Anda di halaman 1dari 12

HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) & 4C

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah Kajian Isu-isu
Global Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu : Mimin Sahmini, S.S., M.Pd.

Disusun oleh :

Muhamad Sofyan 17210136

Moch. Hasan Setiadi 17210131

Yosi Pratama 17210134

Novi Setiawati 17210201

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA

IKIP SILIWANGI BANDUNG


2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Kajian Isu-isu
Global Bahasa Indonesia dengan judul “Higher Order Thinking Skill (HOTS) & 4C”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya


kepada guru Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis makalah
ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih..

Cimahi, 30 Juni 2019

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................ 2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................................... 4


B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
C. Tujuan ....................................................................................................... 4
D. Metode Penulisan ...................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Higher Order Thinking Skill (HOTS) ..................................... 5


B. Pengembangan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) .................... 6
C. 4C .............................................................................................................. 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................... 10
B. Saran ......................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 11

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah


perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 (K-13).
Sejalan dengan implementasi K-13, guru diharapkan mengubah paradigma
pembelajaran yang awalnya berpusat kepada guru (teacher centered) menjadi
berpusat kepada siswa (sudent centered), dan mengembangkan model
pembelajaran kolaboratif dan serta kooperatif sehingga para siswa memiliki
pengalaman belajar yang bermakna, mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan
mampu menyelesaikan masalah.

Diimplementasikannya kurikulum 2013 (K-13) membawa konsekuensi guru


yang harus semakin berkualitas dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran.
Mengapa demikian? Karena K-13 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik
(5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/
mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Lalu optimalisasi peran guru dalam
melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang


memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi:
Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan
Creative and Innovative. Kompetensi abad 21 menjadi modal penting untuk
melahirkan generasi bangsa yang disamping kompeten dan kompetitif, juga
memilih jiwa tangguh di tengah persaingan global dan regional yang semakin
ketat.

Selanjutnya ada integrasi literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)


dalam proses belajar mengajar (PBM). Pembelajaran pun perlu dilaksanakan
secara kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik
sesuai dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran
tercapai.

Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan


Anderson, kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order

3
Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui), C-2 (memahami), C3 (mengaplikasikan)
dan HOTS (Higher Order Thinking Skills), yaitu C-4 (mengalisis), C-5
(mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud HOTS ?
2. Bagaimana proses HOTS dalam pembelajaran ?
3. Bagaimana contoh soal HOTS ?
4. Apa yang dimaksud dengan 4C?

C. Tujuan
1. Memahami apa yang dimaksud dari HOTS
2. Mengetahui proses HOTS dalam pembelajaran
3. Mengetahui contoh-contoh soal HOTS
4. Memahami apa itu 4C

D. Metode Penulisan
Metode yang di pakai dalam karya tulis ini adalah :
1. Metode Pustaka
Yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data
dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun
informasi di internet.

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Higher Order Thinking Skill (HOTS)

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis,
reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai
metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi,
mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis
yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari
sebuah konteks tertentu, evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil
keputusan berdasarkan fakta/informasi, dan mengkreasi merupakan kemampuan
berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide. Kemampuan-kemampuan ini merupakan
kemampuan berpikir level atas pada taksonomi Bloom yang terbaru hasil revisi oleh
Anderson dan Krathwohl seperti pada gambar di bawah ini.

5
HOTS sendiri merupakan bagian dari ranah kognitif yang ada dalam Taksonomi
Bloom dan bertujuan untuk mengasah keterampilan mental seputar pengetahuan.
Ranah kognitif versi Bloom ini kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David
Karthwohl, dkk. pada 2001. Urutannya diubah menjadi enam, yaitu:

1. Mengingat (remembering)
2. Memahami (understanding)
3. Mengaplikasikan (applying)
4. Menganalisis (analyzing)
5. Mengevaluasi (evaluating)
6. Mencipta (creating)

Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah


(LOTS), sedangkan tingkat 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir
tingkat tinggi (HOTS).

