Anda di halaman 1dari 29

SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN

DIABETES MELLITUS (DM)


DI RUANG PANDAN 1 RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Disusun Oleh:
Kelompok 2

Nama Anggota Kelompok :


Yoga Aji Pradana, S.Kep 131723143093
Leli Ika Hariyati, S.Kep 131723143008
Selvi Ratu Djawa, S.Kep 131723143011
Nadhifatul Kamilah, S.Kep 131723143016
Friska N.W.H, S.Kep 131723143020
Dwi Hartini, S.Kep 131723143027

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang Studi : Keperawatan Dasar


Tema : Diabetes Mellitus (DM)
Sasaran : Keluarga Pasien di Ruang Pandan 1
Tempat : Ruang Pandan 1
Waktu : 35 menit
Hari/Tanggal/jam : Jum’at, 30 Maret 2018/jam 10.00

I. Tujuan Instruksional Umum


setelah diberikan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga pasien di
ruang Pandan 1 memahami tentang
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 35 menit tentang Diabetes
Mellitus (DM), diharapkan keluarga mampu:
a. Menjelaskan kembali pengertian Diabetes Mellitus (DM).
b. Menjelaskan kembali klasifikasi Diabetes Mellitus (DM)..
c. Menjelaskan kembali faktor penyebab Diabetes Mellitus (DM).
d. Menjelaskan kembali manifestasi dan gejala Diabetes Mellitus (DM).
e. Menjelaskan kembali komplikasi dari Diabetes Mellitus (DM).
f. Menjelaskan kembali penatalaksanaan dari Diabetes Mellitus (DM).
g. Menjelaskan kembali pencegahan dari Diabetes Mellitus (DM).

III. Metode
a. Demonstrasi
b. Tanya Jawab
IV. Media
a. Leaflet
V. Materi
a. Pengertian Diabetes Mellitus (DM).
b. Klasifikasi Diabetes Mellitus (DM)..
c. Faktor penyebab Diabetes Mellitus (DM).
d. Manifestasi dan gejala Diabetes Mellitus (DM).
e. Komplikasi dari Diabetes Mellitus (DM).
f. Penatalaksanaan dari Diabetes Mellitus (DM).
g. Pencegahan dari Diabetes Mellitus (DM).

VI. Pelaksanaan
KEGIATAN
NO. WAKTU KEGIATAN PESERTA
PENYULUHAN
1. 2 menit Pembukaan
1. Penyampaian salam 1. Membalas salam
2. Perkenalan 2. Mendengarkan
3. Menjelaskan topik 3. Mendengarkan
penyuluhan
4. Menjelaskan tujuan 4. Mendengarkan
5. Kontrak waktu 5. Mendengarkan dan
menyetujui
2. 25 menit Penyajian materi
1. Definisi Diabetes 1. Menjawab pertanyaan dan
Mellitus (DM).. mengemukakan pendapat
2. Klasifikasi Diabetes 2. Memperhatikan dan
Mellitus (DM). mendengarkan
3. Faktor penyebab 3. Memperhatikan dan
Diabetes Mellitus mendengarkan
(DM).
4. manifestasi 4. Memperhatikan dan
Diabetes Mellitus mendengarkan
(DM).
5. Komplikasi 5. Memperhatikan dan
Diabetes Mellitus mendengarkan
(DM).
6. Memperhatikan dan
6. Penatalaksanaan
mendengarkan
Diabetes Mellitus
(DM).
7. Pencegahan
7.Memperhatikan dan
Diabetes Mellitus
mendengarkan
(DM).
8. Diskusi (tanya 8. memperhatikan dan
jawab) mendengankan

3. 10 menit Evaluasi
1. Mengevaluasi 1. Menjawab pertanyaan
kembali
pengetahuan peserta
mengenai materi
yang telah
disampaikan
2. Meminta peserta 2. Mempraktekkan ROM
mempraktekkan cara
ROM.
4. 3 menit Terminasi
1. Menyimpulkan hasil 1. Memperhatikan dan
penyuluhan mendengarkan
2. Mengucapkan 2. Memperhatikan dan
terima kasih mendengarkan
3. Mengakhiri dengan 3. Menjawab salam
salam

