Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sesungguhnya ijtihad adalah suatu cara untuk mengetahui hukum sesuatu
melalui dalil-dalil agama yaitu Al-Qur'an dan Al-hadits dengan jalan istimbat.
Adapun mujtahid itu ialah ahli fiqih yang menghabiskan atau mengerahkan seluruh
kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap sesuatu hukum
agama. Oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada para mujtahid yang telah
mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menggali hukum tentang masalah-
masalah yang dihadapi oleh umat Islam baik yang sudah lama terjadi di zaman
Rosullulloh maupun yang baru terjadi. Kita telah mengetahui bersama bahwa sumber
hukum tertinggi dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Di dalam keduanya
terdapat hukum-hukum yang relevan dalam kehidupan kita bermasyarakat, beragama
dan menjalani kehidupan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Tanpa disadari,
keterikatan muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan
kekhawatiran akan jatuh dalam kekufuran, menjadikan setiap muslim berjanji untuk
mengikuti Al-Qur’an dan Hadits atau Sunnah. Tapi ada hal yang tidak dapat ditolak,
yakni adanya perubahan persepsi di kalangan muslim dalam memahami keduanya.
Dari dasar sumber yang sama ternyata muslimin memahami dengan berbeda. Awal
perbedaan ini, nampak jelas ketika Rasulullah SAW wafat. Al-Quran, dalam artian
wahyu atau kalam Ilahi dan penjelas dalam praktik kehidupan sehari-hari Nabi SAW
itu terhenti. Sebagian muslimin berpandangan bahwa periode dasar hukum telah
terhenti, sehingga mereka berpandangan hanya Al-Quran dan Sunnah Nabi saja
sebagai sumber hukum yang mutlak. Sebagian muslimin yang lain memiliki
pandangan dan keyakinan berbeda. Seiring berjalannya waktu, permasalahan-
permasalahan yang ditemui umat islam pun kian berkembang. Ketika permasalahan-
permasalahan tersebut tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui nash Al-Qur’an dan
Hadist secara eksplisit, timbul istilah ijtihad.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari ijtihad ?
2. Apa saja sumber hukum ijtihad ?
3. Bagaimana kedudukan ijtihad sebagai sumber hukum Islam ?
4. Bagaimanakah syarat-syarat seorang mujtahid ?
5. Apa saja Metodologi ijtihad?

