainnya masuk ke saluran
kurangnya sarana pernapasan bayi. Nikotin yang terhirup melalui
prasarana pengolahan saluran pernapasan dan masuk ke tubuh melalui
sampah ASI ibunya akan berakumulas i di tubuh bayi
 Sebagian besar dan membahayakan kesehatan si kecil. Akibat
pekerjaan kepala gangguan asap rokok pada bayi antara lain
keluarga adalah petani adalah muntah,
dan wiraswata (masing- diare, kolik (gangguan pada saluran pencernaan
masing25%) bayi), denyut jantung meningkat, gangguan
 Responden yang pernapasan pada bayi, infeksi paru-paru dan
memiliki pengetahuan telinga, gangguan pertumbuhan (Hidayat,
kurang seputar 2005). Paparan asap rokok berpengaruh
pentingnya pengolahan terhadap kejadian ISPA pada balita, dimana
lingkungan yang sehat. balita yang terpapar asap rokok berisiko lebih
 Responden sebagian besar untuk terkena ISPA dibanding balita yang
besar berpendidikan SD tidak terpapar asap rokok (Hidayat, 2005).
sebesar 71% Sampah selalu menjadi persoalan baik di
 Responden yang perdesaan dan juga di perkotaan. Sampah yang
mengalami diare sebesar tidak dikelola akan boros terhadap penggunaan
17% lahan, sulit mendapatkan tempat pemrosesan
 Sebagian besar akhir (TPA) sampah dan penyebaran
responden memiliki pencemaran cukup tinggi. Pengelolaan sampah
kebiasaan tidak mencuci secara mandiri belum banyak dilakukan
tangan dengan sabun masyarakat sehingga sebagian besar sampah
yaitu sebanyak 75% masuk ke TPA sampah.
 Sebagian besar Timbunan sampah yang tidak dikelola selain
responden memilih dapat menimbulkan pencemaran pada media
pengolahan sampah lingkungan tanah, air, dan udara, juga
dengan dibakar yaitu sangatpotensial sebagai sumber merebaknya
sebesar 71% dan wabah penyakit seperti diare dan sebagainya.
ditimbun sebesar 29% Survei sampah yang dilakukan terhadap 56
 Sebagian besar rumah kabupaten menunjukkan bahwa dari semua
responden tidak lokasi buangan sampah tidak ada yang
memiliki saluran limbah memenuhi syarat kesehatan. Dampak atau
sebanyak 75% risiko dari penanganan sampah yang kurang
tepat dapat mengakibatkankemerosotan
lingkungan dan dapat menimbulkanmasalah
terhadap kesehatan. Menurunnya nilai estetika,
(Departemen Kesehatan RI, 1987).
Rumusan Diagnosa Keperawatan Komunitas berdasarkan Analisa Data
1. Ketidakadekuatan hygiene personal dan lingkungan
2. Perilaku kesehatan cenderung beresiko

Tabel 11
SKORING DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS

Diagnosa Pembobotan
No JML
Keperawatan A B C D E F G H I J K
1 Ketidakadekuatan 3 3 4 3 4 4 4 3 3 3 4 38
hygiene personal dan
lingkungan
2 Perilaku kesehatan 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 36
cenderung beresiko

Keterangan Pembobotan:
1. Sangat rendah A: Risiko terjadi F: Sesuai program pemerintah
2. Rendah B: Risiko parah G: Tempat
3. Cukup C: Potensial penkes H: Waktu
4. Tinggi D: Minat Masyarakat I: Dana
5. Sangat tinggi E: Kemungkinan diatasi J : Fasilitas kesehatan K.Sumber Daya
Nursing Care Plan
Tabel 9
Rencana Asuhan Keperawatan Komunitas pada Keluarga
di Kecamatan Jabung Desa Gading Kembar Tahun 2018