VII. Pengorganisasian
1. Moderator : Leli Ika hariyati, S.Kep.
2. Penyaji : Friska N.W.H, S.Kep, Selvi Ratu Djawa, S.
Kep.
3. Fasilitatator : Nadhifatul , S.Kep.
4. Observer : Dwi Hartini , S.Kep.
5. Notulen : Yoga Aji P, S. Kep.

VIII. Setting Tempat


Keterangan :

: Moderator
: Penyuluh : Audiens

: Moderator : Fasilitator

Uraian tugas
Moderator : Membuka dan memimpin jalanya acara dimulai dari
pembukaan, penyampaian materi, evaluasi, dan
yang terakhir terminasi.
Penyaji : Menyampaikan materi penyuluhan yang dimulai
dari menggali pengetahuan peserta tentang
mobilisasi pasca operasi dan sesi diskusi (tanya
jawab).
Fasilitator : Memfasilitasi jalanya acara penyuluhan agar dapat
berjalan dengan baik.
Observer : Mengobservasi jalannya acara penyuluhan dari
awal sampai akhir, mengobservasi performa
penyuluh, mencatat pertanyaan dan mengobservasi
keantusiasan peserta penyuluhan.
IX. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media: Leaflet
d. Penyelenggaraan
penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa
e. Tempat dan alat
tersedia sesuai perencanaan
f. Peserta hadir ditempat
penyuluhan
g. Penyelenggaraan
penyuluhan dilaksanakan di Ruang Pandan 1 RSUD Dr.
Soetomo
h. Pengorganisasian
penyelenggaraan penyuluhan dilakukan pada hari sebelumnya.
b. Evaluasi Proses
a. Fase dimulai sesuai
dengan waktu yang direncanakan.
b. Peserta antusias terhadap
materi yang disampaikan oleh penyaji
c. Peserta terlibat aktif
dalam kegiatan penyuluhan
d. Peserta mengajukan
pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
e. Suasana penyuluhan
tertib
f. Tidak ada peserta yang
meninggalkan tempat penyuluhan
c. Evaluasi Hasil
a. Peserta yang
hadir sesuai jumlah absensi kehadiran
b. Peserta
memahami materi yang telah disampaikan oleh penyaji
c. Ada umpan
balik positif dari peserta seperti dapat menjawab pertanyaan
dengan benar yang diajukan penyaji tentang Diabetes Mellitus
(DM).
MATERI PENYULUHAN

I. Definisi Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes melitus adalah suatu keadaan didapatkan peningkatan kadar


gula darah yang kronik sebagai akibat dari gangguan pada metabolism
karbohidrat, lemak, dan protein karena kekurangan hormon insulin.
Masalah utama pada penderita DM ialah terjadinya komplikasi, khususnya
komplikasi DM kronik yang merupakan penyebab utama kesakitan dan
kematian penderita DM (Surkesda, 2008). DM adalah suatu sindrom
kronik gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak akibat
ketidakcukupan sekresi insulin atau resistensi insulin pada jaringan
yang dituju (Dorland, 2008).
DM adalah penyakit metabolik (kebanyakan herediter) sebagai akibat
dari kurangnya insulin efektif (DM Tipe 2) atau insulin absolut (DM Tipe 1)
di dalam tubuh. Pada DM terdapat tanda-tanda hiperglikemi dan glukosuria,
dapat disertai dengan atau tidaknya gejala klinik akut seperti poliuri,
polidipsi, penurunan berat badan, ataupun gejala kronik seperti gangguan
primer pada metabolisme karbohidrat dan sekunder pada metabolisme
lemak dan protein (Tjokroprawiro, 2007).
DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya (PERKENI, 2015).

