Anda di halaman 1dari 24

Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

LAPORAN PRE PLANNING PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG –


PENCEGAHAN JATUH PADA Ny. J DENGAN HIPERTENSI DI
LINGKUNGAN TROGOWETAN KELURAHAN ANTIROGO
KECAMATAN SUMBERSARI
KABUPATEN JEMBER TAHUN 2015

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas III

oleh

Muhammad Fachrillah Iskandar Arifin


NIM 132310101015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

BAB I. LATAR BELAKANG

1.1 Analisis Situasi


Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan
penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat, mengingat
dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan
terpadu. Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan
mortalitasnya (kematian) yang tinggi. Penyakit hipertensi merupakan penyakit
yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki
seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan antara berbagai faktor resiko
terhadap timbulnya hipertensi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka
kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai
penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8 – 28,6 %
penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Saat ini
terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak
menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan
dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya
olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.
Ditinjau perbandingan antara perempuan dan laki-laki, ternyata perempuan
lebih banyak menderita hipertensi dengan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan
11,6% untuk perempuan. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4%
perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan
14,6% pria dan 13,7% perempuan.
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan
ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada pada kembar
monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang
penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila
dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan
menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

akan timbul tanda dan gejala hipertensi dengan kemungkinan komplikasinya.


Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi garam dengan
hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya
hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan
volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh
peningkatan ekskresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada
keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi esensial
mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor lain yang berpengaruh.
Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress
menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Hal
ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan yang
diberikan pemaparan tehadap stress ternyata membuat binatang tersebut menjadi
hipertensi.
Obesitas atau kegemukan di mana berat badan mencapai indeks massa tubuh >
27 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)) juga merupakan salah satu
faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi. Obesitas merupakan ciri dari populasi
penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita
hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak obesitas.
Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf
simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah.
Olah raga ternyata juga dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi.
Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30-45
menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan
darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga maka resiko timbulnya obesitas
akan bertambah, dan apabila asupan garam bertambah maka resiko timbulnya
hipertensi juga akan bertambah.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau kerusakan
pada pembuluh darah turut berperan pada penyakit hipertensi. Faktor- 4 faktor
tersebut antara lain merokok, asam lemak jenuh dan tingginya kolesterol dalam
darah. Selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor lain yang mempengaruhi
terjadinya hipertensi antara lain alkohol, gangguan mekanisme pompa natrium
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

(yang mengatur jumlah cairan tubuh), faktorrenin- angiotensin-aldosteron


(hormon-hormon yang mempengaruhi tekanan darah). Penyakit hipertensi timbul
akibat adanya interaksi dari berbagai faktor sehingga dari seluruh faktor yang
telah disebutkan diatas, faktor mana yang lebih berperan terhadap timbulnya
hipertensi tidak dapat diketahui dengan pasti. Oleh karena itulah maka
pencegahan penyakit hipertensi yang antara lain dapat dilakukan dengan
menjalankan gaya hidup sehat menjadi sangat penting.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam kegiatan
yang akan dilakukan ini adalah upaya pencegahan jatuh pada Ny. J di
Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari
Kabupaten Jember Jawa Timur karena memiliki riwayat penyakit dara tinggi
atau Hipertensi.
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

BAB II. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah peningkatan tekanan darah pada Ny. J
di Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari
Kabupaten Jember Jawa Timur

2.1.2 Tujuan Khusus


1. Ny. M dan keluarganya mampu menjelaskan tentang pengertian
Hipertensi ;
2. Ny. M dan keluarganya mampu menjelaskan tentang tujuan dan
manfaat pencegahan jatuh pada lansia;
3. Ny. M dan keluarganya mampu mempraktikan langkah-langkah
untuk melakukan pencegahan jatuh pada lansia.
2.2 Manfaat
2.2.1 Menambah pengetahuan Ny. J dan keluarganya tentang cara
penanganan peningkatan tekanan darah pada hipertensi;
2.2.2 Menambah keterampilan Ny. J dan keluarganya dalam
mempraktikan pencegahan stroke pada klien Hipertensi yang
memiliki resiko tinggi untuk jatuh pada Ny. J. Menambah
pengetahuan Ny. J dan keluarganya tentang cara penanganan nyeri
(sakit kepala) pada hipertensi;
2.2.3 Menambah keterampilan Ny. J dan keluarganya dalam
mempraktikan pencegahan jatuh pada lansia dengan tepat di
Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo Kecamatan
Sumbersari Kabupaten Jember Jawa Timur
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

