Anda di halaman 1dari 2

Halaman 322-324 yang sisi/kolom kiri

SURVEY KERENTANAN BANJIR

Kelas 2: Rawa Air Tawar dalam


Jenis kawasan ditutupi oleh vegetasi rendah dan terjadi pada bagian terendah, ada rawa
belakang . Ini menunjukkan sebagai light-toned area dengan bertekstur halus

Kelas 3: Rawa Air Tawar dangkal


Ini dilindungi oleh hutan rawa.Mereka mengelilingi rawa air tawar yang dalam dan dibatasi
oleh tanggul alam, beting gisik dari lekuk lereng fluvio-vulkan di sisi kering lainnya. Pada
foto udara mereka menjadi batas zona dari rawa belakang, agak berwarna gelap dan
menunjukkan tekstur agak kasar dan tidak teratur

Kelas 4: Rawa-Rawa Marginal


Rawa ini merupakan karakteristik untuk zona yang membatasi dengan lereng fluvio-
vulkanik. Vegetasi alami adalah hutan hujan yang lebih dari hutan rawa sebenarnya. Pada
foto udara warna gelap dan tekstur kasar.

Kelas 5: tanggul Alam


Beting dengan tekstur berdebu-geluh dengan variasi tinggi dan lebar tergantung besar kecil
sungai yang melintasi rawa-rawa.Tanggul tersebut ditutupi oleh tanaman dengan
kerapatan sedang dan bagian-bagian tertinggi digunakan untuk keperluan pertanian.
Kerentanan terhadap banjir bervariasi sesuai dengan ketinggian dan secara kasar dapat
diperkirakan dengan lebar dari tanggul alami yang ditunjukkan.

Kelas 6: Beting gisik muda dan Swalenya


Beting berpasir yang cukup tinggi dan membatasi laut. Terbentuk sejajar dengan pantai dan
tiap beting masing-masing dipisahkan dari satu sama lain dengan Swale sempit, rendah dan
berawa. Pada foto udara beting berpasir yang tandus berwarna cerah, sedangkan vegetasi
Swales berwarna jauh lebih gelap. Secara nyata, tekstur yang bergaris menggambarkan
daerah beting gisik tersebut

Sungai menerobos beting gisik ini kadang-kadang dialihkan sejajar pantai melewati swale
sampai menuju ke laut. Vegetasi alami terdiri dari cemara dan sebagian kecil yang
digunakan untuk budidaya kelapa

Kelas 7: Beting gisik tua dan Swalenya


Zonasi ini terletak jauh di daratan dan dikelilingi oleh rawa-rawa.Mereka menjadi penanda
posisi dari garis pantai tua. Beting ini telah menjadi lebih rendah dari waktu ke waktu
.Tanahnya lebih dewasa dan tidak pasir murni tetapi mengandung material bertekstur lebih
halus.Tekstur bergaris menandakan beting gisik muda yang juga sebenarnya dapat
menandakan beting gisik tua, tetapi kurang jelas. Warnanya secara umum lebih gelap.
Kerentanan terhadap banjir lebih besar daripada untuk kelas ke 6, dan pertanian hampir
sepenuhnya tidak ada
Kelas 8: Beting gisik tua terisolasi
Di tempat-tempat yang secara samar dibatasi oleh vegetasi rawa-rawa menunjukkan
kejadian terjadi beting gisik rendah .Terjadinya periode banjir sedang; tanah memiliki
kandungan pasir jauh lebih tinggi daripada di rawa saat ini

Hal ini jelas bahwa klasifikasi yang disajikan di sini dan pola distribusi dari delapan kelas
akan memudahkan dalam penetapan untuk perkembangan lebih jauh dari area rawa0rawa
ini.Sesuai dengan aplikasi, survei geomorfologi untuk penggunaan lebih efisien dari
kawasan rawa oleh tingkat peraturan, sebagian atau semua drainase dan / atau dengan
menggunakan air di tempat lain, dapat diberikan dari berbagai belahan dunia juga.

13.8 SEDIMENTASI DAN EROSI BERLEBIHAN YANG DISEBABKAN OLEH BANJIR

Dalam banyak kasus survei kerentanan banjir, tidak hanya dampak langsung dari banjir
harus dipelajari, tetapi juga (lebih kekal) konsekuensi yang merugikan dari sedimen yang
terbawa dan tersimpannya .Hal ini terutama terjadi ketika banjir bandang di daerah
vegetasi buruk ataur di daerah aliran sungai gundul di mana penutup vegetatif kurang
memberikan kontribusi terhadap retensi aliran permukaan pada interfluves.

Timbunan sedimen sering menyebabkan lapisan tebal yang cukup dan banyak menutupi
lahan pertanian , mengenai permukiman, sistem irigasi terganggu, dll. Karena sedimen
tersebut cenderung berpasir atau bahkan kerikil dan tanpa humus dan elemen penting
lainnya untuk pertumbuhan tanaman, kesuburannya biasanya rendah.

Sumber lain dari sedimen banjir ditemukan di interfluves dimana hujan menyebabkan
splash erosion dan sejumlah besar sedimen terbawa menuruni lereng oleh aliran
permukaan, sebagian disalurkan melalui limpasan dan (tidak sempurna) banjir lembaran.

Jarak antara Bunds tergantung pada berbagai faktor seperti kemiringan lereng, kekasaran
permukaan dan permeabilitas tanah. Ini harus diperkirakan/diperhitungkan sedemikian
rupa sehingga bahaya untuk jatujan dari puncak menjadi minimum.