Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul
“Manajemen Keuangan, Manajemen Persediaan”.Sayaberharap tugas ini dapat
diterima dengan baik oleh ibu dosen dan para pembacanya karena sayasudah
berusaha untuk menyelesaikan tugas ini semaksimal mungkin
Saya menyadari bahwa tugas ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, bila
terdapat kesalahan dan kekurangan pada tugas ini sayamohon maaf yang sebesar-
besarnya, seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak. Kritik dan saran
yang bersifat membangun terbuka untuk pengembangan lebih lanjut. Akhir kata,
sayamengucapkan terimakasih.

Denpasar, 16 Oktober2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1 Akuntansi Persediaan ................................................................................ 3
2.2 Economical Order Quantity (EOQ) .......................................................... 5
2.3 Reorder Point dan Safety Stock ................................................................ 9
2.4 Potongan Harga ....................................................................................... 10
2.5 Pengendalian Sistem Persediaan ............................................................. 11
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 14
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persediaan adalah merupakan elemen utama dari modal kerja, karena
jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan. Jenis persediaan yang ada dalam
perusahaan akan tergantung dari jenis perusahaan. Sebagai contoh perusahaan jasa
persediaan yang biasanya timbul seperti persediaan bahan pembantu atau
persediaan habis pakai, seperti kertas, karbon, stampel, tinta, buku kwitansi,
materai. Sedangkan untuk perusahaan manufaktur jenis persediaannya meliputi
persediaan bahan pembantu, persediaan barang jadi, persediaan barang dalam
proses, dan persediaan bahan baku. Dan untuk perusahaan dagang jenis
persediaannya mencakup persediaan barang dagangan, dan persediaan bahan
penolong.
Bagi perusahaan manufaktur persediaan ini menjadi begitu penting karena
kesalahan dalam investasi persediaan akan mengganggu kelancaran operasi
perusahaan. Apabila persediaan terlalu kecil maka kegiatan-kegiatan operasi besar
kemungkinannya mengalami penundaan, atau perusahaan beroperasi pada
kapasitas rendah. Sebaliknya apabila persediaan terlalu besar maka akan
mengakibatkan perputaran persediaan yang rendah sehingga profitabilitas
perusahaan menurun. Kedua keadaan itu bagi manajer keuangan merupakan
tantangan yang dihadapi. Persoalannya adalah berapakah besar persediaan yang
optimal bagi perusahaan?
Persediaan yang cukup bagi perusahaan dapat memenuhi pesanan dengan
cepat. Namun demikian persediaan yang besar itu juga membawa konsekuensi
berupa biaya yang timbul untuk mempertahankan persediaan itu. Biaya yang
berkaitan dengan persediaan itu mencakup biaya pemesanan dan biaya
penyimpanan dan required rate of return atas kelebihan investasi pada persediaan.
Selain itu bahaya yang mungkin timbul adalah keusangan atas persediaan. Jadi
besarnya persediaan dapat ditingkatkan sepanjang ada penghematan bersih dengan
tambahan persediaan. Keseimbangan antara penghematan dan biaya yang timbul
sangat tergantung atas tambahan biaya simpan dan pengendalian persediaan yang
efisien.

1
Berkaitan dengan manajemen persediaan pada bab ini dibahas : akuntansi
persediaan, penentuan persediaan yang optimal dengan pembelian yang paling
ekonomis baik menggunakan potongan ataupun tidak, dan sistem pengendalian
persediaan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam tugas ini adalah:

1. Apa yang dimaksuddenganakuntansipersediaan ?


2. Apa yang dimaksuddengan Economical Order Quantity (EOQ) ?
3. Apa yang dimaksuddengan Reorder Point dan Safety Stock ?
4. Bagaimana pengertian potongan harga ?
5. Bagaimana pengendalian sistem persediaan?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapuntujuan yang diharapkandalamtugasiniadalah:
1. Mengetahuipengertiantentangakuntansipersediaan.
2. Mengetahuitentang Economical Order Quantity (EOQ).
3. Mengetahuitentang Reorder Point dan Safety Stock.
4. Mengetahui pengertian tentang potongan harga.
5. Mengetahui pengertian tentang pengendalian sistem persediaan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Akuntansi Persediaan


