Anda di halaman 1dari 51

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Masa remaja merupakan proses perubahan dari masa anak-anak ke

masa dewasa yang dimulai dari usia 10-18 tahun. Remaja akan mengalami

tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya. Salah satu tanda

kematangan organ seksual pada remaja dapat ditandai dengan masa pubertas.

pubertas yaitu dimulai dengan awal berfungsinya ovarium, dan akan berakhir

saat ovarium berfungsi dengan baik dan teratur (Sarwono 2009). Pada remaja

putri akan terjadi suatu perubahan fisik seperti pembesaran payudara, rambut

pada ketiak, panggul yang membesar, dan mulai terjadi kematangan dari

fungsi organ reproduksi yang ditandai dengan terjadinya mentruasi pertama

kali yang disebut menarche, sebagai ciri dalam masa pubertas (Tarwoto,

2010).

Menarche yaitu perdarahan pertama kali yang dikeluarkan dari uterus

yang dialami seorang remaja awal di tengah masa pubertas, hal ini terjadi

sebelum memasuki masa reproduksi. Menarche disebut dengan mentruasi

awal (Sukarni 2013). Tanda-tanda wanita mengalami menarche yaitu adanya

produksi hormone yang kemudian disekresikan oleh hipotalamus, selanjutnya

sekresi di lanjutkan pada ovarium dan uterus. Pada saat ini Usia seorang anak

perempuan yang mengalami menarche bervariasi. Usia menarche dapat

dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12-14 tahun (Susanti 2012). Saat

ini usia menarche pada anak mengalami pergeseran ke yang lebih muda
(Wahyu 2013). Pergeseran usia anak bervariasi. Beberapa anak mengalami

menarche pada usia 12 tahun, namun pada beberapa anak lainnya mengalami

menarche pada usia 8 tahun kondisi ini seperti ini berkaitan dengan pubertas

prekoks. Pergeseran usia menarche ke usia yang lebih muda, menyebabkan

remaja putri mengalami dampak stress emosional (Wiknjosastro 2008).

Menurut Edward (2007), mengungkapkan pada penelitiannya dalam kurun

waktu 25 tahun terahir, usia rata- rata menarche lebih cepat. Usia menarche

yang awalnya terjadi pada usia 12,75 tahun bergeser menjadi 12,54 tahun.

Penurunan usia menarche juga terjadi di Indonesia, Pesatnya penduduk di

Indonesia sangat cepat dan menempati urutan ke-15 dari 67 negara dengan

penurunan usia menarche mencapai 0,145 tahun per decade. Menurut

Rikesdas (2010) pada responden berusia lebih tua yaitu 55-59 tahun, usia

menarche 13-14 tahun sekitar 26,5% dan yang mengalami menarche usia

dibawah 12 tahun sebanyak 15,3%, dan yang dibawah usia 12 tahun sebanyak

30%. Remaja yang mengalami menarche dini lebih berisiko untuk mengalami

kehamilan di bawah umur.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMP 01

Muhammadiyah Surabaya, jumlah siswi kelas VII,VIII dan IX sebesar 181

siswi. Dari 181 tersebut yang mengalami menarche sebesar 96% yaitu 174

siswi sedangkan 4% yaitu 7 siswi termasuk yang belum mengalami menarche.

Perbedaan usia Menarche terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya

faktor ras/suku, genetik, sosial ekonomi, gaya hidup,dan lingkungan

(Wiknjosastro, 2009). Menurut Sanjatmiko (2004),ada tiga lingkungan yang

mempengaruhi usia menarche. Tiga lingkungan sosial budaya bekerja secara

simultan menjadi pendukung percepatan terjadinya menarche remaja. Tiga


lingkungan tersebut adalah lingkungan rumah tangga dan peergroup,

lingkungan pendidikan formal. Dari ketiga faktor tersebut lingkungan peer

group merupakan faktor yang paling dominan dalam mendukung perubahan

usia menarche. Hubungan yang positif dengan teman sebaya merupakan hal

yang penting pada anak usia sekolah. kelompok teman sebaya memiliki

peranan yang sangat penting terhadap perkembangan serta perilaku remaja

baik secara emosisonal maupun secara sosial (Wong, 2009).

Menurut Ginarhayu dalam Fajria (2014), faktor lingkungan peer group

seperti menonton video dewasa dapat mempegaruhi terjadinya menarche.

Mudahnya mengakses media dewasa, seperti film dengan adegan orang

dewasa dan mudahnya dalam mengakses internet akan mempercepat

kematangan hormone yang akan menyebabkan menarche awal atau, menarche

dini. Dari jumlah remaja keseluruhan, 2/3 nya menyukai informasi yang ada di

media massa mengenai hal-hal yang berkaitan Pengawasan orang tua terhadap

anak yang mengakses media seperti, cetak atau elektronik sangat perlu

dilakukan, karena media massa selain meberikan banyak informasi juga dapat

menimbulkan pengaruh pesan yang disampaikan. Kemajuan diera teknologi

menyebabkan informasi yang cepat dalam mengakses berbagai hal dan

menerima informasi (Syarif, 2010). Faktor lain yang dapat menyebabkan

kejadian usia menarche adalah gaya hidup.

Gaya hidup yaitu kebiasaan sehari-hari yang dilakukan remaja putri

yang berhubungan dengan olahraga, konsumsi fast food dan soft drink food.

Menurut Nopembri (2012), Olahraga yang terlalu berat akan mengakibatkan

aktivitas pada ovarium menurun sehingga kadar kadar esterogen lebih rendah.
Soft drink dan Fast food mengandung pemanis buatan, lemak dan zat aditif

yang dapat menyebabkan usia menarche lebih awal (Susanti, 2012).

Menurut Anurogo (2011) Usia menarche awal dapat menjadi salah satu

faktor risiko terjadinya disminore primer. Terjadinya Usia menache yang lebih

awal berisiko akan terjadinya kelainan kardiovaskuler, dan menyebabkan

kanker ovarium atau kanker payudara, dan kehamilan di bawah umur

(Lakshman, 2009). Maka dari itu upaya yang dilakukan oleh Sekolah yaitu,

dengan melakukan bimbingan konseling pada remaja sedini mungkin dan

mengajarkan pendidikan karakter untuk pembentukan dan mengembangkan

karakter diri sendiri. Supaya tidak mudah terjerumus dalam pergaulan yang

kurang baik. Komunikasi orang tua terhadap remaja di perlukan, untuk dapat

mengontrol pergaulan remaja tersebut.

Berdasarkan dari fakta yang dipaparkan diatas bahwa adanya

pergeseran usia menarche ke usia yang lebih muda dapat dipengaruhi oleh

faktor lingkungan dan gaya hidup terhadap usia menarche maka peneliti

tertarik untuk mengidentifikasi adakah hubungan usia menarche dengan

beberapa faktor yang mempengaruhi menarche.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada penjelasan latar belakang penelitian di atas,

maka rumusan masalah yang akan dibahas di penelitian ini adalah :

Apakah ada hubungan Peer Group dan Gaya hidup , terhadap usia

menarche ?

1.2 Tujuan penelitian

1.2.1 Tujuan umum


Mengetahui Hubungan Peer group dan Gaya hidup, Terhadap Usia

Menarche.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi Karakteristik Usia Menarche di SMP 01

Muhammadiyah Surabaya

2. Mengidentifikasi faktor perilaku peer group yang meliputi riwayat

menonton audio Visual Dewasa, yang dilakukan siswi SMA 01 di

Kelas X Muhammadiyah Surabaya

3. Mengidentifikasi faktor gaya hidup yang meliputi konsumsi junk

foof, fast food, aktivitas yang dilakukan siswi SMP 01 di kelas X

Muhammadiyah Surabaya

1.3 Manfaat penelitian

1. Upaya untuk mencegah terjadinya menarche dini

2. Sebagai bahan untuk tenaga kesehatan dalam upaya preventif/

pencegahan terjadinya menarche dini

3. Bagi siswa

Meningkatkan pengetahuan tentang menarche

4. Bagi instansi pendidikan , hasil pada penelitian ini diharapkan dapat

menjadi masukan tentang faktor lingkungan, faktor genetic, faktor

gaya hidup, dan sarana pra sarana kesehatan yang mempengaruhi

kejadian menarche.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Menarche

2.1.1 Definisi Menarche

Menarche merupakan perdarahan periodik pada uterus yang dimulai sekitar

14 hari setelah ovulasi dan merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita yang

tidak hamil dan sehat. (sartika,2010). Menarche adalah menstruasi pertama yang

berlangsung rat-rata terjadi pada usia 10-11 tahun (Manuaba,2001). Menurut

(proverawati,2009) Definisi menarche adalah periode mentruasi yang pertama

terjadi pada masa pubertas seorang wanita akibat proses sistem hormonal yang

kompleks. Menarche diuraikan sebagai permulaan terjadinya mentruasi pada

seseorang yang memasuki masa pubertas, yang biasanya muncul pada usia 11-14

tahun. Perubahan penting terjadi pada masa kondisi remaja mengalami

kematangan pada jiwa dan raganya. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut

sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya, dan menarche.

