Anda di halaman 1dari 14

A.

Pendahuluan

Semakin meningkatnya jumlah masyarakat miskin di Indonesia ternyata

membawa berbagai persoalan multi-dimensi bagi bangsa ini, untuk mengurangi

atau jika bisa menghilangkan kemiskinan ini diperlukan usaha keras yang harus

didukung oleh seluruh komponen bangsa. Dalam Islam salah satu dari usaha untuk

mengurangi serta mengentaskan kemiskinan adalah dengan adanya syariat zakat

yang berfungsi sebagai pemerataan kekayaan. Pendistribusian zakat bagi

masyarakat miskin tidak hanya untuk menutupi kebutuhan konsumtif saja

melainkan lebih dari itu. Dari sinilah pola pemberian zakat kepada para mustahiq

tidak hanya bersifat konsumtif saja, namun dapat pula bersifat produktif.

Sifat distribusi zakat yang bersifat produktif berarti memberikan zakat

kepada fakir miskin untuk dijadikan modal usaha yang dapat menjadi mata

pencaharian mereka, dengan usaha ini diharapkan mereka akan mampu memenuhi

kebutuhan hidup mereka sendiri. Tujuan lebih jauhnya adalah menjadikan mustahiq

zakat menjadi muzzaki zakat.1

Di antara tujuan diberikannya zakat adalah agar mereka dapat memperbaiki

kehidupan ekonominya menjadi lebih baik. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut

maka pendistribusian zakat tidak cukup dengan memberikan kebutuhan konsumsi

saja, model distribusi zakat produktif untuk modal usaha akan lebih bermakna,

karena akan menciptakan sebuah mata pencaharian yang akan mengangkat kondisi

ekonomi mereka, sehingga diharapkan lambat laun mereka akan dapat keluar dari

1
Asnaini, Zakat Produktif Dalam Perspektif Hukum Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008, 63.

1
jerat kemiskinan, dan lebih dari itu mereka dapat mengembangkan usaha sehingga

dapat menjadi seorang muzakki.

Untuk memahami lebih dalam terkait dengan pemberdayaan dan

produktifitas zakat, maka dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai

pemberdayaan dan produktifitas zakat: analisis pemberdayaan dan produtifitas

zakat di Lembaga Amil Zakat Yatim Mandiri Kabupaten Ponorogo.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian zakat?

2. Bagaimana definisi pemberdayaan dan produktifitas?

3. Bagaimana analisis pemberdayaan dan produktifitas zakat LAZ Yatim

Mandiri?

2
A. Pengertian Zakat

Adapun Zakat menurut etimologi berasal dari akar kata ‫( زكا – زكاء‬zaka –

zakaa) yang berarti tumbuh, berkembang atau bertambah, kata yang sama

yaitu ‫( زكى‬zaka) bermakna menyucikan atau membersihkan.2 Menurut Hasbi

Ash-Shiddieqy makna zakat menurut bahasa berasal dari kata ‫( نام‬nama) yang

berarti Kesuburan, ‫( طهرة‬thaharah) berarti kesucian dan ‫( بركة‬barakah) yang

berarti keberkatan, atau dikatakan ‫( تزكية و التطهير‬tazkiyah dan tathir)mensucikan.3

Dari pengertian secara bahasa dapat diketahui bahwa zakat secara bahasa bisa

bermakna tumbuh dan berkembang atau bisa bermakna menyucikan atau

membersihkan. Sementara Didin Hafiduddin berpendapat bahwa zakat ditinjau dari

segi bahasa bisa berarti ( ‫ ) الصالح‬Ash-Shalahu yang berarti kebersihan.4 Sedangkan

menurut terminology (syara’) zakat adalah sebuah aktifitas (ibadah) mengeluarkan

sebagian harta atau bahan makanan utama sesuai dengan ketentuan Syariat yang

diberikan kepada orang-orang tertentu, pada waktu tertentu dengan kadar tertentu.5

B. Definisi Pemberdayaan

Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment),

berasal dari kata ‘power’ (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama

pemberdayaan bersentuh dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan

seringkali di kaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan

2
A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Pustaka Progresif, Surabaya, 577.
3
Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Jakarta: Bulan Bintang, 1987, 24.
4
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Jakarta: Gema Insani Press,
2000, 128.
5
Anonimus, Pedoman Manajemen Zakat, BAZISKAF PT TELKOM Indonesia, 1997,
30.

