Anda di halaman 1dari 18

TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT UDARA TERHADAP

PENUMPANG*

Annalisa Yahanan Norsuhaida Che Musa** dan Kamal Halili Hassan***

Abstract Abstrak

This research analyses the concepts of air Penelitian ini menganalisis konsep tanggung
carrier legal liability for losses suffered by jawab hukum pengangkut udara atas
the passengers. The results show how the kerugian yang diderita oleh penumpang.
rights of the passengers, particularly on the Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak
matter of compensation settlement, are still penumpang, terutama atas penyelesaian
in a weak position because of the absence ganti rugi, masih berada di posisi yang lemah
of implementing regulations. akibat ketiadaan peraturan pelaksanaan.

Kata Kunci: hak ganti rugi, perlindungan konsumen, penumpang.

A. Latar Belakang Masalah dan/atau kargo dengan pesawat udara,


Terlaksananya pengangkutan melalui dengan imbalan bayaran atau dalam
udara karena adanya perjanjian antara bentuk imbalan jasa lainnya. Lebih lanjut
pihak pengangkut dan penumpang. dikatakan, perjanjian pengangkutan yang
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 telah disepakati antara pihak pengangkut
tentang Penerbangan (UUP) dengan jelas dan penumpang dibuktikan dengan tiket
menyebutkan, perjanjian pengangkutan penumpang. Penumpang sekaligus sebagai
udara adalah perjanjian antara pengangkut konsumen jasa penerbangan mempunyai
dan pihak penumpang dan/atau pengirim hak-hak yang dilindungi oleh undang-
kargo untuk mengangkut penumpang undang, baik dalam UUP maupun dalam


*
Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul “Legal and Policy Issues on Air Transporta-
tion and Service”, Faculty of Law, University of National Malaysia. Kod UKM-GUP-JKKBG-08-04-017 Tahun
2009-2010.
**
Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang (e-mail: annalisa_yahanan@yahoo.com).
***
Ketua Tim Peneliti “Legal and Policy Issues on Air Transportation and Service”. Pensyarah pada Fakulti Un-
dang-Undang Universiti Kebangsaan Malaysia (e-mail: dfuu@ukm.my).
1
Pengangkut adalah badan usaha angkutan udara niaga, pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga
yang melakukan angkutan udara niaga berdasarkan ketentuan undang-undang ini, dan/atau badan uasaha selain
badan usaha angkutan udara niaga yang membuat kontrak perjanjian angkutan udara niaga (Pasal 1 butir 26
UUP).
2
Penumpang adalah yang melakukan perjalanan dengan pesawat udara yang dilengka[pi dengan tiket atau doku-
men sejenis untuk maksud tersebut. H.K. Martono, Kamus Hukum dan Regulasi Penerbangan, Edisi Pertama,
PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm. 580. Dalam UUP tidak kita temukan definisi penumpang.
3
Pasal 1 butir 29 UUP.
4
Pasal 140 ayat 3 UUP.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 235

Gambar 1. Jumlah Penumpang Domestik Tahun 1999-2008

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1999 ten- dengan industri penerbangan saat ini,
tang Perlindungan Konsumen (UUPK). menurut Khairiah Salwah Mochtar (2008),
Bila kita perhatikan Grafik.1 di bawah pemerintah-pemerintah di dunia mulai
ini menunjukkan bahwa jumlah penum- merealisasikan pentingnya penerbangan
pang pengangkutan udara domestik dari untuk infrastruktur dan pengembangan
tahun ke tahun hampir selalu mengalami ekonomi, prestise kebangsaan dan keamanan
peningkatan, kecuali tahun 2008 mengalami yang mendorong penyebaran penerbangan
sedikit penurunan 4,48%. Walaupun ter- dunia.
jadi sedikit penurunan, namun pilihan Terselenggaranya suatu pengangkut-
menggunakan angkutan udara tetap banyak an udara dalam kegiatan penerbangan
diminati oleh masyarakat. Ini menandakan komersil tidak akan berarti apa-apa tanpa
berkembangnya industri penerbangan di adanya penumpang. Dalam industri
Indonesia, yang ditopang dengan sejumlah penerbangan, penumpang merupakan salah
maskapai penerbangan dan 186 bandara satu aset penting yang patut diperhitungkan
baik domestik (159 bandara) maupun bagi maskapai penerbangan untuk mencapai
internasional (27 bandara). Berkaitan keuntungan. Oleh karena itu penumpang

5
Ada 14 maskapai penerbangan domestik di Indonesia, yaitu Dirgantara Air Service, Garuda Indonesia, Indone-
sia Air Asia, Kartika Air, Lion Mentari, Mandala, Merpati Nusantara, Metro Batavia Riau Airlines, Sriwijaya
Airlines, Travel Express, Trigana Airservice, Wings Abadi dan Linus Air (sumber: Departemen Perhubungan,
Direktorat Umum Angkutan Udara, Maret, 2009.

6
Departemen Perhubungan, Direktorat Umum Angkutan Udara, 4 Maret 2009.

7
Khairiah Salwa Mochtar, Privaticing Malaysia Airlines, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia Publishing,
2008, hlm. 156.
236 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

yang menggunakan jasa penerbangan perlu penempatan bagasi pada rute yang salah atau
dilindungi haknya terutama hak ganti rugi terjadi keter-lambatan. Kerugian pada saat
apabila penumpang mengalami kecelakaan penerbangan misalnya tidak mendapatkan
(yang menyebabkan kematian, luka-luka pelayanan yang baik atau rasa aman untuk
atau cacat tetap), kerusakan atau kehilangan sampai di tujuan dengan selamat. Sedangkan
bagasi, dan keterlambatan. Jika konsumen kerugian setelah penerbangan, antara lain
merasa, kuantitas atau kualitas barang atau sampai di tujuan terlambat, bagasi hilang
jasa yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan atau rusak.12
nilai tukar yang diberikannya, ia berhak
mendapatkan ganti kerugian yang pantas. B. Perumusan Masalah
Berkaitan dengan itu sebagai salah satu Banyaknya masalah yang dihadapi
ciri pelayanan umum adalah pemberi penumpang dalam memanfaatkan jasa
pelayanan bertanggung jawab dalam penerbangan seringkali menimbulkan
arti liability dalam hal penerima layanan banyak kerugian. Kerugian dirasakan
mengalami kerugian akibat layanan yang penumpang sejak pembelian tiket, sebelum
diberikan.10 berangkat misalnya terjadi keterlambatan
Apabila penumpang yang mengguna- bahkan pembatalan, sedangkan pada masa
kan jasa penerbangan berakibat terjadinya keberangkatan dapat terjadi kerugian yang
pelanggaran hak-hak penumpang yang dapat menimbulkan kematian atau luka-
menimbulkan kerugian, maka pengangkut luka penumpang dan setelah keberangkatan
bertanggung jawab seperti yang diamanat- kerugian yang dapat muncul adalah bagasi
kan oleh UUP. Tanggung jawab itu dimulai yang hilang, rusak atau salah penempatan.
sebelum masa penerbangan (pre-flight Sehubungan dengan kerugian yang dialami
service), pada saat penerbangan (in-flight penumpang, maka masalah yang dikaji
service) dan setelah penerbangan (post- dalam penelitian ini adalah bagaimana
flight service).11 Kerugian sebelum masa tanggung jawab pengangkut terhadap
penerbangan misalnya berkaitan dengan penumpang yang mengalami kerugian dalam
pembelian tiket, penyerahan bagasi, penerbangan domestik.