2.1.2 Usia terjadi menarche

Usia saat seseorang anak perempuan mulai mengalami menstruasi yang

sangat bervariasi. Terdapat kecenderungan bahwa saat ini anak mendapat

menstruasi yang pertama kali pada usia yang lebih muda. Ada yang berusia 12

tahun saat ia mengalami mentruasi pertama kali, tapi ada juga yang 8 tahun sudah

memulai siklusnya. Adapun terjadinya seseorang mengalami menarche di usia 16

tahun baru mendapat menstruasi pun dapat terjadi. Umumnya menarche terjadi

pada usia 11-15 tahun, namun rata-rata terjadi pada usia 12,5 tahun. Namun, ada
juga yang mengalami lebih cepat atau dibawah usia tersebut. Menarche yang

terjadi sebelum usia 10 tahun disebut mentruasi precoks (Sarwono,2007).

Usia untuk mencapai fase terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak

faktor, antara lain faktor suku geneti, gizi, social, ekonomi, dll. Di inggris usia

rata-rata untuk mencapai menarche adalah 13,1 tahun, sedangkan suku bunding di

papua ,menarche pada usia lebih muda dari usia rata-rata. Sebaliknya anak wanita

yang menderita cacat mental dan mongolisme akan mendapat menarche pada usia

yang lebih lambat. Terjadinya penurunan usia dalam mendapatkan menarche

sebagian besar dipengaruhi oleh adanya perbaikan gizi (Misaroh, 2009).

2.1.3 Fisiologi Menarche

Menurut Sukarni, (2013) menarche merupakan tanda penting bagi seorang

wanita yang menunjukkan adanya produksi hormon yang normal yang dibuat oleh

hipotalamus dan kemudian diteruskan pada ovarium dan uterus, Setelah panca

indra menerima rangsangan yang diteruskan kepusat akan diolah di hipotalamus,

kemudian akan dilanjutkan dengan hipofise melalui sistem fortal yang

dikeluarkan hormone gonatropik. Secara klinis hormon-hormon ini akan

merangsang pertumbuhan tanda seks sekunder seperti pertumbuhan payudara,

perubahan-perubahan kulit, perubahan siklus, tumbuhnya rambut ketiak dan

rambut pubis serta bentuk tubuh yang ideal (Sarwono, 2007).

Berbagai perubahan selama pubertas bersamaan dengan terjadinya

menarche yaitu meliputi thelarce, adrenarche, pertumbuhan tinggi badan lebih

cepat, dan perubahan psikis ( Sukarni, 2013) :

a. Thelarche (perkembangan payudara)


Terjadi paling awal pada usia kurang dar 10 tahun (8-13 tahun).

Pembesaran payudara pada saat pubertas terutama disebabkan oleh

sekresi hormone estrogen yang mendorong terjadinya penimbunan

lemak dijaringan payudara.

b. Adrenarche (pubarche atau perkembangan rambut aksila dan pubis)

Adrenarche melibatkan perubahan hormon yang berlangsung

dikelenjar adrenal, dan terletak diatas ginjal. Peruban ini terjadi secara

tiba-tiba, antara usia 6 hingga 9 tahun, sebelum masa pubertas dimulai.

Selama adrenarche hingga pubertas, kelenjar adrenal mengeluarkan

androgen adrenal.

c. Pertumbuhan tinggi badan yang cepat

Bisa terjadi 2 tahun setelah thelarche atau 1 tahun sebelum menarche.

Hal ini karena di pengaruhi oleh growth hormone, estradiol dan insulin

like-growth factors (IGF-1) atau somatomedin-C.

2.1.4 Faktor yang mempengaruhi Usia menarche

Usia terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain

Faktor Ras/suku, genetik, lingkungan seperti keterpaparan media massa, sosial

ekonomi,dan gaya hidup. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dari Soetjiningsih,

(2007), bahwa faktor yang mempengaruhi menarche meliputi, ras/ suku, genetik,

lingkungan, sosial ekonomi, dan gaya hidup.

1. Ras/Suku

Lebih dari 40% anak perempuan kulit hitam mengalami menstruasi

pertama sebelum usia 11 tahun dibandingkan anak perempuan kulit putih.

Sekitar 10% anak perempuan kulit hitam mulai mengalami menstruasi


sebelum usia 11 tahun, keadaan ini disebut sebagai menarche dini. Menarche

dini telah dihubungkan dengan meningkatya resiko kanker payudara,

kegemukan dan keguguran.

Adanya perbedaan dalam tinggi dan berat badan menujukkan bahwa anak

perempuan kulit hitam lebih dahulu mencapai tahap lanjut perkembangan

rangka tubuh dari anak perempuan kulit putih. Tetapi pada saat mereka

membandigkan anak perempuan kulit hitam dan kulit putih pada usia yang

sama, berat dan tinggi badan, mereka mendapatkan anak perempuan kulit

hitam masih lebih dini mengalami menstruasi dari pada anak perempuan kulit

putih. Pada peneliti David S. Freeman, Phd pada bagian gizi dan aktibvitas

fisik di CDC serta koleganya mendapat kesan bahwa perubahan tinggi badan

mungkin sebagai ukuran yang dapat meramalkan saatnya seseorang anak

perempuan akan mengalami menstruasi selain tinggi badan yang sebenarnya

tetapi tidak dapat menerangkan perbedaan ras.

2. Genetik

Pada dasarnya faktor genetik juga mempengaruhi status menarche pada

anak perempuan. dalam penelitiannnya di Swedia mengatakan ada korelasi

antara usia menarche ibu dengan usia menarche anak (Ottle, 1996). Faktor

genetik disini berperan terhadap percepatan dan perlambatan kelambatan

terjadinya menarche yaitu antara usia menarche ibu dengan usia menarche

putrinya. (Susanti,2012) Faktor genetik adalah faktor yang tidak bisa

dimodifikasi .

3. Sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi memepengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

Masyarakat dengan tingkat sosial menengah ke atas sangat memperhatikan


kesehatannya, faktor sosial ekonomi tidak berpengaruh langsung terhadap

menarche tetapi status ekonomi yang rendah akan memepengaruhi

seseorang dalam memeperoleh pelayanan kesehatan dan gizi yang baik

selama menarche. Tingkat sosial ekonomi dalam keluarga meliputi keluaraga

dan sumber-sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup semua keluarga.

Semakin banyak jumlah uang yang diperoleh makin besar sumber- sumber

yang dapat digali untuk meningkatkan taraf kehidupan anggota keluarga

(Notoatmojo,2009). taraf hidup atau pendapatan yang cukup atau tinggi

memepermudah orang tua penpadatan yang cukup atau tinggi mempermudah

orang tua dalam memenuhi kebutuhan remaja, sedangkan orang tua yang

memeiliki pendapatan relative rendah pada umumnya sulit untuk memenuhi

segala kebutuhan (Suryani,2011).

4. Lingkungan Perilaku Peer group

Perilaku peer group merupakan salah satu perilaku teman sebaya yang

mepengaruhi perilaku individu lain, yang dapat menjadi penyebab faktor usia

menarche yang berupa ajakan dan pengaruh dari rangsangan dari audio visual

dewasa, baik berasal dari percakapan maupun tontonan dari film-film atau

internet berlabel dewasa, vulgar, atau mengumbar sensualitas (Sukarni, 2013)

seperti membaca majalah dewasa, komik porno, film porno di tv, hp dan

internet, dibioskop dll. Rangsangan dari telinga ke hipotalamus untuk

mengeluarkan hormone dan organ- organ reproduksi sehingga menyebabkan

menarche (Fajriyanti,2008)

Perilaku seksual merupakan tingkah laku dan sikap remaja yang didorong

oleh hasrat baik dengan lawan jenis atau sesama jenis, imajinasi, khayalan

dengan lawan jenis ataupun berkhayal sendiri, seperti bercumbu dan


berkencan. Perilaku seksual pada remaja memicu terhadap rangsangan sistem

reproduksi sehingga menjadi lebih matang, sehingga menimbulkan menarche.

