Anda di halaman 1dari 2

Sore ini begitu biru dan dingin oleh gerimis hujan.

Pikiran ini menerawang terbang


ke hamparan mimpi di masa itu. Masa yg membuatku selalu ingin segera melabuhkan
cinta, menetapi sebuah pengabdian dan cinta. MENIKAH.

Mimpi dan harapan seorang gadis muda biasa untuk memiliki suami yang sempurna.
Prince Charming. Paling tidak seperti yang ada di drama korea itu.

Namun ternyata,
Semua berbeda. Tak seperti khayalan naif dan lugu kala itu. Tak ada good night
kisses, morning hug, anniversary dg bunga dan coklat, atau sekadar nyidam saat kau
mngandung buah hatinya.

Dengan jadwalnya yg super ketat, seorang residen PPDS tidak mengenal yg namanya
libur weekend, libur hari raya. Walaupun berstatus belajar dan membayar SPP tiap
semester seperti mahasiswa lainnya, mereka tidak tahu rasanya libur akhir semester.
Semua bergantung stase yang sedang ia jalani. Ada stase yg memberikan kesempatan
baginya utk mencuri waktu utk pulang kampung pada jumat malam dan kembali pada
sabtu sore. Ada juga stase yg tidak memungkinkan utk itu karena sabtu/minggu harus
shift jaga. Rutinitas berangkat sebelum matahari menyingsing dan pulang saat bulan
sudah naek sepenggalah, sudah biasa.

Lalu bagaimana intensitas bertemu dg keluarga?

Saya jadi teringat ucapan seorang kawan, yg mengatakan bhwa seorang spesialis nanti
adalah orang yang 'banyak duit, tapi miskin waktu'. Mungkin ada benarnya. Yang
jelas, 'kemiskinan waktu' itu tidak perlu menunggu nanti. Tidak perlu menunggu
untuk dibuktikan kelak. Tapi sejak ia terdaftar di tempat ini ia dididik, maka
sejak itulah istri dan keluarga harus ikhlas merelakan 'haknya'. Waktu, tenaga, hal
moril bahkan materiil, semua harus rela digadaikan. Jika suamimu adlah seorang
PPDS, maka ia takkan sanggup menjalani dua peran sbgai pencari nafkah. Ia tak punya
waktu utk bekerja. Walau pada faktanya, sistem belajarnya sudah seperti bekerja di
instansi besar. Maka di situlah peranmu sbgai istri yang harus siap menopang
ekonomi keluarga. Beruntunglah baginya yang mendapatkan beasiswa, keluarga besar
yg siap mensupport biaya sekolah suami dan roda ekonomi keluargamu. Sungguh nikmat
yang luar biasa.

Lalu untuk apa semua ini??


Jika orientasi dr awal mendaftar adalah perbaikan ekonomi keluarga, maka sungguh
itu harga yang terlalu rendah. Ukuran kebahagiaan keluarga tidak pada tingkat
ekonominya. Lalu?? Untuk mencari jawaban ini, aku hanya perlu membayangkan wajah2
kuyu penuh harap dari keluarga pasien yg sedang menunggu di selasar. Melihat
kesabaran mereka yang rela tidur berdesakan di tempat istirahat umum di rumah
sakit. Mencoba menempatkan diri pada posisi seorang ibu yang sedang habis2an
berdoa utk kesembuhan putri kecilnya yg sedang berjuang melawan sakitnya. Di
situlah hati ini merasa lebih tenang. Karena aku tahu, suamiku sedang berusaha
menyambung sebuah kehidupan. Ia sedang berikhtiar mengembalikan sebuah kebahagiaan
keluarga. Menghadirkan kembali sosok yang sedang ditunggu di rumah.

Jika suamimu seorang PPDS, kau akan sering ditinggal

Jika suamimu seorang PPDS, kau akan menemuinya lebih banyak menghabiskan tidur di
rumah daripada berbincang hangat dgmu dan anak2mu

Jika suamimu seorang residen PPDS, kau akan terbiasa curi waktu utk chat dia hanya
utk curcol ga penting dgnya

Jika suamimu seorang residen PPDS, chatmu akan lebih panjang dan sering daripada
responnya. Itupun baru di read setelah 30 menit kemudian

Jika suamimu seorang residen PPDS, kamu akan menerima bhwa ia lebih suka beli baju
di lapak sisa import daripada di mall

Jika suamimu seorang residen PPDS, kamu akan lupa rasanya disayang2 karena ia
terlalu lelah lepas jaga 24 bahkan 36 jam nonstop!

Jika suamimu seorang residen PPDS, kamu ga akan sempat merasakan nyidam karena ia
sedang sangat stres menyiapkan diri utk ujian board. Ujian yg menurut mata awam ini
ndak fair. Setiap hari melihatnya mengabdi habis2an di rumah sakit tapi masih harus
di tes dg tes kognitif yg mungkin ndak reflektif.

Jika suamimu seorang residen PPDS, waktu luangnya akan diisi dg membaca dan
membaca.

Jika suamimu seorang residen PPDS, bahkan saat kalian sedang makan santai di
warteg, ia selalu melototin hpnya.

Jika suamimu seorang residen PPDS, ia akan kelabakan, nervous, dan khawatir
berlebihan saat di telp seniornya daripada saat kau menelepon untuk mengabarkan
bahwa anakmu sakit
Daaaannn.......,..............
Jika suamimu seorang residen PPDS, kamu adalah seorang istri yang hebat. Atas
segala kerelaan, kesabaran dan ketulusanmu, kau pantas menyentuh Jannah Nya,
InsyaAllah. Itulah sebaik dan setinggi2nya mimpi dan harapan. Bismillah....

Note:
PPDS: Program Pendidikan Dokter Spesialis

#utk istri2 hebat di sana