Anda di halaman 1dari 8

Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal.

80-87

Pembelajaran Berbasis Masalah


dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan
Pemahaman Matematik Siswa
Erik Santoso,
Dosen Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka
email eriksantoso.math07@gmail.com

Abstrak—Rendahnya pemahaman matematik harus menjadi fokus


guru dalam merancang pembelajaran yang mengtasi permasalahan
tersebut. Hal ini dikarenakan kemampuan pemahaman matematik
merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan
pemahaman matematik setelah penggunaan model pembelajaran
berbasis masalah. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X MM 1
SMK Galuh Rahyau dengan jumlah siswa 38 orang. Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan desain
penelitian Hopkins, dan dilakukan sebanyak dua siklus. Penelitian
berkolaborasi dengan satu orang guru matematika di sekolah
tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan
kemampuan pemahaman matematik siswa kelas X MM 1 SMK Galuh
Rahayu. Peningkatan tersebut dapat terlihat dari meningkatkan
kemampuan pemahaman matematik setiap siklusnya.

Kata Kunci: Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa, Pembelajaran Berbasis


Masalah.

80
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

banyak dari siswa yang ada sebagai


1. PENDAHULUAN besra atau sebesar 70% belum mencapai
Matematika merupakan mata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
pelajaran yang kurang diminati oleh untuk mata pelajaran matematika yaitu
sebagian siswa di SMK. Setelah peneliti 76. Berkaitan dengan hal tersebut perlu
ke lapangan ketidak sukaan matematik adanya upaya perbaikan proses
dikarenakan siswa cenderung fokus pembelajaran melalui pembelajaran
pada mata pelajaran produktif sebagai yang berkualitas dengan harapan
mata pelajaran keahlian yang harus bahwa siswa menjadi lebih nyaman
dimiliki oleh siswa setelah lulus. dalam belajar matematika yang pada
Namun ada juga beberapa siswa yang akhirnya mampu meningkatkan
menyatakan bahwa pembelajaran kemampuan pemahaman matematik.
matematika cenderung membosankan Kemampuan pemahaman
sehingga siswa kurang aktif dalam matematika merupakan kemampuan
pembelajaran. Hal inilah yang menjadi yang disarankan untuk dimiliki oleh
fokus peneliti bahwa masih terdapat siswa. Kemampuan pemahaman
lemahnya pembelajaran matematika matematik penting sebagai pondasi
dikarenakan kemampuan guru dalam untuk memahami kemampuan yang
memilih dan melaksanakan lainnya, tanpa memahami
pembelajaran dengan model seperti kemungkinan siswa tidak mampu
apa. memcahkan masalah yang berbentuk
Kelas X MM 1 SMK Galuh Rahayu soal. Oleh karena itu kemampuan
merupakan kelas yang kemampuan pemahaman penting untuk dimiliki
akhirnya ditujukan untuk menguasai siswa.
berbagai multimedia. Kelas X MM 1 Herdian (2010:1) mengemukakan
didominasi oleh perempuan bahwa pemahaman merupakan
dibandingkan dengan laki-laki, jumlah terjemahan dari istilah understanding
perempuan sebanyak 26 orang dan yang diartikan sebagai penyerapan
jumlah laki-laki sebanyak 12 orang. materi yang dipelajari. Pemahaman
Berbeda dengan kelas otomotif yang merupakan tipe kemampuan yang
jumlah siswa laki-laki tiap kelasnya harus dipunyai oleh siswa agar siswa
mencapai 80%. Hal ini dikarenakan mampu memiliki kemampuan yang
siswa Otomotif lebih digemari oleh lainnya. Tanap pemahaman sulit bagi
siswa laki-laki. siswa untuk mempunyai kemampuan
Melalui diskusi dengan guru mata yang lainnya. Ruseffendi (2006:221)
pelajaran matematika kelas X MM 1 menyatakan bahwa terdapat tiga jenis
SMK Galuh Rahayu bahwa siswa pemahaman: “(1) pengubahan
cenderung pasif dan terjadi seolah (translation), mampu mengubah soal
siswa fokus pada mata pelajaran kata-kata ke dalam simbol dan
produktif. Oleh karena itu, peneliti sebaliknya; (2) pemberian arti
tertarik bahwa matematika yang (interpretation), mampu mengartikan
menjadi salah satu mata pelajaran yang suatu kesamaan: dan (3) pembuatan
di Ujian Nasionalkan harus diperbaiki ekstrapolasi (extrapolation), misalnya
proses pembelajarannya melalui mampu memperkirakan suatu
sebuah penelitian reflektif yang kecenderungan yang tersirat dalam
dinamakan dengan penelitian tindakan suatu diagram”., kemudian Serupa
kelas. Setelah berdiskusi juga dengan Pollastek, Skemp (Bramby at.
terungkap bahwa siswa yang lulus all 2007:1) Skemp (1976) identified two
dalam mata pelajaran matematika tidak types of understanding; relational and
81
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