Perilaku seksual yang dilakukan bersama pasangan seperti sentuhan, bisikan

dapat merangsang organ seks untuk menghasilkan progesterone dan esterogen

(Himawan,2007)

5. Gaya hidup

Gaya hidup yang berhubungan dengan kejadian menarche dini meliputi

kegiatan fisik (olahraga) seperti berenang, lari, Bulu tangkis, basket, volley

dll. Latihan fisik yang berat pada masa prapubertas, telah menunda usia

menarche melalui mekanisme hormonal karena menurunkan produksi

progesterone dan akibatnya kematangan endometrium (lapisan dalam dinding

rahim) menjadi tertunda saat menjelang usia menarche. Kemudian

Mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) seperti burger, pizza, ayam

tepung goring, fish and cipz, mie instan, makanan dalam kaleng, nugget,

popmie. Dan mengkonsumsi minuman bersoda (soft drink) seperti minuman

fanta, coca-cola, sprite, pepsi dll. Kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji

(fast food) yang mengandung tinggi gula, garam, zat adiktif dan juga terdapat

sedikit vitamin dan serat yang dapat mempengaruhi kejadian menarche dini

(susanti,2012). Kebiasaan mengkonsumsi minuman bersoda atau soft drink

yang mengandung gula tinggi, natrium zat aditif dapat mempercepat proses

mentruasi. Sebab mengkonsumsi minuman bersoda atau soft drink

mempengaruhi sistem hormone wanita yaitu esterogen yang membuat

hormone esterogen meningkat (Paath, 2005).


2.1.5 Hormon- hormon yang mempengaruhi menarche

1. Hormone Esterogen

Menurut Pudiastuti (2012), Hormone ovarium sebagai sumber esterogen

yaitu ovarium, kelenjar supraneal, fet perifer dengan jalan aromatisasi

androgen. Hormone esterogen sebelum menarche berfungsi meningkatkan

kematangan alat seks sekunder (pembesaran mamae depositas lemak sesuai

pola wanita, pertumbuhan rambut- rambut, tumbuh kembang uterus dan

endometrium. efek psikologis mulai tertarik misalnya rasa kasih saying, mulai

timbul libido, dan alat seks sekunder mulai dapat dirangsang.

a. Fungsi Hormon Esterogen

Mulainya masa reproduksi hormone estergon akan melanjutkan

pertumbuhan dan berkembangnya seks sekunder, karena menstruasi

anovalulator dan mengatur menstruasi dengan feedback loop menuju

hipotalamus dan hipofisis.

2. Hormon progesterone

Sumber utama hormone progesterone adalah ovarium (korpus luteum),

pada masa reproduksi aktif hormone ini, mengubah endometrium menuju fase

sekresi/ desiduanisasi dan meningkatkan metabolism.

Androgen ovarium

Sumber androgen ovarium yaitu stroma ovarium. Perbandingan esterogen

dan androgen mempengaruhi sensitivitas alat seks sekunder. Androgen

menyebabkan hirsutisme ringan sampai berat, perubahan perilaku wanita

kearah maskulin, dan pengendalian libido.


2.2 Pengertian Remaja

2.2.1 Definisi Remaja

Menurut (Gunawan,2011), Remaja adalah periode peralihan dari anak-

anak ke dewasa dimana seorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenom

ena yang terjadi dilingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai

diri mereka.

Remaja yaitu masa untuk mengetahui lebih banyak hala, lika-liku

kehidupan manusia setelah meningglakan masa kanak- kanak, masa remaja

berkisar anatara usia 11-15 tahun, dikarenakan masa itulah manusia menghadapai

saat-saat kritis mengenali diri sesungguhnya (yuanita,2011).

Remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa,

yang mulai pada saat teradinya kematangan seksual (Soetjiningsih,2010).

Sebagaimana yang telah dijabarkan di definisi , maka remaja merupakan tahap

umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan

fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam, hal

tersebut membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan

serta kepribadian remaja.

2.2.2 Pengertian Remaja Putri

Remaja putri adalah sosok yang sedang berkembang baik dari segi fisik

maupun seksual. Pada masa remaja, seseorang remaja belum mempunyai tempat

yang jelas dalam rangkaian proses perkembangannya. Perkembangannya fisik dan

seksual pada remaja merupakan hal yang sangat tidak dapat dipisahkan justru

karena pemasukan seksualitas genital harus dipandang dalm hubungan dengan

perkembangan fisik seluruhnya (Yuanita, 2011).


Bila ditinjau dari hubungan antara perkembangan psikosial dan

perkembangan fisik, Nampak bahwa perkembangan fisik memberikan

perkembangan impuls-impuls baru pada perkembangan psikososial. Sebaliknya,

reaksi individu terhadap perkembanga fisik tergantung lagi dari pengaruh

lingkungannya itu. Perkembangan organ-organ genital (seksual) baik di dalam

maupun di luar badan juga sangat menentukan dalam pola perilaku, sikap, dan

kepribadian.

2.2.3 Klasifikasi Remaja

Perkembangan peserta didik klasifikasi remaja di bagi sebagai berikut

(Asrori,2011):

1. Periode Pra Remaja (10-12 tahun)

Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hamper sama antara remaj

pria maupun wanita. Pertumbuhan fisik belum tampak jelas, tetapi ada remaja

putrid biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat

sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan- gerakan mereka mulai menjadi

kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan

respons mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan

cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan perasaan meledak-

ledak.

2. Periode Remaja Awal (12-15 tahun)

Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah

perubahan fungsi alat kelamin karena perubahan alat kelamin semakin nyata,

remaja sering seklai mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan


perubahan-perubahan itu. Akibatanya, tidak jarang mereka cenderung

menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau

bahkan tidak ada orang yang mau memperdulikannya, control terhadap

dirinya bertambah sulitdan mereka cepat marah dengan cara yang kurang

wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya

terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul

dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.

3. Periode Remaja tengah (15-18 tahun)

Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja,

yaitu mampu memikul sendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan

tanggung jawab tidak hanya datang dari anggota keluarganya tetapi juga dari

masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi

remaja.

Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali

juga menunjukkan adanya kontra indikasi dengan nilai-nilai moral yang

mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang

disebut baik atau buruk Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-

nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik dan pantas untuk

dikembangkan di kalangan mereka sendiri. Lebih- lebih orang tua atau orang

dewasa sekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar di patuhi oelh

remaja tanpa disertai dengan alas an yang masuk akal menurut mereka.

4. Periode Remaja Akhir (18-21 tahun)

Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang

dewasa dan mulai mampu menunjukka pemikiran, sikap, perilaku yang


semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai

memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interkasi dengan

orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah

memilikki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah

hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan

keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa

secara penuh. Meraka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat

dipertanggung jawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua dan masyarakat.

2.2.4 Sosial remaja

Masa remaja juga merupakan massa transisi emosioanal yang ditandai

dengan remaja dewasa, intelektual dan kognitif juga mengalami perubahan, yaitu

dengan merasa lebih dari yang lain, cenderung bekerja secara lebih kompleks dan

abstrak, serta lebih tertarik untuk memahami kepribadian mereka sendiri dan

berperilaku menurut transisi social yang dialami oleh remaja ditunjukkan dengan

adanya perubahan hubungan social. Hal yang penting dalam perubahan social

pada diri remaja adalah meningkatnya waktu untuk berhubungan dengan rekan-

rekan mereka, serta lebih intensif dan akrab dengan lawan jenis (Poltekes Depkes

Jakarta I, 2010).

Beberapa tahap perkembangan psikososial menurut erikson (1956) dalam

poltekes Depkes Jakarta I perkembangan psikososial terdiri atas delapan tahap.

Beberapa tahapan tersebut remaja melalui lima diantaranya. Lima tahapan yang

dilalui remaja tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kepercayaan (Trust) versus ketidak percayaan (Mistrust)


Tahap ini terjadi dari 1-2 tahun awal kehidupan anak belajar untuk

percaya pada dirinya sendiri atau pun lingkungannya. Anak merasa

bingung dan tidak percaya, sehingga dibutuhkan kualitas interksi antar

orang tua anak.