II. Klasifikasi

Klasifikasi etiologis DM menurut American Diabetes Association (2014),


dibagi dalam 4 jenis yaitu:
a. Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus /
IDDM
DM tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena
sebab autoimun. Pada DM tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama
sekali sekresi insulin dapat ditentukan dengan level protein c-peptida
yang jumlahnya sedikit atau tidak terdeteksi sama sekali. Manifestasi
klinik pertama dari penyakit ini adalah ketoasidosis.
b. Diabetes Melitus Tipe 2 atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus /
NIDDM
Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin
tidak bisa membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi
resistensi insulin yang merupakan turunnya kemampuan insu-lin untuk
merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya
resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap
kadarnya masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi
relatif insulin. Hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya sekresi
insulin pada adanya glukosa bersama bahan sekresi insulin lain
sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap
adanya glu-kosa
Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya
asimtomatik. Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan
mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang. DM tipe
ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi.
c. Diabetes Melitus Tipe Lain

DM tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek


genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin
pankreas, penyakit metabolik endokrin lain, iatrogenik, infeksi virus,
penyakit autoimun dan kelainan genetik lain. Penyebab terjadinya DM
tipe lain dapat dilihat pada tabel dibawah.

d. Diabetes Melitus Gestasional


DM tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi
glukosa didapati pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada
trimester kedua dan ketiga. DM gestasional berhubungan dengan
meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita DM gestasional memiliki
risiko lebih besar untuk menderita DM yang menetap dalam jangka
waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.
III. Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa
secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil
pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa
darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas
dasar adanya glukosuria.
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
a. Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria


DM digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi
glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT).
a. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa
plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa
plasma 2-jam <140 mg/dl;
b. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma
2 -jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa
<100 mg/dl
c. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT.
d. Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.

Tabel. Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis daibetes dan


prediabetess.

HbA1c (%) Glukosa darah Glukosa plasma 2 jam


puasa (mg/dL) setelah TTGO (mg/dL)

Diabetes > 6,5 > 126 mg/dL > 200 mg/dL

Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199

Normal < 5,7 < 100 < 140


(PERKENI, 2015).

IV. Faktor Penyebab


Menurut (Wijayakusuma, 2004), penyakit DM dapat disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu:
a. Pola Makan
Pola makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang
dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya DM. Hal ini
disebabkan jumlah atau kadar insulin oleh sel β pankreas mempunyai
kapasitas maksimum untuk disekresikan.
b. Obesitas
Orang yang gemuk dengan berat badan melebihi 90 kg mempunyai
kecenderungan lebih besar untuk terserang DM dibandingkan dengan
orang yang tidak gemuk.
c. Faktor genetik
Seorang anak dapat diwarisi gen penyebab DM dari orang tua.
Biasanya, seseorang yang menderita DM mempunyai anggota
keluarga yang terkena juga.
d.Bahan-bahan kimia dan obat-obatan

Bahan kimiawi tertentu dapat mengiritasi pankreas yang


menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas dapat
menyebabkan pankreas tidak berfungsi secara optimal dalam
mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dalam
tubuh, termasuk hormon insulin.
d. Penyakit dan infeksi pada pankreas
Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pankreas
sehingga menimbulkan radang pankreas. Hal itu menyebabkan sel β
pada pankreas tidak bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin.

V. Manifestasi Klinis.

Gejala klinis DM yang klasik : mula-mula polifagi, poliuri, dan


polidipsi. Apabila keadaan ini tidak segera diobati, maka akan timbul
gejala Dekompensasi Pankreas, yang disebut gejala klasik DM, yaitu
poliuria, polidipsi, dan polifagi. Ketiga gejala klasik tersebut diatas
disebut pula “TRIAS SINDROM DIABETES AKUT” bahkan apabila
tidak segera diobati dapat disusul dengan mual-muntah dan ketoasidosis
diabetik. Gejala kronis DM yang sering muncul adalah lemah badan,
kesemutan, kaku otot, penurunan kemampuan seksual, gangguan
penglihatan (kabur) yang sering berubah, sakit sendi dan lain-lain
(Tjokroprawiro, 2007 ).

