Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER PARU

I. Konsep Dasar Kanker Paru


A. Definisi Kanker Paru
Kanker paru (bronchogenic carcinoma) merupakan penyebab tertinggi kematian di
dunia, umumnya prognosisnya dengan buruk. Kanker paru-paru biasanya tidak dapat
diobati, pengobatan mungkin hanya dengan jalan pembedahan, dimana sekitar 13% dari
pasien dengan pembedahan mampu bertahan selama lima tahun. Metastasis penyakit
biasanya timbul, dan hanya 16% pasien yang penyakitnya dapat dilokalisasi pada saat
diagnosis (Soemantri, 2008).
Kanker paru atau disebut karsinoma bronkogenik merupakan tumor ganas primer
sistem pernapasan bagian bawah yang bersifat epitelial dan berasal dari mukosa
percabangan bronkus (Price & Wilson, 2006).
Terdapat dua tipe kanker paru, yaitu karsinoma sel kecil (small cell lung
cancer/SCLC) dan karsinoma non sel kecil (non small cell lung cancer/NSCLC).
Kedua tipe ini didiagnosa berdasarkan perbedaan bentuk sel pada mikroskop.
Keduanya mempunyai perjalanan penyakit yang berbeda sehingga membutuhkan
pendekatan terapi yang berbeda pula (Pass et al., 2005).

B. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan


1. Anatomi Sistem Pernapasan
Menurut Muttaqin (2014) anatomi sistem pernapasan terdiri atas saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Saluran pernafasan
bagian atas berfungsi sebagai : air conduction (penyalur udara) sebagai saluran
yang meneruskan udara menuju saluran napas bagian bawah untuk pertukaran gas;
protection (perlindungan) sebagai pelindung saluran napas bagian bawah agar
terhindar dari masuknya benda asing; warming, filtrasi, dan humidifikasi yakni
sebagai bagian yang menghangatkan, menyaring, dan memberi kelembaban udara
yang diinspirasi (dihirup). Saluran pernapasan bagian bawah yang secara umum
terbagi menjadi dua komponen ditinjau dari fungsinya, yaitu : saluran udara
konduktif sering disebut sebagai percabangan trakheobronkhialis yang terdiri atas
trakhea, bronkhus, dan bronkhiolus; saluran respiratorius terminal yang berfungsi
sebagai penyalur gas masuk dan keluar dari satuan respiratorius terminal yang
merupakan tempat pertukaran gas yang yang sesungguhnya (Somantri, 2008).

Gambar 2.1
Organ sistem pernafasan

a. Saluran Pernapasan Bagian Atas


1) Lubang hidung

1
Hidung dibentuk oleh tulang sejati (OS) dan tulang rawan (kartilago).
Hidung dibentuk oleh sebagian kecil tulang sejati, sisanya terdiri atas kartilago
dan jaringan ikat (connective tissue). Bagian dalam hidung merupakan suatu
lubang yang dipisahkan menjadi lubang kiri dan kanan oleh sekat (septum).
Rongga hidung mengandung rambut (fimbriae) yang berfungsi sebagai
penyaring (filter) kasar terdapat benda asing yang masuk. Pada permukaan
(mukosa) hidung terdapat epitel bersilia yang mengandung sel GOBLET. Sel
tersebut mengeluarkan lendir sehingga dapat menangkap benda asing yang
masuk kedalam saluran pernapasan. Kita dapat mencium aroma karena didalam
lubang hidung terdapat reseptor. Rerseptor bau terletak pada cribriform plate,
didalamnya terdapat ujung dari saraf kranial satu (Nervous Olfactorius)
(Soemantri, 2008).
Hidung berfungi sebagai jalan napas, pengatur udara, pengatur
kelembapan udara (humidifikasi), pengatur suhu, perlindungan dan
penyaringan udara, indra pencium dan resonator suara. Fungsi hidung sebagai
pelindung dan penyaring dilakukan vibrissa, lapisan lendir dan enzim lisozim.
Vibrissa adalah rambut pada vestibulum nasi yang bertugas sebagai penyaring
debu dan kotoran (partikel berukuran besar). Debu-debu kecil dan kotoran
(partikel kecil) yang masih dapat melewati vibrissa akan melekat pada lapisan
lendir dan selanjutnya dikeluarkan oleh reflek bersin. Jika dalam udara masih
terdapat bakteri (partikel sangat kecil), maka enzim lisozim yang
menghancurkannya (Muttaqin, 2014).
2) Sinus Paranasalis
Merupakan daerah yang terbuka pada tulang kepala. Dinamakan sesuai
daerah tulang tempat dia berada yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus
sphenoidalis, dan sinus maxilarris, sinus berfungsi untuk membantu
mengahangatkankan dan humidifikasi, meringankan berat tulang tengkorak,
mengatur bunyi suara manusia dengan ruang resonansi (Soemantri, 2008).

Gambar 2.2 Sinus

3) Faring
Merupakan pipa berotot berbentuk cerobong (±13 cm) yang letaknya
bermula dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esofagus pada
ketinggian tulang rawan (kartilago) krikoid. Faring digunakan pada saat
“digestion” (menelan) seperti pada saat bernapas. Berdasarkan letaknya faring
dibagi menjadi 3 yaitu dibelakang hidung (nasofaring), belakang mulut
(orofaring), dan belakang laring (laringofaring).
Nasofaring terdapat pada superior di area yang terdapat epitel bersilia
(pseudo stratified) dan tonsil (adenoid), serta merupakan muara tube eustachius.
Adenoid atau faringeal tonsil berada di langit-langit nasofaring. Tenggorokan
dikelilingi oleh tonsil, adrenoid, dan jaringan limfoid lainnya. Struktur tersebut
penting sebagai mata rantai nodus limpatikus untuk menjaga tubuh dari infasi
organisme yang masuk ke hidung dan tenggorokan.