2. Otonomi (autonmy) versus malu dan ragu (Shame and doubt)

Kebanyakan remaja membangub rasa otonomi atau kemerdekaan

merupakan bagian dari transisi emosisonal. Selama masa remaja terjadi

perubahan ketergantungan, dari ketergantungan khas anak-anak kearah

otonomi dewasa. Misalnya remaja umumnya tidak terburu-buru bercerita

kepada orang tua ketika merasa kecewa, khawatir, atau memerlukan

bantuan.

3. Inisiatif (initiative)versus rasa bersalah (guilt)

Tahapan perkembangan psikososial ini terjadi pada usia pra-sekolah

dan awal usia sekolah. Anak cenderung aktif bertanya untuk memperluas

kemampuannya melalui bermain aktif, bekerja sama dengan orang lain, dan

belajar bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya.

4. Rajin (industry) versus rendah diri (inferiority)

Terjadi persaingan di kelompoknya. Anak menggunakan pengalaman

kognitif menjadi lebih produktif dalam groupnya. Disini anak- anka belajar

untuk menguasai keterampilan yang lebih formal. Anak mulai terasa

percaya diri, mandiri dan penuh inisiatif, serta termotivasi untul belajar

lebiih tekun.
5. Identitas (identity versus kebingungan identitas (identity confusion)

Remaja belajar mengungkapkan aktualitasnya untuk menjawab

pertanyaan siapa, “siapa ya?. Mereka melkuakan tindakan yang baiak sesuai

dengan sistem nilai yang ada. Namun demikian sering terjadi penyimpangan

identitas, misalnya melakukan tindakan tercela lain. Identitas laki-laki

maupun perempuan dibangun dan secara bertahap mengembangkan cita-cita

yang diinginkan.

Tahap selanjutnya yaitu tahap keintiman (intimacy) versus isolasi

(isolation), generativitas (generativity) versus stagnasi (stagnation), dan

integritas (integrity) dengan kepuasan (despair), akan dilalui pada tahap-

tahap perkembangan selanjutnya.

2.3 Lingkungan

Lingkungan adalah keaadan sekitar yang mempengaruhi perkembangan

dan tingkah laku mahluk hidup. Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang

mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak

langsung (KKBI, 2005).

Menurut Sanjatminko (2004),tiga lingkungan sosial budaya yang bekerja

secara simultan menjadi pendukung percepatan usia menarche remaja yaitu :

2.3.1 Lingkungan Rumah tangga

Lingkungan keluarga merupakan miniatur dari masyarakat dan

kehidupannya, sehingga pola keluarga merupakan miniature dari masyarakat dan

kehidupannya, sehingga pola keluarga akan member pandangan anak terhadap

hidup masyarakat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam lingkungan keluarga

adalah status sosial ekonomi (Sanjatminko, 2004).


2.3.2 Lingkungan formal

Lingkungan sekolah merupakan tempat dimana anak melakukan kegiatan

antara guru dengan siswa yang meliputi: kegiatan pembelajaran, interkasi sosial,

serta komunikasi sosial antara warga sekolah (Sanjatminko, 2004).

2.3.3 Lingkungan Peer Group

Lingkungan yang berada disekitar individu yang akan mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan seperti : Teman sebaya, media massa

(cetak,maupun elektronik) Menurut (Sanjatminko, 2004).

2.3.3.1 Definisi Peer Group

Teman sebaya atau peer group adalah orang dengan tingkat umur dan

kedewasaaan yang kira-kira sama. Teman sebaya memegang peranan unik

dalam perkembangan seseorang, slaah satu fungsi pernana teman sebaya atau

peer group yaitu memeberikan sumber informasi dan perbandingan tentang

dunia diluar pernana keluarga (Santrock, 2007) peer group juga bisa disebut

dengan sekelompok anak-anak atau remaja yang memiliki umur yang sama atau

maturasi yang sama. Jadi dapat disimpulkan peer group atau teman sebaya

merupakan sekelompok anak atau remaja yang memiliki usia yang sama atau

maturasi yang sama diantara mereka terjalin keakraban.

2.3.3.2 Macam- macam kelompok teman sebaya (Peer group)

Pada saat seseorang memasuki tahap remaja, remaja tersebut akan

dituntut untuk dapat mengembnagkan kemampuan bersosialisasi dan memulai

kemandirian lepas dari orang tua atau pun orang dewasa lainnya (Hurlock,2012).

Tidak adanya tempat benrgantung dan belum mampunya untuk berdiri sendiri

menyababkan remaja membutuhkan orang lain untuk dapat bertahan dan melalui
masa remaja ini dengan baik. Oleh karena itu remaja, memebentuk kelompok-

kelompok yang didalamnya mereka dapat saling mendukung, baik secra individu

ataupun secara kelompok, memberikan perasaan memiliki dan kekuatan serta

kekuasaan (Wong,2009). Menurut Hurlock (2012) menyatakan bahwa terdapat

lima pembentukan kelompok pada masa remaja, yaitu:

1. Teman dekat

Teman dekat adalah perkumpulan berapa remaja yang berjenis kelamin

sama yang memiliki minat dan kemampuan yang sama. Teman dekat,

biasanya terdiri dari dua atau tiga orang yang dekat dan bersahabt karib.

Remaja yang termasuk dalam teman dekat biasanya saling

mempengaruhi satu sama lain meskipun tidak jarang diantara mereka

terjadi perselisihan.

2. Kelompok kecil

Kelompok kecil adalah kelompok yang berisi beberapa teman dekat.

Kelompok ini dpat terbentuk dari suatu jenis kelamin ataupun beberapa

jenis kelamin.

3. Kelompok besar

Kelompok besar terdiri atas beberapa kelompok kecil dan kelompok

teman dekat. Kelompok ini berkembang dengan meningkatkan minat

akan pesta berkencan. Pada kelompok ini, kedeketan antara anggota

kelompok kurang baik. Hal ini karena kelompok ini terdiri dari banyak

orang yang menyulitkan dalam penyesuaian minat hingga terdapat jarak

antara anggota kelompok.

4. Kelompok terorganisir
Kelompok terorganisisr adalah kelompok yang terdiri dari sekelompok

remaja yang dibina oleh orang dewasa. Kelompok ini biasanya

terbentuk disekolah ataupun dimasyarakat. Terdapat bebebrapa remaja

yang mengikuti kelompok ini. Namun ada juga remaja yang tidak mau

mengikuti kelompok ini karena merasa diatur oleh orang dewasa.

5. Geng

Geng adalah kelompok yang berisi remaja yang tidak tergabung dalam

kelompok kecil, kelompok besar, ataupun merasa tidak puas pada

kelompok yang terorganisir. Anggota geng biasanya terdiri dari anak-

anak yang sejenis dan memiliki minat yang sama untuk mengahadapi

penolakan teman-teman memlaului periilaku anti sosial.

2.3.3.3 Fungsi teman sebaya (Peer Group)

Menurut E Mavis dan Parke dalam Wulan (20007), Kelompok sosial yang

lain, maka kelompok teman sebaya (peer group) juga mempunyai fungsi yaitu:

1. Memberi perhatian yang positif dan saran: mengunjungi, memeberikan

kejutan/hadiah, saran, menawarkan bantuan, tersenyum, membentuk

seseorang dari anak lain yang membutuhkan, percakapan umu.

2. Memeberikan sikap dan penerimaan pribadi: secara fisik dan lisan.

3. Sikap tunduk: penerimaan pasif, meniru, sharing, menerima ide orang

lain, mengikuti anak lain yang bermain, berkompromi, mengikuti teman

yang lain meminta dengan kewenangan dan kerjasama (koperatif).

2.3.3.4 Peer group dan Remaja

Menurut Cohan,M (2009), Peer group dan remaja sering kali

menghabiskan waktu bersama. Peergroup mempunyai peran penting bagi remaja.


Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai suatu

status.

Seorang remaja yang diterima dalam suatu peer group, biasanya

memmiliki suatu syarat yang ditetapkan oleh kelompok tersebut santrock (2004).

Menyatakan berdasarkan hasil penelitiannya, terdapat bebebrapa hal yang

menyebabkan remaja diterima oleh teman sebaya, yaitu ketertarikan secara fisik,

intelegent, kompetensi, friendly, kooperatif, helpfull, dan sensitivitas terhadap

perasaan serta kebutuhan orang lain. Hal diatas membuat seorang remaja diterima

kedalam suatu kelompok teman sebaya. Akan tetapi, hal-hal diatas belum tentu

dapat membuat remaja bertahan atau tetap diakui atau menjadi bagian dari

kelompok tersebut. Oleh karena itu, remaja yang termasuk dalam kelompok

tersebut sering kali berusaha menjaga syarat tersebut serta menyesuaikan diri dan

mengikuti keinginan kelompok agar dapat tetap menjadi bagian dalam kelompok

tersebut. Selain itu Ruth (2008) remaja cenderung memilih teman yang hamper

sama dengan mereka dan teman yang saling memepengaruhi agar menjadi

semakin mirip.