8
Annalisa Yahanan, et.al.,“Passenger rights and Liability of Commercial Air Carrier in the Aviation Industry in
Indonesia: Analysis of Law No.1 Year 2009 About Aviation. (Hak-hak Penumpang dan Tanggungjawab Peng-
angkut Udara Komersial dalam Industri Penerbangan di Indonesia : Analisis Undang-Undang No.1 Tahun 2009
Tentang Penerbangan), Inaugural International Workshop and Seminar on Siyar & Islamic States Practices in
International Law, Oriental Crystal Hotel, Kajang, Malaysia, 18-19 November 2009, hlm. 1
9
Shidarta, 2004, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT. Grashindo, Jakarta, hlm. 28-29.
10
H.K.Martono, 2009, Hukum Penerbangan berdasarkan UURI No.1 Tahun 2009, PT. Mandar Maju, Bandung,
hlm. 15.
11
Suhartato Abdul Majid dan Eko Probo D. Warpani, 2009, Ground Handling Manajemen Pelayanan Darat Per-
usahaan Penerbangan. Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 78.
12
Annalisa Yahanan, “Passenger rights and Liability of Commercial Air Carrierin the Aviation Industry in Indo-
nesia: Analysis of Law No.1 Year 2009 About Aviation”, Inaugural International Workshop and Seminar on Si-
yar & Islamic States Practices in International Law, Oriental Crystal Hotel, Kajang, Malaysia, 18-19 November
2009, hlm. 3-6.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 237

C. Metode Penelitian 4. Hak untuk didengar (the right to be


Penelitian ini merupakan penelitian heard).
empiris yang ditunjang dengan data Empat hak dasar ini diakui secara
normatif dengan pendekatan perundang- internasional. Dalam perkembangannya,
undangan,13 pendekatan analitis14 dan organisasi-organisasi konsumen yang ter-
pendekatan kasus.15 Data yang dikumpulkan gabung dalam The International organi-
meliputi data sekunder dan data primer. Data zation of Consumers’ Union (IOCU)
sekunder ditelusuri melalui studi literatur menambahkan lagi beberapa hak, seperti
yang dilengkapi dengan data pengaduan hak mendapatkan ganti kerugian, hak
penumpang kepada surat pembaca di mendapatkan pendidikan konsumen dan
KOMPAS. Data primer dikumpulkan hak mendapatkan lingkungan hidup yang
dari kuesioner yang disebarkan ke seratus baik dan sehat.17
orang konsumen penerbangan domestik di Hak ganti rugi adalah salah satu hak
Indonesia, dengan penarikan sampel secara mendasar yang dimiliki oleh penumpang
purposive. Setelah data primer dan data dalam menggunakan jasa penerbangan.
sekunder dikumpulkan kemudian dianalisis Sebagai konsumen, penumpang mempunyai
secara kualitatif. hak untuk memperoleh ganti rugi yang se-
cara tegas diatur dalam Pasal 4 huruf 9
D. Hasil Penelitian dan Pembahasan UUPK. Hak ganti rugi ini akan menjelma
1. Hak Penumpang jika konsumen mengalami kerugian.
Secara umum dikenal ada 4 (empat) Dengan demikian jika penumpang peng-
hak dasar konsumen, yang mengacu kepada angkutan udara dirugikan oleh maskapai
President Kennedy’s 1962 Consumer’s Bills penerbangan, maka ia dapat menuntut
of Rights, dalam pidato kenegaraannya di haknya untuk memperoleh ganti rugi.
depan kongres dan hak-hak ini telah diakui Mandat yang diamanatkan oleh undang-
secara internasional yaitu:16 undang kepada para penyelenggara
1. Hak untuk mendapatkan keamanan (the negara adalah melindungi hak-hak warga-
right to safety); nya: antara lain hak untuk memperoleh
2. Hak untuk mendapatkan informasi (the kemudahan mengakses transportasi serta
right to be informed); hak untuk dijamin keselamatannya selama
3. Hak untuk memilih (the right to menggunakan jasa transportasi termasuk
choose); hak untuk mendapat ganti rugi.

13
Jhonny Ibrahim, 2005, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Cetakan Pertama, Bayu Media, Malang-
Jawa Timur, hlm. 248.
14
ibid, hlm. 257. Pada dasarnya tugas analisis hukum adalah menganalisis pengertian hukum, asas hukum, kaedah
hukum, sistem hukum, dan berbagai konsep yuridis.
15
ibid, hlm. 268. Pendekatan kasus adalah (case approach) adalah mempelajari penerapan norma-norma atau kai-
dah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum, terutama mengenai kasus-kasus yang telah diputus terhadap
perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian.
16
AW Trulstrup, 1974, The Consumer in American Society, Personal and Family Finance, Ed 5, New York, Mc
Graw Hill, hlm. 23.
17
Shidarta, op. cit., hlm. 20.
238 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

Hak untuk mendapatkan kompensasi mengganti rugi apabila penumpang meng-


(ganti rugi) apabila barang dan/atau jasa alami kerugian.19 Dari 100 kuesioner yang
yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian disebarkan, sejumlah 40% responden
atau tidak sebagaimana mestinya, inilah mengeluh mengalami kerugian terhadap
inti dari hukum perlindungan konsumen. bagasi tercatat. Keluhan yang diajukan ke
Begitu penumpang penerbangan mengalami perusahaan penerbangan ditanggapi dengan
kerugian, ia mempunyai hak untuk mem- segera (32%), ditanggapi sampai dengan
peroleh ganti rugi, apabila jasa yang diterima satu bulan (15%), dan prosentase yang
tidak sesuai dengan perjanjian sebagaimana paling tinggi adalah keluhan yang tidak
mestinya. Sebenarnya tujuan dari pemberian mendapat tanggapan apapun dari maskapai
kompensasi, ganti rugi, atau penggantian penerbangan sebesar 53%. Tidak adanya
adalah untuk mengembalikan keadaan respon sama sekali dari pihak maskapai
konsumen ke keadaan semula, seolah-olah penerbangan dapat merupakan salah satu
peristiwa yang merugikan konsumen itu alasan penumpang tidak mau mengajukan
tidak terjadi. Pernyataan ini sesuai dengan klaim jika dirugikan dan menimbulkan
apa yang termaktub dalam Black’s Law, rasa ketidakpuasan penumpang terhadap
yang menyebutkan :18 pelayanan maskapai penerbangan.
Dari sisi lain kerugian penumpang yang
“Indemnification, payment of dam-
seringkali dirugikan akibat menggunakan
ages, making amends, making whole,
jasa penerbangan, dengan melihat banyak-
giving an equivalent or substitute of
nya kasus-kasus yang terjadi di masyarakat.
equal value. That which is necessary
Pengaduan surat pembaca ke KOMPAS
to restore an injured party to his former
merupakan trend yang banyak digunakan
position.”
oleh masyarakat jika mengalami ketidak-
Dengan demikian ganti rugi merupakan berdayaan dalam menggunakan haknya
bentuk pembayaran untuk memperbaiki (hak ganti rugi) yang tidak mendapat tang-
kesalahan, secara keseluruhan, memberikan gapan dari perusahaan penerbangan. Peng-
atau mengganti yang setara dengan nilai aduan ke surat pembaca dilakukan umum-
yang sama. Atau dengan kata lain perlunya nya penumpang tidak mendapat tanggapan
ganti rugi untuk mengembalikan pihak pada saat penumpang mengalami kerugian.
yang terluka dalam kedudukannya seperti Surat pembaca yang dilayangkan ke
semula. KOMPAS mulai tahun 2007-2009 ber-
Hak-hak penumpang mulai dari masa jumlah 205 pucuk surat, yang terdiri 163
sebelum penerbangan sampai dengan setelah surat pengaduan dan 42 surat jawaban dari
penerbangan merupakan tanggungjawab perusahaan penerbangan. Jumlah surat
pengangkut dalam bentuk kewajiban pengaduan yang dikirim ke media cetak