2
Orofaring berfungsi untuk menampung udara dari nasofaring dan
makanan dari mulut. Pada bagian ini terdapat tonsili palatina (posterior) dan
tonsili lingualis (dasar lidah). Laringofaring merupakan bagian terbawah faring
yang berhubungan dengan esofagus dan pita suara (vokal cord) yang berada
dalam trakhea. Laringofaring berfungsi pada saat menelan dan respirasi.
Laringofaring terletak dibagian depan pada laring, sedangkan trakhea terletak di
belakang (Soemantri, 2008).
4) Laring
Laring sering disebut dengan “voice box” dibentuk oleh struktur
epitelium lined yang berhubungan dengan faring (di atas) dan trakhea (di
bawah). Laring terletak di anterior tulang belakang (vertebrae) ke empat dan ke
enam. Bagian atas dari esofagus berada di posterior laring. Fungsi utama laring
adalah untuk membentuk suara, sebagai potensi jalan napas bawah dari benda
asing dan untuk memfasilitasi proses terjadinya batuk. Laring terdiri atas :
a) Epiglotis : katup kartilago yang menutup dan membuka selama menelan.
b) Glotis : lubang antara pita suara dan laring.
c) Kartilago tiroid : kartilago yang terbesar pada trakhea, terdapat bagian yang
membentuk jakun.
d) Kartilago krikoid : cincin kartilago yang utuh di laring (terletak dibawah
kartilago tiroid).
e) Kartilago aritenoid : digunakan pada pergerakan pita suara bersama dengan
kartilago tiroid.
f) Pita suara : sebuah ligamen yang dikontrol oleh pergerakan otot yang
menghasilkan suara dan menempel pada lumen laring.
b. Saluran pernapasan bagian bawah
1) Saluran udara konduktif
a) Trakhea
Merupakan perpanjangan dari laring pada ketinggian tulang vertebrae
torakal ke-7 yang bercabang menjadi 2 bronkhus. Ujung cabang trakhea
disebut carina. Trakhea bersifat sangat fleksibel, berotot, dan memiliki
panjang 12 cm dengan cincin kartilago berbentuk huruf C. Pada cincin
tersebut terdapat epitel bersilia tegap (pseudotratified ciliated columnar
epithelium) yang mengandung banyak sel GOBLET yang mensekresikan
lendir (mucus) (Soemantri, 2008).
b) Brokus dan Bronkhiolus
Cabang bronkhus kanan lebih pendek, lebih besar, dan cenderung
lebih vertikal dari pada cabang yang kiri. Hal tersebut menyebabkan benda
asing lebih mudah masuk kedalam cabang sebelah kanan dari pada cabang
bronkhus sebelah kiri. Segmen dan subsegmen bronkhus bercabang lagi dan
berbentuk seperti ranting masuk ke setiap paru-paru. Bronkhus disusun oleh
jaringan kartilago sedangkan bronkhiolus, yang berakhir di alveoli, tidak
mengandung kartilago.
Tidak adanya katilago menyebabkan bronkhiolus mampu menagkap
udara, namun juga dapat mengalami kolaps. Agar tidak kolaps, alveoli
dilengkapi dengan porus atau lubang kecil yang terletak antar alveoli (‘kohn
pores’) yang berfungsi untuk mencegah kolaps alveoli. Saluran pernapasan
mulai dari trakhea sampai bronkhus terminalis tidak mengalami pertukaran
gas dan merupakan area yang dinamakan Anatomical Dead Space.
Banyaknya udara yang berada dalam area tersebut adalah sebesar 150 ml.

3
Awal dari proses pertukaran gas terjadi di bronkhiolus respiratorius
(Soemantri, 2008).
2) Saluran respiratorius terminal
a) Alveoli
Parenkim paru-paru merupakan area yang aktif bekerja dari jaringan
paru-paru. Parenkin tersebut mengandung berjuta-juta unit alveolus. Alveoli
merupakan kantong udara yang berukuran sangat kecil, dan merupakan
akhir dari bronkhiolus respiratorius sehingga memungkinkan pertukaran O2
dan C02. Saluran dari unit alveoli (zoa respirasi) terdiri atas bronkhiolus
respiratorius, duktus alveolus, dan alveolar sacs (kantong alveolus). Fungsi
utamanya adalah pertukaran O2 dan C02 diantara kapiler pulmoner dan
alveoli. Diperkirakan terdapat 24 jam alveoli pada bayi yang baru lahir.
Seiring dengan pertambahan usia, jumlah alveoli pun bertambah dan akan
mencapai jumlah yang sama degan orang dewasa pada usia 8 tahun, yakni
300 juta alveoli. Setiap unit alveoli menyuplai 9-11 prepulmonari dan
pulmonary kapiler.
Alveolus terdiri atas dua macam sel : pneumosit tipe I yang melapisi
alveolus, merupakan sel tipis dan tidak mampu bereproduksi tetapi efektif
untuk pertukaran gas. Pneumosit tipe II adalah sel kuboid dan tidak dapat
melakukan pertukaran oksigen dan CO2 dengan baik. Sel ini menghasilkan
surfaktan dan penting pada jejas paru dan reparasi jaringan karena sel ini
dapat berdiferensiasi menjadi makrofag alveolar. Sel ini juga dapat
berdiferensiasi menjadi sel tipe I, oksigenasi dapat terganggu selama masa
transisi dari tipe II ke tipe I (Black & Hawks, 2014).
Dinding alveolar juga berisi sel yang mensekresi cairan yang berisi
surfaktan, yang diperlukan untuk mempertahankan permukaan lembab dan
mengurangi tegangan permukaan cairan alveolar untuk membantu
mencegah kolaps paru (Muttaqin, 2014).

Gambar 2.3 Alveoli

b) Paru-paru
Paru adalah jaringan ikat elastis, disebut stroma dan lunak seperti
spons. Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang
ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada
diafragma. (Black & Hawks, 2014). Paru-paru kanan mempunyai 3 lobus
sedangkan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. (Soemantri, 2008). Tiap paru
terbagi menjadi lobus superior dan inferior oleh fisura oblik. Paru kanan
dibagi lagi oleh fisura horizontal sehingga paru kanan terbagi ke dalam tiga
lobus. Lobus superior, medius dan inferior. Sedangkan paru kiri hanya
terdiri atas dua lobus. Selain pembagian paru menjadi lima lobus ini tampak

4
dari luar, paru juga terbagi menjadi 10 unit yang lebih kecil (segmen
bronkopulmonal). Tiap segmen mencerminkan bagian paru yang disuplai
oleh bronkus tersier spesifik. Segmen ini penting secara bedah karena
segmen yang mengalami kerusakan dapat dilakukan reseksi tanpa harus
mengangkat keseluruhan lobus atau keseluruhan paru.
Kedua paru dipisahkan oleh sebuah ruangan (mediastinum) dimana
terletak organ-organ seperti jantung, aorta, vena cava, pembuluh darah
pulmonal, esofagus, bagian dari trakea dan bronki serta kelenjar timus.
Paru-paru mengandung gas, darah,dinding alveolus yang tipis dan struktur
pendukung. Dinding alveolus mengandung serabut kolagen dan elastis,
yang membentuk struktur tiga dimensi menyerupai keranjang yang
memungkinkan paru berkembang ke semua arah. Serabut ini dapat
meregang ketika terdapat gaya tarikan pada paru dari luar tubuh atau ketika
paru-paru mengembang dari dalam. Rekoil (pentalan) elastis membantu
mengembalikan paru ke volume saat istirahat (Black & Hawks, 2014).

Gambar 2.4 Paru-paru


c) Dada, Diagfragma dan Pleura
Tulang dada (sternum) berfungsi melindungi paru-paru, jantung, dan
pembuluh darah besar. Bagian luar rongga dada terdiri atas 12 pasang tulang
iga (costae). Bagian atas dada pada daerah leher terdapat dua otot tambahan
inspirasi yaitu otot scaleneus dan sternocleidomastoid. Otot scaleneus
menaikan tulang iga kesatu dan kedua selama inspirasi untuk memperluas
rongga dada atas dan menstabilkan dinding dada, sedangkan otot
sternocleidomastoid menganggkat strenum. Otot parasternal, trapezius, dan
pectoralis juga merupakan otot tambahan inspirasi dan berguna untuk
meningkatkan kerja napas. Diantara tulang iga terdapat otot interkostal. Otot
interkostal eksternus menggerakan tulang iga keatas dan kedepan sehingga
akan meningkatkan diameter anteroposterior dinding dada.
Diafragma terletak dibawah rongga dada. Diafragma berbentuk
seperti kubah pada keadaan relaksasi. dengan otot utama melekat pada
prosesus xifoideus sternum dan rusuk bagian bawah, meningkatkan ruangan
toraks dan secara aktif mengembangkan paru. Pengaturan saraf diafragma
(nervus phrenicus) terdapat pada susunan saraf spinal pada tingkat C3 (otot
pernapasan terganggu sehingga perlu ventolator untuk bernapas), sehingga
jika terjadi kecelakaan saraf C3 akan menyebabkan gangguan ventilasi
(Black & Hawks, 2014).