Selain syarat-syarat, kelompok teman sebaya terkadang juga memiliki

norma yang mempengaruhi anggotanya. Kenneth (2010) mengungkapkan bahwa

norma kelompok teman sebaya memberikan pengaruh yang besar pada inisiatif

remaja melakukan hubungan seks. Sedangkan kinsman damal putri (2010) teman-

teman menciptakan norma dalam diri seorang individu, menyebabkan inisiatif

melakukan seks sebagai dasar normlitas. Remaja untuk , mengatasi masalah

tersebut untuk menyesuaikan diri dengan teman–teman sekelompoknya secara

total mulai dari cara berpakaian, cara bersikap atau berperilaku, model rambut,

musik yang disukai, dan menyesuaikan tata bahaa meskipun harus mengorbankan
keinginann sendiri atau individualities dan tuntutan diri. Menut Wong (2009), Hal

ini dilakukan oleh kelompok remaja memiliki hal atau peranan yang penting.

2.3.3.5 Perilaku

Menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2012), menyatakan bahwa

perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Oleh karena

perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organism, dan

kemudian organism tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut teori “S-O-

R” (stimulus-organism-respon).

Sebagian besar perilaku manusia merupakan operant respons. Oleh sebab

itu untuk membentuk jenis respons atau perilaku perlu diciptakan adanya suatu

kondisi tertentu yang disebut operant conditioning. Prosedur pembentukan

perilaku dalam operant conditioning ini menurut Skinner sebagai berikut :

1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat berupa

hadiah bagi perilaku yang akan dibentuk.

2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil

yang membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-

komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju

terbentuknya perilaku yang dimaksud.

3. Menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan

sementara, mengidentifikasi reinforce atau hasiah untuk masing-masing

komponen tersebut.

4. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen

yang telah tersusun. Apabila komponen pertama telah dilakukan, maka

hadiahnya diberikan.
2.3.3.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

Menurut Green dalam buku Notoatmodjo (2012), mencoba menganalisis

perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat

dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku.

Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor.

1. Faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,

kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.

2. Faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau

tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya puskesmas,

obat-obatan, alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.

3. Faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas lain

yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat


2.4 Teori H.L Blum

Menurut HL BLUM dalam (Notoadmojo S, 2011) ada 4 faktor yang

mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat atau perorangan.ke 4 faktor tersebut

yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan herditas atau

keturunan. Hl Blum menyimpulkan bahwa lingkungan peran besar dalam status

kesehatan, dan keturunan yang mempunyai peran kecil terhadap status kesehatan.

Kesehatan akan tercapai secara optimal jika keempat faktor tersebut secara

bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Jika salah satu faktor

berada dalam yang tidak optimal, maka status kesehatan akan bergeser kearah

dibawah optimal.

Konsep hidup sehat HL. Blum sampai saat ini masih relevan untuk

diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik

melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan

kondisi sehat seperti ini diperlukam uatu keharmonisan menjaga tubuh. H.L Blum

sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik

bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam

bermasyarakat, untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu

keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat

faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor lingkungan (sosial,ekonomi,politik,

budaya) faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor pelayanan kesehatan (jenis

cakupan dan kualitasnya)dan faktor genetik (keturunan).

Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan

perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor yang tersebut faktor

perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling
sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena

faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan

karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku

masyarakat.

Di era global yang semakin maju seperti saat ini teruntuk cara pandang tiap

orang terhadap kesehatan juga mengalami perubahan. Apabila terdahulu kita

menggunakan paradigma sakit yakni kesehatan hanya dipandang sebagai upaya

menyembuhkan orang yang sakit dimana terjalin hubungan seorang dokter dengan

pasien (dokter dan pasien). Namun sekarang konsep yang dipakai yaitu paradigma

sehat, dimana upaya sehat dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan

meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun derajat masyarakat.

Kejadian menarche disebabkan beberapa faktor yang di kemukakan dalam

teori Hendrick L. Blum (1974) bahwa faktor yang mempengaruhi derajat

kesehatan masyarakat adalah: 1). Lingkungan, 2). Perilaku, 3). Pelayanan

kesehatan, dan 4). Hereditas. Status kesehatan di pengaruhi oleh beberapa faktor

yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan hereditas hubungan keempat

faktor yang disebutkan diatas dapat dilihat dalam gambar skema berikut ini

Genetik

Pelayanan
Menarche Lingkungan
kesehatan

Perilaku

Gambar skema 2.1 H.L blum

Buku Teori sikap dan perilaku dalam kesehatan Priyoto, (2014)


Dalam konsep H.L Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, diantaranya yaitu:

1. Lingkungan

Lingkungan memiliki pengaruh dan peranan yang besar diikuti perilaku ,

fasilitas kesehatan dan genetik lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk

sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi sosial yang

buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.

2. Perilaku

Perilaku merupakan faktor kedua yang mempengaruhi derajat kesehatan

masyarakat karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu,

keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Di

samping itu dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan,

pendidikan sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat pada

dirinya. Contoh: riwayat menonton media massa dewasa, perilaku seksual, dan

gaya hidup.

3. Pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi derajat

kesehatan masyarakat karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat menetukan

dalam pelayan pemulihan kesehatan, pencegahan terhadap penyakit, pengobatan

dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat yang memerlukan pelayanan

kesehatan. Ketersediaan fasilitas dipengaruhi oleh lokasi, apakah dapat

dijangkau atau tidak. Yang kedua aadalah tenaga kesehatan pemberi pelayanan,

kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang

memerlukan. Contoh : ketersediaan sarana dan prasarana kesehtana (balai


pengobatan) maupun rujukan (rumah sakit), ketersediaan tenaga, perlatan

kesehatan bersumber daya masyarakat, kinerja/cakupan serts pembiayaaan/

anggaran.

Peran Pelayanan kesehatan dan informasi untuk ramaja perlu diberikan

sebelum mereka memasuki masa pubertas, terutama untuk remaja putri

diberikan sebelum mereka memasuki masa pubertas, terutama untuk remaja

putri diberikan sebelum mereka masuk pada masa menarche. Pemberian

informasi kesehatan mengenai kesehatan reproduksi diberikan pada remaja yang

memasuki usia sekitar 10 – 4 tahun. Seharusnya mereka mendapat informasi

yang benar sedini mungkin dalam proses perubahan yang akan terjadi pada

dirinya sendiri dan lebih siap menghadapi menarche, dengan masalah seksualitas

dan kesehatan reproduksi.

4. Genetik

Faktor genetik atau keturunan merupakan faktor yang sulit untuk

diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua faktor genetik mempengaruhi

usia menarche, anak dari seorang ibu yang mengalami perkembangan cepat atau

lambat biasanya juga akan menurunkan pada anaknya. Pada kembar identik

paling dekat mengalami usia menarche, tidak terlalu dekat adik dari ibu yang

berbeda. (Najmin, 2011).

2.5 Pengertian Gaya Hidup

2.5.1 Definisi Gaya Hidup

Menurut Ari (2010), Gaya hidup individu yang dicirikan dengan pola

perilaku individu, akan memberi dampak pada kesehatan individu dan kesehatan

orang lain. Dalam “kesehatan pada saudara yang kembar tidak identik dan akan
cukup jauh pada kakak” gaya hidup seorang dapat diubah dengan cara

memberdayakan individu agar merubah gaya hidupnya, tetapi juga merubah

lingkungan sosial dan kondisi kehidupan yang mempengaruhi pola perilakunya.

Harus disadari bahwa tidak ada aturan ketentuan buku tentang gaya hidup yang

“sama dan cocok” yang berlaku untuk semua orang. Budaya, pendapatan, struktur

keluarga ,umur, kemampuan fisik, lingkungan rumah dan lingkungan tempat

kerja, menciptakan berbagai gaya dan kondisi kehidupan lebih menarik, dapat

diterapkan dan diterima.

Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakan dan

menggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat

disekitarnya. Gaya hidup adalah suatu seni yang dibudayakan oleh setiap orang.