18
Henry Campbell Black, 1990, Black’s Law Dictionary, Sixth Edition, ST Paul, Minn, West Publishing Co, hlm.
283.
19
Seperti diatur dalam Pasal 1 angka 22 UUP.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 239

KOMPAS terdiri dari 109 laki-laki dan 54 sebagian kecil saja yang dapat menyelesaikan
perempuan. permasalahan dan pemberian ganti rugi
Dari Tabel 1 di atas dapat kita kaji, seperti refund, memberikan makanan dan
jawaban atau respon dari pihak maskapai minuman, penginapan. Sedangkan untuk
penerbangan sangat rendah jika kita ban- ganti rugi terhadap bagasi yang hilang,
dingkan dengan banyaknya surat pengaduan dijanjikan untuk diberikan 20 ribu/kg, dan
yang masuk ke media cetak KOMPAS. rata-rata penumpang mengatakan nilai
Tabel 2 menunjukkan masih rendahnya tersebut sangat rendah, karena tidak sesuai
respon maskapai penerbangan sebagai dengan nilai barang. Sementara itu dalam
pengangkut terhadap surat peng-aduan yang pasal 44 Peraturan Menteri No. 40 Tahun
dilayangkan penumpang ke media KOMPAS. 1995 tentang Angkutan Udara menyebutkan
Kondisi ini dapat kita lihat pada tabel di tanggungjawab pengangkut terhadap bagasi
atas, dimana jumlah surat pengaduan yang tercatat yang musnah, hilang, atau rusak
masuk hanya ditanggapi sebagian kecil saja termasuk kerugian karena keterlambatan,
oleh perusahaan penerbangan. Keluhan yang besar ganti rugi terbatas setinggi-tingginya
diajukan ke perusahaan penerbangan ada Rp100.000,- (seratus ribu rupiah) per kilo-

Tabel 1. Jumlah surat masuk ke KOMPAS


No Jenis Surat 2007 % 2008 % 2009 %
1 pengaduan 75 79,8 48 85,7 40 72,7
2 jawaban 19 20,2 8 14,4 15 27,3
Jumlah 94 100 56 100 55 100
Sumber: diolah dari data sekunder 2007-2009

Tabel 2. Nama Perusahaan Penerbangan yang Diadukan Penumpang dan jawaban


Perusahaan Penerbangan Tahun 2007-2009.
2007 2007 2008 2008 2009 2009
No Perusahaan
Pengaduan Jawaban Pengaduan Jawaban Pengaduan Jawaban
1 Garuda Indonesia 15 1 7 1 5 -
2 Merpati Nusantara 2 2 4 1 2 2
3 Sriwijaya Air 5 6 3 - 5 2
4 Lion Air 17 1 15 - 10 4
5 Mandala 3 - 4 2 11 7
6 Batavia 5 3 5 1 - -
7 Adam Air 14 3 - - - -
8 Air Asia 14 3 10 3 6 -
9 IAT - - 1 - - -
Total 75 19 48 8 40 15
Sumber: diolah dari data sekunder 2007-2009
240 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

gram. Penggantian Rp20.000,- per kg dapat sesuatu, dapat diajukan gugatan perdata
ditemukan dalam beberapa tiket penumpang di muka pengadilan oleh orang yang
angkutan udara domestik kecuali tiket dirugikan.20 Liability dapat pula diartikan
Garuda Indonesia. sebagai kewajiban untuk membayar uang
Pada tabel 3 di atas jenis kerugian atau melaksanakan jasa lain; kewajiban yang
bagasi tercatat menunjukkan angka yang pada akhirnya harus dilaksanakan.21 UUP
paling tinggi pada tahun 2007, sedangkan mendefinisikan tanggung jawab pengangkut
pada tahun 2008 kerugian yang dialami adalah kewajiban perusahaan angkutan udara
penumpang lebih banyak pada penggunaan untuk mengganti kerugian yang diderita
tiket. Namun pada tahun 2009 kerugian lebih oleh penumpang dan/atau barang serta pihak
cenderung pada keterlambatan pengangkutan ketiga.22
penumpang. Jika kita perhatikan secara Dengan demikian dapat diartikan
keseluruhan antara tahun 2007-2009 tanggungjawab (liability) adalah kewajiban
kerugian yang dialami penumpang karena membayar ganti kerugian yang diderita pihak
penggunaan tiket dan pada bagasi tercatat. lain, misalnya dalam perjanjian pengangkutan
udara, maskapai penerbangan bertanggung
2. Tanggung Jawab Pengangkut jawab atas keselamatan penumpang dan/atau
Dalam Kamus Besar Bahasa Indo- barang yang diangkutnya sampai di tujuan.
nesia, tanggung jawab (liability) berarti Oleh karena itu apabila timbul kerugian yang
menanggung segala sesuatu kerugian yang diderita oleh penumpang maka maskapai
terjadi akibat perbuatannya atau perbuatan penerbangan harus bertanggung jawab dalam
orang lain yang bertindak untuk dan atas arti liability. Tanggung jawab disini diartikan
namanya. Dengan demikian apabila terjadi maskapai penerbangan wajib membayar

Tabel 3. Jenis Kerugian yang Dialami Penumpang Tahun 2007-2009


No Jenis Kerugian 2007 2008 2009 Frekuensi
1 Bagasi tercatat 17 11 9 37
2 Bagasi Kabin 1 - - 1
3 Jadual 7 6 4 17
4 Check-in 4 2 3 9
5 tiket 14 17 7 38
6 pelayanan 15 4 4 23
7 keterlambatan 13 3 10 26
8 Pembatalan 3 5 3 11
Sumber: diolah dari data sekunder 2007-2009