Terdapat empat metode menentukan persediaan : identifikasi secara
spesifik, first in firts–out, last in first–out, dan rata-rata tertimbang atau
weighat average. Metode yang pertama dengan cara mengidentifikasi biaya-
biaya yang secara fisik melekat pada persediaan. Ini hanya dimungkinkan
kalau jenis usahanya relatif mudah diidentifikasi secara jelas. Contohnya
seperti agen penjualan mobil, alat-alat berat, real estate dan produk dengan
nilai yang tinggi sementara perputarannya rendah. Metode kedua first in firts–
out mengasumsikan bahwa persediaan yang pertama masuk digantikan
dengan perusahaan yang baru. Dengan demikian harga pokok produksi
ditentukan oleh persediaan lama dan sebagian persediaan baru. Perlu diingat
ini hanya dalam proses akuntansinya saja, meskipun dalam kenyataannya
persediaan yang dijual sama saja antara persediaan yang masuk terakhir dan
pertama. Last in first–out merupakan kebalikan dari first in firts–out. Harga
pokok produksi ditentukan oleh persediaan yang terakhir masuk, sementara
persediaan akhir terdiri atas persediaan yang masuk lebih awal. Metode
terakhir adalah rata-rata tertimbang, dimana metode ini dalam menentukan
besarnya persediaan dengan cara mengalikan rata-rata tertimbang dengan
setiap jenis persediaan.
Contoh
Perusahaan dagang “Aphrodite” selama bulan Mei 2005 mempunyai data
keuangan sebagai berikut:
1/5 persediaan 1.000 kg @ Rp 250,-
3/5 pembelian 5.000 kg @ Rp 170,-
6/5 penjualan 3.000 kg @ Rp 250,-
10/5 pembelian 4.000 kg @ Rp 200,-
11/5 penjualan 4.500 kg @ Rp 250-,
17/5 penjualan 3.500 kg @ Rp 200-,
23/5 pembelian 4.000 kg @ Rp 230-,
26/5 penjualan 1.000 kg @ Rp 250-,

3
Pembahasan
Pembelian : Persediaan akhir:
1/5 1.000 x 250 = Rp 250.000 14.000 – 11.000 = 3.000
3/5 5.000 x 170 = 850.000
10/5 4.000 x 200 = 800.000
23/5 4.000 x 230 = 920.000
14.000 Rp 2.820.000
Penjualan
6/5 3.000 x 250 = Rp 750.000
11/5 4.500 x 250 = 1.125.000
17/5 3.500 x 200 = 700.000
26/5 6.000 x 250 = 1.500.000
11.000 Rp 4.075.000

Identifikasi khusus
Misalkan sisa persediaan akhir 31/12- 2005 terdiri dari
1.000 x 250 =Rp 250.000
2.100 x 170 = 17.000
2.120 x 230 = 27.600
Rp 294.600.000

Rata - rata sederhana :

250 + 170 + 200 + 230


𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = = 212,5
4

Jadi nilai persediaan akhir = 3000 kg x 212, 5 = 637.500

Rata- rata tertimbang :


2.820.000
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = = 201,42
14.000
Nilai persediaan akhir = 3000 kg x 208,125 = 604.285,71

4
2.2 Economical Order Quantity (EOQ)
Apabila jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode dapat diketahui
dengan pasti maka Economical Order Quantity (EOQ) bisa diterapkan untuk
menentukan jumlah pembelian yang paling ekonomis. Secara lebih spesifik
pengertian Economical Order Quantity (EOQ) adalah jumlah kuantitas barang
yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal, atau sering dikatakan sebagai
jumlah pembelian yang optimal. Biaya variabel persediaan pada prisipnya dapat
digolongkan dalam :

1. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan, yang


sering dinamakan procurement costs atau set-up costs
2. Biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya “average inventory”
yang sering disebut “storage” atau “carry-ing costs”

Procuderement costs atau set-up costs merupakan biaya yang berubah-


ubah sesuai dengan frekunsi pesanan, yang ini terdiri dari :

1. Biaya selama proses perjalanan


a. Persiapan-persiapan yang diperlukan untuk pesanan
b. Penentuan besarnya kuantitas yang akan dipesan
2. Biaya pengiriman pesanan
3. Biaya penerimaan barang yang dipesan
a. Pembongkaran dan pemasukan ke gudang
b. Pemeriksaan material yang diterima
c. Mempersiapkan laporan penerimaan
d. Mencatat ke dalam material record cards
4. Biaya-biaya processing pembayaran
a. Auditing dan perbandingan antara laporan penerimaan dengan pesanan
yang asli
b. Persiapan pembuatan cek untuk pembayaran
c. Pengiriman cek kemudian auditingnya

Set-up costs akan semakin besar apabila Order Quantity semakin besar.