Pada pembelajaran HOTS, siswa didorong untuk untuk berpikir kritis dan dan
menyelesaikan masalah melalui pengerjaan tugas atau projek. Guru memberikan
rangsangan atau stimulant yang agar siswa terangsang untuk berpikir, menyampaikan
tanggapan, ide, atau bahkan solusi yang dari rangsangan yang diberikan. Rangsangan
bisa dalam bentuk sebuah kasus yang diambil dari berita, kisah yang dibuat oleh guru,
atau fenomena yang sedang terjadi di masyarakat.

Pembelajaran pun perlu dilakukan secara kontekstual agar berjalan lebih menarik.
Agar suasana pembelajaran lebih hidup dan menarik, guru membuka perlu membuka
ruang kepada siswa untuk berekspresi dan berpendapat agar siswa memiliki
kepercayaan diri untuk menyampaikan pendapat. Kemampuan berpikir kritis siswa
juga dapat dilatih melalui kegiatan eksperimen di laboratorium.

B. Pengembangan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

Pada dasarnya, kemampuan berpikir meliputi kemampuan menemukan,


menganalisis, mencipta, merefleksi, dan berargumen. Jika dikaitkan dengan level
kognitif pada Taksonomi Bloom yang telah direvisi, kemampuan berpikir dapat
dibedakan menjadi Lower Order Thinking Skills (LOTS) dan High Order Thinking
Skills (HOTS). Lower Order Thinking Skills (LOTS) merujuk pada level kognitif C1

6
hingga C3, yaitu mengingat, memahami, dan menerapkan. Sementara itu, HOTS
merujuk pada level kognitif C4 hingga C6, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan
menciptakan. Kemampuan berpikir yang menjadi acuan dalam pembelajaran
Kurikulum 2013 adalah HOTS.

Dalam proses pembelajarannya, kemampuan tersebut dinilai menggunakan tes


berupa soal HOTS. Penilaian tersebut dapat diterapkan pada semua mata pelajaran,
tak terkecuali pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Seperti pada mata pelajaran yang
lain, pengembangan soal HOTS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia juga mengacu
kriteria tertentu. Pertama, soal berkaitan dengan peristiwa nyata (kontekstual). Kedua,
soal didukung dengan analisis visual. Ketiga, soal mengarahkan siswa untuk
menjelaskan alasan dari jawaban yang diberikan. Keempat, materi atau pokok bahasan
soal harus sesuai dengan indikator yang akan dicapai. Keempat kriteria tersebut
diaplikasikan dalam tahap pembuatan soal HOTS yang meliputi menganalisis KD,
menyusun kisi-kisi soal, menulis butir soal, serta membuat pedoman penskoran atau
kunci jawaban. Berikut contoh soal HOTS pelajaran Bahasa Indonesia.

CONTOH SOAL (HOTS)

Indikator: Peserta didik dapat menyimpulkan perbedaan atau persamaan isi teks.

Cermati kutipan teks berita berikut ini!

Teks Berita 1

Tiga pekerja PLN resah. Sistem pendinginnya tercemar radiasi dosis tinggi. Mereka
menjadi korban saat memulihkan daya listrik reaktor nomor tiga. Dua dari mereka
harus dirawat di dua rumah sakit. Demikian informasi dari Badan Keselamatan, Jumat
(23/4).

Teks Berita 2

Air keran di ibu kota terdeteksi mengandung radioaktif. Bahan kadarnya melebihi
batas aman bagi bayi. Pemerintah Jakarta menegaskan bayi tidak diperkenankan
minum dari keran. Sebagaimana warta AFP pada Kamis (22/4). Pemerintah
menyarankan untuk menghindari penggunaan air kran dalam membuat minuman bagi
bayi.

