Anda di halaman 1dari 9

APRESIASI DAN KAJIAN DRAMA

Nama : Moch. Hasan Setiadi

Nim : 17210131

Kelas : B3 2017 ( Kelas Malam )

Dosen pembimbing : Agus Priyanto, M.Sn.

A. Definisi Apresiasi Drama menurut para ahli


1. Menurut Herman J. Waluyo (2002: 44) berpendapat bahwa apresiasi biasanya dikaitkan
dengan seni. Apresiasi drama berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan
drama, yaitu mendengar dan berakting dengan penuh penghayatan yang sungguh-sungguh.
Kegiatan ini membuat orang mampu memahami drama secara mendalam, merasakan cerita
yang ditayangkan, serta mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam drama dan
menghargai drama sebagai seni dengan kelebihan dan kelemahannya.
2. Menurut Howes (1986:6-7) pengajar drama perlu menerapkan beberapa strategi
pengayaan, yaitu: (1) diskusi kelas. Diskusi dapat diawali dengan menonton rekaman
drama; (2) kunci pemaknaan adalah pemahaman karakter tokoh; (3) perhatikan tata
panggung, seperti tata lampu, amat penting sebagai pendukung makna; (4) bentuk-bentuk
teatrikal juga mendukung tema serta karakter tokoh, (5) pemahaman ditingkatkan dengan
menarik minat dan perhatian subjek didik. Pengayaan dimaksudkan untuk menambah
kepekaan apresiasi dan kelak mampu bermain drama.
3. Menurut Ardiana (1990) mengapresiasi karya drama seharusnya dilakukan dengan
mengakrabi, menggauli dengan sungguh-sungguh drama itu, agar memperoleh
pengalaman yang hakiki. Mengakrabi drama mengandung makna bahwa subjek didik
harus membaca, menonton, mencermati drama itu, memahaminya, menikmatinya,
menghargainya, mengenal secara mendalam terhadap pengalaman manusia yang indah
dalam drama
4. Menurut Budianta dkk (2002), Drama adalah genre sastra yang menunjukkan penampilan
fisik secara lisan setiap percakapan atau dialog antara pemimpin di sana.
5. Menurut Tim Matrix Media Literata, Drama adalah bentuk narasi yang menggambarkan
kehidupan dan alam manusia melalui perilaku (akting) yang dipentaskan.
6. Menurut Seni Handayani, Drama adalah bentuk komposisi berdasarkan dua cabang seni,
seni sastra dan seni pertunjukan sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam
bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.
7. Menurut Wildan, Drama adalah komposisi berdasarkan beberapa cabang seni, sehingga
drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.
8. Menurut KBBI, drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai
komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak
melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah
terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan
teater. Ketiga, kejadian yan menyedihkan.
9. Menurut E. R. Reaske drama adalah sebuah karya sastra atau sebuah komposisi yang
menggambarkan kehidupan dan aktivitas manusia dengan segala penampilan, berbagai
tindakan dan dialog antara sekelompok tokoh di dalamnya.
10. Menurut Tjahjono, drama diciptakan bukan untuk dibaca saja, namun juga harus memiliki
kemungkinan untuk dipentaskan. Drama sebagai tontonan atau pertunjukan disebut dengan
istilah teater yang memiliki sifat ephemeral, yang berarti bermula pada suatu malam dan
berakhir pada malam yang sama.
B. Definisi apresiasi drama menurut saya
Apresiasi drama yaitu sebuah kegiatan menghayati atau menghargai sebuah karya sastra
pertunjukan seni yang menceritakan sifat dan karakter manusia melalui kata kata dan gerak.
C. Jenis – jenis drama
- Drama tradisional
1. Ketoprak, Teater Tradisional Dari Yogyakarta
Ketoprak merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak
berkembang di daerah Yogyakarta. Meskipun demikian, awal mula keberadaan
teater tradisional ini dipercaya berasal dari daerah surakarta atau yang saat ini
bernama Kota Solo.
Di zaman dahulu, iringan musik dari teater tradisional ketoprak ini hanya berupa
musik seadanya saja, seperti halnya menggunakan lesung atau alat penumpuk padi
dan kendang. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, saat ini kesenian
ketoprak cenderung lebih banyak diiringi oleh beberapa alat musik tradisional,
seperti gamelan Jawa.