5
Gambar 2.5 Diafragma

Pleura merupakan membran serosa yang menyelimuti paru-paru.


Pleura ada macam yaitu pleura parietal yang bersinggungan dengan rongga
dada (lapisan luar paru-paru) dan pleura visceral yang menutupi setiap paru-
paru (lapisan dalam paru-paru). Diantara kedua pleura terdapat cairan pleura
seperti selaput tipis yang memungkinkan kedua permukaan tersebut
bergesekan satu sama lain selama respirasi, dan mencegah pelekatan dada
dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari pada
tekanan atmosfer sehingga mencegah kolaps paru-paru. Masuknya udara
maupun cairan kedalam rongga pleura akan menyebabkan paru-paru
tertekan dan kolaps. Apabila terserang penyakit, pleura akan mengalami
peradangan.

Gambar 2.5 Pleura

d) Sirkulasi pulmoner
Sirkulasi pulmoner ialah suplay darah ke dalam paru-paru
merupakan suatu yang unik. Paru-paru mempunyai dua suplay darah yaitu
arteri bronkhialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronkhial menyediakan
darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi
kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri bronkhialis berasal dari
aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkhus. Vena
bronkhialis akan mengalirkan darah menuju vena pulmonalis. Arteri
pulmonalis berasal dari ventrikel kanan yang mengalirkan darah ke vena
paru-paru dimana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas.
Jalinan kapiler paru-paru yang harus mengiritasi dan menutupi alveolus
merupakan kontak yang diperlukan untuk pertukaran gas antara alveolus
dan darah (Soemantri, 2008).

2. Fisiologi Sistem Pernafasan


Fisiologi Sistem Pernapasan dapat disebut juga dengan sistem respirasi yang
berarti bernapas kembali. Fisiologi sistem pernapasan terbagi menjadi beberapa
bagian, sebagai berikut:
a. Ventilasi Mekanis Pulmonal

6
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta mengeluarkan udara yang
mengandung karbon dioksida sisa oksidasi ke luar tubuh (ekspirasi). Proses
respirasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan
paru. Sistem saraf pusat memberikan dorongan ritmis dari dalam untuk bernapas
dan secara refleks merangsang otot diafragma dan otot dada yang akan
memberikan tenaga pendorong bagi gerakan udara. Proses pergerakan gas ke
dalam dan ke luar paru dipengaruhi oleh tekanan dan volume. Agar udara dapat
mengalir ke dalam paru, tekanan intrapleural harus menjadi negatif untuk dapat
menentukan batas atas gradient tekanan antara atmosfer dan alveolus sehingga
udara masuk dengan mudah ke dalam paru.
Volume normal paru diukur melalui penilaian fungsi paru (Tabel 2.1).
sebagian dari pengukuran ini dapat direkam dengan spirometer, di mana
parameter yang diukur adalah volume udara yang memasuki atau meninggalkan
paru. Bervariasinya nilai normal volume paru bergantung pada beberapa
keadaan seperti adanya kehamilan, latihan, obesitas, atau kondisi-kondisi
mengenai penyakit obstruktif dan restriktif. Faktor-faktor seperti jumlah
surfaktan, komplains, dan kelumpuhan pada otot pernapasan dapat
mempengaruhi tekanan dan volume paru. Fungsi utama dari sirkulasi pulmonal
adalah mengalirkan darah dari dan ke paru agar dapat terjadi pertukaran gas.
Tabel 2.1 Volume normal paru

Nilai
Singkatan Volume Pengertian
Normal

VC Vital Capacity Volume udara 4,800 ml


(kapasitas Vital). maksimal setelah
inspirasi maksimal.

IC Inspiratory Volume udara 3,600 ml


capacity maksimal setelah
(kapasitas ekspirasi normal.
inspirasi).
IRV Inspiratpry Volume udara 3,300 ml
reserve volume maksimal setelah
(volume inspirasi maksimal.
cadangan
inspirasi).

ERV Expiratory volume udara 1,000 ml


reserve capacity maksimal setelah
(volume ekspirasi normal.
cadangan
ekspirasi).

7
FRC Functional Volume gas dalam 2,400 ml
residual capacity paru pada tahap
(volume residu). ekspirasi istirahat.

RV Residual volume Volume udara yang 1,200 ml


(volume tersisa setelah
residual). ekspirasi maksimal.

TLC Total Lung Volume udara dalam 6,000 ml


capacity paru setelah isnpirasi
(kapasitas paru maksimal.
total).

VT Tidal volume Volume udara yang 500 ml


(volume alun dihirup dan
napas). dihembuskan pada
setiap kali bernapas.

(sumber: Nowak dan Gordon, 2004 dikutip dari Muttaqin, 2014)


Udara mengalir dari bagian bertekanan tinggi ke bagian bertekanan
rendah. Namun demikian, bila tak ada aliran udara masuk atau keluar paru, itu
berarti tekanan alveolar dan atmosfer berada dalam keadaan seimbang. Untuk
memulai pernapasan, aliran udara ke dalam paru harus dicetuskan oleh turunnya
tekanan dalam alveolus. Ini melibatkan proses yang rumit dan berhubungan
dengan banyak variabel. Ventilasi mekanis melibatkan adanya daya rekoil
elastisitas, komplians, tekanan dan gravitasi.
1) Daya Rekoil Elastisitas
Paru dan dada bersifat elastis, memerlukan energi untuk bergerak
tetapi dapat dengan cepat kembali ke bentuk awalnya bila energi tidak efektif
lagi. Gerakan ke atas dan ke bawah diagfragma, memanjangkan dan
memendekan kapasitas dada. Gerakan itu juga dikombinasikan dengan naik
dan turunnya tulang rusuk yang mampu meningkatkan dan menurunkan
diameter rongga antero posterior sehingga menyebabkan ekspansi dan
kontraksi paru.
Ventilasi adalah proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan
proses aktif dan pasif yang melibatkan kontraksi otot-otot interkosta interna
dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar. Akibatnya, diagfragma
turun dan otot diagfragma berkontraksi.
2) Komplians
Bukti dari pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa paru dan
toraks sendiri mempunyai karakteristik elastis dan menunjukkan kemampuan
mengembang. Kemampuan ini disebut komplians (compliance) atau ukuran
elastisitas paru. Komplians ditunjukkan sebagai peningkatan volume dalam
paru untuk tiap unit peningkatan tekanan inta-alveolar.
3) Tekanan

8
Tekanan dapat didefinisikan sebagai kekuatan dimana gas atau
campuran gas berusaha untuk bergerak dari batas lingkungan yang ada.
Akibatnya, bila kita mengambil 100 volume udara dan menaruhnya dalam
wadah dibawah tekanan 1 atmosfer (760mmHg), hasil analisis akan
mengetahui bahwa nitrogen merupakan 79 dari 100 volume ( 79%) dan
volume oksigen 21 dari 100 volume (21%).
4) Gravitasi
Pada orang dewasa normal saat berdiri tegak, kekuatan gravitasi
meningkatkan tekanan intapleural (dan juga tekanan intra-alveolar) pada
dasar paru. Akibatnya, semakin banyak pertukaran udara yang terjadi pada
bagian atas paru dari pada di dasar paru.
b. Difusi Gas
Difusi gas adalah bergeraknya gas O2 dan CO2 atau partikel lain dari area
yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan rendah. Proses difusi dipengaruhi
oleh ketebalan luas permukaan dan komposisi membrane, koefisien difusi O2 dan
CO2; serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2.
c. Perfusi
Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk
dioksigenasi, dimana pada sirkulasi paru adalah darah di oksigenasi yang
mengalir dalam arteri pulmonaris dari ventrikel kanan jantung. Darah ini
memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaran oksigen
dan karbondioksida di kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari
curah jantung. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi
volume darah yang besar sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-waktu terjadi
penurunan volume atau tekanan darah sistemik. Adekuatnya pertukaran gas
dalam paru dipengaruhi oleh keadaan ventilasi dan perfusi.