5
Storage atau carry ing costs adalah biaya yang berubah-ubah dengan
besarnya persediaan. Penentuan besarnya biaya ini didasarkan atas rata-rata
persediaan, dan biaya ini kadang-kadang dinyatakan dalam persentase dari nilai
dalam rupiah dari rata-rata persediaan atau dinyatakan dalam rupiah per unit.

Biaya-biaya yang termasuk dalam carrying cost adalah :

1. Biaya penggunaan/ sewa ruangan gedung


a. Biaya pemeliharaan material dan pembebanan untuk kemungkinan
rusak
b. Biaya untuk menghitung/ menimbang barang yang dibeli
c. Biaya asuransi
d. Biaya modal
e. Pajak dari persediaan yang ada digudang

Carrying cost akan semakin kecil apabula jumlah material yang dipesan
semakin kecil. Besarnya EOQ dapat ditentukan dengan dua formula :

1. Apabila carrying cost-nya dinyatakan dalam prosentase dari persediaan


rata-rata
2𝑅𝑆
EOQ = √ 𝑃𝐼

2. Apabila carrying cost-nya dinyatakan dalam rupiah per unit


2𝑅𝑆
EOQ = √ 𝐶

Dimana :

R = kebutuhan bahan selama satu periode

S = biaya pemesanan

C = biaya simpan dalam Rp/unit

P = harga persediaan perunit

I = biaya simpan dalam prosentase

6
Contoh (dalam bentuk presentase)

Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gedung adalah 30% dari nilai rata –
rata persediaan. Biaya pemesanan adalah Rp 20.000 setiap kali pesan. Jumlah
material yang dibutuhkan selama setahun sebanyak 1.000 unit dengan harga Rp
1.000 per unit nya.

2𝑅𝑆
EOQ = √ 𝑃𝐼

2(1.000)(20.000)
EOQ = √ 0,30(1000)

= 365 unit

Total biaya yang di keluarkan adalah

Biaya pemesanan (S) (1.000/365 x Rp 20.000) = Rp 54.794,52

Biaya simpan (C) (365/2 x Rp 1.000 x 0,30) = Rp 54.794,52

Total biaya Rp 109.589,04

Contoh (dalam bentuk rupiah)

Kebutuhan selama satu periode adalah 1000 unit, biaya setiap kali pesan
adalah Rp 20.000, biaya simpan per unit sebesar Rp 1000 harga per unit bahan
1000

2𝑅𝑆
EOQ = √ 𝐶

2(1000)(20000)
EOQ = √ 1000

= 200 unit

Dengan total biaya yang di keluarkan adalah:

Biaya pemesanan (S) (1.000/200xRp20.000) = Rp 100.000

Biaya simpan (C) (200/2x Rp 1000) = Rp 100.000

Total biaya Rp 200.000

7
Hubungan antara biaya pesanan, biaya penyimpanan barang digudang dan
jumlah biaya selama suatu periode dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1
EOQ
Berdasarkan Gambar 1 tampak bahwa biaya pesan akan semakin menurun apabila
jumlah pemesanan semakin besar untuk setiap kali pesan. Sebaliknya biaya
simpan akan semakin besar apabila jumlah pemesanan semakin besar setiap kali
pesan. Dengan demikian total biaya persediaan mula mula akan menurun dengan
sama besarnya jumlah pemesanan, tetapi sampai pada satu titik total biaya akan
meningkat. Titik pada saat total biaya terendah menunjukkan besarnya jumlah
persediaan yang optimal.