Kesenian ketoprak pada umumnya tidak hanya menyajikan 1 atau 2 jenis cerita
saja, akan tetapi juga menyajikan beberapa cerita lainnya, seperti epos ramayana
dan juga kisah 1001 malam. Cerita-cerita tersebut biasanya akan dipentaskan oleh
para pemain ketoprak dengan menggunakan beberapa penyesuaian tokoh yang
diperankan.
2. Wayang Wong, Teater Tradisional Dari Jawa
Wayang Wong atau yang artinya adalah wayang orang ini adalah seni teater
tradisional nusantara yang tumbuh dan berkembang di tanah Jawa, baik itu di
Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, maupun di Yogyakarta. Dalam
pementasannya, kesenian wayang wong ini pada umumnya banyak mengambil dari
cerita kisah pewayangan dan mempunyai pakem alur cerita tertentu, yakni alur
cerita yang ditampilkannya tidak diperbolehkan untuk dirubah.
Selain itu, para pemain dari kesenian wayang wong biasanya akan memakai
beberapa busana, aksesoris, dan properti lainnya seperti halnya wayang. Untuk
kisahnya sendiri, wayang wong biasa mengangkat beberapa kisah yangg berasal
dari kisah Ramayana dan Mahabaratha.
3. Lenong, Teater Tradisional Dari Betawi Jakarta
Lenong merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh dari masyarakat Betawi di Jakarta. Kesenian ini umumnya dikemas
dengan banyolan (candaan) dan juga selingi oleh musik. Sementara dalam
pertujukannya, dialog-dialog yang diucapkan oleh para pemain kesenian lenong
juga memakai logat khasnya, yaitu khas betawi.
4. Mendu, Teater Tradisional Dari Kepulauan Riau
Mendu merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh di Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Kalimantan Barat. Kesenian
ini pada umumnya lebih cenderung ke dalam seni drama yang dikombinasikan
dengan beberapa seni, seperti seni tari, silat, dan pantun. Dalam pertunjukannya,
kesenian mendu ini biasanya akan diawali oleh beberapa tarian tradisional khas
melayu yang ada di Kepulauan riau maupun di Kalimantan Barat. Di tahun 2014
kemudian pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
mengumumkan bahwa Seni Teater Mendu merupakan Warisan budaya tak benda
milik bersama Provinsi kepulauan Riau dan Provinsi Kalimantan Barat.
5. Mamanda, Teater Tradisional dari Kalimantan Selatan
Mamanda merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang berkembang dan
tumbuh di Provinsi Kalimantan Selatan. Satu yang paling unik dan menarik pada
kesenian ini, dimana busana yang dipakai di dalam pertunjukannya cenderung
dibuat gemerlap dan juga mewah.
Selain itu, pertunjukan dari kesenian Mamanda ini ternyata mempunyai kesamaan
dengan kesenian lainnya yang berasal dari betawi, yaitu kesenian Lenong. Hal ini
dikarenakan interaksi antar para pemain dan juga penonton sangat aktif, dimana
para penonton pada kesenian ini juga bisa berseloroh dan juga berkomentar atas
beberapa adegan yang dipertunjukkannya.
Hingga sampai saat ini, kesenian Mamanda ini lebih banyak menampilkan cerita
yang bertemakan istanasentris yang banyak membahas beberapa tentang kehidupan
raja dan bawahannya. Meskipun demikian, pada kesenian Mamanda ini dialog dari
para pemainnya tidak terikat oleh sebuah naskah, sehingga para pemainnya bisa
berimprovisasi dengan sesuka hatinya.
6. Ludruk, Teater Tradisional Dari Jawa Timur
Ludruk merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh di Provinsi Jawa Timur. Dalam pertunjukannya, kesenian ludruk ini
umumnya kerap dimainkan diatas panggung dengan membawa tema utama tentang
keseharian dikehidupan masyarakyat.
Selain itu, kesenian ludruk juga terkadang mengambil beberapa cerita yang
bertemakan tentang perjuangan di dalam melawan para penjajahan atau sebuah
kisah 1001 malam. Sama seperti teater tradisional lainnya, dimana dalam
pementasannya, kesenian ludruk ini juga tidak sepenuhnya mempertunjukan
drama, akan tetapi juga akan diselingi oleh seni musik dan guyonan. Hal yang unik
pada kesenian ini adalah saat pertunjukannya akan diawali dengan tarian tradisional
khas Jawa Timur, yaitu Tari Remo.
7. Longser, Teater Tradisional Dari Jawa Barat
Longser merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak tumbuh dan