BAB III. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darahdiatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Secara umum
seseorang dikatakanmenderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya
melebihi 140/90 mmHg (normalnya120/80 mmHg).Sistolik adalah tekanan darah
pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung
mengkerut).Diastolic adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan
menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).Hipertensi
merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Disebut
sebagai “pembunuh diam-diam” karena orang dengan hipertensi sering tidak
menampakkan gejala. Separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan
kondisinya. Begitu penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau
dengan interval teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup.
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer.Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi, seperti:
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport
Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
c. Stress lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta
pelabaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2
golongan, yaitu:
a. Hipertensi Esensial (Primer).
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
genetika,lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin
angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

b. Hipertensi Sekunder.
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan
kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

3.2 Kerangka Penyelesaian (buat bagan)

PENGKAJIAN

PENGUMPULAN
DATA OBJEKTIF DATA

DATA SUBJEKTIF

DATA
MENETAPKAN
LINGKUNGAN
MASALAH
SEKITAR
KEPERAWATAN

IDENTIFIKASI
MASALAH

PEMBUATAN PRE
PLANNING

PENETAPAN
INTERVENSI

MELAKUKAN
IMPLEMENTASI

EVALUASI
TINDAKAN
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

BAB IV. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah (buat 1 paragraf)


Pemberian edukasi terhadap Ny. J terkait tindakan pencegahan jatuh pada
lansia merupakan upaya preventif agar klien yang beresiko tinggi untuk jatuh
dapat meminimalisir terjadinya cidera karena usia.

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran pada kegiatan pendidikan kesehatan ini yaitu Ny. J dan
keluarganya yang telah dapat mempraktikkan tentang pencegahan jatuh pada
lansia.

4.3 Metode yang Digunakan (jelaskan metode yang digunakan)


1. Jenis model pembelajaran : konstruktif
2. Landasan teori : diskusi
3. Langkah pokok
a. Menciptakan suasana pertemuan yang baik
b. Mengajukan masalah
c. Mengidentifikasi pilihan tindakan
d. Memberi komentar
e. Menetapkan tindak lanjutsasaran

=Sasaran

= Pemateri
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Askep Hipertensi. http://www.scribd.com/doc/56865865/Askep-


Hipertensi [diakses pada tanggal 25 November 2012]

Anonim. (Tanpa tahun). Bab IV Pembahasan.


http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3d3keperawatanpdf/0910703013/bab4
pdf [diakses pada tanggal 26 November 2012]

NANDA. 2012. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Yoyakarta: Prima


Medika.

Barry, Vanilow. 2010. Asuhan keperawatan klien dengan Hipertensi.


http://barryvanilow.blogspot.com/p/asuhan-keperawatan-klien-
dengan.html [diakses pada tanggal 20 November 2012]
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran:

Lampiran 1 : Berita Acara


Lampiran 2 : Daftar Hadir
Lampiran 3 : Satuan Acara Penyuluhan (SAP)
Lampiran 4 : Standar Operasional Prosedur (SOP) bila ada
Lampiran 5 : Materi
Lampiran 6 : Media Leaflet
Lampiran 7 : Foto Kegiatan

Jember, April 3, 2016

Pemateri

Muhammad Fachrillah Iskandar A.

NIM 132310101015
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 1: Berita Acara

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
T.A 2014/2015

BERITA ACARA

Pada hari ini, Selasa tanggal 10 bulan November tahun 2015 jam 12.00 s/d 12.20
WIB bertempat di Rumah Ny. J Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo
Kecamatan Sumbersari Kabupaten/Kota Jember Propinsi Jawa Timur telah
dilaksanakan Kegiatan Pendidikan Kesehatan Pencegahan Jatuh (Fall Prevention)
pada lansia kegiatan ini diikuti oleh anggota keluarga yang hidup bersama Ny. J.

Jember, April 3, 2016


Mengetahui,
Penguji
Keperawatan Komunitas II
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 2: Daftar Hadir

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
T.A 2014/2015

DAFTAR HADIR

Kegiatan pendidikan kesehatan Pencegahan Jatuh (Fall Prevention) pada Lansia,


pada: Hari Selasa tanggal 10 bulan November tahun 2015 jam 12.00 s/d 12.20
WIB bertempat di Rumah Ny. J Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo
Kecamatan Sumbersari Kabupaten/Kota Jember Propinsi Jawa Timur
NO NAMA ALAMAT TANDA TANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Jember, April 3, 2016

Mengetahui,
Penguji
Keperawatan Komunitas III
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 3: Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Upaya Pencegahan Jatuh (Fall Prevention) pada Lansia


Sasaran : Ny. J
Waktu : 12.00 -12.20 WIB (20 menit)
Hari/Tanggal : Selasa, 10 November 2015
Tempat : Rumah Ny. J Lingkungan Trogowetan Kelurahan Antirogo
Kecamatan Sumbersari Kabupaten/Kota Jember Propinsi Jawa
Timur