Gaya hidup sangat berkaitan erat dengan perkembangan zaman dan kecanggihan

teknologi masa kini. Semakin majunya perkembangan zaman atau teknologi maka

akan semakin berkembang luas pula penerapan gaya hidup yang dapat

memberikan pengaruh positif dan negative bagi yang melakukannya,namun hal

ini tergantung pada bagaimana individu tersebut menjalaninya. Pada dewasa saat

ini, gaya hidup sering disalah gunakan oleh sebagian besar remaja. Apalagi para

remaja yang berada dalam kota metropolitan. Mereka cenderung bergaya hidup

dengan mengikuti mode masa kini. Tentu saja, mode yang mereka tiru adalah

mode dari orang barat. Mereka dapat memilih dengan baik dan tepat, maka

pengaruhnya juga akan positif. Sebaliknya, jika tidak pandai dalam memilih mode

dan mengikuti mode orang barat, maka akan berpengaruh dan berdampak negative

bagi mereka sendiri (Nurhasanah, 2009).


2.5.2 Faktor yang mempengaruhi Gaya Hidup

Menurut (Nugraheni, 2003), Faktor- faktor yang mempengaruhi gaya

hidup (life style) seorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu

seperti kegitan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang- barang

dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan

kegiatan-kegiatan tersebut. Faktor-faktor yang memepengaruhi gaya hidup

seorang ada 2 faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor

yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan

pengamatan, kepribadian konsep diri, motif, dan persepsi (Nugraheni, 2003)

dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Sikap

Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan

untuk mberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui

pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keaadaan

jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan

lingkungan sosialnya (Nugraheni, 2003).

2. Pengalaman dan pengamatan

Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan social dalam tingkah laku,

pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat

dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil

dari pengalaman social akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu

objek (Nugraheni, 2003).


3. Kepribadian

Kepribadian adalah karakteristik individu dan cara berprilaku yang

menentukan perbedaan perilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari

setiap individu (Nugraheni, 2003).

2.5.3 Konsep diri

Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri.

Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk

menggambarkan hubungan anatar konsep diri konsumen dengan merek.

Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap

suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan

perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri

merupakan frame of refreance yang menjadi awal perilaku (Nugraheni,2003)

2.5.4 Motif

Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa

aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif.

Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka akan

membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis

(Nugraheni,2003).

2.5.5 Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan

menginterprestasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang yang berarti

mengenai dunia. Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003)

sebagai berikut : faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam
(internal) dan dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan

pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi. Adapun faktor

eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial,dan kebudayaan

(Nugraheni, 2003)
2.6 Kerangka Konseptual

Faktor- fator yang mempengaruhi


Usia Menarche meliputi:

1. Faktor Suku/ Ras


- Perbedaan tinggi berat
badan masing-masing
suku/ras
- Perbedaan warna kulit
2. Faktor Genetik
- Usia menarche ibu berperan
pada menarche anak
3. Faktor Sosial ekonomi
- Status sosial ekonomi
4. Faktor lingkungan meliputi :
- Rumah tangga
- Lingkungan sekolah
Menarche
- Peergroup

5. Gaya hidup
Hormone yang memepengaruhi menarche

- Hormone esterogen
Berkembangknya seks sekunder
mentruasi anovalulator dan
mengatur menstruasi
- Hormone progesterone

Sumber androgen ovarium mempengaruhi


alat seks sekunder, perubahan perilaku
wanita dan pengendalian libido

Menarche dini Menarche Normal


precox <10 tahuns 11 -16 tahun

Keterangan :

Diteliti

Tidak diteliti

Berhubungan

Gambar 3.1 : Kerangka Konseptual Penelitian Hubungan Perilaku Peer Group


dan Gaya hidup terhadap usia menarche di SMP 01 Muhammadiyah Surabaya.

Keterangan kerangka konsep


Menurut (Pramesmara, 2009) menarche di awali dari produksi GnRH yang

berlebihan yang menyebabkan kelenjar pituitary meningkatkan produksi

lutenizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH). Peningkatan

jumlah LH menstimulasi produksi hormone seks steroid oleh sel granul pada

ovarium. Penigkatan kadar esterogen menyebabkan fisik berubah dan mengalami

perkembangan dini meliputi pembesaran payudara serta mendorong pertumbuhan

badan. Penigkatan kadar FSH mengakibatkan pengaktifan kelenjar gonad dan

akhirnya membantu pematangan folikel pada ovarium. Salah satu faktor yang

mempengaruhi usia menarche ialah perilaku peer group dan gaya hidup.

Perilaku peer group merupakan perilaku dan proses sosialisasi seorang

remaja putri yang disebabkan oleh rangsangan- rangsangan psikologis dari luar.

Yang menimbulkan libido meningkat dan alat sekunder mulai dirangsang seperti

keterpaparan media massa baik cetak maupun elektronik. Baik buku-buku

majalah, dan godaan rangsangan dari lawan jenis.

Gaya hidup merupakan kebiasaan sehari- hari yang dilakukan oleh seorang

remaja putri yang meliputi olahraga, konsumsi soft drink, makanan fast food.

Konsumsi soft drink yang mengandung pemanis buatan cenderung meningkat

selama fase luteal (masa saat ovulasi menjadi menstruasi). Pada masa luteal

terjadi peningkatan asupan makanan atau energi. Sedangkan makanan fasf food

banyak mengandung pemanis buatan, lemak, dan zat aditif sendiri bisa

menyebabkan menarche lebih awal.


2.7 Hipotesis

Dalam penelitian ini hipotesis dari penelitian adalah “ Ada hubungan

antara Perilaku Peer Group dan gayahidu terhadap Usia menarche pada siswi

SMP 01 Muhammadiyah Surabaya.


BAB 3

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara memecahkan masalah menurut metode

keilmuan (Nursalam, 2008). Pada bab ini akan di uraikan (1) desain penelitian, (2)

Kerangka kerja, (3) Populasi, sampel dan sampling, (4) Variabel penelitian, (5)

Definisi Operasional, (6) Strategi pengumpulan data, (7) pengolahan data, (8)

Prinsip etis dalam penelitian.

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah bentuk rancangan yang digunakan dalam

melakukkan prosedur penelitian (Hidayat, 2010), Ada juga yang menguraikan

bahwa desain penelitian merupkan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian

yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penentu penelitian pada

seluruh proses penilaian.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional dengan

menggunakan pendekatan Rancangan cross Sectional yakni penelitian yang

menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan

dependen hanya satu kali pada satu saat (Nursalam,2008).


3.2 Kerangka Kerja

Populasi

Populasi dalam penelitian ini Siswi SMP Muhammadiyah 01 Surabaya


yang sudah menarche sebanyak 174 Siswi

Teknik Sampling

Cluster random sampling

Sampel

Besar sampel dari populasi sebanyak 67 siswi yang sudah menarche

Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional

Variabel independen Variabel Dependen

Perilaku Peer group dan Gaya Usia menarche


hidup

Pengumpulan Data

Lembar observasi

Analisa Data

Uji statistik korelasi Rank Spearmen (Rho)


menggunakan SPSS

Pengolahan Data

Editing, coding, scoring tabulasi

Perubahan /Hasil

kesimpulan

Gambar 3.1 kerangka kerja penelitian Hubungan Perilaku Peer group dan Gaya
hidup terhadap Usia menarche di SMP 01 Muhammadiyah Surabaya
3.3 Populasi, Sampel, dan Sampling

3.3.1 Populasi

Populasi adalah subjek atau obyek dengan karakteristik tertentu yang akan

diteliti, bukan hanya subjek atau obyek yang akan dipelajari saja tetapi seluruh

karakteristik atau sifat yang dimiliki objek atau subyek tersebut (Sugiyono, 2009).

Populasi dikatakan sebagai kumpulan orang, individu, atau obyek yang akan

diteliti sifat - sifat atau karakteristiknya (Aziz, A.H, 2010). Berdasarkan Populasi

dalam penelitian ini adalah siswi putri di SMP 01 Muhammadiyah Surabaya yang

sudah mengalami menarche berjumlah 174 siswi.

3.3.2 Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi menurut Hidayat, (2010).

Tujuan ditentukannya sampel dalam penelitian adalah untuk mempelajari

karakteristik suatu populasi, karena tidak dimungkinkannya peneliti melakukan

penelitian di populasi, karena jumlah populasi yang sangat besar, keterbatasan

waktu, biaya, atau hambatan lainnya (Hidayat, 2010).

a. Kriteria inklusi adalah dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam

sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat, 2010).