3
apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka. Ilmu sosial

tradisional menekan bahwa kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol.

Pengertian ini mengasumsikan sebagai sesuatu yang tidak berubah atau tidak dapat

dirubah.

Kekuasaan sesungguhnya tidak terbatas pada pengertian di atas. Kekuasaan

senantiasa dari dalam konteks relasi sosial antar manusia. Kekuasaan tercipta dalam

relasi sosial. Karena itu, kekuasaan dan hubungan kekuasaan dapat berubah.

Dengan pemahaman kekuasaan seperti ini, pemberdayaan sebagai sebuah proses

perubahan kemudian memiliki konsep yang bermakna. Dengan kata lain,

kemungkinan terjadinya proses pemberdayaan sangat tergantung pada dua hal:

Pertama, jika kekuasaan tidak dapat berubah, pemberdayaan tidak mungkin terjadi

dengan cara apapun. Kedua, bahwa kekuasaan dapat diperluas. Konsep ini menekan

pada pengertian kekuasaan yang tidak statis, melainkan dinamis.6

Pemberdayaan zakat berarti ibadah maliyah yaitu pemberdayaan harta

benda yang Allah berikan kepada manusia yang digunakan untuk kepentingan

bersama, demikian halnya dengan aspek ekonomi. Zakat mengajak pada muara

adanya kebersamaan untuk menikmati kesejahteraan sehingga timbul adanya

pemerataan, kesamaan dan kebersamaan.7

6
Edi Suharto, Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan
Kebijakan Sosial, Bandung: Alfabeta, 2005, 58.
7
https://www.kompasiana.com/hanaafi/pendistribusian-dan-pemberdayaan-dana-
zakat_58496447b793733815d634db diakses pada tanggal 14 April 2018 pukul 08.00 wib.

4
C. Prosedur Pemberdayaan Zakat

Adapun prosedur pemberdayaan zakat telah diatur dalam keputusan menteri

agama RI Nomor 581 tahun 1999. Dalam pasal 28 disebutkan bahwa

pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk mustahiq dilakukan berdasarkan

persyaratan, yakni: Pertama, Hasil pendapatan dan penelitian kebenaran mustahiq

delapan asnnaf khususnya fakir miskin, Kedua, Mendahulukan orang-orang yang

tidak berdaya memenuhi kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan

bantuan, Ketiga, Mendahulukan mustahiq dalam wilayah masing-masing.8

D. Definisi Zakat Produktif

Zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada fakir miskin berupa

modal usaha atau yang lainnya yang digunakan untuk usaha produktif yang mana

hal ini akan meningkatkan taraf hidupnya, dengan harapan seorang mustahiq akan

bisa menjadi muzakki jika dapat menggunakan harta zakat tersebut untuk usahanya.

Hal ini juga pernah dilakukan oleh Nabi, dimana beliau memberikan harta zakat

untuk digunakan shahabatnya sebagai modal usaha.9 Hal ini berlandaskan dengan

hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu ketika Rasulullah SAW memberikan

uang zakat kepada Umar bin Al-Khatab yang bertindak sebagai amil zakat seraya

bersabda :

‫ صلى هللا عليه‬- ِ‫ّللَا‬ ‫سو َل َ ه‬ ُ ‫ َع ْن أ َ ِبي ِه; { أ َ هن َر‬,‫ع َم َر‬ ‫سا ِل ِم ب ِْن َع ْب ِد َ ه‬
ُ ‫ّللَاِ ب ِْن‬ َ ‫َو َع ْن‬
ُ‫ " ُخ ْذه‬:ُ‫ فَ َيقُول‬,‫ْط ِه أ َ ْفقَ َر ِم ِني‬
ِ ‫ أَع‬:ُ‫ فَ َيقُول‬,‫طا َء‬ َ ‫ع َم َر ا َ ْل َع‬
ُ ‫ َكانَ يُ ْع ِطي‬- ‫وسلم‬
8
Ahmad Rofiq, Kompilasi Zakat, Semarang: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama,
2010, 25.