instrumental. He described relational learning beginswith a problem to be solved,


understanding as“knowing both what to do and the problem is posed is such a way that
and why” and the process of learning students need togain new knowledge before
relational mathematics as“building up they can solve the problem”.
aconceptual structure. Instrumental Menurut Komalasari (2013:58-59)
understanding, on the other hand, pembelajaran berbasis masalah adalah:
wassimply described as“rules without Model pembelajaran yang
reason”. Pemahaman ini dipilih menggunakan masalah dunia nyata
dikarenakan menurut peneliti sebagai suatu konteks bagi siswa utuk
pemahaman ini mudah dipahami yaitu belajar tentang berfikir kritis dan
bahwa siswa dikataka memiiki keterampilan pemecahan masalah,
kemampuan pemahaman jika siswa serta untuk memperoleh pengetahuan
tersebut mampu menjawab soal secara dan konsep yang esensi dari mata
algoritmik atau soal yang prosedural pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat
dan kemampuan pemahaman pada dalam penyelidikan untuk pemecahan
jenis relasional yaitu kemampuan siswa masalah yang mengintegrasikan
untuk menghubungkan materi keterampilan dan konsep dari berbagai
matematika dengan materi yang isi materi pelajaran.
lainnya tau diluar matematika yaitu Arends (Hariyanto dan Warsono,
pada mata pelajaran yang lainnya. 2012: 401) mengemukakan sintaks
Pemahaman matematik perlu pembelajaran berbasis masalah yaitu:
ditingkatkan melalui pembelajaran a. Orientasi siswa pada masalah
yang dapat meningkatkan aktivitas Guru menyampaikan tujuan
siswa dalam proses pembelajarannya. pembelajaran, menjelaskan logistik
Upaya yang dapat dilakukan (bahan dan alat) apa yang
diantaranya adalah penggunaan model
diperlukan bagi penyelesaian
pembelajaran berbasis masalah. Model
masalah serta memberikan motivasi
pembelajaran bebrasis masalah adalah
kepada siswa agar menaruh
model pembelajaran yang menekankan
pentingnya proses pembelajaran perhatian terhadap aktivitas
dengan cara berkelompok kemudian penyelesaian masalah.
adanya masalah di awal dapat b. Mengorganisasi siswa.
menjadikan stimulus siswa untuk Guru membantu siswa
dapat belajar dengan baik. Suyatno mendefinisikan dan
(2009 : 58) bahwa : Pendekatan mengorganisasikan pembelajaran
pembelajaran berdasarkan masalah agar relevan dengan penyelesaian
adalah proses pembelajaran yang titik masalah.
awal pembelajaran dimulai c. Membimbing penyelidikan indvidu
berdasarkan masalah dalam kehidupan maupun kelompok
nyata siswa dirangsang untuk
Guru mendorong siswa untuk
mempelajari masalah berdasarkan
mencari informasi yang sesuai,
pengetahuan dan pengalaman telah
melakukan eksperimen, dan
mereka miliki sebelumnya (prior
knowledge) untuk membentuk mencari penjelasan dan pemecahan
pengetahuan dan pengalaman baru. masalah.
Padmavathy and Mareesh (2013:47) d. Mengembangkan dan menyajikan
bahwa: “Problem-Based Learning (PBL) hasil.
describes a learning environment where Guru membantu siswa dalam
problems drive the learning. That is, perencanaan dan perwujudan hasil
82
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

yang sesuai dengan tugas yang kemampuan berfikir ditingkatkan.