VI. Komplikasi

Pada DM yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut


maupun komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun
makroangiopati. Di Amerika Serikat, DM merupakan penyebab utama
dari end-stage renal di-sease (ESRD), nontraumatic lowering
amputation, dan adult blindness (Ndraha, 2014).
a. Kerusakan saraf (Neuropati)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak
dan sumsum tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan
organ lain, serta susunan saraf otonom yang menga-tur otot polos di
jantung dan saluran cerna. Hal ini biasanya terjadi setelah glukosa
darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan ber-langsung
sampai 10 tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil
diturunkan menjadi nor-mal, terkadang perbaikan saraf bisa terjadi.
Na-mun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil
diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak
dinding pembu-luh darah kapiler yang memberi makan ke saraf
sehingga terjadi kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik
(diabetic neuropathy). Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf
tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan
impuls saraf, salah kirim atau terlambat kirim.
b. Kerusakan ginjal (Nefropati)
Ginjal bekerja selama 24 jam sehari untuk membersihkan darah dari
racun yang masuk ke dan yang dibentuk oleh tubuh. Bila ada nefropati
atau kerusakan ginjal, racun tidak dapat dikeluarkan, sedangkan protein
yang seharusnya dipertahankan ginjal bocor ke luar. Semakin lama
seseorang terkena diabetes dan makin lama terkena tekanan darah tinggi,
maka penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan
ginjal pada pender-ita diabetes juga terkait dengan neuropathy atau
kerusakan saraf.
c. Kerusakan mata.
Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan menjadi
penyebab utama kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang
disebabkan oleh diabetes, yaitu:
1. retinopati, retina mendapatkan makanan dari banyak pembuluh
darah kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa
merusak pembuluh darah retina.
2. katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi
keruh sehingga meng-hambat masuknya sinar dan makin diperparah
dengan adanya glukosa darah yang tinggi
3. glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga
merusak saraf mata.
d. Penyakit jantung koroner
Diabetes merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan
penumpukan lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh
darah. Akibatnya suplai darah ke otot jantung berkurang dan tekanan
darah meningkat, sehingga kematian mendadak bisa terjadi.
e. Stroke.
f. Hipertensi
g. Penyakit pembuluh darah
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang
dinamakan Peripheral Vascular Disease (PVD), dapat terjadi lebih dini
dan prosesnya lebih cepat pada penderita diabetes daripada orang yang
tidak mendertita diabetes. Denyut pembuluh darah di kaki terasa lemah
atau tidak terasa sama sekali. Bila diabetes ber-langsung selama 10
tahun lebih, sepertiga pria dan wanita dapat mengalami kelainan ini.
Dan apabila ditemukan PVD disamping diikuti gangguan saraf atau
neuropati dan infeksi atau luka.
h. Gangguan hati
Banyak orang beranggapan bahwa bila pende-rita diabetes tidak
makan gula bisa bisa meng-alami kerusakan hati (liver). Anggapan ini
keliru. Hati bisa terganggu akibat penyakit diabetes itu sendiri.
Dibandingkan orang yang tidak men-derita diabetes, penderita diabetes
lebih mudah terserang infeksi virus hepatitis B atau hepati-tis C. Oleh
karena itu, penderita diabetes harus menjauhi orang yang sakit hepatitis
karena mu-dah tertular dan memerlukan vaksinasi untuk pencegahan
hepatitis. Hepatitis kronis dan siro-sis hati (liver cirrhosis) juga mudah
terjadi karena infeksi atau radang hati yang lama atau berulang.
Gangguan hati yang sering ditemukan pada pen-derita diabetes adalah
perlemakan hati atau fatty liver, biasanya (hampir 50%) pada penderita
dia-betes tipe 2 dan gemuk. Kelainan ini jangan dibi-arkan karena bisa
merupakan pertanda adanya penimbunan lemak di jaringan tubuh
lainnya.
i. Penyakit paru