20
Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi keempat, PT. Gramedia Pustaka
Utama, hlm. 1398.
21
Henry Campbell Black, 1990, Black’s Law Dictionary, Sixth Edition, ST Paul, Minn, West Publishing Co.
22
Baca Pasal 1 (22) UUP.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 241

ganti rugi yang diderita oleh penumpang dan c. keterlambatan angkutan penumpang
apabila ingkar janji, maskapai penerbangan dan/atau barang yang diangkut apabila
dapat digugat di pengadilan. terbukti hal tersebut merupakan ke-
Ada 5 (lima) pasal yang mengatur salahan pengangkut.
tentang tanggung jawab pengangkut yaitu: Kalau kita telaah, UUP pengaturan
1. Tanggung jawab terhadap kerugian tanggung jawab pengangkut lebih rinci
penumpang apabila meninggal dunia, yang diatur dalam berbagai pasal tersendiri.
cacat tetap atau luka-luka akibat Sementara Undang-Undang No. 15 Tahun
kejadian pengangkutan udara di dalam 1992 (UUP lama), mengatur tanggung jawab
pesawat dan/atau naik turun pesawat pengangkut lebih sederhana yaitu terfokus
udara (Pasal 141); dalam satu pasal saja. Tanggung jawab
2. Tanggung jawab terhadap kerugian pengangkut terhadap penumpang menurut
penumpang, karena bagasi tercatat UUP, diuraikan secara singkat pada tulisan
hilang, musnah atau rusak (Pasal 144); berikut ini.
3. Tanggung jawab terhadap pengirim
kargo, karena kargo yang dikirim 3. Tanggungjawab Pengangkut Terha-
hilang, musnah atau rusak (Pasal 145); dap Penumpang
4. Tanggung jawab terhadap kerugian Tanggungjawab pengangkut terhadap
karena keterlambatan mengangkut penumpang yang meninggal, cacat atau luka-
penumpang dan bagasi (Pasal 146); luka akibat kejadian pengangkutan udara di
5. Pengangkut tidak bertanggungjawab dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat
terhadap kerugian bagasi kabin, kecuali udara seperti termaktub dalam Pasal 141
apabila penumpang dapat membukti- UUP, dimana wujud nyata jumlah ganti rugi
kan bahwa kerugian tersebut disebab- masih merujuk kepada Peraturan Menteri
kan oleh tindakan pengangkut atau No. 40 Tahun 1995 tentang Pengangkutan
orang yang dipekerjakannya (Pasal Udara (Lembaran Negara No. 68 Tahun
143). 1995) mengingat belum adanya peraturan
Kalau kita bandingkan dengan undang- yang baru.
undang penerbangan sebelumnya, yaitu Dalam Peraturan Menteri No. 40 Tahun
Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992, 1995, kompensasi untuk penumpang me-
yang mana tanggung jawab pengangkut ninggal dunia karena kecelakaan ditetapkan
hanya diatur dalam satu pasal saja, yaitu sebesar Rp40.000.000,- (empat puluh juta
Pasal 43 ayat (1) yang berbunyi : rupiah); penumpang yang menderita luka-
Perusahaan angkutan udara yang luka karena kecelakaan atau peristiwa di da-
melakukan kegiatan angkutan udara niaga lam kapal terbang antara embarkasi dan
bertanggungjawab atas: disembarkasi, mendapat kompensasi yang di-
a. kematian atau lukanya penumpang tetapkan setinggi-tingginya Rp40.000.000,-
yang diangkut; (empat puluh juta rupiah). Kompensasi
b. musnah, hilang atau rusaknya barang untuk penumpang yang menderita cacat tetap
yang diangkut; karena kecelakaan ditetapkan berdasarkan
242 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

tingkat kecacatan yang dialami, setinggi- jumlah kompensasi tersebut bertentangan


tingginya Rp50.000.000,- (lima puluh juta dengan jumlah yang disebutkan dalam per-
rupiah). aturan perundang-undangan yang berlaku.25
Beberapa tahun terakhir ini kompensasi Berkaitan dengan besaran ganti rugi ada
yang diberikan oleh maskapai penerbangan satu pasal yang memberikan perlindungan
terhadap kecelakaan melebihi dari apa yang terhadap penumpang yaitu Pasal 172 UUP.
diatur dalam Peraturan Menteri No. 40 Tahun Pasal ini menegaskan bahwa besaran ganti
1995. Misalnya kecelakaan Lion Air di Solo rugi dievaluasi paling sedikit satu kali dalam
pada tanggal 30 November 2004, memberi- satu tahun oleh Menteri berdasarkan pada:
kan kompensasi kepada penumpang yang tingkat hidup yang layak rakyat Indonesia;
meninggal sebesar Rp400.000.000,- (empat kelangsungan hidup badan usaha angkutan
ratus juta rupiah),23 Maskapai Penerbangan udara niaga; tingkat inflasi kumulatif;
Mandala Air di Medan pada 5 September pendapatan per kapita; dan perkiraan usia
2005, memberikan kompensasi kepada harapan hidup.26
penumpang yang mengalami kecelakaan Jika terjadi kecelakaan, umumnya
sebesar Rp300.000.000,- (tiga ratus juta penumpang sangat jarang menuntut
rupiah) dan hilangnya pesawat Adam Air kompensasi/santunan kepada maskapai
di Makassar pada 1 Januari 2007, kepada penerbangan ke muka pengadilan. Hal ini
penumpang yang menjadi korban diberikan disebabkan karena penyelesaian sengketa
kompensasi sebesar Rp500.000.000,- (lima melalui pengadilan sangat lambat; biaya
ratus juta rupiah).24 perkara mahal; Pengadilan umumnya
Pemberian kompensasi melebihi jum- tidak responsif; Putusan pengadilan tidak
lah yang ditentukan seperti yang telah dise- menyelesaikan masalah; dan kemampuan
butkan di atas, hal ini menandakan bahwa para hakim bersifat generalis.27
perusahaan nasional kita di bidang pener- Namun ada satu kasus tanggung jawab
bangan secara ekonomis sudah lebih kuat pengangkut terhadap penumpang dapat
dari keadaan sebelumnya dan sudah lebih dijadikan bahan referensi dalam perkara
menghargai jiwa manusia meski tentu tidak Ny. Oswald Vermaak v. Garuda Indonesian
dapat menggantikan rasa kehilangan dan Airways (1963). Kasus ini merupakan
duka cita bagi keluarga yang ditinggalkan, satu-satunya perkara kecelakaan dalam
namun dipihak lain kebijakan mengenai pengangkutan udara domestik yang diajukan