diberikan; Tidak sekedar tahu, tapi juga
e. Menganalisis dan mengevaluasi dipikirkan.
proses dan hasil pemecahan d. Membangun kerja tim,
masalah. kepemimpinan dan keterampilan
Guru membantu siswa untuk sosial
melakukan refleksi terhadap hasil Pembelajaran diharapkan
penyelidikannya serta proses- memahami perannya dalam
proses pembelajaran yang telah kelompok, menerima pandangan
dilaksanakan. orang lain, bisa memberikan
Menurut Smith (Amir, 2013:27), pengertian bahkan untuk orang-
manfaat pembelajaran berbasis masalah orang yang barangkali tidak
adalah mereka senangi. Keterampilan yang
a. Menjadi lebih ingat dan meningkat sering disebut bagian dari soft skills
pemahamannya atas materi ajar. ini, seperti juga hubungan
Kedua hal ini ada kaitannya, kalau interpersonal dapat mereka
pengetahuan itu didapatkan lebih kembangkan. Dalam hal tertentu,
dekat dengan konteks praktiknya, pengalaman kepemimpinan juga
maka kita akan lebih ingat. dapat dirasakan. Mereka
Pemahamanan juga demikian, mempertimbangkan strategi
dengan konteks yang dekat dan memutuskan dan persuasif dengan
sekaligus melakukan banyak orang lain.
mengajukan pertanyaan e. Membangun kecakapan belajar
menyelidiki bukan sekedar hafal Pembelajaran perlu dibiasakan
saja maka pembelajaran akan lebih untuk mampu belajar terus meneru.
memahami materi. Ilmu keterampilan yang mereka
b. Meningkatkan fokus pada butuhkan nanti akan terus
pengetahuan yang relevan. berkembang, apapun bidang
Dengan kemampuan pendidik pekerjaannya. Jadi mereka harus
membanguan masalah yang sarat mengembangkan bagaimana
dengan konteks praktik, kemampuan untuk belajar.
pembelajaran bisa merasakan lebih f. Memotivasi pembelajaran
baik konteks operasinya di Motivasi belajar pembelajaran,
lapangan. terlepas dari apapun metode yang
c. Mendorong untuk berfikir kita gunakan, selalu menjadi
Dengan proses yang mendorong tantangan. Dengan model
pembelajaran untuk pembelajaran berbasis masalah, kita
mempertanyakan, kritis, reflektif punya peluang untuk
maka mafaat ini berpeluang terjadi. membangkitkan minat dari dalam
Pembelajaran dianjurkan untuk diri, karena kita menciptakan
tidak terburu-buru menyipulkan, masalah dengan konteks pekerjaan.
mencoba menemukan landasan
argumennya dan fakta-fakta yang Berdasarkan pendapat tersebut
mendukung alasan. Nalar bahwa model pembelajaran berbasis
pembelajaran dilatih dan masalah bahwa dengan masalah yang

83
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

diberikan kepada siswa makwa akan guru yang dilakukan oleh peserta didik
timbul pengetahuan baru dengan (Arikunto, 2006: 3). Penelitian tindakan
ditemukannya pemecahan masalah kelas (PTK) dilaksanakan di satu kelas
tersebut. Oleh karena itu pembelajaran saja sesuai dengan sifat dari PTK.
berbasis masalah cocok untuk Penelitian tindakan kelas dibagi dalam
diterapkan pada siswa yang memiliki tiga siklus, masing-masing siklus terdiri
rasa ingin tahu yang tinggi. dari perencanaan (planning), tindakan
Berdasrakan uraian dari latar belakang (action), observasi (observe), serta
masalah tersebut maka tujuan refleksi (reflect). Desain penelitiannya
penelitian ini adalah untuk megnetahui adalah sebagai berikut:
peningkatan kemampuan pemahaman
matematik setelah siswa menerapkan
model pembelajaran berbasis masalah.

2. METODE PENELITIAN
Agar dalam penelitian ini
memperoleh data yang diharapkan,
maka haruslah menggunakan teknik
pengumpulan data yang tepat. Teknik
pengumpulan data yang digunakan
adalah dengan melaksanakan tes
pemahaman matematik dan melakukan
observasi di kelas untuk mengetahui
aktivitas siswa.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini
dilaksanakan terhadap peserta didik
kelas X MM 1 SMK Galuh Rahayu Gambar 1.
Kabupaten Ciamis tahun pelajaran Desain Penelitian
2016/2017 dengan jumlah seluruh
peserta didik sebanyak 38 orang. Tes pemahaman matematik
Penelitian ini berkolaborasi dengan berbentuk uraian. Menurut Sumarmo,
satu orang observer yaitu guru (2010:14) pedoman pemberian skor
Matematika di sekolah tersebut. pendekatan performance-assessment
Penelitian tindakan kelas merupakan terhadap soal mengukur pemahaman
suatu penelitian dalam suatu kelas matematik peserta didik yang
tertentu untuk mencermati kegiatan digunakan disajikan pada Tabel
pembelajaran yang berupa sebuah berikut:
tindakan. Tindakan tersebut diberikan
oleh guru atau dengan arahan dari
Tabel 1.
Pedoman Pemberian Skor Pendekatan Performance-Assessment
terhadap Soal Mengukur Pemahaman Matematik Peserta Didik
Indikator Respon Siswa skor
Pemahaman  Siswa tidak menjawab atau menjawab salah. 0
Instrumental  Siswa hanya menuliskan konsep yang akan digunakan. 1
 Siswa menuliskan konsep yang digunakan dan hanya
dapat menerapkan rumus pada perhitungan 2
sederhana.