d. Transportasi Gas
Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari
jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Masuknya O2 ke dalam sel
darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk
oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisanya 3% ditransportasikan ke dalam cairan
plasma dan sel.
1) Inspirasi
Inspirasi terjadi bila tekanan intrapulmonal (intra-alveolar) lebih rendah dari
tekanan udara luar. Pada inspirasi biasa tekanan ini berkisar antara -1 mmHg
sampai -3 mmHg. Pada inspirasi dalam, tekanan inta-alveolus mencapai -30
mmHg.
2) Ekspirasi
Ekspirasi berlangsung bila tekanan intrapulmonal lebih tinggi daripada
tekanan udara luar, sehingga udara bergerak ke luar paru. Meningkatnya
tekanan dalam rongga paru terjadi apabila volume rongga paru mengecil
akibat proses penguncupan yang disebabkan daya elastisitas jaringan paru.
Penguncupan paru terjadi bila otot-otot inspirasi mulai berelaksasi. Pada
proses ekspirasi biasa tekanan intra-alveolus sekitar +1 cmHg sampai +3
cmHg.
C. Jenis Sel Kanker Paru
Menurut Black dan Hawks (2014) terdapat tiga tipe kanker paru berdasarkan ukuran
dan penampakan sel kanker :

9
1. Kanker paru bukan sel kecil (non-small cell lung cancer/NSCLC) meliputi
karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Kanker sel skuamosa bermula pada
bronkus besar dan adenokarsinoma mulai dari alveolus. Baru-baru ini telah
ditemukan onkogen yang spesifik dan inaktifasi dari gen supresor tumor.
Abnormalitas paling penting yang terdeteksi adalah mutasi yang melibatkan
keluarga onkogen ras.
2. Karsinoma sel kecil (small cell lung cancer/SCLC), juga di sebut karsinoma sel
gandum/sel oat. Dimulai di jalan napas besar dan kemudian menjadi cukup besar.
Karsinoma ini berhubungan dengan onkogen yag disebut L-myc. Sel gandum
karena berukuran seperti biji gandum, mengandung granul neurosekretori padat
yang sering kali menyebabkan sindroma endokrin/paraneoplastik. Awalnya
karsinoma ini lebih sensitif terhadap kemoterapi, tetapi akhirnya akan memiliki
prognosis yang lebih buruk dan seringkali sudah bermetastasis saat pertama
ditemukan. Tipe kanker paru ini sangat berkaitan dengan kebiasaan merokok.
3. Kanker paru metastatik adalah bentuk kanker paru lainnya. Tumor payudara, kolon,
prostat, dan kandung kemih biasanya bermetastasi ke paru-paru, namun semua
kanker memiliki kemampuan untuk menyebar ke paru-paru (Black & Hawks,
2014).
Gambar 1. Jenis Sel Kanker Paru dalam Lemone, et. al (2016)

Gambar 2. Kanker paru dalam Black dan Hawks (2014)

10
D. Penderajatan (Staging) Kanker Paru
Penderajatan untuk NSCLC ditentukan menurut International System For Lung Cancer
1997, berdasarkan sistem TNM. Pengertian T adalah tumor yang dikatagorikan atas Tx,
To s/d T4, N untuk keterlibatan kelenjar getah bening (KGB) yang dikategorikan atas
Nx, No s/d N3, sedangkan M adalah menunjukkan ada atau tidaknya metastasis jauh
(PDPI, 2003).

E. Etiologi
Mayoritas penyakit kanker paru disebabkan oleh karsinogen dan zat promotor
tumor yang masuk ke dalam tubuh melalui kebiasaan merokok. Secara keseluruhan,
resiko relatif terjadinya kanker paru-paru meningkat sekitar 13 kali lipat oleh kebiasaan

11
merokok yang aktif dan sekitar 1,5 kali lipat oleh pajanan asap rokok secara pasif dalam
waktu lama. Rokok merupakan faktor utama resiko timbulnya kanker paru (80-90%).
Faktor resiko perkembangan kanker paru adalah 10 kali untuk laki-laki perokok dan 5
kali untuk wanita perokok (Soemantri, 2008).
Beberapa zat karsinogen tersebut antara lain :
1. Rokok tembakau : yaitu kandungan “tar”, suatu persenyawaan hidrokarbon
aromatik polisiklik (resiko meningkat 60-70 kali lipat untuk seseorang yang
merokok 2 pak sehari selama 20 tahun dibandingkan individu bukan perokok).
Dalam hal ini, seseorang yang mulai merokok pada usia yang lebih muda akan lebih
beresiko untuk menderita kanker paru-paru. Faktor lain yang berhubungan adalah
jenis rokok yang diisap (kandungan tar dan filter vs non filter).
2. Polusi udara : banyak sekali polusi udara yang dapat menyebabkan kanker paru-
paru, diantaranya sulphur, emisi kendaraan bermotor, dan polutan yang berasal dari
pabrik. Data menunjukkan bahwa insiden kanker paru lebih banyak pada daerah
urban sebagai hasil dari peningkatan polutan dan asap kendaraan bermotor.
3. Asap pabrik/industri/tambang
4. Debu radioaktif/ledakan nuklir (radon), beberapa zat kimia antara lain abses, arsen,
krom, nikel, besi dan uranium.
5. Vitamin A : Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara diet rendah
vitamin A dengan timbulnya kanker paru. Kemungkinan hal ini terjadi karena
vitamin A berhubungan dengan regulasi dari diferensiasi sel.
6. Genetika : pada sel kanker paru didapatkan sejumlah lesi genetik termasuk aktivasi
onkogen dominan dan resesif (inaktifasi supresor tumor).
Meskipun zat karsinogen tersebut ada, timbulnya kanker paru berhubungan dengan
seringnya terkena paparan berulang substansi yang menyebabkan iritasi atau radang
kronis jaringan (Soemantri, 2008).

F. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen sub bronkus menyebabkan silia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Pengendapan
karsinogen ini menyebabkan metaplasia, hiperplasia dan displasia. Bila lesi perifer
yang disebabkan oleh metaplasia, hiperplasia dan displasia menembus ruang pleura,
biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus
vertebra (Linda, 2006). Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang
bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstruksi dan ulserasi bronkus dengan
diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk,
hemoptisis , dyspnea, demam, dan dingin. Wheezing unilateral dapat terdengar pada
auskultasi (Linda, 2006).
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya
metastasis, khususnya pada hati. Metastasis kanker paru dapat terjadi ke struktur –
struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, perikardium, otak, tulang
rangka (Linda, 2006).

G. Pencegahan
Penelitian tentang rokok mengatakan bahwa lebih dari 63 jenis bahan yang dikandung
asap rokok itu bersifat karsinogenesis. Secara epidemiologik juga terlihat kaitan kuat
antara kebiasaan merokok dengan insidens kanker paru, maka tidak dapat disangkal
lagi menghindarkan asap rokok adalah kunci keberhasilan pencegahan yang dapat
dilakukan. Keterkaitan rokok dengan kasus kanker paru diperkuat dengan data bahwa
risiko seorang perempuan perokok pasif akan terkena kanker paru lebih tinggi daripada

12
mereka yang tidak terpajan kepada asap rokok. Dengan dasar penemuan di atas adalah
wajar bahwa pencegahan utama kanker paru berupa upaya memberantas kebiasaan
merokok. Menghentikan seorang perokok aktif adalah sekaligus menyelamatkan lebih
dari seorang perokok pasif. Pencegahan harus diusahakan sebagai usaha perang
terhadap rokok dan dilakukan terus menerus (PDPI, 2003).