23
Kompas, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, 7 Desember 2004. Baca: E. Syaefullah Wiradipradja, “Tanggung
Jawab Perusahaan Penerbangan Terhadap Penumpang Menurut Hukum Udara Indonesia”, Jurnal Hukum
Bisnis, Vol. 25 No. 1 Tahun 2006, hlm. 9.
24
H.K. Martono, 2007, Pengantar hukum Udara Nasional dan Internasional, Bagian Pertama, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hlm. 213.
25
E. Syaefullah Wiradipradja, “Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan Terhadap Penumpang Menurut Hukum
Udara Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 25 No. 1 Tahun 2006, hlm. 10.
26
Pasal 172 (2) UUP.
27
Yahya Harahap, 1977, Beberapa Tinjauan Mengenai Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa, Citra
Aditya Bakti, Bandung, hlm. 240-247.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 243

di pengadilan28 dan perkara ini selesai dalam pengangkut terhadap bagasi tercatat yang
waktu 5 (lima) tahun. Suatu hal yang cukup musnah, hilang, atau rusak termasuk ke-
panjang untuk mencari keadilan. rugian karena keterlambatan, besar ganti
Dalam kasus Ny. Oswald Vermaak v. rugi terbatas setinggi-tingginya Rp100.000,-
Garuda Indonesian Airways, Pengadilan (seratus ribu rupiah) per kilogram (Pasal
Negeri Jakarta menolak gugatan penggugat. 44 Peraturan Menteri No. 40 Tahun 1995).
Namun pada tingkat banding membatal- Akan tetapi kalau kita perhatikan besaran
kan putusan pengadilan tingkat pertama ganti rugi yang tercantum dalam tiket
dan menyatakan pengangkut harus mem- penumpang pada perusahaan penerbangan,
bayar santunan kepada penggugat sebesar lebih rendah dari Peraturan Menteri No. 40
Rp12.500,- (dua belas ribu lima ratus Tahun 1995, misalnya Lion Air dan Sriwijaya
rupiah) berdasarkan Pasal 30 Ordonansi Air menyebutkan ganti rugi untuk bagasi
Pengangkutan Udara (dalam bentuk tang- yang hilang atau rusak, setinggi-tingginya
gung jawab terbatas).29 Sedangkan mengenai Rp20.000,- (dua puluh ribu) per kilogram.
unsur kesengajaan (opzet) atau kesalahan Sedangkan dalam tiket Garuda Indonesia
besar yang kasar (grove schuld) Pengadilan Airways setinggi-tingginya Rp100.000,-
Tinggi berpendapat tidak terbukti. Putusan (seratus ribu) per kilogram. Ironisnya sampai
Pengadilan Tinggi diperkuat oleh Mahkamah saat ini klausula tersebut masih tercantum
Agung dalam putusannya tanggal 6 Juli dalam beberapa tiket penerbangan domestik
1968. yang sifatnya merugikan penumpang padahal
Pasal 186 ayat (1) UUP telah melarang
4. Tanggungjawab Pengangkut Terha- ketentuan tersebut.31
dap Bagasi Tercatat
Pasal 144 UUP menyebutkan bahwa 5. Tanggungjawab Pengangkut Ter-
pengangkut bertanggung jawab atas kerugian hadap Bagasi Kabin
yang diderita oleh penumpang karena Tanggungjawab pengangkut terhadap
bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak bagasi kabin32 merupakan suatu bentuk
yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan tanggungjawab bersyarat, karena syarat-
udara selama bagasi tercatat berada dalam nya apabila pihak penumpang dapat
pengawasan pengangkut.30 Tanggungjawab membuktikan kesalahan pihak pengangkut,

28
E.Syaefullah Wiradipradja, 1989, Tanggung Jawab Pengangkut Dalam Hukum Pengangkutan Udara nasional
dan Internasional, Liberty, Yogyakarta, hlm. 191-192.
29
Pasal 30 (1) Ordonansi Pengangkutan Udara S. 1939 No. 100 : Pada pengangkutan penumpang tanggung
djawab pengangkut terhadap tiap-tiap penumpang atau terhadap keluarganja yang disebutkan ajat 2 fatsal 24
bersama-sama, dibatasi sampai djumlah dua belas ribu lima ratus rupiah (Rp12.500,-).
30
Bagasi tercatat adalah barang penumpang yang diserahkan oleh penumpang kepada pengangkut untuk diangkut
dengan pesawat udara yang sama (Pasal 1 angka 24 UUP).
31
Pasal 186 ayat (1) UUP : Pengangkut dilarang membuat perjanjian atau persyaratan khusus yang meniadakan
tanggung jawab pengangkut atau menentukan batas yang lebih rendah dari batas ganti kerugian yang diatur
dalam undang-undang ini.
32
Bagasi kabin adalah barang yang dibawa oleh penumpang dan berada dalam pengawasan penumpang sendiri
(Pasal 1 angka 25 UU No.1 Tahun 2009).
244 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

maka maskapai penerbangan (orang yang bebaskan perusahaan pengangkutan udara


dipekerjakannya) akan bertanggung jawab niaga berjadwal terhadap pemberian kom-
terhadap kehilangan atau kerusakan bagasi pensasi kepada calon penumpang dalam
kabin seperti yang diatur dalam Pasal bentuk:
143.33 Apabila penumpang tidak dapat a. Keterlambatan lebih dari 30 (tiga
membuktikan kesalahan pengangkut, maka puluh) menit sampai dengan 90
pihak pengangkut tidak memberikan ganti (sembilan puluh) menit, perusahaan
rugi terhadap bagasi kabin. angkutan udara niaga berjadwal wajib
memberikan minuman dan makanan
6. Tanggungjawab Pengangkut ter- ringan;
hadap Keterlambatan b. Keterlambatan lebih dari 90 (sembilan
Keterlambatan (delay) diartikan se- puluh) menit sampai dengan 180
bagai perbedaan waktu keberangkatan atau (seratus delapan puluh) menit, perusa-
kedatangan yang dijadwalkan dengan reali- haan angkutan udara niaga berjadwal
sasi waktu keberangkatan atau kedatangan. wajib memberikan minuman, makanan
Keterlambatan dapat pula diartikan tidak ringan, makan siang atau malam dan
terpenuhinya jadwal penerbangan yang telah memindahkan penumpang ke pener-
ditetapkan oleh perusahaan penerbangan bangan berikutnya atau ke perusahaan
komersial berjadwal karena berbagai faktor. penerbangan berjadwal lainnya, apabila
Sehubungan dengan itu Pasal 146 UUP diminta oleh penumpang;
menyebutkan pengangkut bertanggung- c. Keterlambatan lebih dari 180 (seratus
jawab terhadap keterlambatan kecuali delapan puluh) menit, perusahaan
apabila pengangkut dapat membuktikan angkutan udara berjadwal wajib
bahwa keterlambatan tersebut disebabkan memberikan minuman, makanan
faktor cuaca dan teknis operasional. ringan, makan siang atau malam dan
Kompensasi tentang keterlambatan apabila penumpang tersebut tidak dapat
ini diatur dalam Peraturan Menteri dipindahkan penerbangan berikutnya
Perhubungan KM. 25 Tahun 2008 tentang atau ke perusahaan angkutan udara
Penyelenggaraan Pengangkutan Udara, yang niaga berjadwal lainnya, maka kepada
mana perusahaan penerbangan niaga wajib penumpang tersebut wajib diberikan
memberikan kompensasi keterlambatan fasilitas akomodasi untuk dapat diang-
akibat penundaan kepada calon penumpang. kut pada penerbangan hari berikut-
Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan nya;
KM. 25 Tahun 2008 menyebutkan bahwa d. Apabila terjadi pembatalan pener-
kewajiban pengangkut untuk kelewatan bangan, maka perusahaan angkutan
karena kesalahan pengangkut tidak mem- udara berjadwal wajib mengalihkan