Pasien diabetes lebih mudah terserang infeksi tuberkulosis paru


dibandingkan orang biasa, sekalipun penderita bergizi baik dan secara
sosioekonomi cukup. Diabetes memperberat infeksi paru, demikian
pula sakit paru akan menaikkan glukosa darah.
j. Gangguan saluran cerna
Gangguan saluran cerna pada penderita diabetes disebabkan karena
kontrol glukosa darah yang tidak baik, serta gangguan saraf otonom
yang mengenai saluran pencernaan. Ganggu-an ini dimulai dari rongga
mulut yang mudah terkena infeksi, gangguan rasa pengecapan se-
hingga mengurangi nafsu makan, sampai pada akar gigi yang mudah
terserang infeksi, dan gigi menjadi mudah tanggal serta pertumbuhan
menjadi tidak rata. Rasa sebah, mual, bahkan muntah dan diare juga
bisa terjadi. Ini adalah aki-bat dari gangguan saraf otonom pada
lambung dan usus. Keluhan gangguan saluran makan bisa juga timbul
akibat pemakaian obat- obatan yang diminum.
k. Infeksi
Glukosa darah yang tinggi menggangu fungsi kekebalan tubuh
dalam menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita
diabetes mudah terkena infeksi. Tempat yang mudah mengalami infeksi
adalah mulut, gusi, paru-paru, kulit, kaki, kandung kemih dan alat
kelamin. Ka-dar glukosa darah yang tinggi juga merusak sistem saraf
sehingga mengurangi kepekaan pen-derita terhadap adanya infeksi.

VII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat
(terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi
farmakologis dengan obat anti hiperglikemia secara oral dan/atau suntikan.
Obat anti hiperglikemia oral dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau
kombinasi. Pada keadaan emergensi dengan dekompensasi metabolik berat,
misalnya: ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat,
atau adanya ketonuria, harus segera dirujuk ke Pelayanan Kesehatan
Sekunder atau Tersier.
a. Edukasi

Edukasi perawatan kaki diberikan pada penderita DM dengan ulkus


maupun neuropati perifer atau peripheral arterial disease (PAD).
1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan di air.
2. Periksa kaki setiap hari, dan dilaporkan pada dokter apabila kulit
terkelupas, kemerahan, atau luka.
3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya.
4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan
mengoleskan krim pelembab pada kulit kaki yang kering.
5. Potong kuku secara teratur.
6. Keringkan kaki dan sela-sela jari kaki secara teratur setelah dari kamar
mandi.
7. Gunakan kaos kaki dari bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan
pada ujung-ujung jari kaki.
8. Kalau ada kalus atau mata ikan, tipiskan secara teratur.
9. Jika sudah ada kelainan bentuk kaki, gunakan alas kaki yang dibuat
khusus.
10. Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau longgar, jangan gunakan hak
tinggi.
11. Hindari penggunaan bantal atau botol berisi air panas untuk
menghangatkan kaki.
Edukasi Perilaku hidup sehat bagi penyandang Diabetes Melitus adalah
memenuhi anjuran:
 Mengikuti pola makan sehat.
 Meningkatkan kegiatan jasmani dan latihan jasmani yang teratur
 Menggunakan obat DM dan obat lainya pada keadaan khusus secara
aman dan teratur.
 Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan
memanfaatkan hasil pemantauan untuk menilai keberhasilan
pengobatan.
 Melakukan perawatan kaki secara berkala.
 Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan
sakit akut dengan tepat.
 Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan
mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta
mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang DM.
 Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

b. Terapi nutrisi medis (TNM).


Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan
sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya
keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama
pada mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin
atau terapi insulin itu sendiri.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:
1. Karbohidrat
 Karbohidrat yang dianjurkansebesar 45-65% total asupan energi.
Terutama karbohidrat yang berserat tinggi
 Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.
 Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang
diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain.
 Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
 Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti glukosa, asal
tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily
Intake/ADI).
 Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan
makanan selingan seperti buah atau makanan lain sebagai bagian
dari kebutuhan kalori sehari.

2. Lemak
 Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan
tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
 Komposisi yang dianjurkan:
- lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori.
- lemak tidak jenuh ganda < 10 %.
- selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.
 Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak
mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging
berlemak dan susu fullcream.
 Konsumsi kolesterol dianjurkan <200 mg/hari.
3. Protein
 Kebutuhan protein sebesar 10 – 20% total asupan energi.
 Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa
lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-
kacangan, tahu dan tempe.
 Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan
protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi,
dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi. Kecuali pada
penderita DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein
menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari.
4. Natrium
 Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang
sehat yaitu < 2300 mg perhari.
 Penyandang DM yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan
pengurangan natrium secara individual.
 Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan
bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.
5. Serat
 Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-
kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi
serat.
 Anjuran konsumsi serat adalah 20-35 gram/hari yang berasal dari
berbagai sumber bahan makanan.
6. Pemanis alternative
 Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas
aman (Accepted Daily Intake/ADI).
 Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan
pemanis tak berkalori.
 Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya
sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol dan
fruktosa.
 Glukosa alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol,
sorbitol dan xylitol.
 Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena
dapat meningkatkan kadar LDL, namun tidak ada alasan
menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengandung
fruktosa alami.
 Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame
potassium, sukralose, neotame.

Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penyandang DM, antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan kalori
basal yang besarnya 25-30 kal/kgBB ideal. Jumlah kebutuhan tersebut
ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu: jenis
kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dan lain-lain. Beberapa cara
perhitungan berat badan ideal adalah sebagai berikut:
 Perhitungan berat badan ideal (BBI) menggunakan rumus Broca yang
dimodifikasi :
Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah
150 cm, rumus dimodifikasi menjadi :
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg
Normal : BB ideal ± 10 %
Kurus : kurang dari BBI - 10 %
Gemuk : lebih dari BBI + 10 %
 Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:
IMT = BB(kg)/TB(m2)
Klasifikasi IMT :
- BB Kurang <18,5
- BB Normal 18,5-22,9
- BB Lebih ≥23,0
Dengan risiko 23,0-24,9
Obes I 25,0-29,9
Obes II ≥30
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:
1. Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori basal perhari untuk perempuan sebesar 25 kal/kgBB
sedangkan untuk pria sebesar 30 kal/kgBB.
2. Umur
- Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk
setiap dekade antara 40 dan 59 tahun.
- Pasien usia diantara 60 dan 69 tahun, dikurangi 10%.
- Pasien usia diatas usia 70 tahun, dikurangi 20%.
3. Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
- Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas
fisik.
- Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada
keadaan istirahat.
- Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan aktivitas ringan:
pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga.
- Penambahan sejumlah 30% pada aktivitas sedang: pegawai industri
ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang.
- Penambahan sejumlah 40% pada aktivitas berat: petani, buruh, atlet,
militer dalam keadaan latihan.
- Penambahan sejumlah 50% pada aktivitas sangat berat: tukang
becak, tukang gali.
c. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2
apabila tidak disertai adanya nefropati. Kegiatan jasmani sehari-hari dan
latihan jasmani dilakukan secara secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu
selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu. Jeda antar
latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut
Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum
latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah <100 mg/dL pasien harus
mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL dianjurkan
untuk menunda latihan jasmani. Kegiatan sehari-hari atau aktivitas sehari-
hari bukan termasuk dalam latihan jasmani meskipun dianjurkan untuk
selalu aktif setiap hari. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran
juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin,
sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas
sedang (50-70% denyut jantung maksimal) seperti: jalan cepat, bersepeda
santai, jogging, dan berenang.
Pada penderita DM tanpa kontraindikasi (contoh: osteoartritis, hipertensi
yang tidak terkontrol, retinopati, nefropati) dianjurkan juga melakukan
resistance training (latihan beban) 2-3 kali/perminggu (A) sesuai dengan
petunjuk dokter. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran jasmani. Intensitas latihan jasmani pada penyandang DM
yang relatif sehat bisa ditingkatkan, sedangkan pada penyandang DM yang
disertai komplikasi intesitas latihan perlu dikurangi dan disesuaikan dengan
masing-masing individu.
d. Intervensi Farmakologis
1. Obat Hipoglekemi Oral (OHO) :
Sulfonylurea, Glinid, Metformin, Tiazolidindion,
2. Obat Antihiperglikemia Suntik : Insulin
3. Terapi Kombinasi
Pengaturan diet dan kegiatan jasmani merupakan hal yang utama
dalam penatalaksanaan DM, namun bila diperlukan dapat dilakukan
bersamaan dengan pemberian obat antihiperglikemia oral tunggal
atau kombinasi sejak dini. Pemberian obat antihiperglikemia oral
maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk
kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar
glukosa darah. Terapi kombinasi obat antihiperglikemia oral, baik
secara terpisah ataupun fixed dose combination, harus
menggunakan dua macam obat dengan mekanisme kerja yang
berbeda. Pada keadaan tertentu apabila sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai dengan kombinasi dua macam obat, dapat diberikan
kombinasi dua obat antihiperglikemia dengan insulin. Pada pasien
yang disertai dengan alasan klinis dimana insulin tidak
memungkinkan untuk dipakai, terapi dapat diberikan kombinasi tiga
obat anti-hiperglikemia oral.