berkembang di Provinsi Jawa Barat. Longser sendiri adalah akronim dari Melong
atau melihat dan Seredet atau tergugah, jadi jika diartikan longser ini mempunya
arti yaitu jika siapapun yang melihat akan tergugah.
Dalam pertujukannya, kesenian longser biasanya akan meninggalkan bebera kesan
yang sederhana, jenaka, dan juga menghibur. Selain itu, kesenian longser juga lebih
banyak menambil beberapa cerita yang berasal dari kehidupan sehari-hari.
8. Randai, Teater Tradisional Dari Minangkabau
Randai merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh di daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat. Dalam
pertunjukannya, kesenian randai ini umumnya menggunakan irama dendang yang
disertai dengan dialog gurindam di dalam menyampaikan sebuah pesan. Sementara
untuk alat musiknya, kesenian ini biasanya akan diiringi oleh alat musik tradisional,
seperti Gendang, Talempong, dan Puput.
9. Kondobuleng, Teater Tradisional Dari Makasar
Kondobuleng merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak
berkembang dan tumbuh dari kebudayaan masyarakat Bugis di Makasar. Kata
kondobuleng pada kesenian ini sendiri berasal dari 2 kata, yaitu "Kondo" yang
artinya "bangau" dan "buleng" yang artinya adalah "putih". Jadi jika diartikan
secara keseluruhan, kondobuleng ini artinya adalah bangau putih. Dalam
pertunjuakannya, kesenian kondobuleng ini pada umumnya akan dipentaskan
dengan gaya yang jenaka atau lucu.
10. Dulmuluk, Teater Tradisional Dari Sumatera Selatan
Dulmuluk merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak
berkembang dan tumbuh di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Nama
Dulmuluk pada kesenian ini sendiri diambil dari tokoh cerita yang ada didalam
"Hikayat Abdoel Moeloek". Untuk pertunjukannya sendiri, kesenian dulmuluk
umumnya hanya memadukan beberapa unsur seni saja, seperti halnya seni
menyanyi, tari-tarian, dan seni drama.
11. Topeng Banjet, Teater Tradisional Dari Karawang Jawa Barat
Topeng Banjet merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak
berkembang dan tumbuh di Karawang, Provinsi Jawa Barat. Dalam
pertunjukannya, kesenian Topeng Banjet biasanya akan diirama oleh gamelan. Jika
diliat secara seksama, iringan dari kesenian Topeng Banjet ini ternyata mempunyai
kemiripan bunyi di dalam gamelan Bali.
12. Maknyong, Teater Tradisional Dari Kepulauan Riau
Maknyong merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak
berkembang dan tumbuh di Mantang, yaitu salah satu pulau yang letak
geografisnya berada di Provinsi Kepulauan Riau. Pada zaman dahulu, kesenian
Makyong ini hanyalah berupa beberapa seni saja, seperti seni tari dan seni
menyanyi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, kesenian Maknyong ini
pun mulai banyak mengadopsi dari beberapa cerita, seperti cerita rakyat maupun
cerita legenda.
Dalam pertunjukanya, kesenian ini lebih cenderung di dominasi oleh beberapa
unsur seni, seperti seni tari-tarian, nyanyian, dan beberapa humor jenaka. Selain itu,
wajah para pemain pria kesenian Maknyong ini selalu ditutupi dengan topeng. Hal
ini justru berbeda bagi tokoh wanita, dimana tokoh wanita tidak akan ditutupi oleh
topeng seperti halnya tokoh pria.
13. Bakaba, Teater Tradisional Dari Sumatera Barat
Bakaba merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh di Provinsi Sumatera Barat. Dalam pertunjukannya, kesenian bakaba
umumnya hanya dituturkan dan disajikan oleh 2 (dua) orang tukang Kaba saja,
dimana salah satunya akan berperan sebagai pencerita, sementara satunya lagi akan
berperan sebagai pengiring musik. Kesenian bakaba ini biasanya hanya dipentaskan
dibeberapa acara penting saja, seperti acara upacara perkawinan, pesta panen, atau
acara saat seseorang menggelar syukuran atas rumah baru.
14. Lenong Denes, Teater Tradisional dari Betawi Jakarta
Lenong merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh dari kebudayaan masyarakat betawi. Dalam pertunjukannya, kesenian
ini cenderung lebih menceritakan tentang kehidupan yang ada didalam istana serta
beberapa cerita yang diambil dari "kisah 1001 malam". Karena dalam