84
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

Indikator Respon Siswa skor


 Siswa menuliskan konsep dan menerapkan rumus 3
pada perhitungan sederhana secara algoritmik dengan
hasil akhir salah.
 Siswa menuliskan konsep dan dapat menerapkan 4
rumus pada perhitungan. sederhana serta secara
algoritmik dengan hasil akhir benar.
Pemahaman  Siswa tidak menjawab atau menjawab salah. 0
Relasional  Siswa hanya menuliskan konsep yang terkait dengan 1
konsep yang digunakan.
 Siswa menerapkan konsep yang terkait dalam 2
perhitungan tetapi terdapat kekeliruan dalam proses
perhitungan.
 Siswa mampu menerapkan konsep yang terkait dalam 3
perhitungan dan mengerjakan perhitungan sampai
akhir dengan hasil akhir salah.
 Siswa mampu menerapkan konsep yang terkait dalam 4
perhitungan sampai akhir hasil akhir benar.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN jelas jika dibuat dalam diagram batang


Hasil penelitian ini memberikan sebagai berikut:
gambaran mengenai kemampuan
pemahaman matematik siswa yang Hasil Kemampuan
melaksanakan pembelajaran dengan Pemahaman Matematik
menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah. Hasil ini didapat dari 11,11
16,29
20,00 5,87
dua siklus yang dilaksanakan oleh guru
selama pelaksanaan pembelajaran. 0,00
Hasil mengenai kemampuan prasiklus siklus I siklus II
pemahaman matematik dapat
digambarkan sebagai berikut: Gambar 1.
Tabel 2. Hasil Kemampuan Pemahaman
Hasil Kemampuan Matematik Siswa
Berdasarkan diagram batang
Pemahaman Matematik
tersebut terlihat bahwa pada prasiklus
Hasil Kemampuan Pemahaman
skor rata-rata hanya 5,87, kemudian
Matematik
meningkat pada siklus I menjadi 11,11
prasiklus 5.87
dan meningkat padda siklus II menjadi
siklus I 11.11 16,29. Peningkatan tersebut terejadi
siklus II 16.29 guru benar-benar mampu
melaksanakan pembelajaran dengan
Hasil tersebut memberikan model pembelajaran berbasis masalah.
gambaran bahwa model pembelajaran Guru dapat membuka pembelajaran
berbasis masalah mampu dengan baik, kemudian melaksanakan
meningkatkan kemampuan kegiatan inti dengan baik pula. Selain
pemahaman matematik siswa mulai peningkatan kemampuan pemahaman
dari prasiklus, siklus I sampai dengan yang meningkat penelitian ini dapat
siklus II. Peningkatan kemampuan meningkatkan pula aktivitas siswa
pemahaman matematik dapat terlihat sebagai berikut:
85
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

Tabel 3.
Peningkatan Aktivitas Siswa
Aktivitas yang Diamati Siklus I Siklus II Catatan Observer
Kurang Nampak Siswa pada siklus I belum berani
nampak dalam mengajukan pertanyaan hal
ini dikarenakan siswa belum
mengajukan terbiasa dalam melaksanakan
pertanyaan pembelajaran, kemudian guru
memotivasi siswa dalam proses
pembelajaran sehingga siswa berani
dalam mengajukan pertanyaan
Tidak Nampak Siswa ada yang berani
nampak mengemukakan pendapat pada
siklus I namun pendapatnya dirasa
mengemukakan kurang sejalan dengan diskusi yang
pendapat dilaksanakan namun terdapat
peningkatan pada siklus II bahwa
pendapat yang diutarakan siswa
sudah terarah
Kurang Nampak Diskusi kelompok dibimbing oleh
nampak guru langsung sehingga pada siklus
II diskusi kelopok sudah berjalan
diskusi kelompok dengan baik dan siswa yang
kemampuannya baik dapat
membantu siswa yang
kemampuannya kurang
Nampak Nampak Bahan ajar yang diberikan guru
sudah dapat dikerjakan dengan baik
mengerjakan bahan ajar sehingga guru dapat memahami
bahwa siswa sudah dapat
mengerjakan bahan ajarnya
Kurang Nampak Penyajian materi kurang
penyajian materi oleh nampak kepercayaan diri namun pada siklus
kelompok II siswa sudah sangat siap dalam
menyampaikan pendapatnya.