Gambar 2
Rata-rata Persediaan

8
2.3 Reorder Point dan Safety Stock
Reorder point adalah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi
sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan bahan baku yang dipesan
itu adalah tepat waktu. Kebutuhan akan bahan baku di ketahui secara pasti, tetapi
untuk melakukan pesanan di perlukan waktu 10 hari. Dalam satu tahun
perusahaan beroperasi selama 320 hari maka berarti dalam selama setahun
perusahaan harus melakukan pemesanan sebanyak 10 kali pesanan atau
perusahaan harus memesan setiap 20 hari. Itu berarti bahwa pesediaan sebesar
2.000 unit akan habis untuk proses selama 20 hari
Dengan demikian perusahaan harus melakukan pemesanan saat persedian
yang ada hanya cukup untuk beroperasi selama waktu menunggu sehingga
pesanan yang baru tiba atau lead time
2.000
Reorder point (ROP) = x 10 = 1000 unit
20

Berarti pesanan harus dilakukan pada saat persediaam mencapai 1000 unit

Gambar 3
Reorder Point
Apabila pemakaian setiap periode tidak pasti maka perusahaan perlu
mempertahankan safety stock agar ketidakpastian atau keterlambatan datangnya
pesanan yang baru dan pemakaian bahan tidak menunggu operasi perusahaan.
Andaikan perusahaan menentukan safety stock sebesar 200 unit, maka dengan
data yang sama reorder point harus dilakukan saat persediaan mencapai 700 unit,
atau sebesar pemakaian selama leadtime ditambah dengan safety stock.

9
Gambar 4
Reorder Point dengan Safety Stock
Pada Gambar 4 nampak bahwa beberapa kemungkinan dalam pemakaian dan
lead time itu terjadi. Ada kemungkinan besarnya pemakaian setiap periode tidak
pasti, atau kemungkinan lain yakni leadtime selama 8 hari tetapi kenyataannya
pesanan sudah tiba dalam waktu 7 hari dengan demikian persediaan menjadi lebih
besar dari yang seharusnya. Keadaan lain misalnya pemakaian yang jauh lebih
besar sehingga persediaan yang ada akan habis dalam waktu yang lebih cepat,
sementara pesanan yang baru belum tiba. Oleh karena itu tampak bahwa untuk
menghindari masalah ketidakpastian itu perusahaan perlu mempertahankan
persediaan pengaman (safety stock). Dan safety stock menjadi begitu penting
untuk mempertahankan agar kontinuitas dapat terjamin.

2.4 Potongan Harga


Perusahaan seringkali mendapat tawaran untuk mendapatkan potongan
apabila melakukan pembelian dalam jumlah besar atau yang sering disebut
dengan quantity discount. Perusahaan akan mendapatkan potongan sebesar 5%
dari harga jual apabila perusahaan membeli sebesar 6.000 unit setiap kali
pembelian. Untuk memutuskan perusahaan sebaliknya memnfaatkan potongan
harga atau tidak maka perlu di hitung apakah besarnya potongan tersebut masih
lebih besat dari pada biaya yang timbul sebagai akibat adanya potongan ini.
Perubahan biaya yang akan terjadi tentunya biaya simpan karena persediaan

10
menjadi lebih besar. Tetapi biaya yang lain yakni biaya simpan akan menjadi
lebih kecil karena perusahaan akan melakukan pemesanan sebanyak 5 kali saja.
Dengan demikian apabila perusahaan akan memanfaatkan tawaran potongan ini
maka biaya yang harus ditanggung adalah:

1. Harga bahan baku

(20.000 x Rp 1000 x 95%) = Rp 19.000.000

2. Biaya pesanan
(20.000/6000 x Rp 10.000) = Rp 33.333,33
3. Biaya simpan
(6.000/2 x Rp 1.00) = Rp 300.000
Total biaya Rp 19.333.333

Tetapi perusahaan tidak memanfaatkan potongan tersebut dan tetap


melakukan pembelian sebesar pembelian ekonomis 2.500 unit maka biaya yang
timbul adalah

1. Harga bahan baku (20.000 x Rp 1000) Rp 20.000.000


2. Biaya pemesanan (20.000/2.500x Rp 10.000) Rp 80.000
3. Biaya simpan (2.500/2x Rp 1.000) Rp 1.250.000
Total biaya Rp 21.330.000
Dengan demikian maka sebaiknya perusahaan memnafaatkan potongan
tersebut akan mendapatkan penghematan sebesar Rp 21.330.000 – Rp 19.333.333
= 1.996.667
Penghematan tersebut timbul karena potongan harga cukup tinggi sehingga
dapat menutup kenaikan biaya simpan.