9
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, 133.

5
َ ‫ َوأ َ ْن‬,‫ َو َما َجا َء َك ِم ْن َهذَا ا َ ْل َما ِل‬,‫صد ْهق ِب ِه‬
‫ت َغي ُْر ُم ْش ِرفٍ َو ََل‬ َ َ ‫ أ َ ْو ت‬,ُ‫فَت َ َم هو ْله‬
‫ } َر َواهُ ُم ْس ِلم‬."‫س َك‬ َ ‫ َو َما ََل فَ َال تُتْ ِب ْعهُ نَ ْف‬,ُ‫سائِ ٍل فَ ُخ ْذه‬ َ
Dari Salim Ibnu Abdullah Ibnu Umar, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu

bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan sesuatu

kepada Umar Ibnu Khattab. Lalu ia berkata: Berikanlah pada orang yang lebih

membutuhkan daripada diriku." Beliau bersabda: "Ambillah, lalu simpanlah atau

bersedekahlah dengannya. Dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini,

padahal engkau tidak membutuhkannya dan tidak meminta, maka ambillah. Jika

tidak demikian, maka jangan turuti nafsumu." Riwayat Muslim.10

Kalimat ُ‫( فَتَ َم هو ْله‬fatamawalhu) berarti mengembangkan dan

mengusahakannya sehingga dapat diberdayakan, hal ini sebagai satu indikasi

bahwa harta zakat dapat digunakan untuk hal-hal selain kebutuhan konsumtif,

semisal usaha yang dapat menghasilkan keuntungan.

Pendistribusian zakat secara produktif juga telah menjadi pendapat ulama

sejak dahulu. Masjfuk Zuhdi mengatakan bahwa Khalifah Umar bin Al-Khatab

selalu memberikan kepada fakir miskin bantuan keuangan dari zakat yang bukan

sekadar untuk memenuhi perutnya berupa sedikit uang atau makanan, melainkan

sejumlah modal berupa ternak unta dan lain-lain untuk mencukupi kebutuhan

hidupnya dan keluarganya.11

10
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Penterjemah: Muh. Sjarief Sukandi, Cet.
Ke-20, Bandung: PT. Al-Ma’rif, 1996, H 483.

11
Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyyah, Penerbit PT. Gunung Agung Jakarta, 1997, 246.

6
Demikian juga seperti yang dikutip oleh Sjechul Hadi Permono yang

menukil pendapat Asy-Syairozi yang mengatakan bahwa seorang fakir yang

mampu tenaganya diberi alat kerja, yang mengerti dagang diberi modal dagang,

selanjutnya An-Nawawi dalam syarah Al-Muhazzab merinci bahwa tukang jual

roti, tukang jual minyak wangi, penjahit, tukang kayu, penatu dan lain sebagainya

diberi uang untuk membeli alat-alat yang sesuai, ahli jual beli diberi zakat untuk

membeli barang-barang dagangan yang hasilnya cukup buat sumber penghidupan

tetap.12

E. Sejarah LAZ Yatim Mandiri

Awal mula berdirinya LAZ Yatim Mandiri pada tanggal 31 Maret 1994

menggunakan nama Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Panti Asuhan Islam

dan Anak Purna Asuh (YP3IS), yayasan ini terlahir dari sebuah ide beberapa aktivis

anak yang peduli terhadap kondisi panti asuhan di Surabaya. Mereka adalah Drs.

Hasan Sadzili, Syahid Haz, Bimo Wahyu Wardoyo dan Nur Hidayat yang ingin

menyatukan panti-panti asuhan yatim di Surabaya.