1. Standar Kompetensi
Setelah diberikan pendidikan kesehatan pemberian edukasi terkait upaya
pencegahan jatuh, klien dengan keluarga dapat mengerti dan dapat
mempraktikannya.
2. Kompetensi Dasar
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan pemberian edukasi terkait upaya
pencegahan jatuh pada lansia yang memiliki hipertensi dan memiliki
resiko tinggi untuk jatuh selama 15 menit, sasaran akan mampu :
a. Menjelaskan tentang pengertian hipertensi minimal 85% dengan benar;
b. Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat pencegahan jatuh minimal 85%
dengan benar;
c. Menjelaskan tentang langkah-langkah melakukan pencegahan jatuh
minimal 90%.
3. Pokok Bahasan:
Upaya Pencegahan Jatuh (Fall Prevention) pada Lansia
4. Subpokok Bahasan
a. Pengertian Pencegahan Jatuh;
b. Tujuan dan manfaat pencegahan jatuh;
c. Langkah-langkah melakukan pencegahan jatuh
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

5. Waktu:
20 menit
6. Bahan/Alat yang Diperlukan
a. Materi
b. Leaflet
c. Sesuaikan dengan kebutuhan, keadaan klien, dan lingkungan klien
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran : Pertemuan kelompok
b. Landasan teori : Konstruktivisme
c. Landasan pokok :
1. Menciptakan suasana ruangan yang baik
2. Mengajukan masalah
3. Membuat keputusan nilai personal
4. Mengidentifikasi pilihan tindakan
5. Memberi komentar
6. Menetapkan tindak lanjut

8. Setting Tempat
Keterangan:
1. Pemateri

2. Peserta

3. Fasilitator

4. Dosen
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

9. Persiapan
Penyuluh menyiapkan materi tentang hipertensi dan senam pencegahan stroke
Ny. J kemudian membuat media pembelajaran.

10. Kegiatan Pendidikan Kesehatan

Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan 1. Salam pembuka Memperhatikan 3 menit
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
umum dan tujuan
khusus
Penyajian 1. Menjelaskan materi Memperhatikan, 9 menit
tentang: menanggapi dengan
a. Pengertian penyakit pertanyaan
hipertensi;
b. Tujuan dan manfaat
pencegahan jatuh;
c. Langkah-langkah
melakukan pencegahan
jatuh.
2. Memberikan
kesempatan kepada
Ny. J dan keluarganya
untuk bertanya
3. Menjawab pertanyaan
4. Memberikan
kesempatan kepada
Ny. J dan keluarganya
untuk menjelaskan
kembali dan
mempraktikkan materi
yang sudah
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

disampaikan
Penutup 1. Menyimpulkan materi Memperhatikan dan 3 menit
yang telah diberikan menanggapi
2. Mengevaluasi hasil
pendidikan kesehatan
3. Memberikan leaflet
tentang hipertensi
4. Salam penutup

11. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur:
1. Materi yang akan disajikan terkait pencegahan jatuh telah siap
disajikan
2. Tempat yang akan digunakan untuk melakukan pencegahan jatuh pada
lansia telah siap digunakan
3. Persiapan mahasiswa telah dilakukan
4. Persiapan pasien dan keluarga telah dilakukan
b. Evaluasi Proses:
1. Proses penyuluhan dan pemberian edukasi upaya pencegahan jatuh
pada pasien berjalan dengan lancar mulai dari awal hingga akhir
asuhan sesuai dengan yang diharapkan
2. Klien dan keluarga kooperatif selama dilakukan penyuluhan dan
pemberian edukasi terkait pencegahan
3. Tujuan umum dan tujuan khusus akan tercapai setelah asuhan
keperawatan dilaksanakan
c. Evaluasi Hasil:
Setelah mendapatkan asuhan keperawatan pasien dan keluarga
mampu:
1. Menjelaskan tentang pengertian serta manfaat pencegahan jatuh
2. Mengetahui dan mampu mempraktikkan langkah-langkah untuk
melakukan pencegahan jatuh
3. Melakukan penanganan terkait nyeri kepala yang dirasakan akibat
Hipertensi
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

4. Melakukan konseling untuk membantu klien dalam mengemukakan


masalah yang dihadapi
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 4: Standar Operasional Prosedur