VIII. Pencegahan
a) Pencegahan Primer terhadap komplikasi Diabetes Mellitus.
 Sasaran Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok
yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena,
tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi
glukosa.
1. Faktor Risiko Diabetes Melitus yang tidak bisa di modifikasi
a. Ras dan etnik
b. Riwayat keluarga dengan DM
c. Umur: Risiko untuk menderita intolerasi glukosa meningkat
seiring dengan meningkatnya usia. Usia >45 tahun harus
dilakukan pemeriksaan DM.
d. Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi >4000 gram
atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG).
e. Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5
kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko
yang lebih tinggi dibanding dengan bayi yang lahir dengan
BB normal.
2. Faktor Resiko yang bisa dimodifikasi

a. Berat badan lebih (IMT ≥23 kg/m2).


b. Kurangnya aktivitas fisik
c. Hipertensi (>140/90 mmHg)
d. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan/atau trigliserida >250
mg/dl)
e. Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi glukosa
dan rendah serat akan meningkatkan risiko menderita
prediabetes/intoleransi glukosa dan DMT2.
Pencegahan dengan cara
A. Program penurunan berat badan.
 Diet sehat.
 Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan
ideal
 Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara
terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa
darah yang tinggi setelah makan
 Komposisi diet sehat mengandung sedikit lemak jenuh dan
tinggi serat larut.
B. Latihan jasmani
 Latihan jasmani yang dianjurkan :
o Latihan dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu
dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut
jantung maksimal), atau 90 menit/minggu dengan latihan
aerobik berat (mencapai denyut jantung >70% maksimal).
o Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 kali aktivitas/minggu
C. Menghentikan kebiasaan merokok.
D. Pada kelompok dengan risiko tinggi diperlukan intervensi
farmakologis.
b) Pencegahan sekunder terhadap komplikasi diabetes Mellitus.
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat
timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM. Tindakan
pencegahan sekunder dilakukan dengan pengendalian kadar glukosa
sesuai target terapi serta pengendalian faktor risiko penyulit yang lain
dengan pemberian pengobatan yang optimal. Melakukan deteksi dini
adanya penyulit merupakan bagian dari pencegahan sekunder.
c) Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes
yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya
kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya
rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan
menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan
pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya
rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang
optimal.
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan komprehensif
dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit
rujukan. Kerjasama yang baik antara para ahli diberbagai disiplin
(jantung, ginjal, mata, saraf, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi,
rehabilitasi medis, gizi, podiatris, dan lain-lain.) sangat diperlukan
dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. (2014). Diagnosis and classification of