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :

1. Siswi yang sudah mengalami menarche kelas VIIA, VIIB, VIIIA, VIIIB,

IXA,IXE.

2. Siswi yang bersedia untuk menandatangani infomed concent


b. Kriteria eksklusi adalah kreteria dari subjek penelitian yang tidak dapat

mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian

(Hidayat, 2010). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Siswi kelas VII C,VIIIC,VIIID,IXB,IXC,IXD yang sudah menarche

2. Siswi yang sudah menarche tetapi menolak untuk menjadi responden

Adapun sampel yang diambil pada penelitian ini adalah Siswi yang

memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 67.

3.3.3 Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan proses seleksi sampel yang digunakan dalam

penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili

keseluruhan populasi yang ada (Hidayat, 2010).Teknik pengambilan sampel

dalam penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random sampling. Cluster

Random Sampling adalah suatu cara pengambilan sampel bila objek yang diteliti

atau sumber data sangat luas atau besar, yakni populasinya heterogen dan terdiri

atas kelompok yang heterogen, maka caranya adalah berdasarkan daerah dari

populasi yang telah ditetapkan. Cluster dilakukan dengan cara melakukan

randomisasi dalam dua tahap, yaitu randomisasi untuk cluster/menentukan sampel

daerah kemudian randomisasi/menentukan orang/unit yang ada di wilayah / dari

populasi cluster yang terpilih (Hidayat, 2010).

Pengambilan sampel dengan cara, peneliti menentukan sekolah yang akan

diiteliti terlebih dahulu, setiap kleas diberi kode menggunakan nomor. Penentuan

daerah dilakukan dengan melempar dadu diperoleh kelas VII , VIII, XI dikelas

VII sendiri terdiri dari 2 kelas, tetapi yang di jadikan sampel dalam penelitian

hanya kelas VIIA,VII B, jadi yang 1 kelas tidak masuk dalam kriteria. Sedangkan
dikelas VIII terdapat 4 kelas namun hanya diambil 2 kelas yang memenuhi

Kriteria. Dan untuk kelas IX terdapat 4 kelas hanya 2 kelas yang di ambil dalam

sampel penelitian. setelah ditentukan siswi yang akan diteliti, diperoleh jumlah

populasi sebanyak 174 siswi, kemudian dari 174 siswi tersebut dihitung

menggunakan rumus penentuan sampel Zainuddin (Hidayat, 2010) dan

memperoleh hasil sebanyak 67 sampel.

VIIA (1) VIIID (7)


VIIA (1) 13 siswi
VIIB (2) IX A (8)
VIIB (2) 9 siswi Sampel
VIIC (3) IX B (9)
VIIIA (4) 19 siswi (n= 67 siswi)
VIIIA (4) IX C (10)
VIIIB (5) 11 siswi
VIIIB (5) IX D (11)
IXA (8) 12 siswi
VIIIC (6) IX E (12)
IXE (12) 18 siswi

Populasi Tingkat Sekolah Populasi tingkat kelas Sampel

Gambar 3.2 Teknik Cluster Random sampling

Besar sampel pada penelitian ini menggunakan rumus penentuan besar sampel

yaitu:

Dalam penelitian ini, peneliti menentukan sampel menurut Zainuddin

(Hidayat, 2010) :

n= N. Zα 2. P. q

d2 (N - 1) + Zα2. P. q

Keterangan :

n = Jumlah sampel
N = Populasi penelitian

α = 5%

Zα = 1,96

P = 0,5

q = 0,5

d = 0,05

Berdasarkan rumus di atas, sampel dalam penelitian ini adalah:

n = N.Zα2P.q

d2.(N-1) + Zα2.P.q

= 82.(1,96)2.(0,5).(0,5)

(0,05)2.(82-1)+(1,96)2.(0,5).(0,5)

= 82.(3.8416).(0,25)

(0,0025).(81)+(3,8416) (0,25)

= 79

1,1629

= 67 Siswi

Jumlah sampel sebanyak 67 responden

Jumlah sampel yang diambil proporsi dengan jumlah populasi yang ada

masing - masing cluster tersebut dengan rumus menurut Umar dalam Sukidin dan

Mundir (2005).

n = fi. Sn

Keterangan :
N = Jumlah sampel peruangan

fi = Jumlah populasi peruangan

Jumlah populasi seluruh ruangan yang telah ditentukan

Sn = Jumlah sampel seluruh ruangan yang telah ditentukan

Berdasarkan rumus diatas maka jumlah sampel untuk masing - masing cluster

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1 : Perhitungan Sampel Menggunakan Teknik Cluster Random


Sampling.

No. Cluster Jumlah Populasi Jumlah Sampel

1. Kelas VII A 13 13

82 x 67 = 10,6 (11)

2. Kelas VII B 9 9

82 x 67 = 7,35 (8)

3. Kelas VIII A 19 19

82 x 67 = 15,5 (16)

4. Kelas VIII B 11 11

82 x 67 = 8,9 (9)

4. Kelas IX A 12 12

82 x 67 = 9,8 (9)

5. Kelas IX E 18 18

82 x 67 = 14.7 (14)

Jumlah 82 67
3.4 Identifikasi Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel adalah suatu ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota suatu

kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok tersebut

(Nursalam,2003). Pada penelitian dibedakan menjadi dua variabel, yaitu variabel

independent dan variabel dependent.

3.4.1 Variabel Independent (bebas)

Variabel independen adalah suatu variabel yang nilainya menentukan

variabel lain (Nursalam, 2008). Pada penelitian ini variable independennya adalah

Perilaku Peer group dan Gaya Hidup

3.4.2 Variabel Dependent (Tergantung)

Variabel dependent (terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau

menjadi akibat karena variabel bebas (Aziz, A.H, 2010). Pada penelitian ini

variabel dependennya adalah Usia menarche

3.4.3 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehinnga memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau

fenomena (Hidayat, 2010)


Tabel 3.2 Definisi Operasional Hubungan Lingkungan dan Gaya Hidup Terhadap Usia Menarche pada siswi SMP 01 Muhammadiyah
Surabaya

No Variabel Definisi Indikator Alat ukur Skala Skor


Operasional
1. Independen Prilaku peer group -Seberapa sering membaca majalah dewasa, Kuesioner Ordinal Skor :
Peer Group adalah cara sosialisasi -Seberapa sering membaca komik berbau porno Sering = 3
individu dengan -Melihat film fulgar di tv, internet Kadang-kadang = 2
teman sebaya yang
-Mendengarkan suara yang membangkitkan Jarang = 1
berdampak pada
perilaku yang sahwat Tidak pernah = 0
menyebabkan -Melihat pertunjukan yang bisa
menarche membangkitkan sahwat
2. Gaya hidup Pola perilaku individu - Frekuensi kegiatan aktivitas olahraga secara Kuisioner Ordinal Dikategorikan dalam :
dalam keseharian atau teratur baik dirumah atau diluar rumah yang Tidak pernah = 0
kebiasaan ( life style) pernah dilakukan dalam 1 tahun sebelum jarang,jika melakukkan olahraga 1-3 kali = 1
yang memberi menarche kadang-kadang,jika dalam seminggu
dampak pada Olahraga: melakukan olahraga 4-5 kali dalam seminggu
kesehatan individu - Berenang =2
dan kesehatan orang - Lari Sering melakukakn olahraga.6x kali = 3
lain. Faktor yang - Bulu tangkis
mempengaruhi gaya - Basket
hidup seperti(life - Volley Dikategorikan dalam:
style) ; kegiatan fisik - Dll Tidak pernah = 0
(olahraga), konsumsi Frekuensi responden mengkonsumsi makanan Jarang konsumsi siap saji 1x dalam perbulan
fast food, dan soft siap saji seperti: =1
drink - Burger Kadang-kadang 2x konsumsi tiap bulan
- Pizza makanan siap saji = 2
- Ayam tepung goreng Sering bila konsumsi maknana siap saji 3x
- Fish and chipz kali perbulan = 3
- Mie instan
- Bihun instan Dikategorikan dalam:
- Makanan dalam kaleng Kuisioner Ordinal Tidak pernah = 0
- Nugget Jarang konsumsi siap saji 1x dalam perbulan
- Pop mie =1
Kadang-kadang 2x konsumsi tiap bulan
Frekuensi responden mengkonsumsi minuman makanan siap saji = 2
bersoda sebelum mengalami menarche seperti: Sering bila konsumsi maknana siap saji 3x
- Fanta kali perbulan = 3
- Cola-cola
- Sprite
- Pepsi
- Dll
3 Menarche Usia saat mengalami - Wawancara Ordinal Dikategorikan dalam
mentruasi pertama 1. Prekok= <10 tahun
2. Normal= 11-16
3.5 Pengumpulan Data dan Pengolahan Data

3.5.1 Pengumpulan Data

1. Prosedur pengambilan data

Pada saat memulai penelitian, Peneliti memberikan kuisioner kepada

sisiwi putri yang sudah menjadi sampel. Kuisioner tersebut diberikan dalam

tiap-tiap kelas yang sudah terpilih menjadi sampel yang peniliti inginkan.