Aktivitas yang menjadi salah dan lain sebagainya. Namun


pengamatan peneliti adalah berkat dorongan dari observer yang
mengajukan pertanyaan, memotivasi peneliti sehingga
mengemukakan pendapat, diskusi pembelajaran berikutnya dapat berjalan
kelompok, mengerjakan bahan ajar dan dengan baik. Siswa sudah mulai
penyajian materi oleh kelompok. terlihat berani mengemukakan
Hasilnya terlihat bahwa aktivitas siswa pendapat pada pertemuan pertama
mengalami peningkatan terutama siklus II. Ini terjadi karena siswa sudah
nampak sekali pada pertemuan nyaman dalam melaksanakan
pertama siklus I siswa kurang percaya pembelajaran berbasis masalah. Hal
diri dalam mengemukakan pendapat lain yang menarik dan ditemukan
dan gagasannya, dengan alasan takut dalam pelaksanaan penelitian ini

86
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321
Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics) Vol. 2 No. 2, Januari 2018 hal. 80-87

adalah bahwa siswa tertantang ketika Komalasari, K. (2013). Pembelajaran


diberikan masalah oleh guru. Kontekstual Konsep dan Aplikasi.
Pembelajaran berbasis masalah Bandung: PT Refika Aditama
membuat siswa menjadi terbiasa Padmavathy, R.D. and Mareesh,
dengan masalah dan siswa dituntut K.(2013). Effectiveness of Problem
untuk mampu memecahkan masalah Based Learning In Mathematics.
tersebut. International Multidisciplinary
e-Journal, Vol-II, Issue-I, Jan -
4. KESIMPULAN 2013ISSN 2277 – 4262
Simpulan dari penelitian ini adalah Ruseffendi, E.T. (2006).Pengantar
bahwa model pembelajaran berbasis kepada Membantu Guru
masalah mampu meningkatkan Mengembangkan
kemampuan pemahaman matematik. Kompetensinya dalam
Aktivitas siswa meningkat dalam Pengajaran Matematik auntuk
proses pembelajaran dengan Meningkatkan CBSA.
menggunakan model pembelajaran Bandung:Tarsito
berbasis masalah. Saran yang dapat Sumarmo, U. (2010). Berfikir dan
diberikan adalah bahwa guru Disposisi Matematik : Apa,
matematika dapat mencoba Bagaimana, dan Mengapa
pembelajaran berbasis masalah pada dikembangkan Pada Peserta Didik.
mata pelajaran matematika untuk [online] Tersedia:
materi yang berbeda dengan penelitian http://math.sps.upi.edu/wp-
ini. content/uploads/2010/02/BERFI
KIR-DAN-DISPOSISI-
5. REFERENSI MATEMATIK-SPS-2010.pdf.
Amir, M, T.(2009). Inovasi Pendidikan Suyatno, (2009), Menjelajah
Melalui Problem Based Learning: Pembelajaran Inovatif, Penerbit
Bagaimana Pendidik Masmedia Buana Pustaka,
Memberdayakan Pemelajar di Era Surabaya.
Penetahuan. Jakarta: Kencana
Prenada media Group, Jakarta.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta
Bramby, P. at. all .(2007). How Can We
Assess Mathematical
Understanding? Diterbitkan di:
Durham University, United
Kingdom
Hariyanto dan Warsono. (2012).
Pembelajaran Aktif Teori dan
Asesmen. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Herdian. (2010). Kemampuan
Pemahaman Matematika.
[Online]. Tersedia:
http://herdy07.wordpress.com/2
010/05/27/kemampuan-
pemahaman-matematis/.

87
Copyright ©2018, Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics)
p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321