H. Manifestasi Klinis
1. Anamnesis
Gambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit paru
lainnya, terdiri dari keluhan subyektif dan gejala obyektif. Dari anamnesis akan
didapat keluhan utama dan perjalanan penyakit, serta faktor–faktor lain yang sering
sangat membantu tegaknya diagnosis. Keluhan utama dapat berupa :
 Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen)
 Batuk darah
 Sesak napas
 Suara serak
 Sakit dada
 Sulit / sakit menelan
 Benjolan di pangkal leher
 Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa
nyeri yang hebat
Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat metastasis
di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat di otak,
pembesaran hepar atau patah tulang kaki.
Gejala dan keluhan yang tidak khas seperti :
 Berat badan berkurang
 Nafsu makan hilang
 Demam hilang timbul
 Sindrom paraneoplastik, seperti "Hypertrophic pulmonary osteoartheopathy",
trombosis vena perifer dan neuropatia (PDPI, 2003).
2. Pemeriksaan jasmani
Pemeriksaan jasmani harus dilakukan secara menyeluruh dan teliti. Hasil yang
didapat sangat bergantung pada kelainan saat pemeriksaan dilakukan. Tumor paru
ukuran kecil dan terletak di perifer dapat memberikan gambaran normal pada
pemeriksaan. Tumor dengan ukuran besar, terlebih bila disertai atelektasis sebagai
akibat kompresi bronkus, efusi pleura atau penekanan vena kava akan memberikan
hasil yang lebih informatif. Pemeriksaan ini juga dapat memberikan data untuk
penentuan stage penyakit, seperti pembesaran KGB atau tumor diluar paru.
Metastasis ke organ lain juga dapat dideteksi dengan perabaan hepar, pemeriksaan
funduskopi untuk mendeteksi peninggian tekanan intrakranial dan terjadinya
fraktur sebagai akibat metastasis ke tulang (PDPI, 2003).

I. Pemeriksaaan Radiologis
Hasil pemeriksaan radiologis adalah salah satu pemeriksaan penunjang yang
mutlak dibutuhkan untuk menentukan lokasi tumor primer dan metastasis, serta
penentuan stadium penyakit berdasarkan sistem TNM. Pemeriksaan radiologi paru
yaitu Foto toraks PA/lateral, bila mungkin CT-scan toraks, bone scan, Bone survey,
USG abdomen dan Brain-CT dibutuhkan untuk menentukan letak kelainan, ukuran
tumor dan metastasis.

13
a. Foto toraks : Pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral akan dapat dilihat bila masa
tumor dengan ukuran tumor lebih dari 1 cm. Tanda yang mendukung keganasan
adalah tepi yang ireguler, disertai identasi pleura, tumor satelit tumor, dll. Pada foto
tumor juga dapat ditemukan telah invasi ke dinding dada, efusi pleura, efusi perikar
dan metastasis intrapulmoner. Sedangkan keterlibatan KGB untuk menentukan N
agak sulit ditentukan dengan foto toraks saja. Kewaspadaan dokter terhadap
kemungkinan kanker paru pada seorang penderita penyakit paru dengan gambaran
yang tidak khas untuk keganasan penting diingatkan. Seorang penderita yang
tergolong dalam golongan resiko tinggi (GRT) dengan diagnosis penyakit paru,
harus disertai difollowup yang teliti. Pemberian OAT yang tidak menunjukan
perbaikan atau bahkan memburuk setelah 1 bulan harus menyingkirkan
kemungkinan kanker paru, tetapi lain masalahnya pengobatan pneumonia yang
tidak berhasil setelah pemberian antibiotik selama 1 minggu juga harus
menimbulkan dugaan kemungkinan tumor dibalik pneumonia tersebut. Bila foto
toraks menunjukkan gambaran efusi pleura yang luas harus diikuti dengan
pengosongan isi pleura dengan punksi berulang atau pemasangan WSD dan ulangan
foto toraks agar bila ada tumor primer dapat diperlihatkan. Keganasan harus
difikirkan bila cairan bersifat produktif, dan/atau cairan serohemoragik.
b. CT-Scan toraks : Tehnik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara
lebih baik daripada foto toraks. CT-scan dapat mendeteksi tumor dengan ukuran
lebih kecil dari 1 cm secara lebih tepat. Demikian juga tanda-tanda proses
keganasan juga tergambar secara lebih baik, bahkan bila terdapat penekanan
terhadap bronkus, tumor intra bronkial, atelektasis, efusi pleura yang tidak masif
dan telah terjadi invasi ke mediastinum dan dinding dada meski tanpa gejala. Lebih
jauh lagi dengan CT-scan, keterlibatan KGB yang sangat berperan untuk
menentukan stage juga lebih baik karena pembesaran KGB (N1 s/d N3) dapat
dideteksi. Demikian juga ketelitiannya mendeteksi kemungkinan metastasis
intrapulmoner.
c. Pemeriksaan radiologik lain : Kekurangan dari foto toraks dan CT-scan toraks
adalah tidak mampu mendeteksi telah terjadinya metastasis jauh. Untuk itu
dibutuhkan pemeriksaan radiologik lain, misalnya Brain-CT untuk mendeteksi
metastasis di tulang kepala / jaringan otak, bone scan dan/atau bone survey dapat
mendeteksi metastasis diseluruh jaringan tulang tubuh. USG abdomen dapat
melihat ada tidaknya metastasis di hati, kelenjar adrenal dan organ lain dalam
rongga perut (PDPI, 2003).

J. Pemeriksaan Khusus
a. Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah pemeriksaan dengan tujuan diagnostik sekaligus dapat
dihandalkan untuk dapat mengambil jaringan atau bahan agar dapat dipastikan ada
tidaknya sel ganas. Pemeriksaan ada tidaknya masa intrabronkus atau perubahan
mukosa saluran napas, seperti terlihat kelainan mukosa tumor misalnya, berbenjol-
benjol, hiperemis, atau stinosis infiltratif, mudah berdarah. Tampakan yang
abnormal sebaiknya di ikuti dengan tindakan biopsi tumor/dinding bronkus,
bilasan, sikatan atau kerokan bronkus.
b. Biopsi aspirasi jarum
Apabila biopsi tumor intrabronkial tidak dapat dilakukan, misalnya karena amat
mudah berdarah, atau apabila mukosa licin berbenjol, maka sebaiknya dilakukan
biopsi aspirasi jarum, karena bilasan dan biopsi bronkus saja sering memberikan
hasil negatif.

