Anda di halaman 1dari 5

Family center care

1. Hubungan terapeutik
Penetapan hubungan terapeutik merupakan pondasi penting untuk memberikan asuhan
keperawatan yang berkualitas. Perawat anak perlu berhubungan dengan anak-anak dan
keluarganya dan harus dapat memisahkan antara perasaan dan kebutuhan mereka. Dalam
hubungan terapeutik, caring, batasan yang didefinisikan dengan baik, memisahkan perawat dari
anak dan keluarga. Batasan ini bersifat positif dan profesional dan akan meningkatkan kendali
keluarga atas perawatan kesehatan anak (Rushton, McEnhill dan Amstrong, 1996, Barnsteiner
dan Gillis Donovans, 1990 dalam Wong, 2008, p. 14). Keduanya, baik perawat maupun keluarga
diberdayakan, dan komunikasi yang terbuka dipertahankan. Dalam hubungan yang tidak
terapeutik, batasan ini tidak terlihat dengan jelas, dan banyak tindakan perawat yang dapat
memenuhi kebutuhan pribadi, seperti kebutuhan untuk dilibatkan dan merasa diperlukan,
dibandingkan hanya memenuhi kebutuhan keluarga (Wong, 2008, p. 14).
2. Advokasi/ Caring Keluarga
Walaupun perawat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, profesi, dan institusi tempat
bekerja, tanggung jawab utama mereka adalah memberikan asuhan keperawatan kepada
konsumen yaitu anak dan keluarganya. Perawat harus bekerja sama dengan anggota keluarga,
mengidentifikasi tujuan dan kebutuhan mereka, dan merencanakan intervensi yang paling dapat
mengatasi masalah. Sebagai advokat (pembela), perawat membantu anak-anak dan keluarga
mereka dalam menentukan berbagai pilihan yang diberitahukan dan bertindak dalam
memberikan yang terbaik kepada anak. Advokasi itu meliputi jaminan bahwa keluarga akan
mengetahui semua pelayanan kesehatan yang tersedia, diinformasikan secara tepat tentang
pengobatan dan prosedurnya, dilibatkan dalam perawatan anak, dan didorong untuk berubah atau
mendukung praktik pelayanan kesehatan yang ada (Wong, 2008, p. 15).
3. Pencegahan Penyakit/Promosi Kesehatan
Tren pelayanan kesehatan masa depan adalah ke arah pencegahan penyakit dan pemeliharaan
kesehatan, bukan perawatan penyakit atau ketidakmampan. Keperawatan telah menyesuaikan
perubahan ini, terutama dalam lingkungan kesehatan anak. Tahun 1965 program pediatrik nurse
practitioner (PNP) mulai dikembangkan dan telah memicu terbentuknya beberapa peran
keperawatan primer atau ambulasi khusus bagi perawat. Daya dorong dari program ini adalah
mendidik perawat lebih dari tahap persiapan dasar di area pemeliharaan kesehatan anak sehingga
semua anak-anak dapat menerima perawatan yang berkualitas tinggi. Program praktisi sudah
meluas untuk mempersiapkan PNP spesialis seperti praktisi perawat anak onkologi. Walaupun
kurikulumnya bervariasi, isi kursus biasanya meliputi pengkajian riwayat, diagnosis fisik,
pertumbuhan dan perkembangan, pendidikan kesehatan, farmakologi, konseling, masalah umum
di masa kanak-kanak, dan rencana asuhan untuk individu dan kelompok. Program ini kini
merupakan bagian dari pendidikan keperawatan tingkat sarjana (Wong, 2008, p. 16).
4. Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari advokasi dan prevensi keluarga.
Penyuluhan kesehatan mungkin suatu tujuan langsung dari perawat, seperti selama kelas menjadi
orang tua, atau mungkin tidak langsung seperti membantu orang tua dan anak memahami suatu
diagnosis atau pengobatan medis, mendorong anak untuk mengajukan pertanyaan tentang tubuh
mereka, merujuk keluarga ke profesional kesehatan atau kelompok pendukung, menyuplai pasien
dengan literatur yang tepat, dan memberi pedoman antisipasi (Wong, 2008, p. 16).
5. Dukungan/Konseling
Konseling melibatkan pertukaran pendapat dan ide yang memberi dasar untuk pemecahan
masalah bersama. Konseling melibatkan dukungan, penyuluhan, teknik untuk mendorong
ekspresi perasaan dan pikiran dan pendekatan untuk membantu keluarga mengatasi stres. Secara
optimal, konseling tidak hanya membantu mengatasi krisis atau masalah tetapi juga
memampukan keluarga untuk mendapatkan tingkat fungsi lebih tinggi, harga diri lebih tinggi,
dan hubungan yang lebih dekat. Meskipun konseling sering menjadi peran perawat dalam bidang
yang lebih spesialis, teknik konseling dibahas dalam buku ini untuk membantu peserta didik dan
perawat mengatasi krisis yang dihadapi dan merujuk keluarga untuk mendapat bantuan
profesional tambahan (Wong, 2008, p. 17).