C. TUJUAN
1. Memperluas wawasan tentang apa itu ijtihad.
2. Mengetahui apa saja sumber hukum ijtihad, syarat-syarat seorang mujtahid
,metodologi ijtihad, dan model-model ijtihad.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN IJTIHAD
Ijtihad berasal dari kata ijtahada yajtahidu ijtihadan yang berartu mengerahkan
segala kemampuan untuk menanggung beban. Menurut bahasa, ijtihad artinya
bersungguh-sungguh dalam mencurahkan pikiran. Sedangkan, menurut istilah, Ijtihad
adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara bersungguh-sungguh untuk
menetapkan suatu hukum. Oleh karena itu, tidak disebut ijtihad apabila tidak ada
unsur kesulitan di dalam suatu pekerjaan. Secara terminologis, berijtihad berarti
mencurahkan segenap kemampuan untuk mencari syariat melalui metode tertentu.
Ijtihad dipandang sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Quran dan
hadis, serta turut memegang fungsi penting dalam penetapan hukum Islam. Telah
banyak contoh hukum yang dirumuskan dari hasil ijtihad ini. Orang yang melakukan
ijtihad disebut mujtahid.
Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement.
Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu
mencakup dua pengertian:
a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak
ditentukan secara eksplisit oleh Al-Quran dan As-Sunnah.
b. Penggunaan pikiran dalam mengartikan, menafsirkan, dan mengambil
kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.
Tujuan adanya ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan
pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah SWT di tempat dan waktu tertentu.
Fungsi ijtihad adalah sebagai metode untuk merumuskan ketetapan-ketetapan hukum
yang belum terumuskan dalam Al-Quran dan Hadits. Meski Al-Quran diturunkan
secara sempurna dan lengkap, bukan berarti kehidupan manusia diatur secara detil
oleh Al-Quran dan Hadits. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al-
Quran dengan kehidupan modern, sehingga setiap saat masalah baru akan terus
berkembang dan diperlukan aturan aturan baru dalam melaksanakan ajaran islam
dalam kehidupan sehari-hari.
Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu
atau disuatu masa waktu tertentu, maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang
dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al-Quran dan Hadits.
Sekiranya sudah ada, maka persoalannya harus mengikuti ketentuan yang ada
berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Namun jika persoalannya merupakan perkara yang
tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al-Quran dan Hadits maka umat Islam
memerlukan ijtihad, tapi yang berhak membuat ijtihad adalah mereka yang paham Al-
Quran dan Hadits yang disebut dengan mujtahid.
B. SUMBER HUKUM IJTIHAD
Ada 2 dasar hukum diharuskannya ijtihad, yaitu :
1. Al-Qur’an
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri
di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS.An-nisa:59)
dan firman-Nya yang lain :
“...Maka ambillah ibarat, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS.Al-
Hasyr : 2)
Menurut Firman Allah SWT pertama, yang dimaksud dengan dikembalikan kepada
Allah dan Rasul ialah bahwa bagi orang-orang yang mempelajari Qur’an dan Hadits
supaya meneliti hukum-hukum yang ada alasannya, agar bisa diterapkan kepada
peristiwa-peristiwa hukum yang lain, dan hal ini adalah ijtihad. Pada firman kedua,
orang-orang yang ahli memahami dan merenungkan diperintahkan untuk mengambil