14
c. Transbronchial Needle Aspiration (TBNA)
TBNA di karina, atau trakea 1/1 bawah (2 cincin di atas karina) pada posisi jam 1
bila tumor ada dikanan, akan memberikan informasi ganda, yakni didapat bahan
untuk sitologi dan informasi metastasis KGB subkarina atau paratrakeal.
d. Transbronchial Lung Biopsy (TBLB)
Jika lesi kecil dan lokasi agak di perifer serta ada sarana untuk fluoroskopik maka
biopsi paru lewat bronkus (TBLB) harus dilakukan.
e. Biopsi Transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB)
Jika lesi terletak di perifer dan ukuran lebih dari 2 cm, TTB dengan bantuan
flouroscopic angiography. Namun jika lesi lebih kecil dari 2 cm dan terletak di
sentral dapat dilakukan TTB dengan tuntunan CTscan.
f. Biopsi lain
Biopsi jarum halus dapat dilakukan bila terdapat pembesaran KGB atau teraba masa
yang dapat terlihat superfisial. Biopsi KBG harus dilakukan bila teraba pembesaran
KGB supraklavikula, leher atau aksila, apalagi bila diagnosis sitologi/histologi
tumor primer di paru belum diketahui. Biopsi Daniels dianjurkan bila tidak jelas
terlihat pembesaran KGB supraklavikula dan cara lain tidak menghasilkan
informasi tentang jenis sel kanker. Punksi dan biopsi pleura harus dilakukan jika
ada efusi pleura.
g. Torakoskopi medik
Dengan tindakan ini massa tumor di bagian perifer paru, pleura viseralis, pleura
parietal dan mediastinum dapat dilihat dan dibiopsi.
h. Sitologi sputum
Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik yang paling mudah dan murah.
Kekurangan pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di perifer, penderita batuk kering
dan tehnik pengumpulan dan pengambilan sputum yang tidak memenuhi syarat.
Dengan bantuan inhalasi NaCl 3% untuk merangsang pengeluaran sputum dapat
ditingkatkan. Semua bahan yang diambil dengan pemeriksaan tersebut di atas harus
dikirim ke laboratorium Patologi Anatomik untuk pemeriksaan sitologi/histologi.
Bahan berupa cairan harus dikirim segera tanpa fiksasi, atau dibuat sediaan apus,
lalu difiksasi dengan alkohol absolut atau minimal alkohol 90%. Semua bahan
jaringan harus difiksasi dalam formalin 4% (PDPI, 2003).

Pemeriksaan invasif lain


Pada kasus kasus yang rumit terkadang tindakan invasif seperti Torakoskopi dan
tindakan bedah mediastinoskopi, torakoskopi, torakotomi eksplorasi dan biopsi paru
terbuka dibutuhkan agar diagnosis dapat ditegakkan. Tindakan ini merupakan pilihan
terakhir bila dari semua cara pemeriksaan yang telah dilakukan, diagnosis histologis /
patologis tidak dapat ditegakkan.
Semua tindakan diagnosis untuk kanker paru diarahkan agar dapat ditentukan :
1. Jenis histologis.
2. Derajat (staging).
3. Tampilan (tingkat tampil, "performance status").
Sehingga jenis pengobatan dapat dipilih sesuai dengan kondisi penderita (PDPI, 2003).

Pemeriksaan lain
a. Petanda Tumor
Petanda tumor yang telah, seperti CEA, Cyfra21-1, NSE dan lainya tidak dapat
digunakan untuk mendiagnosis tetapi masih digunakan evaluasi hasil pengobatan.
b. Pemeriksaan biologi molekuler

15
Pemeriksaan biologi molekuler telah semakin berkembang, cara paling sederhana
dapat menilai ekspresi beberapa gen atau produk gen yang terkait dengan kanker
paru,seperti protein p53, bcl2, dan lainya. Manfaat utama dari pemeriksaan biologi
molekuler adalah menentukan prognosis penyakit (PDPI, 2003).

K. Pengobatan
Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-modaliti terapi).
Kenyataanya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya diharapkan pada jenis
histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi non-medisseperti
fasiliti yang dimiliki rumah sakit dan ekonomi penderita juga merupakan faktor yang
amat menentukan.
1. Pembedahan
Indikasi pembedahan pada kanker paru adalah untuk NSCLC stadium I dan II.
Pembedahan juga merupakan bagian dari “combine modality therapy”, misalnya
kemoterapi neoadjuvan untuk NSCLC stadium IIIA. Indikasi lain adalah bila ada
kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker paru dengan
sindroma vena kava superior berat.
Prinsip pembedahan adalah sedapat mungkin tumor direseksi lengkap berikut
jaringan KGB intrapulmoner, dengan lobektomi maupun pneumonektomi.
Segmentektomi atau reseksi baji hanya dikerjakan jika faal paru tidak cukup untuk
lobektomi. Tepi sayatan diperiksa dengan potong beku untuk memastikan bahwa
batas sayatan bronkus bebas tumor. KGB mediastinum diambil dengan diseksi
sistematis, serta diperiksa secara patologi anatomis.
Hal penting lain yang penting dingat sebelum melakukan tindakan bedah adalah
mengetahui toleransi penderita terhadap jenis tindakan bedah yang akan dilakukan.
Toleransi penderita yang akan dibedah dapat diukur dengan nilai uji faal paru dan
jika tidak memungkin dapat dinilai dari hasil analisis gas darah (AGD) :
Syarat untuk reseksi paru :
 Resiko ringan untuk Pneumonektomi, bila KVP paru kontralateral baik,
VEP1>60%
 Risiko sedang pneumonektomi, bila KVP paru kontralateral > 35%, VEP1 >
60%
2. Radioterapi
Radioterapi pada kanker paru dapat menjadi terapi kuratif atau paliatif. Pada
terapi kuratif, radioterapi menjadi bagian dari kemoterapi neoadjuvan untuk
NSCLC stadium IIIA. Pada kondisi tertentu, radioterapi saja tidak jarang menjadi
alternatif terapi kuratif. Radiasi sering merupakan tindakan darurat yang harus
dilakukan untuk meringankan keluhan penderita, seperti sindroma vena kava
superiror, nyeri tulang akibat invasi tumor ke dinding dada dan metastasis tumor di
tulang atau otak.
Penetapan kebijakan radiasi pada NSCLC ditentukan beberapa faktor
a. Staging penyakit
b. Status tampilan
c. Fungsi paru
Bila radiasi dilakukan setelah pembedahan, maka harus diketahui :
 Jenis pembedahan termasuk diseksi kelenjar yang dikerjakan
 Penilaian batas sayatan oleh ahli Patologi Anatomi (PA)
Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000 – 6000 cGy, dengan cara
pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu.
Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah :

16
1) Hb > 10 g%
2) Trombosit > 100.000/mm3
3) Leukosit > 3000/dl
Radiasi paliatif diberikan pada unfavourable group, yakni :
1) PS < 70.
2) Penurunan BB > 5% dalam 2 bulan.
3) Fungsi paru buruk.
3. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus
ditentukan jenis histologis tumor dan tampilan (performance status) harus lebih dan
60 menurut skala Karnosfky atau 2 menurut skala WHO. Kemoterapi dilakukan
dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalam kombinasi regimen
kemoterapi. Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat anti kanker dapat
dilakukan.
Prinsip pemilihan jenis antikanker dan pemberian sebuah regimen kemoterapi
adalah:
1) Platinum based therapy (sisplatin atau karboplatin)
2) Respons obyektif satu obat antikanker s 15%
3) Toksisiti obat tidak melebihi grade 3 skala WHO
4) harus dihentikan atau diganti bila setelah pemberian 2 sikius pada penilaian
terjadi tumor progresif.
Regimen untuk NSCLC adalah :
1) Platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin)
2) PE (sisplatin atau karboplatin + etoposid)
3) Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin
4) Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin
5) Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin
Syarat standar yang harus dipenuhi sebe/um kemoterapi :
1) Tampilan > 70-80, pada penderita dengan PS < 70 atau usia lanjut, dapat
diberikan obat antikanker dengan regimen tertentu dan/atau jadual tertentu.
2) Hb > 10 g%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut, meski Hb <
10 g% tidak pertu tranfusi darah segera, cukup diberi terapi sesuai dengan
penyebab anemia.
3) Granulosit > 1500/mm3
4) Trombosit > 100.000/mm3
5) Fungsi hati baik
6) Fungsi ginjal baik (creatinin clearance lebih dari 70 ml/menit)
Evaluasi hasil pengobatan :
Umumnya kemoterapi diberikan sampai 6 sikius/sekuen, bila penderita
menunjukkan respons yang memadai. Evaluasi respons terapi dilakukan dengan
melihat perubahan ukuran tumor pada foto toraks PA setelah pemberian (sikius)
kemoterapi ke-2 dan kalau memungkinkan menggunakan CT-Scan toraks setelah 4
kali pemberian.
Evaluasi dilakukan terhadap :
 Respons subyektif yaitu penurunan keluhan awal
 Respons semisubyektif yaitu perbaikan tampilan, bertambahnya berat badan
 Respons obyektif
 Efek samping obat
Respons obyektif dibagi atas 4 golongan dengan ketentuan :