2.5 Pengendalian Sistem Persediaan


Analisis Economical Order Quantity dan safety stock dapat dipergunakan
untuk menentukan tingkat persediaan sepanjang asumsi yang mendasari terpenuhi.
Namun seandainya asumsi yang mendasari tidak terpenuhi, maka akan diperlukan

11
adanya sistem pengendalian persediaan yang lainnya. Dalam bagian ini akan
dibahas sistem pengendalian persediaan yang lainnya.
1. Sistem Komputerisasi
Perkembangan teknologi komputer akhirakhir ini telah mengubah
sistem pengendalian persediaan. Banyak perusahaanperusahaan besar
memanfaatkan komputer dalam manajemen persediaan. Dengan
komputerisasi dimungkinkan pencatatan, persediaan, pengurangan, dan
pengelohan data persediaan dilakukan dengan sangat tepat. Selain itu
komputer menyediakan data kapan harus dilakukan pesanan kembali. Di
Indonesia pemanfaatan sistem komputer didalam pengendaliaan
persediaan gudang. Dengan sistem ini memungkinkan pencatatan transaksi
dapat dilakukan dengan cepat.
2. Sistem Just-in Time
Sistem Justin Time pertama kali dikembangkan di Jepang yang
dipergunakan untuk mensinkroonkan kecepatan bagian produksi dengen
bagian pengiriman bahan dari supplier. Metode ini diterapkan pada
perusahaan besar seperti perusahan mobil Toyota, yang mencoba menekan
persediaan yang harus dipertahankan dengan cara menyesuaikan kecepatan
proses perakitan atau assembling dengan pengirimin bahan dari
suplliernya. Spare part diterima hanya beberapa jam atau bahkan beberapa
menit sebelum spare part diperlukan. Justin time tidak hanya dapat
diterapkan di perusahaan besar tetapi dapat juga diterapkan oleh perusaan
kecil, bahkan perusahaan kecil lebih mudah menerapkannya karena relatif
lebih mudah dalam redefine job function dibandingkan dengan perusahaan
besar.
3. Sistem pengendalian ABC
Metode ABC pada prinsipnya memperhatikan factor harga atau
nilai persediaan, frekuensi pemakaian, risiko kehabisan persediaan, dan
lead time. Barangbarang yang nilai, frekuensi pemakaian dan risiko
kehabisan tinggi dikelompokkan ke dalam kelompok A. kelompok ini
berarti mencakup kelompok barang yang sangat penting untuk diawasi
dengan seksama. Kelompok B, mencakup barangbarang yang relatif

12
kurang penting sedangkan di luar kedua kelompok tersebut
dikelompokkan ke dalam kelompok C. Kelompok C ini mungkin saja
secara kuantitas besar tetapi dari segi nilai relatif kecil dibandingkan
dengan kelompok A. Dengan metode ini manajemen menitikberatkan pada
kelompok A yang bernilai strategis bagi perusahaan. Karena
ketidaktepatan dalam manajemen kelompok A akan berakibat sangat besar
bagi kelangsungan perusahaan.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manajemen persediaan penting bagi khususnya bagi perusahaan manufaktur,
karena kesalahan dalam investasi persediaan akan mengganggu kelancaraan
operasi perusahaan. Apabila persediaan terlalu kecil maka kegiatan-kegiatan
operasi besar kemungkinannya mengalami penundaan, atau perusahaan beroperasi
pada kapasitas rendah. Sebaliknya apabila persediaan terlalu besar maka akan
mengakibatkan perputaran persediaan yang rendah sehingga profitabilitas
perusahaan menurun.
Apabila jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode dapat diketahui
dengan pasti maka Economical Order Quantity (EOQ) bisa diterapkan untuk
menentukan jumlah pembelian yang paing ekonomis. Saat atau titik dimana harus
diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan
bahan baku yang dipesan itu adalah tepat waktu bisa dilakukan dengan analisis
Reorder point.
Apabila pemakaian setiap periode tidak pasti maka perusahaan perlu
mempertahankan safety stock agar ketidakpastian atau keterlambatan datangnya
pesanan yang baru dan pemakaian bahan tidak menunggu operasi perusahaan.
Apabila jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode tidak dapat
diketahui dengan pasti maka, akan diperlukan adanya sistem pengendalian
persediaan seperti : sistem komputerisasi, sistem just-in time, dan sistem
pengendalian ABC.

14
DAFTAR PUSTAKA

Wiagustini, Ni LuhPutu. 2014. ManajemenKeuangan. Denpasar: Udayana


University Press

15