pertunjukannya yang lebih berceritakan kepada seputar kehidupan kerajaan, maka
kostum atau busana yang dipakainya juga busana yang mewah dan juga gemerlap
sesuai dengan latar ceritanya.
15. Ubrug, Teater Tradisional Dari Banten
Ubruk merupakan salah satu teater tradisional nusantara yang banyak berkembang
dan tumbuh di Provinsi Banten. Kesenian ubrug umumnya hanya diiringi oleh alat
musik gamelan saja. Kisah yang dipentaskannya pun juga lebih cenderung
mengambil kepada lakon yang berasal kehidupan sehari-hari, ataupun kisah
kepahlawanan.
- Drama modern
1. Opera
Opera merupakan jenis drama di mana dialog dalam drama tersebut disampaikan
dengan cara dinyanyikan serta diiringi musik. Drama jenis ini berkembang pesat di
daratan Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Opera umumnya dimainkan
oleh penyanyi dan diiringi orchestra lengkap. Salah satu contoh music opera
terkenal adalah “Le nozze di Figaro” (The Marriage of Figaro) karya dari Wolfgang
Amadeus Mozart. Salah satu karya terkenal dari Mozart lainnya adalah Don
Giovanni.
2. Melodrama
Hampir mirip dengan opera, melodrama merupakan perpaduan antara seni peran
dan musik. Yang membedakannya dialog pada melodrama diucapkan sebagaimana
biasa hanya saja tetap diiringi dengan musik. “The Heiress” merupakan salah satu
contoh melodrama terkenal yang adaptasi dari novel karya Henry James, “The
Washington Square”. Drama ini mengisahkan tentang seorang putri seorang dokter
kaya, Catherine, yang jatuh pada seorang pemuda, Morris Townsend. Salah satu
contoh melodrama terkenal lainnya adalah drama yang bertajuk “Mamma Mia”.
3. Sendratari
Sendratari merupakan jenis drama yang memadukan seni peran dengan seni tari.
Aktris dan aktor yang memainkan drama ini mengucapkan dialog secara biasa,
namun pada bagian bagian penting suatu drama (misal peperangan, adegan
bermesraan) disampaikan lewat tarian. Sendratari yang terkenal di Indonesia salah
satunya adalah Sendratari Ramayana yang dipentaskan di pelataran Candi
Prambanan.
4. Pantomim
Pantomim adalah pertunjukan teater tanpa kata-kata yang dimainkan dengan gerak
dan ekspresi wajah, serta biasanya diiringi musik. Dari definisi ini, pantomim
merupakan seni pertunjukan yang penampilannya lebih mengandalkan gerak-gerik
tubuh dan ekspresi wajah.
5. Kabaret
Kabaret adalah sebuah pertunjukan atau pementasan seni yang berasal dari Dunia
Barat di mana biasanya ada hiburan berupa musik, komedi dan seringkali sandiwara
atau tari-tarian. Perbedaan utama antara kabaret dengan pertunjukan lainnya adalah
tempat pertunjukannyaâ restoran atau kelab malam dengan sebuah panggung
pertunjukan dan penontonnya yang duduk mengelilingi meja-meja (seringkali
sambil makan atau minum) dan menyaksikan pertunjukannya. Tempatnya sendiri
seringkali juga disebut "kabaret". Pada peralihan abad ke-20, terjadi perubahan
besar dalam budaya kabaret. Para penarinya termasuk Josephine Baker dan penari
waria Brasil João Francisco dos Santos (alias Madame Satã). Pertunjukan-
pertunjukan kabaret dapat beraneka ragam dari satire politik hingga hiburan ringan,
masing-masing diperkenalkan oleh seorang master of ceremonies (MC), atau
pembawa acara.
6. Monolog
Monolog adalah istilah keilmuan yang diambil dari kata mono yang artinya satu
dan log dari kata logi yang artinya ilmu.Secara harfiah monolog adalah suatu ilmu
terapan yang mengajarkan tentang seni peran di mana hanya dibutuhkan satu orang
atau dialog bisu untuk melakukan adegan / sketsa nya . Kata monolog lebih banyak
ditujukan untuk kegiatan seni terutama seni peran dan teater
7. Farce
Drama jenis ini merupakan drama yang menyerupai dagelan, namun bukan
sepenuhnya drama tersebut merupakan dagelan. Drama ini biasanya berisi tentang
kejadian yang ditanggapi secara berlebihan (overeacts) serta humor humor
slapstick. Salah satu contoh farce terkenal adalah drama karya Oscar Wilde yang
berjudul “The Importance of Being Earnest”. Drama ini merupakan drama bergaya
Victorian yang menceritakan tentang seorang pemuda yang menggunakan dua
identitas berbeda untuk menemui dua orang wanita yang berbeda.