diabetes mellitus. Diabetes Care, 37(SUPPL.1), 81–90.
https://doi.org/10.2337/dc14-S081
Dorland, W. N. (2008). Kamus Saku Kedokteran Dorland (28th ed.).
Jakarta: Elsevier Ireland Ltd.
Ndraha, S. (2014). Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini.
Medicinus, 27(2), 9–16.
PERKENI. (2015). Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015. Perkeni.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Tjokroprawiro, A. (2007). Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: Airlangga
University press.
Wijayakusuma, H. (2004). Bebas Diabetes Mellitus Ala Hembing. Jakarta:
Puspa Swara.
DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN

Tempat: Ruang Pandan 1


Hari/tanggal : Jum’at, 30 Maret 2018
Jam/Waktu : 10.00 - 10.35 / 35 menit

No Nama peserta Alamat TTD


1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA
PROGRAM PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kriteria Stuktur √ Kriteria Proses √ Kritera Hasil √


a. Kontrak waktu dan Pembukaan: a. Peserta hadir
b. Acara dimulai
tempat diberikan a. Mengucapkan salam dan
tepat waktu
satu hari sebelum memperkenalkan diri
c. Peserta mengikuti
acara dilakukan b. Menyampaikan tujuan dan
acara sesuai
b. Pengumpulan SAP maksud penyuluhan
dengan aturan
dilakukan satu hari c. Menjelaskan kontrak waktu dan
yang disepakati
sebelum mekanisme d. Peserta
pelaksanaan d. Menyebutkan materi penyuluhan memahami
penyuluhan Pelaksanaan: materi yang telah
c. Peserta hadir pada e. Menggali pengetahuan dan disampaikan dan
tempat yang telah Pengalaman sasaran penyuluhan menjawab
ditentukan tentang Diabetes Mellitus (DM) pertanyaan
d. Pengorganisasian f. Menjelaskan materi penyuluhan dengan benar
penyelenggaraan berupa :
penyuluhan 1. Pengertian Diabetes Mellitus
dilakukan sebelum (DM).
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus
dan saat penyuluhan
(DM)..
dilaksanakan
3. Faktor penyebab Diabetes
Mellitus (DM).
Pengorganisasian
4. Manifestasi dan gejala
penyelenggaraan
Diabetes Mellitus (DM).
penyuluhan dilakukan
5. Komplikasi dari Diabetes
sebelum dan saat
Mellitus (DM).
penyuluhan
6. Penatalaksanaan dari Diabetes
dilaksanakan
Mellitus (DM).
7. Pencegahan dari Diabetes
Mellitus (DM).

g. Memberikan kesempatan kepada


sasaran penyuluhan untuk
mengajukan pertanyaan mengenai
materi yang disampaikan
h. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh peserta penyuluhan
i. Peserta antusias dalam mengikuti
penyuluhan
j. Peserta mendengarkan dan
memperhatikan penyuluhan
dengan seksama

Catatan Evaluasi :

Surabaya, 30 Maret 2018


Observer

(..................................................)
LEMBAR NOTULEN

Kegiatan : Penyuluhan Diabetes Mellitus (DM)


Topik : Diabetes Mellitus (DM)
Hari, Tanggal : Jum’at, 30 Maret 2018
Tempat: Ruang Padan 1
Waktu : 35 menit

Kegiatan Diskusi

1. Nama Penanya
................................................................................................................................................
Pertanyaan
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
Jawaban
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2. Nama Penanya
................................................................................................................................................
Pertanyaan
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
Jawaban
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
3. Nama Penanya
................................................................................................................................................
Pertanyaan
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
Jawaban
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................

Surabaya, 30 Maret 2018


Notulen

(..................................................)