ibarat, dan hal ini berarti mengharuskan mereka untuk berijtihad. Oleh karena itu,
maka harus selalu ada ulama-ulama yang harus melakukan ijtihad. (Jalaluddin
Rahmat, Dasar Hukum Islam, hlm 163).
2. Al-Hadits
- Sabda Nabi SAW. :
- ْ َ َ
‫اب اجْ تَ َهدَ اذا ال َحا ِكم‬
ِ َ ‫ص‬ ِ ‫طأ َ جْ ت َ َهدَ َوا ِِن اَجْ َر‬
َ َ ‫ان فَلَه فَا‬ َ ‫احد ا َ ْجر فَلَه فَا َ ْخ‬
ِ ‫و‬.
َ (‫)مسلم و بخارى‬
“Hakim apabila berijtihad kemudian dapat mencapai kebenaran maka ia mendapat dua
pahala (pahala melakukan ijtihad dan pahala kebenaran hasilnya). Apabila ia
berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran, maka ia mendapat satu pahala (pahala
melakukan ijtihad)”.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
- Hadits yang menerangkan dialog Rasulullah SAW dengan Mu’adz bin Jabal,
ketika Muadz diutus menjadi hakim di Yaman berikut ini:
‫ب ِم ْن َح َمص ا َ ْه ِل ِ ِّم ْن أناَس َع ْن‬ ِ ‫ص َحا‬ْ َ‫ث أ َ ْن أ َ َرادَ لَما للاِ َرس ْول ِإن َج َب ِل ب ِْن م َعاذ أ‬ َ ‫قَا َل ْال َي َم ِن ا ِل‬: ‫ْف‬
َ ‫ي م َعاذًا َي ْب َع‬ َ ‫َكي‬
‫ض‬ ِ ‫ض ت َ ْق‬ َ ‫ضاء؟ لَكَ ِإذَا َع َر‬
َ َ‫قَا َل ق‬: ‫ضى‬ ِ ‫ب أ َ ْق‬
ِ ‫للاِ ِب ِكتَا‬. ‫قَا َل‬: ‫ب فِي ت َِجدْ لَ ْم فَإ ِ ْن‬ِ ‫قَا َل للا؟ ِكتَا‬: ‫للاِ َرس ْو ِل فَ ِبسن ِة‬. ‫قَا َل‬:
‫ب فِي َو َل للاِ َرس ْو ِل سن ِة فِي ت َِجدْ لَ ْم فَإِ ْن‬ ِ ‫قَا َل للاِ؟ ِكتَا‬: ‫ْئ اَجْ ت َ ِهد‬ ِ ‫و َلآل ْو َراي‬.
َ ‫ب‬ َ ‫ض َر‬ َ َ‫للا َرس ْول ف‬ ِ ‫صد َْره‬ َ ‫وقَا َل‬:
َ
‫لِل‬ ‫د‬
ِ ِ َ ْ ‫م‬
ْ ‫ح‬ ْ
‫ل‬ َ ‫ا‬ ‫ي‬ ‫ذ‬
ِ ‫ال‬ َ‫ق‬ ‫ف‬ ‫و‬ ‫ل‬
َ ‫و‬‫س‬ ‫ر‬ ‫ل‬ ‫و‬
َ ْ َ ِ ْ َ ِ ‫س‬ ‫ر‬ ‫للا‬ ‫ا‬ ‫م‬َ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ض‬ ‫ر‬ْ ‫ي‬
َ َ ْ َ ِ ‫ل‬ ‫و‬‫س‬ ‫ر‬ ‫للا‬ (‫رواه‬ ‫بوداود‬ ‫ا‬ ).
“Diriwayatkan dari penduduk homs, sahabat Muadz ibn Jabal, bahwa Rasulullah saw.
Ketika bermaksud untuk mengutus Muadz ke Yaman, beliau bertanya: apabila
dihadapkan kepadamu satu kasus hukum, bagaimana kamu memutuskannya?, Muadz
menjawab:, Saya akan memutuskan berdasarkan Al-Qur’an. Nabi bertanya lagi:, Jika
kasus itu tidak kamu temukan dalam Al-Qur’an?, Muadz menjawab:,Saya akan
memutuskannya berdasarkan Sunnah Rasulullah. Lebih lanjut Nabi bertanya:, Jika
kasusnya tidak terdapat dalam Sunnah Rasul dan Al-Qur’an?,Muadz menjawab:, Saya
akan berijtihad dengan seksama. Kemudian Rasulullah menepuk-nepuk dada Muadz
dengan tangan beliau, seraya berkata:, Segala puji bagi Allah yang telah memberi
petunjuk kepada utusan Rasulullah terhadap jalan yang diridloi-Nya.”(HR.Abu
Dawud).
C. KEDUDUKAN IJTIHAD
Berbeda dengan Al-Quran dan Hadits , ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan
berikut:
a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang
mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang
relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif, maka keputusan daripada
suatu ijtihad pun adalah relatif,
b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang
tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa/tempat tapi tidak
berlaku pada masa/tempat yang lain,
c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah (murni). Sebab
urusan ibadah mahdhah hanya oleh Allah SWT dan Rasulullah,
d. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, dan
e. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motivasi,
akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama, dan nilai-nilai yang menjadi
ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.