Setelah mengalami perjalanan panjang selama 14 tahun sejak berdirinya,

berbagai catatan perjalanan telah terhimpun. Baik yang berkaitan dengan legalitas

maupun operasional keseharianya. Diantaranya, sesuai dengan undang-undang

nomor 16 tahun 2000 tentang yayasan batas toleransi penyesuaiannya adalah tahu

2005, sehingga demi kepentingan publik yayasan harus melakukan pendaftaran ke

Kemenkumham Pusat di Jakarta. Ternyata Depkumham menolak karena nama

12
Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat Dalam Rangka Pembangunan Nasional,
Jakarta : Pustaka Firdaus, 1993, 58-59.

7
YP3IS terlalu panjang, kurang bisa memberikan fungsi branding yang marketable

dalam pengembangan publikasi lembaga ke masyarakat.

Maka dengan dorongan masyarakat dan hasil analisa internal, diubahlah

menjadi nama yang sederhana dan sarat akan makna, yaitu Yayasan Yatim Mandiri,

dengan akronim Yatim Mandiri. Dan, dengan nama ini, telah terdaftar di

Kemenkumham dengan nomor: AHU-2413.AH.01.02.2008.13

a. Visi dan Misi LAZ Yatim Mandiri

Visi:

 Menjadi lembaga terpercaya dalam membangun kemandirian yatim.

Misi:

 Membangun nilai-nilai kemandirian yatim dhuafa.

 Meningkatkan partisipasi masyarakat dan dukungan sumberdaya untuk

kemandirian yatim dhuafa.

 Meningkatkan capacity building organisasi.

b. Program LAZ Yatim Mandiri14

Pendidikan

13
Yatim Mandiri, Annual Report, Surabaya: Yatim Mandiri, 2016, 4.
14
Ibid., 11.

8
 ICMBS (Insan Cendekia Mandiri Boarding School)

 STAINIM (Sekolah Tinggi Agama Islam An Najah Indonesia Mandiri)

Pemberdayaan

 MEC (Mandiri Entrepreneur Center)

 PLUS (Pembinaan Lulus Ujian Sekolah)

 Rumah Kemandirian

 BISA (Bunda Mandiri Sejahtera)

 Supercamp

 Duta Guru

 Genius

Kesehatan

 Klinik RSM (Rumah Sehat Mandiri)

 Layanan Kesehatan Keliling

 Gizi

 Super Gizi Qurban

Sosial Kemanusiaan

 BESTARI (Beasiswa Yatim Mandiri)

 ASA (Alat Sekolah Anak Yatim)

 BLM (Bantuan Langsung Mustahik)

 Bantuan Bencana Alam

9
Ramadhan

 Buka Puasa Ceria

 Bercahaya

 Sedekah Al-Qur’an

 Zakat Lingkungan

F. Pemberdayaan zakat di LAZ Yatim Mandiri Ponorogo

Pemberdayaan dana di LAZ Yatim Mandiri khususnya untuk anak yatim

yaitu dengan program Mandiri Enterpreneur Center (MEC) program ini

mendayagunakan zakat, infaq dan shadaqah dalam pemberdayaan anak yatim

melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan yang lebih mengarah kepada

pengetahuan dasar akan suatu bidang tertentu. Tujuan dari pendayagunaan zakat,

infaq dan shadaqah dalam pemberdayaan anak yatim adalah untuk kemandirian.

Kemandirian secara akademik, kemandirian secara agama dan kemandirian secara

ekonomi. Adapun hasil dari pemberdayaan tersebut adalah anak yatim sebagai

penerima dana bantuan ZIS tersebut telah mandiri dari segi:

1. Kemandirian akademik yaitu anak yatim mendapat ilmu pengetahuan sesuai

dengan bidang yang diambil dan ditekuni. Kemandirian akademik yang

diterapkan melalui program MEC mengacu pada dunia usaha dan dapat

langsung diterapkan di lapangan.