PENCEGAHAN JATUH
(FALL PREVENTION)
PADA LANSIA
PSIK
UNIVERSITAS JEMBER
PROSEDUR TETAP NO
NO REVISI: HALAMAN:
DOKUMENTASI:
TANGGAL TERBIT: DITETAPKAN OLEH:
1. PENGERTIAN Pencegahan jatuh merupakan intervensi kompleks yang
dilakukan pada sejumlah orang dan melibatkan faktor risiko
lingkungan yang berhubungan dengan jatuh dengan
mengorganisir penyebab pada klien yang berisiko untuk
injuri karena jatuh
2. TUJUAN Mencegah iresiko injuri karena jatuh
3. INDIKASI Diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan jatuh,
yaitu klien dengan :
a. Risiko terjadinya injuri
b. Gangguan presepsi/sensori pendengaran
c. Gangguan presepsi/sensori penglihatan
d. Keterbatasan mobilitas fisik
e. Self care deficit
4. KONTRAINDIKASI -
5. PERSIAPAN PASIEN Kaji setiap keterbatasan yang dimiliki oleh klien sesuai
dengan indikasi dilakukannya intervensi pencegahan jatuh
pada lansia.
6. PERSIAPAN ALAT Sesuaikan dengan kebutuhan, keadaan klien, dan lingkungan
klien.
7. CARA KERJA a. Identifikasi keterbatasan kognitif atau fisik yang dapat
meningkatkan potensi untuk jatuh
b. Identifikasi karakteristik lingkungan yang dapat
meningkatkan potensi untuk jatuh (lantai licin dan
tangga terbuka)
c. Monitor gaya berjalan, keseimbangan, dan tingkat
kelelahan saat ambulasi
d. Bantu klien yang masih lemah dalam melakukan
ambulasi
e. Sediakan alat bantu untuk ambulasi
f. Kunci roda pada kursi dan tempat tidur selama
memindahkan klien
g. Letakkan buku/majalah di tempat yang mudah dijangkau
oleh klien
h. Instruksikan agar klien memanggil asisten saat akan
bergerak, jika dibutuhkan
i. Ajarkan bagaimana cara pencegahan atau
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

meminimalkan jatuh
j. Gunakan tehnik yang aman saat memindahkan klien
k. Sediakan toilet duduk untuk memudahkan klien
l. Sediakan kursi dengan ketinggian yang cocok dengan
pegangan atau penyangga tangan
m. Gunakan tempat tidur dengan pinggiran yang kuat
n. Batasi aktivitas fisik untuk membatasi pergerakan yang
tidak aman
o. Tempatkan tempat tidur yang dekat dengan lantai
p. Bantu klien ke toilet
q. Gunakan alarm tempat tidur
r. Cegah lantai licin
s. Sediakan penerangan yang adekuat
t. Sediakan lampu malam disamping tempat tidur
u. Sediakan permukaan lantai yang merata
v. Sediakan lemari yang mudah dijangkau
w. Sediakan furniture yang berat yang dapat digunakan
untuk membantu berpegangan
x. Yakinkan klien untuk menggunakan sandal atau sepatu
yang tidak licin dan sesuaikan dengan ukuran kaki
y. Pendidikan kesehatan keluarga tentang faktor risiko
yang berhubungan dengan jatuh dan bagaimana cara
mengurangi faktor risiko tersebut, kemudian bantu
keluarga mengidentifikasi benda-benda berbahaya di
rumah dan bagaimana cara memodifikasinya
z. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk
meminimalkan efek samping obat-obatan yang dapat
menyebabkan klien jatuh.
8. HASIL a. Peningkatan pengetahuan mengenai keamanan lansia
b. Klen dan keluarga mampu mengontrol dan mendeteksi
risiko jatuh
c. Klien mempertahankan perilak aman pencegahan jatuh
d. Klien dan keluarga memperlihatkan perilaku aman
dalam memodifikasi lingkungan rumah
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 5: Materi

HIPERTENSI
A. Definisi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada
populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001). Menurut WHO ( 1978 ), tekanan
darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Berikut merupakan pengertian hipertensi dari beberapa ahli :
1. Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen,
1996).
2. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman
Sorensen,1996).
3. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic
B. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Darmojo, 1999):
1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg
dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160
mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu :
1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain

C. Etiologi

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya


perubahan – perubahan pada :

a. Elastisitas dinding aorta menurun


b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-


data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah
penderita hipertensi
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
3. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
Kegemukan atau makan berlebihan
Stress
Merokok
Minum alcohol
Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
1. Ginjal
2. Glomerulonefritis
3. Pielonefritis
4. Nekrosis tubular akut
5. Tumor
6. Vascular
7. Aterosklerosis
8. Hiperplasia
9. Trombosis
10. Aneurisma
11. Emboli kolestrol
12. Vaskulitis
13. Kelainan endokrin
14. DM
15. Hipertiroidisme
16. Hipotiroidisme
17. Saraf
18. Stroke
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

19. Ensepalitis
20. SGB
21. Obat – obatan
22. Kontrasepsi oral
23. Kortikosteroid

D. PATOFISIOLOGI / PATHWAY

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak


dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan
dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak
diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh


darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan


fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan


peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan
kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis
sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

E. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan


peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

2. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi


meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan
gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang


menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan,
Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.
Laporan PBL Komunitas III –PSIK Universitas Jember 2016

Lampiran 6: Media Leaflet