D. SYARAT-SYARAT MUJTAHID
Orang-orang yang mampu berijtihad disebut mujtahid. Agar ijtihadnya dapat
di pertanggungjawabkan, seorang mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. Di
bawah ini ada 3 ulama-ulama terkemuka yang berargument mengenai pensyaratan
terhadap sesorang mujtahid diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Imam ghozali mensyaratkan terhadap seorang mujtahid ada dua hal, diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang hukum-hukum syara’, tidak
hanya itu, seorang mujtahid juga di tuntut untuk mendahulukan sesuatu yang
wajib di dahulukan dan mengakhirkan sesuatu yang wajib di akhirkan.
2. Seorang mujtahid harus adil dan juga harus menjauhi perbutan ma’siat yang
bisa menghilangkan sifat keadilan seorang mujtahid. Syarat ini bisa untuk
menjadi pegangan oleh para mujtahid, tapi kalau seorang mujtahid tidak adil
maka hasil ijtihadnya tidak syah atau tidak boleh untuk di jadikan sebuah
pegangan oleh orang awam.

b. Imam As-Syatiby : seorang yang ingin mencapai derajat mujtahid harus bisa
memenuhi dua syarat di bawah ini:
1. Bisa memahami tujuan syariat secara sempurna,
2. Bisa menggali suatu hukum atas dasar pemahaman seorang mujtahid.
3. Sayf al-Din al-Amidi seorang mujtahid harus memenuhi beberapa syarat di
antaranya adalah sebagai berikut:
 Seorang mujtahid harus mukallaf, iman kepada allah SWT dan
rosululloh SAW.
 Seorang mujtahid harus bisa memahami dan mengerti tentang hukum
syariat islam serta dalil yang menunjukan pada keabsahan hukum
syariat tersebut.
Selain dari pendapat 3 ulama terkemuka tersebut para ulama ushul fiqih juga telah
menetapkan syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang mujtahid sebelum
melakukan ijtihad diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui Bahasa Arab dengan Baik.
2. Mempunyai pengetahuan yang Mendalam tentang Al-Qur’an.
3. Mempunyai Pengetahuan yang Memadai tentang As-Sunnah.
4. Mengetahui Letak dan Khilaf.
Pengetahuan tentang hal-hal yang telah di sepakati (ijma’) dan hal-hal yang
masih di perselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagib seorang mujtahid. Halz ini di
maksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum yang dengan ijma’ para
ulama sebelumnya, baik sahabat, tabi’in maupun generasi setelah itu. Oleh karena itu
sebelum membahas suatu permasalahan, seorang mujtahid harus melihat dulu status
persoalan yang akan di bahas,apakah persoalan itu sudah pernah muncul pada zaman
dahulu apa belum , maka dapat di pastikan bahwa belum ada ijma’ terhadap masalah
tesebut.
5. Mengatahui Tujuan dari Syariat Islam.
Pengetahuan tentang tujuan syari’at islam sangatlah di perlukan bagi seoarang
mujtahid, hal ini di sebabkan karena semua keputusan hukum harus selaras dengan
tujuan syari’at islam yang secara garis besar adalah untuk memberi rahmat kepada
alam semesta, khususnya untuk kemaslahatan umat manusia. Oleh karena itu hukum
yang di tetapkan seoarang mutahid harus mampu memelihara tiga tingkatan
kemaslahatan manusia yaitu primer, skunder, dan tersier. Seperti menghilangkan
kesulitan dan mencegah kesempitan, serta memilih kemudahan dan meninggalkan
kesukaran. Jika kesukaran (masaqah) terpaksa di berlakukan dalam tuntutan syari’at
islam, maka pada hakikatnya hal itu untuk menolak datangnya masaqah yang lebih
besar.
6. Memiliki Pemahaman dan Penalaran yang Benar.
Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus di
miliki oleh seorang mujtahid agar produk ijtihadnya bisa di pertanggung jawabkan
secara ilmiah di kalangan masyarakat.
7. Memiliki pengetahuan tentang Ushul Fiqih.
Penguasaan secara mendalam tantang ushul fiqih merupakan kewajiban setiap
mujtahid. Hal ini di sebabkan karena kajian ushul fiqih antara lain memuat bahasan
mengenai metode ijtihad yang harus di kuasai oleh siapa saja yang ingin beristimbat
hukum.
8. Mengetahui tentang Manusia dan Lingkungan Sekitarnya.
Seorang mujtahid di haruskan untuk mengetahui kehidupan manusia dan lingkungan
sekitarnya, hal ini di sebabkan karena seseorang tidak mungkin memutuskan suatu
hukum tanpa di pengaruhi oleh obyek hukum baik individu maupun masyarakat.
9. Niat dan I’tiqad yang benar.
Seorang mujtahid harus niat ikhlas dengan mencari ridho allah SWT, hal ini di
sebabkan karena seorang mujtahid yang mempunyai niat tidak ikhlas sekalipun daya
pikirnya tinggi, maka peluang untuk membelokan jalan pikirannya sangat besar
sehingga berakibat kesalahan produk ijtihadnya.