2. Kemandirian agama atau spiritual yakni anak yatim mendapatkan

bimbingan akhlaq dan aqidah, bimbingan baca al-Qr’an dan bimbingan

ibadah.

10
3. Kemandirian kewirausahaan yaitu anak yatim mendapatkan pelatihan

langsung dalam merencanakan dan melaksanakan langsung kegiatan

berwirausaha.

Indikator dari program MEC adalah lulusan yang mampu bersaing di dunia

usaha dan dunia kerja dengan tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang

muslim.

G. Produktifitas zakat di LAZ Yatim Mandiri

Produktifitas zakat di LAZ Yatim Mandiri dapat disalurkan melalui

program BISA (Bunda Mandiri Sejahtera), dimana program ini berupa pembinaan

keislaman, kepengasuhan dan pemberdayaan ekonomi. Program pemberdayaan

ekonomi bunda yatim dengan membentuk kelompok usaha bersama dengan

pendamping pengusaha profesional dibidangnya. Bantuan yang diberikan

digunakan untuk setting up usaha bersama, pengadaan insfratuktur usaha, modal

usaha dan operasional usaha. Dengan program ini diharapkan keluarga anak yatim

menjadi lebih sejahtera dan mampu hidup mandiri.

11
KESIMPULAN

1. Zakat adalah sebuah aktifitas (ibadah) mengeluarkan sebagian harta atau bahan

makanan utama sesuai dengan ketentuan Syariat yang diberikan kepada orang-

orang tertentu, pada waktu tertentu dengan kadar tertentu.

2. Pemberdayaan zakat berarti ibadah maliyah yaitu pemberdayaan harta benda yang

Allah berikan kepada manusia yang digunakan untuk kepentingan bersama,

demikian halnya dengan aspek ekonomi. Sedangkan Zakat produktif adalah zakat

yang diberikan kepada fakir miskin berupa modal usaha atau yang lainnya yang

digunakan untuk usaha produktif yang mana hal ini akan meningkatkan taraf

hidupnya, dengan harapan seorang mustahiq akan bisa menjadi muzakki jika dapat

menggunakan harta zakat tersebut untuk usahanya.

3. Pemberdayaan dana di LAZ Yatim Mandiri khususnya untuk anak yatim yaitu

dengan program Mandiri Enterpreneur Center (MEC), sedangkan Produktifitas

zakat di LAZ Yatim Mandiri dapat disalurkan melalui program BISA (Bunda

Mandiri Sejahtera), dimana program ini berupa pembinaan keislaman,

kepengasuhan dan pemberdayaan ekonomi.

12
DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Maram. Penterjemah: Muh. Sjarief Sukandi,


Cet. Ke-20, Bandung: PT. Al-Ma’rif, 1996.

Anonimus. Pedoman Manajemen Zakat. BAZISKAF PT TELKOM Indonesia,


1997.

Ash-Shiddieqy, Hasbi. Pedoman Zakat. Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Asnaini. Zakat Produktif Dalam Perspektif Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 2008.

Hafidhuddin, Didin. Zakat Dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema Insani


Press, 2000.

Munawwir, A.W. Kamus Al-Munawwir. Pustaka Progresif, Surabaya.

Permono, Sjechul Hadi. Pendayagunaan Zakat Dalam Rangka Pembangunan


Nasional. Jakarta : Pustaka Firdaus, 1993.

Rofiq, Ahmad. Kompilasi Zakat, Semarang: Balai Penelitian dan Pengembangan


Agama, 2010.

Suharto, Edi. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan
Kebijakan Sosial. Bandung: Alfabeta, 2005.

Yatim Mandiri. Annual Report. Surabaya: Yatim Mandiri, 2016.

Zuhdi, Masjfuk. Masail Fiqhiyyah. Penerbit PT. Gunung Agung Jakarta, 1997.

https://www.kompasiana.com/hanaafi/pendistribusian-dan-pemberdayaan-dana-
zakat_58496447b793733815d634db diakses pada tanggal 14 April 2018
pukul 08.00 wib.

13
14