7
Perbedaan penyajian kedua teks berita tersebut adalah diawali dengan unsur berita ....

A. Teks 1 : bagaimana Teks 2 : mengapa

B. Teks 1 : siapa Teks 2 : bagaimana

C. Teks 1 : siapa Teks 2 : apa

D. Teks 1 : bagaimana Teks 2 : apa

E. Teks 1 : di mana Teks 2 : kapan

Jawaban :C

Pembahasan :

Penyajian teks 1 diawali dengan unsur berita siapa. Hal tersebut dapat dilihat pada
kalimat pertama yang menyebutkan orang, yaitu “tiga pekerja PLN”. Sedangkan,
penyajian teks 2 diawali dengan unsur berita apa. Hal tersebut terlihat pada kalimat
pertama menjelaskan permasalahan yang terjadi. Jadi, perbedaan penyajian kedua teks
berita tersebut adalah teks 1 diawali dengan unsur berita siapa, sedangkan teks 2
diawali dengan unsur berita apa.

C. 4C ( Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan


Creative and Innovative)

Kurikulum 2013 menekankan pentingnya peserta didik berpikir HOTS (Higher


Order Thinking Skill). Kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diperkenalkan sejak
dini dibangku sekolah akan berdampak positif kelak kemudian hari. Model
pembelajaran yang mesti dibangun adalah model pembelajaran yang mencari tahu,
pandai merumuskan masalah, pandai menganalisis, pandai mencari solusi, kreatif dan
kontemplatif. Tahu apa, tahu mengapa dan tahu bagaimana menjadi siklus belajar
dalam menumbuhkan kemampuan berpikir HOTS.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa/peserta didik memiliki beberapa karakter


yang sering di sebut sebagai 4C, yaitu:

1. Communication

8
Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan
menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan,
tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan
kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan
teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari pendidiknya.

2. Collaboration

Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama


berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan
tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada
tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan
tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan
hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk
diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan.

3. Critical Thinking and Problem Solving

Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk
akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi
antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk
berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta
didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa,
dan menyelesaikan masalah.

4. Creativity and Innovation

Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan,


melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap
terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

HOTS merupakan keterampilan berpikir pada tingkat tinggi yang mencakup


bagian dari ranah kognitif yang ada dalam Taksonomi Bloom dan bertujuan untuk
mengasah keterampilan mental seputar pengetahuan. Pada umumnya mengukur
kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan
mengkreasi (creating-C6). Karena Kurikulum 2013 menekankan pentingnya peserta
didik berpikir HOTS (Higher Order Thinking Skill), maka pembelajaran yang
berpusat pada siswa/peserta didik harus memiliki beberapa karakter yang sering di
sebut sebagai 4C yaitu, Communication, Collaboration, Critical Thinking and
Problem Solving, dan Creative and Innovative.

B. Saran
Sebaiknya dilakukan pelatihan secara berkala pada setiap daerah kepada para
pendidik dalam penyusunan soal HOTS dalam pembelajaran supaya peserta didik terlatih
mengerjakan soal HOTS baik Ujian Sekolah maupun Ujian Nasional dan mampu bersaing
dalam studi Internasional.

10
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L.W., Krathwohl, D.R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives, Complete
Edition. New York : Addison Wesley Longman

Apandi, I. (2018). Diakses 30 September 2018. Merancang, Melaksanakan, dan


Menilai Hasil
Belajar Berbasis HOTS.
https://www.kompasiana.com/idrisapandi/5ad42f2dab12ae4a7a749f02/meranca
ng-
melaksanakan-dan-menilai-hasil-belajar-berbasis-hots?page=all
Brookhart, S.M. (2010). How to Assess Higher-Order Thinking Skills in Your
Classrom. Alexandria : ASDC

Dini, H.N.(2018). Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Kaitannya dengan
Kemampuan Literasi Matematika. Prosiding Seminar Nasional Matematika pp.
170-176, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Heong, Y.M., Othman, W.B., Yunos, J.BM., Kiong, T.T.,Razali, B.H and Mohamad,
M.M.B. (2011). The Level of Marzano Higher Order Thinking Skills among
Technical Education Students. International Journal of Social Science and
Humanity, Vol. 1(2) pp. 121-125.

Kemdikbud. (2013). Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan


dan Kebudayaan.

Kemdikbud. (2015). Panduan Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills


(HOTS). Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA Dirjen Pendidikan
Menengah Kemdikbud

11