17
1) Respons komplit (complete response , CR) : bila pada evaluasi tumor hilang
100% dan keadan ini menetap lebih dari 4 minggu.
2) Respons sebagian (partial response, PR) : bila pengurangan ukuran tumor > 50%
tetapi < 100%.
3) Menetap {stable disease, SD) : bila ukuran tumor tidak berubahatau mengecil >
25% tetapi < 50%.
4) Tumor progresif (progresive disease, PD) : bila terjadi petambahan ukuran
tumor > 25% atau muncul tumor/lesi baru di paru atau di tempat lain.
Hal lain yang perlu diperhatikan datam pemberian kemoterapi adalah timbulnya
efek samping atau toksisiti. Berat ringannya efek toksisiti kemoterapi dapat dinilai
berdasarkan ketentuan yang dibuat WHO (PDPI, 2003).

18
4. Imunoterapi
Ada beberapa cara dan obat yang dapat digunakan meskipun belum ada hasil
penelitian di Indonesia yang menyokong manfaatnya.
5. Hormonoterapi
Ada beberapa cara dan obat yang dapat digunakan meskipun belum ada hasil
penelitian di Indonesia yang menyokong manfaatnya.
6. Terapi Gen
Tehnik dan manfaat pengobatan ini masih dalam penelitian (PDPI, 2003).

L. Pengobatan Paliatif dan Rehabilitasi


1. Pengobatan Paliatif
Hal yang perlu ditekankan dalam terapi paliatif adalah tujuannya untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita sebaik mungkin. Gejala dan tanda
karsinoma bronkogenik dapat dikelompokkan pada gejala bronkopulmoner,
ekstrapulmoner intratorasik, ekstratoraksik non metastasis dan ekstratorasik
metastasis. Sedangkan keluhan yang sering dijumpai adalah batuk, batuk darah,
sesak napas dan nyeri dada. Pengobatan paliatif untuk kanker paru meliputi
radioterapi, kemoterapi, medikamentosa, fisioterapi, dan psikososial. Pada
beberapa keadaan intervensi bedah, pemasangan stent dan cryotherapy dapat
dilakukan.
2. Rehabilitasi Medik
Pada penderita kanker paru dapat terjadi gangguan muskuloskeletal terutama akibat
metastasis ke tulang. Manifestasinya dapat berupa inviltrasi ke vetebra atau
pendesakan syaraf. Gejala yang tirnbul berupa kesemutan, baal, nyeri dan bahkan
dapat terjadi paresis sampai paralisis otot, dengan akibat akhir terjadinya gangguan
mobilisasi/ambulasi.

19
Upaya rehabilitasi medik tergantung pada kasus, apakah operabel atau tidak.
 Bila operabel tindakan rehabilitasi medik adalah preventif dan restoratif.
 Bila non-operabel tindakan rehabilitasi medik adalah suportif dan paliatif.
Untuk penderita kanker paru yang akan dibedah perlu dilakukan rehabilitasi medik
prabedah dan pascabedah, yang bertujuan membantu memperoleh hasil optimal
tindakan bedah, terutama untuk mencegah komplikasi pascabedah (misalnya:
retensi sputum, paru tidak mengembang) dan mempercepat mobilisasi. Tujuan
program rehabilitasi medik untuk kasus yang nonoperabel adalah untuk
memperbaiki dan mempertahankan kemampuan fungsional penderita yang dinilai
berdasarkan skala Karnofsky. Upaya ini juga termasuk penanganan paliatif
penderita kanker paru dan layanan hospis (dirumah sakit atau dirumah).

II. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan terkait kanker paru fokus pada mengidentifikasi faktor resiko
untuk penyakit, manifestasi dini kanker paru dan fungsi pernapasan pada pasien yang
menjalani terapi.
1. Riwayat kesehatan :
a. Gejala saat ini, termasuk batuk kronik, sesak nafas, sputum berwarna darah
b. Manifestasi sistemik seperti penurunan berat badan saat ini, anoreksia, nyeri
tulang
c. Riwayat merokok pajanan pekerjaan terhadap karsinogen
d. Penyakit kronik seperti COPD
2. Pemeriksaan fisik :
a. Penampilan umum : warna kulit, bukti jari gada (clubbing finger)
b. Berat badan dan tinggi badan
c. Tanda-tanda vital
d. Kecepatan pernapasan
e. Kedalaman pernapasan
f. Eksursi : suara paru terhadap perkusi dan auskultasi
3. Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan diagnostik
a. CBC dan pemeriksaan koagulasi
b. Pemeriksaan elektrolit serum dan osmolaritas
c. Hati dan fungsi ginjal
d. Sinar X-dada
e. Hasil CT scan dada
f. Gas darah arteri dan saturasi oksigen
(Lemone. et,al. 2016).

B. Diagnosa Keperawatan
Pasien yang mengalami kanker paru dihadapkan pada terapi invasif dengan efek
samping yang tidak diinginkan, kemungkinan pembedahan, dan umumnya prognosis
buruk untuk kesintasan jangka panjang. Kebutuhan asuhan keperawatan beragam,
terkait status pernapasan, kanker sendiri dan kemungkinan metastasis, serta rencana
terapi.
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan obstruksi bronkus
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi sekret
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan difusi
4. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan keletihan otot pernapasan

20
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan nafsu makan
6. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury (karsinoma)

21
C. Intervensi Keperawatan
Rencana Keperawatan
No Diagnosa
Nursing Out Come ( NOC ) Nursing Intervention (NIC)
1 Ketidakefektifan pola nafas NOC: Airway Management
berhubungan dengan obstruksi bronkus  Respiratory status : Ventilation 1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
 Respiratory status : Airway patency 2) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
 Aspiration Control nafas buatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3) Keluarkan sekret dengan batuk efektif
selama 3 hari pasien menunjukkan 4) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan 5) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
kriteria hasil : keseimbangan.
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan 6) Monitor respirasi dan status O2
suara nafas yang bersih, tidak ada Oxygen therapy
sianosis dan dyspneu (mampu 1) Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
mengeluarkan sputum, bernafas 2) Pertahnakan jalan nafas yang paten
dengan mudah, tidak ada pursed lips) 3) Atur peralatan oksigenasi
 Menunjukkan jalan nafas yang paten 4) Monitor aliran oksigen
(klien tidak merasa tercekik, irama 5) Pertahankan posisi pasien
nafas, frekuensi pernafasan dalam 6) Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
rentang normal, tidak ada suara nafas 7) Monitor adanya kecemasan pasian terhadap oksigenasi
abnormal) Vital sign monitoring
 Tanda-tanda vital dalam rentang 1) Monior TD, nadi, suhu dan RR
normal 2) Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3) Monitor TD pada saat duduk, berbaring dan berdiri
4) Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5) Monitor TD, nadi dan RR sebelum, selama dan setelah
aktifitas
6) Monitor kualitas dari nadi
7) Monitor frekuensi dan irama pernapasan
8) Monitor pola pernapasan abnormal
9) Monitor suara parau
10) Monitor suhu, warna dan kelembabann kulit