Peneliti pada saat memberikan kuisioner pada remaja putri dibantu oleh guru

BK dan teman peneliti, guna untuk memudah berjalannya proses penelitian.

Cara pengambilan data awal dilakukan oleh peneliti dengan cara

mewawancarai siswi kelas VII, VIII, dan XI setelah itu semua hasil wawancara

didokumentasikan dalam bentuk catatan dan gambar. Data awal yang telah

diperoleh dipilih sesuai kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu Siswi yang

sudah mengalami menarche dan criteria ekslusi pada penelitian ini adalah siswi

yang belum mengalami menarche. Setelah data sesuai dengan criteria masing-

masing, data dihitung untuk menentukan sampel yang akan diteliti.

Penelitian dapat dilakukan setelah melakukan sidang proposal untuk

mendapatkan persetujuan dari dekan fakultas ilmu kesehatan Universitas

Muhammadiyah Surabya. Data penelitian dapat diperoleh dengan cara sebagai

berikut :

1). Siswi kelas VII yang menjadi resonden akan diberikan kuisioner yang

berisikan item tentang lingkungan dan gaya hidup yang mempengaruhi

menarche yang terdiri dari 11 pertanyaan, gaya hidup 18 pertanyaan.

Setelah kuisioner terisi data akan dimasukkan kedalam SPSS.


2). Siswi kelas VIII yang yang menjadi resonden akan diberikan

kuisioner yang berisikan item tentang Perilaku peer group dan gaya

hidup yang mempengaruhi menarche yang terdiri dari 10 pertanyaan,

gaya hidup 18 pertanyaan. Setelah kuisioner terisi data akan dimasukkan

kedalam SPSS.

3). Siswi kelas IX yang yang menjadi resonden akan diberikan kuisioner

yang berisikan item tentang Peer Group dan gaya hidup yang

mempengaruhi menarche yang terdiri dari 10 pertanyaan, gaya hidup 18

pertanyaan. Setelah kuisioner terisi data akan dimasukkan kedalam

SPSS.

2. Instrumen Penelitian

a. Intrumen Perilaku Peer Group dan gaya hidup

Instrumen untuk variabel independen Peer Group dan gaya hidup

adalah dalam bentuk kuesioner.

b. Intrumen usia menarche

Instrumen untuk variabel dependen usia menarche dengan melakukan

wawancara kepada siswi, responden menjawab dari pertanyaan yang

diajukan oleh peneliti

3. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april 2017 di SMP

Muhammadiyah 01 Surabaya. Alamat :

4. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul dari yang telah di isi responden kemudian di

ubah dengan tahap sebaga berikut:


1) Editing

Merupakan upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap

pengumpulan data atau setelah data terkumpul (Hidayat, 2010). Peneliti

akan memeriksa kembali semua data yang telah dikumpulkan melalui

kuisioner, meneliti satu persatu tentang kelengkapan pengisian kuisioner

apakah sudah jelas, relevan dan konsisten. Jika terdapat jawaban yang tidak

jelas penulisannya atau ada daftar pertanyaan yang tidak berarti maka

pengumpulan data yang bersangkutan diminta untuk menjelaskan atau

melengkapinya.

2) Coding

Merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data

yang terdiri dari beberapa kategori (Hidayat, 2010). Pemberian kode

dimaksudkan agar lebih mempermudah dalam melakukan tabulasi dan

analisa data. Maka setiap jawaban kuisioner yang telah disebarkan diberi

kode.

3) Scoring
Lembar pertanyaa kuisioner untuk lingkungan peer group.gaya hidup,
yaitu dengan skor nilai sebagai berikut:
Sering = 3
Kadang-kadang = 2
Jarang = 1
Tidak pernah = 0

Lembar pertanyaa kuisioner untuk gaya hidup, yaitu dengan


skor nilai sebagai berikut:

Sering = 3
Kadang-kadang = 2
Jarang = 1
Tidak pernah = 0
4) Tabulation

Membuat table-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian yang

diinginkan oleh peneliti (Notoadmojo, 2011). Data yang telah

dikumpulkan mulai dari awal hingga akhir penelitian disusun sedemikian

rupa sehingga mudah untuk dijumlah dan disajikan secara bentuk table

atau grafik.

3.5.2 Analisa Data

Analisa data dalam penelitian ini dibantu menggunakan perangkat lunak.

Analisa yang digunakan adalah :

a. Analisa univariat

Bertujuan menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik setiap

variabel (Notoatmodjo, 2012). Variabel dalam penelitian ini adalah

variabel independen yaitu peer grooup dan gaya hidup sedangkan variabel

dependen yaitu usia menarche.

b. Analisa bivariat

Analisa bivariat dilakukan kepada dua variabel yang diduga

berkorelasi atau berhubungan (Notoadmodjo, 2012). Analisa data disini

yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara peer

group dan gaya hidup terhadap usia menarche. Untuk mengetahui

bagaimana hubungan dan seberapa kuat hubuangan tersebut, maka perlu di

uji dengan menggunakan “uji spearman”. Uji ini digunakan untuk


mengukur tingkat atau eratnya hubungan antara dua variabel yang berskala

ordinal (Hidayat,2010), caranya sebagai berikut :

Setelah data terkumpul dikelompokkan, dilakukan tabulasi data

kemudian di analisis dengan uji statistik “uji spearman” untuk mengetahui

hubungan antara variabel dengan skala data ordinal dan tingkat kemaknaan

(α) = 0,05 dengan menggunakan SPSS untuk mengetahui apakah ada

hubungan yang bermakna, apabila p < 0,05 maka Ho ditolak H1 diterima,

berarti ada hubungan antara perilaku peer group dan gaya hidup terhadap

usia menarche, akan tetapi jika p > 0,05 maka Ho diterima H1 di tolak,

berarti tidak ada hubungan antara perilaku peer group dan gaya hidup

terhadap usia menarche.

3.6 Etika Penilaian

Dalam melakukan penelitian, maka peneliti harus mengetahui etika

penelitian mengingat penelitian ini berhubungan dengan manusia, maka etika

penelitian merupakan masalah ynag sangat penting. Etika penelitian meliputi

sebagai berikut:

3.6.1 Informed Concent atau Persetujuan Responden

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti terhdap

responden dengan meberikan lembar persetujuan (Hidayat, 2007). Peneliti

memberikan lembar persetujuan diberikan kepada responden untuk

menandatangani lembar persetujuan bahwa mereka bersedia menjadi responden

yang diteliti.

3.6.2 Anonimity atau Tanpa Nama


Menjaga kerahasian identitas subjek peneliti tidak mencantumkan nama

responden pada lembar pengumpulan data atau kuisioner/lembar observasi, cukup

dengan meberi nomor kode masing-masing lembar tersebut. Pada penelitian ini

kode yang digunakan adalah inisial nama klien dari smapel yang diambil.

3.6.3 Confidentiality atau Kerahasiaan

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek dirahasiakan oleh

peneliti, hanya kelompok data tertentu yang disajikan atau dilaporkan sehingga

rahasianya tetap terjaga dan kerahasiaan responden dijamin tidak akan menyebar

ataupun bocor kemanapun karena sifatnya adalah rahasia. Serta hanya responden,

peneliti, siswi SMP 01 muhammadiyah Surabaya dan universitas muhammadiyah

Surabaya.

3.6.4 Justice (Keadilan)

Dalam penelitian yang dilakukan harus bersifat adil tanpa membeda-

bedakan subjek maupun perlakuan yang diberikan. Pada penelitian ini peneliti

dalam pengambilan data yang diteliti, tidak ada yang dibuat perbedaan atau

mebedakan antara satu dengan yang lainnya, semuanya diperlakukan secara sama

adil, semua populasi yang memiliki kriteria inklusi mendapatkan kesempatan

yang sama untuk menjadi responden dan juga mendapatkan info penelitian yang

sama.