Pasal 143 UUP: pengangkut tidak bertanggung jawab untuk kerugian karena hilang atau rusaknya bagasi kabin,
33

kecuali apabila penumpang dapat membuktikan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh tindakan pengangkut
atau orang yang dipekerjakannya.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 245

penumpang ke penerbangan berikutnya penumpang yang berani menanyakan alasan


dan apabila penumpang itu tidak penundaan tersebut.
dapat dipindahkan ke penerbangan Akibat keterlambatan pengangkutan,
berikutnya atau perusahaan angkutan seorang calon penumpang mengajukan
udara niaga berjadwal lainnya, maka gugatan ke pengadilan seperti pada kasus
kepada penumpang tersebut wajib David vs Lion Air.34 Dalam kasus ini
diberikan fasilitas akomodasi untuk keterlambatan (delay) muncul ke pengadilan
dapat diangkut pada penerbangan hari ketika calon penumpang Lion Air tanggal
berikutnya; 16 Agustus 2007 mengalami keterlambatan
e. Apabila dalam hal keterlambatan se- sampai 90 menit dari Jakarta (Bandara
bagaimana tercantum dalam huruf b Soekarno Hatta) menuju Surabaya (Bandara
dan c, serta pembatalan sebagaimana Juanda). Kejadian ini mengakibatkan
tercantum dalam huruf d, penumpang seorang calon penumpang bernama David
tidak mau terbang/menolak diterbang- ML Tobing tanggal 12 September 2007
kan, maka perusahaan angkutan udara menggugat maskapai penerbangan Lion
niaga berjadwal harus mengembalikan Air ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
harga tiket yang telah dibayarkan Pada pengadilan tingkat pertama David
kepada perusahaan. memenangkan kasus ini berdasarkan
Untuk menyosialisasikan peraturan Putusan Pengadilan Negeri No.379/Pdt.
menteri berkaitan dengan keterlambatan, G/2007/PN.Jkt.Pst tanggal 28 Januari 2008
bandara Soekarno Hatta telah memasang dan dikuatkan melalui Putusan Pengadilan
isi peraturan tersebut menuju ruang tunggu Tinggi No. 228/PDT/2008/PT.DKI tanggal
yang dapat dilihat dan dibaca oleh para calon 22 September 2008. adapun tuntutan yang
penumpang dalam rangka melindungi hak ajukan oleh David kepada pengadilan
mereka. Dari kuesioner yang disebarkan, yaitu:
85% penumpang mengalami penundaan 1. Meminta ganti rugi pembelian tiket
penerbangan, dengan rentang waktu 1- sebesar Rp718.500,- untuk melanjut-
2 jam sebesar 60% dan 5% penerbangan kan perjalanan dengan penerbangan
dibatalkan. Umumnya alasan terjadinya lain (Garuda Indonesia Airways
penundaan keberangkatan karena kerusakan Rp688.500,- + airport tax Rp30.000,);
teknis. Namun yang paling penting disini 2. Mengajukan permohonan bahwa
adanya informasi lebih awal jika terjadi Lion Air telah melakukan perbuatan
penundaan (delay) agar penumpang dapat melawan hukum; dan
menentukan pilihan. Ternyata 41% maskapai 3. Mengajukan permohonan untuk di-
tidak memberikan alasan penundaan. batalkannya isi kontrak baku dalam
Keberanian penumpang masih rendah untuk tiket yang mencantumkan Hak Penum-
menanyakan alasan penundaan, hanya 58% pang dan Tanggungjawab Pengangkut

Putusan perkara David v. Lion air, penulis dapatkan salinannya secara langsung dari Penggugat (David ML
34

Tobing) melalui email, l 7 Agustus 2009.


246 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

Udara Komersial di Indonesia, ber- clause) demikian ditemukan di beberapa


bunyi: tiket penerbangan.
Klausula baku yang meniadakan
“Pengangkut tidak bertanggungjawab
tanggung jawab sudah seharusnya ditertibkan
atas kerugian apapun juga yang
agar tidak merugikan penumpang, apalagi
ditimbulkan oleh penangguhan dan/
sudah ada Putusan Pengadilan Negeri
atau keterlambatan pengangkutan
No.379/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Pst tanggal 28
ini, termasuk segala keterlambatan
Januari 2008 yang menyatakan batal demi
penumpang dan/atau keterlambatan
hukum terhadap exemption clause dan tidak
penyerahan barang“.
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat
Ketiga poin tuntutan David di atas terhadap klausula baku dalam tiket.
terhadap maskapai penerbangan Lion Air,
dikabulkan oleh pengadilan. Sebenarnya 7. Konsep Tanggung Jawab Hukum
klausula ketiadaan tanggung jawab (Legal Liability Concept) Dalam
pengangkut terhadap keterlambatan, masih Undang-Undang Penerbangan
didapati dalam kontrak baku pada tiket Dalam transportasi udara terdapat 3
penumpang pengangkutan udara domestik (tiga) macam konsep36 dasar tanggung jawab
di Indonesia seperti:35 Merpati Nusantara hukum yaitu : (1) konsep tanggung jawab
Airline, Sriwijaya Air, Batavia Air dan hukum atas dasar kesalahan (based on fault
Mandala Air, liability), (2) konsep tanggung jawab hukum
Sebenarnya klausula ketiadaan tang- atas dasar praduga bersalah (presumption
gung jawab maskapai penerbangan dilarang of liability),dan (3) konsep tanggung jawab
secara tegas dalam Pasal 186 ayat (1) UUP, hukum tanpa bersalah (liability without
yang menyebutkan bahwa pengangkut fault) atau tanggung jawab mutlak (absolute
dilarang membuat perjanjian atau per- liability atau strict liability).
syaratan khusus yang meniadakan tanggung Sehubungan dengan tanggung jawab
jawab pengangkut. Hanya saja larangan ini pengangkut terhadap penumpang seperti yang
tidak ada saksinya dan kontrol dari lembaga. telah disebutkan, di bawah ini membahas
Kalau ditelaah UUP, kontrol terhadap konsep tanggung jawab pengangkut yang
klausula baku yang meniadakan tanggung diterapkan dalam UUP.
jawab diserahkan kepada Lembaga Badan a) Konsep Tanggung Jawab Hukum
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Atas Dasar Kesalahan (Base on Fault
yang pengaturannya dapat ditemukan dalam Liability)
Pasal 52 huruf c UUPK. Namun dalam Berdasarkan konsep tanggung jawab
praktik, badan ini kurang begitu berperan hukum atas dasar kesalahan (based on fault
sehingga masih banyak klausula (exemption liability), kelalaian/kesalahan produsen