22
11) Monitor sianosis perifer
2 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas NOC: Airway Management
berhubungan dengan akumulasi sekret  Respiratory status : Ventilation 1) Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
 Respiratory status : Airway patency 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
 Aspiration Control 3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafas buatan
selama 3 hari pasien menunjukkan 4) Keluarkan sekret dengan batuk efektif
keefektifan jalan nafas dibuktikan dengan 5) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
kriteria hasil : 6) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan keseimbangan.
suara nafas yang bersih, tidak ada 7) Monitor respirasi dan status O2
sianosis dan dyspneu (mampu 8) Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan
mengeluarkan sputum, bernafas sekret
dengan mudah, tidak ada pursed lips) 9) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan
 Menunjukkan jalan nafas yang paten peralatan : O2
(klien tidak merasa tercekik, irama 10) Observasi tanda-tanda vital
nafas, frekuensi pernafasan dalam Aktivitas Kolaborasi
rentang normal, tidak ada suara nafas 1) Berikan terapi bronkodilator
abnormal)
 Mampu mengdentifikasi dan mencegah
faktor yang dapat menghambat jalan
nafas
3 Gangguan pertukaran gas berhubungan NOC: Airway Management
dengan penurunan kemampuan difusi  Respiratory status : Ventilation 1) Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
 Respiratory status : Airway patency 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
 Aspiration Control 3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafas buatan
selama 3 hari pasien menunjukkan 4) Keluarkan sekret dengan batuk efektif
peningkatan kemampuan pertukaran gas 5) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
dibuktikan dengan kriteria hasil : 6) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan keseimbangan.
suara nafas yang bersih, tidak ada 7) Monitor respirasi dan status O2

23
sianosis dan dyspneu (mampu 8) Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan
mengeluarkan sputum, bernafas sekret
dengan mudah, tidak ada pursed lips) 9) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan
 Menunjukkan jalan nafas yang paten peralatan : O2
(klien tidak merasa tercekik, irama 10) Observasi tanda-tanda vital
nafas, frekuensi pernafasan dalam Respiratory Monitoring
rentang normal, tidak ada suara nafas1) Monitor rata-rata, kedalaman, irama dan usaha
abnormal) respirasi
 Tanda-tanda vital dalam rentang 2) Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan,
normal penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
3) Monitor suara nafas, seperti dengkur
4) Monitor pola pernapasan : bradipnea, takipnea,
kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
5) Catat lokasi trakea
6) Monitor kelelahan otot diafragma
7) Auskultasi suara nafas, catat area penurunan/tidak
adanya ventilasi dan suara tambahan
4 Gangguan ventilasi spontan NOC Mechanical ventilation management
berhubungan dengan keletihan otot  Respiratory status : Airway patency 1) Pantau adanya kegagalan pernafasan yang akan terjadi
pernapasan  Respiratory status : Gas exchange 2) Pantau adanya penurunan volume ekshalasi dan
 Mechanical ventilation weaning penignkatan tekanan inspirasi pada pasien
response 3) Pantau keefektifan ventilasi mekanik pada kondisi
 Breathing pattern, ineffective fisiologis dan psikologis pasien
Kriteria hasil : 4) Pantau adanyan efek yang merugikan dari ventilasi
 Respon alergi sistemik : tingkat mekanik: infeksi, baro traumas, dan penurunan curah
keparahan respons hipersensitifitas jantung
imun sistemimk terhadap antigen
lingkungan
 Respon ventilasi mekanis : pertukaran
alveolar dan pefusi jaringan didukung
ventilasi mekanik

24
 Status pernapasan : pertukaran gas :
pertukaran O2 dan CO2 di alveolus
untuk mempertahankan konsentrasi
gas darah arteri dalam rentang normal
 Status pernafasan ventilasi :
pergerakan udara keluar masuk paru
adekuat
5 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari NOC Nutrition Management
kebutuhan tubuh berhubungan dengan  Nutritional status : food and fluid 1) Kaji adanya alergi makanan
penurunan nafsu makan intake 2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
 Nutritional status : nutrient intake kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
 Weight control 3) Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Kriteria hasil : 4) Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein da
 Adanya peningkatan berat badan vitamin C
sesuai dengan tujuan 5) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat
 Berat badan ideal sesuai dengan tinggi untuk mencegah konstipasi
badan 6) Berikan makanan yang terpilih (sudah di konsultasikan
 Mampu mengidentifikasi kebutuhan dengan ahli gizi)
nutrisi 7) Monitor jhumlah nutrisi dan kandungan kalori
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 8) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
 Menunjukkan peningkatan fungsi 9) Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
pengecapan dan menelan yang dibutuhkan
 Tidak terjadi penurunan berat badan Nutrition Monitoring
yang berarti 1) BB pasien dalam batas normal
2) Monitor adanya penurunan BB
3) Monitor tipe dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
4) Monitor lingkungan selama makan
5) Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam
makan
6) Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
7) Monitor turgor kulit
8) Monitor kekeringan, rambut kusam dan mudah patah

25
9) Monitor mual dan muntah
10) Monitor kadar albumin, total protein, Hb dan kadar Ht
11) Monitor pucat, kemerahan dan kekeringan jaringan
konjungtiva
12) Monitor kalori dan intake nutrisi
6 Nyeri akut berhubungan dengan agen NOC NIC
injury (karsinoma)  Pain level Pain Management
 Pain control 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
 Comfort level termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
Kriteria hasil : kualitas dan faktor presipitasi
 Mampu mengontrol nyeri (tahu 2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
penyebab nyeri, mampu menggunakan 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
teknik non farmakologi untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
mengurangi nyeri, mencari bantuan) 4) Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang 5) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
dengan menggunakan manajemen seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
nyeri 6) Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala, 7) Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) farmakologi dan interpersonal)
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri 8) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
berkurang intervensi
9) Ajarkan tentang teknik non farmakologi
10) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
11) Evaluasi keaktifan kontrol nyeri
12) Tingkatkan istirahat
13) Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
Analgesic Administration
1) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat
nyeri sebelum pemberian obat
2) Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan
frekuensi

26
3) Cek riwayat alergi
4) Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari
analgesik ketika pemberian lebih dari satu
5) Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
beratnya nyeri
6) Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian dan dosis
optimal
7) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
8) Berikan analgesik tepat waktu saat nyeri hebat
9) Evaluasi aktifitas analgesik, tanda dan gejala

27
DAFTAR PUSTAKA

Black J. M, Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis untuk Hasil
yang Diharapkan. Buku 3. Edisi 8. Jakarta: Salemba Medika
Pass HI, Carbone DP, Johnson HD, et al. 2005. Lung Cancer: Principles & Practice. 3rd Ed.
Lippincott Williams & Wilkins.
PDPI. (2003). Kanker Paru, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
Price. S, Wilson, M. L. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Soemantri, Irman. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

28