E. BENTUK DAN METODOLOGI IJTIHAD


Dilihat dari pelaksanaannya, ijtihad dibagi dua macam, yaitu ijtihad fardhi dan
ijtihad jama’i. Ijtihad fardhi adalah ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid secara
pribadi. Sedangkan ijtihad jamai’ adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mujtahid
secara berkelompok.
1. Ijtihad Fardi
Yaitu Setiap ijtihad yang dilakukan oleh perorangan atau beberapa orang tak
ada keterangan bahwa semua mujtahid lainnya menyetujuinya dalam suatu perkara.
Ijtihad semacam inilah yang pernah dibenarkan oleh rasul kepada Muaz ketika
menggutus beliau untuk menjadi qadhi di yaman dan sesuai pula yang pernah
dilakukan Umar bin khatap kepada Abu Musa Al-Asyary, kepada Syuraikh dimana
beliau (Umar) dengan tegas mengatakan kepada Syuraikh yang artinya:

“Apa-apa yang belum jelas bagimu didalam as-sunah maka berijtihadlah


padanya dengan menggunakan daya pikiranmu.”

Dan kata Umar kepada Abu Musa Al-Asyary yang artinya:

“Kenalilah penyerupaan-penyerupaandan tamsilan-tamsilan dan qiyaskanlah


segala urusan sesudah itu.”

2. Ijtihad Jami’i
Yaitu setiap Ijtiihad yang dilakukan oleh para mujtahid untuk menyatukan
pendapat-pendapatnya dalam suatu masalah .Terdapat korelasi diantara keduanya
bahawa tidak mungkin akan terjadinya Ijtihad Jama’i apabila tidak dilakukan terlebih
dahulu ijtihad yang bersifat Fardi. Karena Ijtihad Jama’I itu adalah suatu metode
ijtihad yang dilakukan untuk menyatukan semua pendapat yang dihasilkan dari ijtihad
Fardi tersebut, dan mencari titik temu dari semua perbezaan tersebut sebagaimana
yang diutarakan diatas. [9] Ijtihad semacam ini yang dimaksud oleh hadist Ali pada
waktu beliau menanyakan kepada rasul tentang urusan yang menimpa masyarakat
tidak diketemukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan sunah. Ketika itu nabi bersabda
yang artinya :

“Kumpulkanlah untuk menghadapi masalah itu orang-orang yang berilmu dari


masing-masing orang mu’min dan jadikanlah hal ini masalah yang dimusyawarahkan
diantara kamu dan janganlah kamu memutuskan hal itu dengan pendapat orang
seorang.”
(HR. Ibnu Abd barr)
Disamping itu Umar juga pernah berkata kepada Syuraikh yang artinya :

“Dan bermusyawarahlah (bertukar pikiran) dengan orang-orang sholeh.”

Diriwayatkan oleh Maimun bin Mihran bahwasanya Abu bakar dan


Umar apabila keduanya menghadapi sesuatu hal yang tidak ada hukumnya didalam
Al-Qur’an dan sunah maka keduanya mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dan
menanyakan pendapat-pendapat mereka. Apabila mereka telah menyepakati sesuatu
pendapat merekapun menyelesaikan hal itu dengan pendapat itu.