35
Putusan Pengadilan Negeri No.379/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Pst (28 Januari 2008).
36
Istilah konsep kadang-kadang digunakan juga istilah “teori atau asas atau ajaran (doctrine) tanpa mempunyai
arti yang berbeda, HK. Martono, op. cit., hlm. 145.
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 247

yang berakibat pada timbulnya kerugian untuk membayar kerugian yang diderita.
konsumen merupakan faktor penentu hak Tanggung jawab hukum kepada orang
konsumen untuk mengajukan tuntutan ganti yang menderita kerugian tidak hanya
rugi kepada produsen. Tuntutan ganti rugi terbatas kepada perbuatan sendiri, melainkan
berdasarkan kelalaian produsen diajukan juga perbuatan karyawan, pegawai, agen,
dengan bukti-bukti lain yaitu, pertama, perwakilannya apabila menimbulkan ke-
pihak tergugat merupakan produsen yang rugian kepada orang lain, sepanjang orang
benar-benar mempunyai kewajiban untuk tersebut bertindak sesuai dengan tugas
melakukan tindakan yang dapat menghindari dan kewajiban yang dibebankan kepada
terjadinya kerugian konsumen. Kedua, orang tersebut. Tanggung jawab yang telah
produsen tidak melaksanakan kewajibannya disebutkan ini sesuai dengan isi ketentuan
untuk menjamin kualitas produknya sesuai Pasal 1367 KUH Perdata. Tanggungjawab
dengan standar yang aman untuk digunakan. semacam ini juga dikenal dalam common
Ketiga, konsumen menderita kerugian. law system, seperti dalam kasus Swanson
Keempat, kelalaian produsen merupakan Peever vs Canada.38
faktor yang mengakibatkan adanya kerugian Apabila penumpang ingin memperoleh
pada konsumen (hubungan sebab akibat ganti rugi atas kerugian yang dideritanya,
antara kelalaian dan kerugian konsumen).37 maka penumpang wajib membuktikan
Tuntutan ganti rugi konsumen kepada kesalahan maskapai penerbangan tersebut.
produsen, berlaku juga terhadap tuntutan Ketentuan ini senada dengan bunyi Pasal
penumpang dalam jasa penerbangan kepada 143 UUP, yang menyebutkan bahwa
maskapai penerbangan. pengangkut tidak bertanggung jawab untuk
Tanggung jawab atas dasar kesalahan kerugian karena hilang atau rusaknya bagasi
terdapat dalam Pasal 1365 KUH Perdata kabin, kecuali apabila penumpang dapat
yang lebih dikenal dengan perbuatan membuktikan bahwa kerugian tersebut
melawan hukum (onrechtsmatigedaad), disebabkan oleh tindakan pengangkut atau
berlaku umum terhadap siapapun termasuk orang yang dipekerjakannya.
maskapai penerbangan. Ketentuan pasal Dengan demikian dapat diketahui
tersebut menegaskan bahwa setiap perbuatan bahwa terhadap kerugian bagasi kabin,
melawan hukum yang menimbulkan kerugian untuk mengajukan klaim, penumpang harus
terhadap orang lain mewajibkan orang yang membuktikan bahwa kerugian tersebut akibat
karena perbuatannya menimbulkan kerugian kesalahan tindakan pengangkut atau orang
itu mengganti kerugian (to compensate the yang dipekerjakannya. Tanggungjawab atas
damage). Dengan demikian kalau pihak dasar kesalahan harus memenuhi unsur-
maskapai penerbangan merugikan penum- unsur: (1). adanya kekhilafan; (2). kerugian
pang, maka ia harus bertanggung jawab dan (3) kerugian tersebut ada hubungan

Arthur Best, Tort Law Course Outlines, Aspen Law and Business, 1997, hlm. 269.
37

Dalam kasus Swanson Peever vs Canada dijelaskan bahwa pengarah penerbangan sipil di Canada merupakan
38

bahagian dari departemen pengangkutan. Berdasarkan Aeronautic Act, Menteri Pengangkutan bertanggung-
248 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

dengan kekhilafan. proof) atau disebut juga dengan pembuktian


Konsep tanggung jawab atas dasar negatif. Jadi maskapai penerbangan harus
kesalahan melemahkan hak-hak penumpang, membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
karena penumpang tidak punya keahlian Apabila maskapai penerbangan (termasuk
untuk membuktikan kesalahan pengangkut. karyawan, pegawai, agen atau perwakilan-
Maskapai penerbangan menguasai teknologi nya) dapat membuktikan bahwa dia tidak
tinggi, sementara itu tidak demikian pada bersalah, maka maskapai penerbangan
penumpang, yang tidak menguasai tek- bebas dari tanggung jawab untuk membayar
nolog tinggi. Kalaupun penumpang dapat ganti rugi kepada penumpang atau pengirim
membuktikan kesalahan pengangkut, maka barang.
tanggungjawab pengangkut terbatas seting- Ketentuan Pasal 146 UUP yang me-
gi-tingginya sebesar kerugian penumpang. nyebutkan bahwa pengangkut bertanggung
Konsep tanggungjawab atas dasar jawab atas kerugian yang diderita karena
kesalahan dirasakan adil apabila kedudu- keterlambatan pada angkutan penumpang,
kan kedua belah pihak (penumpang dan bagasi, atau kargo, kecuali apabila peng-
maskapai penerbangan) mempunyai ke- angkut dapat membuktikan bahwa keter-
mampuan yang sama sehingga mereka dapat lambatan tersebut disebabkan oleh faktor
saling membuktikan kesalahan. Konsep cuaca dan teknis operasional. Kalau kita
tanggungjawab atas dasar kesalahan ini perhatikan ketentuan Pasal 146 UUP
menurut HK. Martono tidak boleh di- berkaitan dengan keterlambatan seperti yang
gunakan dalam pengangkutan udara karena disebutkan di atas, memberikan ciri bahwa
kedudukan penumpang dan pengangkutan UUP menganut pula konsep tanggung jawab
tidak berimbang.39 praduga bersalah, yang mana penumpang
tidak perlu membuktikan kesalahan
b) Konsep Tanggung Jawab Hukum maskapai penerbangan.
Praduga Bersalah Menurut E. Syaefullah, pemberlakuan
Konsep tanggung jawab praduga tanggung jawab mutlak (absolute of
bersalah (presumption of liability concept), liability) atas kerugian yang diakibatkan
penumpang atau pengirim barang tidak karena keterlambatan akan dirasakan ter-
perlu membuktikan kesalahan pengangkut lalu berat terhadap pengangkut. Konsep
(maskapai penerbangan), sebab maskapai ini mulai diaplikasikan dalam Konvensi
penerbangan telah dianggap bersalah. Warsawa 1929.40 Oleh karena itu, maskapai
Dalam konsep tanggung jawab praduga penerbangan berdasarkan hukum harus
bersalah, yang harus membuktikan adalah membayar kerugian kepada penumpang
perusahaan penerbangan yang disebut tanpa membuktikan kesalahan pengangkut,
dengan pem-buktian terbalik (burden of kecuali maskapai penerbangan membukti-