Dx.Kep.Komunit Rencana Kegiatan Evaluasi


No Tujuan
as Strategi Intervensi Kriteria Hasil Evaluator
1 Ketidakadekuatan Tujuan Umum: Kemitraan 1. Jalin dan bina  Terbangunnya kesadaran Mahasiswa
higiene personal Setelah dilakukan tindakan dan jejaring bermitra menanamkan cara
dan lingkungan keperawatan selama 2 hari , Pemberday (CSN/Charity berperilaku sehat & bersih
aan
higiene personal dan Social  Terbangunnya pemahaman
lingkungan di desa gading Networking) untuk melakukan kemitraan
kembar menjadi adekuat dengan pihak  Terwujudnya dukungan dan
sponsor dan partisipasi aktif dari masyarakat,
Tujuan Khusus: masyarakat kader, dan pihak sponsor
a. meningkatnya partisipasi setempat untuk
aktif masyarakat dan mengadakan
keberhasilan program program
kesehatan masyarakat kesehatan
a. Masyarakat, khususnya Pendidikan 1. Sebarkan media  Angka kejadian ISPA menurun
keluarga, dapat Kesehatan informasi menjadi 5% (dari 16%)
mengetahui dan (booklet, poster,  Pengetahuan peserta
memahami tentang dll) tentang meningkat sebesar 20%
perilaku kesehatan perilaku  Keluarga tergerak untuk
beresiko kesehatan meningkatkan perilaku
beresiko menjaga kesehatan
(merokok)
2. Adakan
Dx.Kep.Komunit Rencana Kegiatan Evaluasi
No Tujuan
as Strategi Intervensi Kriteria Hasil Evaluator
penyuluhan
pada keluarga
b. Meningkatkan derajat Pendidikan 1. Pemeliharaan  Terjadinya peningkatan
kesehatan dan kesehatan kesehatan pengetahuan tentang perilaku
mengurangi disabilitas perseorangan yang sehat sebesar 20%
serta mengaktualisasikan dan lingkungan  tidak ada lagi kejadian diare
potensi kesehatan yang 2. Lakukan  Terjadinya peningkatan
dimiliki oleh individu, pelatihan PHBS keterampilan dalam ber-PHBS
keluarga, kelompok, dan (cuci tangan) sebanyak 20%
masyarakat pada  Tersedia sarana informasi
Pada keluarga tetang mencuci tangan
3. Adakan menggunakan sabun yang baik
kunjungan dan benar
rumah (home  Tersedia tempat penampungan
health care) sampah
 Tersedianya saluran
pembungan setiap rumah
(selokan)
 Dapat mempraktekan CTPS
dengan baik
2 Perilaku Tujuan Umum: Pemberda- 1. Sosialisasikan  Adanya kesepakatan (MoU) dari Mahasiswa
Setelah dilakukan tindakan yaan hasil survey elemen masyarakat (kader dan Kader
kesehatan
keperawatan selama 2 hari, kepada Aparatur petugas puskesmas) untuk
cenderung
pengetahuan dan kesadaran kelurahan, kader melanjutkan program kesehatan
beresiko tentang perilaku beresiko kesehatan dan  Terselenggaranya penyuluhan
dapat meningkat Puskesmas serta mengenai bahaya merokok
Dx.Kep.Komunit Rencana Kegiatan Evaluasi
No Tujuan
as Strategi Intervensi Kriteria Hasil Evaluator
Tujuan Khusus masyarakat  Keluarga mampu
b. Membangun dukungan, 2. Sepakati rencana menyampaikan kembali materi
kolaborasi, dan koalisi tindakan jangka penyuluhan dengan baik
sebagai suatu mekanisme pendek dan  Pengetahuan keluarga dan
peningkatan peran serta panjang masyarakat meningkat sebesar
aktif masyarakat dalam berkaitan dengan 20%
perencanaan, pelaksanaan, perilaku
pengawasan, dan evaluasi cederung
implementasi beresiko

c. Masyarakat, khususnya Pendidikan 3. Sebarkan media  Angka kejadian ISPA menurun


keluarga, dapat Kesehatan informasi menjadi 5% (dari 16%)
mengetahui dan (booklet, poster,  Pengetahuan peserta
memahami tentang dll) tentang meningkat sebesar 20%
perilaku kesehatan perilaku  Keluarga tergerak untuk
beresiko kesehatan meningkatkan perilaku
beresiko menjaga kesehatan
(merokok)
4. Adakan
penyuluhan
pada keluarga