6. Peran Restoratif
Aspek penting dari restorasi kesehatan adalah pengkajian dan evaluasi status fisik yang
berkesinambungan. Fokus utama seluruh buku ini pada pengkajian fisik, patofisiologi, dan
rasional ilmiah atas terapi yang dilakukan membantu perawat membuat keputusan mengenai
status kesehatan. Perawat harus mengetahui temuan normal untuk mengidentifikasi dan
mendokumentasikan penyimpangan. Selain itu, perawat pediatrik tidak boleh kehilangan
kesadaran tentang kebutuhan emosi dan perkembangan individu anak, yang dapat sangat
memengaruhi perjalanan proses penyakit (Wong, 2008, p. 17).
7. Koordinasi/Kolaborasi
Perawat, sebagai anggota tim kesehatan, berkolaborasi dan mengoordinasi pelayanan
keperawatan dengan aktivitas profesional lain. Bekerja sendirian tidak memberikan hal yang
terbaik untuk anak. Konsep “Asuhan Holistik” hanya dapat direalisasi melalui penyatuan
pendekatan interdisiplin. Menyadari kontribusi dan keterbatasan individu pada perawatan anak,
perawat harus berkolaborasi dengan spesialis lain yang berhubungan pelayanan kesehatan
berkualitas tinggi. Kegagalan mengenali keterbatasan dapat menjadi non-terapeutik dan mungkin
destruktif. Misalnya, perawat yang merasa kompeten dalam konseling tetapi tidak benar-benar
cocok dalam bidang ini mungkin tidak hanya mencegah anak dari menghadapi krisis tetapi
mungkin juga mengancam keberhasilan profesional yang berkualitas nantinya (Wong, 2008, p.
17).
8. Pengambilan Keputusan Etis
Dilema etis muncul ketika pertentangan dan pertimbangan moral mendasari berbagai
alternatif. Orang tua, dokter, perawat dan anggota tim pelayanan kesehatan dapat memperoleh
keputusan berbeda tetapi dapat dibenarkan secara moral dengan menempatkan pertimbangan
berbeda pada nilai moral yang menentangnya. Pertentangan nilai moral ini meliputi:
a. autonomi (hak-hak pasien untuk mengatur dirinya sendiri)
b. nonmaleficence (kewajiban untuk memperkecil atau mencegah bahaya)
c. beneficence (kewajiban untuk mempromosikan kesejahteraan pasien, dan
d. Keadilan (konsep persamaan)
Perawat harus menentukan tindakan yang paling menguntungkan atau paling sedikit
bahayanya dalam kerangka kerja masyarakat, standar praktik profesional, hukum, peraturan
lembaga, tradisi religius, sistem nilai keluarga, dan nilai pribadi perawat (Wong, 2008, p. 17).
9. Riset
Perawat pelaksana harus berperan pada riset karena mereka adalah individu yang mengamati
respons manusia terhadap kesehatan dan kesakitan. Sayangnya, sedikit perawat yang secara
sistematis mencatat atau menganalisis pengamatan ini. Sebagai contoh, perawat kesehatan anak
menggunakan metode inovatif untuk mendorong anak-anak mematuhi pengobatan. Jika
intervensi ini secara klinis dievaluasi dan disebarluaskan pada perawat lain dalam publikasi riset,
praktik keperawatan dapat didasarkan terutama pada ilmiah, bukan tradisi atau coba-coba
(Wong, 2008, p. 18).

10. Perencanaan Pelayanan Kesehatan

Sebagai profesi pelayanan kesehatan yang paling besar, keperawatan harus mempunyai suara,
terutama sebagai advokat keluarga/konsumen. Untuk itu perawat harus memiliki pengetahuan
dan mengetahui tentang kebutuhan masyarakat, tertarik dalam perumusan biaya oleh pemerintah,
mendukung politisi untuk menjamin dikeluarkannya (atau ditolaknya) legislasi yang signifikan,
dan terlibat aktif dalam kelompok yang ditujukan untuk kesejahteraan anak (mis, kelompok
keperawatan profesional, organisasi orang tua-guru, kelompok pendukung orang tua, organisasi
religius, dan organisasi sukarelawan) (Wong, 2008, p. 19)