39
HK. Martono, op.cit., hlm. 149.
40
Brad Kizza, liability of Air Carrier for Injuries to Passengers Resulting from Domestic Hijacking and Related
to Incidents. Vol. 46 (1) JALC 151 (1980).
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 249

kan tidak bersalah.41 Penumpang cukup E. Kesimpulan


memberitahu pengangkut bahwa ada Pengangkut udara bertanggung jawab
kerugian yang terjadi dalam waktu meng- terhadap penumpang yang hak-haknya
gunakan jasa penerbangan. Jika penumpang dilanggar dan menimbulkan kerugian, seperti
harus membuktikan kesalahan maskapai yang diamanatkan dalam UUP. Namun
penerbangan, maka sudah pasti tidak akan pelaksanaan tanggung jawab pengangkut
berhasil karena penumpang tidak menguasai udara terhadap penumpang masih rendah.
teknologi tinggi. Kondisi ini dapat diketahui masih rendahnya
respon perusahaan penerbangan terhadap
c) Konsep Tanggung Jawab Mutlak kerugian penumpang yang mengalami
(Absolute liability principle) kerugian. Dengan demikian dapat dikatakan
Dalam pengangkutan udara peng- bahwa posisi penumpang masih lemah
angkut bertanggung jawab atas kerugian sebagai pengguna jasa penerbangan.
penumpang yang meninggal dunia, cacat Ada 3 (tiga) konsep tanggung jawab
tetap, atau luka-luka yang diakibatkan pengangkut yang diterapkan dalam UUP
kejadian angkutan udara di dalam pesawat yaitu : konsep tanggung jawab hukum atas
dan/atau naik turun pesawat, demikian dasar kesalahan (based on fault liability),
menurut ketentuan Pasal 141 UUP. konsep tanggung jawab hukum atas dasar
Ketentuan ini mencirikan pula bahwa UUP praduga bersalah (presumption of liability),
menganut konsep tanggung jawab mutlak dan konsep tanggung jawab mutlak (absolute
(absolute liability). berdasarkan konsep liability atau strict liability).
tanggung jawab ini korban tidak perlu Ada beberapa rekomendasi sehubungan
membuktikan kesalahan dari maskapai dengan hak penumpang dalam kaitannya
penerbangan, tetapi otomatis memperoleh dengan tanggung jawab pengangkut yaitu:
ganti rugi. Para korban cukup memberi tahu 1. Untuk mencapai kepastian hukum
bahwa menderita kerugian akibat jatuhnya maka pemerintah segera mengeluarkan
pesawat udara atau orang dan barang-barang peraturan pelaksanaan UUP terutama
dari pesawat udara. yang berkaitan dengan hak ganti rugi
Selain itu konsep tanggung jawab penumpang.
mutlak didapati pula dalam ketentuan 2. Perlu meningkatkan pemberdayaan
Pasal 144 UUP yang menyebutkan bahwa konsumen (penumpang) dalam me-
pengangkut bertanggung jawab atas milih, menentukan dan menuntut hak-
kerugian yang diderita penumpang karena haknya sebagai konsumen.
bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak 3. Mekanisme hak ganti rugi penumpang
yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan yang lebih mudah sehingga tidak
udara selama bagasi tercatat berada dalam menyurutkan penumpang untuk
pengawasan pengangkut. menuntut haknya.

41
Beban pembuktian terbalik.
250 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 2, Juni 2010, Halaman 234 - 251

DAFTAR PUSTAKA

Black, Henry Campbell, 2005, Black’s Law Mochtar, Khairiah Salwa, 2008, Privatizing
Dictionary, Sixth Edition, ST Paul, Malaysia Airlines, Universiti Kebang-
West Publishing Co., Minn. saan Malaysia Publishing, Bangi.
Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Negara Republik Indonesia, Undang-undang
Kamus Besar Bahasa Indonesia, No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Edisi Keempat, PT. Gramedia Pustaka Konsumen. Lembaran Negara Republik
Utama, Jakarta. Indonesia Tahun 1999 Nomor 42.
Fujimoto, Etsuko, 1992, Thesis: Product Negara Republik Indonesia, Undang-undang
Liability in the US. 44 The Federal No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Products Liability Bill, Settle: Uni- Lembaran Negara Republik Indonesia
versity of Washington, School of Law, Tahun 2009 Nomor 1.
June. Negara Republik Indonesia, Undang-undang
Harahap, Yahya, 1977, Beberapa Tinjauan No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbang-
Mengenai Sistem Peradilan dan an. Lembaran Negara Republik Indo-
Penyelesaian Sengketa, PT. Citra nesia Tahun 1992 Nomor.
Aditya Bakti, Bandung. Ordonansi Pengangkutan Udara S. 1939
Ibrahim, Jhonny, 2005, Teori dan Metode No. 100.
Penelitian Hukum Normatif, Cetakan Peraturan Menteri Perhubungan KM. 25
Pertama, Bayu Media, Malang-Jawa Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Timur. Pengangkutan Udara.
Kizza, Brad, Liability of Air Carrier for Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1995
Injuries to Passengers Resulting From tentang Angkutan Udara
Domestic Hijacking and Related Pikiran Rakyat, 7 Desember 2004.
to Incidents. Vol. 46 (1) JALC 151 Samsul, Inosentius, 2004, Perlindungan
(1980). Konsumen, Kemungkinan Penerapan
KOMPAS, 7 Desember 2004, 2007-2009. Tanggung Jawab Mutlak, Universitas
Martono, H.K. 2007, Pengantar hukum Indonesia Fakultas Hukum Pasca-
Udara Nasional dan Internasional, sarjana, Jakarta.
Bagian Pertama, PT. Raja Grafindo Shidarta, 2004, Hukum Perlindungan
Persada, Jakarta. Konsumen Indonesia, PT. Grashindo,
____________, 2007, Kamus Hukum dan Jakarta.
Regulasi Penerbangan, Edisi Pertama, Trulstrup, AW, 1974, The Consumer in
PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. American Society, Personal and
____________, 2009, Hukum Penerbangan Familly Finance, Ed 5,Mc Graw Hill,
berdasarkan UURI No. 1 Tahun New York.
2009, Bagian Pertama, Mandar Maju, Wiradipradja, E. Syaefullah, 1989, Tanggung
Bandung. Jawab Pengangkut Dalam Hukum
Media Indonesia, 7 Desember 2004. Pengangkutan Udara Nasional dan
Che Musa dan Hassan, Tanggung Jawab Pengangkut Udara terhadap Penumpang 251

Internasional, Liberty, Yogyakarta. Air careering the Aviation Industry


Wiradipradja, E. Syaefullah, “Tanggung in Indonesia: Analysis of Law No.1
Jawab Perusahaan Penerbangan Ter- Year 2009 About Aviation”, Inaugural
hadap Penumpang Menurut Hukum International Workshop and Seminar
udara Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis, on Siyar & Islamic States Practices
Vol. 25 No. 1, Tahun 2006. in International Law, Oriental Crystal
Yahanan, Annalisa, et.al., “Passenger Hotel, Kajang, Malaysia, 18-19
rights and Liability of Commercial November 2009.