Sedangkan metode yang umumnya digunakan dalam berijtihad yaitu :

 Ijma'
Kebulatan pendapat atau kesepakatan semua ahli ijtihad ummat setelah
wafatnya nabi pada suatu masa tentang suatu hukum. Seperti mendirikan
Negara bagi masyarakat Islam dan mengangkat pemimpin bagi umat,
pembukuan Al Quran dan sebagainya.
Ijma terdiri atas ijma qauli (ucapan), dan ijma sukuti (diam). Ijma qauli
yaitu, para ulama mujtahidin menetapkan pendapatnya baik dengan ucapan
maupun dengan tulisan yang menerangkan persetujuan atas pendapat mujtahid
lain di masanya. Ijma sukuti yaitu, ketika para ulama mujtahidin berdiam diri
tidak mengeluarkan pendapatnya atas hasil ijtihad para ulama lain, diamnya
itu bukan karena takut atau malu.
 Qiyas
Menetapkan suatu perbutan yang belum ada ketentuan hukumnya,
berdasarkan suatu hukum yang sudah ditentukan oleh nash, didasarkan adanya
persamaan diantara keduanya. Contoh hukum berKB era sekarang dengan
sistem ‘azl pada zaman Nabi saw. Karena ada kesamaan ‚ilat hukum (sebab
dan tujuan), KB era sekarang dan sistem ‚azl sama-sama cara berKB maka
para ulama sepakat menetapkan bolehnya ber-KB. Contoh lainnya zakat padi.
Nash yang sudah ada hanya menyebutkan gandum, bukannya padi. Karena ada
kesamaan ‚ilat hukum (sebab dan tujuan), padi dan gandum sama-sama
makanan pokok, maka para ulama sepakat menetapkan wajibnya zakat atas
padi.
 Istihsan
Merupakan perluasan dari qiyas, yang dimaksud dengan istihsan adalah :
1) Meninggalkan qiyas jalli (qiyas nyata) untuk menjalankan qiyas khafi
(qiyas samar-samar) atau meninggalkan hukum kulli (hukum umum) untuk
menjalankan hukum istisna’i (pengecualian).
2) Menetapkan suatu hukum yang berlainan dengan hasil qiyas karena
pertimbangan kepentingan dan kemaslahatan umat untuk menghindarkan
terjadinya kesulitan dan kezaliman. Contoh : Islam hanya membenarkan
transaksi jual beli jika barangnya sudah nyata-nyata ada. Praktek salam,
yakni jual beli dengan cara bayar duluan sementara barangnya belakangan
dilarang oleh Islam. Tentu saja maksudnya agar tidak terjadi kecurangan.
Tapi zaman berkembang dan sistem transaski bisnis bergerak lebih cepat.
Seringkali produsen tidak sanggup menyediakan barang yang dibutuhkan
pelanggan karena keterbatasan modal. Atas dasar kebutuhan dan
kepercayaan, pelanggan akhirnya membayar duluan, sementara barang
yang dipesannya baru diproduksi setelah pelanggan membayar (penuh atau
sebagian) dari keseluruhan harga barang yang dipesannya. Pembayaran
secara salam tersebut merupakan “kekecualian“ dari salam yang umum.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasakan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa secara bahasa,
ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu
penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum
tertentu yang tidak ditetapkan dalam Al-Quran dan Hadits. Kedudukan ijtihad
sebagai sumber hukum Islam adalah sebagai sumber hukum ketiga setelah Al-Quran
dan Al-Hadits. Metodologi ijtihad diantaranya yaitu ijma, qiyas, istihsan.

B. SARAN
Setelah mempelajari tentang materi Ijtihad Sumber Dan Metodologi Hukum
Islam ini, ada baiknya para mahasiswa lebih memperdalam lagi pengetahuan dalam
ilmu agama Islam. Dengan begitu, jika suatu saat didalam lingkungan masyarakat
menemukan permasalahan yang perlu di ijtihadkan atau setidaknya ditemukan jalan
keluarnya, yang perlu di pikirkan secara matang tentang kebenarannya akan lebih
mudah menganalisisnya karna sudah mempunyai bekal yang banyak dalam ilmu
agama. Karena jika suatu hal di ijtihadkan, maka hasil dari ijtihadnya tersebut, hasil
dari pemikiran matangnya akan suatu permasalahan, tidak boleh salah atau
menyimpang dari ajaran Islam. Disamping itu, jika hal yang di ijtihadkan benar,
sesuai dengan ajaran Islam maka kita juga akan mendapatkan kebaikan dari Allah
Swt.